Search for:

Workshop Program IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene)

Pengelolaan air limbah domestik belum menjadi fokus bagi banyak Pemerintah Kota/Kabupaten. Oleh karena itu kondisi untuk sektor ini umumnya masih rendah, sementara pembangunan fisik untuk mengembangkan sektor sanitasi, jika memang ada, belum optimal. Hal ini terlihat dari kurangnya alokasi anggaran di APBD (Anggaran Pemerintah Kota/Kabupaten). Terbatasnya ketersediaan layanan pengelolaan limbah air perkotaan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah telah menyebabkan tingginya tingkat kontaminasi sumber-sumber air tanah dan air permukaan.

Untuk mempercepat pengembangan sektor sanitasi, khususnya untuk daerah perkotaan, Pemerintah Pusat telah memulai berbagai upaya dengan memberikan bantuan/dukungan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, salah satunya adalah Program USRI, dilakukan melalui Kementerian Pekerjaan Umum, dengan dukungan pinjaman dari ADB (Asian Development Bank) untuk mendukung PNPM Mandiri selain menggunakan sumber-sumber pembiayaan anggaran negara (APBN) dengan hasil seperti Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan SANIMAS.

Untuk memastikan keberhasilan program Pemerintah dalam hal mempromosikan pembangunan sanitasi yang berkelanjutan ini, IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene) melalui SPEK-HAM akan melaksanakan Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan Di 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi”. Program ini akan mendukung program Pemerintah yang berhubungan dengan program-program sanitasi seperti Infrastruktur Sanitasi Perkotaan Pedesaan (USRI), SLBM, dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) yang telah berjalan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Dukungan yang bisa diberikan dari program ini bisa berupa upaya-upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan memanfaatkan mekanisme perubahan perilaku yang berkelanjutan. Bisa dikatakan secara singkat, kontribusi program ini adalah mendukung dan mengembangkan keberlanjutan dalam program-program sanitasi yang dilakukan oleh Pemerintah.

Workshop IUWASH

Hari ini, 19 Mei 2014, workshop Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan Di 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi” dilakukan dengan mengundang Koordinator Wilayah dari 6 Kabupaten/Kota yang merupakan wilayah kerja dari Projek ini. Kegiatan diskusi yang dilakukan di Kantor Yayasan SPEK-HAM di Jalan Srikoyo No. 14 Karangasem, Solo ini bertujuan untuk menentukan rancangan aksi 2 bulan pertama Program ini. (spekham/edit : nuel, photo : bisnis.com)

Peran Perempuan dalam Pengelolaan Ternak di Musuk Boyolali (bagian 2)

 Nama saya Sri Surani, sering dipanggil Mbak Rani. Saya perempuan berusia 41 tahun, tinggal dengan suami dan satu anak di Dukuh Tawangrejo, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali. Saya bergabung dan belajar bersama dengan perempuan-perempuan dalam kelompok perempuan Rukun Makmur. Sudah sekitar 1 tahun lebih 5 bulan saya menjadi ketua Kelompok Rukun Makmur Desa Musuk.

Anggota kami berjumlah 15 orang perempuan dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda, ada peternak kambing, peternak sapi, ibu rumah tangga, petani, buruh pabrik, dan pedangan. Tujuan dari kelompok ini adalah supaya perempuan dapat saling mendukung untuk menuju sebuah kesejahteraan atau kemakmuran bersama.

Pada awalnya kami merintis kelompok dengan melakukan diskusi-diskusi tentang persoalan perempuan sehari-hari dan juga tentang situasi wilayah, misalnya pengalaman pada saat bencana erupsi Merapi 2010, terutama tentang persoalan hujan abu yang masih sering terjadi. Selain sharing dan berbagi pengalaman, kami juga mendapatkan informasi dan penguatan dari pihak lain (Caleg DPR RI, NGO) dimana banyak mendikusikan tentang potensi di bidang pengelolaan pertanian dan juga peternakan.

pengelolaan ternak 1

Sejak bulan Februari 2013, kami mendapatkan pendampingan dari SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia). Kami diajak ngobrol tentang kegiatan sehari-hari, aktifitas perempuan, aktifitas kampung. Di desa kami, pekerjaan sehari-hari masyarakatnya adalah bertani dan memelihara ternak. Sebagai upaya peningkatan ketrampilan, kami beberapa kali mendapatkan pelatihan seperti pembuatan  pakan ternak dengan pemberian obat/mikroba, yang istilah dalam peternakan adalah fermentasi. Prosesnya dimulai dari pengumpulan bahan, mencacah daun kering dan juga melakukan fermentasi.

Ada pengalaman yang menarik saat awal pemberian pakan fermentasi pada ternak kambing, hati saya berdebar-debar dan was-was, apa kambing doyan diberi makanan seperti kotoran sapi yang baunya seperti ciu? Sedikit demi sedikit kambing-kambing saya mau makan, dan selama tiga hari kambing-kambing sudah mulai terbiasa (beradaptasi) dengan jenis pakan tersebut dan pakan hijauan kami hilangkan sama sekali. Namun kami juga masih khawatir, apa kambing-kambing itu bisa kenyang dengan makanan seperti ini? Setelah satu minggu, ternyata kambing lebih tenang. Makanan biasanya kami berikan sehari tiga kali, yaitu pagi sekitar jam 10.00, siang sekitar jam 13.00 dan sore sekitar jam 16.00.

pengelolaan ternak 2

Pada bulan Maret 2013, kelompok saya mendapatkan dana pinjaman (bergulir) dari SPEK-HAM sebesar Rp. 10.000.000,- untuk pemberdayaan ekonomi perempuan. Hasil perputarannya, oleh SPEK-HAM akan digunakan untuk mendukung program-program penanganan kekerasan terhadap perempuan. Dana pinjaman tersebut kami kelola menjadi kegiatan ternak kambing sebanyak 10 ekor. Tahapan yang kami lakukan mulai dari persiapan seperti : perbaikan kandang, pembuatan pakan fermentasi dan pembelian kambing. Selanjutnya dalam tahap pelaksanaan kami, memelihara ternak kambing secara bergotong royong (ada yang mencari rumput, mencacah rumput, membuat pakan fermentasi). Tidak lupa kami mencatat setiap ada transaksi terkait penjualan dan pembelian kambing, sehingga ada dokumentasi hasil/keuntungan yang didapat.

Selama kurun waktu 4 bulan, kami mulai merasa mendapat pembelajaran bersama. Kami bertemu dengan situasi dimana kami harus bertanggung jawab terhadap SPEK-HAM, namun disisi lain, kelompok kami juga belum kuat dan solid sehingga kami harus melakukan reorganisasi. Hal tersebut harus kami lakukan agar kelompok kami bisa berlanjut dan maju. Bulan Maret 2014 merupakan waktu dimana kontrak kesepakatan kelompok Rukun Makmur dengan SPEK-HAM harus selesai. Kelompok menjual hasil ternak yang dibelikan di tiga bulan terakhir, dilanjutkan dengan pertemuan evaluasi untuk melihat bagaimana proses dan capaian dari kegiatan yang kami lakukan, apa bermanfaat dan bagaimana keberlanjutanya.

Apa hasil yang kami dapatkan selama 1 tahun berproses dalam pengelolaan ternak kambing kelompok? Kami sudah mendapatkan hasil dari jasa menggaduh kambing, dan kami membaginya sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya : 65% penggaduh, 35% SPEK-HAM dan 10% dari prosentase penggaduh masuk dalam kas kelompok. Sepanjang periode kemitraan dengan SPEK-HAM, kelompok kami telah membeli dan menjual ternak sebanyak dua kali. Keuntungan  yang menjadi hak kelompok sebesar Rp. 630.000,- yang kemudian ditambah dengan uang dari swadaya anggota, dibelikan satu ekor kambing betina yang akan digaduh di salah satu anggota selama 1 tahun, selanjutnya diputar ke anggota yang lain.

Berkaca dari proses, selama ini kami secara pribadi maupun mewakili anggota yang lain merasakan manfaat dari kegiatan berkelompok ini, bukan hanya sekedar rupiah yang kami rasakan tetapi semangat belajar dari anggota. Kebersamaan yang masih ada di kelompok kami, meskipun kedepan masih perlu di tingkatkan di kelompok “ Rukun Makmur”. (sri surani & yuliati/editor : nila/spekham)

Peran Perempuan dalam Pengelolaan Ternak di Musuk Boyolali 1

Kegiatan pendampingan di Kelompok Rukun Makmur di Dukuh Tawangrejo, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali dimulai pada awal tahun 2012 dengan melakukan diskusi-diskusi terkait dengan bagaimana kehidupan warga di tiga RT, yaitu Pengkol, Sukosari dan Tawangrejo.

Perempuan Peternak 1Banyak hal menarik yang kami peroleh selama melakukan diskusi-diskusi dengan kelompok yang terdiri dari 10-15 perempuan ini, khususnya tentang bagaimana peran perempuan dalam kegiatan bertani dan beternak. Dari hasil diskusi diperoleh informasi bahwa peran perempuan cukup banyak, yaitu dari pengelolaan ; seperti membuat pakan, memberikan pakan, membantu kelahiran kambing sampai mengobati kambing jika terkena penyakit. Sedangkan dalam proses pembelian dan penjualan, peran perempuan belum terlibat secara maksimal, paling-paling hanya membatu menawarkan kepada pedagang yang datang dengan harga yang sudah disepakati dengan  suami, itupun dilakukan pada saat  suami sedang  tidak ada di rumah.

Dengan kondisi ini, kami melihat bahwa potensi perempuan yang ada di Kelompok Rukun Makmur cukup mampu untuk mengelola ternak kambing yang dikelola secara berkelompok dengan mengunakan sistem pakan ternak fermentasi secara bertahap. SPEK-HAM merespon dengan tawaran kerjasama dari YSIK Jakarta untuk pengelolaan dana bergulir dengan jangka waktu kerjasama selama 1 tahun.

perempuan peternak 3

Dalam Sistem pengelolaan ternak kambing secara komunal oleh kelompok ini terdapat pembagian peran sesuai dengan kemampuan dan kapasitas anggota. Beberapa peran yang dilakukan anggota adalah :

  1. Pembuatan pakan fermentasi dengan bahan baku daun kering yang di dapatkan dari hasil ladang maupun dari sampah daun kering. Penggumpulan daun kering dilakukan setiap hari dan seminggu sekali, kemudian dikumpulkan dan dicacah. Proses fermentasi dengan bantuan mikrobakteri membutuhkan waktu sekitar 5 – 21 hari.
  2. Persiapan merapikan kandang untuk ternak dengan bahan bambu seadanya. Pembuatan kandang membutuhkan bantuan dari pihak suami, sehingga pelaksanaan program ini mendapat dukungan dari suami.
  3. Membersihkan kandang secara berkelompok agar kambing bisa tumbuh dengan baik, karena ada beberapa bagian kandang yang perlu di perbaiki.

Pembuatan jadwal dan pembagian kerja antar anggota kelompok dilakukan secara rutin dengan pembagian masing-masing. Semua orang mengumpulkan sampah rumah tangga, khususnya daun kering. Lima orang membuat pakan ternak, dan dua orang yang memberikan pakan ternak setiap harinya.

Dalam proses pemeliharaan pada triwulan pertama ini, kegiatan kelompok berjalan sesuai dengan perencanaan yaitu kegiatan dikelola secara kelompok. Kandang bersama berada di rumah ibu Surani dengan keswadayaan yang mereka miliki berupa tempat, kandang dan tenaga serta bahan pakan, baik daun kering maupun ijoan yang dikeringkan ketika panen raya tiba.

Pembuatan pakan juga berjalan lancar, dan masing-masing anggota mengumpulkan sampah daun kering yang dikeola bersama menjadi pakan ternak dengan menggunakan berbagai bahan seperti tetes, bekatul, garam dan mikroba. Mikroba didapatkan dari mitra yang selama ini memberikan pembelajaran yaitu dari Argo Nusantara, Desa Delanggu, Kabupaten Klaten dengan harga Rp. 20.000 sampai dengan Rp.25.000 per botol dengan pembelian 5 sampai dengan 6 botol setiap pembelian, dan mikroba ini dapat digunakan sampai 6 bulan kedepan. Kelompok membuat pakan setiap akhir minggu dengan volume 1 sampai dengan 2 kwintal.

Dalam perencanaan awal yang dirancang dengan kelompok, penjualan akan dilakukan pada 4 bulan setelah pembelian, dengan harapan dalam satu tahun bisa panen sebanyak 3 kali. Namun dalam implementasinya tidak sesuai dengan perencanaan. Berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang didapatkan dari diskusi-diskusi kelompok yang melibatkan pedagang kambing, yang menyatakan bahwa harga jual kambing sedang menurun, dimana penurunan harga yang terjadi adalah 300 ribu sampai dengan 500 ribu dari harga normal, maka disepakati kambing akan dijual pada Lebaran Haji atau sekitar bulan Oktober 2013.

Pada bulan Oktober atau bulan Lebaran Haji, semua kambing dijual dan dibelikan lagi. Sedangkan untuk meningkatkan jumlah pendapatan, kelompok memutuskan sebagian uangnya untuk membeli sapi. Kelompok memutuskan karena ada pertimbangan bahwa harga kambing ternyata kurang stabil jika dibandingkan dengan harga sapi.  Kisaran laba yang diperoleh dari masing-masing kambing antara Rp. 400.000 – Rp.600.000 ribu setiap ekornya.

Setelah dipelihara selama 3 bulan atau tepatnya bulan Februari 2014, semua kambing dan sapi dijual. Kelompok telah melakukan pertemuan terlebih dahulu untuk menentukan keputusan menjual dan menghitung hasil perolehan laba. Terhitung laba penjualan kambing sebesar 6,7 juta dengan pembagian laba untuk kelompok sebesar 630 ribu, penggadoh (3 orang) 3,4 juta, sedangkan untuk SPEK-HAM sebesar 2,4 jutaan, yang akan digunakan untuk mendukung penanganan kasus kekerasan.

Laba yang diperoleh kelompok akan dibelikan kambing seharga 1,25 Juta. Kekurangan sekitar 400 ribu didapatkan dari iuran anggota sebesar 25 ribu per orang, yang dibayarkan dalam dua kali pertemuan, dan pengelolaanya digaduh oleh anggota. Dari kegiatan ternak kambing ini di dapatkan banyak sekali pembelajaran. Masih perlu penguatan komitmen pada pengelolaan kelompok, selain juga masih perlu diperkuat ketrampilan dalam pengelolaan usaha ternaknya, alat pencacah dan tentang monitoring kegiatan secara berkala. Kedepan, pendampingan kelompok perempuan Rukun Makmur akan difokuskan pada penguatan dan pendokumentasian praktik secara berkelanjutan, sehingga akan didapatkan sentra-sentra pembelajaran di komunitas.

Perempuan Peternak 2

Pembelajaran lain yang kami catat adalah bagaimana peran perempuan dalam hal pembelian bibit ternak maupun pada saat penjualan ternak kambing. Dua kegiatan ini biasanya dilakukan kaum laki-laki dengan alasan perempuan kurang pantas membeli dan menjual kambing, padahal alasan ini biasanya untuk pembenaran bahwa laki-laki yang akan melakukan kontrol keuangan terhadap penjualan hasil ternak (perempuan akan mudah dibohongi). Selama satu tahun ini, kelompok Rukun Makmur, khususnya pengurus (ibu Surani, Ibu Yuli dan Ibu Kemi) belajar memilih bakalan kambing yang akan dipelihara. Memilih dan mengetahui bagaimana ciri-ciri kambing yang sehat, kambing yang makannya mudah dan belajar mengenali jenis-jenisnya, sehingga perempuan memiliki ketrampilan dalam hal memilih bakalan kambing. Begitu pula dalam hal penjualan, karena saat ini sudah berubah dimana membeli maupun menjual kambing tidak harus pergi ke pasar (dimana stigma masyarakat yang layak berada di pasar kambing/jenis ternak lain ya hanya laki-laki ). Pedagang datang ke kampung-kampung untuk membeli kambing sehingga perempuan bisa melakukan tawar-menawar dengan membandingkan dengan beberapa pedagang  sehingga dihasilkan nilai jual yang paling maksimal. Melihat kondisi ini, perlahan terkikis ketabuan di masyarakat bahwa perempuan “ora ilog“ (tidak pantas) membeli dan menjual kambing, didukung juga dengan fakta bahwa di masyarakat banyak pula perempuan single parent yang juga mengelola ternak seperti ini. (sunoko/editor:nila/spekham)

nokoNama           : Sunoko

Jabatan       : Petugas Lapangan Divisi Sustainability Livelihood

Masa kerja : 2006 – sekarang

Pameran Teknologi Sederhana Tepat Guna

Teknologi sederhana tepat guna, mungkin itulah yang dibutuhkan masyarakat saat ini, terutama untuk masyarakat yang dijejali dengan banyak aktifitas rutin. Teknologi sederhana, baik dari bahan-bahan pembuatannya, cara kerja serta penggunaannya.

KOPERNIK, sebuah lembaga non profit dari Amerika yang bergerak pada pengadaan peralatan berteknologi sederhana namun tepat guna, serta menekankan programnya pada pemberdayaan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Melalui perwakilan KOPERNIK di Ubud, Bali, bekerjasama dengan SPEK-HAM Surakarta mencoba memfasilitasi kelompok-kelompok dampingan SPEK-HAM, khususnya perempuan yang berada di Musuk Boyolali serta Balerante Klaten dengan peralatan-peralatan berteknologi sederhana guna menunjang produktifitas harian mereka serta untuk meningkatkan sosial ekonomi masyarakat setempat.

lampu tenaga surya

Serangkaian kegiatan awal telah dilakukan oleh perwakilan KOPERNIK dan SPEK-HAM. Pemetaan potensi dan masalah yang berkaitan dengan penghidupan sehari-hari dilakukan melalui FGD, sampai pada analisis kebutuhan teknologi sederhana telah dilakukan oleh kedua lembaga. Hasilnya adalah beberapa peralatan dengan teknologi sederhana penunjang penghidupan, terutama peralatan sebagai penunjang kebutuhan dalam pertanian yang diharapkan dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

penyaring air

Peralatan-peralatan berteknologi sederhana ini diperkenalkan kepada perwakilan dari kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi dampingan SPEK-HAM dalam “Tech Fair” oleh KOPERNIK. Tech Fair diadakan 2 kali, yaitu tanggal 26 Maret 2014 di Musuk, Boyolali dan tanggal 27 Maret 2014 di Balerante, Klaten.

Pengenalan peralatan dan penggunaanya dilakukan oleh KOPERNIK yang diwakili oleh Nonie, Apri, Iman dan Prita. Peralatan yang dipamerkan dalam Tech Fair ini antara lain ; alat pencacah rumput pakan ternak, kompor kayu, lampu tenaga surya, penyaring air mentah menjadi siap konsumsi, alat pemipil jagung, kacamata, dan kasa nyamuk.

 kompor kayuPeralatan-peralatan tersebut akan digulirkan kepada kelompok-kelompok dan dapat dimanfaatkan oleh anggota kelompok dengan membeli secara mengangsur. Hasil penjualan dari peralatan-peralatan tersebut akan dimanfaatkan oleh kelompok untuk membuat peralatan-peralatan dengan teknologi sederhana lainnya yang diperlukan oleh kelompok-kelompok tersebut. (spekham/nuel)