Search for:

Desa Bangak, Pembangunan Kesehatan untuk Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Desa Bangak merupakan salah satu Desa yang dialiri Sungai Pepe. Pertanian merupakan produk unggulan di Desa Bangak. Desa Bangak terdiri dari 2 Kebayanan, 14 RW dan 13 RT dengan jumlah penduduk 2985 jiwa. Dukuh yang ada di Desa Bangak, yaitu Tompen sebagai Dukuh yang dilewati Jalan Raya Bangak-Simo, Nglebu, Jetis, Manukan, dan Gabahan. Dukuh Gabahan letaknya kurang lebih 1 km ke arah utara dari Kantor Kelurahan, dipisahkan oleh sawah yang membentang luas. Berdasarkan perencanaan pembangunan jalan tol, wilayah perbatasan antara Dukuh Gabahan dengan Tompen ini akan dilintasi jalan Semarang-Solo yang pembangunannya direncanakan tahun 2014- 2015. Selain bermata pencaharian dari sektor pertanian, penduduk Desa Bangak juga berdagang, beternak, bekerja di pabrik, PNS, kantoran maupun wirausaha lainnya. Mata pencaharian paling banyak adalah sebagai pekerja buruh industri.

“Desa Bangak mempunyai kerentanan terhadap kesehatan reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan. Sudah ada beberapa kasus terkait dengan kedua hal tersebut” uangkap Ibu Wulan, Bidan Puskesmas Banyudono.

DIGITAL CAMERABersama dengan Masyarakat, Lurah dan Perangkat Desa, Bidan Desa, SPEK HAM mencoba untuk melihat persoalan kesehatan apa saja yang ada di Desa Bangak. Pemetaan ini merupakan langkah awal adanya Pembangunan Kesehatan yang bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka perempuan sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh karena itu perempuan harus diberi perhatian, sebab :

  1. Perempuan menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi laki-laki berkaitan dengan fungsi reproduksinya.
  2. Kesehatan perempuan secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
  3. Kesehatan perempuan sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatasnamakan ‘pembangunan´ seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.
  4. Masalah kesehatan reproduksi perempuan sudah menjadi agenda Internasional, diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).
  5. Perempuan merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu para perempuan diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.

Salah satu usaha Pemerintah adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan reproduksi dengan cara melakukan pendidikan kesehatan yang tidak hanya didapat di bangku sekolah, tetapi juga bisa dilakukan dengan cara mengadakan penyuluhan oleh tenaga kesehatan, yang biasa disebut dengan promosi kesehatan ataupun penyuluhan kesehatan.

Mengingat tugas kita sebagai Lembaga peduli Perempuan, tugas Divisi Kesehatan Masyarakat adalah salah satunya memperkenalkan bagaimana cara hidup sehat dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi pada masyarakat. (atik fatmawati/edit :nuel/SPEK HAM)

Temuan Kesehatan Reproduksi sebagai Sebuah Refleksi Bersama

Pelatihan kesehatan reproduksi dilakukan oleh SPEK HAM di 14 Kelurahan di Surakarta, serta dilanjutkan dengan pemeriksaan IVA, IMS dan VCT di 14 Kelurahan yang sama pada tahun 2014. Dari total 531 peserta pemeriksaan IVA, IMS dan VCT, ditemui kasus IVA positif 39, IMS 269, VCT positif 1.

Adalah menjadi rekomendasi tersendiri bagi Dinas Kesehatan dan mitra-mitranya untuk bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan untuk lebih membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi dan juga untuk mewujudkan layanan kesehatan reproduksi yang merata di setiap wilayah, sebagai bentuk tanggungjawab Negara terhadap DSCN13951kesehatan masyarakat. Hal ini menjadi harapan masyarakat, seperti yang diungkapkan salah satu peserta dalam pertemuan Jaringan Kota, Bu Maryam “Ketika kami mulai ikut kegiatan SPEK HAM maka kami menyadari pentingnya kespro dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemeriksaan yang dilakukan dengan bekerjasama dengan SPEK HAM bisa kami monitor, karena setelah selesai pemerikaan, kami langsung diberi hasilnya. Yang saat ini menjadi pertanyaan kami adalah apakah Pemerintah khususnya Dinas Kesehatan tidak bisa mendampingi, mengembangkan dan mendekatkan akses layanan kepada masyarakat? Bagaimana kalau dikembangkan layanan pemeriksaan ke Solo Utara, karena kalau harus ke sangkrah itu jaraknya jauh. Ini adalah bukan tanggung jawab satu komponen tetapi tangggung jawab kita bersama. Biasanya kalaupun mengundang Legislatif merekapun tidak bisa memberi solusi. Seperti hari ini, saya lihat daftar undangannya ada dari Legislatif tapi tidak ada perwakilan yang datang. Bagaimana kalau kita membuat gerakan untuk menanggapi hal ini?

Dalam kesempatan pertemuan Jaringan Kota untuk Kesehatan Masyarakat yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Dharma Wanita Kota Surakarta, 22 Desember 2014 ini, Ibu Endang dari Bapermas memberikan tanggapan “Hal tersebut bisa kita lakukan advokasi. Advokasi bisa dilakukan untuk mengubah kebijakan. Advokasi bisa dilakukan ketika kebijakan Pemerintah belum pas, belum berpihak. Dalam konteks ini kita perlu memeriksa apakah kebijakan kespro sudah tepat atau belum. Kadang-kadang kebijakan sudah tepat tetapi sinerginya yang kurang tepat. Usulan bu Efi juga bagus sekali yaitu untuk mendekatkan akses layanan ke masyarakat dengan menyediakan mobil sesuai kebutuhan. Misalnya tadi juga manahan programnya sangat bagus tetapi ketika tenaganya kurang maka pelayanannya juga kurang maksimal.”

(nuel oei/spekham.org)

Tulisan Cinta dari Ujung Kota Klaten

www.aidsindonesia.comAku ingin hakku…
Bersatu dalam masyarakat..

Melantun merdu terbahak-bahak…
Walau HIV menggantungi…
Walau AIDS menghantui…
Namun, aku ingin berkarya…
Membanggakan IndonesiaS…..

Sepenggal puisi di atas adalah bentuk dari suara hati kami, teman-teman IRT ODHA, yang bisa kami suarakan untuk memompa semangat hidup kami. Kami punya hak! Kami punya keistimewaan, dan “ODHA” memang “ISTIMEWA”

Kisah perjalanan dan cerita cinta Ibu rumah tangga ODHA dari ujung kota klaten (Hasil obrolan dengan Ibu rumah tangga ODHA).

Klaten. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sering menjadi bahan perbincangan masyarakat umum dari sisi negatifnya saja, tanpa melihat sisi positifnya. Paling tidak, itulah yang banyak saya jumpai di lingkungan pergaulan saya. Sebenarnya banyak pembelajaran dan hal positif yang bisa didapatkan dari mereka, seperti yang kami dapatkan dari hasil ngobrol dan diskusi dengan beberapa Ibu rumah tangga (IRT) ODHA di Klaten.

Ibu “D” adalah seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Tahun 2011, “D” mempunyai satu anak dari perkawinannya yang pertama  (status negatif). Dia merupakan ODHA yang berani membuat pengakuan kepada keluarga dan pimpinan di mana dia bekerja, bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Dia menuturkan asal muasal pertama kali terinfeksi HIV. Setelah “D” ditinggal pergi oleh suaminya, dia berpacaran dengan seseorang yang ternyata pengguna narkoba suntik (Penasun). Dia terinfieksi HIV dari pacarnya ini. Gejala pertama yang dialaminya berupa sakit menaun yang tidak kunjung sembuh (pilek, diare, flu dan lain-lain) dan kemudian dilakukan pemeriksaan. Pada tahun 2011, “D” dinyatakan positif HIV. Hal yang sangat luar biasa adalah “D” sekarang bukannya terpuruk dengan status ODHA, tapi dia bangkit menata hidup kedepannya bersama putri tercinta. “D” juga menjadi berkat bagi teman-teman sesama ODHA. Saat ini “D” bekerja di Lembaga “Peduli Kasih” sebagai pendamping teman-teman ODHA.

Kisah lain muncul dari Ibu “W” yang belum siap untuk dipublikasikan. “Butuh keberanian yang luar biasa untuk mengakui pada publik kalau saya sudah terinfeksi oleh virus mematikan. Kala itu masyarakat belum seperti sekarang yang mulai agak terbuka dengan ODHA,” ujarnya. Dia menjelaskan, bahwa sampai saat ini ibu “W” belum memberi tahu kepada keluarga karena belum siap dengan segala yang akan terjadi. Ibu “W” terinfeksi HIV dari suaminya yang pada saat mudanya (sebelum menikah) suka memakai jarum tato bersama-sama. Pada waktu itu Ibu ‘W” juga tidak tahu kalau suaminya terkena HIV, yang dia tahu pada waktu itu suaminya hanya sakit biasa. Kecurigaan bu “W” semakin besar setelah diketahui muncul jamur di lidah suaminya, dan penurunan berat badan, sampai meninggal. Kini bu “W” menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarga besarnya dengan berdagang.

IRT ODHA yang lain adalah Ibu “B”, yang menceritakan kisah hidupnya sampai bagaimana dia bisa terinfeksi HIV postif. Ibu “B” dulunya adalah seorang karyawati perusahan kosmetik, kemudian dia menikah dan dikarunia seorang anak. Dalam proses perjalanan hidupnya, Ibu “B” dalam aktifitas kerjanya bertemu dengan seorang laki-laki lain di luar rumah (PIL), dan sampai menjalin hubungan yang sangat dekat. Tanpa dia sadari, ternyata si laki-laki membawa virus HIV. Semua disadari setelah kelahiran anak keduanya. Setelah proses kelahirannya, anak ini mengalami sakit yang tidak sembuh-sembuh dan harus keluar masuk Rumah Sakit. Yang lebih membuat ibu “B” terpukul dan menyesal adalah bahwa suami tercintanya, yang pernah diduakannya, dinyatakan positif HIV juga. Ada hal menarik dari keluarga Ibu “B” ini. Ibu “B” menyadari dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat hingga sampai menularkan HIV kepada anak kedua dan suami. Suami dari ibu “B” berkata “Ini adalah proses hidup kita, jadi apapun yang menimpa kita harus kita jalani sampai nanti maut memang benar-benar menjemput kita.”

Apa yang menimpa Ibu “M” tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh Ibu-ibu rumah tangga ODHA yang lainnya. Ibu “M” mendapatkan HIV dari suaminya yang bekerja sebagai sopir, yang beresiko tinggi untuk “jajan” di luar rumah. Selain itu, suami Ibu “M” ini adalah seorang penghobi tattoo. Setelah anaknya sering keluar masuk Rumah Sakit selama sebulan, akhirnya diketahui status anaknya positif.  “Hari-hari saya seakan penuh dengan penyesalan dan sangat berat. Apalagi ditambah dengan bocornya status anak saya di tengah masyarakat yang pada waktu itu dibocorkan oleh kelurga saya sendiri. Masyarakat melihat saya dan anak itu seperti sesuatu yang tidak berharga, selalu menjadi topik pembicaraan di satu Desa. Baginya, hal itu tidak berlangsung lama. Saya bisa diterima lagi secara untuh oleh masyarakat. Saya sekarang aktif dalam kegiatan PKK dan Posyandu.

(antonius danang/edit : nuel/spekham.org)

Sosialisasi TB dan HIV AIDS

Klaten. 12 September 2014. Sosialisasi ini dilakukan dalam rangka memberikan penyadaran pada masyarakat terkait dengan bahaya dan penyebaran TB dan HIV AIDS. Kegiatan dilakukan di wilayah Deles, Desa Sidorejo, Klaten dengan sasaran warga masyarakat yang meliputi kelompok laki-laki, pemuda, pemudi, PKK dan tokoh masyarakat yang berjumlah kurang lebih 50 orang. Diharapkan, kegiatan ini mampu memberikan informasi kepada masyarakat luas. Acara ini juga direlay langsung oleh Radio Lintas Merapi dan juga disiarkan mela radio streaming di http://lintasmerapi.jatengstreams.com

IMG_20140912_144009

IMG_20140912_144001

Salah satu narasumber, dari BKPM Klaten, Ibu Juniah mengatakan bahwa salah satu menanggulangi TB adalah dengan cara mengurangi merokok dan membuka fentilasi rumah agar udara bisa bebas keluar masuk.

Menurut nara sumber lainnya, Bapak Eko, TB terkait dengan HIV AIDS. Banyak kasus  TB terjadi di Kabupaten Klaten, namun tidak terekspos.

Acara ini terselenggara atas kerjasama BKPM Klaten, SPEK HAM, KPA Klaten, dan Radio Komunitas Lintas Merapi dan masyarakat Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. (erfan/spekham.org)

Site Visit SR NU ke Populasi Kunci Klaten

Mengawali semester 9, SR-NU Jawa Tengah mengadakan “Site Visit” di 8 Kabupaten Kota, salah satunya  adalah Kabupaten Klaten yang merupakan bagian dari Kota Kabupaten yang menjadi dampingan  SSR SPEK-HAM untuk isu HIV & AIDS dari tahun 2013. Kunjungan SR-NU kali ini merupakan bentuk monitoring dari hasil kerja temen-teman lapangan sebagai tulang punggung projek yang diamanahkan Global Fun kepada NU.

Klaten sebagai Kota Kabupaten yang berada di tengah “Segitiga Emas” antara Yogya, Solo dan Semarang merupakan tempat transit yang sangat nyaman bagi para petualang, termasuk para pencari nafkah di lereng merapi (bc : sopir truk pengangkut pasir dan batu). Dengan banyaknya petualang yang transit dan pencari nafkah di Kabupaten Klaten, tidak dipungkiri banyak bermunculan juga bisnis-bisnis yang berbau dengan hiburan malam. SR-NU bersama SSR – SPEK HAM melakukan pendampingan di Kabupaten Klaten dengan 5 populasi kunci (HRM, WPS, LSL, WARIA dan IDU’s), bersama dengan teman-teman penjangkau lapangan melakukan penjangkauan dan sosialisasi tentang HIV & AIDS di komunitas-komunitas resiko tinggi (5 populasi kunci) sebagai bentuk dasar pencegahan.

Setelah melewati dua semester pendampingan di Kabupaten Klaten, dan kemudian memasuki semester 9 ini, SR-NU Jawa Tengah kembali berkunjung ke Kabupaten Klaten untuk melihat seberapa jauh perkembangan dan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan oleh teman-teman penjangkau lapangan di Klaten. Kunjungan kali ini mendatangi dua tempat, yang pertama adalah di lokalisasi “Mbaben” dan yang kedua di “Cafe Radio” sebagai tempat pojok informasi HIV untuk teman-teman komunitas seni dan pelajar Klaten (Cafe Radio juga merupakan tempat berkumpul bagi komunitas LSL, WPSTL, dan IDU’s). Pemilihan dua tempat ini sangatlah beralasan karena “Mbaben” sebagai tempat lokalisasi yang sangat populer di kota Klaten dan sudah menjadi dampingan dari PL WPS. Banyak hal bisa digali di tempat ini. Bisa bertemu langsung dengan mbak-mbak’nya dan para pelanggan setianya. Bisa langsung tahu berapa banyak penghasilan rata-rata yang didapat untuk setiap bulannya. Kenapa bisa terjun di dunia hiburan malam. Tim SR-NU yang terdiri dari dr. Lies, Mas Teddy dan Mas Ardy sangat antusias bisa melihat langsung suasana dan situasi di bekas lokalisasi terbesar di Klaten pada malam hari.

IMG-20140822-WA001Kunjungan tim SR-NU berakhir di salah satu tempat di mana teman-teman PL Klaten sering berkumpul untuk melakukan koordinasi dan melakukan sosialisasi tentang HIV dan AIDS. Tempat ini dikenal dengan nama “Cafe Radio”. Di Cafe Radio, tim SR-NU bertemu dengan teman-teman PE (Waria, LSL, IDU’s dan Waria), KPA (Mas Amin dan Mbak Intan) beserta pemilik “Cofe Radio (CR)” yaitu Mas Tri. Cafe Radio dijadikan pusat Pojok Informasi HIV & AIDS buat teman-teman muda di Klaten dan teman-teman nongkrong komunitas. Banyak obrolan bersama malam itu, tentang perkembangan HIV di Klaten dan juga tentang WPA. Tidak luput juga menjadi obrolan adalah tentang sepak terjang teman-teman PL klaten yang luar biasa yang keluar dari mulut PA’nya KPA dan pemilik “Cafe Radio”.

Obrolan dan diskusi berakhir pukul 22.30 WIB dengan kata akhir dari dr. Lies yang berharap kerja yang luar biasa dari teman-teman Klaten agar dipertahankan dan ditingkatkan. Pesan dari Mas Teddy agar kisah sukses dari teman-teman Klaten ini bisa merangkul dari banyak komunitas sehingga bisa membentuk “Komunitas Peduli AIDS Klaten” yang tentunya tidak lepas dari peran serta teman-teman KPA Kabupaten Klaten.

Maju terus Klaten dalam tugas mulia untuk sesama yang membutuhkan dalam satu tujuan “Klaten STOP AIDS”.

(danang/spekham.org)

Paingan di Pasar Sapi

LSM SPEK HAM Solo bekerjasama dengan KPA, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan RSUD Pandanarang Boyolali melakukan sosialisasi HIV dan AIDS yang bertempat di Pasar Sapi Singkil pada hari Sabtu, 16 Agustus 2014. Pada kegiatan ini SPEK PAINGAN DI PASAR SAPI 1HAM membagikan juga brosur informasi kepada para pengunjung yang berada di Pasar Sapi agar selain mengetahui mengenai HIV AIDS dari sosialisasi yang diberikan juga bisa dengan membaca brosur tersebut. Selain brosur, juga dibagikan beberapa alat untuk pencegahan virus HIV AIDS seperti kondom.

Warga yang datang ke Pasar Sapi sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Selain ada sosialisasi terkait virus HIV AIDS, pada kesempatan ini juga diadakan layanan tes VCT gratis untuk umum. Pada acara sosialisasi ini juga disuguhi hiburan dangdut dan juga banyak door prize sehingga masyarakat banyak yang tertarik untuk mendekat ke tempat sosialisasi. (atik/spekham.org)

Situasi ODHA Terkini

Temuan terbaru pengidap HIV AIDS saat ini terjadi pada ibu rumah tangga (IRT), hal ini disebabkan pasangan atau suaminya yang terlebih dahulu terkena virus penyakit tersebut. Banyaknya IRT pengidap HIV tentunya mempunyai dampak resiko tinggi terhadap anak-anaknya. Ibu rumah tangga adalah korban, karena mereka sebagai istri yang mengurus rumah tangga tertular dari pasangan atau suami yang tidak setia.

IRT ODHA dalam hal ini adalah merupakan korban yang berlapis, selain harus menyandang status sebagai ODHA, tidak sedikit IRT adalah janda dimana dia harus menghidupi anak-anaknya dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya. (atik/spekham.org)