Search for:

Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup di “GRIYA LILIN“

Selasa, 2 Desember 2014 jam 10.10 WIB, kami mendapatkan telephone dari Badan Lingkungan Hidup Surakarta bahwa akan ada kunjungan dari Kementrian Lingkungan Hidup yang akan mendarat jam 11.00 WIB di Bandara Adi Sumarmo. Meski agak terburu-buru, tapi saya tetap menyanggupinya. Saya koordinasikan hal tersebut dengan team dari Griya Lilin yang terdiri dari Ibu Dwi S, Ibu Nana, Ibu Linda, Ibu Yulaikah, Ibu Haryani, Ibu Triyani Wahyuni, Ibu Jasmin, Ibu Makmis, Ibu Kedah.

Kami menunggu sejak jam 11 sampai team dari SPEK HAM juga datang, tetapi tamu juga belum datang sampai jam 13.00 WIB. Saya konfirmasi ke pihak Kelurahan Joyosuran, ternyata tamu dari Kementrian masih ada agenda di Balekota. Tanggal 3 Desember 2014, sekitar pukul 09.00 WIB, team dari Kemetrian Lingkungan Hidup Jakarta datang di Griya Lilin. Ada 3 orang dari Kementrian Lingkungan Hidup, 2 orang aktifis lingkungan hidup, 1 orang dari BLH Kota Surakarta dan 1 orang dari Kelurahan Joyosuran.

Diawali dengan perkenalan dari team yang diwakili Bapak Prayoga dari KLH , Bapak Mukti dari Team Adipura dan Bapak Bani dari BLH Kota Surakarta. Team Adipura tersebut ingin tahu bagaimana pengelolaan sampah dan limbah pada kegiatan home industry ini. Saya bersama Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup (Large)dengan teman-teman dari Griya Lilin saling menambahkan menjawab “Dalam kegiatan ini hampir tidak ada limbah, karena bahan utama lilin tidak ada yang dibuang, bahkan kami mengelola limbah sampah seperti kain perca, plastic, botol-botol yang kami padu padankan menjadi kerajinan seperti tempat tissue, tempat lilin, dan souvenir lainya”. Team Adipura sangat tertarik dengan tas-tas dan aksesoris yang terbuat dari plastik  bekas (plastik kresek). Hampir semua pengunjung yang datang ke Griya Lilin tertarik dengan hasil karya ibu-ibu di Kelompok Permata ini. Produk jenis itu sangat sulit pemasarannya. Paling kalau ada orang-orang asing yang kebetulan datang berkunjung di Kelompok Usaha Perempuan Griya Lilin ini yang membelinya. Lebih lanjut Ibu Eky menyampaiakan bahwa ke depannya, usaha kelompok perempuan ini masih banyak sekali kendala, dari penyadaran kepada warga untuk memilah sampah, memberikan ketrampilan dan setup pemasaran yang lebih menjamin keberlangsungan UKM-UKM di Joyosuran ini.

Ibu Nana lebih lanjut menjelaskan bahwa Griya Lilin ini masuk dalam kegiatan di KPJ, khususnya untuk pemberdayaan perempuannya. Selain untuk kegiatan UKM, ibu dua anak itu juga menjelaskan program pengelolaan lingkungan yang diwadahi dalam kegiatan merawat kali jenes, dimana kali dan bantarannya yang memiliki panjang 734 meter ini menjadi potensi yg baik  bagi perempuan karena ada tiga hal besar yang akan dilakukan yaitu normalisasi kali, penanaman tanaman pangan pinggir kali, dan pengelolaan sampah. Kesemuanya akan terkonsentrasi untuk penciptaan lingkungan di bantaran kali pada kususnya, dan di seluruh wilayah Joyosuran pada umumnya menjadi wilayah yang bersih dan nyaman. Harapan Ibu Eky, Ibu Nana dan teman-teman, setiap kunjungan dari Pemerintah seperti ini hendaknya bisa disampaikan keluhan dan kondisi kelompok UKM seperti Griya Lilin ini sehingga tidak hanya menjadi sekedar kunjungan kedinasan yang hanya ceremonial dan tugas dinas saja. (nocko alee/dok photo : kpj/spekham.org)

Warna-Warni Seksualitas Perempuan dan Hak Kesehatan Reproduksi

Rabu, 3 Desember 2014, Talitakum bersama SPEK HAM Surakarta mengadakan diskus publik yang bertemakan “Warna-Warni Seksualitas Perempuan dan Hak Kesehatan Reproduksi” bertempat di Griya Solopos. Acara ini mendatangkan 4 narasumber, yaitu  Reny Kistiyanti (Direktur Talitakum), Endang Listiani (Direktur SPEK HAM), Ichwan Prasetyo (Jurnalis Solopos), dan T.A Harry Prapanca (Dosen Psikologi Universitas Srajana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta).

IMG_20141205_074106Dalam pembahasan pertama, Reny Kristiyanti mengungkapkan tentang konsep SOGIEB yaitu singkatan dari Sexual Orientation, Gender Identity, Expression, and Body. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah bagian besar dari seksualitas individu dan formula yang mudah untuk lebih mengerti tentang konsep seksualitas. Maka, sebenarnya sex dan gender adalah sesuatu hal yang berbeda dimana sex dibawa sejak lahir, bersifat universal, bersifat biologis, tidak berubah dari waktu ke waktu. Sedangkan gender terbentuk secara sosial, bisa berubah dari waktu ke waktu, dan lebih kepada keragaman ciri. Yang diakui masyarakat kita hanya mengenal heterosexual yaitu pasangan lawan jenis namun bagaimana dengan perempuan yang tidak bisa mengambil kebijakan akan seksualitasnya? Perempuan non-mainstream sering mendapat deskriminasi masyarakat.

Seperti yang dikemukakan oleh Endang Listiani selaku Direktur SPEK HAM, bahwa perempuan non-mainsteam sulit untuk mendapat akses kesehatan ataupun akses informasi. Diskriminasi masih kental karena Undang-Undang di Indonesia seperti Undang-Undang Pornografi masih menganggap homoseksual adalah pelanggaran. Sedangkan dalam Undang-Undang kesehatan masih mengikat dengan pasangannya, yang berarti pasangan heteroseksual. Ini tentu akan menyulitkan homoseksual, khususnya perempuan non-mainstream atau lebih dikenal dengan lesbian untuk mengakses layanan kesehatan. Seharusnya jaminan kesehatan masyarakat sudah tidak bersyarat atau terikat dengan seksualitas. Hak mengakses kesehatan untuk kaum homoseksual harus ada.

Sedangkan menurut T.A Harry Prapanca  “Kepribadian tidak diturunkan secara genetik tetapi karena faktor lingkungan. Setiap orang sangat berpotensi menjadi homoseksual. Diskriminasi masyarakat yang kental juga dipengaruhi oleh media masa seperti koran. Masyarakat akan lebih percaya dengan hal yang diberitakan media masa.” Jurnalis Solopos Ichwan Presetyo mengatakan bahwa pendidikan gender juga harus ada dalam pers agar stigma yang ditunjukan dalam penulisan berita tentang homoseksual bisa berubah.

Membuka hak seksual memang masih dianggap kriminal di Indonesia. Strategi yang harus dilakukan adalah advokasi yang menggugah nurani seseorang tentang HAM.  Belajar untuk menghargai keragaman orientasi seksual juga harus ditumbuhkan. (indah sf/spekham.org/photo : indri suparno)

Mencegah Penularan HIV AIDS Melalui Ibu Hamil

IMG_5437 (Small)Di sejumlah Negara berkembang, HIV AIDS merupakan salah satu penyebab utama kematian perempuan usia reproduksi. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu, serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Peningkatan jumlah infeksi baru HIV pada perempuan akan berdampak meningkatnya jumlah infeksi HIV pada anak. Di Kabupaten Boyolali, ibu rumah tangga menduduki posisi ke-2 terbanyak sebagai penderita HIV AIDS. Oleh karena itu Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali bekerjasama dengan LSM SPEK HAM Surakarta dan layanan VCT (RSUD Pandanarang, RSUD Banyudono dan RSUD Simo), mengadakan pemeriksaan dengan target 1500 Ibu hamil yang ada di wilayah Kabupaten Boyolali. Salah satunya adalah pemeriksaan yang dilakukan di Bale Desa Bendan, Banyudono pada senin, 24 November 2014 mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Dan kegiatan ini diikuti oleh 64 orang ibu hamil.

Kondisi di atas menunjukkan pentingnya implementasi program prevention of mother to child transmission of HIV (PMTCT) yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi dari infeksi HIV. Program PMTCT komprehensif berupaya meningkatkan kepedulian dan pengetahuan perempuan-perempuan usia reproduktif tentang HIV dan AIDS, meningkatkan akses perempuan hamil untuk mendapatkan layanan konseling dan testing HIV (VCT), meningkatkan akses perempuan hamil HIV positif untuk mendapatkan layanan pengurangan risiko penularan HIV ke bayinya, serta meningkatkan akses perempuan HIV positif dan keluarganya untuk mendapatkan layanan psikologis dan sosial agar kualitas hidupnya terjaga. (atik fatma/spekham.org)

Implementasi Pertanian Ramah Lingkungan di Brebes

IMPLEMENTASI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI BREBES

“PRAKTEK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK”

Praktek pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair ini merupakan kegiatan lapangan pendahuluan dalam program “Membangun Kepemimpinan Perempuan untuk Ekonomi Berkelanjutan Melalui Pertanian Ramah Lingkungan” kerjasama SPEK-HAM dengan HIVOS.  Empat Dusun yang disasar dalam kegiatan ini adalah : Dusun Cikorowok dan Dusun Buara di Desa Buara, Kecamatan  Larangan dan Dusun Kali Banteng dan Mingkrik di Desa Pamulihan, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Praktek pembuatan kompos ini nantinya akan menjadi salah satu sarana dalam pengembangan pertanian serta mewujudkan pertanian terpadu melalui pemanfaatan seluruh potensi alam dan daya dukung lahan sehingga mampu mengarahkan dunia pertanian di kedua Desa menuju kemandirian dan peningkatan produktifitas. Kegiatan praktek yang diutamakan untuk membangkitkan kemampuan perempuan petani di kedua Desa sehingga mampu memberikan motivasi bagi pengembangan kehidupan mereka.

Kegiatan pembuatan pupuk organik dilaksanakan di 4 lokasi yang berbeda. Pada hari Senin tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Cikrowok dan Dusun Buara, Desa Buara Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Sedangkan pada hari Selasa tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Mingkrik dan Dusun Kali Banteng, Desa Pamulihan Kecamatan Larangan Brebes. Melibatkan sekitar 20 peserta di masing-masing lokasi.

Stake holder yang berperan kali ini adalah Dinas Peternakan Kabupaten Brebes yang telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan pertanian terpadu, salah satunya proses pembuatan kompos.  Penggunaan teknologi mikroba yang telah dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes cukup mampu untuk menjadikan kondisi pertanian di wilayah Kabupaten Brebes mampu menjadi salah satu potensi yang dapat diandalkan.  Bantuan teknis dan sarana yang diberikan Dinas Peternakan Brebes dalam mendukung kegiatan ini sangat besar dan dapat memberikan indicator keseriusan stake holder dalam membangun wilayah.

Berikut ini proses pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah/kotoran ternak yang bisa diaplikasikan di wilayah lain.

Bahan dan Alat Pembuatan Pupuk Organik :

  1. Hasil samping peternakan (kotoran ternak sapi dan kambing)
  2. Serbuk gergaji
  3. Dedaunan
  4. Dolomite
  5. MA 11
  6. Tetes/molasses
  7. Air sumur
  8. Air kelapa
  9. Air cucian beras
  10. Cangkul
  11. Pengki
  12. Terpal
  13. Karung plastik
  14. Raffia
  15. Sprayer

Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  •  Air : 15 liter
  • MA 11 : 250 ml
  • Tetes : 500 ml
  • Ketiga bagan dicampur merata dan didiamkan selama 10 menit.
  1. Kotoran ternak (1.000kg), serbuk gergaji (50kg), daun kering/seresah (20kg), dan dolomite (20kg) dicampur merata di lokasi yang ternaungi.
  2. Campuran bahan padat tersebut kemudian disemprot cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 10 menit tadi dengan menggunakan spayer sambil dilakukan pengadukan sehingga terjadi pencampuran merata.
  3. Karena lokasi prosesing yang tidak ternaungi sempurna, maka dilakukan proses fermentasi dengan memasukkan bahan kompos tersebut dalam karung. Diperoleh sekitar 21 karung yang kemudian ditumpuk dihalaman petani yang ternaungi dan ditutup dengan plastik sampai rapat.
  4. Proses fermentasi dilakukan selama 3 (tiga) hari dan akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.

Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  • MA 11 : 100 ml
  • Tetes : 250 ml
  • Kedua bagan dicampur merata dan didiamkan selama 20-30 menit.
  1. Air leri (cucian beras) dan air kelapa sebanyak 20 liter dipersiapkan. Tidak menggunakan urine/cairan kandang karena petani tidak menyiapkan.
  2. Campuran bahan cair tersebut bersama dengan cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 20 – 30 menit tadi dan dimasukkan dalam wadah tertutup di botol-botol air kemasan dan didiamkan selama 3 (tiga) hari.
  3. Akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.
  4. Dosis pengenceran pupuk organik cair : air = 1 : 10.

 

(eka budhi sulistiyo/spekham.org)

Form Lomba Video Kreatif Anti Kekerasan Seksual

Pamflet Lomba Video Kreatif

Setiap tanggal 25 November hingga 10 Desember selalu diperingati sebagai 16 hari anti kekerasan terhadap (HAKTP). Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 

Nah untuk itu SPEK-HAM Solo bersama LRC-KJHAM Semarang . Salah satu lembaga sosial yang fokus pada perlindungan perempuan dan anak menantang kamu-kamu yang hoby narsis dan mengaku kreatif untuk ikutan membuat video kreatif.

Download formulir pendaftaran peserta individu : DISINI!

Download formulir pendaftaran peserta kelompok : DISINI!

Merawat Kali dengan Hati untuk Generasi yang Akan Datang

Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Pengelolaan Tanaman Pangan Di Kelurahan Joyosuran Dalam Mendukung Pengelolaan Kali Jenes

Sampah, menjadi hal yang sangat popular di tiga bulan terakhir di Kelurahan Joyosuran, tepatnya sejak dilakukan pembaharuan pemetaan persoalan dan potensi sampah oleh Kelompok Perempuan. Hasil pemetaan tersebut mendapat respon baik dari pemerintah kelurahan, yang ditindaklanjuti dengan program perawatan Kali Jenes yang dikaitkan dengan resiko banjir di musim penghujan ini tahun ini.

Beberapa rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan adalah workshop pengelolan sampah dengan perspektif pengurangan resiko bencana. Kedua adalah pembentukan Paguyuban Ngrekso Kali Jenes (PAGAR KAJEN) pada tanggal 22 Desember 2014. Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) mengambil peran yang cukup srategis dalam perencanaan, pelaksanaan maupun dalam evaluasi kegiatan.

Langkah pertama untuk merealisasikan program pengelolaan Kali Jenes adalah dengan penyediaan infrastruktur untuk pemisahan sampah. Pemerintah Kelurahan Joyosuran menyedikan tong sampah di sepanjang Kali Jenes, dimana kebutuhan tong sekitar 60 buah, yang tersedia saat ini baru 20 buah bantuan dari dana CSR yang ada di Kelurahan Joyosuran, sedangkan kekuranganya akan diusahakan selanjutnya.

Untuk membangun perspektif di masyarakat dan membangun keterlibatan seluruh masyarakat dalam program Kali Jenes tersebut, PAGAR KAJEN dengan seluruh elemennya melakukan sosialisasi pada para stakeholder dan juga masyarakat di bantaran Kali Jenes. Sosialisasi tahap pertama melibatkan para RT dan RW di Joyosuran, dengan materi yang pertama Kebijakan Pemerintah Solo yang disampaikan oleh Perwakilan dari Kantor Lingkungan Hidup. Tentang Peraturan Pembuangan Sampah yang disampaikan oleh Lurah Joyosuran. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah oleh Ketua Paguyuban PAGAR KAJEN.

sos kj 9Di dalam kegiatan tersebut, Kelompok Perempuan Joyosuran menyampaikan materi tentang Sampah dan Pengelolaanya.  Sharing berdasarkan pengalaman KPJ dalam pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemisahan, penjualan, sampai pemanfaatan limbah sampah untuk kerajinan yang memiliki nilai eonomis. Kegiatan dilaksanaan pada tanggal 8 Oktober 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Ada usulan yang baik seperti perlunya mekanisme pengelolaan sampah yang efektif misalnya penyediaan tempat penampungan, petugas pengambil sampah.

Sosialisasi tahap dua akan dilakukan di tiga group, dengan sasaran warga di bantaran Kali Jenes dan juga RT dan RW yang berkepentingan akan wilayahnya. Group 1 meliputi RW 3 dan RW 2 yang bertempat di pinggir Jembatan Tempen, pelaksanakan dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dihadiri 86 orang. Kegiatan sosialisasi yang kedua dilaksanakan pada 15 Oktober 2014 bertempat di pinggir Kali RW 04, dengan melibatkan partisipan 75 orang  yang terdiri dari RT dan RW wilayah RW 04 dan RW 11, warga bantaran kali di sebelah kiri dan kanan Kali Jenes. Sedangkan sosialisasi ketiga, di group tiga dilaksanaan pada 17 Oktober 2014 di perempatan Jembatan Kali Jenes di RW 12, melibatkan 80 orang peserta yang terdiri dari warga bantaran kali, kelompok perempuan, CSR, dan tokoh masyarakat.

Dinamika yang terbangun dalam kegiatan ini adalah peran aktif dari peserta yang diundang, mereka sangat antusias, bahkan mereka membuat tawaran terhadap sanksi sosial pada warga baik yang dari Joyosuran maupun yang di luar Joyosuran apabila membuang sampah ke kali. Ada kesepakatan bersama tentang pengelolaan tanaman pangan di pinggir Kali Jenes dengan penanaman tanaman sayuran yang bisa di manfaatkan oleh warga. Membutuhkan peran serta semua pihak untuk mewujudkan program pengelolaan sampah terpadu tanaman pangan dalam mendukung pengelolaan Kali Jenes di Kelurahan Joyosuran.

Mari bergandeng tangan untuk lingkungan sehat di Joyosuran !!!

(nocko alee/spekham/dok. photo : KPJ)

“BUKAN BETINA BIASA“

(relasi saling membutuhkan antara ternak dan yang memelihara ternak)

“Aku seekor kambing betina muda. Umurku 14 bulan, warna kulitku coklat keemasan. Aku bahagia karena aku telah melahirkan anak pertamaku dengan kelahiran normal dengan dibantu orang yang memeliharaku selama 6 bulan ini, namanya Ibu Yuli . Sekarang aku bahagia bisa merawat dan menyusui dengan sepenuh kasih. Aku berharap bisa membawa anak lelakiku di Posyambing (Pusat Pelayanan Kesehatan Kambing) Rukun Makmur, Desa Musuk, Boyolali. Aku merasa sempurna sebagai seekor kambing betina seutuhnya…..” Itu sepenggal hayalanku sebagai manusia dimana selama 6 bulan ini merawat kambing milik kelompok Rukun Makmur.

Kedatangan pertama kali

Pertama kali datang ke kandang milik Bu Yuli pada tanggal 29 April 2014 dengan kondisi bunting, kata pedagang yang mengantar (Bapak Sukoyo) tanpa dicek langsung oleh Bu Yuli sebagai penggaduh. “Makannya gampang dan minumnya (ngombor) juga mudah”, tutur Bu Yuli.

Siap ber-reproduksi

Kambing yang menurut penjualnya sudah bunting tersebut ternyata mengalami masa birahi lagi (siap kawin). Aku sempat terkejut karena selang dua minggu setelah dibeli, kambing sering mengembik dan menendang pinggiran kandang dengan tubuhnya. Karena tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang masa birahi kambing, saya menunggu suami saya untuk menceritakan yang terjadi pada kambing tersebut. Sore hari setelah suamiku di rumah, dia memberitahu kalau kambingnya birahi lagi. Beruntung, di kandang sudah ada kambing pejantan yang cukup baik kualitasnya, yang bisa dilihat dari ciri-ciri berikut : perawakan tinggi , kulitnya lentur. Membedakan kualitas kambing yang baik dan kurang baik aku peroleh dari kebiasaan dan menurut pengalaman banyak orang.

Nah, proses mengawinkannya tinggal mendekatkan saja mereka akan bereproduksi sendiri.  Selang sebulan kemudian, tepatnya awal bulan Mei, kambing sudah tidak bertingkah aneh-aneh lagi dan sekarang sikapnya semakin tenang, bulunya halus dan makannya semakin lahap. Menurut suamiku itu pertanda sudah bunting.

Inilah pakan kambing

Aku semakin perhatian dengan kondisi kesehatan kambing betinaku. Pagi, siang, dan sore saya kontrol makanannya. Yang biasanya tidak diberi bekatul, sekarang aku kasih bekatul karena bekatul mengandung banyak zat mineral. Selain itu juga setiap pagi diberi makan bekatul yang dicampur air hangat. Pakan-pakan dari dedaunan segar seperti lamtoro, kaliandra juga aku rajin berikan agar susu yang dihasilkan banyak.

Pada saat bunting 4 bulan, aku melihat semakin besar perutnya. Apakah kira-kira anaknya nanti satu atau dua? Asal jangan tiga, karena menurut teman-temanku di Kelompok, kalau tiga maka akan rumit perawatannya. Hal ini dikarenakan puting susunya hanya dua, sehingga satu anak harus memakai dot jika menyusui. Berdasarkan pengalaman  beberapa orang biasanya anak yang ketiga pertumbuhanya kurang maksimal karena tidak bisa menyusu langsung pada induknya.

Proses melahirkan

Lamanya kambing bunting sekitar 5 bulan. Menurut perkiraan suamiku, kambing akan beranak sekitar bulan akhir Agustus atau awal September. Aku juga berdebar-debar menunggu kelahiran anak kambing yang sudah aku pelihara selama 6 bulan ini. Aku selalu bertanya kepada tetangga maupun suami tentang bagaimana merawat dan menunggui kambing pada saat persalinan, ini pasti tidak mudah bagiku. Untungnya di pertemuan Kelompok Rukun Makmur bulan Agustus, aku dapat bertanya pada warga yang memiliki pemahaman dan ketrampilan memelihara ternak. Menurutnya kita harus tahu tanda-tanda kapan waktu kambing beranak. Tanda-tandanya seperti : Ketika menggembek, suaranya berbeda dari biasanya, terus dia sering tiduran dari pada berdiri, dan ada lender cairan putih di vaginanya.

Tanda-tanda ini sudah kelihatan pada awal bulan September. Suaranya berubah, sering tiduran, dan terakhir ada lendir bening di kemaluannya. Aku berperan layaknya bidan, aku menunggui beberapa menit tapi belum ada tanda–tanda, kemudian aku tinggal memasak dan mengurus anak dan suami, setelah sebelumnya aku jauhkan terlebih dahulu dari kambing-kambing lainnya. Di sekitar tempat beranak aku beri “larahan” (daun kering) agar anaknya lahir di tempat yang aman dan bersih serta hangat.

Pada tanggal 2 September, kira kira jam 15.15 WIB, kambing sudah waktunya beranak. Dia terus mengembik lirih, dia berdiri dan duduk sering sekali, dan lendirnya semakin banyak. Pada waktu tepat jam 15.30 WIB, kaki kecilnya sudah kelihatan tetapi belum lahir-lahir. Aku bingung, apakah didiamkan saja atau ditarik? Pengalaman dari warga yang lain, waktu menunggu kelahiran dia menarik kaki anak kambing menggunakan kaos.  Aku lalu menyiapkan air hangat yang diberi garam, serta kaos untuk menarik. Kambing tersebut semakin kuat berkontraksi. Disaat seperti itu aku beranikan diri memegang kaki kambing yang baru kelihatan beberapa sentimeter, dan seiring kambing itu mengembik panjang dan aku menariknya dengan gemetar. Seketika terlihat bayi kambing masih terbungkus lendir putih dari kaki sampai kepalanya. Aku lihat, secara alami induk kambing spontan mendekati anaknya dan menjilati perlahan. Aku membantu membuka cairan di hidung dan matanya agar bisa bernafas. Ajaibnya, tidak kurang dari 3 menit kambing itu belajar berdiri dan mau berjalan, dan luar biasanya lagi anak kambing mencari punting susu ibunya dan perlahan meminum susu untuk pertama kalinya. Aku hanya tertegun melihat pengalaman menakjubkan selama 15 menit tadi. Aku masih menunggu apa akan ada bayi lahir setelah anak pertama? Tetapi sampai 15 menit tidak keluar lagi, berarti hanya ada satu bayi dengan warna coklat kehitaman, berat 2,7 kg dan panjang 45 cm.

Sehari, dua hari, kambing itu semakin tumbuh besar dan sudah bisa berlari-larian dan bermain dengan induk dan juga kambing lainnya. Dari pengalaman ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hewan ternak juga perlu diperhatikan. Tidak hanya dieksploitasi untuk mendapatkan laba saja, karena mereka juga makluk hidup. Terbersit dalam benakku untuk memberi nama anak kambing itu dan akan aku bawa dalam Posyambing bulan Oktober nanti untuk ditimbang dan diberi vitamin dan obat cacing, …hememmm kamu memang bukan kambing betina  biasa…

 

****Di tulis oleh Yuliati (Anggota Kelompok Perempuan Rukun Makmur)

edit oleh Noko alee (CO kelompok Perempuan  Rukun Makmur desa Musuk ) dan Nila Ayu (Manager Divisi Sustainable Livelihood SPEK HAM)