Search for:

Harapan-harapan Populasi Kunci di Surakarta Kepada Media

media gathering oleh OPSI

Surakarta telah memiliki visi dan misi terkait program yakni 3 WMP (Waras, Wasis, Wareg, Mapan, Papan) bahkan terkait penanganan HIV bukan sekadar formalitas. Hingga lahir produk-produk payung hukum seperti perda dan perwali. Demikian dikatakan oleh Slamet Priyanto, Fokal Poin yang mengusung isu HIV dan AIDS pada acara Media Gathering oleh Organisasi Perubahan SosiaI Indonesia (OPSI), Senin (19/8) di Javenir Resto&Artshop. Pertemuan yang menghadirkan media cetak, daring dan radio termasuk mengundang spekham.org tersebut diikuti oleh beberapa komunitas dari populasi kunci : Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) wilayah Klaten, KDS Surakarta, pendamping pengguna narkoba, IPI, dan GayaMahardika.

Mulyadi, pendamping pengguna narkoba dari Yayasan Mitra Alam selama beberapa tahun terakhir membentuk 1 kelompok dukungan dan pernah melakukan kolaborasi dengan media Soloposdan  tampil di youtube. “Harapan saya kepada media adalah karena di Solo penggunaan narkoba nomor 2 terbesar di Jawa Tengah, supaya media memberi edukasi kepada masyarakat. Pemberitaan bukan hanya soal target penangkapan saja misalnya tetapi juga rehabilitasi,”ujar Mulyadi. Saat ini ada 17 wilayah yang didampinginya di 17 RT, yakni sebuah RW di kelurahan Semanggi. “Saya ingin mengharap media juga paham bahwa hak pengguna itu ada,”imbuh Mulyadi.

Mulyadi berjejaring dengan BNN Kota Surakarta dengan membentuk kelompok organisasi antinarkoba dengan syarat berhenti menggunakan narkoba. “Saat ini yang memprihatinkan adalah anak-anak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) sudah mengkonsumsi sabu-sabu. Dan saya mendampinginya,”terang Mulyadi. Ia menambahkan bahwa rehabilitasi yang dilakukan oleh lembaganya biasanya berlangsung 6 bulan. Pendampingan akan dilakukan kelompok sehabis rehabilitasi, dan kemudian dirujuk. Konseling dilayani selama 24 jam dan jika ada perubahan akan dipulangkan ke masyarakat. “Biasanya keluarga memasukkan ke rumah sakit jiwa dahulu, kemudian setelah 2-3 minggu, diserahkan kepada komunitas. Lalu kami beri edukasi, secara emosional dan mood,”tukas Mulyadi. Sejak bergerak di isu penggunaa narkoba dan napza lainnya di tahun 2005-2006-an, Mulyadi telah berhasil menjangkau pengguna narkoba sebanyak 1700-an orang.

Sulis, survivor HIV berharap kepada media bahwa dengan adanya Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dan pertemuan komunitas ODHA bisa mengikis stigma. Media mestinya berpihak kepada orang dengan HIV tidak dengan mendiskriminasi karena terbukti mereka banyak yang berdaya. Beberapa agenda yang didampingi dari temuan sampai progress lanjutan. “Alurnya, ada telepon dari pasien, lalu kita pantau 1-3 bulan, kemudian klien dilepas untuk bisa mandiri. Yang sebelum 3 bulan berarti berani ambil obat sendiri. KSD sudah mendampingi 600 orang dengan HIV se-Solo Raya. 1 pendamping secara program mendampoingi 40 orang. Ada teman, orang dengan HIV baru yang saat di RS belum ambil obat, lalu kami kasih tahu via WA, kita follow up ke rumah sambil ngobrol dan sharing,praktiknya seperti itu,” pungkas Sulis. (red)

Kolaborasi Program TB dan HIV di Kabupaten Boyolali Mutlak Diperlukan

dr. Sherly Jeanne

Dr. Sherly Jeanne Kilapong, Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Boyolali mengatakan bahwa saat ini urgen untuk dilakukan kolaborasi program tuberculose (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebab data terakhir Januari-Juli 2019  baru ditemukan 399 kasus TBC dari target 2000-an. Karena program pemerintah adalah kolaborasi TB dan HIV, dia mengharapkan para kader supaya bisa menemukan sebanyak mungkin TB, dan yang berisiko tertular HIV. “Dengan adanya target, sebanyak ingin kita dapat terduga TB, secepat mungkin diobati, dan berobatnya gratis. Fasilitas kesehatan semua melayani TB, kalau terduga HIV dilayani di RS Pandanaran RS Simo dan Puskesmas Boyolali 1,” terang dr. Sherly Jeanne di hadapan para peserta Training TB-HIV terdiri dari pendamping sebaya dan petugas lapangan serta kader TB yang diselenggarakan oleh SPEK-HAM didukung Yayasan Spiritia dan Lakpesdam NU di Hotel Pondok Asri, Jumat (16/8).

Dr. Sherly Jeanne menjawab pertanyaan peserta terkait Orang Dengan HIV positif (ODHA)yang  sudah minum rutin meminum antiretroviral (ARV) dan terdiagnosa TB serta bagaimana dengan pengobatannya? Dua-duanya diminum dan ARV tidak boleh putus. Minum obat paling bagus pagi hari, ketika tubuh masih fresh. “Kalau minum obat TB sebaiknya sebelum makan, penyerapan obat bisa 100 persen. Minum obat antibiotik sebaiknya sebelum makan, kecuali yang asam,”jelas dr. Sherly Jeanne. Terkait layanan, pihaknya telah mulai mengembangkan layanan, untuk Boyolali pemeriksaan diagnosa di setiap layanan harus mulai dikembangkan. Layanan TB semua puskesmas bisa. Karena TB masuk dalam skala prioritas maka harus selesai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama sehingga tidak boleh dirujuk, kecuali kalau ada komplikasi. “Kalau hanya TB saja di FKT harus selesai,”tukas dr. Sherly.

Salah seorang kader TB di Boyolali

Fahrul Rozi, penggerak komunitas TB di Yogyakarta, narsum lainnya dalam training ini memiliki alasan mengapa kolaborasi program TB dan HIV ini penting. Karena menyangkut dunia luar, yakni turis asing yang habis masuk Indonesia dan mereka mendapatkan penyakit ini. Pendekatan TB menurutnya, jika sudah terpapar penyakit ini, maka pendekatan kepada keluarga adalah penting. Menurutnya, jika salah seorang anggota keluarga terpapar penyakit TB, maka semua anggota keluarga perlu memeriksakan diri, termasuk anak-anak didalamnya. Jika satu keluarga terpapar oleh penyakit TB, maka empat tetangga dekat (dari kiri, kanan, utara, selatan) juga harus diperiksa. “Indonesia menempati urutan nomor dua untuk kasus TB terbanyak, dan jika sudah TB terpapar pula HIV maka irisannya akan semakin lebih banyak lagi dan pendekatannya akan berbeda antara teman-teman,”jelas Rozi. Rozi juga menambahkan bagaimana peran kader penggerak TB sangat besar dalam hal ini ketika di lapangan menjumpai kasus terduga TB, dan mengajaknya untuk melakukan tes HIV. (red)

IAC Lakukan Pelatihan Media dan CSO Upayakan Pemberitaan Positif Bagi ODHA

Suasana pelatihan media dan CSO yang berperspektif ODHA

Indonesia AIDS Coalition (IAC) bekerja sama dengan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) melakukan pelatihan bagi awak media dan organisasi sosial, dalam hal ini populasi kunci, pada 12-14 Agustus di Hotel Novotel. Pelatihan difasilitasi oleh Akbar Prayuda dari IAC dan Patrianus dari Komunitas Rumah Cemara. Pelatihan selain memberikan pembekalan pengetahuan dasar hingga pengobatan serta situasi dan data kekinian tentang paparan HIV dan AIDS, juga menemukan solusi bagi kerja-kerja advokasi yang lebih baik.

Terkait situasi epidemi HIV dan AIDS di Kota Surakarta, Agus Hufron, narasumber dari Dinas Kesehatan menjelaskan bahwa untuk Surakarta dan sekitarnya Orang Dengan HIV dan AIDS yang mengakses layanan (estimasi) adalah 3.180 dan yang memenuhi syarat ACT sebanyak 2.537 dan pernah mengalami pengobatan sebanyak 2.384. Yang sudah meninggal sebanyak 548, masih terapi ARV sebanyak 873, stop secara sadar sebanyak 60, sedang drop out tanpa diketahui alasan sebanyak 564 orang dan menjalani rujukan sebanyak 339.  

Dari data di atas, para peserta melakukan diskusi terkait rencana tindak lanjut yang akan dilakukan oleh komunitas di populasi kunci antara lain adalah salah satunya mengangkat tema pengobatan bagi ODHA melalui sosialisasi. Sosialisasi yang akan dilakukan di antaranya kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama serta media. Selain pengobatan, para peserta diskusi juga memetakan masalah bahwa terkait diskriminasi dan stigma masih terjadi pada ODHA baik di kalangan masyarakat sendiri, maupun yang datang dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Dinsos dengan menyerahkan pengasuhan dan perawatan ODHA terlantar kepada yayasan atau komunitas seperti yang saat ini dilakukan oleh Yayasan Gaya Mahardika Solo dengan merawat lima Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) dengan fase penyakit yang menyertainya.   

Media Hendaknya Bijak Menggunakan Bahasa-Bahasa Positif

Dalam pelatihan ini, Noer Atmaja dari Radio TA TV memberikan masukan bahwa bahasa-bahasa yang digunakan dalam media audio lebih awam, tidak detail, tidak terlalu medis, namun mudah diingat oleh pendengar. Noer juga setuju ketika pilihan diksi positif juga akan mengurangi stigma di masyarakat seperti kata ‘penderita’ diganti dengan ‘pengidap’ atau lebih bagus lagi dengan enyebutan Orang Dengan HIV atau Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA).

Suasana diskusi

Perlu persebaran informasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dasar terkait penanggulangan HIV dan AIDS. Berita-berita positif antara lain pengetahuan bahwa penyakit ini bisa diobati dan ODHA bisa berdaya, dengan catatan rutin terapi meminum ARV. Orang dengan HIV juga bisa berprestasi, memiliki keturunan, dan bekerja dengan baik di masyarakat. Butuh dukungan dari segenap masyarakat, jika pengetahuan tentang HIV dan AIDS lebih dini diketahui maka pengobatan lebih mudah dilakukan serta untuk pencegahan penularan agar tidak masif. (red)

Kurangnya Pendidikan HKSR sebabkan Tingginya Angka Kehamilan Remaja dan Kematian Ibu di Klaten

Tercatat 400 kehamilan remaja di Kabupaten Klaten, 159 terlaporkan hingga ke persalinan sedangkan sampai pertengahan tahun ini menurut data 143 kasus kehamilan terjadi di usia remaja, 43 terlapor sampai persalinan, sedang sisanya tidak diketahui. Selain itu, Angka Kematian Ibu (AKI) sampai semester pertama adalah delapan orang. Demikian data yang dibuka saat workshop media yang diselenggarakan oleh Yayasan Inisiatif Perubahan Akses Menuju Sehat (IPAS) Indonesia.

dr Marcia Soumokil, Direktur Ipas Indonesia

Dilatarbelakangi hal tersebut maka IPAS Indonesia menjadikan Kabupaten Klaten, Ponorogo dan Kota Yogyakarta. Untuk Kabupaten Klaten, Ipas Indonesia menggandeng Yayasan SPEK-HAM dan bekerja sama dengan RSUD Bagas Waras dan RSIA Aisyiyah. Dalam pendampingannya, IPAS Indonesia memberi pelatihan pada tim dokter dan para bidan. Dua puskesmas yang didampingi dalam layanan Asuhan Pascakeguguran Komprehensif (APK),adalah Puskesmas Bayat dan Juwiring.

Dr. Marcia Soumokil, Direktur IPAS menyatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang mendampingi dua rumah sakit di atas.

dr. Anggit Budiarto : Situasi Klaten Terkait AKI, AKB dan Angka Kehamilan Remaja Butuh Perhatian

Dr. Anggit saat menjadi narasumber diskusi

Situasi Klaten saat ini masih butuh perhatian karena Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan angka kehamilan pada remaja relatif tinggi. Ada 400 kasus kehamilan remaja dan tercatat kelahirannya sebanyak 158 kasus. Peran serta masyarakat sangat penting untuk menekan temuan ini. Apalagi tren pemahaman remaja sangat rendah. “Ada survei di Jawa Barat, remaja hobby tongkrong miras kemudian melakukan seks bebas dan di tempat-tempat yang seadanya. Kita pahamkan kespro ke remaja baik segi gizi minum tablet Fe (zat besi), buah dan sayur. Kebiasaan konsumsi fastfood akan menyebabkan kurangnya asupan gizi (sayur & buah). Remaja putri harus benar-benar diperhatikan persiapan kondisi kesiapan menuju kehamilan,”papar dr. Anggit Budiarto, PLT Kabid Kesmas Dinkes Klaten pada diskusi multistakeholder sensitivitas Hak Kesehatan Seksual Remaja (HKSR) yang dihelat Ipas dan SPEK-HAM di Merapi Resto, Rabu (31/7). Diskusi diikuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat, Kepala Puskesmas, Kader Kesehatan dan perwakilan organisasi seperti Aisyiyah, WKRI, Orang Muda Katolik (OMK) serta BEM Unwidha.

Menurut dr. Anggit lagi dalam paparannnya, permasalahan kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Klaten yakni tentang pemahaman terhadap permasalahan yang salah, kesadaran pola hidup sehat yang kurang, pemahaman tentang kesehatan reproduksi yang kurang terbukti banyak kejadian pada remaja melakukan seks bebas dan akhirnya ada temuan HIV/AIDS, remaja yang minim pengetahuan kespro, keberpihakan terhadap kesehatan ibu dan remaja masih minim serta, AKI dan AKB serta kehamilan risti masih tinggi. Dan beberapa arah pembangunan kesehatan yang dapat dilakukan adalah mengubah pemikiran egosentris tentang masalah yang ada bahwa kesehatan masyarakat merupakan kewajiban semua pihak, sinergi saling bergandengan tangan bersinergi program dan bersatu padu dalam meningkatkan derajat kesehatan.

Narasumber lain, Rahayu Purwaningsih, menyatakan bahwa jika terjadi kehamilan pada anak usia sekolah, akan menghilangkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Teknologi akan menjerat kehidupan perempuan apabila perempuan tidak waspada. Beberapa kasus kekerasan terjadi di ranah penyalahgunaan ponsel dan internet, yang dilakukan oleh pacar korban. “Ke depan kita akan mendorong para kepala desa berpihak sehingga ada penganggaran Dana Desa (DD) untuk kampanye dan mendorong pengetahuan kesehatan reproduksi perempuan sampai kepada remaja dan masyarakat desa,” papar Rahayu Purwaningsih. (red)