Search for:

Memutus Kekerasan dari Perempuan Sendiri

Suasana diskusi.
James Pennebaker, Ph.D dari Texas University USA, memelopori menulis sebagai terapi. Seorang peneliti lain, Karen Baiki Pd.D dari Clinical Psychogist University New South Wales USA melakukan penelitian jika menulis mampu menjadi terapi yang menyembuhkan diri sendiri. Ternyata itu telah terbukti secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan.

Fitri Haryani, Manajer PPKBM, Pencegahan dan Penanganan Kasus pada Yayasan SPEKHAM menyatakan di hadapan 14 perempuan penyintas peserta FGD, Kamis (24/10) di kantor SPEKHAM bahwa dirinya biasa menerima kasus dan sampai terkesan. Ia melihat dampak yang dialami kemudian oleh para perempuan korban. Kekerasan yang dialami seorang perempuan itu berdampak pula kepada anaknya. Satu kasus yang diterimanya itu yang kemudian mengajak untuk berpikir panjang kembali, terutama karena anaknya mengalami kekerasan pula. Ini tidak hanya terjadi pada orang yang tidak mampu saja. Bisa jadi orang yang tidak punya pendidikan, sekolahnya tidak tinggi, pada orang-orang tidak mampu. Ini yang terjadi pada status sosial yang begitu mapan, pendidikan yang tinggi.

Ia kemudian melihat persoalan itu akan selalu terulang dan selalu terjadi kembali karena tidak ada yang berani mengungkapkan sehingga korban, dan dampaknya anaknya jadi depresi. Kemudian dia sendiri tidak berdaya, dia tidak mampu mengembangkan skillnya. Dengan menuliskan permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan tersebut, Fitri berharap beban psikilogis akan berkurang.

Setelah berani mengungkapkan, dan menyampaikan, lalu muncullah perubahan. Fitri sangat mengapresiasi perempuan yang mampu membuka diri, karena terkait persoalan ini adalah bagian dari memutus kerentanan. Ada kasus telah berumur 20 tahun, dan kekerasan itu baru muncul dan kemudian menimbulkan dampak. Yang terjadi sekarang perempuan penyintas itu mampu bekerja, sudah stabil ekonomi, serta dapat memahami kondisi sosial yang dialaminya.

Menurut Elisabeth Yulianti Raharjo, Lawyer SPEKHAM, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada beberapa perempuan, mematahkan anggapan bahwa KDRT terjadi di strata bawah. Menurutnya ini tumpukan masalah yang tidak dikomunikasikan. Atau mungkin tidak tahu cara melepaskannya. ” Selama 20 tahun dipendam lalu meledak, bisa sampai wow gitu, jika hal ini kita tidak memiliki media untuk melepaskan beban psikologis,” tutur Liza.

Sharing sesama penyintas dengan menuliskan pengalaman hidupnya terkait kekerasan yang dialami ini bertujuan untuk mengungkapkan perasaan yang ingin dikeluarkan oleh para korban. Sebagian besar para penyintas merasa susah untuk mengungkapkan rasa (marah, takut, jengkel, sedih, cemas). Sedangkan kekerasan terutama bagi anak korban perceraian adalah anak menjadi sensitif. Perasaan negatif menjadikan dampak yang lebih besar.

Lalu bagaimana cara memanage rasa negatif?

Fitri mengungkapkan bahwa proses di SPEKHAM ada yang sampai tujuh tahun lamanya. Ada yang lebih parah tetapi bagaimana melakukan hingga menjadi perempuan yang mengalah (legowo)? Karena kekerasan itu yang memutus harus datang dari perempuan itu sendiri. Dan tujuan menulis ungkapan hati itu untuk menyampaikan pikiran negatif kemudian mengambil hal positif dari rasa negatif itu. (red)

FGD dan Layanan Mobile HCT Puskesmas Kalicacing Salatiga

Petugas Puskesmas dan Ucok M. Sirait, koordinator kegiatan

Junaedi , S.Kep,Ners.M.Kes, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Salatiga dalam paparan diskusi multistakeholder pada Agustus lalu membicarakan perihal Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian HIV-AID dengan tujuan Mencegah dan Mengendalikan epidemi HIV-AIDS di Indonesia pada 2030, dengan tujuan khusus mewujudkan Three Zero: Menurunkan hingga mengeliminasi infeksi HIV baru, menurunkan hingga mengeliminasi kematian terkait HIV-AIDS, menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.

Siang itu, Rabu (24/10), ada 18 orang dari populasi kunci yang melakukan Mobile HCT yang difasilitasi oleh layanan kesehatan Puskesmas Kalicacing Kota Salatiga. ke-18 orang itu berasal dari poupulasi kunci. Tiga orang Penjangkau Lapangan (PL) dari Program HIV dan AIDS dukungan Global Fund tampak sedang sibuk mempersiapkan administrasi untuk pendataan bagi klien mereka. Lima orang petugas Puskesmas Kalicacing saat datang langsung mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan saat memeriksa darah. Nia, seorang staf Global Fund yang bekerja di Dinas Kesehatan tampak pula sibuk.

Sementara itu dikoordinir oleh Ucok M. Sirait, para PL memastikan bahwa klien-klien mereka segera datang ke tempat kegiatan. Beberapa orang klien datang dengan mobilitas mereka sendiri. Namun delapan orang klien dari populasi kunci mesti dijemput oleh para PL. Mereka tidak memiliki alat transportasi.

Para klien tengah menunggu antrean layanan kesehatan Mobile HCT

Para PL yang saya tanyai tentang bagaimana edukasi diberikan memastikan bahwa edukasi dilakukan oleh para petugas layanan kesehatan sembari mereka melakukan pemeriksaan. Sedangkan para klien juga telah melakukan komunikasi dengan para PL.

Kegiatan FGD dan Mobile HCT berlangsung selama dua jam dengan lancar. Namun dari target 22 orang yang siang itu hendak melakukan pemeriksaan , hanya 18 orang saja yang mengakses layanan mobile HCT. Empat orang klien urung melakukan pemeriksaan. “Aku takut jarum suntik, enggak ah,” kata Anto sambil ngacir meninggalkan tempat.

Para petugas Puskesmas Kalicacing memberi kelonggaran bahwa keempat calon klien yang siang itu batal memeriksa, bisa datang ke Puskesmas keesokan harinya. Dan para PL menyanggupi. Male Sex Male (MSM) termasuk yang rentan atau berisiko tinggi untuk penularan virus HIV. (red)

Mahasiswa Magang, Eksistensi dan Perannya dalam Kelembagaan

Suasana serah terima

Senin (14/10) serah terima kembali sembilan mahasiswa magang Program Pengalaman Lapangan (PPL) dilakukan oleh SPEKHAM kepada dosen yang mewakili dari IAIN Surakarta. Kesembilan mahasiswa telah melakukan PPL Selama dua bulan dan terlibat secara aktif di berbagai divisi yang ada di SPEKHAM. Aktivitas tersebut baik pendampingan kepada komunitas, maupun berkunjung dan berkegiatan di Sanggar Kespro yang berada di Klaten Tengah, Juwiring dan Bayat. Dan mengikuti diskusi di kelompok penyintas kekerasan juga belajar program terkait HIV dan AIDS.

Para mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Dakwah Jurusan Bimbingan Konseling Islam tersebut juga aktif dengan mencatat rekam proses, melakukan pendokumentasikan dan bentuk foto. Selain itu mereka mendapat pula pengetahuan dasar tentang menulis reportase.

Nur Puji Sekarrini mengatakan bahwa selama dua bulan di SPEKHAM, ia serasa bukan sebagai mahasiswa magang, yang biasanya di tempat PPL lain tugasnya membikin kopi, teh, memfotokopi, tetapi diajarkan memanusiakan manusia tanpa diskriminasi.

Selain Nur Puji, ada Maulida Larasati yang beranggapan bahwa ia tak hanya menanggapi realita kehidupan di lapangan, yang tak hanya cukup berbekal pikiran, namun juga dibutuhkan hati untuk mengerti dan memahami masyarakat. Seiring dengan Maulida, Wahyu NH berpendapat bahwa mengkaji psikososial yang terjadi di lapangan lebih menantang daripada sekadar mengkaji literasi.

Galih Novianto, Koordinator Biro Supporting System dan Fundrising di SPEKHAM menyatakan bahwa biasanya program PPL juga datang dari STT Jakarta, yang selalu mengirimkan dua mahasiswanya namun tahun ini kosong. Menurutnya, kalau dari IAIN, secara program, lebih aplikatif dibanding saat PPL di kantor pemerintah misalnya. Para mahasiswa PPL di SPEKHAM menurutnya lebih ke praktik lapangan dan mendapatkan ilmu perihal komunitas, ilmu baru yang menurut mahasiswa itu sangat inspiratif, dengan ikut FGD penyintas, datang ke sanggar kespro dan menemui berbagai macam persoalan di masyarakat.

Diskusi di acara serah terima

Nila Ayu Puspaningrum, Manajer Divisi Sustainable Livelihood sekaligus pengurus Yayasan SPEKHAM juga berpendapat bahwa para mahasiswa PPL tersebut memiliki semangat belajar isu isu perempuan, mudah beradaptasi dengan lingkungan dan staf SPEKHAM. Mereka juga mampu melaksanakan tugas yang direkomendasikan di masing-masing divisi. Meskipun tugas tersebut jauh dari jurusan atau studi mereka, tapi mereka berusaha melakukan tugas dengan baik.

Nila Ayu berharap, pembelajaran yang sudah didapat dari SPEKHAM bisa dijadikan bekal ketika terjun ke masyarakat. Mereka banyak mendapat pengalaman bertemu langsung dengan masyarakat diharapkan bisa membangun perspektif mahasiswa terhadap situasi dan persoalan perempuan di Solo Raya. Apalagi kesembilan mahasiswa juga terlibat dalam aksi damai di DPRD bergabung bersama aliansi masyarakat Surakarta untuk mengusung segera disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS). Mereka bisa melakukan kajian-kajian misalnya isu gender untuk mendukung proses advokasi kebijakan yang pro perempuan,” pungkas Nila Ayu. (red) 

Siaran Radio Immanuel-SPEK-HAM : Tantangan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja

siaran bersama Radio Immanuel

Generasi terkini yang lahir tahun 2000-an, di dalam kehidupan sehari sangat banyak mendapat arus informasi, paling jauh.  Para remaja belum banyak yang mau atau peduli kesehatan reproduksi. “Kalau peduli terhadap pendidikan kesehatan dan reproduksi saja saja tidak ada apalagi bicara tentang akses informasi?” papar Henrico Fajar dari SPEKHAM mengawali siarannya bersama Wempie, penyiar Radio Imanuel, Rabu (9/11).

  Menurut Infi, mahasiswa magang di SPEKHAM yang turut siaran menyatakan bahwa  remaja sekarang kurang sadar sehingga masih perlu informasi yang diberikan. Ia sendiri mengakui mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi waktu SMP, itupun tentang HIV dan AIDS. Saat ini generasi seumurnya mengalami perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dengan adanya pengetahuan ini dan dibagikan kepada perempuan muda seusianya, maka untuk menghilangkan kehawatiran, SPEKHAM hadir berkaitan tersebut.

Terkait kesalahkaprahan, banyak terjadi sehingga timbul kasus-kasus seperti Kehamilan yang Tidak Dikehendaki (KTD). Mereka, korban Kekerasan Seksual (KS) dan mengapa ini terjadi karena remaja tak memiliki akses informasi dan mereka terjerumus pada pergaulan yang bebas sehingga mengalami KTD.

Henrico Fajar melihat bahwa KTD ini kemudian nanti ujung-ujungnya pernikahan dini, atau pernikahan anak. Mereka kemudian kehilangan cita-cita, mimpi, jangka panjangnya ke depan, secara cita-cita, ekonomi tidak bisa mapan. Kasus-kasus KS yang menimpa remaja cukup tinggi. Fajar pernah menemukan kasus di salah satu kabupaten di Solo Raya ini yang hampir lulus di semester terakhir. Ia korban KS, hamil, dan karena bidan desa memiliki perspektif baik. Maka bidan desa berhasil mengedukasi korban dan pihak terkait misalnya kelurahan, sekolah. Dan mempertahankan agar si anak tidak dikeluarkan, sehingga ketika lulus kemudian dia menikah dan melahirkan. Banyak terjadi, perempuan korban KS lalu hamil dan dikucilkan, selalu dipersalahkan, diolok-olok lalu dikeluarkan, atau disuruh pindah sekolah. Itu bukan solusi tetapi harus menjamin kebelangsungan pendidikan.

Pengalaman Fajar dalam mendampingi banyak, ia mendampingi kasus terkait KTD, mereka korban KS mengapa ini terjadi kaeena remaja tak memiliki akses informasi dan mereka terjerumus pada pergaulan yang bebas sehingga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Kami melihat bahwa KTD ini kemudian nanti ujung-ujungnya pernikahan dini, atau pernikahan anak. Mereka kemudian kehilangan cita-cita, mimpi, jangka panjangnya ke depan, secara cita-cita, ekonomi tidak bisa mapan. Kasus-kasus KS yang menimpa remaja cukup tinggi.

Fajar pernah menemukan kasus di salah satu kabupaten di Solo Raya, yang hampir lulus di semester terkahir, dia korban KS, hamil, karena bidan desa perspektif baik, maka bidan desa berhasil mengedukasi korban dan pihak terkait misalnya kelurahan, seolah, mempertahankan agar si anak tidak dikeluarkan, sehingga ketika lulus kemudian dia menikah dan melahirkan. Banyak terjadi, sudah hamil dikucilkan, selalu dipersalahkan diolok-olok dikeluarkan, atau disuruh pindah sekolah. Itu bukan solusi tetapi harus menjamin keberlangsungan pendidikan.

Sedang pengalaman SPEKHAM terkait mendampingi remaja saat pertama kali mengalami menstruasi dan mimpi basah adalah dengan melakukan edukasi di usia SMP dan SMA di Solo Raya. Ada yang mimpi basah bagi cowok, mens bagi cewek dan kebanyakan perempuan lebih terbuka, daripada cowok. Perempuan lebih bisa menyampaikan secara terbuka. Kalau cowok ketika saya tanya kapan terakhir mimpi basah? Bagaimana rasanya? mereka lebih tertutup. Hasil diskusi tersebut membuktikan bahwa remaja putri lebih nyaman dengan ibu. Laki-laki lebih kepada bapaknya. Yang jadi tantangan saat ini adalah bagaimana orangtua yang mendengar dari anaknya bahwa anaknya sudah mens, dan hal apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Bisa jadi banyak ortu yang berpikiran bahwa ngobrolin tentang mimpi basah,mens, seksualitas itu hal tabu. Padahal pendidikan tentang seksualitas harus kita berikan kepada anak-anak sedini mungkin supaya banyak yang paham setelah mens apa yang harus dilakukan bagaimana remaja menjalin relasi dengan laki-laki dan perempuan. “Ini masa puber ya yang saya maknai sebagai masa yang rentan. Remaja putri rentan terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kawan remaja laki-laki, pacarnya. Begitu pun sebaliknya sehingga kita akan tahu batasan-batasan interaksi yang sehat di antara mereka akan aman,”terang Fajar.

Terkait pada usia berapakah anak diberi pendidikan kespro, yakni di usia dini, dengan bahasa yang sederhana, misal usia 3 tahun sudah mulai misal pipis harus di kamar mandi, bahkan mandi di luar ruang. Pada usia 3-5 tahun melihat laki-laki dan perempuan, misal mau pipis maka toilet sesuai dengan jenis kelamin. Intinya sedini mungkin dengan bahasa sederhana. Kalau melihat perkembangan, dari bayi, anak bisa mememgang, sejak usia bayi. Kalau masa remaja, suka tidka suka oranagtua membuka ruang diskusi, banyak di zaman sekarang, karena kesibukan mereka memberi alat perangkat, gagdet misalnya.

Lalu karena kesibukan tidak ada komunikasi dan menganggap itu tidak ada masalah padahal sebenarnya itu awal masalah. Di masa remaja perlu diajak komunikasi pengalaman seharian di sekolah ngapain saja, pengalaman dia menstruasi. Menciptakan komunikasi dua arah itu penting. Kedua terkait korban perkosaan supaya tidak minder, pertama yang harus dilakukan adalah memastikan korban mendapat pendampingan dan pemulihan, perhatikan hak korban kalau masih sekolah ya harus tetap sekolah, jangan hilangkan haknya, hak mendapat perlindungan, dan kepastian hukumnya.

Terkait media kespro bisa dalam bentuk infografis atau slide-slide yang sesuai dengan remaja milenial atau justru edukasi konseling pribadi atau kelompok. Fajar menambahkan media pembelajaran tergantung kebutuhan misalnya misalnya kalau di sekolah, infografis lebih visual, kalau ada remaja korban KS penting didampingi face to face, komunikasi dua arah, komunikasi antar personal adalah penting. Misalnya ngobrol saat makan itu penting. Masalah edukasi SPEKHAM banyak melakukan berbagai cara, yang penting tujuan pendidikan tercapai sehingga ada harapan kekerasan seksual menurun.

SPEK-HAM bergabung dengan PTPAS, lembaga yang mengurusi korban korban KS ketika ada korban KS maka disambungkan jejaring. Kalau butuh psikolog maka tugas RSJD untuk dampingi.

Berbicara tentang pernikahan dini atau pernikahan anak, hal itu adalah pilihan. Artinya kalau ada korban KS lalu hamil, menikah atau tidak menikah itu pilihan. Itu dijamin oleh Undang-Undang namun realitanya untuk saat ini masih banyak orang berpandangan kalau sudah hamil maka ya dinikahkan, padahal itu bukan satu-satunya solusi.

Fajar menutup siaran dengan menanyakan jangan malu bicara soal seks dan seksualitas dan jangan tabu karena dari situ dapat dilihat perkembangan anak remaja. Ketika seksualitas bukan hal tabu harapannya banyak orang teredukasi sehingga menegaskan jika kurikulum di sekolah penting pendidikan terkait kespro.

Fajar juga menyatakan terkait konsultasi bisa di surel www.spekham.org. Bagi guru atau orangtua bisa bertelepon di hotline : 0271 715047. (red)

Koperasi Simpan Pinjam Membuat Saya Mandiri

Veronika Sri Mujiati

Salah  seorang anggota Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) yang merasakan keberhasilan setelah mempunyai usaha makanan /wedangan adalah Mujiati. Menurut keterangan perempuan yang memiliki nama lengkap Veronika Sri Mujiati atau akrab  dipanggil Ibu Handoko awal bulan Juni 2019 diberi ijin untuk berjualan di samping Pendopo Alit Kelurahan Sewu dengan modal awal Rp 500.000. Pembeli dagangannya adalah beberapa pelanggan selain Staf Kelurahan, Linmas dan warga sekitarnya. Setelah ada proyek di Bengawan Solo, Mujiati mendapat kesempatan dari Lurah Sewu untuk berjualan di Shelter di jalan beton yang sudah dibuat oleh Dinas Perdagangan Kota Surakarta.

Mujiati saat berjualan di warung dan dibantu oleh dua orang

“Bulan Juli 2019 pindah tempat jualan shelter,  disitulah saya mempunyai kesempatan untuk mengembangkan usaha warung makan Masakan Jawa. Modal awal untuk usaha saya pinjam Pra Koperasi KPKS Sewu Mulya Sejahtera sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah),” ungkap Mujiati. Di sinilah ia merasakan keuntungan menjadi anggota KPKS, karena modal awal Rp 500.000 ditambah Rp 1.000.000,- bisa untuk membesarkan usahanya

Mujiati sangat bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa bahwa dengan berjualan beberapa jenis makanan dan minuman ia mampu mendapat omset penghasilan Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) tiap hari. Setiap hari ia melayani karyawan proyek Bengawan Solo. Sekarang ia sudah mempunyai karyawan dua  orang yang dibayar Rp 50.000,-/orang per hari. “Saya merasa senang selain mendapat penghasilan juga bisa membantu orang lain yang untuk bekerja di warung makan”, tutur Mujiati. Ia merasa beruntung menjadi anggota KPKS, karena dengan kegiatan koperasi dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri. (Pakdhe/Nila)

Puskesmas Pedan dan Jalinan Kerja Sama Kembali

SPEKHAM bersama staf Puskesmas Pedan

Sudah satu tahun ini, Yulis Miharti selaku koordinator VCT tidak terhubung dengan SPEKHAM, namun kali ini, sejak Rabu (25/9) terjali kembali kerja sama. Hal ini tercetus saat terjadi diskusi di Puskesmas Pedan yang diikuti oleh 10 orang. SPEKHAM memiliki agenda memaparkan perkembangan program terkait HIV.

Pihak Puskesmas Pedan mengumumkan jika akan periksa VCT, maka harus di luar hari Senin yakni hari Selasa sampai Sabtu. Dan jika periksa di jam 9, satu jam sesudahnya yakni jam 10 hasilnya sudah bisa dilihat. Sebelum pemeriksaan, prosedurnya adalah memberitahukan dua hari sebelum pemeriksaan.

Henrico Fajar menanggapi dengan memberi penjelasan format kegiatan, jika dulu untuk kegiatan pemeriksaan untuk populasi biasanya diundang dan dikumpulkan langsung ke puskesmas, maka sekarang diminta untuk mendatangi setiap lapangan yang sering dikunjungi oleh teman populasi. Kecamatan Pedan menjadi tempat yang sering dikunjungi, beberapa wilayah yang tidak lagi diintervensi oleh Yayasan Spiritia meliputi Klaten dan Karanganyar.

Tujuan kegiatan pemeriksaan untuk membangun koordinasi dan komunikasi dengan pihak puskesmas terkait dengan penjangkauan, rujukan maupun pendampingan terhadap populasi berisiko. Klien yang biasanya dibawa oleh Penjangkau Lapangan (PL) biasanya merupakan klien beresiko. Banyak juga yang tidak mengaku jika mereka populasi yang terjangkit. Sedangkan prioritas border adalah Puskesmas Boyolali, dan  masih mendapatkan intervensi. Untuk penjangkaunnya setiap bulan hanya 10 orang.

Tanggapan dari Puskesmas Pedan, untuk mobile di atas jam 2 siang juga tidak masalah, akan tetapi jika ada kegiatan, dari pihak puskesmas tidak bisa setor laporan setiap bulan, mungkin laporannya tigabulanan. “Kemarin saat diadakan pemeriksaan yang datang hanya 4 hingga 9 orang saja. Padahal banyak yang menemukan populasi berisiko,” ujar salah seorang petugas Puskesmas Pedan.

Ini menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak yang takut untuk melakukan pemeriksaan padahal dari puskesmas sudah memberikan pelayanan. Kemarin yang terinfeksi dari kelompok napza, curan, dan lainnya. Untuk target sasaran yang akan digunakan ke depan berasal dari data orang yang datang pada pemeriksaan sebelumnya, sehingga dapat berubah ubah. Target adalah orang Pedan dan belum tahu dan dia termasuk ke dalam kelompok apa. Hanya diketahui sebagai penduduk wilayah Pedan.

Untuk Wanita Pekerja Seks (WPS), mereka melakukan pemeriksaan setiap 3 bulan di balai desa dan pihak Puskesmas Pedan merelakan waktu untuk mendatangi. Biasanya pihak Puskesmas Pedan mendapatkan rujukan dari Puskesmas lain. “Kemarin ada yang datang namun tidak mengaku jika risti sehingga dari pihak puskesmas tidak mau melayani. Hal tersebut dikarenakan belum ada peraturan dari Pemkab yang membolehkan untuk melakukan pemeriksaan secara umum,”jelas pihak dari Puskesmas Pedan lagi. Menurut Henrico Fajar, memang banyak yang risti namun tidak mau mengaku.

Puskesmas Pedan meiliki kebijakan, jika pabrik mengajukan ke dinas, lalu dinas mengkoordinasi untuk terjun, puskesmas akan datang. Dan selama ini para pekerja pabrik belum ditemukan adanya orang risti. “Yang pernah booming pada tahun 2017, diantaranya ada LSL, beberapa ada yang mengaku secara langsung. Tanggal 31 agustus kemarin terdapat pasien terjangkit namun tidak mengaku, setelah dipaksa baru mengaku,”pungkas pihak Puskesmas Pedan. (mhhswmgg/red)

Mengobrol terkait dengan Berbagai Hal pada Penanggulangan HIV Berisiko di Puskesmas Musuk

Selasa, 24 September bertempat di Puskesmas Musuk, ada perubahan kegiatan tentang supervisi dengan Lakpesdam NU Jateng yang datang langsung dari Jakarta yakni Yayasan Spiritia untuk mengevaluasi layanan dan kinerja SPEKHAM. Layanan yang dikunjungi hanya di Kabupaten Sukoharjo namun tetap membahas layanan pada lainnya. Catatan penting dalam menjangkau dan merujuk temuan HIV positif dan di temuan positif masih sangat rendah.  

Kerja secara kuantitas dan kualitas karena harus membawa sekitar 600 orang dan harus ada temuan positif dan saat ini masih ditemukan 3-4% yang positif, kalau target harus ada sekitar 20% dari 600. Dianalogikan ada 50 orang yang diperiksa, sekitar 10 harus ada yang positif. Namun intervensi SPEKHAM ada di Kabupaten Boyolali, mungkin kalau survey-nya ada di kota besar akan mencapai target. Tetapi SPEKHAM berkomitmen menjangkau populasi kunci namun juga menjangkau populasi lainnya.

Masukan dari Puskemas Musuk untuk perbaikan-perbaikan dari pihak SPEKHAM disampaikan oleh dr. Retno S terkait masalah target kalau dari puskemas selama ini yang didapatkan kasus-kasus secara tidak sengaja. Mereka datang ke puskemas dan ke kantor kepolisian kemudian ada kecurigaan lalu puskesmas melakukan tes.

Kalau populasi kunci lebih banyak menjadi bagian dari intervensi SPEK HAM, sedangkan Puskesmas Musuk dan Boyolali 1 masih sangat sempit maksudnya, kalau ada populasi kunci, pihak puskesmas malah mendapat masukan dari SPEKHAM. Di Boyolali tidak banyak kafe-kafe namun layanan masih menunggu dari SPEKHAM.

Puskesmas Boyolali 1 pernah menemukan kasus dua MSM, dan mereka anak SMA. Penemuan pada saat datang dan waktu itu puskesmas mau menjangkau mereka. Si pasien memiliki jaringan dan yang bisa masuk adalah ranahnya dari SPEKHAM. Selama ini program masih berkutat pada puskemas belum ke klinik-klinik lain. Padahal di klinik pernah menemukan kasus karena periksa dan dirujuk dari Kabupaten Klaten.

Pada saat mobile, validasi data puskemas dilakukan di rutan, dan karaoke. Kalau MSM tidak bisa menjangkau. Pabrik-pabrik juga banyak, jadi bisa lebih diperhatikan. Pabrik yang diperiksa hanya segelintir kecil, padahal yang mengarah ke situ banyak. Puskemas belum masuk intervensi ke masalah sosialnya, dan jadi tidak tersentuh. Dan bisa mengusulkan ke dinas, tidak bisa diselesaikan satu puskemas. Usulan juga berupa masukan tentang adanya sosialisasi masuk ke tempat-tempat rawan. Sosialisasi kespro ke sekolah juga dimasukkan dari KPA atau SPEK HAM yang telah melakukan ini. Kenapa hal ini mesti menjadi perhatian? Karena di sekolah pendidikan kespro yang membahas HIV hanya sedikit. 

Menurut Henrico Fajar, SPEKHAM berkomitmen untuk membantu sosialiasi ke sekolah-sekolah. Terkait tentang prosedur, hasil dari tes tidak langsung disampaikan karena sifatnya rahasia. Dan VCT disamakan seperti penyakit lain, namun pada dasarnya tidak bisa. Jadi tetap diperiksa di Puskemas Musuk. Untuk lebih spesifik, tes HIV harus minimal pakai plasma. “Tahun 2016-2017 di Klaten kalau mobile saat hari itu bisa dilaporkan hasil tes dan kemudian diundang konselor untuk pengarahan. Kalau kebijakan Boyolali berbeda dengan Klaten, yakni hasil dari tes tidak langsung disampaikan saat itu juga,”ujar Henrico

.

Beberapa kasus, mereka periksa di luar daerahnya karena malu. Kemudian ketika menemukan kalau dirinya positif dan tidak percaya kemudian priksa lagi. Selama ini di Puskesmas Boyolali 1 sudah ada waria yang datang memeriksakan diri datang ke puskesmas. Sedangkan di Kecamatan Musuk yang memeriksakan ada 32 orang. Sedangkan jika penjangkau lapangan menemukan HIV positif, siapa yang pertama kali dikontak? Jawabnya adalah puskesmas.

Kegiatan semacam ini dahulunya mengundang dan sekarang ada perubahan. Case conference yang sekarang lebih mendatangi layanan. Sekarang SPJ yang sangat ketat untuk menjaga kualitas. Sebenarnya kalau ada kegiatan tanggung jawabnya besar namun di sisi lain capaiannya kurang.

Terkait pemeriksaan mengenai pasien mestinnya tidak pulang dulu dan tunggu untuk penyampaian hasil. Menurut Dini dari Puskesmas Musuk, misal pemeriksaan di rutan, mungkin akan kelelahan dan bisa saja malah terjadi human eror. Idealnya 1 orang 20 pemeriksaan. Butuh validitas data yang jelas. Pernah dulu kurangnya koordinasi yang baik dari KPA Boyolali dan KPA Sragen, sehingga sempat terjadi kesalahan. (mhhsw mgg/red)

Case Conference terkait Program HIV dan AIDS di Puskesmas Boyolali

Suasana diskusi

Selasa (24/9) bertempat di Puskesmas Boyolali, beberapa pendapat diperoleh dari pegiat di Jakarta, penilaian tentang program HIV dan AIDS, temuan positif yang sangat rendah. Mestinya ketika banyak sosialiasi HIV seharusnya banyak yang datang untuk periksa namun pada kenyataannya masih rendah. “Seharusnya ada pada garis positif red, program kita three zero,” ungkap Henrico Fajar, staf SPEKHAM.

Menurut Henrico Fajar, untuk menghentikan kematian, butuh kemampuan menemukan HIV positif yang tinggi dan segera ditangani agar bisa menghadapi hidup kembali.

Catatan pentingnya yakni bagaimana para penjangkau lapangan dapat menaikkan/menemukan catatan positif yang sampai hari ini masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ kita bersama.

Mengenai fenomena MSM juga terdapat perubahan, jika dulu berfokus pada hotspot namun sekarang juga melalui media sosial dan ada aplikasinya. Berita baik tentang perkembangan dari MSM, yakni sudah mau periksa sendiri setiap tiga bulan sekali.

Mengenai cakupan populasi kunci, para penjangkau lapangan juga berkomitmen bahwa sudah membantu populasi lainnya selain waria dan MSM.

Para penjangkau lapangan tidak hanya konsentrasi di isu populasi kunci namun juga Ibu Rumah Tangga (IRT). Dengan intervensinya di tingkat Solo Raya, mereka memberikan pelayanan dan pendampingan. Sedangkan di tingkat provinsi memiliki wadah sendiri untuk para IRT yang mengidap HIV.  

Beberapa wilayah punya nama sendiri dan berjejaring dengan pemerintah daerah bersama dinas pemberdayaan. Fasilitas sudah tersedia namun ada beberapa yang butuh support untuk menggali keterampilan (misal keterampilan wirausaha dan lain sebagainya). IRT dengan HIV positif merupakan korban kekerasan karena mereka tertular dari suaminya. Saat ini penjangkauan HIV di Boyolali sudah tidak aktif, yang kemudian menjadi ranah Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).

Dari pihak Puskesmas Boyolali memaparkan bahwa banyak pasien yang drop out (DO) dan akhir-akhir ini banyak yang berjatuhan. Dalam kurun beberapa bulan ada kematian B20. Penjangkau lapangan yang tidak jalan, jadi three zero tidak jalan pula.

Ada pasien yang berobat setelah itu lalu menghilang. Kadang nomer ponsel diblokir, dihubungi tidak membalas. Namun sebenarnya dari pihak puskesmas sudah menghubungi akan tetapi kadang hanya janji-janji saja untuk berobat kembali.

Selama ini penjangkau lapangan hanya seorang saja, namanya Menik. Jika satu kabupaten hanya dijangkau satu orang saja tetap tidak mampu dan tidak efektif. Hal ini berakibat pasien banyak berjatuhan. Menjadi ironis di Solo Raya hanya Boyolali yang tidak ada pendampingan, Klaten dan Sukoharjo masih ada. “Sukoharjo bagus mereka membuat KDS yang berbadan hukum. Berapa personil tahu ada manfaatnya, karena mereka bisa mengakses dari dana APBD, dan hal ini belum muncul di Boyolali,”tutur narasumber mewakili Puskesmas Boyolali.

Tantangan ke depan adalah bagaimana cara untuk menyampaikan pada orang-orang seperti Menik untuk merapatkan barisan SDM. Hal ini menjadi tugas KDS yang memiliki PEKA sebagai lembaga di atasnya. Kalau di Kabupaten Klaten, PEKA ada kunjungan namun hanya berfokus membahas kasus di Klaten saja. Dan untuk Boyolali ini kesulitan mencari petugas, apalagi teman-teman HIV banyak yang menghilangkan kontak dan banyak yang meninggal.

PEKA di tingkat nasional satu organisasi dengan SPEK-HAM, namun mereka memang secara jobdisk berbeda. Kalau SPEKHAM bertugas menjangkau dan merujuk, PEKA mendampingi sebaya. Kebijakan PEKA memangkas, KDS Boyolali berbarengan dengan Salatiga sehingga dananya juga untuk bersama, dan hal tersebut menghambat kinerja penjangkau. Di dalam intern kadang ada perbedaan. Seharusnya di kalangan internal harus ada koordinasi terlebih dahulu, dulu setelah bertemu HIV positif kemudian dipantau sehingga bisa efektif. 

Yayasan SPEKHAM bergabung dengan PEKA maka idealnya harus lebih bersinergi untuk temuan HIV positif yang lebih banyak lagi. Terkait dengan masukan untuk SPEKHAM untuk menemukan temuan-temuan berisiko termasuk populasi kunci itu bagaimana supaya lebih maksimal. Misalnya dari layanan puskemas sendiri ditemukan B20 dan tidak didampingi SPEKHAM apakah dari pihak SPEKHAM minta datanya. Kalau B20 ditemukan dari populasi kunci maka SPEKHAM  minta data. Kalau di karaoke masuk dalam WPS namun SPEKHAM juga membantu. (red)

Dari evaluasi di kantor pusat Jakarta, untuk target B20 tidak ada namun target VCT ada yakni melakukan VCT 600 jiwa namun yang ditemukan hanya tiga positif maka hal ini dipertanyakan. “Sudah banyak yang terindikasi namun teman-teman belum menjangkau dan belum bisa membongkar jaringan yang sulit. Boyolali pinggir yang berbatasan dengan Karanganyar dan Sukoharjo belum disentuh karena jauh,”ujar Henrico Fajar memberi paparan kembali.

Saran dan masukan dari Puskemas Boyolali 1 adalah untuk lebih bisa menjangkau dan memperhatikan sekolah-sekolah, dan tempat nongkrong anak SMA/SMK. Karena sekarang mulai dari lulus SMA sudah banyak jaringan. Ditemukan lulusan SMK yang orangnya berperilaku sedikit ‘melambai’ dan sudah mengakui. Di Kecamatan Musuk juga banyak waria.

Pihak puskemas menemukan HIV dengan TB MDR. Ditemukan juga WPS di Boyolali dan dipulangkan ke Sragen, dan belum bertemu dengan SPEKHAM. Ia hanya mengambil obat satu kali kemudian menghilang. Padahal kerjanya tetap di Boyolali, yang menjadi masalah adalah kenapa harus dipulangkan ke Sragen. Spekulasi dipulangkan karena ada perda yang akan menutup lokalisasi. Belum lagi keluarga di Mojosongo, sering menghubungi untuk mau mengambil obat namun tidak diambil. (mhhsw mgg/red)