Mengobrol terkait dengan Berbagai Hal pada Penanggulangan HIV Berisiko di Puskesmas Musuk

Selasa, 24 September bertempat di Puskesmas Musuk, ada perubahan kegiatan tentang supervisi dengan Lakpesdam NU Jateng yang datang langsung dari Jakarta yakni Yayasan Spiritia untuk mengevaluasi layanan dan kinerja SPEKHAM. Layanan yang dikunjungi hanya di Kabupaten Sukoharjo namun tetap membahas layanan pada lainnya. Catatan penting dalam menjangkau dan merujuk temuan HIV positif dan di temuan positif masih sangat rendah.  

Kerja secara kuantitas dan kualitas karena harus membawa sekitar 600 orang dan harus ada temuan positif dan saat ini masih ditemukan 3-4% yang positif, kalau target harus ada sekitar 20% dari 600. Dianalogikan ada 50 orang yang diperiksa, sekitar 10 harus ada yang positif. Namun intervensi SPEKHAM ada di Kabupaten Boyolali, mungkin kalau survey-nya ada di kota besar akan mencapai target. Tetapi SPEKHAM berkomitmen menjangkau populasi kunci namun juga menjangkau populasi lainnya.

Masukan dari Puskemas Musuk untuk perbaikan-perbaikan dari pihak SPEKHAM disampaikan oleh dr. Retno S terkait masalah target kalau dari puskemas selama ini yang didapatkan kasus-kasus secara tidak sengaja. Mereka datang ke puskemas dan ke kantor kepolisian kemudian ada kecurigaan lalu puskesmas melakukan tes.

Kalau populasi kunci lebih banyak menjadi bagian dari intervensi SPEK HAM, sedangkan Puskesmas Musuk dan Boyolali 1 masih sangat sempit maksudnya, kalau ada populasi kunci, pihak puskesmas malah mendapat masukan dari SPEKHAM. Di Boyolali tidak banyak kafe-kafe namun layanan masih menunggu dari SPEKHAM.

Puskesmas Boyolali 1 pernah menemukan kasus dua MSM, dan mereka anak SMA. Penemuan pada saat datang dan waktu itu puskesmas mau menjangkau mereka. Si pasien memiliki jaringan dan yang bisa masuk adalah ranahnya dari SPEKHAM. Selama ini program masih berkutat pada puskemas belum ke klinik-klinik lain. Padahal di klinik pernah menemukan kasus karena periksa dan dirujuk dari Kabupaten Klaten.

Pada saat mobile, validasi data puskemas dilakukan di rutan, dan karaoke. Kalau MSM tidak bisa menjangkau. Pabrik-pabrik juga banyak, jadi bisa lebih diperhatikan. Pabrik yang diperiksa hanya segelintir kecil, padahal yang mengarah ke situ banyak. Puskemas belum masuk intervensi ke masalah sosialnya, dan jadi tidak tersentuh. Dan bisa mengusulkan ke dinas, tidak bisa diselesaikan satu puskemas. Usulan juga berupa masukan tentang adanya sosialisasi masuk ke tempat-tempat rawan. Sosialisasi kespro ke sekolah juga dimasukkan dari KPA atau SPEK HAM yang telah melakukan ini. Kenapa hal ini mesti menjadi perhatian? Karena di sekolah pendidikan kespro yang membahas HIV hanya sedikit. 

Menurut Henrico Fajar, SPEKHAM berkomitmen untuk membantu sosialiasi ke sekolah-sekolah. Terkait tentang prosedur, hasil dari tes tidak langsung disampaikan karena sifatnya rahasia. Dan VCT disamakan seperti penyakit lain, namun pada dasarnya tidak bisa. Jadi tetap diperiksa di Puskemas Musuk. Untuk lebih spesifik, tes HIV harus minimal pakai plasma. “Tahun 2016-2017 di Klaten kalau mobile saat hari itu bisa dilaporkan hasil tes dan kemudian diundang konselor untuk pengarahan. Kalau kebijakan Boyolali berbeda dengan Klaten, yakni hasil dari tes tidak langsung disampaikan saat itu juga,”ujar Henrico

.

Beberapa kasus, mereka periksa di luar daerahnya karena malu. Kemudian ketika menemukan kalau dirinya positif dan tidak percaya kemudian priksa lagi. Selama ini di Puskesmas Boyolali 1 sudah ada waria yang datang memeriksakan diri datang ke puskesmas. Sedangkan di Kecamatan Musuk yang memeriksakan ada 32 orang. Sedangkan jika penjangkau lapangan menemukan HIV positif, siapa yang pertama kali dikontak? Jawabnya adalah puskesmas.

Kegiatan semacam ini dahulunya mengundang dan sekarang ada perubahan. Case conference yang sekarang lebih mendatangi layanan. Sekarang SPJ yang sangat ketat untuk menjaga kualitas. Sebenarnya kalau ada kegiatan tanggung jawabnya besar namun di sisi lain capaiannya kurang.

Terkait pemeriksaan mengenai pasien mestinnya tidak pulang dulu dan tunggu untuk penyampaian hasil. Menurut Dini dari Puskesmas Musuk, misal pemeriksaan di rutan, mungkin akan kelelahan dan bisa saja malah terjadi human eror. Idealnya 1 orang 20 pemeriksaan. Butuh validitas data yang jelas. Pernah dulu kurangnya koordinasi yang baik dari KPA Boyolali dan KPA Sragen, sehingga sempat terjadi kesalahan. (mhhsw mgg/red)

Share This:

Post Tagged with