Search for:

IVA Tes Tidak Sakit, Hasilnya Cepat Diketahui


Fikri, salah seorang Kader Kesehatan Blumbang memandu diskusi dalam kegiatan pertemuan rutin

Hal tersebut disampaikan Ida Nursanti saat memberikan informasi sekaligus ajakan kepada ibu-ibu kader kesehatan Desa Blumbang pada acara pertemuan rutin kader kesehatan, Sabtu (16/2) di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali.

Menurutnya sudah saatnya perempuan harus berani melakukan IVA tes demi kepastian kesehatan reproduksinya. “Pemeriksaan IVA tes itu tidak sakit dan hasilnya cepat diketahui,”ungkap Ida. Dia menambahkan hasil pemeriksaan IVA tes bersifat rahasia dan yang mengetahui hanya pasien dan dokter yang memeriksa. Jadi perempuan tidak perlu merasa malu.

Sementara itu Supriatun, Bidan Desa Blumbang menyampaikan informasi tentang kesiapan layanan IVA tes di Puskesmas Klego 2. Menurutnya saat ini sudah ada tim terlatih yang siap melayani. “Sudah ada tim tersendiri yang sudah terlatih melayani IVA tes. Silakan nanti disiapkan pesertanya 15-20 orang. Setelah itu bisa menghubungi pihak Puskesmas supaya bisa disiapkan tim beserta perlengkapannya,” ungkap Rohma.  

Sebagai informasi, kanker serviks merupakan pembunuh nomor satu perempuan Indonesia. Kanker serviks merupakan kanker yang muncul pada leher rahim perempuan. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. World Health Organization (WHO)sepertidikutip https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170827161551-255-237610/jumlah-kasus-kanker-serviks-indonesia-tertinggi-ke-2-di-dunia menyebutkan setiap tahun 21 ribu kasus kanker serviks (leher rahim) terjadi di Indonesia sehingga negara kita menempati nomor dua dalam jumlah kasus tertinggi di dunia.

Oleh karena itu upaya preventif sangat diperlukan. IVA tes menjadi salah satu jawaban dari upaya preventif yang murah, mudah dan cepat. IVA tes merupakan kepanjangan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Henrico Fajar K.W (Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM)  

PEREMPUAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Saat perempuan bekerja di ranah publik “ dimaknaipelengkap kuota atau karena memiliki kemampuan ?”

Belajar sama-sama, bekerja sama sama.

Semua orang itu guru, alam raya sekolahku , sejahteralah bangsaku …

Lagu itu bergema di antara kerumunan perempuan-perempuan muda dan tua, di antara suara hujan yang sudah hadir sejak pagi. Berlarian perempuan-perempuan itu menuju balai belajar sekolah perempuan/komunitas. Banyak cerita, banyak tawa, tapi terkadang derai air mata menghiasi setiap kebersamaan mereka sebulan sekali ini.  Kerinduan untuk berbagi, bercerita, memeluk bahu di kala perempuan lelah, sedih dengan rutinitasnya, di sinilah tempat terindah yang selalu di nantikan dengan rindu : Sekolah Komunitas. Apa pun akan menarik di kegiatan ini, apa pun bisa mereka diskusikan di kegiatan ini. Di sinilah lahir perempuan dengan semangat mudanya , seperti gerakan yang digaungkan oleh mereka dengan menggunakan tagar #perempuanmenggegerkandunia

Ketika para perempuan belajar di sekolah komunitas

Dikutip dari https://kumparan.com/rizki-mubarok1510126029201/perempuan-di-ruang-publik. Karena rendahnya status mereka dalam masyarakat, perempuan secara sistematis tersingkir dari kesempatan pengambilan keputusan. Mereka sering distereotipkan dengan korban, pengalaman dan kontribusi mereka hampir diabaikan di negara berkembang. Perempuan di Indonesia, dalam hal ini dapat dikatakan sebagai individu yang terdiskriminasikan dalam mendapatkan keadilan atau kesetaraan dibandingkan laki-laki. Memang bila ditinjau lebih dalam, masyarakat Indonesia memiliki struktur sosial yang patriarki dalam masyarakatnya, hal berakibat pada peran wanita hanya sebagai pendukung dari sektor yang ada, atau perempuan hanya mempunyai peran di dalam sektor privat saja. Lantas di sini muncul pertanyaan, di manakah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah dijaminkan oleh pancasila? 

 

Perempuan di ranah publik, sampai saat ini masih menjadi perbincangan menarik, baik yang berada di legislatif pada ranah politik, pejabat pemerintah/kebijakan publik atau perempuan yang memilih beraktivitas menjadi aktivis baik di isu anak, perempuan, difabel, lingkungan dan inklusi sosial. Semakin masuk dalam proses belajar bersama tujuh kelompok perempuan di beberapa kota seperti Kelompok Perempun Mawar Balerante, Kemalang Klaten selama tiga tahun, Kelompok Rukun Makmur Desa Musuk selama sembilan tahun, Kelompok Perempuan Sekar Putri Desa Musuk selama 4 tahun, Kelompok perempuan Putri Mawar Desa Cluntang selama tiga tahun, Kelompok Perempuan Berkah Mandiri Desa Cluntang selama 1 tahun, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) selama enam tahun , kelompok aktifis Tim Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana

Saling bertukar pikiran dalam sekolah komunitas

Perdagangan Orang (TPP-TPPO) selama dua tahun menjadikan lebih banyak belajar untuk mendengar dan melihat dengan mata kepala apa yang terjadi, apayang di hadapi dan apa yang diinginkan.

Dua tahun terakhir kelompok-kelompok perempuan ini mencoba dan membuktikan diri atas komitmen, cukup berbuah manis kerja kerasnya. Berbagai upaya dilakukan agar kepercayaan muncul pada pemangku kebijakan khususnya kepala desa atau lurah. Rasa ketidakpercayaan, rasa diremehkan dari mereka (para pemangku kebijakan) yang selama ini masih dirasakan, bisa terkikis perlahan-lahan seiring dengan proses kerja-kerja kelompok perempuan di komunitas.

Hal-hal lebih yang bisa dilihat di kegiatan pemberdayaan ini adalah pengalaman-pengalaman women leadership, di mana dalam kelompok para perempuan mulai belajar bagaimana memfasilitasi pertemuan, menyelesaiakan persoalan/konflik dalam kelompok, mengambil keputusan-keputusan penting, memfasilitasi rapat-rapat kelompok, rapat tahunan dan rapat-rapat pada saat ada kunjungan. Baik dari dinas kabupaten provinsi maupun pusat, dan kemampuan ini jarang dimiliki oleh kelompok-kelompok lain, sehingga mereka semakin percaya diri

Kerja keras ini tidak sia-sia, karena perlahan namun pasti para kader/aktivis dan penggerak perempuan ini mulai dipilih secara mekanisme yang benar sesuai AD/ART desa, seperti Dwi Setyawati dari Joyosuran. Dwi saat ini menjabat sebagai ketua RT 03 di Kampung Tempen, Joyosuran, Pasar Kliwon Surakarta dan sudah dijalaninya selama dua tahun. Selain itu Dwi menjadi ketua Pos Pelayanan Terpadu (PPT) dalam setahun terakhir ini.

Rani Misdiana sebagai pengurus ranting salah satu partai dan juga pengurus Warga Peduli Aids (WPA). Di wilayah lain tiga orang perempuan yaitu Yulianti dari Desa Musuk, Tarminiati dan Sulastri dari Desa Balerante secara mekanisme dipilih sebagai BPD bahkan Yulianti menjabat seketaris BPD di desanya

Kondisi ini sangat berdampak positif bagi perempuan, karena peran perempuan keberadaanya tidak hanya untuk menutup kuota, tetapi mulai dilihat potensi, kemampuan serta rekam jejak di komunitas. dDengan kepercayaan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk lebih bersemangat beraktivitas di kelompok maupun jaringan perempuan seperti Jaringan Perempuan Kembang Wangi maupun, jaringan PPT/TPPO Kecamatan Musuk. Karya-karya perempuan di  komunitas ini bisa menjadi gerakan masif di basis, sehingga keberadaan perempuan itu benar-benar ada, di hargai, diperhitungkan dan bukan menjadi pelengkap kuota. (Noko Alee)

Upaya KPKS Menguatkan Pra Koperasi dengan Berjejaring

Ibu Erin menyerahkan buku pedoman koperasi

Kelompok Perempuan Kelurahan Sewu (KPKS) adalah salah satu kelompok dampingan SPEK-HAM yang telah mendirikan pra koperasi. KPKS telah melakukan kegiatan rutin bulanan dan aktif dalam kegiatan kuliner dalam even kegiatan Pemkot Surakarta. Upaya-upaya Kelompok Perempuan Kelurahan Sewu untuk menguatkan pra koperasi yang sudah dibentuk, di antaranya adalah dengan berjejaring dengan pemangku kebijakan.

Sebuah diskusi dihelat pada 19 Februari 2019,di Gedung PAUD RW 07 yang menghadirkan Pemberdayaan Masyarakat (Permas) dan ketua TP PKK Kelurahan Sewu serta Dinas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Sebagaimana diketahui ada tiga kelompok perempuan terdaftar di Kelurahan Sewu yakni PKK, UKM dan KPKS.

Pra koprasi KPKS mulai berdiri tahun 2013 dengan jumlah anggota 27 orang. Kegiatan yang dilakukan salah satunya adalah rapat tahunan dan membuat laporan keuangan dan kekayaan atas simpanan pokok, wajib, suka rela, jasa pinjaman dan saldo tercatat yang dibacakan setiap bulan saat pertemuan.  

Soleh dari Dinas UMKM menyatakan dalam paparannya tentang definisi koperasi yang terlebih dahulu harus dipahamkan kepada hadirin. Mengutip sambutannya, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang, seorang atau badan hukum dengan melandaskan kegiatan-kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.

Erin, seorang staf sebuah koperasi menyampaikan tentang tujuan dan macam buku apa saja yang harus dimiliki saat pra koperasi berubah bentuk menjadi koperasi. Tujuan didirikannya koperasi adalah untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju,adil,makmur berlandaskan UUD 1945. Melengkapi buku itu memang ada 18 jenis buku yang harus dimiliki, berbadan hukum, memiliki buku tabungan dengan anggunan jumlah 15 juta rupiah serta yang terpilih dan ditunjuk menjadi pengurus adalah mereka yang tidak memiliki pertautan darah/keluarga inti dan keluarga dekat.

Suasana pertemuan dan diskusi

Soleh menambahkan banyak keuntungan kalau pra koperasi sudah resmi menjadi koperasi yakni bisa bekerja sama dengan CSR lembaga atau perusahaan dan biasanya akan dibantu modal dengan jasa yang ringan. “Yang jelas kalau sudah ada koperasi ini bisa untuk meningkatkan usahanya selain simpan pinja, juga bisa untuk membuka usaha toko/ kios sembako dan lain-lain dan nanti bisa bekerja sama dengan lembaga yang lain,”pungkas Soleh. (Soepadmin

Pelatihan Manajemen Kelompok Di Desa Cluntang Musuk Boyolali

Pelatihan manajemen kelompok di Desa Cluntang

SPEK-HAM Surakarta bekerja sama dengan BAZNAS Boyolali melaksanakan pelatihan manajemen kelompok di Desa Cluntang, Musuk, Boyolali pada tanggal 13-14 Februari 2019 sebagai bagian dari program Zakat Community Development (ZCD). Kegiatan ini diikuti oleh kelompok-kelompok dampingan SPEK-HAM Surakarta yang ada di desa Cluntang baik kelompok tani, kelompok perempuan, maupun kelompok pengelola wisata dan lainnya. Diikuti oleh delapan kelompok antara lain Berkah Tani, Putri Mawar, Berkah Mandiri, Sibat, Tikungan Cinta Manajamen, Arta Lentera, Rakom Merapi FM, dan Karya Tani.

Pelatihan ini bertujuan membantu kelompok dampingan SPEK-HAM meningkatkan kemampuan tata kelola kelompok untuk usaha produktif, sehingga ke depan diharapkan kelompok peserta pelatihan usahanya dapat berkembang baik dalam pengelolaan. SPEK-HAM bekerja sama dengan Dinas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Boyolali dan Fakultas Ekonomi Universitas Boyolali (UBY) Sebagai narasumber. Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini antara lain manajamen keuangan, manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran, permodalan, pencatatan administrasi keuangan dan lainnya.

Pelatihan diawali dengan sesi identifikasi kelompok, kemudian masalah permodalan dan tata kelola kelompok oleh Dinas UMKM Boyolali, serta manajemen secara ekonomi oleh Fakultas Ekonomi Universitas Boyolali. Pelatihan diakhiri dengan sesi pencatatan administrasi keuangan sederhana oleh SPEK-HAM. Peserta pelatihan manajemen kelompok sangat antusias dalam mengikuti pelatihan ini, hal ini ditunjukkan dalam keaktifan peserta untuk bertanya mengenai masalah yang dihadapi. Menurut salah satu peserta Anwar Sholikin, materi yang disampaikan narasumber sangat sesuai dengan kondisi yang mereka alami. Banyak masukan berupa pengetahuan yang sangat membantu dalam pengelolaan kelompok mereka. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan tidak ada kendala yang berarti terbukti dari jalannya acara pada hari pertama hingga hari kedua sesuai dengan kerangka acuan yang direncanakan. “Pelatihan ini untuk meningkatkan tata kelola sehingga mampu meningkatkan pendapatan,” pungkas Anwar Sholikin. (Muh.Ta’aruf Huda-mgg)

Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah Punya Cerita

Tim IPAS SPEK-HAM bertemu dengan Lurah Kabupaten

Sesuatu yang baik dan berguna bagi masyarakat kenapa harus dihalang-halangi, buat saya itu sangat membantu kerja-kerja saya sebagai kepala kelurahan. Pertama, saya tidak bisa bekerja sendiri, kedua masyarakat saya jadi pintar, ketiga saya jadi bisa belajar isu-isu terkini terkait dengan perempuan, dan saya akan memihaki program-program panjenengan yang sudah saya dengar dari kader-kader saya terkait kerja-kerja panjenengan semua di Klaten Tengah khususnya di Kelurahan Klaten. Silakan mengumpulkan ibu-ibu RT,RW di kelurahan dan berkegiatan nanti anggarannya biar kami pikirkan”.

Tulisan di atas adalah sepenggal cerita kami (Liza,Ayun,Atik dan Danang) mengawali aktivitas kegiatan di Kabupaten Klaten, saat bertemu dengan Kepala Kelurahan Kabupaten  Kecamatan Klaten Tengah Hartini,S.IP,MM. Kami diundang setelah  beliau mendengar cerita dari para kader posyandu yang mengikuti kegiatan bersama-sama dengan SPEK-HAM dalam program yang namanya Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi). SPEK-HAM sudah bekerja di Kecamatan Klaten Tengah selama lima bulan. SPEK-HAM bersama dengan kader-kader posyandu melakukan kegiatan yang dikemas dalam pelatihan kader posyandu, diskusi-diskusi kelompok belajar, konsolidasi lintas kelompok  belajar serta pertemuan di kelompok perempuan muda dan sanggar kespro. Isu kesehatan reproduksi menjadi pembahasan utama dalam setiap kegiatan, serta membedah kasus-kasus kesehatan reproduksi yang ada dan bagaimana proses pencegahannya di tingkat masyarakat.

Program PEKERTi ini memiliki maksud dan tujuan untuk berkontribusi terhadap penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten dan Indonesia pada umumnya. Selain itu juga untuk meningkatkan status kesehatan reproduksi perempuan termasuk tentang perencanaan kehamilan dan penanganan Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD), termasuk Asuhan Paska Keguguran(APK) di Kabupaten Klaten. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Klaten menduduki peringkat ketujuh dalam menyumbang Angka Kematian Ibu (AKI) di tahun 2017 dengan berbagai macam indikasi, di antaranya : kedaruratan medis (jantung, hipertensi, dll) dan preklamsi.

Tim IPAS SPEK-HAM bersama Lurah Kabupaten Kecamatan Klaten Tengah

Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten bisa dibilang tinggi dengan berbagai macam latar belakang indikasi penyebabnya. Satu langkah sudah dilakukan oleh teman-teman kader posyandu di Kecamatan Klaten Tengah, dengan memberanikan diri melakukan advokasi-advokasi di tingkat kelurahan masing-masing, memaparkan kasus yang ada kepada kepala  kelurahan sebagai dasar mendorong pemihakan program dan anggaran untuk isu kesehatan reproduksi perempuan. Komitmen Kepala Kelurahan Kabupaten Kecamatan Klaten Tengah Hartini.S.IP,MM. untuk memihaki isu KESPRO perempuan sebagai bentuk nyata keperpihakan pemangku kepentingan terhadap situasi di daerahnya. Kami menunggu komitmen dari kepala kelurahan dan kepala desa yang lain melalui cerita-cerita kader. (Antonius Danang)

Empat Tahun Sekar Putri Berkarya

Kelompok Sekar Putri

“Umur empat tahun kalau misalnya anak itu masih balita, namun untuk Kelompok Sekar Putri empat tahun ini bukan balita lagi karena kiprahnya sudah luar biasa. Mereka mampu mengakses program-program pemerintah terutama pemerintah Kabupaten  Boyolali. Dan saya sangat bangga dengan semangat dan kekompakan kelompok. Semoga dengan umur empat tahun ini semakin sukses ke depannya” ungkap Ibu Ida dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali  Hal ini disampaikan dalam dialog bersama yang mengambil tempat di kebun bibit Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) milik Kelompok Sekar Putri yang  pada hari itu sedang merayakan hari jadi kelompoknya.

Acara ini dihadiri pula dari staf Dinas Peternakan Kabupaten Boyolali, tokoh masyarakat dan kelompok lain seperti dari Tawangrejo, Juwangi, Selo, Andong dan Sambi. Dan yang  menarik dalam forum ini adalah hadirnya pemangku wilayah atau kepala Desa Musuk yang hadir pertama kali semenjak kelompok terbentuk. Hal ini tidak disia-siakan oleh Kelompok Sekar Putri untuk menyampaikan keinginannya supaya dilibatkan dalam Musrenbangdesa dan diakamodirnya kelompok dalam anggaran desa.

Menurut Hartanti ketua Sekar Putri, program dan kegiatan kelompok seperti  pertanian, peternakan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan oleh paralegal komunitas butuh dukungan dari desa. Dan dari kepala desa menjanjikan akan mengakomodir.

Ibu Ida sedang menyampaikan sambutan dan apresiasi terhadap kelompok

Selain dialog untuk memeriahkan peringatan hari jadi Kelompok Sekar Putri di pagi hari diadakan senam bersama, juga lomba tanaman pekarangan dengan dewan juri terdiri dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kecamatan Musuk, tokoh masyarakat dan dari SPEK-HAM. Dari penilaian akhirnya terpilih juara 1,2,3 dan favorit. ( Ani, CO PPKBM )

Semangat Para Petani Musuk untuk Bikin Pupuk

Para petani Desa Cluntang kembali berkumpul di halaman rumah petani Anwar  di Desa Cluntang, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali pada Rabu (6/2). Jumlah mereka tak kurang dari 24 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka sudah siap untuk bergelut dengan kotoran sapi. Meskipun hari masih pagi dan cuaca khas lereng Merapi  sangat dingin tak memadamkan semangat mereka. Sebelum acara pelatihan ini di mulai para petani sudah mencari rerumputan untuk dijadikan pakan ternak.

Para petani membolak-balik pupuk untuk diproses ulang.

“Gagaaaaaaallll…!” teriak salah seorang petani disusul dengan teriakan petani lain diselingi dengan tawa yang bersaut-sautan. Ini sebuah kejadian yang sangat menarik,  padahal mereka tahu pupuk mereka gagal, namun tak ada satu pun raut wajah yang mengatakan sedih. Pemandangan yang terlihat hanya tawa mereka. Kegagalan itu tak menyurutkan semangat para petani. Mereka terlihat sangat kompak untuk memulai membuat pupuk lagi dari awal. Mereka mulai membolak-balik kotoran sapi yang menjulang tinggi sekira satu meter. Tercium aroma menyengat yang khas dari kotoran sapi,  pertanda bahwa fermentasimya tidak berhasil.

Pengolahan pupuk kompos kali ini didampingi oleh pihak Dinas Pertanian untuk membimbing dan mengarahkan agar pupuk berhasil dibuat. Ada enam orang pihak dari dinas yang datang.  Merekas semua siap untuk mendampingi dan memberi masukan agar pelatihan ini berhasil dilaksanakan. Dari pihak dinas menyampaikan bahwa hal yang membuat pupuk tersebut tidak berhasil dikarenakan ada beberapa faktor di antaranya dikarenakan pupuk tersebut terkena sinar matahari dan hujan secara langsung, tidak ada yang menaunginya.

Selain itu dikarenakan banyaknya air yang terkandung pada pupuk tersebut. Dan kemungkinan mikroba yang ada di pupuk tersebut mati dikarenakan suhunya terlalu panas,  karena tumpukammya terlalu tinggi,  dan tidak segera di buka saat suhunya tinggi disebabkan karena aktivitas microba.  Seharusnya segera dibuka dan dibalik ketika suhunya terlalu panas. Kalau hanya hangat tidak apa apa. (M.Anshori-mgg)

Rakor SPEK-HAM dan BAZNAS : Perlu Strategi untuk Langka-Langkah Pendampingan

Rakor SPEK-HAM dan BAZNAS Boyolali terkait evaluasi kerja-kerja yang dilakukan selama ini dibuka dengan pemaparan kegiatan yang sudah dilakukan tentang pelatihan budidaya pertanian ramah lingkungan yang dilakukan pada 22 dan 24 Januari. Pelatihan tersebut diwadahi dalam sekolah tani.

Suasana Rapat SPEK-HAM dan BAZNAS Boyolali

Pendampingan yang dilakukan oleh SPEK-HAM memetakan lahan petani untuk budidaya bawang merah organik. Dilatarbelakangi harga tanah di Desa Cluntang harganya sudah mahal kemudian disepakati memakai lahan petani sebanyak 24 orang mempunyai lahan 1,1 hektar. Karena menurut pertimbangan sewa lahan tidak efektif.

Beberapa pendampingan tersebut adalah pelatihan pembuatan pupuk kompos dan produksi olahan mawar, sebab jumlah produksi masih perlu ditingkatkan. Ada beberapa jadwal di bulan februari di Desa Cluntang terkait program adalah pelatihan manajemen, administrasi pada budidaya bawang merah, pendataan lahan, pembuatan kompos.

Perlu Strategi dan Langkah-Langkah ke Depan

Jamal Yazid, Ketua BAZNAS Boyolali menanggapi, bahwa terkait pelatihan manajemen administrasi, dan penanaman apakah sudah ada demplot. Demplot atau Demonstration Plot adalah suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemontrasikan. Jamal kemudian menyarankan ada kajian dan pemantapan efisiensi penggunaan lahan.

Terkait pengolahan bunga mawar, menurut Jamal Yazid, perlu strategi dan langkah-langkah ke depan salah satunya bahwa untuk permintaan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bekerja sama dengan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) untuk melihat nilai kandungan dan manfaat apa yang terkandung supaya produk memenuhi standar dan memastikan kualitas produk. (Catharina,mahasiswa magang UNS)