“Sulit untuk dipercaya kalau saya terkena HIV. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa sangat tertekan dan khawatir sekali, kenapa saya bisa terkena penyakit seperti ini.”
Saya tertular dari almarhum suami yang dulu pernah bekerja di Jakarta. Waktu masih hidup suami saya sering sakit, opname di rumah sakit tetapi tidak ditemukan penyakitnya. Sampai suatu saat saya membawa suami ke ibu Nyai/sejenis dukun di Magelang. Pada saat dibawa ke ibu Nyai, suami saya mengamuk. Kemudian saya membawa suami saya ke RSUD Pandan Arang Boyolali selama 3 hari dalam kondisi ngedrop. RSUD tidak bisa menangani penyakit suami saya, kemudian suami saya dirujuk ke Rumah Sakit Moewardi Solo. Pihak rumah sakit melakukan CT Scan dan setelah keluar dari CT Scan, suami saya koma dan akhirnya meninggal.
Cerita hidup saya tidak berhenti sampai di sini. Pada saat suami saya sakit, saya sendiri juga sakit, mengalami sariawan yang parah tapi tidak saya pedulikan. Rumah Sakit dr. Moewardi menyarankan saya untuk tes darah, tetapi saya belum sempat melakukannya karena lokasi Rumah Sakit yang jauh dan pada saat itu juga masih melakukan pengajian sampai 7 hari suami meninggal. Setelah selesai 7 harian, saya dibawa oleh keluarga ke RS Paru Aryo Wirawan Salatiga. Saya mondok selama 12 hari, dan pada waktu mondok ini barulah saya tahu terkait penyakit yang saya derita.
Kondisi kesehatan saya semakin menurun, tapi saya befikir saya harus sehat, berjuang demi anak-anak saya. Saya mengalami infeksi penyerta atau yang disebut infeksi oportunistik seperti batuk TBC dan juga sariawan. Pengobatan dan perawatan yang saya lakukan berhasil dengan baik. Saya sekarang merasa lebih sehat dan menjadi aktifis HIV AIDS.
Seorang kawan memperkenalkan saya dengan KDS Salatiga. Dari KDS ini saya mendapat suport dari teman-teman yang bernasib seperti saya. Saya mendapat dukungan dari konselor. Orang positif harus tetap berdaya. Saya mulai melakukan terapi obat, dan dari rumah sakit meminta untuk memeriksakan anak saya. Saya mempunyai 3 anak dan dari hasil pemeriksaan, anak saya yang paling kecil, yang pada saat itu berusia 4 tahun ternyata positif. Saat ini saya menikmati hidup saya dengan mengabdi di LSM Peduli HIV AIDS menjadi aktifis HIV AIDS.
Dituliskan oleh Atik Fatmawati (Community Organizer SPEK HAM for HIV AIDS) berdasarkan penuturan dari Ibu Rumah Tangga ODHA yang tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Kabupaten Boyolali
Satu dari beberapa output yang dihasilkan dalam Sekolah Paralegal yang diselenggarakan oleh SPEK-HAM Surakarta pada Bulan November dan Desember 2014 adalah terbentuknya Forum Paralegal Solo Raya. Untuk pertama kalinya, anggota forum tersebut berkumpul kembali. Pertemuan diadakan di kantor SPEK-HAM, dihadiri oleh 14 Paralegal dari beberapa Kelurahan yang tersebar di Solo Raya, antara lain Kelurahan Sewu, Kelurahan Kemlayan, Kelurahan Joyosuran, Kelurahan Gilingan, Kelurahan Kestalan, dan Kelurahan Sawahan Boyolali. Paralegal yang menjadi bagian dari forum ini adalah perempuan yang aktif sebagai kader pada Kelurahan masing-masing. Pertemuan 18 Februari 2015 tersebut bertujuan sebagai penguatan Paralegal dalam proses pendampingan korban.
Kegiatan didahului dengan sharing pengalaman yang telah dilakukan semenjak terbentuknya Forum Paralegal. Sharing dimulai oleh Ibu Rudi dari Kelurahan Sawahan yang menceritakan bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak di sekitar rumahnya, serta apa yang sudah dilakukan terhadap kasus-kasus tersebut. Sharing terus berlanjut hingga pada Ibu Titik dari Kelurahan Kemlayan. Menurut penuturan ibu-ibu, masih banyak hal yang menjadi problem saat menemui kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, diantaranya adalah korban merasa kekerasan adalah aib sehingga harus dirahasiakan, masalah penanganan pengaduan yang tidak berspektif korban, korban merasa bukan korban.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penguatan kepada Paralegal dalam menangani aduan korban. Penguatan disampaikan oleh Manajer Divisi PPKBM (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat) SPEK-HAM, Fitri Haryani. Dalam paparannya, Fitri menangkap beberapa poin yang disampaikan dalam sharing sebelumnya, seperti : korban dan keluarga akhirnya tidak mau dibantu lagi melaporkan kejadian pelecehan seksual. Fitri menekankan “Membantu korban kekerasan, tidak harus menyelesaikan hingga tuntas”.
Ada beberapa Tips yang diberikan oleh Fitri, terkait dengan penerimaan pengaduan Korban, yaitu:
Pengaduan yang diterima tidak harus diselesaikan sendiri sampai tuntas oleh penerima aduan, dalam hal ini anggota Paralegal.
Perlunya jaringan untuk menuntaskan kasus, seperti PPT, P2TP2A, SPEK-HAM, LBH dan lain-lain.
Merahasiakan identitas korban, meskipun dari keluarga penerima aduan sendiri.
Memberikan pilihan-pilihan penyelesaian kepada korban dan keluarganya.
Memberikan keleluasaan bagi korban dan keluarga korban untuk mengambil keputusan dan cara yang akan ditempuh untuk menyelesaikan kasus kekerasan.
Terpenting adalah memberikan perasaan nyaman kepada korban saat menerima aduan, serta tidak menghakimi.
Fitri juga menegaskan agar para Paralegal memberikan form pengaduan korban ke SPEK-HAM, karena data ini sangat penting untuk menunjukkan jumlah kekerasan yang terjadi setiap tahunnya. Data ini akan dipergunakan untuk advokasi kebijakan anggaran dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Harapannya, pertemuan ini menjadi pertemuan pembuka bagi pertemuan rutin bulanan selanjutnya. (Laili Anisah/spekham.org)
“Membangun kesadarkan warga Kelurahan Joyosuran untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya, serta mengajak para perempuan Joyosuran untuk melakukan pemilahan sampah, terutama sampah non organik yang mempunyai nilai jual, supaya bisa menambah penghasilan keluarga dan memberikan kesibukan positif bagi perempuan Joyosuran.”
SOLO – Minggu (25/01/2015). Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) beserta Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK HAM) dan stakeholder terkait menyelenggarakan suatu acara yang menjadi puncak perayaan peringatan ulang tahun Kelompok Perempuan Joyosuran yang ke-3 “3 Tahun Kelompok Perempuan Joyosuran, Belajar Bersama Masyarakat”.
Flash Mob Dance
Acara tersebut dimulai sejak pagi hingga malam hari dan melibatkan semua perempuan Joyosuran, tidak terkecuali Bapak-bapak dan anak-anak. Beberapa acara telah terkonsep dengan rapi, mulai dari Flashmob Dance dan Kerja Bakti yang diselenggarakan pada pagi hari pukul 06.30 WIB yang bertempat di halaman Kelurahan Joyosuran serta diikuti oleh kurang lebih 100 perempuan warga Joyosuran. Selesai acara flashmob dance dilanjutkan penanaman tanaman oleh perempuan-perempuan dan laki-laki warga Joyosuran. Tanaman ditempatkan di bantaran Kali Jenes sebagai salah satu bentuk aktifitas dari kegiatan “Perempuan Merawat Kali”.
Cipta Makanan Non Beras
Acara selanjutnya yang tidak kalah menarik, yaitu Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang diselenggarakan di rumah salah satu warga Joyosuran. Peserta yang terlibat adalah perempuan-perempuan yang mewakili RT dan RW nya dengan hasil karya cipta masakan non-beras kreasi baru mereka. Acara ini berlangsung hingga menjelang siang hari, sembari juga dilangsungkan proses penjurian Lomba Pengelolaan Sampah.
Proses penjurian lomba pemilahan sampah dilakukan dengan cara mendatangi tempat-tempat warga yang menjadi ketua dari masing-masing kelompok yang mengikuti lomba. Antusiasme warga Joyosuran sangatlah tinggi dalam mengikuti lomba pemilahan sampah tersebut, terbukti dengan banyaknya anggota kelompok yang mendaftar hingga mencapai kurang lebih 8 kelompok dari 12 RW yang ada di Kelurahan Joyosuran tersebut. Proses penilaian begitu panjang, dimulai dengan melihat langsung proses pemilahannya sampai dengan diskusi bersama masing-masing perwakilan kelompok bersama dewan juri yang ditunjuk dari beberapa elemen.
Pengelolaan Sampah
Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan, malam harinya diselenggarakan acara inti yaitu sarasehan bersama warga Joyosuran yang mengangkat tema “Pengelolaan Sampah dalam Perspektif Lingkungan dan Pencegahan Bencana Banjir”. Acara sarasehan ini diikuti seluruh warga Joyosuran dan ikut serta mengundang narasumber dari Bapak Walikota Surakarta yang diwakilki oleh Bapak Camat Pasar Kliwon, perwakilan dari DKP, perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), serta Ketua PAGAR KAJEN (Paguyuban Warga Rekso Kali Jenes).
Talk show dibuka oleh moderator Nila Ayu Puspaningrum, selaku manajer divisi Sustainable Livelihood dan juga perwakilan dari SPEKHAM. Penampilan-penampilan music dari speky voice, vocal group FORAJOS (Forum Anak Joyosuran) serta mendatangkan band tamu dari Boyolali yang menambah semaraknya acara saraserah pada malam hari itu. Acara sarasehan yang mengangkat program pengelolaan sampah dalam perspektif lingkungan dan pencegahan bencana banjir tersebut memang pantas dilakukan di Kelurahan Joyosuran, karena sampah menjadi salah satu temuan persoalan di daerah tersebut. Berawal dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) pada tahun 2014, bahwa masih ada sampah yang dibuang ke selokan bahkan ke Kali Jenes yang pada akhirnya mengganggu saluran-saluran pembuangan.
Dampak dari pembuangan sampah secara liar sangat dirasakan oleh warga sekitar bantaran Kali Jenes yang dulu kerap terkena banjir. Situasi tersebut memunculkan keprihatinan bagi perempuan-perempuan Joyosuran untuk bisa mengatasinya. Dari masalah-masalah yang telah dihadapi oleh warga Joyosuran tersebut, selama kurang lebih 3 tahun, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) yang bekerjasama dengan SPEK HAM membantu warga Kelurahan Joyosuran untuk menanggulangi masalah sampah dengan berbagai program yang telah dijalankan. Maka dari itu, kegiatan sarasehan tersebut dilakukan untuk bisa menampung dan mendiskusikan berbagai keluh kesah warga mengenai masalah sampah kepada para narasumber yang lebih mengerti untuk penanganan masalah sampah.
Pembahasan masalah sampah dimulai dengan pemutaran film tentang proses pengangkutan sampah perkotaan di Luar Negeri yang sudah tersistematis dengan rapi. Dengan diperlihatkannya film tersebut menjadikan warga Kelurahan Joyosuran yang mengikuti acara sarasehan tersebut mempunyai keinginan agar negaranya atau khususnya kelurahannya sendiri bisa mengikuti proses pengangkutan sampah yang lebih tersistematis seperti dalam video yang diputar.
Diskusi berawal dengan dibukanya sesi tanya jawab oleh moderator, begitu semangatnya antusias warga terbukti dengan banyak warga yang menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah sampah di seputar lingkungan Joyosuran. Ada yang memberi kritikan bagi Pemerintah yang menangani masalah sampah di kota Solo dan ada juga yang menanyakan bagaimana solusi yang tepat untuk menanggulangi masalah sampah di daerah Joyosuran tersebut kepada para narasumber yang bertanggungjawab dan berkompeten dalam bidangnya. Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan oleh para narasumber menjadikan warga mulai tahu dan mendapatkan tambahan ilmu tentang bagaimana mengelola sampah perkotaan terutama bagi rumah tangganya sendiri.
Sarasehan berlangsung dengan meriah dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dan ditambah dengan pembawaan beberapa narasumber yang sedikit humoris semakin menambah hangatnya acara malam sarasehan tersebut.
Sebelum penutupan acara sarasehan pada malam hari tersebut, diadakan sesi pengumuman pemenang Lomba Pengelolaan Sampah, Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang penjuriannya dilakukan pada pagi hari. Masing-masing lomba diambil Juara I, II, III dan Juara Harapan. Peserta yang memenangkan perlombaan tersebut masing-masing mendapatkan Trophy Walikota Surakarta, Sertifikat, Uang Pembinaan, serta beberapa bingkisan menarik. Acara sarasehan tersebut ditutup dengan ditampilkannya pertunjukan musik. (Defita&Murni– Mahasiswa Sosiologi UNS/spekham.org)
Kebersamaan yang singkat tapi selalu membawa perubahan-perubahan, walaupun kecil, dari komunitas IRT ODHA Klaten. Sarasehan yang difasilitasi oleh SPEK-HAM melalui Divisi Kesehatan Masyarakat ini bertujuan untuk mempererat jaringan Ibu Rumah Tangga (IRT) ODHA di Solo Raya (Boyolali, Sukoharjo, Klaten dan Solo) agar selalu terjalin komunikasi terkait dengan informasi-informasi dan penguatan kalangan IRT ODHA Solo Raya, terkhusus di Klaten.
Sarasehan pertama dilakukan pada Bulan Oktober 2014. Teman-teman IRT ODHA masih belum terbuka dalam mengungkapkan jati dirinya secara utuh, seperti sejak kapan dinyatakan positif, keadaan keluarga bagaimana, ada KDRT atau tidak.
Sarasehan kedua diadakan di kantor SPEK-HAM di Jl. Srikaya No.14 pada tanggal 10 Februari 2015. Sangatlah membanggakan, teman-teman IRT ODHA Klaten sudah mau lebih membuka diri, sudah mau banyak bercerita tentang kondisi ekonomi, keadaan keluarga, pekerjaannya, bahkan sampai KDRT yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Diskusi yang sangat luar biasa, dalam waktu yang singkat tapi hasilnya sangatlah berkualitas. Setelah ngobrol banyak hal tentang perkembangan IRT ODHA di Solo Raya, teman-teman jadi sedikit mulai ingin membuka diri dan sepakat untuk:
Melakukan siaran di Radio Pemerintah Daerah (RSPD) Klaten bersama SPEKHAM, DKK dan Dinas Sosial.
Berani untuk diajak melakukan audiensi bersama para Pengambil Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten, seperti Anggota Dewan (DPRD) Klaten, Dinas Kesehatan,Dinas Sosial dan BAPERMAS.
DUA kesepakatan bukan berarti sedikit, tetapi DUA berarti keberanian untuk berkata KAMI “IRTODHA”ada dan berguna bagi daerah kami“Klaten”. (Antonius Danang/spekham.org/dok photo: google)
Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Kondisi sanitasi di Indonesia masih relatif buruk dan jauh tertinggal dari sektor – sektor pembangunan lainnya.
Buruknya kondisi sanitasi ini berdampak negatif dibanyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya penyakit pada balita, turunnya daya saing maupun citra Kabupaten/Kota, hingga menurunnya perekonomian Kabupaten/Kota.
Penyebab buruknya kondisi sanitasi dikarenakan lemahnya perencanaan pembangunan sanitasi: tidak terpadu, salah sasaran, tidak sesuai kebutuhan, dan tidak berkelanjutan, serta kurangnya perhatian masyarakat pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan sebuah perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan berkelanjutan.
Sejak adanya program pengadaan jambanisasi/pembuatan septic tank secara bersama, memberikan dampak berbeda di Desa Termulus, Kabupaten Kudus. Lingkungan Desa Termulus sebelum dibangun IPAL Komunal terlihat kumuh dan kotor, namun setelah adanya program pembangunan sarana sanitasi yang dibangun oleh USRI tahun 2013, lingkungan masyarakat sekitar menjadi tertata dan bersih.
Awalnya masyarakat Kesambi menolak dengan adanya pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal di berbagai tempat di Desa Termulus, dengan alasan takut terkena dampak bau dari kotoran tinja, namun melalui sosialisasi pemahaman tentang manfaat IPAL dan keuntungannya kepada masyarakat Kesambi, akhirnya disepakati bangunan IPAL ditempatkan pada ujung desa, tepatnya di tengah jalan milik Desa.
Setelah terbangun IPAL dan masyarakat menyambungkan saluran pembuangan air limbah baik tinja maupun air limbah rumah tangga, masyarakat baru menyadari dan merasakan manfaat yang besar. Ada sebagian warga yang menyesal, pasalnya pada waktu pembangunan tidak ikut menyambung.
Syafiq salah satu warga mengatakan “Dulu masyarakat menolak, namun setelah mengetahui secara nyata manfaat IPAL, masyarakat berbondong-bondong menginginkan rumahnya ikut menyambung dan menyalurkan limbah dari kotoran manusia maupun limbah rumah tangga.”
Untuk pengelolaan dan perawatan, lanjut Syafiq “Hasil musyawarah semua masyarakat menyepakati adanya iuran setiap bulan sebanyak tujuh ribu rupiah. Hasil iuran tersebut digunakan untuk membayar jasa orang yang membersihkan IPAL, dengan nominal sebanyak seratus ribu. Orang tersebut membersihkan mulai dari rumah-rumah menuju saluran utama dengan kurung waktu setiap satu bulan sekali.”
Biogas
Setelah terbangun IPAL Komunal dan sambungan rumah yang mencapai 47 saluran rumah, kemudian tempat ipal komunal dimanfatkan untuk dibuat gas. Menurut Bambang selaku BKM Desa Kesambi mengatakan “Awalnya hanya untuk coba-coba, meneliti dibuat biogas. Setelah diketahui tempat IPAL komunal tersebut mengandung gas, akhirnya dibuatkan saluran sarana untuk dimanfaatkan memasak. Ketika ada pertemuan kelompok pemanfaat dan pengelola (KPP) di lokasi IPAL, biogas tersebut digunakan untuk masak-masak.
“Memang manfaat adanya IPAL Komunal itu banyak, selain buat saluran buangan limbah kotoran manusia dan limbah rumah tangga juga bisa menghasilkan biogas. Semua itu berasal dari kita, oleh kita dan untuk kita. Harapan kedepan, biogas ini bisa dikembangkan lebih baik lagi dan Pemerintah memberi support untuk pengembangan biogas ini”, harap Bambang di sela-sela waktunya istirahat. (Anam/spekham.org/dok photo : panoramio.com, mongabay.co.id)
Masyarakat Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, selain juga sebagai penambang pasir. Bisa dijumpai ada 2 sampai 4 ekor sapi di dalam kandang di setiap rumah warga. Dari 2, 4 ekor sapi ini, warga mempunyai harapan agar ternak sapi ini lebih berkembang, tidak hanya sebagai sampingan tapi juga bisa sebagai penunjang penghidupan.
Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan belajar mengenai peternakan sapi yang lebih tertata. Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 2015, bertempat di rumah Ibu Darsi dan Gimin, warga RT6/RW3 Banjarsari, Balerante, Kemalang. Kegiatan ini melibatkan Pemerintahan Desa Balerante, PPL Peternakan Kemalang, Dinas Pertanian Sub Peternakan Klaten, Babinkamtibmas Balerante, SPEK HAM, Kelompok Perempuan Mawar, Kelompok Perempuan Mekar Sari, dan perwakilan Kelompok Peternak Sapi Balerante.
Diskusi ini merupakan langkah awal untuk mencapai impian “Balerante Kampung Sapi” yang tentunya membutuhkan waktu dan kerjasama antara petani dan peternak, Pemerintahan Desa Balerante, SPEK HAM selaku pendamping, serta Dinas Pertanian Sub Peternakan untuk mewujudkan impian tersebut. Dari pihak Pemerintahan Desa Balerante dan Dinas Pertanian Sub Peternakan Klaten sangat mendukung untuk mewujudkan impian “Balerante Kampung Sapi”, karena dari setiap warga (kepala rumah tangga) rata-rata memiliki sapi dan warga juga mengatakan bahwa memang sejak nenek moyong, mereka sudah terbiasa dengan ternak sapi.
Dalam kegiatan diskusi tersebut juga ada tambahan ilmu dari Suharji, PPL Kemalang tentang bagaimana mengenali tanda-tanda sapi birahi, kapan waktu baik mengkawinkan/inseminasi saat sapi sedang masa birahi. Saat yang paling baik untuk inseminasi adalah mulai dari 9 jam setelah mulai tanda birahi yang sebenarnya sampai dengan 6 jam sesudah tanda birahi yang sebenarnya berakir, sedangkan waktu yang baik untuk inseminsi adalah setelah 6 jam sesudah tanda birahi sampai 10 jam sesudah tanda birahi sebenarnya.
Diskusi tersebut juga meyepakati adanya pertemuan rutin bersama PPL Pertanian/Dinas diadakan tiap 3 bulan untuk pemberian informasi dan lain-lain, mendatangkan nara sumber lain/pelatihan, pensinergian dengan PPL Pertanian untuk pemanfaatan sisa kandang, menjaga kebersihan sapi dan kandang. Kelompok Mawar akan mengawali menjaga kebersihan sapi dan kandang yang dilakukan bersama-sama pada tanggal 20 Februari 2015 secara bergiliran. Kegiatan bersih sapi atau guyang/memandikan sapi ini belum pernah dilakukan secara bersama-sama oleh para anggota Kelompok Perempuan Mawar. Sedangkan urusan membersihkan kandang adalah hal yang sudah terbiasa dilakukan setiap hari. Hal tersebut sebagai langkah awal mengajak petani/peternak di Balerante untuk menjaga kebersihan ternaknya dan mewujudkan impian “Balerante Kampung Sapi”. (Eko Nur Arifin/spekham.org)
SEMARANG – IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene) bekerjasama dengan SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) Surakarta melalui Program Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi mengadakan kegiatan ToT bagi Master Trainer Penguatan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP).
Peserta ToT ini adalah para Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan yang IPAL Komunalnya diintervensi, PKK Kecamatan, dan UPTB Bapermas KB Kecamatan, serta para observer dari RPMC USRI Provinsi Jateng-DIY, DPIU dan DCT USRI, Bappeda, dan Bapermas PP & KB Kota Semarang. ToT ini dilaksanakan selama 2 hari (26-27 Januari 2015) bertempat di Hotel Grasia Jl. S. Parman Nomor 29 Gajah Mungkur Semarang.
“Kegiatan ToT ini bertujuan untuk mencetak peserta menjadi Master Trainer yang akan melatih para pengurus KPP, perangkat Kelurahan dan PKK Kelurahan intervensi. Dengan ToT ini, peserta diharapkan mampu melakukan pelatihan bagi penguatan KPP sehingga kepengurusan KPP menjadi semakin kuat dan professional” tegas Provita sebagai Trainer.
Pelatihan dilakukan dengan memberikan pembekalan kemampuan secara teoritis maupun praktis menjadi seorang Trainer. Selain diberikan materi tentang syarat, kapabilitas, dan sifat yang harus dimiliki seorang Trainer, peserta juga melakukan praktek lapangan dengan melihat langsung konstruksi dan fungsi masing-masing bagian IPAL serta berdialog dengan pengurus KPP dalam pengelolaan IPAL Komunal. Peserta merasa mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjadi seorang Trainer yang handal dan mengetahui seluk-beluk konstruksi IPAL dan fungsinya.
SOLO – Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi” adalah program yang lebih difokuskan pada bidang sanitasi. Program ini akan mendukung program pemerintah yang berhubungan dengan program-program Sanitasi seperti Infrastruktur Sanitasi Perkotaan Pedesaan (USRI) dan SLBM yang telah berjalan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Dukungan yang bisa diberikan dari program ini berupa upaya-upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan memanfaatkan mekanisme perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kontribusiprogram ini adalah mendukung dan mengembangkan keberlanjutan dalam program-program sanitasi yang dilakukan oleh pemerintah.
Untuk mendukung program ini, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan pelatihan dengan peserta beberapa pihak dan komponen yang terlibat langsung dalam Program USRI. Salah satunya adalah kegiatan Training of Trainer Pemicuan Paska Konstruksi. Kegiatan ToT Solo Raya ( Kota Solo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo) ini dilakukan pada Tanggal 8 – 10 Oktober 2014. bertempat. Hotel D’Wangsa HAP Solo Jl.Brigjend Slamet Riyadi No.133 Surakarta dengan jumlah 26 orang. Tujuan dari TOT ini Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melatih dalam Pelatihan Pemicuan Bagi Masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing sesuai dengan peran dan fungsinya.
Pemahaman Peserta tentang Program USRI Peserta berasal dari perwakilan unsur kesehatan (sanitarian) dan pokja IV PKK kecamatan. Sebagian besar telah mengetahui tentang keberadaan Program USRI di wilayahnya, namun tidak memahami proses pelaksanaan dengan baik karena saat sosialisasi awal dan pelaksanaan pembangunan infrastruksturnya mereka tidak dilibatkan. Tantangan yang muncul dari pelaksanaan Program USRI mengarahkan pada masih minimnya sosialisasi oleh faskel USRI sehingga muncul pro-kontra di masyarakat. Disamping itu keterbatasan lahan yang digunakan untuk lokasi IPAL komunal juga masih banyak ditemui. Kegiatan paska konstruksi belum diimbangi dengan musyawarah mufakat tentang biaya perawatan dan pemeliharaan sarana, terlebih jika didapati bangunan yang tidak berfungsi dikarenakan faktor teknis.
Peserta ToT berperan sebagai seorang trainer yang akan melatihkan metode pemicuan paska konstruksi kepada KPP dan PKK di wilayahnya. Pemahaman tersebut telah disampaikan dan dipahami dengan baik oleh peserta, walaupun di awal muncul beberapa keraguan dan kurang percaya diri. bagaimana upaya memicu masyarakat untuk mau memiliki SR ke IPAL komunal yang telah dibangunkan Program USRI. Jika saat pra konstruksi elemen pemicuan banyak menyentuh dari sisi rasa jijik, takut sakit, gengsi, faktor agama, dll maka saat paska konstruksi Program USRI ini akan lebih menekankan bagaimana upaya memicu warga yang kesulitan atau enggan membangun SR, baik itu karena keterbatasan biaya maupun kekuranganpahaman dari sisi teknis. (spekham/wijiatmi)