Search for:

Audiensi SPEK-HAM bersama Ketua DPRD Kabupaten Brebes Bahas Program Pengentasan Kemiskinan

Audiensi SPEK-HAM bersama Ketua DPRD Kabupaten Brebes

Bertempat di ruang Ketua DPRD Kabupaten Brebes, Rabu (23/4), Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) melakukan audiensi.  Rombongan SPEK-HAM diterima langsung oleh Ketua DPRD, Dr. H. Illia Amin, M.Pd.

SPEK-HAM menyampaikan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan  di Kecamatan Larangan dan Songgom Kabupaten Brebes bersinergi dengan pemerintah daerah dan mendapat dukungan dari Kedutaan New Zealand.

“Sejak 2016 SPEK-HAM mendampingi puluhan petani merintis pengembangan sereh wangi di lahan-lahan marjinal. Pada tahun 2019 ini mulai melakukan pengambangan kawasan atsiri organik di lahan seluas 46 ha di kawasan Watu Geni-Wlahar,” kata Elist pengurus SPEK-HAM.

“Program ini merupakan salah satu pilot penanggulangan kemiskinan berbasis pengembangan  potensi  desa. Sereh Wangi merupakan tanaman yang cocok ditanam di lahan kering dan panas seperti Brebes, dan saat ini pasarnya terserap 100%, baik dalam negeri maupun luar negeri. Hasilnya sudah lebih dari 200 juta yang diterima oleh para petani dari budidaya sereh wangi”, imbuhnya.

Dalam audiensi tersebut disampaikan kebutuhan dukungan dari pemerintah baik eksekutif maupun legisatif untuk kebijakan yang mendukung pengembangan kawasan atsiri organik Watu Geni. Hal yang paling krusial adalah infrastruktur jalan yang menghubungkan lahan dengan jalan raya.  Ketersediaan infrastruktur akan memudahkan petani mengangkut dan memasarkan hasil panen.

Ketua DPRD Kabupaten Brebes Dr. H. Illia Amin, M.Pd menyambut baik dan akan mendukung pembentukan kawasan atsiri organik di Kecamatan Larangan. “Segala program yang muaranya untuk mengentaskan kemiskinan pasti akan kami dukung,” ujar Illia Amin.

suasana audiensi

Pada akhir audiensi, Ketua DPRD Kabupaten Brebes meminta kepada SPEK-HAM menyiapkan peta jalan yang masih membutuhkan perbaikan untuk mendukung aktivitas pertanian warga Desa Pamulihan dan Wlahar di Kawasan Watu Geni. “Nanti kami bersama Bappeda dan DPU akan meninjau lokasi bersama-sama,”tambahnya. (nila)

Pelatihan Hard Candy Mawar FATIPA UNISRI

Suasana pelatihan pembuatan hard candy (permen) mawar

Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) bekerja sama dengan Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FATIPA) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) mengadakan pelatihan pembuatan olahan makanan dari bunga mawar. 

Dua puluhan perempuan anggota Kelompok Putri Mawar mengikuti pelatihan yang bertempat di rumah ketua RT Gondang, Desa Cluntang Boyolali, Senin (29/4/2019). 

“Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan ketrampilan dan menambah varian produk makanan minuman berbahan baku bunga mawar”, kata Nila, Manager Divisi Lingkungan dan  Ekonomi  SPEK-HAM. Banyaknya bunga mawar di Desa Cluntang menjadi potensi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat khususnya perempuan. 

Dalam pelatihan yang dipandu oleh Ibu Wuri Dosen Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FATIPA) UNISRI, peserta diajari membuat hard candy (permen) mawar dengan bahan yang sederhana dan teknologi sederhana tepat guna. 

hasil pelatihan pembuatan permen mawar

“Harapannya paska pelatihan ini kelompok dapat memproduksi sendiri untuk menyediakan kebutuhan menjelang lebaran. Jadi Desa Cluntang punya produk khas omahan mawar yang variatif,” imbuh Nila. (nila)

Catatan dari Jambore Layanan Berbasis Komunitas SPEK-HAM dan MAMPU

Sanggar Kespro SPEKTA Klaten Tengah sedang presentasi.

30 orang yang mewakili 15 komunitas dari Kabupaten Boyolali, Klaten dan Kota Surakarta dampingan SPEK-HAM berkumpul untuk saling berbagi pengalaman da;lam sebuah even Jambore Layanan Berbasis Komunitas dihelat pada Senin (29/4) di Hotel Pramesthi. Even jambore yang difasilitasi oleh Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM dan Fitri Haryani berlangsung dinamis dan menjadi diskusi di antara para peserta yang mewakili komunitas masing-masing. Komunitas dampingan tersebut ada yang sudah terbentuk sejak 10 tahun lalu, 5 tahun, dan bahkan baru berbilang bulan. Namun dari beberapa paparan yang disampaikan, masing-masing menunjukkan perkembangan, dengan kearifan dan basis yang berbeda-beda di setiap wilayah. Beberapa kelompok yang berpresentasi antara lain :

1. Kelompok Wanita Tani Rukun Makmur Boyolali, diwakili oleh Ibu Yuli menceritakan bahwa para anggota di kelompoknya adalah penyintas kekerasan secara ekonomi. Kegiatan dilakukan antara lain beternak kambing dan UMKM dan sudah membantu secara ekonomi. Berjejaring dengan dinas setempat, kelompok yang beranggotakan 23 perempuan ini juga melakukan pelatihan peternakan. Kelompok ini juga menangani kasus kekerasan yang belum berperspektif kepada korban. “Sehingga menjadi PR bagi kami untuk terus melakukan sosialisasi juga tentang kekerasan dalam rumah tangga,”ujar Ibu Surani, anggota KWT Rukun Makmur.

2. Pak Suji, mewakili Kelompok Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Desa Kuncen Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten memaparkan bagaimana ia dan kelompoknya yang saat itu didukung oleh kepala desa, memberikan sosialisasi kepada para perempuan terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bahwa tidak tabu. KP3A juga melakukan cek HIV gratis dilatarbelakangi banyak kaum laki-laki di Desa Kuncen bekerja mengembara di luar daerah. Selain menerima aduan, KP3A juga memberikan solusi-solusi. Ada pertemuan rutin setiap bulan.

3. Pengembangan ekonomi dilakukan pada awalnya dengan menanam jahe, namun gagal. Kemudian ada pelatihan pembuatak kompos dari seorang pegiat, yang kemudian dipraktikkan dan menghasilkan keuntungan. KP3A dalam kegiatannya di tahun mendapat kucuran Dana Desa sebesar 2,5 juta. Dan untuk tahun anggaran 2019 diajukan sebesar 5 juta. Di Desa Kuncen ada produk payung hukum berupa Perdes tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Pernah menangani hingga 15 kasus, KP3A mulai mencatatkan kronologis kasus dalam sebuah dokumentasi kelompoknya.

Salah seorang pegiat komunitas sedang berbagi pengalaman pada komunitas lain

4. Sanggar Belajar Mandiri Sawahan, beranggotakan 30 orang diwakili paparannya oleh Ibu Narni telah melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi dan Iva Test gratis. Dari IVA Tes gratis lalu ada temuan IVA positif yang kemudian dirujuk untuk dirawat. Kelompok ini meski belum mengantongi Surat Keputusan (SK) dari kepala desa, namun telah mewakilkan anggotanya untuk duduk di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan menjadi pengurus di dalamnya.

5. Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) adalah kelompok yang berada di wilayah Surakarta, beranggotakan 40 orang terdiri dari perempuan muda dan tua. Kelompok bersinergi dengan program Warga Peduli AIDS (WPA), PPT, posyandu, posbindu. KPJ bergerak di kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Terkait sosialisasi pentingnya IVA Test, kurangnya respon warga, maka KPJ melakukan sosialisasi dengan sistem jemput bola. Akhirnya dari target 50 peserta, KPJ bisa menjaring 100 orang untuk melakukan IVA Test gratis. Selain itu KPJ juga pernah mendapat pelatihan tentang ‘Melek teknologi” serta belajar fotografi. Saat ini beberapa inventaris yang dipunyai KPJ antara lain laptop, dan kamera. Sebuah kasus kekerasan seksual yang terjadi di Joyosuran pernah ditangani KPJ, terkait korban adalah perempuan, dan pelaku masih terhitung keluarga dekat.

6. Komunitas Perempuan Kampung Sewu (KPKS) berdiri sejak tahun 2007 berlata belakang bencana banjir yang melanda sebagian wilayah kota Surakarta. Dari dampak banjir kemudian lahir kelompok perempuan dan mendapat pelatihan-pelatihan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD). KPKS telah mendapat SK Lurah setempat dan mendapat akomodasi dana dari DPK sebesar 1,5 juta. Beberapa anggota aktif di pokja, salah satunya pokja pendidikan dan mendapat pelatihan serta studi banding di Bandung. Setiap tahun KPKS meramaikan even Apem Sewu. Saat ini KPKS sedang mengajukan proposal untuk mendapatkan bantuan gerobak senilai 12 juta untuk emngembangkan perekonomian anggota kelompok agar lebih berdaya. Beberapa kasus kekerasan ditangani di antaranya kekerasan seksual yang menimpa anak dibawah umur. Uniknya, anggota KPKS sebagian besar didominasi perempuan penopang ekonomi keluarga. Saat ini KPKS berjejaring melakukan kerja sama dengan mahasiswa UNS dalam pemberdayaan masyarakat.

7. Tiwuk Kusumastuti, dari Forum Paralegal Se-SoloRaya dan berasal dari Kelurahan Kemlayan menyatakan bahwa kelompoknya pada tahun 2015 mendapat gebraklan dengan terbitnya SK Lurah. Saat ini kelompok yang beranggotakan 29 orang itu mengikuti rakor PPT tiga bulan sekali, dan diskusi terfokus dan ada rembuk perempuan. PPT Kemlayan mendapat dana dari DPK dan 80% anggota kelompok adalah perempuan yang melaksanakan dari perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi kegiatan. PPT Kelurahan Kemlayan baru saja mendapatkan penghargaan juara lomba penanganan kasus yang dihelat oleh Kantor DInas PPPAPM Surakarta dan mendapat hadiah uang pembinaan sebesar 4 juta rupiah.

8. Kelompok Mayang Kelurahan Kestalan diwakili oleh Ibu Murtanti memiliki kegiatan pemberdayaan ekonomi dengan dibentuknya pra koperasi yang saat ini memiliki aset 6 juta. Kelompok ini juga melakukan bakti sosial bermodalkan dari kegiatan bank sampah yang selama ini dilakukan. Beranggotakan 22 orang, yakng terdiri dari 1 rukun tetangga (RT) dan dua dasawisma, kelompok Mayang sudah mendapatkan dana sebesar 3 juta dari DPK.

9. Sanggaar Kespro SPEKTA Kecamatan Klaten Tengah, dan sanggar Kespro Permata Kecamatan Juwiring  yang diresmikan sebulan lalu telah melakukan safari di berbagai kelurahan dan desa di masing-masing wilayah dan melakukan pembentukan posyandu remaja dan posbindu remaja. Lewat program PEKERTi dari IPAS dan SPEK-HAM, kader-kader kespro di kedua sanggar mendapatkan pelatihan hak kesehatan sesksual dan reproduksi dengan materi organ seksual reproduksi, alat kontrasepsi, Kehamilan Tidak Diiinginkan (KTD) dan APK. Pada pertengahan April, kedua sanggar bertemu untuk sharing, saling berbagi pengalaman dalam pengelolaana sanggar kespro. (red)

Dr. Sundari : Pendidikan Kesehatan Reproduksi Penting Bagi Remaja

Dr. Sundari di depan para kader kesehatan peserta pertemuan dan FGD lintas komunitas

Dr. Sundari, Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten dalam pertemuan dan diskusi lintas komunitas kader kesehatan yang dihelat oleh SPEK-HAM dan IPAS di Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terintegrasi (PEKERTi), Kamis (25/4) mengatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki masalah panjang dan yang mnejadi primadonanya adalahterkait usia produktif di Indonesia Emas 2030. Angka ini luar biasa dan di Kabupaten Klaten untuk pencegahan kematian ibu dan bayi telah mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini.

Saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten sedang menggarap secara serius remaja dengan melakukan komunikasi di sekolah dengan pemberian tablet tambah darah. Tak hanya itu, menurutnya, remaja harus diberi pendidikan kesehatan reproduksi sepenuhnya, tidak setengah-setengah. “Pengetahuan kesehatan reproduksi penting sekali dan harus dijelaskan dengan sejelas-jelasnya,”terang dr. Sundari. Tantangan untuk mencerdaskan itu banyak dilakukan oleh dinas kesehatan.

Terkait kasus-kasus yang menyangkut pernikahan dini/anak, menurut dr. Sundari menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat mulai dilakukan dan tidak tergantung hanya pada petugas kesehatan saja. “Saat ini sudah tidak relevan lagi melakukan Fogging di masyakarat. Terkait anggaran dana desa, misalnya, bisakah untuk dialokasikan pada pengelolaan khusus seperti untuk gizi buruk? Kami punya data dari Scan Pasific karena pengelolaan-pengelolaan bagi bayi gizi buruk ini penting dan jika diberi gizi pun , akan menolong,”terang dr. Sundari.

Beberapa program prioritas terkait kematian balita di Jawa Tengah yang angkanya cenderung menurun, dan juga terkait penyakit ISPA yang cenderung menurun, adalah tentang kematian ibu. Beberapa kasus terjadi misalnya aborsi yang tidak aman, pertolongan persalinan tidak oleh petugas kesehatan tidak terlatih, dan penyebab tidak langsung seperti Anemia. Penyakit caingan dan kegiatan gizi juga menjadi program priorotas dengan penyebab di luar jangkauan kesehatan terkait infrastruktur energi, transportasi, air bersih dan budaya.

“JIka ada kasus aborsi kita harus bisa melacak,”ungkap dr. Sundari. Biasanya ini terjadi di Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Dan yang diperlukan dalam mendampingi ibu dengan kasus aborsi adalah dengan melakukan konseling, mengenalkan alat kontrasepsi, sehingga kehamilan berikutnya benar-benar sehat. (red)

Diskusi Jaringan Kader Kesehatan : Pentingnya Komunikasi Persuasif untuk Memotivasi

Rahayu Purwaningsih saat memberi materi pengetahuan tentang komunikasi persuasif

Beberapa hal perlu dikembangkan terkait keterampilan komunikasi dalam fasilitasi yang dilakukan oleh para kader kesehatan di masyarakat. Karena kemampuan antar kader berbeda-beda, dan butuh penambahan kapasitas untuk memenuhinya. “Mungkin ke depan akan ada pelatihan keterampilan fasilitasi untuk mengembangkan kemampuan yang telah Ibu-Ibu miliki,”ujar Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM dalam sesi paparan materi acara Diskusi Lintas Komunitas Kader Kesehatan Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah, lewat program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) oleh IPAS bekerja sama dengan SPEK-HAM, Kamis (25/4) di Rumah Makan SFA Andalas Klaten.  

Menurut Rahayu Purwaningsih, beberapa hal tentang kemampuan dari para kader perlu dikembangkan terkait penguasaan materi, penguasaan kepercayaan diri, kecukupan dan kecakapan dan pentingnya relaksasi saat memfasilitasi. Terkait penguasaan materi,menurutnya akan seturut dengan tingginya jam terbang, dengan sering-sering melakukan diskusi, mengadakan perjumpaan-perjumpaan. Salah seorang kader menuliskan bahwa sehubungan kemampuan menguasai materi, maka penambahan literatur bacaan menjadi suatu kebutuhan.

Ada beberapa hal penting selain mengedukasi dan mengkomunikasikan suatu hal kepada orang lain yakni kerja-kerja advokasi. “KIra-kira perlu nggak ngomong soal anggaran dana desa yang bisa dialokasikan? Lalu ketika berbicara kepada kepala dinas misalnya, atau ke DPRD. Jadi di sini kita juga perlu kerja-kerja advokasi,”imbuh Rahayu Purwaningsih.

Beberapa hal kemudian dipaparkan antara lain mengenai komunikasi persuasif. “Kontak mata bagus”, ini salah satu hal penting. Mengapa demikian? “Karena untuk menyatakan bahwa kita serius. Kemudian sentuhan kadang diperlukan, berdiri atau duduk dengan sejajar, jangan ada jarak. Ini bagaimana penyampaiannya baik oleh person/perorangan atau komunal,”terang Rahayu.

Tujuan komunikasi seperti ini, menurutnya adalah supaya pesan yang disampaikan dapat dimengerti. Dan untuk memahami orang lain. Tak hanya itu, komunikasi persuasif juga mendorong agar gagasan yang disampaikan dapat diterima oleh orang lain. “Selain itu komunikasi persuasif juga bisa menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Selain itu perlu diperhatikan prinsip-prinsipnya yakni pahami sudut pandang orang lain, cari tahu apa yang bisa memotivasi dan bentuk sikap,”terang Rahayu Purwaningsih.

Terkait upaya mempersuasif masyarakat dalam kegiatan penyadaran kesehatan reproduksi, Rahayu Purwaningsih memiliki tips-tips yang bisa dilakukan yakni memiliki pemikiran dan fokus pada membantu masyarakat khususnya perempuan dalam memahami hak kesehatan, sampaikan kepada masyarakat tentang apa yang diharapkan dari mereka, menunjukkan antusias masyarakat tentang apa yang diharapkan dari mereka, hindari memberi komen negatif, beritakan keberhasilan satu komunitas ke komunitas lainnya. (red).

Tangan Terampil Perempuan Purna Pekerja Migran Membuat Sabun Herbal Sereh Wangi

Ruminah sedang mengerjakan pembuatan sabun

Ruminah, salah seorang warga Kedungabad Desa Wlahar dengan antusias menceritakan pengalaman memproduksi sabun bersama teman-teman kelompoknya yang terdiri dari tujuh  orang (Selasa, 23/4). Pasca pelatihan yang diselenggarakan oleh Baperlitbangda Kabupaten Brebes bekerja sama dengan SPEK-HAM, mereka langsung praktik memproduksi sabun dengan teknologi sederhana yang tepat guna. 

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan SPEK-HAM bekerjasama dengan Kedutaan New Zealand dan Pemerintah Kabupaten Brebes dalam mengentaskan kemiskinan di Desa Wlahar Kecamatan Larangan. Di desa  ini dan sekitarnya akan dikembangkan sebagai pilot kawasan atsiri organik. Saat ini sudah ada pengembangan tanaman sereh wangi seluas 10 ha dan akan bertambah lagi 46 ha di tanah tangsi Desa Wlahar yang dikelola oleh para petani kecil. 

Sabun herbal sereh wangi menjadi salah satu produk hilir yang dikembangkan di kawasan tersebut untuk mendongkrak ekonomi perempuan khususnya perempuan produktif dan purna pekerja migran. Sehingga ke depan ekonomi desa lebih maju, warga tidak perlu jauh-jauh merantau ke luar negeri tanpa bekal ketrampilan dan pengetahuan. Para perempuan tersebut berpotensi riskan dan rentan terkena tindak pidana perdagangan orang. 

produksi sabun sereh wangi

“Sudah banyak yang membeli dan sabun sereh wangi ini cocok untuk mengobati penyakit gatal-gatal”, tambah Ruminah. Saat ini kelompok perempuan Kedungabad memproduksi sabun masih dalam skala kecil. Keterbatasan cetakan masih menjadi tantangan memproduksi secara rutin setiap hari. Selama ini pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut alias getok tular pada masyarakat sekitar, dan melalui media sosial. “Lumayan mbak, sudah banyak yang pesan, tapi kendalanya alat cetak masih terbatas,” imbuhnya

Melihat perkembangan yang ada, penting untuk dilakukan menjalin kerja sama dan sinergi dengan pemerintah daerah melalui Dinas Usaha Mikro, Koperasi dan Perdagangan serta Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian untuk meningkatkan produktivitas kelompok usaha sabun dalam pemasaran dan peningkatan kualitas produk. Sehingga hasil yang optimal dan maksimal bisa diusahakan. (nila)

Urgensi Didirikannya Sanggar Kespro

Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM saat memberikan sambutan atas peresmian Sanggar SPEKTA di Kelurahan Tonggalan Kecamatan Klaten Tengah

Menyikapi latar belakang tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan, baik pada masyarakat yang sudah menikah maupun belum, maka lahirlah Sanggar SPEKTA, salah satunya yang diresmikan di Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah beberapa waktu lalu atas kerja sama para kader kespro setempat dampingan SPEK-HAM dan IPAS dalam program PEKERTi.

SPEK-HAM sejak tahun 2013 telah melakukan kerja sama dan pendampingan di wilayah Klaten dengan isu HIV-AIDS, kemudian pasca gempa Yogya melakukan pendampingan juga di Desa Pacing, Terutama untuk program intervensi kespro saat ini di antaranya adalah Kecamatana Klaten Tengah, Juwiring, dan Bayat.

Beberapa fakta di lapangan ditemukan adanya angka yang cukup tinggi yakni 30 ribu untuk permohonan dispensasi pernikahan. Dari data koalisi perempuan Indonesia yang dikabulkan oleh Pengadilan Agama (PA) adalah di angka 2000. Berarti saat ini ada 30 ribu anak-anak di Jawa Tengah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan atau pernikahan anak. Hal ini menjadikan bahwa akses informasi menjadi hal yang memprihatinkan.

Sedangkan di Klaten sendiri, angka yang merujuk kepada remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan berjumlash 125 anak. Dari angka tersebut yang sampai kepada layanan kesehatan adalah 77 anak. Sisanya tidak terdeteksi. Demikian dikatakan Rahayu Purwaningsih, direktur SPEK-HAM saat memberikan sambutan. T

Tahun 2017 angka yang tercatat di kehamilan yang tidak diinginkan sebesar 295, 126 di antaranya sampai pada layanan kehamilan. “Kita tidak bisa menutup mata melhat hal seperti ini, bahkan baru-baru ini ada remaja yang melahirkan bayinya sendiri tanpa pertolongan dari pihak paramedis,”terang Rahayu.Ta

Kehadiran Sanggar Kespro SPEKTA di Tonggalan Kecamatan Klaten Tengah mendapat apresiasi yang baik dari dr. Sundari dari Dinas Kesehatan Klaten. Ia prihatin dengan persoalan yang kemudian menjadi persolan kesehatan pada dinas kesehatan dan mengakui bahwa pihaknya tidak bisa bekerja sendiri di masyarakat.

Manajer program, Antonius Danang Wijayanto saat peresmian sanggar yang dihadiri oleh camat dan lurah setempat memaparkan bahwa program PEKERTi dengan mendirikan sanggar kespro adalah upaya membangun komitmen bersama sehingga beberapa pihak juga akan bergerak, memberi sumbangan pengetahuan baik berupa buku maupun lainnya, seperti komitmen dari PLKB dan Dinas Sosial Klaten yang akan memberikan sejumlah bantuan buku untuk sanggar. Beberapa usaha dilakukan juga misalnya ketika menemukan kasus segera dilaporkan kepada kasi camat setempat, yang menurut Danang ini sebuah sinergitas yang bagus. (red)

Di Balik Tungku-Tungku Tua

“Peradaban Adat  dan Perempuan-Perempuan Desa  dalam Proses  Pembangunan Perdesaan”

Ketika tungku-tungku api menyala di dapur para perempuan

Kepulan asap dan aroma masakan kurasakan malam itu. Di tengah dinginnya udara pegunungan , aku melongkok di antara sumber aroma yang pasti akan dirindukan orang-orang saat rindu masa lalu akan kampung halaman. Suara dan tawa muncul dari pojok dapur yang berjelaga hitam. Tak ada kompor gas atau alat masak yang mewah, tapi alat-alat yang berjelaga menghitam. Dan aneka hasil bumi yang tergantung di antara papan-papan (pogo-red).

Aku semakin tertarik dengan aroma kepulan saat salah satu tungku saat dibuka dandangnya. Aroma singkong terbungkus daun pisang serta gula merah yang membuatku sesaat diam dan menikmati setiap hirupan napas dalam beberapa detik ïni lemet namanya,Mas, atau mungkin disebut utri,“ kata Bu Jemini sambil mengambilkanku satu lemet dari dalam dandang tuanya. Aku nikmati sambil meniup makanan yang masih panas dan menikmati perlahan

Di tahun 2019 ini, masih ada perempuan-perempuan muda yang tergabung dalam Kelompok Berkah  Mandiri berkisar umur 25 sampai 49 tahun. Rata-rata mereka menikah muda antara 14 sampai 16 tahun.  Saat ini anak-anak mereka berumur 17 sampai 21 tahun dan sudah ada yang menikah dan memberikan cucu. Pernah suatu saat aku ngobrol dengan anak Bu Jemini yang bernama Dwi Muryanti. Aku  bertanya apakah dia mau menikah muda. Dia hanya tersenyum, dan menggelengkan kepala tanda ragu dengan jawabannya sendiri. Mungkin dalam bayangannya, kok remaja tahun 2019 menikah muda? Tapi mendengar obrolan para ibu di dapur itu lantas terlecut pikiran berat menjalani hidup itu. Belum lagi persoalan anak, gotong royong, kegiatan sosial dan juga adat yang banyak mengeluarkan biaya yang besar.

Bu Jemini pernah bercerita harus meminjam uang di bank, bahkan pernah menjual hewan ternak sapinya untuk sekali kegiatan adat (sadranan). Padahal di Desa Cluntang ini setahun ada tiga kegiatan adat yang besar. Menurut Ibu Sri Lanjar (27), satu kali perayaan adat bisa menghabiskan tiga sampai lima juta. “Itu yang biasa dengan satu stan meja makan dan satu stan meja snack (biasanya satu stan meja berkisar 15 sampai 25 toples). Bisa di bayangkan,”ungkap Sri Lanjar.

Dari kedua perempuan tersebut, Jemini dan Sri Lanjar berkaitan dengan perayaan adat ternyata hingga hari ini  belum banyak berubah. Sama saja. Terbersit pertanyaan nakal saya ke Ibu Sri lanjar “boros ya, Mbak?“ Lagi-lagi ibu dengan dua anak ini hanya tersenyum, sangat multitafsir menurutku.

Menarik lagi penuturan Ibu Suminah,  ibu dari Ibu Jemini yang umurnya sekarang 76 tahun Sekarang sudah enak, Mas. Zaman saya perawan dulu kalau mau sadranan dan lebaran makanan buat sendiri, atau tukeran dengan tetangga seperti kue satu, brondong, bolu mprit dll. Jadi kita gotong royong membuat makanan bersama-sama dan di bagi-bagi.  Yang miskin ya bantu buat. Modal tenaga pulang minimal tiga toples terisi. Lha sekarang tinggal ke pasar, yang punya uang pulang bisa bawa puluhan makanan. Berarti adat ini dari 30 tahun lalu hampir sama. Hanya kemudahan-kemudahan yang berubah saat ini karena adanya fasilitas, tapi prinsipnya-prinsipnya sama. 

Kearifan lokal seperti kentalnya adat-istiadat ini, mereka yakini perlahan akan luntur atau kadarnya berkurang. Tanpa harus frontal diterjang, kiranya nanti terjadi pertentangan antara yang muda dan yang tua. Mereka membiarkan saja biar alam akan perlahan mengubah tanpa harus ada yang dikecewakan.  “Yang muda minimal melihat dan merasakan perubahan Desa Cluntang, bahwa mereka paham dengan pembangunan yang mulai terarah tiga tahun ini.  Mau tidak mau keterlibatan perempuan, baik dalam proses secara  langsung maupun tidak langsung. Peran perempuan dalam berbagai organisasi yang di bentuk desa seperti BUMDES Perempuan juga dilibatkan. Tetapi di sisi lain masih ada adat kebiasaan yang dirasakan oleh perempuan khususnya muda, cukup terbebani. Khususnya bila ada perempuan yang menikah dengan laki-laki dari Desa Cluntang. Proses adaptasi panjang dengan berbagai benturan prinsip yang terkadang bisa menjadikan perempuan rentan dengan konflik dengan pasanganya, meski belum ada penelitian tentang itu.

Semua terasa ringan, saat perempuan punya tempat untuk berdiskusi, membaca situasi tentang perubahan. Ketika tungku-tungku dapur sederhana masih menyala dengan kayu-kayu bakarnya, dengan jelaga yang menghitam, menjadi surga untuk ngobrol melepas beban hidup sambil icip- icip aneka makanan sehingga terasa ringan beban apa pun.  Saat berada di dapur tradisional yang selalu menjadi tempat favorit perempuan, masih mencoba menjadi perempuan yang beradab dengan alam dan adat istiadat. (noko alee)