Search for:

Diskusi Multistakeholder Kecamatan Juwiring Terkait HKSR : Ada 400 KTD Remaja di Kabupaten Klaten

Ibu Siti Katrimah dari Dinkes menjadi narasumber diskusi

Diskusi multistakeholder terkait tentang Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 dengan tema Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) dihelat oleh SPEK-HAM bekerja sama dengan Ipas Indonesia di Aula Kecamatan Juwiring, Jumat (25/7). Diskusi menghadirkan Muspika setempat, Kapolsek, Danramil dan Camat serta Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), dinas kesehatan, dinas sosial, Kader Kespro, 19 kepala desa se-Kecamatan Juwiring, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).

Antonius Danang Wijayanto, manajer program dalam sambutannya mengatakan Inisiasi Perubahan Akses menuju Sehat (Ipas) punya mitra kerja di Klaten. Nama programnya adalah peningkatan kesehatan reproduksi terintegrasi atau Pekerti. SPEK-HAM dan Ipas mempunyai tujuan yang sama dilakukan di tiga kecamatan Bayat, Klaten Tengah dan Juwiring yakni penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). “Nanti kita akan melihat bersama, dan apa sih yang kemudian akan kita berikan? 25 kader kespro kita berikan kapasitas, dan ada beberapa yang kita transfer ke warga desa melalui safari Kespro. Kita ngobrol banyak tentang asuhan pascakeguguran,” terang Danang.  

Siti Katrimah, narasumber dari dinas kesehatan menyatakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Klaten di antaranya yakni upaya promotif dan preventif, meski angka kematian ibu dan bayi masih tinggi. Cakupan ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) padatahun 2018 ada 17,67% kasus dan ini salah satu penyumbang. Kompleksitas persoalan KEK, kalau ibunya kurang gizi, bagaimana nanti bayinya? Dibutuhkan peran suami, bapak dan jangan mengira jika perempuan tidak bekerja itu tidak melakukan apa-apa.

Siti Katrimah mengungkapkan lagi tentang kondisi remaja di Klaten, angka kehamilan remaja ada 400 kasus sampai tahun 2019. Di Kecamatan Juwiring sendiri ditemukan 22 kasus, dan sampai bulan Juni tahun ini ada 143 perkawinan anak di Kabupaten Klaten, 4 di antaranya dari Kecamatan Juwiring.

Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM yang jadi salah satu narasumber juga membuka data tentang angka aborsi di Kabupaten Klaten yang cukup tinggi, baik spontan maupun provokatif. Dalam catatan ada 471 kasus di tahun 2016, 508 kasus di tahun 2017 dengan kasus pijat dukun atau minum obat. Dalam catatannya, ada penangkapan bidan senior terkait aborsi yang dilakukan di sebuah hotel. Korban membayar sangat banyak kepada pihak agen, dan bidan senior tersebut hanya menerima 1 juta, dan kemudian ia dipecat dari pekerjaannya.

Para peserta diskusi

Di tahun 2018, angkanya tidak berubah yakni 442 kasus aborsi. Aborsi kuretasi tajam akan mengakibatkan infeksi, mestinya tidak dengan kuretasi tajam. Beberapa layanan sudah melakukan kuretasi aman. Di Kabupaten Klaten tahun 2016, ada remaja hamil 136 kasus, yang sampai melahirkan 77 orang. Tahun 2017, hampir 300 remaja hamil yang melahirkan 209 . 2018 ada 158 yang sampai persalinan 125. Lalu sisanya dimana? Ada cacatan 400 remaja mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) siapa yang salah? Kita semua. Apakah desa sudah menganggarkan Dana Desa untuk materi kespro? Sekolah sudah ada pendidikan? Apakah kita mengajarkan nilai nilai selain akademis, dll. Apakah kelompok remaja sudah melakukan sosialisasi terkait kespro?Anak yang melahirkan di usia remaja riskan kanker leher rahim, atau kanker alat kelamin dan berkontribusi AKI, dan juga terjadi bagi perempuan yang kalau di-track di kehamilan kedua ada di usia di bawah 25 tahun.

Pada diskusi yang yang mempertanyakan peran pemerintah desa tersebut langsung dijawab oleh Kades Serenan bahwa pihaknya telah melakukan RPJMD dan menganggarkan terkait masalah kespro ada di dalam anggaran. Kedes Kenaipan juga menyatakan hal yang sama bahwa ada anggaran terkait kespro yang diberikan lewat posyandu. Lain lagi pendapat Lurah Sawahan bahwa pada tahun 2020 bahwa pihaknya mengalami kesulitan tatkala hendak melakukan sosialisasi, apalagi menurutnya tidak semua bidan desa berkualitas terkait persoalan menangani kelahiran. Karena pernah ada kasus, bidan desa menyuruh untuk membawa pasien ke puskesmas, lalu dari puskesmas dirujuk ke rumah sakit. “Alasan bidan desa karena ketiadaan tempat tidur khusus. Nanti rencananya tahun 2020 kami menganggarkan tempat tidur khusus ibu melahirkan,”pungkasnya. (red)

Menggerakkan Perempuan untuk Memilah Sampah Rumah Tangga

Pertemuan diisi dengan pemutaran film

Sabtu 20 Juli 2019, SPEK-HAM bekerjasama dengan LPMK Kelurahan Tipes Surakarta menyelenggarakan sosialiasi pembentukan bank sampah di tingkat PKK RT. Kegiatan dilaksanakan di pertemuan PKK RT 02 dan RT 03 RW 05, dihadiri oleh kurang lebih 25 orang peserta.

Selain dihadiri oleh SPEK-HAM, kegiatan tersebut juga dikunjungi oleh LPMK Kelurahan Tipes, Beti Lestari S.Pd dan  Anis Purwanti. Keduanya selain anggota LPMK juga sebagai guru Pos PAUD Podang Tipes. Beti Lestari menyampaikan bahwa ada 5 bank sampah yang sudah terbentuk dan memiliki SK, bahkan sudah dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) namun hanya dua yang pernah berjalan. Namun tidak ada perkembangan, saat ini mati suri, tidak ada aktivitas. 

Sambil memutarkan film pemilahan sampah, Soepadmin dari SPEK-HAM menjelaskan tentang pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga. Mengingat kondisi Putri Cempo yang semakin banyak gunungan sampah, sehingga kesadaran untuk mengurangi sampah harus dimulai dari rumah tangga. Di setiap rumah bisa menyediakan kantong kresek bekas untuk memilah kertas, botol plastik, dan plastik lainnya.

Nila Puspaningrum  selaku manajer  Divisi Penghidupan Berkelanjutan SPEK-HAM menyampaikan tentang kemanfaatan bank sampah yang sudah dirasakan oleh kelompok di wilayah lain. Misalnya di Kelurahan Kemlayan ada yang hasil penjualan sampah digunakan untuk koperasi simpan pinjam, di Kelurahan Sewu ada yang ditukar dengan sembako/pulsa listrik, serta di Kestalan digunakan untuk kegiatan sosial seperti baksos di panti jompo, panti asuhan dan tetangga yang membutuhkan.  Perempuan bisa menjadi penggerak dalam kegiatan bank sampah, karena sehari-hari dekat dengan aktivitas memilah sampah rumah tangga. Hasil dari bank sampah juga sudah banyak yang dimanfaatkan oleh perempuan dalam menambah pendapatan.

Antusias peserta sosialisasi ditunjukkan dengan menyanyi Lagu Ayo Memilah Sampah bersama-sama diiringi tepuk tangan meriah. Beti dan ibu-ibu PKK akhirnya sepakat akan menggerakan penimbangan sampah kembali. Bahkan sudah di rancana program bank sampah yang terintegrasi dengan PAUD. Pada hari Jumat tanggal 25 Juli dan tanggal 28 Juli 2019 akan dilakukan pengumpulan dan penimbangan sampah an organik Pos PAUD Podang RW 3 Kelurahan Tipes. (Pakdhe/Nila)

Pertemuan Stakeholder Kabupaten Brebes Catatkan Beberapa Komitmen

Pertemuan multistakeholder Kabupaten Brebes

Menindaklanjuti pertemuan pada Mei lalu yang berisi agenda rapat koordinasi untuk pelaksanan program tahun 2020, maka di bulan Juli ini dilakukan lagi pertemuan multistakeholder pada Kamis (18/7) bertempat di ruang rapat sekda Kabupaten Brebes.  Diskusi diikuti oleh beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan berbagai temuan di antaranya adalah angka kemiskinan menurun 17,17% tetapi di semua wilayah juga mengalami penurunan. Indeks kesehatan juga menurun tetapi ini juga di terjadi semua wilayah.

Pertemuan bertujuan untuk menegaskan lagi komitmen pemerintah kabupaten dalam  program penurunan angka kemiskinan dengan melibatkan warga secara aktif. Beberapa upaya pembangunan infrastruktur dilakukan oleh pemerintah serta pemberdayaan masyarakat desa dengan pendampingan dari SPEK-HAM.

Beberapa komitmen yang dijalani oleh beberapa OPD di antara lain, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dalam tahun anggaran 2019-2020 membangun jembatan Karang Sari, peningkatan jalan Kedungabad di rencana kerja 2020, serta peningkatan jalan Desa Wlahar menuju Desa Tegal dengan anggaran tahun 2019. Dinas Perhubungan membangun penerangan jalan di lima titik Desa Wlahar dan Pamulihan.

Dinas Perwaskim  dengan jambanisasi  100 unit, di Desa Pamulihan yang sudah dimasukkan dalam tahun anggaran 2020. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Wlahar 3 unit dari dana APBD  dan  50 unit dari APBN sebesar @17,5 jt,   Desa Pamulihan 3 unit dari APBD dan 50 unit dari APBN, Desa Cenang 3 unit dari dana APBD kabupaten.

Masih terkait dengan Dinas Perwaskim saat ini tengah mengolah lima kelurahan, pada 2018 sanitasi pembuatan jamban di Desa Pamulihan 106 unit dan sudah selesai 100%. Sedangkan tahun 2019, Desa Pamulihan mengadakan pensertifikatan tanah sejumlah 1000 bidang tanah, Desa Wlahar 600 bidang tanah.

Dinas Kesehatan dalam laporannya memaparkan terkait soal stanting belum melihat secara khusus wilayah per dusun dan masih melihat pendanaan secara keseluruhan. Dinas kesehatan hanya menyampaikan bahwa ada dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang bisa diakses untuk program kesehatan ibu dan anak.

Bantuan kendaraan roda tiga dan pompa air diberikan oleh dinas pertanian, dan pernah dipinjamkan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT). Pompa air terdekat ada di Desa Mokja, sedangkan di Desa Wlahar ada empat traktor yang dipinjam oleh masyarakat. Dinas pertanian, menurut penuturan Joko, sudah melakukan kerja sama dengan SPEK-HAM untuk penambahan kawasan sereh wangi lewat e-proposal yang disediakan oleh dinas.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sudah melakukan kerjasama dengan SPEK-HAM untuk penambahan kawasan tanaman sereh wangi lewat e-proposal yang ada di dinas. Kemudian disetujui pada tahun 2017 ada penambahan kawasan  Watugeni dan Maju tani sebagai pengembangan lewat e-proposal bersama dinas. Tahun 2018  dana sudah turun, karena  belum siapnya lahan kemudian usulan dicoret. Di tahun 2020 akan ada lagi peluang e-proposal untuk mengusulkan  sarana pasca panen yaitu rumah penyulingan. Untuk  lokasi harus tepat seperti yang disampaikan dalam proposal. Kemudian untuk pengolahan produk hilir minyak atsiri bisa mengajukan e-proposal dengan menyampaikan jumlah kebutuhan pengolahan produk hilir.

Dinas Peternakan rencananya hendak memberikan bantuan ternak kambing,  karena disyaratkan by name by address, tidak ada kesesuaian maka belum bisa dilakukan karena  dikhawatirkan tidak tepat sasaran. Sedang Dinas Koperasi telah melakukan pelatihan untuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tentang manajemen usaha, studi banding ke Yogya untuk peningkatan UMKM pengembangan minyak atsiri. Saat ini dinas masih membuka peluang untuk kelompok tani jika butuh pelatihan bisa mengajukan proposal dengan syarat kelompok yang hendak mengakses sudah jelas keberadaannya.

Peluang datang dari Dinas Penanaman Modal dan PTSP yang masih berkomitmen bahwa kalau ada proposal pengajuan dari bawah, akan diakomodasi namun sampai saat sekarang  proposal belum ada yang masuk sehingga tidak bisa dianggarkan.

Pada kesempatan diskusi, Nila Puspaningrum dari SPEK-HAM menceritakan tentang program pemberdayaan ekonomi yang dilakukan di Kabupaten Boyolali yakni di Desa Cluntang dan Musuk tentang pengolahan mawar serta pendampingan BUMDES. Sedangkan Endang Listiyani menghimbau kepada stakeholder terkait, karena kebanyakan program yang diminta oleh masyarakat adalah pembangunan jalan dan jembatan, maka haraoannya pemerintah bisa terjun langsung melihat situasi dan kondisi real di masyarakat dan wilayah yang dibangun.

Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM memberikan masukan pada pertemuan tersebut dengan menyampaikan beberapa pandangan terkait lembaga donor yang selama ini mendampingi lembaganya dan berharap tidak ada kecurigaan dari pemerintah. “Jangan ada pikiran buruk bahwa LSM (NGO) hanya merecoki pemerintah. Kami berkomitmen bisa bekerja sama dalam pembangunan,”pungkasnya. (nila/red)

Audiensi SPEK-HAM bersama Masyarakat Desa Pamulihan-Wlahar kepada Bupati Brebes

berfoto sebelum melakukan audiensi

SPEK-HAM bersama masyarakat Desa Pamulihan dan Wlahar melakukan audiensi kepada Bupati Brebes, Jumat (19/7). Namun karena bupati sedang menghadiri undangan dari Kemendagri maka rombongan diterima oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Brebes dan pemangku kebijakan lainnya seperti Baperlitbangda, Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Endang Listiani, pengurus SPEK-HAM dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa bagi masyarakat Desa Pamulihan dan Wlahar, sowan kepada bupati adalah kebanggaan.

SPEK-HAM  dalam mandatnya memperjuangkan pemenuhan kebutuhan dan hak dasar masyarakat, salah satunya melakukan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan yang diusung ada tiga isu yakni layanan hukum gratis dalam penanganan kasus kekerasan thd perempuan, kesehatan reproduksi dan pemberdayaan ekonomi. “Di Brebes kami masuk melalui pintu pemberdayaan ekonomi, potensinya adalah pertanian dan peternakan terpadu. Kami bekerja di Brebes sejak 2014, melihat potensi lahan luas namun belum tergarap,” terang Endang Listiani

SPEK-HAM pernah bekerja sama dengan kedutaan Australia pada tahun 2016 dan sekarang bekerjasama dengan kedutaan New Zealand mengupayakan sumberdaya untuk mengembangkan potensi di Brebes. Melihat potensi atisiri dapat dikembangkan di Brebes, maka pada tahun 2019 SPEK-HAM mengembangkan di kawasan 46 ha dan akan menjadi kawasan atsiri organik. Program ini bertujuan untuk memeratakan pembangunan di desa terpencil. Lokus wilayah di tiga dusun yaitu Kalibanteng, Kedungabad, Kedungringin yang merupakan wilayah terpencil. 

“Saat ini, kami berupaya mempertemuan masyarakat secara langsung dengan bupati. Pada pertemuan setiap 3 bulan dengan dinas-dinas terkait kami sudah mensinergikan program-program di tiga desa sebagai upaya penanggulangan kemiskinan,”imbuh Endang Listiani.

Beberapa program diajukan di 2019 dan 2020. Sebagai upaya antisipasi, melalui audiensi pihaknya berharap supaya program yang sudah direncanakan tersebut dapat direalisasikan. “Kawasan atsiri ini juga ke depan diharapkan dapat menjadi eduwisata, sudah ada budidaya sereh wangi, penyulingan dan pembuatan produk hilir sabun dan karbol,”papar Endang Listiani.

Rasono, warga Desa Wlahar yang turut dalam audiensi kepada bupati di rumah dinas bupati menyatakan kegembiraannya selama ini didampingi oleh SPEK-HAM dan merasakan hasil dari budidaya sereh wangi dengan pembuatan sabun sereh wangi. Namun karena pertanian yang menjadi penyangga perekonomian dirinya mengemukakan jika panen masih menggunakan tenaga pikul dengan jarak 5 km. “Dengan adanya kondisi tersebut kamu berharap bantuan kebijakan pemerintah kabupaten untuk pembangunan jalan dan jembatan sebab jika menggunakan tenaga manusia biayanya terlalu besar. Kami juga mengharakan dibangunnya jalan poros lingkar Wlahar-Pamulihan menuju agropolitan, hanya bisa dilakukan pada musim kemarau untuk mengangkut material,”jelas Rasono.  

Jawaban didapat dari Dinas Pekerjaan Umum bahwa ada beberapa kegiatan yang sudah dilakukan di Wlahar yakni pemabngunan jembatan di Desa Karangsari berbiaya 2 milyar, jembatan Dukuh Wlahar berbiaya 2,4 milyar serta jembatan di Desa Kedungabad, semua dilakukan di tahun anggaran 2018 dan pihaknya terus melalukan pembangunan jembatan. “Untuk tahun 2020, kami akan membangun atau menyempurnakan beberapa jembatan yg ada,”terangnya. 

SPEK-HAM dan masyarakat desa pamulihan dan wlahar saat audiensi

Ia menambahkan bahwa bidang Ciptakarya sudah melaksanakan pengaspalan jalan Desa Wlahar- Buntrak ppada 2018, peningkatan jalan Balai Desa Wlahar 2019, 2020 peningkatan jalan Kedungabad- Wlahar, peningkatan jaringan perpipaan pada rencana kerja 2020. Pada 2018 juga ada kegiatan Pamsimas. ”Jalan lingkar poros dari wlahar pamulihan tembus ke Agropolitan akan kami survey terlebih dahulu,” pungkasnya.

Dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menyampaikan bahwa beberapa kegiatan sudah dilakukan di wilayah tiga desa tersebut. Kegiatan lebih khusus pada usaha untuk mendukung kegiatan pertanian di sana. Di Desa Pamulihan saat ini ada 16 kelompok tani. Aset atau bantuan yg sudah ada yakni beberapa alat pertanian, dan dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan juga dapat diakses di luar kelompok. “Tahun 2019 belum ada kegiatan fisik di dua wilayah desa tersebut namun tahun 2020 jalan usaha tani akan coba kami usulkan,namun sebelumnya akan kami lakukan verifikasi/survey terlebih dahulu. Kita akan rencanakan untuk jalan usaha tani dengan panjang 500 meter,”terangnya.

Rasono kembali mengimbuhkan bahwa jika tahun 2020 disebutkan bahwa ada pembangunan jalan usaha tani, yang lebih utama adalah pembangunan jembatan. “Ini bagi kami penting sebab kalau jalannya rusak asal ada jembatan masih bisa dilalui,”pungkasnya. (nila/red) 

Pelatihan Produk Toiletries Sereh Wangi Bagi Komunitas Perempuan di Kabupaten Brebes

Pelatihan produksi toiletries natural sereh wangi

Pada Sabtu (19/7), Komunitas Sereh Wangi Kabupaten Brebes menyelenggarakan pelatihan produk toiletries bersama SPEK-HAM. Sebelumnya SPEK-HAM juga telah mendampingi dalam pelatihan sabun sereh wangi. Beberapa pengalaman didapat seperti diungkapkan oleh Ibu Tini dari Desa Karangsari bahwa usai pelatihan produk tidak bisa langsung jadi melainkan masih terkendala sabun yang terlalu pekat/kental dan bingung cara pengemasannya. Pengalaman serupa datang dari Ruminah asal Desa Kedungabad, namun ujicoba sabunnya sulit mengental (terlalu encer) tetapi setelah produksi tiga kali, sudah meraup angka penjualan sekitar 1,5 juta.

Lain lagi pengalaman Puji dari Desa Karangsari, sudah ribuan produk sabun dihasilkan dan mengeruk keuntungan sekitar Rp. 3.000.000. Uang tersebut diputar lagi untuk membeli alat dan bahan-bahan. Ia menambahkan bahwa sabun sereh banyak diminati masyarakat karena promosi selalu gencar lewat medsos yakni di FB dan semua anggota kelompok ikut mempromosikan. Hal senada diungkapkan oleh Warni dari Desa Kedungabad bahwa dengan adanya pelatihan  sabun sereh wangi menyenangkan dan dapat pengalaman banyak dan berharap kelompoknya bisa mandiri. Saat ini usahanya kelompok ini telah menghasilkan produk sekitar 1.500 pcs.

Dari pihak Baperlitbangda Kabupaten Brebes, pendapat tercetus dari Abu, dengan berucap syukur karena melalui upaya pelatihan dalam rangka pemberdayaan ini diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan. Menurutnya pelatihan produk hilir olahan sereh bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan harapan pemerintah kabupaten, kalaupun sudah tidak ada pendampingan dari SPEK-HAM usaha masyarakat tetap bisa jalan sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. “Baperlitbangda akan melakukan penguatan lewat pelatihan maupun penguatan manajemen. Tanggal 28 nanti akan ada pameran produk sereh di Jakarta yang diangkat produk olahan dari sereh wangi. Ke depan akan dikembangkangkan potensi ekonomi lewat program klaster atsiri karena sudah melibatkan beberapa desa maupun kecamatan,”ungkap Abu.

Pelatihan Toiletries, Karbol dari Sereh Wangi

Program pelatihan ini mendapat dukungan dari Pemkab Brebes dan memiliki muatan motivasi untuk pengembangan produksi yang diharapkan bisa menyebar ke seluruh wilayah dan lini seperti bisa dipasarkan di hotel, rumah sakit dan lain sebagainya. Demikian diungkapkan oleh Nila Puspaningrum dari SPEK-HAM.  Terkait upaya promosi, Nila menyampaikan bahwa bisa dilakukan melalui medsos seperti yang selama ini telah dilakukan dan jangan lupa untuk mengurus ijin usaha. Nila menekankan pula untuk para peserta memperhatikan pencatatan bahan dan cara pembuatan.

Bambang, yang memfasilitasi pelatihan pembuatan toiletries menyatakan bahwa di awal akan membentuk tujuh kelompok, dan jika mau memproduksi dengan serius maka harus tahu pasar. Produk harus ramah lingkungan, termasuk packingnya. Menurutnya, banyak produksi dibuat dari sereh wangi karena alami, misalnya produk pengusir nyamuk. Selain itu. Limbah produk sereh wangi bisa digunakan untuk pakan ternak, dengan mencampurnya dengan tempe lalu dikeringkan.

Terkait pembuatan toiletries karbol, berasal dari asam karbonal. Karbol bermanfaat sekali untuk rumah sakit, untuk sterilisasi. Dibanding pembersih lantai sintetis, karbol lebih bermanfaat karena mengandung banyak mikroba. Sedangkan fungsi karbol adalah untuk membersihkan lantai dan membunuh mikroba, serta membersihkan kamar mandi agar tidak licin serta cocok untuk rumah tangga dan rumah sakit.

Suasana pelatihan pembuatan toiletries natural, karbol sereh wangi

Usai pelatihan pembuatan toiletries, peserta dari Desa Karangsari langsung mempraktikkan bikin karbol sereh wangi pada tanggal 20 Juli dan akan dimulai dengan kemasan saset. Sedangkan peserta dari Desa Kedungringin dan Kedungabad melakukan praktik dan rencana mau dijual kepada anggotanya dulu pada akhir Juli. Sedangkan utusan dari Desa Larangan hendak mengumpulkan modal dari iuran anggota untuk membeli bahan dan alat selanjutnya memasarkan produk lewat online dan offline serta kebutuhan menambah nggota kelompok serta membuat wadah sekretariatan.

Pertemuan dengan pelatihan tersebut kemudian menyanggupi kesepakatan bahwa perwakilan Desa Karangsari, Larangan, dan Kedungabad produk toiletries karbolnya pada tanggal 25 Juli siap untuk dipamerkan pada acara yang dihelat Baperlitbangda, masing-masing memproduksi 10 botol bersama produk sabun sereh wangi. (nila/red)

Temuan Kader Kespro Proyek Ipas-SPEK-HAM : Kasus Orang Dengan Gangguan Kejiwaan dan Kehamilan Risiko Tinggi

Pertemuan kader kespro se-Kecamatan Bayat di Pendapa Kecamatan pada Selasa (16/7) dalam rangka konsolidasi dan pembentukan pengurus mengemuka dengan berbagai temuan. Rapat konsolidasi yang sedianya bertujuan untuk memberikan materi pengetahuan tentang pendampingan kasus kemudian diisi dengan pengetahuan tentang skizofrenia atau kesehatan mental. Astuti, narasumber dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya menyatakan tentang apa itu skizofrenia atau penyakit gangguan kejiwaan serta ciri-ciri dan deteksi dini gangguan kejiwaan.

Stigma yang melekat kepada Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) memperparah sehingga rentan menjadi korban kekerasan. Beberapa kader kespro mengemukakan masalah terkait pendampingan terhadap ODGJ yang ada di desa mengalami kesulitan sebab belum adanya penerimaan dari keluarga. “Juga ada kasus ODGJ yang hanya tinggal bersama ibunya yang sakit stroke sehingga tidak ada yang mengantar tatkala harus kontrol ke RSJ,” tutur salah seorang kader.

Kesadaran ODGJ terkait perlunya pengobatan yang rutin juga terkendala pemahaman yang salah, dan bahkan sikap “denial” penolakan atas penyakit tersebut datang dari ODG sendiri. “Ya tergantung bagaimana ibu-ibu ini membahasakan obat bisa dengan ‘vitamin cantik’ atau ‘obat ganteng’, seperti pengalaman yang tadi diceritakan salah satu kader, semua bahasa bisa digunakan,”terang narasumber. Menurutnya, jika tilik diri ODGJ sudah baik karena berobat teratur, maka akan lebih mudah untuk dilakukan sosialisasi terkait kespro misalnya, atau pemberdayaan lain dengan berkomunitas.

Kehamilan Risiko Tinggi Ditemukan di Kecamatan Juwiring

Rapat dan konsolidasi juga diselenggarakan di Kelurahan Misren (22/7) Kecamatan Juwiring, ada temuan yakni perempuan yang dinyatakan risiko tinggi dalam kehamilan mempunyai penyakit kanker payudara dan menginjak usia 40 tahun, menginginkan hamil kembali. Dan memang kemudian hamil dan saat ini usia kehamilan lima bulan dan dalam kondisi sakit kanker payudara. Dan pengobatan masih berlangsung sampai saat sekarang. Saat ini kondisi kehamilannya baik-baik saja.

Para kader kespro se-Kecamatan Juwiring pada saat rapat konsolidasi

Ada lagi temuan kasus di Kelurahan Misren, anak di bawah dua puluh tahun. Di usia 16 tahun, kemudian setelah melahirkan anaknya dirawat oleh orang lain, kemudian kehamilan kedua anaknya dirawat pula oleh kerabatnya. Dan kehamilan ketiga ini anaknya dikasihkan ke orang, dengan bilang ke masyarakat jika diadopsi.

Terkait hukum legal dan adat, Elizabeth Yulianti, dari program Ipas sekaligus lawyer SPEK-HAM kemudian menjelaskan tentang hal tersebut bahwa adopsi ada hukumnya. Terkait peran serta masyarakat, pun bidan desa sudah menyarankan dan menasihati yang bersangkutan agar tidak mengalami kehamilan lagi sehingga mengurangi risiko kematian ibu. (red)

Friday Morning : Berbagi Pengalaman untuk Mentoring Fasilitator

Atik Tri wahyuni sedang berbagi pengalaman di depan staf SPEK-HAM di Friday Morning

Atik Tri Wahyuni dan Novka, relawan dan relawan magang di Yayasan SPEK-HAM yang beberapa waktu mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan selama seminggu di Jakarta berbagi pengalaman mereka di Friday Morning, Jumat (12/7). Novka, relawan magang merupakan paralegal yang menyampaikan materi pelatihan berupa pengetahuan Hak Asasi Manusia (HAM) dasar yang mencakup tentang hak-hak warga negara terlepas dari ras, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama, kepercayaan, politik, status ekonomi, orientasi seksual, ekspresi gender dan sebagainya. Selain itu, Novka memaparkan tentang Hak Ekosob Sipol. Atik dan Novka akan menularkan pengetahuan yang dipunyai mereka untuk kelompok kunci dalam minggu ini.

Setelah melihat praktik presentasi dan fasilitasi dari dua relawan, lalu beberapa masukan diberikan kepada mereka, seperti yang diungkapkan oleh Rahayu Purwaningsih, direktur SPEK-HAM dengan memberikan saran bagaimana cara melakukan presentasi yang dapat menjelaskan lebih detail, dan presentasi dapat berlangsung lebih dari 30 menit. Rahayu Purwaningsih menekankan betapa pentingnya memberi contoh dalam setiap kalimat yang berdefinisi. Ditambah lagi, perlu menyampaikan kata kunci dan ada baiknya memasukkan gambar atau animasi dalam presentasi supaya lebih atraktif.

Nila Puspaningrum, salah seorang manajer program memberikan masukan tentang pentingnya menggunakan meta-plan, sebab dengan adanya meta-plan maka peserta masih bisa mengingat-ingat materi yang sudah dijelaskan sebelumnya ketika slide sudah berubah. Komunikasi yang efektif terhadap peserta dalam bentuk sharing pengalaman dengan memberi pertanyaan balik, menjadi hal yang juga penting diperhatikan. Perlu pencatatan pendapat dari peserta supaya mereka merasa dihargai dan didengarkan.

“Ketika menyampaikan perlu adanya tahapan fasilitasi dimana presentator harus belajar tentang tahapan bagaimana membuat presentasi yang baik karena dapat memberikan kesan yang baik terhadap audiens dan menarik audiens. Selain itu memposisikan di posisi yang sama, presentator perlu untuk tidak bersikap menggurui. Presentator harus menciptakan suasana seolah semua pihak sama-sama belajar tidak ada murid dan guru,”Fajar, salah seorang staf memberikan pendapatnya.

suasana Friday Morning, berbagi pengalaman dan pengetahuan

Terakhir adalah masukan dari Antonius Danang Wijayanto, manajer program Ipas bahwa  presentasi dapat dikemas berupa permainan yang seru supaya audiens atau peserta tetap fokus dan adanya komunikasi timbal balik terhadap peserta satu dengan yang lainnya. Dari permainan tersebut, kemudian presentator dapat mengunci poin dari permainan yang dilakukan, agar peserta menjadi hikmat dari informasi atau pengetahuan yang telah didapat. (pandu-mgg)

Tamu dari Belgia Hadiri Pertemuan Rutin Bank Sampah “Sumber Rejeki”

pertemuan rutin demplot

Pada Kamis, 11 Juli 2019, Bank Sampah “Sumber Rejeki” Kelurahan Kemlayan menyelenggarakan pertemuan rutin dua bulanan oleh anggota-anggota perwakilan demplot dari berbagai komunitas.  Tidak hanya itu, pertemuan tersebut juga didatangi oleh perwakilan kelurahan setempat. Umumnya, pertemuan rutin tersebut melatih dan memberikan edukasi terhadap anggotanya tentang penanaman tumbuhan pertanian.

Dalam pertemuan ini, topik yang dibahas adalah cara membuat pupuk kompos berbentuk cair dari limbah sayur-sayuran. Pelatihan tersebut dilakukan dikarenakan masih banyak limbah sayuran yang hanya dibuang dan dibiarkan busuk begitu saja, padahal sebenarnya masih bisa dipergunakan untuk digunakan menjadi pupuk kompos. Limbah sayur pun mudah untuk didapatkan, dimulai dari limbah sayur rumah tangga dan warung makan atau restoran setempat. Jadi pembuatan pupuk kompos ini termasuk mudah karena adanya resources yang melimpah.

Pertemuan tersebut didatangi oleh dua tamu dari Belgia. Dua orang berasal dari Belgia salah satunya yaitu Charlote, yang bekerja di Rikolto International. Rikolto merupakan sebuah organisasi yang memfokuskan pembangunan terhadap petani-petani daerah dan meningkatkan persediaan pangan untuk masa depan. Sedangkan satu lagi, Marica, merupakan jurnalis di Belgia. Mereka berdua bekerja sama dan sedang di Indonesia untuk pergi ke desa-desa setempat dalam rangka membuat sebuah penelitian terkait petani-petani setempat.

Berbagai pengalaman dan tanya jawab juga terjadi pertemuan ini. Di antaranya adalah Charlote dan Marica menanyakan bagaimana warga sekitar merawat dan mengembangkan tanaman-tanaman miliknya sendiri. Selain itu mereka juga bertanya  apakah ada perubahan pola makan di daerah sekitar, menjadi lebih sehat (menambahkan sayur menjadi makanan keseharian). Hal ini sebab banyak warga yang sudah menanam tanamannya di rumah. (pandu-mgg)