Search for:

Perempuan Merawat Kali

“Membangun kesadarkan warga Kelurahan Joyosuran untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya, serta mengajak para perempuan Joyosuran untuk melakukan pemilahan sampah, terutama sampah non organik yang mempunyai nilai jual, supaya bisa menambah penghasilan keluarga dan memberikan kesibukan positif bagi perempuan Joyosuran.”

SOLO – Minggu (25/01/2015). Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) beserta Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK HAM) dan stakeholder terkait menyelenggarakan suatu acara yang menjadi puncak perayaan peringatan ulang tahun Kelompok Perempuan Joyosuran yang ke-3 “3 Tahun Kelompok Perempuan Joyosuran, Belajar Bersama Masyarakat”.

Flash Mob Dance
Flash Mob Dance

Acara tersebut dimulai sejak pagi hingga malam hari dan melibatkan semua perempuan Joyosuran, tidak terkecuali Bapak-bapak dan anak-anak. Beberapa acara telah terkonsep dengan rapi, mulai dari Flashmob Dance dan Kerja Bakti yang diselenggarakan pada pagi hari pukul 06.30 WIB yang bertempat di halaman Kelurahan Joyosuran serta diikuti oleh kurang lebih 100 perempuan warga Joyosuran. Selesai acara flashmob dance dilanjutkan penanaman tanaman oleh perempuan-perempuan dan laki-laki warga Joyosuran. Tanaman ditempatkan di bantaran Kali Jenes sebagai salah satu bentuk aktifitas dari kegiatan “Perempuan Merawat Kali”.

Cipta Makanan Non Beras
Cipta Makanan Non Beras

Acara selanjutnya yang tidak kalah menarik, yaitu Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang diselenggarakan di rumah salah satu warga Joyosuran. Peserta yang terlibat adalah perempuan-perempuan yang mewakili RT dan RW nya dengan hasil karya cipta masakan non-beras kreasi baru mereka. Acara ini berlangsung hingga menjelang siang hari, sembari juga dilangsungkan proses penjurian Lomba Pengelolaan Sampah.

Proses penjurian lomba pemilahan sampah dilakukan dengan cara mendatangi tempat-tempat warga yang menjadi ketua dari masing-masing kelompok yang mengikuti lomba. Antusiasme warga Joyosuran sangatlah tinggi dalam mengikuti lomba pemilahan sampah tersebut, terbukti dengan banyaknya anggota kelompok yang mendaftar hingga mencapai kurang lebih 8 kelompok dari 12 RW yang ada di Kelurahan Joyosuran tersebut. Proses penilaian begitu panjang, dimulai dengan melihat langsung proses pemilahannya sampai dengan diskusi bersama masing-masing perwakilan kelompok bersama dewan juri yang ditunjuk dari beberapa elemen.

Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Sampah

Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan, malam harinya diselenggarakan acara inti yaitu sarasehan bersama warga Joyosuran yang mengangkat tema “Pengelolaan Sampah dalam Perspektif Lingkungan dan Pencegahan Bencana Banjir”. Acara sarasehan ini diikuti seluruh warga Joyosuran dan ikut serta mengundang narasumber dari Bapak Walikota Surakarta yang diwakilki oleh Bapak Camat Pasar Kliwon, perwakilan dari DKP, perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), serta Ketua PAGAR KAJEN (Paguyuban Warga Rekso Kali Jenes).

Talk show dibuka oleh moderator Nila Ayu Puspaningrum, selaku manajer divisi Sustainable Livelihood dan juga perwakilan dari SPEKHAM. Penampilan-penampilan music dari speky voice, vocal group FORAJOS (Forum Anak Joyosuran) serta mendatangkan band tamu dari Boyolali yang menambah semaraknya acara saraserah pada malam hari itu. Acara sarasehan yang mengangkat program pengelolaan sampah dalam perspektif lingkungan dan pencegahan bencana banjir tersebut memang pantas dilakukan di Kelurahan Joyosuran, karena sampah menjadi salah satu temuan persoalan di daerah tersebut. Berawal dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) pada tahun 2014, bahwa masih ada sampah yang dibuang ke selokan bahkan ke Kali Jenes yang pada akhirnya mengganggu saluran-saluran pembuangan.

Dampak dari pembuangan sampah secara liar sangat dirasakan oleh warga sekitar bantaran Kali Jenes yang dulu kerap terkena banjir. Situasi tersebut memunculkan keprihatinan bagi perempuan-perempuan Joyosuran untuk bisa mengatasinya. Dari masalah-masalah yang telah dihadapi oleh warga Joyosuran tersebut, selama kurang lebih 3 tahun, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) yang bekerjasama dengan SPEK HAM membantu warga Kelurahan Joyosuran untuk menanggulangi masalah sampah dengan berbagai program yang telah dijalankan. Maka dari itu, kegiatan sarasehan tersebut dilakukan untuk bisa menampung dan mendiskusikan berbagai keluh kesah warga mengenai masalah sampah kepada para narasumber yang lebih mengerti untuk penanganan masalah sampah.

Pembahasan masalah sampah dimulai dengan pemutaran film tentang proses pengangkutan sampah perkotaan di Luar Negeri yang sudah tersistematis dengan rapi. Dengan diperlihatkannya film tersebut menjadikan warga Kelurahan Joyosuran yang mengikuti acara sarasehan tersebut mempunyai keinginan agar negaranya atau khususnya kelurahannya sendiri bisa mengikuti proses pengangkutan sampah yang lebih tersistematis seperti dalam video yang diputar.

Diskusi berawal dengan dibukanya sesi tanya jawab oleh moderator, begitu semangatnya antusias warga terbukti dengan banyak warga yang menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah sampah di seputar lingkungan Joyosuran. Ada yang memberi kritikan bagi Pemerintah yang menangani masalah sampah di kota Solo dan ada juga yang menanyakan bagaimana solusi yang tepat untuk menanggulangi masalah sampah di daerah Joyosuran tersebut kepada para narasumber yang bertanggungjawab dan berkompeten dalam bidangnya. Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan oleh para narasumber menjadikan warga mulai tahu dan mendapatkan tambahan ilmu tentang bagaimana mengelola sampah perkotaan terutama bagi rumah tangganya sendiri.

Sarasehan berlangsung dengan meriah dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dan ditambah dengan pembawaan beberapa narasumber yang sedikit humoris semakin menambah hangatnya acara malam sarasehan tersebut.

Sebelum penutupan acara sarasehan pada malam hari tersebut, diadakan sesi pengumuman pemenang Lomba Pengelolaan Sampah, Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang penjuriannya dilakukan pada pagi hari. Masing-masing lomba diambil Juara I, II, III dan Juara Harapan. Peserta yang memenangkan perlombaan tersebut masing-masing mendapatkan Trophy Walikota Surakarta, Sertifikat, Uang Pembinaan, serta beberapa bingkisan menarik. Acara sarasehan tersebut ditutup dengan ditampilkannya pertunjukan musik. (Defita & Murni Mahasiswa Sosiologi UNS/spekham.org)

Merawat Kali dengan Hati untuk Generasi yang Akan Datang

Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Pengelolaan Tanaman Pangan Di Kelurahan Joyosuran Dalam Mendukung Pengelolaan Kali Jenes

Sampah, menjadi hal yang sangat popular di tiga bulan terakhir di Kelurahan Joyosuran, tepatnya sejak dilakukan pembaharuan pemetaan persoalan dan potensi sampah oleh Kelompok Perempuan. Hasil pemetaan tersebut mendapat respon baik dari pemerintah kelurahan, yang ditindaklanjuti dengan program perawatan Kali Jenes yang dikaitkan dengan resiko banjir di musim penghujan ini tahun ini.

Beberapa rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan adalah workshop pengelolan sampah dengan perspektif pengurangan resiko bencana. Kedua adalah pembentukan Paguyuban Ngrekso Kali Jenes (PAGAR KAJEN) pada tanggal 22 Desember 2014. Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) mengambil peran yang cukup srategis dalam perencanaan, pelaksanaan maupun dalam evaluasi kegiatan.

Langkah pertama untuk merealisasikan program pengelolaan Kali Jenes adalah dengan penyediaan infrastruktur untuk pemisahan sampah. Pemerintah Kelurahan Joyosuran menyedikan tong sampah di sepanjang Kali Jenes, dimana kebutuhan tong sekitar 60 buah, yang tersedia saat ini baru 20 buah bantuan dari dana CSR yang ada di Kelurahan Joyosuran, sedangkan kekuranganya akan diusahakan selanjutnya.

Untuk membangun perspektif di masyarakat dan membangun keterlibatan seluruh masyarakat dalam program Kali Jenes tersebut, PAGAR KAJEN dengan seluruh elemennya melakukan sosialisasi pada para stakeholder dan juga masyarakat di bantaran Kali Jenes. Sosialisasi tahap pertama melibatkan para RT dan RW di Joyosuran, dengan materi yang pertama Kebijakan Pemerintah Solo yang disampaikan oleh Perwakilan dari Kantor Lingkungan Hidup. Tentang Peraturan Pembuangan Sampah yang disampaikan oleh Lurah Joyosuran. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah oleh Ketua Paguyuban PAGAR KAJEN.

sos kj 9Di dalam kegiatan tersebut, Kelompok Perempuan Joyosuran menyampaikan materi tentang Sampah dan Pengelolaanya.  Sharing berdasarkan pengalaman KPJ dalam pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemisahan, penjualan, sampai pemanfaatan limbah sampah untuk kerajinan yang memiliki nilai eonomis. Kegiatan dilaksanaan pada tanggal 8 Oktober 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Ada usulan yang baik seperti perlunya mekanisme pengelolaan sampah yang efektif misalnya penyediaan tempat penampungan, petugas pengambil sampah.

Sosialisasi tahap dua akan dilakukan di tiga group, dengan sasaran warga di bantaran Kali Jenes dan juga RT dan RW yang berkepentingan akan wilayahnya. Group 1 meliputi RW 3 dan RW 2 yang bertempat di pinggir Jembatan Tempen, pelaksanakan dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dihadiri 86 orang. Kegiatan sosialisasi yang kedua dilaksanakan pada 15 Oktober 2014 bertempat di pinggir Kali RW 04, dengan melibatkan partisipan 75 orang  yang terdiri dari RT dan RW wilayah RW 04 dan RW 11, warga bantaran kali di sebelah kiri dan kanan Kali Jenes. Sedangkan sosialisasi ketiga, di group tiga dilaksanaan pada 17 Oktober 2014 di perempatan Jembatan Kali Jenes di RW 12, melibatkan 80 orang peserta yang terdiri dari warga bantaran kali, kelompok perempuan, CSR, dan tokoh masyarakat.

Dinamika yang terbangun dalam kegiatan ini adalah peran aktif dari peserta yang diundang, mereka sangat antusias, bahkan mereka membuat tawaran terhadap sanksi sosial pada warga baik yang dari Joyosuran maupun yang di luar Joyosuran apabila membuang sampah ke kali. Ada kesepakatan bersama tentang pengelolaan tanaman pangan di pinggir Kali Jenes dengan penanaman tanaman sayuran yang bisa di manfaatkan oleh warga. Membutuhkan peran serta semua pihak untuk mewujudkan program pengelolaan sampah terpadu tanaman pangan dalam mendukung pengelolaan Kali Jenes di Kelurahan Joyosuran.

Mari bergandeng tangan untuk lingkungan sehat di Joyosuran !!!

(nocko alee/spekham/dok. photo : KPJ)

Suara Perempuan Joyosuran untuk Kali Jenes

Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Lingkungan Berperspektif Bencana

Sampah dan pengelolaanya masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di wilayah perkotaan padat penduduk. Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon yang termasuk sebagai wilayah padat penduduk juga merasakan dampak dari keberadaan sampah. Sampah menyebabkan tersumbatnya saluran pembuangan  limbah rumah tangga, yang sering mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Air yang seharusnya masuk saluran pembuangan menjadi tergenang di depan rumah warga, hal ini membuat warga tidak nyaman untuk beraktifitas.

Sejak tahun 2010, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) bersinergi dengan multi stakeholder di tingkat Kelurahan melakukan berbagai kegiatan untuk mengajak masyarakat untuk peduli terhadap persoalan lingkungan melalui gerakan bersama yang dinamai “Gerakan Cinta Bumi”. Gerakan ini mengajak keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik yang mudah diurai dengan non organik yang sulit diurai, selain itu pemilahan sampah juga dapat menambah ekonomi keluarga. Gerakan Cinta Bumi juga meliputi : memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk kegiatan tanaman pangan, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga,

Sejalan dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ), Pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Pemerintah Kelurahan Joyosuran merancang Program “Pengelolaan Kali Jenes”, dengan merevitalisasi Kali Jenes yang selama ini kotor oleh limbah, baik rumah tangga maupun industri kecil. Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta “Air minum di sekitar Kali Jenes mengandung bakteri e-colli, karena tingkat pencemaran Kali Jenes sudah sangat tinggi.

(http://www.solopos.com/2014/08/28/pencearan-air-di-solo-50-sumur-di-sekitar-kali-jenes-tercemar-limbah-530862).

Program pengelolaan Kali Jenes dicanangkan oleh Pemerintah Kelurahan pada tanggal 22 September 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Acara tersebut dihadiri oleh unsur masyarakat, LPMK, LSM, kelompok-kelompok masyarakat, dan CSR (Pabrik Batik, Konveksi, BUMN, Provider Telekomunikasi, dan Bank). Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kelurahan mengukuhkan dengan pembentukan Paguyuban Merawat Kali/Lepen dengan pengurus :

Ketua               : Bapak Sukarno Hendri

Wakil Ketua     : Elfian

Seketaris         : Nana Misdiati (KPJ), Triyono

Bendahara      : Atik Sri Martini (KPJ)

Pelaksana        : Dwi S (KPJ), F. Sulastri Admoyo (KPJ), perwakilan dari 12 RW

Tim Monev      : H. Umar Said (Perwakilan CSR)

                             Pemerintah Kelurahan bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Konsep pengelolaan Kali Jenes akan melibatkan seluruh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan kali. Sehingga semua warga, baik yang berada di pinggir kali maupun yang tidak, akan bertanggung jawab untuk memelihara kebersihannya. Dalam paparannya, Lurah Joyosuran Bapak Suwarno  menyampaikan bahwa program ini akan dilakukan mulai tahap jangka pendek, menengah dan panjang. Kegiatan akan dimulai dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan tentang pengelolaan sampah pada masyarakat luas. Kegiatan akan dijadwalkan pada awal Oktober 2014. KPJ memiliki peran yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tentang pengelolaan sampah yang dapat disinergikan dengan Gerakan Cinta Bumi.

Berbarengan dengan kegiatan sosialisasi, akan dilakukan pemasangan tong sampah di sepanjang Kali Jenes yang panjangnya 750 M, dengan kebutuhan tong sebanyak 60 buah. Ada komitmen dari CSR yang menjadi salah satu sumber pendanaan yang akan membiayai kegiatan ini, selain juga ada anggaran dari APBD Kota Surakarta tahun 2015. Selain melibatkan warga Joyosuran, pengelolaan Kali Jenes juga akan dikoordinasikan dengan wilayah yang berbatasan dengan Joyosuran yaitu  Kelurahan Dawung  dan kelurahan Pasar Kliwon.

Semoga hasil pemetaan partisipatif ini tidak hanya sekedar data dan temuan masalah, tetapi menjadi sumber-sumber perencanaan program, sehingga suara-suara perempuan bisa lebih didengar melalui program-program berperspektif gender, bencana  dan berbasis lingkungan.

Oleh Noko Alle (CO Divisi Sustanable Livelihood)

Photo : Joshua Intan