Guna Merespon Pandemi Covid-19 yang belum berakhir, SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan dengan dukungan program Mampu menyelenggarakan kegiatan pembagian masker untuk 250 orang perempuan di Desa Blumbang, Kecamatan Klego dan Desa Suroteleng, Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali pada Rabu dan Kamis, 10-11/6.
Masker diserahkan langsung dari
SPEK-HAM kepada pemerintah desa dan perwakilan kader Kesehatan di masing-masing
desa tersebut. Sekretaris Desa Blumbang, Iwan Setiawan menyambut baik kegiatan
ini dan berharap agar masker-masker ini dapat mencegah penularan covid-19. “Walaupun
Pemerintah Desa sudah mempunyai program penanggulangan Covid-19, tetapi kami
menyambut baik pemberian masker ini semoga bermanfaat untuk mencegah penularan
Covid-, ungkap Iwan.
Sementara itu Nur perwakilan
kader Kesehatan dari Suroteleng menyampaikan terima kasih kepada SPEK-HAM atas
pemberian bantuan masker kepada para perempuan. Menurutnya pencegahan penyebaran covid-19 telah dilakukan
secara maksimal diantaranya dengan pembatasan akses bagi warga di luar daerah
sejak bulan Apri yang lalu.
Sama seperti di Desa Blumbang, Masker
yang sudah diserahkan ke perwakilan kader Kesehatan, selanjutnya akan didistribusikan
kepada para perempuan di wilayah Desa Suroteleng yang membutuhkan. Sebagai
informasi kegiatan pembagian masker ini merupakan kelanjutan dari program 1000
masker untuk perempuaan yang telah dilakukan pada 17 April yang lalu. Henrico Fajar (Divisi Kesmas
SPEK-HAM)
Sudah berlangsung 3 bulan Indonesia dan bahkan negara-negara lainnya berada dalam situasi yang sulit akibat pandemi covid-19, data kasus yang selalu naik, sampai dengan hari Kamis, 28 Mei 2020 pukul 12.00 WIB positif covid-19 mencapai 24.538 kasus, meninggal dunia sebanyak 1.496 orang. Sementara itu di Kabupaten Boyolali Sampai dengan hari Kamis, 28 Mei 2020 kasus positif 25 orang, sembuh 13 orang dan meninggal dunia 1 orang. Melihat situasi tersebut sudah banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah, dari membuat regulasi, kampanye, edukasi, bahkan sampai adanya protokoler kesehatan covid-19. Sebagai upaya edukasi pada masyarakat umum terkait dengan informasi ketersediaan layanan reproduksi di Tengah Pandemi ini, maka SPEKHAM melakukan live talkshow di radio Merapi FM pada Senin, 8 Juni 2020.
Dari hasil bincang bersama dengan Dr. Ratri S Survivalina Kepala Dinas Kesehatan Kab.Boyolali saat ini layanan kesehatan ibu dan anak masih tetap berjalan dan dilakukan di tengah pandemi covid-19 dengan protokoler kesehatan, tetapi ada pemisahan antara pasien yang mempunyai gejala batuk dan infeksi ISPA dengan pasien yang lain, selain itu juga ada pembatasan pendamping pasien rawat inap, pakai masker dan selalu mencuci tangan. Intinya kami menghibau selagi kita mematuhi protokoler kesehatan masyarakat tidak usah kawatir. Selain layanan kesehatan ibu dan anak pelaksanaan layanan kespro lain yang dilakukan adalah konseling KB serta terkait dengan pelayanan alat kontrasepsi, pelayanan IMS juga bisa dilakukan, karena faskes sudah mampu memberikan pelayanan. Terkait layanan persalinan semua puskesmas bisa diakses, dan sesuai dengan semangat kita bahwa saat ini puskesmas harus menjadi faskes yang mampu memberikan layanan persalinan lebih cepat dan bermutu. Dikatakan juga bahwa pandemi covid-19 ini juga berdampak akan kerentanan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), semua disebabkan karena sering bertemu dan berkumpulnya pasangan di rumah. Sebagai upaya menanggulangi kerentanan KTD dan kehamilan yang tidak direncanakan maka kami melakukan promosi alat kontrasepsi baik jangka panjang dan pendek, , bahkan ada yang permanen seperti tubektomi dan vasektomi, selain itu juga ada metode kontrasepsi darurat , kami juga mebuka akses agara masyarakat bisa mengakses alat kontrasepsi lewat bidan desa, puskesmas dan kader kesehatan.
Live Talkshow Merapi FM
Narasumber yang lain Siti Muntadimatul Fikri (Kader SUKMADESI) Kecamatan Klego yang menceritakan, bahwa selama pandemi covid-19 ini kader tetap bekerja walaupun hanya lewat media WA group maupun pribadi, dan saat ini kita lebih fokus di kelompok remaja dan lansia. Saat ini kami meberikan vitamin sebanyak 100 tablet di setiap desa serta gerakan penghijauan dan pengembangan tanaman pangan keluarga pada kelompok remaja. Program lain yang dirancang adalah menghadirkan pihak Dinas Kesehatan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat, yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa yang disampaikan kader saat ini sebetulnya bener-bener program pemerintah. Kader Kesehatan Ds. Blumbang ibu Ida Nursanti Astuti menguatkan pendapat ibu fikri bahwa komunikasi dengan warga saat ini menurut mereka dengan media sosial lebih gampang, seperti WA, ibu-bu jaman sekarang memang sudah canggih, hampir semua sudah mempunyai smartphone.
Diakhir Talkshow Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan cerita sukses yang sudah dilakukan oleh kader dampingan SPEKHAM. Kader itu menjadi ujung tombak dalam melakukan edukasi ke masyarakat terkait isu kespro, bahkan ada lelucon selain ujung tombak kader juga menjadi “ujung tombok”. Bahkan pada pertemuan yang dilakukan malam hari mereka harus tombok waktu untuk bisa hadir pada pertemuan itu. Kami dari SPEK-HAM berperan mendorong partisipasi kader/perempuan untuk aktif terlibat di tingkat desa, untuk mengusulkan program-program perempuan di tingkat desa, melakukan IVA tes, karena ini penting, supaya perempuan juga tahu situasi kespronya agar mengetahuai ada dan tidaknya kanker cervic. Selain itu kami juga mengadvokasi layanan di tingkat kecamatan-kecamatan. Fajar memberikan pesan pada Pemerintah Boyolali: layanan kesehatan reproduksi harus berjalan, kita masih ada PR terkait dengan AKI dan AKB, maka kami berharap disaat layanan sudah dibuka maka masyarakat akan berbondong-bondong untuk mengakses layanan. Kami berharap di tingkat desa juga memikirkan kebutuhan pembangunan manusia artinya butuh pembisik dan peran laki-laki.Antonius Danang – Divisi Kesmas
Sejumlah anggota Forum Peserta JKN Boyolali menyoroti data penerima bansos yang tidak akurat saat menggelar Diskusi dengan Tema Perlindungan Sosial yang Responsif Gender di Masa Pandemi Covid-19 pada 20/5 di sebuah Rumah Makan di Boyolali.
Sinam M Sutarno salah seorang peserta asal Selo, menyampaikan bantuan untuk penanganan Covid-19 itu ada 2, yakni Basis Data Terpadu (BDT) dan non BDT misalnya untuk orang yg bukan miskin tapi sangat terdampak. “Saat ini kemensos memungkinkan pendataan data baru dan Desa bisa mengupdate data agar tidak menjadi bulan-bulanan warganya,” ungkap Sinam. Pada bagian lain dia menyoroti kebijakan pemerintah pusat terkesan tidak dijalankan di tingkat daerah, misalnya terkait leasing yang ternyata masih banyak warga yang menerima tagihan dari leasing sepeda motor.
Sementara itu Rahayu Purwaningsih warga Andong menyampaikan bantuan sosial untuk warga terdampak Covid-19 ada 5, terdiri dari BST (Bantuan Sosial Tunai) dari Kemensos sebesar Rp. 600.000,- Bantuan Provinsi berupa sembako senilai Rp. 200.000,- Bantuan Kabupaten berupa Sembako senilai Rp. 200.000,- BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari Dana Desa senilai Rp. 600.000,- masing-masing bantuan tersebut selama diberikan selama 3 bulan.
Bantuan lain yaitu Perluasan Sembako
dari Provinsi Jateng, Boyolali mengajukan 21.700 orang yang disetujui sebanyak
17.000 orang, bantuan ini diberikan selama 9 bulan. Informasi sampai dengan
hari ini dari kelima bantuan tersebut yang sudah turun meski sebagian adalah BST,
BLT dan Bantuan Kabupaten.
Kegiatan dengan menerapkan physical
distancing atau jarak ini menghasilkan beberapa masukan kepada pihak-pihak
terkait, diantaranya perbaikan data (sinkronisasi) untuk penerima bantuan agar
bisa tepat sasaran, update data penerima bantuan secara berkala dan
pelibatan perempuan secara lebih masif dalam pendataan warga terdampak.
Pada sisi lain para peserta menyadari bahwa
jaminan sosial sangat bermanfaat di tengah pandemi covid-19 ini karena dapat
membantu masyarakat yang terdampak dan sangat membutuhkan bantuan dari
pemerintah. Selain itu edukasi kepada masyarakat juga terus menerus harus
dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, diantaranya jaga jarak,
menggunakan masker, menghidari kerumunan, sering mencuci tangan dengan sabun atau
hand sanitizer dan menjaga kesehatan tubuh dengan aktivitas fisik secara rutin.
Sebagai informasi Diskusi Forum
Peserta JKN Boyolai ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, yaitu
Sosialisasi hasil riset JKN-BPJS untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan,
pembentukan Forum Peserta JKN Boyolali, Audiensi dengan BPJS Kesehatan dan
Dinkes. Kegiatan ini diselenggarakan SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan
Kesehatan Perempuan (YKP), Jaringan Perempuan Peduli Kesehatan (JP2K), dengan
dukungan AUSAID Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan
Kemiskinan). (Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat/spekham.org)
Masih di situasi pandemi , dimana tetap harus dirumah saja dan berjaga jarak dengan orang lain, kali ini SPEK – HAM Surakarta melalui program PEKERTi ( Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi ) mengajak teman – teman remaja kecamatan Bayat , Klaten untuk membahas tentang beberapa mitos seputar kesehatan reproduksi remaja via zoom meeting. Sebanyak 20 remaja antusias mengikuti kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Mei 2020 via zoom meeting. Bersama dengan ibu Arwini Urip, Amd., Keb selaku bidan desa Paseban, Bayat, teman – teman remaja mengutarakan berbagai pertanyaan atau mitos yang beredar seputar kesehatan reproduksi remaja. Bu Arwini selaku tenaga medis dan juga pendamping kelompok posyandu remaja desa Paseban pun tak kurang – kurang dalam menjelaskan seputar kesehatan reproduksi.
Dimulai dengan penjelasan terkait proses menstruasi, lalu penyebab rasa tidak nyaman dan rasa sakit ketika menstruasi. Ada juga tentang aktivitas dan makanan / minuman apa yang sebenarnya berpengaruh pada tubuh saat proses menstruasi. Dijelaskan pula tentang bagaimana remaja harus menjaga kesehatan reproduksinya dengan cara, makan dan minum yang bergizi, berolahraga, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan tubuh terutama daerah vagina. Dalam waktu satu setengah jam ini, teman – teman remaja memanfaatkan waktu untuk bertanya sebanyak – banyaknya untuk dapat menjawab segala keresahan mereka speutar kesehatan reproduksi remaja. Harapannya adalah teman – teman remaja bisa tetap mendapat akses informasi yang tepat dan maksimal tentang kesehatan reproduksinya. Ayun – CO SPEKHAM
Memasuki bulan ke 2 di masa pandemi covid 19 di Indonesia, dimana segala aktivitas yang melibatkan beberapa orang bahkan lebih harus dibatasi dan dihindari sebagai upaya pencegahan penularan virus covid 19. Di Kabupaten Klaten, situasi ini pun juga pastinya berdampak pada proses pelayanan kepada masyarakat khususnya kesehatan, salah satunya adalah dibatasinya kegiatan posyandu untuk ibu hamil, balita, remaja dan lansia di hampir semua wilayah. Otomatis penyampaian informasi tentang kesehatan pun juga ikut terdampak. Mensikapi situasi ini SPEK – HAM Surakarta bersama Dinas Kesehatan mencoba untuk semaksimal mungkin memberikan layanan informasi tentang layanan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan reproduksi perempuan dan remaja melalui siaran radio yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Klaten melalui RSPD ( Radio Siaran Pemerintah Daerah )Kabupaten Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan hari Kamis , 30 April 2020 dan dimulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 11.00 WIB. Hadir di siaran ini sebagai narasumber yatu ibu Siti Katrimah,Amd.Keb dari dinas kesehatan, Ayun Wrediningtyas dari SPEK HAM , dan ibu Catur dari Kader Kesehatan Klaten tengah.
Dalam waktu satu jam ini, para narasumber membahas terkait kebijakan pemerintah melalui dinas kesehatan untuk tetap melakukan layanan kesehatan dan penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat, salah satunya pemantauan kondisi ibu hamil,dan balita yang biasa dilakukan lewat kegiatan Posyandu, saat ini dilakukan dengan memanfaatkan Whatsapp grup atau media online atau by phone untuk saling memantau kondisi kesehatan ibu hamil dan balita. Selain ada tenaga medis atau biasanya bidan desa yang memantau kesehatan masyarakat, tentu saja ada kerja -kerja kader kesehatan untuk membantu menyampaikan informasi dari masyarakat ke bidan ataupun sebaliknya. Ditambah lagi, SPEK HAM Surakarta melalui program PEKERTi ( Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi ) bersama Yayasan IPAS juga melakukan edukasi kepada masyarakat sebagai upaya pemenuhan informasi kesehatan kepada masyarakat. Walaupun edukasi ini juga dilaksanakan melalui via online ( zoom, whatsapp group, instagram, dll ) , informasi yang diterima masyarakat pun dirasa sangat maksimal dan sesuai dengan kebutuhan. Harapannya adalah situasi pandemi covid 19 ini semua masyarakat dapat tetap mendapat hak informasi dan layanan kesehatan dengan baik. Untuk itu perlu kerjasama yang baik, bukan hanya pemerintah saaja atau tenaga medis saja, akan tetapi semua masyarakat pun juga diharapkan bisa bersinergi untuk mengahadapi situasi pandemi seperti saat ini. Ayun -CO SPEKHAM
Virus corona
yang sejak bulan Maret 2020 menjadi persoalan utama bangsa saat ini. Di awal – awal
muncul pemberitaan di media tidaklah menjadi topic yang menarik untuk di bicarakan,
hanya sekilas-kita lihat berita di televisi atau media social. Di desa-desa khususnya
di Kecamatan Musuk orang-orang lebih tertarik berbicara tentang harga bunga
mawar, penanaman tembakau, dan ternak di banding ngobrol tentang Covid-19 ini.
Dari data nasional, provinsi dan juga kabupaten/ kota yang di muat di media tv yang awalnya hanya memberitakan 2 sampai 5 kasus yang di temukan. Semakin lama data yang meninggal karena Covid19 semakin gencar diberitakan, kasus sudah mencapai ribuan hingga akhirnya tembus ke angka 14.000. Pemerintah desa mulai mengambil sikap untuk mencegah, minimal melakukan koordinasi dengan bidan desa, puskesmas tingkat kecamatan untuk meng-update data dan juga informasi pada masyarakat untuk melakukan PHBS demi mencegah penularan virus Corona.
Ternyata Pandemic Covid19 tidak hanya berbicara tentang kesehatan. Dampak dari pandemic ini sangat luas, terutama di sector ekonomi. Hal ini sangat dirasakan oleh perempuan di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Biasnaya pada bulan ruwah adalah berkah bagi petani mawar di Desa Cluntang. Masyarakat yang selama ini mengandalkan bunga mawar menjadi primadona menjelang bulan ruwah, harus menelan pahit dengan adanya pembatasan sosial dan larangan berkegiatan ritual, keagamaan dll. Pada tahun-tahun sebelumnya saat bulan ruwah bunga mawar bisa laku sampai Rp. 200.000 per rinjing. Namun setelah ada Covid19 ini, bunga mawar hanya laku Rp. 10.000 per rinjing.
Hasil pertanian
seperti sayuran juga tidak bisa keluar bebas karena ada pembatasan para orang
luar masuk wilayah Desa Musuk dan Desa Cluntang termasuk para tengkulak.
Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya perempuan di Musuk dan
Cluntang. Bahkan angsuran pra koperasi simpan pinjam kelompok perempuan tidak
ada yang mengangsur, karena tidak adanya pendapatan yang masuk. Saya mencoba
melakukan diskusi dengan ibu-ibu baik di kelompok Putri Mawar Desa Cluntang,
Rukun Makmur Desa Musuk, kelompok Sekar Putri Desa Musuk juga komunitas peduli
TPPO Kecamatan Musuk untuk menyikapi situasi ini, apa yang bisa dilakukan?
Solusi yang bisa dilakukan oleh perempuan adalah membuat produksi aneka makanan
dari bahan-bahan lokal seperti aneka lauk, kue kering, es cream, minuman
tradisional, termasuk hasil pertanian bawang merah dll. Pemasaran dibantu oleh
pendamping dari SPEK-HAM secara langsung maupun secara online lewat media
social.
Tidak disangka
ternyata hasilnya cukup membuat para perempuan di komunitas bersemangat. Setiap
dua atau tiga hari sekali pada datang kerumah saya untuk berdiskusi, setor
produk, ambil uang dan juga menciptakan produk baru. Peluang-peluang seperti
ini yang harusnya di respon cepat oleh perempuan, karena mereka yang lebih paham
kebutuhan dan potensi yang dimiliki.
Situasi pandemic
yang kita belum tahu kapan akan berakhir, harus di sikapi dengan bijaksana,
segala upaya dilakukan, tetapi persoalan ekonomi keluarga harus menjadi focus.
Setiap individu di kelompok saling mensuport, program-program pra koperasi
menjadi solusi saat sulit seperti ini sehingga kita bisa lewati bersama dengan baik.
(Noko/NL)
SPEK-HAM dengan dukungan Kedutaan New Zeland dan Baperlitbangda Kabupaten Brebes, mendampingi Kelompok Petani Jamur di Dusun Karangsari dan Kedungabad Desa Wlahar Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Ada sekitar 10 orang petani muda yang terjun dalam pengelolaan jamur tiram sejak Januari 2020 lalu. Budidaya jamur tiram ini bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Brebes, salah satunya dengan mengurangi angka pengangguran pada kelompok pemuda. Program ini sinergi dengan upaya Pemerintah Kabupaten Brebes dalam mengurangi angka kemiskinan di Brebes yang masih 17,17 % pada akhir tahun 2019 (https://jateng.tribunnews.com/2019/11/21/dari-34-desa-miskin-di-brebes-10-di-antaranya-kategori-sangat-miskin).
Sudah kali kedua periode budidaya jamur tiram sejak awal dibentuknya kelompok. Pada Sabtu (02/5/2020) yang lalu, kelompok petani jamur Dusun Karangsari Desa Wlahar Kecamatan Larangan melakukan pembibitan jamur. Adapun proses pembibitan jamur dimulai dengan tahapan : (1) menyiapkan kancing baglog (pipa paralon), (2) menyiapkan kertas koran, (3) menyiapkan kawat sepeda, (4) menyiapkan alcohol, (5) menyiapkan karet gelang, (7) menyiapkan lilin.
Menurut Kustanto, salah satu anggota kelompok petani jamur Dusun
Karangsari, sekarang jadi punya pengalaman budidaya jamur. “Panen kemarin sebagian dikonsumsi sendiri, sebagian dijual. Hasil
penjualan dikumpulkan untuk membeli baglog jamur yang lebih banyak”, tambah
Kustono.
Awalnya hanya 500
baglog jamur, dari jumlah tersebut petani
sudah mampu memanen sekitar 2-3 kg setiap hari dengan harga jual 20.000/kg.
Pemasaran jamur langsung ke konsumen dan produsen olahan makanan dari jamur.
Permintaan jamur setiap minggu adalah 30 kg, sedangkan kapasitas produksi tiap
kelompok rata-rata 2-3 kg setiap hari. Untuk mencukupi kebutuhan pasar, pada
tahap kedua ini tiap kelompok mengelola 2000 baglog jamur tiram.
Jamur dipilih karena mudah tumbuh
dan setiap hari panen. Dengan omset Rp. 40.000 – 60.000 tiap hari, diharapkan menjadi
sumber pendapatan dan mampu meningkatkan pendapatan para pemuda desa. Dukungan
dan sinergi dari pemerintah Kabupaten Brebes diharapkan untuk keberlanjutan
program ini, sehingga angka kemiskinan di Kabupaten Brebes bisa menurun. (Nila)
Di dalam situasi pandemic Covid19 yang meresahkan saat ini, kita belum tahu sampai kapan selesainya. Namun harapan dan optimisme selalu ada. Seorang anggota kelompok perempuan Srikandi Kelurahan Gilingan Kota Surakarta merasa beruntung, dia Dita Apriliana ibu muda umur 25 tahun, menyampaikan senang dengan ikut bergabung dalam Kelompok Perempuan Srikandi di RW 05 Kelurahan Gilingan-Surakarta, banyak manfaat yang didapatkan.
Salah satunya dengan mengikuti Pra Koperasi Simpan Pinjam. Dengan menjadi anggota pra koperasi, sedikit demi sedikit dapat menyisihkan tabungan sukarela yang dibagi setiap menjelang Lebaran. Saat ditanya oleh pendamping, Dita mendapat tabungan sukarela yang yang paling banyak diantara anggota yang lain, sebesar Rp 1.111.000, – (Satu juta seratus sebelas ribu rupiah). Uang tersebut sangat bermanfaat untuk tambahan biaya hidup saat masa pandemic Covid19, membayar pendaftarkan anak saya masuk ke TK. “Saya merasa senang dan akan saya tingkatkan lagi tabunganya karena anak sudah mulai masuk sekolah, jadi untuk persiapan biaya anak sekolah,” ucap Dita.
Awal terjun dalam kegiatan Kelompok Perempuan Srikandi Gilingan, karena sering melihat perempuan-perempuan di lingkungan RW 5 mengadakan pertemuan setiap bulan di gedung warga. Mereka menyebutnya pertemuan SPEK-HAM, karena di damping oleh SPEK-HAM. ternyata banyak sekali kegiatannya. Ada Bank Sampah, pembuatan karak non-borax, maupun Pra Koperasi. “Yang saya sangat tertarik pada kegiatan Bank Sampah, disitu ada pemilahan dan penimbangan sampah, ini berarti sudah mengacu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam lingkungan. Disitulah saya ikut bergabung, setiap tanggal, 28 mengadakan penimbangan dan terus terjual, “penjelasan Dita lebih lanjut.
Dita juga menegaskan bahwa Pra Koprasi/ simpan pinjam yang ditangani oleh ibu – ibu, ada pembukuan yang tertib dibuat setiap bulan. Pengurus selalu transparan dalam menyampaikan laporan keuangan secara terinci, dari simpanan pokok, simpanan wajib maupun tabungan sukarela. Kegiatan kelompok perempuan yang didampingi oleh SPEK-HAM bertujuan untuk meningkatkan pendapatan, serta kemandirian perempuan dalam mengakses sumber-sumber ekonomi. Terutama bagi perempuan rentan dan perempuan miskin wilayah perkotaan. Sehingga perempuan mampu survive menghadapi berbagai kondisi, termasuk saat pandemic Covid-19 saat ini.
Dalam tabungan suka rela ini tidak dibatasi dan disepakati bahwa untuk pembagian tabungan Sukarela ini dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri maupun menjelang masuknya anak sekolah. Karena Hari Raya tahun ini jatuh pada bulan Mei 2020. (Pakde/NL)