Search for:

Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup di “GRIYA LILIN“

Selasa, 2 Desember 2014 jam 10.10 WIB, kami mendapatkan telephone dari Badan Lingkungan Hidup Surakarta bahwa akan ada kunjungan dari Kementrian Lingkungan Hidup yang akan mendarat jam 11.00 WIB di Bandara Adi Sumarmo. Meski agak terburu-buru, tapi saya tetap menyanggupinya. Saya koordinasikan hal tersebut dengan team dari Griya Lilin yang terdiri dari Ibu Dwi S, Ibu Nana, Ibu Linda, Ibu Yulaikah, Ibu Haryani, Ibu Triyani Wahyuni, Ibu Jasmin, Ibu Makmis, Ibu Kedah.

Kami menunggu sejak jam 11 sampai team dari SPEK HAM juga datang, tetapi tamu juga belum datang sampai jam 13.00 WIB. Saya konfirmasi ke pihak Kelurahan Joyosuran, ternyata tamu dari Kementrian masih ada agenda di Balekota. Tanggal 3 Desember 2014, sekitar pukul 09.00 WIB, team dari Kemetrian Lingkungan Hidup Jakarta datang di Griya Lilin. Ada 3 orang dari Kementrian Lingkungan Hidup, 2 orang aktifis lingkungan hidup, 1 orang dari BLH Kota Surakarta dan 1 orang dari Kelurahan Joyosuran.

Diawali dengan perkenalan dari team yang diwakili Bapak Prayoga dari KLH , Bapak Mukti dari Team Adipura dan Bapak Bani dari BLH Kota Surakarta. Team Adipura tersebut ingin tahu bagaimana pengelolaan sampah dan limbah pada kegiatan home industry ini. Saya bersama Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup (Large)dengan teman-teman dari Griya Lilin saling menambahkan menjawab “Dalam kegiatan ini hampir tidak ada limbah, karena bahan utama lilin tidak ada yang dibuang, bahkan kami mengelola limbah sampah seperti kain perca, plastic, botol-botol yang kami padu padankan menjadi kerajinan seperti tempat tissue, tempat lilin, dan souvenir lainya”. Team Adipura sangat tertarik dengan tas-tas dan aksesoris yang terbuat dari plastik  bekas (plastik kresek). Hampir semua pengunjung yang datang ke Griya Lilin tertarik dengan hasil karya ibu-ibu di Kelompok Permata ini. Produk jenis itu sangat sulit pemasarannya. Paling kalau ada orang-orang asing yang kebetulan datang berkunjung di Kelompok Usaha Perempuan Griya Lilin ini yang membelinya. Lebih lanjut Ibu Eky menyampaiakan bahwa ke depannya, usaha kelompok perempuan ini masih banyak sekali kendala, dari penyadaran kepada warga untuk memilah sampah, memberikan ketrampilan dan setup pemasaran yang lebih menjamin keberlangsungan UKM-UKM di Joyosuran ini.

Ibu Nana lebih lanjut menjelaskan bahwa Griya Lilin ini masuk dalam kegiatan di KPJ, khususnya untuk pemberdayaan perempuannya. Selain untuk kegiatan UKM, ibu dua anak itu juga menjelaskan program pengelolaan lingkungan yang diwadahi dalam kegiatan merawat kali jenes, dimana kali dan bantarannya yang memiliki panjang 734 meter ini menjadi potensi yg baik  bagi perempuan karena ada tiga hal besar yang akan dilakukan yaitu normalisasi kali, penanaman tanaman pangan pinggir kali, dan pengelolaan sampah. Kesemuanya akan terkonsentrasi untuk penciptaan lingkungan di bantaran kali pada kususnya, dan di seluruh wilayah Joyosuran pada umumnya menjadi wilayah yang bersih dan nyaman. Harapan Ibu Eky, Ibu Nana dan teman-teman, setiap kunjungan dari Pemerintah seperti ini hendaknya bisa disampaikan keluhan dan kondisi kelompok UKM seperti Griya Lilin ini sehingga tidak hanya menjadi sekedar kunjungan kedinasan yang hanya ceremonial dan tugas dinas saja. (nocko alee/dok photo : kpj/spekham.org)

Implementasi Pertanian Ramah Lingkungan di Brebes

IMPLEMENTASI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI BREBES

“PRAKTEK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK”

Praktek pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair ini merupakan kegiatan lapangan pendahuluan dalam program “Membangun Kepemimpinan Perempuan untuk Ekonomi Berkelanjutan Melalui Pertanian Ramah Lingkungan” kerjasama SPEK-HAM dengan HIVOS.  Empat Dusun yang disasar dalam kegiatan ini adalah : Dusun Cikorowok dan Dusun Buara di Desa Buara, Kecamatan  Larangan dan Dusun Kali Banteng dan Mingkrik di Desa Pamulihan, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Praktek pembuatan kompos ini nantinya akan menjadi salah satu sarana dalam pengembangan pertanian serta mewujudkan pertanian terpadu melalui pemanfaatan seluruh potensi alam dan daya dukung lahan sehingga mampu mengarahkan dunia pertanian di kedua Desa menuju kemandirian dan peningkatan produktifitas. Kegiatan praktek yang diutamakan untuk membangkitkan kemampuan perempuan petani di kedua Desa sehingga mampu memberikan motivasi bagi pengembangan kehidupan mereka.

Kegiatan pembuatan pupuk organik dilaksanakan di 4 lokasi yang berbeda. Pada hari Senin tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Cikrowok dan Dusun Buara, Desa Buara Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Sedangkan pada hari Selasa tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Mingkrik dan Dusun Kali Banteng, Desa Pamulihan Kecamatan Larangan Brebes. Melibatkan sekitar 20 peserta di masing-masing lokasi.

Stake holder yang berperan kali ini adalah Dinas Peternakan Kabupaten Brebes yang telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan pertanian terpadu, salah satunya proses pembuatan kompos.  Penggunaan teknologi mikroba yang telah dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes cukup mampu untuk menjadikan kondisi pertanian di wilayah Kabupaten Brebes mampu menjadi salah satu potensi yang dapat diandalkan.  Bantuan teknis dan sarana yang diberikan Dinas Peternakan Brebes dalam mendukung kegiatan ini sangat besar dan dapat memberikan indicator keseriusan stake holder dalam membangun wilayah.

Berikut ini proses pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah/kotoran ternak yang bisa diaplikasikan di wilayah lain.

Bahan dan Alat Pembuatan Pupuk Organik :

  1. Hasil samping peternakan (kotoran ternak sapi dan kambing)
  2. Serbuk gergaji
  3. Dedaunan
  4. Dolomite
  5. MA 11
  6. Tetes/molasses
  7. Air sumur
  8. Air kelapa
  9. Air cucian beras
  10. Cangkul
  11. Pengki
  12. Terpal
  13. Karung plastik
  14. Raffia
  15. Sprayer

Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  •  Air : 15 liter
  • MA 11 : 250 ml
  • Tetes : 500 ml
  • Ketiga bagan dicampur merata dan didiamkan selama 10 menit.
  1. Kotoran ternak (1.000kg), serbuk gergaji (50kg), daun kering/seresah (20kg), dan dolomite (20kg) dicampur merata di lokasi yang ternaungi.
  2. Campuran bahan padat tersebut kemudian disemprot cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 10 menit tadi dengan menggunakan spayer sambil dilakukan pengadukan sehingga terjadi pencampuran merata.
  3. Karena lokasi prosesing yang tidak ternaungi sempurna, maka dilakukan proses fermentasi dengan memasukkan bahan kompos tersebut dalam karung. Diperoleh sekitar 21 karung yang kemudian ditumpuk dihalaman petani yang ternaungi dan ditutup dengan plastik sampai rapat.
  4. Proses fermentasi dilakukan selama 3 (tiga) hari dan akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.

Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  • MA 11 : 100 ml
  • Tetes : 250 ml
  • Kedua bagan dicampur merata dan didiamkan selama 20-30 menit.
  1. Air leri (cucian beras) dan air kelapa sebanyak 20 liter dipersiapkan. Tidak menggunakan urine/cairan kandang karena petani tidak menyiapkan.
  2. Campuran bahan cair tersebut bersama dengan cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 20 – 30 menit tadi dan dimasukkan dalam wadah tertutup di botol-botol air kemasan dan didiamkan selama 3 (tiga) hari.
  3. Akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.
  4. Dosis pengenceran pupuk organik cair : air = 1 : 10.

 

(eka budhi sulistiyo/spekham.org)

Merawat Kali dengan Hati untuk Generasi yang Akan Datang

Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Pengelolaan Tanaman Pangan Di Kelurahan Joyosuran Dalam Mendukung Pengelolaan Kali Jenes

Sampah, menjadi hal yang sangat popular di tiga bulan terakhir di Kelurahan Joyosuran, tepatnya sejak dilakukan pembaharuan pemetaan persoalan dan potensi sampah oleh Kelompok Perempuan. Hasil pemetaan tersebut mendapat respon baik dari pemerintah kelurahan, yang ditindaklanjuti dengan program perawatan Kali Jenes yang dikaitkan dengan resiko banjir di musim penghujan ini tahun ini.

Beberapa rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan adalah workshop pengelolan sampah dengan perspektif pengurangan resiko bencana. Kedua adalah pembentukan Paguyuban Ngrekso Kali Jenes (PAGAR KAJEN) pada tanggal 22 Desember 2014. Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) mengambil peran yang cukup srategis dalam perencanaan, pelaksanaan maupun dalam evaluasi kegiatan.

Langkah pertama untuk merealisasikan program pengelolaan Kali Jenes adalah dengan penyediaan infrastruktur untuk pemisahan sampah. Pemerintah Kelurahan Joyosuran menyedikan tong sampah di sepanjang Kali Jenes, dimana kebutuhan tong sekitar 60 buah, yang tersedia saat ini baru 20 buah bantuan dari dana CSR yang ada di Kelurahan Joyosuran, sedangkan kekuranganya akan diusahakan selanjutnya.

Untuk membangun perspektif di masyarakat dan membangun keterlibatan seluruh masyarakat dalam program Kali Jenes tersebut, PAGAR KAJEN dengan seluruh elemennya melakukan sosialisasi pada para stakeholder dan juga masyarakat di bantaran Kali Jenes. Sosialisasi tahap pertama melibatkan para RT dan RW di Joyosuran, dengan materi yang pertama Kebijakan Pemerintah Solo yang disampaikan oleh Perwakilan dari Kantor Lingkungan Hidup. Tentang Peraturan Pembuangan Sampah yang disampaikan oleh Lurah Joyosuran. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah oleh Ketua Paguyuban PAGAR KAJEN.

sos kj 9Di dalam kegiatan tersebut, Kelompok Perempuan Joyosuran menyampaikan materi tentang Sampah dan Pengelolaanya.  Sharing berdasarkan pengalaman KPJ dalam pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemisahan, penjualan, sampai pemanfaatan limbah sampah untuk kerajinan yang memiliki nilai eonomis. Kegiatan dilaksanaan pada tanggal 8 Oktober 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Ada usulan yang baik seperti perlunya mekanisme pengelolaan sampah yang efektif misalnya penyediaan tempat penampungan, petugas pengambil sampah.

Sosialisasi tahap dua akan dilakukan di tiga group, dengan sasaran warga di bantaran Kali Jenes dan juga RT dan RW yang berkepentingan akan wilayahnya. Group 1 meliputi RW 3 dan RW 2 yang bertempat di pinggir Jembatan Tempen, pelaksanakan dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dihadiri 86 orang. Kegiatan sosialisasi yang kedua dilaksanakan pada 15 Oktober 2014 bertempat di pinggir Kali RW 04, dengan melibatkan partisipan 75 orang  yang terdiri dari RT dan RW wilayah RW 04 dan RW 11, warga bantaran kali di sebelah kiri dan kanan Kali Jenes. Sedangkan sosialisasi ketiga, di group tiga dilaksanaan pada 17 Oktober 2014 di perempatan Jembatan Kali Jenes di RW 12, melibatkan 80 orang peserta yang terdiri dari warga bantaran kali, kelompok perempuan, CSR, dan tokoh masyarakat.

Dinamika yang terbangun dalam kegiatan ini adalah peran aktif dari peserta yang diundang, mereka sangat antusias, bahkan mereka membuat tawaran terhadap sanksi sosial pada warga baik yang dari Joyosuran maupun yang di luar Joyosuran apabila membuang sampah ke kali. Ada kesepakatan bersama tentang pengelolaan tanaman pangan di pinggir Kali Jenes dengan penanaman tanaman sayuran yang bisa di manfaatkan oleh warga. Membutuhkan peran serta semua pihak untuk mewujudkan program pengelolaan sampah terpadu tanaman pangan dalam mendukung pengelolaan Kali Jenes di Kelurahan Joyosuran.

Mari bergandeng tangan untuk lingkungan sehat di Joyosuran !!!

(nocko alee/spekham/dok. photo : KPJ)

“BUKAN BETINA BIASA“

(relasi saling membutuhkan antara ternak dan yang memelihara ternak)

“Aku seekor kambing betina muda. Umurku 14 bulan, warna kulitku coklat keemasan. Aku bahagia karena aku telah melahirkan anak pertamaku dengan kelahiran normal dengan dibantu orang yang memeliharaku selama 6 bulan ini, namanya Ibu Yuli . Sekarang aku bahagia bisa merawat dan menyusui dengan sepenuh kasih. Aku berharap bisa membawa anak lelakiku di Posyambing (Pusat Pelayanan Kesehatan Kambing) Rukun Makmur, Desa Musuk, Boyolali. Aku merasa sempurna sebagai seekor kambing betina seutuhnya…..” Itu sepenggal hayalanku sebagai manusia dimana selama 6 bulan ini merawat kambing milik kelompok Rukun Makmur.

Kedatangan pertama kali

Pertama kali datang ke kandang milik Bu Yuli pada tanggal 29 April 2014 dengan kondisi bunting, kata pedagang yang mengantar (Bapak Sukoyo) tanpa dicek langsung oleh Bu Yuli sebagai penggaduh. “Makannya gampang dan minumnya (ngombor) juga mudah”, tutur Bu Yuli.

Siap ber-reproduksi

Kambing yang menurut penjualnya sudah bunting tersebut ternyata mengalami masa birahi lagi (siap kawin). Aku sempat terkejut karena selang dua minggu setelah dibeli, kambing sering mengembik dan menendang pinggiran kandang dengan tubuhnya. Karena tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang masa birahi kambing, saya menunggu suami saya untuk menceritakan yang terjadi pada kambing tersebut. Sore hari setelah suamiku di rumah, dia memberitahu kalau kambingnya birahi lagi. Beruntung, di kandang sudah ada kambing pejantan yang cukup baik kualitasnya, yang bisa dilihat dari ciri-ciri berikut : perawakan tinggi , kulitnya lentur. Membedakan kualitas kambing yang baik dan kurang baik aku peroleh dari kebiasaan dan menurut pengalaman banyak orang.

Nah, proses mengawinkannya tinggal mendekatkan saja mereka akan bereproduksi sendiri.  Selang sebulan kemudian, tepatnya awal bulan Mei, kambing sudah tidak bertingkah aneh-aneh lagi dan sekarang sikapnya semakin tenang, bulunya halus dan makannya semakin lahap. Menurut suamiku itu pertanda sudah bunting.

Inilah pakan kambing

Aku semakin perhatian dengan kondisi kesehatan kambing betinaku. Pagi, siang, dan sore saya kontrol makanannya. Yang biasanya tidak diberi bekatul, sekarang aku kasih bekatul karena bekatul mengandung banyak zat mineral. Selain itu juga setiap pagi diberi makan bekatul yang dicampur air hangat. Pakan-pakan dari dedaunan segar seperti lamtoro, kaliandra juga aku rajin berikan agar susu yang dihasilkan banyak.

Pada saat bunting 4 bulan, aku melihat semakin besar perutnya. Apakah kira-kira anaknya nanti satu atau dua? Asal jangan tiga, karena menurut teman-temanku di Kelompok, kalau tiga maka akan rumit perawatannya. Hal ini dikarenakan puting susunya hanya dua, sehingga satu anak harus memakai dot jika menyusui. Berdasarkan pengalaman  beberapa orang biasanya anak yang ketiga pertumbuhanya kurang maksimal karena tidak bisa menyusu langsung pada induknya.

Proses melahirkan

Lamanya kambing bunting sekitar 5 bulan. Menurut perkiraan suamiku, kambing akan beranak sekitar bulan akhir Agustus atau awal September. Aku juga berdebar-debar menunggu kelahiran anak kambing yang sudah aku pelihara selama 6 bulan ini. Aku selalu bertanya kepada tetangga maupun suami tentang bagaimana merawat dan menunggui kambing pada saat persalinan, ini pasti tidak mudah bagiku. Untungnya di pertemuan Kelompok Rukun Makmur bulan Agustus, aku dapat bertanya pada warga yang memiliki pemahaman dan ketrampilan memelihara ternak. Menurutnya kita harus tahu tanda-tanda kapan waktu kambing beranak. Tanda-tandanya seperti : Ketika menggembek, suaranya berbeda dari biasanya, terus dia sering tiduran dari pada berdiri, dan ada lender cairan putih di vaginanya.

Tanda-tanda ini sudah kelihatan pada awal bulan September. Suaranya berubah, sering tiduran, dan terakhir ada lendir bening di kemaluannya. Aku berperan layaknya bidan, aku menunggui beberapa menit tapi belum ada tanda–tanda, kemudian aku tinggal memasak dan mengurus anak dan suami, setelah sebelumnya aku jauhkan terlebih dahulu dari kambing-kambing lainnya. Di sekitar tempat beranak aku beri “larahan (daun kering) agar anaknya lahir di tempat yang aman dan bersih serta hangat.

Pada tanggal 2 September, kira kira jam 15.15 WIB, kambing sudah waktunya beranak. Dia terus mengembik lirih, dia berdiri dan duduk sering sekali, dan lendirnya semakin banyak. Pada waktu tepat jam 15.30 WIB, kaki kecilnya sudah kelihatan tetapi belum lahir-lahir. Aku bingung, apakah didiamkan saja atau ditarik? Pengalaman dari warga yang lain, waktu menunggu kelahiran dia menarik kaki anak kambing menggunakan kaos.  Aku lalu menyiapkan air hangat yang diberi garam, serta kaos untuk menarik. Kambing tersebut semakin kuat berkontraksi. Disaat seperti itu aku beranikan diri memegang kaki kambing yang baru kelihatan beberapa sentimeter, dan seiring kambing itu mengembik panjang dan aku menariknya dengan gemetar. Seketika terlihat bayi kambing masih terbungkus lendir putih dari kaki sampai kepalanya. Aku lihat, secara alami induk kambing spontan mendekati anaknya dan menjilati perlahan. Aku membantu membuka cairan di hidung dan matanya agar bisa bernafas. Ajaibnya, tidak kurang dari 3 menit kambing itu belajar berdiri dan mau berjalan, dan luar biasanya lagi anak kambing mencari punting susu ibunya dan perlahan meminum susu untuk pertama kalinya. Aku hanya tertegun melihat pengalaman menakjubkan selama 15 menit tadi. Aku masih menunggu apa akan ada bayi lahir setelah anak pertama? Tetapi sampai 15 menit tidak keluar lagi, berarti hanya ada satu bayi dengan warna coklat kehitaman, berat 2,7 kg dan panjang 45 cm.

Sehari, dua hari, kambing itu semakin tumbuh besar dan sudah bisa berlari-larian dan bermain dengan induk dan juga kambing lainnya. Dari pengalaman ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hewan ternak juga perlu diperhatikan. Tidak hanya dieksploitasi untuk mendapatkan laba saja, karena mereka juga makluk hidup. Terbersit dalam benakku untuk memberi nama anak kambing itu dan akan aku bawa dalam Posyambing bulan Oktober nanti untuk ditimbang dan diberi vitamin dan obat cacing, …hememmm kamu memang bukan kambing betina  biasa…

 

****Di tulis oleh Yuliati (Anggota Kelompok Perempuan Rukun Makmur)

edit oleh Noko alee (CO kelompok Perempuan  Rukun Makmur desa Musuk ) dan Nila Ayu (Manager Divisi Sustainable Livelihood SPEK HAM)

Suara Perempuan Joyosuran untuk Kali Jenes

Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Lingkungan Berperspektif Bencana

Sampah dan pengelolaanya masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di wilayah perkotaan padat penduduk. Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon yang termasuk sebagai wilayah padat penduduk juga merasakan dampak dari keberadaan sampah. Sampah menyebabkan tersumbatnya saluran pembuangan  limbah rumah tangga, yang sering mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Air yang seharusnya masuk saluran pembuangan menjadi tergenang di depan rumah warga, hal ini membuat warga tidak nyaman untuk beraktifitas.

Sejak tahun 2010, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) bersinergi dengan multi stakeholder di tingkat Kelurahan melakukan berbagai kegiatan untuk mengajak masyarakat untuk peduli terhadap persoalan lingkungan melalui gerakan bersama yang dinamai “Gerakan Cinta Bumi”. Gerakan ini mengajak keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik yang mudah diurai dengan non organik yang sulit diurai, selain itu pemilahan sampah juga dapat menambah ekonomi keluarga. Gerakan Cinta Bumi juga meliputi : memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk kegiatan tanaman pangan, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga,

Sejalan dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ), Pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Pemerintah Kelurahan Joyosuran merancang Program “Pengelolaan Kali Jenes”, dengan merevitalisasi Kali Jenes yang selama ini kotor oleh limbah, baik rumah tangga maupun industri kecil. Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta “Air minum di sekitar Kali Jenes mengandung bakteri e-colli, karena tingkat pencemaran Kali Jenes sudah sangat tinggi.

(http://www.solopos.com/2014/08/28/pencearan-air-di-solo-50-sumur-di-sekitar-kali-jenes-tercemar-limbah-530862).

Program pengelolaan Kali Jenes dicanangkan oleh Pemerintah Kelurahan pada tanggal 22 September 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Acara tersebut dihadiri oleh unsur masyarakat, LPMK, LSM, kelompok-kelompok masyarakat, dan CSR (Pabrik Batik, Konveksi, BUMN, Provider Telekomunikasi, dan Bank). Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kelurahan mengukuhkan dengan pembentukan Paguyuban Merawat Kali/Lepen dengan pengurus :

Ketua               : Bapak Sukarno Hendri

Wakil Ketua     : Elfian

Seketaris         : Nana Misdiati (KPJ), Triyono

Bendahara      : Atik Sri Martini (KPJ)

Pelaksana        : Dwi S (KPJ), F. Sulastri Admoyo (KPJ), perwakilan dari 12 RW

Tim Monev      : H. Umar Said (Perwakilan CSR)

                             Pemerintah Kelurahan bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Konsep pengelolaan Kali Jenes akan melibatkan seluruh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan kali. Sehingga semua warga, baik yang berada di pinggir kali maupun yang tidak, akan bertanggung jawab untuk memelihara kebersihannya. Dalam paparannya, Lurah Joyosuran Bapak Suwarno  menyampaikan bahwa program ini akan dilakukan mulai tahap jangka pendek, menengah dan panjang. Kegiatan akan dimulai dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan tentang pengelolaan sampah pada masyarakat luas. Kegiatan akan dijadwalkan pada awal Oktober 2014. KPJ memiliki peran yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tentang pengelolaan sampah yang dapat disinergikan dengan Gerakan Cinta Bumi.

Berbarengan dengan kegiatan sosialisasi, akan dilakukan pemasangan tong sampah di sepanjang Kali Jenes yang panjangnya 750 M, dengan kebutuhan tong sebanyak 60 buah. Ada komitmen dari CSR yang menjadi salah satu sumber pendanaan yang akan membiayai kegiatan ini, selain juga ada anggaran dari APBD Kota Surakarta tahun 2015. Selain melibatkan warga Joyosuran, pengelolaan Kali Jenes juga akan dikoordinasikan dengan wilayah yang berbatasan dengan Joyosuran yaitu  Kelurahan Dawung  dan kelurahan Pasar Kliwon.

Semoga hasil pemetaan partisipatif ini tidak hanya sekedar data dan temuan masalah, tetapi menjadi sumber-sumber perencanaan program, sehingga suara-suara perempuan bisa lebih didengar melalui program-program berperspektif gender, bencana  dan berbasis lingkungan.

Oleh Noko Alle (CO Divisi Sustanable Livelihood)

Photo : Joshua Intan

Hari Ini Sampah, Besok Emas…!!!

Tabungan Sampah “Sumber Rejeki” RW II, Kelurahan Kemlayan, Surakarta.

Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Sampah selalu menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi. Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan menjadi bukit sampah seperti yang sering kita lihat. Pendidikan dan kesadaran di bidang pengelolaan sampah kini semakin penting dari perspektif global dan manajemen sumber daya.

Pemilahan
Pemilahan Sampah

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Program-program pengelolaan sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Begitu juga kegiatan pengelolaan sampah yang dijalankan oleh komunitas perempuan di RW II Kelurahan Kemlayan, Solo. Bersama komunitas dampingan, SPEK HAM (Divisi Sustainable Livelihoods) di tanggal 14 September lalu melakukan program penimbangan sampah sebagai tabungan sampah, yang diharapkan mampu memberi dampak positif bagi lingkungan setempat. Program ini diberi nama tabungan sampah Sumber Rejeki.

Melalui kegiatan yang dilakukan, diaharapkan komunitas mampu melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang meliputi pemilahan sampah  ditingkat rumah tangga secara mandiri dan pemanfaatan sampah untuk peningkatan ekonomi komunitas. Program ini akan terus berlanjut setiap dua minggu sekali. Anggota yang mengikuti kegiatan program ini sebanyak 15 orang, yang terdiri dari komunitas perempuan RW II Kemlayan.

Adapun penggunaan uang hasil tabungan akan dimasukkan sebagai tambahan aset pra koperasi komunitas yang sudah ada. Program ini memiliki kepengurusan tersendiri dan memiliki pencatatan pembukuan yang terpisah dengan pembukuan yang ada. Adapun pembukuan yang dilakukan meliputi buku register anggota tabungan sampah, buku tabungan anggota, dan buku pencatatan jenis dan berat sampah anggota yang dikumpulkan.

“Melalui kegiatan tabungan sampah ini, anggota komunitas perempuan ini berharap supaya kampung kita lebih bersih, ibu-ibu juga mampu melakukan pemilahan sampah, dan  terlebih ini dapat membantu biaya belanja yang terkumpul dari tabungan sampah ini. Hasil penjualan pertama terkumpul Rp 70.000, diharapkan untuk kegiatan selanjutnya ibu-ibu akan lebih semangat dan tidak malas melakukannya kembali, karena ini merupakan kegiatan yang inspiratif” tegas ibu Ninuk (Pengurus tabungan sampah Sumber Rejeki).

(onie/photo : nuel/spekham.org)

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK TUMBUH & KEMBANG BAGI ANAK“

Sosialisasi hak-hak anak dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2014.

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK  UNTUK TUMBUH & KEMBANG  BAGI  ANAK“

Bulan Juli datang kembali, meski sebagian orang juga tidak peduli atau bahkan tidak mengingat, tetapi anak-anak di RW 03 Tempen Joyosuran ; seperti Agnes, Mayanda Sari, Putri dan Lia pada bertanya  “Mbak, apa tidak ada kegiatan lagi untuk anak-anak seperti tahun lalu ?” Sesaat saya berfikir, apakah kegiatan setahun lalu begitu berarti bagi mereka hingga mereka masih bisa mengingat dan merasakan akan arti dunia anak. Saya berfikir perlu untuk sekedar mengingatkan kepada masyarakat Joyosuran dan sekitarnya bahwa masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan hak-haknya, khususnya hak kesehatan dan pendidikanya.

Saya pun memulai melakukan lobi kepada Pengurus KLA, Bapak Budi, dan juga Pengurus PPT, Bapak Gito. Mereka menyetujui kegiatan yang saya usulkan yaitu sosialisasi hak anak. Bahwa anak memiliki hak untuk partisipasi dan berekspresi,  juga memberikan pengetahuan tentang hak-hak anak kepada para orang tua.

Langkah selanjutnya, kami bersama beberapa Pengurus Forum Anak Joyosuran (Forajos) berdikusi pada bulan Agustus 2014, dimana kami menyepakati ada 2 kegiatan untuk peringatan Hari Anak Nasional, yaitu pada hari Minggu, 31 Agustus dan 14 September 2014. Kegiatan tanggal 31 Agustus akan diisi dengan pelatihan dan workshop pengelolaan sampah menjadi barang kerajinan dan workshop/sosialisasi pengelolaan sampah. Sedangkan tanggal 14 September, kegiatan penjurian lomba kreatifitas berbahan limbah plastik, lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD, serta sosialisasi hak-hak anak yang akan mengundang narasumber dari KLA dan SPEK HAM.

Kegiatan tanggal 31 sudah berjalan dengan cukup menarik, meskipun antusias peserta kurang maksimal karena peserta hanya hadir 65%. Sedangkan untuk tanggal 14 September, peserta cukup banyak, hampir 80% undangan dating. Mereka merasakan bahwa kegiatan seperti ini cukup memberikan manfaat dan juga menginspirasi kepada anak-anak dan remaja. Isian materi Sosialisasi Hak Anak 4tentang pentingnya pemenuhan hak-hak anak juga cukup di respon positif, bahkan ada yang baru tahu ternyata orang tua harus memenuhi hak-hak anak. “Mbak acaranya sangat bermanfaat lho, tahun depan diadakan lagi ya?” begitu kata Bu Desi dari RW 04. Dalam kegiatan ini, selain ada respon dari Bapak Gito selaku Ketua PPT (Pos Pelayanan Terpadu) dan juga Ibu F Sulastri A selaku Ketua KPJ. Hadir sebagai  narasumber dari SPEK HAM,  mbak Nila Ayu Puspaningrum,  yang memperkuat pengetahuan ibu-ibu dan anak-anak  tentang hak-hak anak dan juga pemahaman para orang tua bahwa tempat tumbuh dan berkembang bagi anak adalah dalam keluarganya.

Setelah sosialisasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman hasil penjurian  tentang tulisan anak oleh Mas Nocko selaku community organizer di Joyosuran.

Semoga kegiatan ini bisa berlanjut dan respon masyarakat Joyosuran semakin banyak dan positif. Selaku Pengurus KLA dan Pendamping Forajos, kami ucapkan banyak terimaksih .

Sosialisasi Hak Anak 3Sosialisasi Hak Anak 2

Ditulis oleh Ekky Puji Lestari, Pengurus KLA dan Pendamping Forajos.

(edit : nocko/photo : onie/spekham.org)

“Warga Heboh Karena Banyak Wartawan. Ada Apa di Joyosuran?!”

Jam 10 tepat, iring-iringan tamu dari Parlemen Nasional Timor Leste tiba di Pasar Kabangan Solo. Setelah setengah jam kami menunggu, kemudian kami mengantar rombongan yang berjumlah 10 orang tersebut ke tujuan pertama yaitu Batik Merak Manis di Laweyan untuk melihat proses pembuatan batik, dari proses membatik sampai packing dan dipajang di show room. Selama proses berlangsung, sesekali terjadi dialog antara tamu studi banding dengan Bapak Heri, pengelola Batik Merak, tentang bagaimana usaha ini dibangun dan juga  perkembanganya. Kegiatan studi banding diakhiri dengan berbelanja di show room Merak Manis yang memajang baju dan perlengkapan rumah tangga dengan harga terjangkau.

Karena kami sudah di telpon oleh KPJ (Kelompok Perempuan Joyosuran) kalau Joyosuran sudah rame dan heboh (karena dari Babinsa, Wartawan Media, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan sudah datang) maka rombongan yang terdiri dari dua mobil berplat Jogjakarta itu langsung menuju Kelurahan Joyosuran yang berjarak sekitar 5 Km, atau kurang lebih 20 menit perjalanan. Pukul 10.45 WIB, rombongan tiba di Griya Lilin Joyosuran. Karena “Griya Lilin“ tidak terlalu luas maka kesannya penuh sekali, apa lagi tidak kurang dari 10 media cetak juga hadir dalam acara ini, juga perwakilan dari PKK Kecamatan Pasar kliwon, PKK Kelurahan Joyosuran dan Babinsa Pasar kliwon maka semakin rame acara kunjungan ini.

DSCN9509Diawali dengan ucapan selamat datang oleh Ibu F. Sulastri Admoyo selaku ketua KPJ, yang mennyampaikan tentang awal mulainya dibentuk KPJ sejak tahun 2009 lalu, sampai kegiatan-kegiatan program KPJ dari tahun 2012-2015 yang dihasilkan dari pemetaan yang dilakukan secara partisipatif, serta bagaimana peran KPJ dalam mengorganisir anggota  serta memfasilitasi temuan-temuan di komunitas, baik persoalan kesehatan, pendidikan dan hak dasar serta persoalan penguatan ekonomi perempuan sebagai penopang penghidupan di perkotaan. Setelah itu  dilanjutkan sharing pengalaman dari Divisi Ekonomi dari KPJ yang diwakili Ibu Ekky Puji Lestasi  selaku koordinator KPJPU (Kelompok Perempuan Joyosuran Punya Usaha) sekaligus pemilik usaha rumahan “Griya Lilin“, yang menceritakan awal usaha ini dirintis, suka dukanya, support dari Pemerintah serta bagaimana produk ini di pasarkan mulai dari dijual sendiri di kegiatan Kelurahan hingga saat ini sudah dipercaya mewakili Solo dan Jawa Tengah di event Pameran Pembangunan di PRPP Semarang setiap tahun. Saat ini sudah dua tahun berturut-turut mewakili Solo dalam pameran berskala Nasional di Jakarta dalam INACRAFF, tahun 2013 dan 2014.

DSCN9516

Pada sesi tanya jawab, perwakilan dari Timor Leste, Ibu Rosalinda, koordinator  rombongan bertanya bagaimana dengan permodalan, pemasaran, dan pelatihan kepada ibu-ibu serta bagaimana melibatkan tetangga untuk terlibat dalam kegiatan ini. Banyak kisah dan cerita inspiratif yang disampaikan kepada peserta, dari dicuekin teman dan tetangga pada awal usahanya, sebagai narasumber untuk mengajari ibu-ibu pejabat, sampai pengalaman mengikuti pameran di Jakarta di mana sangat banyak sekali kenangan manis dan pahit.

Kunjungan ini diakiri dengan foto bersama, wawancara dengan media serta beramah tamah sambil menikmati jajanan pasar produk dari Ibu-Ibu Joyosuran. Tidak lupa, semua tamu membeli produk dari Griya lilin untuk dijadikan oleh-oleh untuk teman dan juga keluarga. Kunjungan semacam ini sudah dua kali dilakukan, dimana sebelumnya para Walikota dari Monggolia datang pada bulan April lalu. Diharapkan kegiatan seperti ini mampu memberi inspirasi dan semangat kepada kelompok-kelompok perempuan yang menjadi mitra dampingan SPEK HAM, dan mendukung peran perempuan dan masyarakat dalam “Gerakan Cinta Bumi“. (nocko alle/spekham.org)

DSCN9519