Search for:

Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang Boyolali

Penyerahan Bantuan Modal Pra Koperasi Syariah oleh Ketua BAZNAS Boyolali kepada Ketua Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang/foto : Chika

Selama dua hari, SPEK-HAM bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyelenggarakan kegiatan dalam program Zakat Community Development (ZCD) yang bertajuk Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula bertempat di Dukuh Cluntang, Boyolali. Pelatihan yang diselenggarakan di rumah Bapak Qofar, ketua Pra Koperasi Miftahul Uula, tersebut dihadiri oleh pengurus pra koperasi, beberapa anggota SPEK-HAM, Baznas, dan warga Cluntang. Acara diisi oleh Jamal Yazid, Dewan Pengawas Syariah bersertifikasi di Kabupaten Boyolali.

Pra Koperasi Simpan Pinjam Syariah didirikan dengan prinsip-prinsip yang meringankan, dan tolong-menolong. Pra Koperasi Syariah menjawab kebutuhan adanya lembaga keuangan yang membantu kesejahteraan masyarakat dengan prinsip-prinsip syariah.  

Pada hari Selasa (28/1) disampaikan materi tentang pengenalan konsep pra koperasi syariah kepada para peserta. Menurut penjelasan Jamal Yazid yang akrab dipanggil Pak Jamal, salah satu kegiatan usaha yang bisa dilakukan oleh sebuah KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) adalah dalam bentuk simpanan dengan dua jenis imbalan yaitu tabungan atau wadiah (titipan) dan simpanan berjangka atau mudharabah (bagi hasil). Jenis usaha yang sering dilakukan adalah Murabahah (jual beli) dan Ijarah (jasa).

Selain pendalaman tentang konsep dan produk KSPP, dalam pelatihan ini para pengurus pra koperasi juga belajar tentang praktik tata cara pembukuan pra koperasi syariah. Materi disampaikan oleh Sri Sumarti dari Koperasi Mitra Sejahtera. Pra Koperasi yang berjalan mulai Oktober 2019 yang lalu saat ini sudah beranggotakan 50 orang. Dalam kegiatan tersebut, juga diserahkan bantuan modal pra koperasi sebesar 50 juta bagi 50 anggota yang masuk dalam kelompok masyarakat miskin. Bantuan diberikan secara simbolis dari Baznas ke pihak Pra Koperasi disaksikan oleh peserta pelatihan, Direktu Yayasan SPEK-HAM Rayahu Purwa dan Kepala Desa Cluntang Suryati yang saat itu menyempatkan diri untuk hadir. (Chika)

Launching CATAHU kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2019

Launching CATAHU 2019

Solo, Kamis (9/1/2020)  SPEK-HAM mengadakan Launching Catatan Tahunan(CATAHU) kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak selama tahun 2019.Manager Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat (PPKBM) SPEK-HAM Solo, Fitri Haryani  menjelaskan bahwa data Kasus kekerasan terhadap perempuan di wilayah Solo Raya yang dilaporkan sepanjang 2019 tercatat ada sebanyak 62 kasus. Jumlah itu naik sebesar 10% dari sebelumnya hanya 58 kasus.

Trend kasus kekerasan yang terjadi adalah kekerasan dalam Rumah  Tangga  (KDRT). Jumlah kasus KDRT di Solo Raya itu antara lain, Sukoharjo ada 19 kasus, Sragen 6 kasus, Solo 36 kasus, Karanganyar 23 kasus, Boyolali 3 kasus, Klaten 10 kasus dan Wonogiri 11 kasus. Dari data tersebut bahwa kekerasan terhadap Perempuan dan Anak ini seperti fenomena  gunung es, karena yang terlihat hanya puncaknya banyak kasus yang terjadi tapi hanya sedikit yang berani melapor. Kasus kekerasan seksual menjadi benar-benar sulit diberantas karena terdapat berbagai kelemahan. Seperti lemahnya penagakan hukum terhadap kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Oleh sebab itu ketika Data Bicara untuk segera Tegakkan Supremasi Hukum Undang Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

#LongLiveWomenStruggle #EndWomenViolence

(Madiha)

MENINGKATKAN PENDAPATAN PEREMPUAN, KELOMPOK RUKUN MAKMUR BOYOLALI OLAH SUSU SAPI MENJADI ICE CREAM

Kelompok Rukun Makmur, Boyolali

Hari ini, Sabtu 4 Januari 2020, tepat 7 tahun terbentuknya Kelompok Perempuan Rukun Makmur yang berlokasi di Desa Musuk, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali berdiri. Saat ini tidak kurang  dari 32 orang perempuan terlibat dalam kegiatan kelompok perempuan yang fokus pada pengembangan bidang peternakan dan pertanian ramah lingkungan. Bertepatan dengan hari ulang tahun kelompok, perayaan ditandai dengan peresmian Rumah Produksi Es Cream Rukun Makmur

Kelompok Rukun Makmur saat ini tengah mengembangkan produk olahan susu sapi, atas dukungan program dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Potensi susu sapi di Desa Musuk masih cukup banyak, 12 orang anggota Rukun Makmur memiliki sapi perah baik keberadaan sapi tersebut milik sendiri ataupun gaduhan. Karena harga susu yang cukup rendah yaitu Rp. 5000,00/ liter,maka berbagai ide muncul untuk mengolah susu menjadi bernilai ekonomis yang tinggi.

Gayung Bersambut, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali mendukung melalui pelatihan pengolahan susu dan memberikan stimulant program olahan susu berupa peralatan produksi dan rumah produksi. Lokasi produksi berada di rumah Ibu Tutik dukuh Pengkol RT 01 RW 01 Desa Musuk. Saat ini kelompok Rukun Makmur memproduksi ice cream dalam 3 varian, original dijual dengan harga Rp. 2000/ cup, untuk toping coklat / meses di jual dengan harga Rp. 2500/ cup sedangkan yang premium dengan toping varian rasa buah akan di jual Rp 3000 / cup.

Olahan susu sapi menjadi ice cream

Usaha olahan susu ini di harapkan menjadi terobosan yang baik untuk menopang peningkatan pendapatan perempuan anggota Rukun Makmur. Potensi ketersediaan bahan baku susu sapi, dan masih sedikitnya usaha sejenis di Desa Musuk menjadi peluang besar usaha ini berkembang. Point penting yaitu memetakan potensi desa dan menggali peluang kerjasama dari Pemerintah Daerah maupun pihak lain menjadi strategi peningkatan ekonomi pedesaan. (Noko/Nila)

BERBAGI BERKAH DARI BANK SAMPAH “Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019”

Salah satu Bank Sampah yang didampingi SPEK-HAM yaitu Bank Sampah Mayang RT 03 RW 06 Kelurahan Kestalan Surakarta melakukan aksi sosial tepat pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019 yang lalu. Murtiyanti, Ketua Bank Sampah Mayang menyampaikan bahwa aksi sosial tahun ini di prioritaskan bagi perempuan lansia dan perempuan kepala keluarga yang ada disekitar RT 03 RW 06 Kestalan.

Sumbangan untuk perempuan lansia

“Aksi kami tahun ini memberi sumbangan berupa uang tunai pada perempuan lansia dan kepala keluarga yang membutuhkan. Sumbangan tersebut berasal dari hasil penjualan sampah yang kami kumpulkan selama 1 tahun”, kata Murtiyanti.

Bentuk kegiatan sosial inilah yang menjadi perhatihan Lurah Kestalan Bapak Suyono saat menghadiri pertemuan Kelompok Perempuan Mayang beberapa waktu yang lalu. Hasil penjualan sampah tidak sepenuhnya dibagikan kepada anggota, bahwa sudah menjadi kesepakatan bersama jika sebagian hasil digunakan untuk sosial. “Kegiatan sosial ini yang menjadi penyemangat anggota Bank Sampah untuk mengumpulkan sampah setiap bulan. Dari sampah yang dipandang menjijikkan mereka ingin berbagi berkah”, ungkap Soepadmin atau yang akrab dipanggil Pakdhe selaku pendamping dari SPEK-HAM.

Kegiatan Sosial

“Setelah mengetahui situasi keadaan rumah ibu-ibu Kepala Keluarga yang dikunjungi sangat memprihatinkan, semoga ada perhatian dari Pemerintah untuk memberdayakan mereka”, harap Murtiyanti kepada Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Semoga aksi Bank Sampah Mayang Kestalan mampu menginspirasi Bank Sampah lain, bawa dari sampah bisa menjadi berkah. (Padmin/Nila)

Perempuan dan Kambing Betinanya (Cerita Posyandu Kambing Kelompok Sekar Putri)

Suasana saat Posyandu kambing

Perempuan berjalan, menuntun kambing-kambingnya. Senyum , kelegaan hati terpencar lewat senyum lebarnya . Suara embekan,   mengiringi langkah bak lagu-lagu riang puluhan ekor kambing berjalan berirama. 

RABU, 27  Maret 2019. Hampir di ujung bulan dengan agenda kegiatan di komunitas begitu padat.  Jika dua hari lalu berkegiatan dengan para perempuan lereng merapi dengan bunga mawarnya, maka hari ini datanglah waktu yang ditunggu-tunggu setelah penantian empat bulan yakni Posyandu Kambing (Posyambing). Posyambing adalah sebuah kegiatan yang sudah dilakukan sejak tahun 2015. Waktu itu yang meresmikan adalah Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Saat itu even yang menarik tersebut menjadi booming/viral di media karena publikasi yang gencar. Dan perkembangannya saat ini ada 175 kegiatan serupa dilakukan, yang semula hanya 76 kegiatan

Hal ini berpengaruh dalam penganggaran, kalau sebelumnya Posyambing bisa dilakukan empat kali di dua kelompok yang didampingi SPEK-HAM yaitu Kampung Sekar Putri dan Kampung Rukun Makmur sekarang hanya dilakukan dua kali dalam setahun, dikarenakan anggaran terbatas tetapi yang ingin mengakses meningkat. “Hampir 85%,” begitu kata team dari Puskeswan Kecamatan Mojosongo Boyolali setahun lalu

Pagi ini kegiatan dilakukan di Kelompok Perempuan Sekar Putri yang beralamat di Kampung Karanglo Selatan. Kegiatan ini dilakukan mulai jam 09.00 sampai jam 10.00 dengan jumlah kambing 26 ekor.  Karena ada empat anggota yang berhalangan hadir dan tidak bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. Padahal biasanya tidak kurang dari 38 ekor kambing terlibat dalam kegiatan monitoring kesehatan dan pengobatan secara berkala. Satu jam kemudian tim  Puskesmas Hewan (Puskeswan) pindah ke Kelompok Perempuan Rukun makmur yang masih berada di Desa Musuk tetapi beralamatkan di Kampung Pengkol dan bertempat di rumah Ibu Sri Surani.

Tidak kurang dari 32 kambing sudah menunggu di halaman dan siap diperiksa serta diukur berat badan dan panjangnya. Setelah itu kambing-kambing akan diberikan obat, vitamin, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sesuai dengan kebutuhannya masing-masing kambing .

Kegiatan ini sekilas hanya seperti biasa, ibu-ibu datang membawa kambing. Sebagian ibu-ibu ada yang menjadi petugas, pengkur berat badan dengan timbangan, pencatatan, pemberian PMT dan penyampaian hasil pemeriksan oleh tim Puskeswan. Masih seperti konsep lalu, belum banyak inovasi dan kreativitas bahkan cenderung menurun  karena promosi makanan kas lokal sudah tidak ada apalagi kesenian tradisional. Seakan hanya rutinitas untuk monitoring kesehatan kambing secara berkala. Padahal empat tahun lalu konsep Posyambing adalah salah satu kegiatan di kampung kambing. Rencananya Desa Musuk menjadi sentra peternakan kambing di tahun 2015. Karena banyak kendala , kurangnya dukungan maka program ini belum teresalisasi.

Bicara kambing dalam perspektif perempuan memang cukup menarik, ini bukan hanya soal memelihara kambing, gemuk lalu dijual. Tapi ini berbicara bagaimana perempuan memelihara kambing seperti mereka memperlakukan diri sendiri: dari kandang untuk tinggal yang belum layak, bagaimana kalau kambing sakit, kambing mau birahi dan akhirnya bunting. Bagaimana ketika kambing mau melahirkan, para peternak perempuan rela menunggu dan tidak beraktivitas di tempat jauh agar bisa memastkan kambing yang dipelihara lahiran dengan selamat.

Karena banyak kasus kematian kambing diakibatkan oleh keteledoran peternak laki-laki seperti mati tercekik tali pengikat, melahirkan anak-anaknya mati, karena terinjak-injak kambing yang lain saking tidak pekanya kalau ada kambing yang mau melahirkan. Berbeda dengan para peternak perempuan ini. Mereka selalu mengecek kebersihan kandang meski sederhana yang penting nyaman. Bagaimana makanan yang sudah disiapkan lalu ditiriskan. Kalau peternak laki-laki mengambil dari ladang basah langsung diberikan ke kambing.  Sehingga banyak yang sakit bahkan mati. Bagaimana kepekaan perempuan ketika kambingnya selama bunting sampai melahirkan bahkan pascamelahirkan. Ketelitian, rasa keibuan, tercurah dalam kegiatan beternak kambing ini, seperti yang diutarakan Ibu Komah “Ini dua kambing saya yang satu bunting tiga bulan yang satu baru birahi, akhirnya akan punya anak juga.”

Perempuan dan kambing-kambing betinanya

Ibu Komah adalah perempuan kepala keluarga dengan dua anak yang menjadi janda berbarengan dengan empat cucunya.  Suaminya lama tidak peduli/menelantarkan keluarga hampir 20 tahun. Setelah ikut menggaduh kambing kelompok bantuan dari dinas peternakan ini dia sangat telaten kelihatan dua kambingnya sehat, bulunya bagus dan sekarang sudah bunting, “Itulah kambing kalau dirawat dengan hati” kata Ibu Yulianti. 

Beda lagi dengan pengalaman Ibu Supadmi, perempuan single parent dengan cucu yang baru berusia enam bulan ini datang ke kegiatan Posyambing karena dia tidak memelihara kambing lagi.  Ia bercerita kalau dalam proses beternak kambing itu malu kalau kambingnya birahi, Sebagai seorang perempuan saya malu kalau harus mencarikan pejantan untuk betina saya,begitu kata Ibu Supadmi sambil menggendong cucunya. Hampir semua anggota Kelompok Rukun Makmur berbahagia melihat kambing-kambing bantuan dari dinas pada bunting dan sebagian sudah ada yang beranak-pinak. Tentunya kondisi ini membuat para peternak perempuan semakin bersemangat.  

Kondisi ini tentunya yang akan digunakan senjata advokasi kepada pemerintah Kabupaten Boyolali untuk mendorong program-program seperti pengadaan timbangan digital, penambahan bantuan ternak kambing serta penambahan kuantitas obat-obatan dan tim medis. Ini kemudian menjadi kebutuhan kegiatan monitoring kesehatan kambing secara berkala yang benar-benar mafaatnya dapat dirasakan oleh komuntas seperti yang di sampaikan Ibu Hartani, Ketua Kelompok Perempuan Sekar putri saat sambutan Kepala Puskeswan Mojosongo. Saya selaku pribadi atau selaku ketua kelompok sangat terbantu dengan adanya kegiatan pemeriksaan kesehatan ini dan semoga kami diprioritaskan untuk kegiatan.”  

Begitupun kata Ibu Sri Surani, Ketua Kelompok Rukun Makmur “Kami merasa terbantu begitu pun dengan ibu-ibu anggota rukun makmur, kambing kami menjadi sehat, bunting dan lahirannya lancar karena kesehatan terpantau.Di akhir acara kemudian mereka bersama melakukan evaluasi hasil pantau kesehatan dari petugas Puskeswan yang menyampaikan hasilnya di mana ada yang terkena penyakit gatal, peyakit kutu kaki, yang bunting hanya diberi vitamin dan diakhiri dengan ngeteh bersama.

Perempuan dan kambing, bak harmoni alam yang serasi. Kambing dipelihara dengan hati, dia akan melahirkan anak-anak yang akan menjadi sumber keuntungan bagi perempuan pedesaan sebagai penggerak ekonomi keluarga. (Noko Alee)  

Rakor SPEK-HAM dan BAZNAS : Perlu Strategi untuk Langka-Langkah Pendampingan

Rakor SPEK-HAM dan BAZNAS Boyolali terkait evaluasi kerja-kerja yang dilakukan selama ini dibuka dengan pemaparan kegiatan yang sudah dilakukan tentang pelatihan budidaya pertanian ramah lingkungan yang dilakukan pada 22 dan 24 Januari. Pelatihan tersebut diwadahi dalam sekolah tani.

Suasana Rapat SPEK-HAM dan BAZNAS Boyolali

Pendampingan yang dilakukan oleh SPEK-HAM memetakan lahan petani untuk budidaya bawang merah organik. Dilatarbelakangi harga tanah di Desa Cluntang harganya sudah mahal kemudian disepakati memakai lahan petani sebanyak 24 orang mempunyai lahan 1,1 hektar. Karena menurut pertimbangan sewa lahan tidak efektif.

Beberapa pendampingan tersebut adalah pelatihan pembuatan pupuk kompos dan produksi olahan mawar, sebab jumlah produksi masih perlu ditingkatkan. Ada beberapa jadwal di bulan februari di Desa Cluntang terkait program adalah pelatihan manajemen, administrasi pada budidaya bawang merah, pendataan lahan, pembuatan kompos.

Perlu Strategi dan Langkah-Langkah ke Depan

Jamal Yazid, Ketua BAZNAS Boyolali menanggapi, bahwa terkait pelatihan manajemen administrasi, dan penanaman apakah sudah ada demplot. Demplot atau Demonstration Plot adalah suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemontrasikan. Jamal kemudian menyarankan ada kajian dan pemantapan efisiensi penggunaan lahan.

Terkait pengolahan bunga mawar, menurut Jamal Yazid, perlu strategi dan langkah-langkah ke depan salah satunya bahwa untuk permintaan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bekerja sama dengan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) untuk melihat nilai kandungan dan manfaat apa yang terkandung supaya produk memenuhi standar dan memastikan kualitas produk. (Catharina,mahasiswa magang UNS)

Pelatihan Budidaya Tanaman Bawang Merah Ramah Lingkungan dan Cita-Cita Para Petani Mustahik

Suasana pelatihan budidaya Brambang oleh Baznas

Pagi di Dukuh Tutup, Desa Cluntang, Kecamatan Musuk cuaca mendung, kabut meyelimuti lereng Gunung Merapi sebelah timur, aktivitas warga desa seperti biasanya. Mereka  berangkat ke ladang yang berada di lereng-lereng gunung, di balik bukit dengan berjalan kaki. Sesekali melintas motor-motor yang mengangkut pupuk kandang.Perempuan-perempuan dengan bersemangat menuju ladang-ladang penuh sayuran menghijau berselimutkan udara dingin khas pegunungan

Senin 22 Januari 2019, agenda kegiatan adalah pelatihan budidaya bercocok tanaman yang ramah lingkungan, khususnya budidaya Bawang Merah (Brambang)  yang melibatkan 27 peserta yang terdiri dari petani muda, petani perempuan dan calon mentor sekolah tani. Kegiatan ini sebenarnya dilatarbelakangi dari keresahan warga tentang budi daya bawang merah yang sudah pernah dilakukan sebelumnya di mana harga dari hasil panen selalu menurun harganya. Apalagi dengan cuaca yang cukup ekstrem di Desa Cluntang sering kali menjadikan gagal panen. Belum lagi kalau Gunung Merapi mengalami erupsi maka kondisi petani sangat memprihatinkan dan terpuruk.

Seperti pada Lebaran Idul Fitri tahun 2017, dikarenakan adanya  erupsi Merapi maka petani melakukan panen awal dan bersamaan, khawatir akan kena abu panas. Kemudian harga di pasaran, bawang merah menjadi Rp.9.500/kg. Para tengkulak yang datang ke Desa Cluntang membeli dengan harga Rp. 9000 sampai Rp. 10.000 sedangkan petani sudah membuat perhitungan kalau harga perkilo minimal Rp. 12.500 petani baru bisa mendapatkan laba. Hingga akhirnya para petani yang didamping SPEK-HAM menginisiasi membuat gerakan beli hasil petani Cluntang kepada para pejabat pemerintahan dari kepala OPD, rumah sakit, dunia pendidikan. “Kami mempaking bawang merah satu kiloan dengan harga Rp. 16.000 disertai label branding brambang sehat,”ujar salah seorang petani.

Pelatihan yang dilaksanakan dua hari ini 22 dan 24 Januari 2019, melibatkan 27 peserta dengan narasumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, narasumber inspiratif dari Poktan Utomo Jayan Cepogo dan juga dari Baznas Boyolali. Dari tahapan-tahapan pelatihan, masing-masing narasumber menyampaiakan materi yang cukup menarik seperti dari Baznas Boyolali memaparkan bagaimana program Zakat Community Development (ZCD) ini harus dijalankan dan bisa membuat peningkatan pada masyarakat khususnya keluarga mustahik (penerima zakat). Bagaimana kekuatan masyarakat dibangun dengan potensi dan kearifan lokal khususnya pertanian yang lebih ramah lingkungan. Begitupun dari Dinas Pertanian yang di sampaikan Bapak Suwaldi bersama Bapak Bambang dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Musuk tahapan tentang bertani yang mudah dan menyenangkan.

Semua bahan bisa diperoleh di lingkungan sendiri seperti pupuk kandang, kompos, urin, serta kerja-kerja kelompok yang meringankan sehngga menjadi kegiatan pertanian yang menyenangan. “Karena Allah sudah memberikan tanah yan subur yang perlu diolah dengan baik,”begitu paparan narasumber dari Potan Utomo Jayan, Bapak Widodo yang memberikan pengalamannya dalam mengolah tanaman Brambang dengan organik, proses panjang sampai mendapatkan serifikasi organic, dan akhirnya saat ini mendapatkan pasar expor di Belanda dan supermarket-supermarket  di Indonesia .

Pertanian, kearifan, perempuan, pemuda adalah faktor penting dalam pelatihan dua hari ini. Pertanian di mata para pemuda itu harus dilakukan dengan bahagia. Jiwa muda yang masing bersemangat untuk membangun desanya melalui pertanian, bisa dilakukan mengolah area wisata pertanian dan diharapkan para pemuda mampu mengelaborasikan dengan ektor pertanian yang ramah lingkungan.

Dari hasil kerja keras satu tahun ini ada salah satu petani muda yang bernama Solikin akan mengikuti magang kerja di Jepang selama tiga tahun dan hal ini tentunya diharapkan menginspirasi pemuda di Dukuh Tutup Cluntang yang berjumlah 34 orang. Begitu pun dengan perempuan muda yang selama ini hanya menjadi orang kedua dalam hal mengolah lahan. Memutuskan hal-hal penting dalam hal pertanian, dengan pelatihan ini ada peningkatan ketrampilan bercocok tanam yang ramah lingkungan , mampu bertani secara mandiri baik di kebun, halaman serta mampu memanfatakan ruang-ruang kosong dengan lebih produktif. Dengan dukungan dari Baznas pusat maka mimpi dan harapan warga masyarakat di Desa Cluntang bersama pendampingan dari SPEK-HAM akan bisa terwujud

Pelatihan ini tidak hanya menjadi pengetahuan yang berlalu begitu saja. Banyak rencana tindak lanjut yang  sudah dirancang yakni membangun pertanian yang ramah lingkungan dengan dimplot tanaman Brambang sehat non pestisida. Dan juga pertanian ujicoba satu hektar dari para anggota sebagai bentuk komitmen tindak lanjut, serta mengadvokasi peran Gapoktan Desa Cluntang sebagai wadah resmi kelompok tani menjadi tujuan berikutnya.  Apapun rencana dan cita-cita, para petani mustahik berharap pertanian akan terus berjalan dengan menanam, memanen dan memanfaatkan kesuburan dari berkah Gunung Merapi. (Sunoko)

Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi dan Eksistensinya

Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi yang pada 17 Juli 2018 lalu telah mengantongi legalitas berupa Surat Keputusan (SK) Kelurahan Gilingan telah mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) yang diselenggarakan pada Nopember 2018. Proses pelibatan kelompok dalam kegiatan Murenbangkel yang didahului dengan Pra Musrenbangkel melalui berbagai tahapan.

Awalnya Kelompok Perempuan Srikandi yang bertempat di RT 02 RW 05 yang diketuai oleh Sulis, seorang pegiat, menyampaikan kepada Lurah setempat untuk beraudiensi. Setelah beberapa kali menghadap, dan didampingi oleh SPEK-HAM, bahwa kegiatan-kegiatan telah dilakukan oleh kelompok yakni setiap bulan sekali di tanggal 4, lalu kelompok mengundang Joko Partono, S.T, M.Si, Lurah Gilingan untuk hadir dalam pertemuan tersebut. Akhirnya Lurah Gilingan hadir pada pertemuan. Didukung oleh pernyataan Ketua RT 02, RW 05 bahwa Kelompok Perempuan Srikandi sudah banyak melakukan kegiatan di antaranya adalah Bank Sampah dan Pra Koperasi dan Kelompok Pembuatan Karak, akhirnya SK itu terbit.

Kelompok Perempuan Srikandi juga telah mengajukan perijinan Perusahaan Industri Rumah Tangga (PIRT) ke Dinas Kesehatan dan sudah pernah ditinjau, bahkan diberi masukan adanya pemisahan tempat awal pembuatan karak dan tempat penjemuran. Masukan dari dinas akh irnya menjadi pertimbangan sendri dan bahan pemikiran oleh kelompok untuk melaksanakannya. Kelompok juga telah mengajukan proposal alat pengering karak ke bala kota, waktu itu langsung menghadap Wali Kota, FX. Hadi Rudyatmo.

Awal Nopember 2018, Soepadmin, CO (Petugas Lapangan) SPEK-HAM yang mendampingi bersama ketua kelompok menghadap kembali Joko Partono agar dalam Musrenbangkel kelompok bisa dilibatkan secara partisipatif, dengan mengajukan kebutuhan-kebutuhan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh kelompok. Saat itu, Lurah menyarankan agar berkoordinasi dengan Ketua RW 05 dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Hal ini karena menurut Joko Partono, semua dana hibah melalui LPMK. Joko Partono juga menganjurkan agar kelompok sekalian mengisi formulir dengan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Ketua RW 05. Pengajuan formulir diisi oleh ketua kelompok sebagai data pengajuan di Musrenbangkel.[Soepadmin)