Petani Desa Cluntang Boyolali Panen Bawang Merah Ramah Lingkungan

Petani Cluntang Panen Bawang Merah Organik

Senin (24/02/2020), petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali panen bawang merah ramah lingkungan di kebun percontohan. Lahan seluas kurang lebih 150 m2 sejak 2,5 bulan yang lalu dijadikan percontohan budidaya bawang merah ramah lingkungan tanpa pupuk kimia dan pestisida kimia.

Bersama SPEK-HAM dan BAZNAS dalam program Zakat Community Development, petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang belajar tentang pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitar, petani belajar untuk menghemat biaya produksi pembelian pupuk dan pestisida.

Lahan seluas 150 m2 yang terletak di depan halaman rumah salah satu petani tersebut ditanami 35 kg bibit bawang merah. Kelompok membudidayakan dengan pengelolaan yang optimal sejak awal penanaman. Langkah-langkah penanaman yang dilakukan Kelompok Berkah Tani sebagai berikut:

  1. Sebelum memulai proses tanam, lahan dicangkul dan tambahkan campuran kompos didiamkan selama 3 hari dengan disempot fungisida alami. Bahan-bahan pembuatan fungisida alami sangat mudah didapat seperti: kunyit, bawang putih, temu lawak, temu ireng, sereh. Fungisida berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan busuk umbi. Setelah 3 hari, lahan ditanami bibit.
  2. Bibit yang akan ditanam dipastikan sudah cukup umur dan kering, sebelum ditanam, bibit dipotong dan di rendam kedalam campuran air dan bawang merah yang diblender untuk mencegah infeksi yang menyebabkan tidak bisa tumbuh.
  3. Jarak tanam juga diatur 15 cm x 15 cm supaya pertumbuhan tanaman baik.
  4. Penyempotan POC atau PGPR rutin dilakukan 3 hari sekali setelah daun tumbuh hingga usia 50 hari. Bahan pembuatan POC organic juga mudah didapat di sekitar seperti akar bambu, jantung pisang, rebung muda, air leri dan urin sapi. Penyemprotan dilakukan sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, supaya nutrisi efektif terserap dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.
  5. Untuk mencegah hama yang rentan pada tanaman bawang merah, petani membuat pestisida alami dengan bahan-bahan daun mindi, tembakau, jahe, cabai, gadung. Penyemprotan pestisida organik berfungsi untuk mencegah hama ulat yang rentan menyerang bawang merah. Penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali hingga usia 50 hari. Kenapa hanya hingga usia 50 hari ? Karena sebelum tanaman bawang merah usia 50 hari masih rentan terserang hama, sehingga penyemprotan harus intensif dilakukan.
Kegiatan memanen Bawang merah Organik

Setelah melewati masa tanam kurang lebih 70 hari, tanaman bawang merah yang dikembangkan siap dipanen. Hasil panen kali ini mencapai 90 kg. Cuaca menjadi salah satu kendala menurunnya hasil panen. Menurut penuturan Jumadi salah satu petani, meskipun dipelihara secara optimal jika cuaca kurang panas juga berdampak pada hasil panen yang kurang baik. “Pola pertanian organik ini bisa menginspirasi saya dan anggota yang lain dalam budidaya bawang merah yang murah. Cara bertanamnya juga mudah, hanya butuh ketelatenan” ujar Jumadi.  Hal baik yang didapat dari proses pembelajaran budidaya bawang merah di kebun percontohan menurut Mulyono Ketua Kelompok Berkah Tani, “Tanaman lebih tahan cuaca yang kurang baik. Hasilnya lebih padat umbinya dan tidak mudah busuk”.

Bahwa hasil panen belum bisa dikatakan ideal dengan perbandingan bibit dan hasil lebih dari 1 : 6. Namun ada hal luar biasa yang dirasakan oleh petani, umbi tidak ada yang busuk meskipun hujan dengan intensitas tinggi terus menerus mengguyur wilayah Cluntang. Tanaman juga kuat tidak menguning meskipun terkena embun atau kabut malam. Padahal biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah bisa dipastikan umbi membusuk dan gagal panen.

Minimnya ongkos produksi juga menjadi hal baik yang dapat diambil sebagai pembelajaran penting pada budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Petani mampu menekan biaya pembelian pupuk dan obat. Untuk mengelola kebun seluas 150 m2 hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 383.000,- untuk pembuatan pupuk dan pestisida organic. Petani Cluntang sudah membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan terbukti lebih tahan cuaca dan mampu menekan biaya produksi. (Nila-Manager Divisi SL)

Share This: