Search for:

Petani Desa Cluntang Boyolali Panen Bawang Merah Ramah Lingkungan

Petani Cluntang Panen Bawang Merah Organik

Senin (24/02/2020), petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali panen bawang merah ramah lingkungan di kebun percontohan. Lahan seluas kurang lebih 150 m2 sejak 2,5 bulan yang lalu dijadikan percontohan budidaya bawang merah ramah lingkungan tanpa pupuk kimia dan pestisida kimia.

Bersama SPEK-HAM dan BAZNAS dalam program Zakat Community Development, petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang belajar tentang pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitar, petani belajar untuk menghemat biaya produksi pembelian pupuk dan pestisida.

Lahan seluas 150 m2 yang terletak di depan halaman rumah salah satu petani tersebut ditanami 35 kg bibit bawang merah. Kelompok membudidayakan dengan pengelolaan yang optimal sejak awal penanaman. Langkah-langkah penanaman yang dilakukan Kelompok Berkah Tani sebagai berikut:

  1. Sebelum memulai proses tanam, lahan dicangkul dan tambahkan campuran kompos didiamkan selama 3 hari dengan disempot fungisida alami. Bahan-bahan pembuatan fungisida alami sangat mudah didapat seperti: kunyit, bawang putih, temu lawak, temu ireng, sereh. Fungisida berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan busuk umbi. Setelah 3 hari, lahan ditanami bibit.
  2. Bibit yang akan ditanam dipastikan sudah cukup umur dan kering, sebelum ditanam, bibit dipotong dan di rendam kedalam campuran air dan bawang merah yang diblender untuk mencegah infeksi yang menyebabkan tidak bisa tumbuh.
  3. Jarak tanam juga diatur 15 cm x 15 cm supaya pertumbuhan tanaman baik.
  4. Penyempotan POC atau PGPR rutin dilakukan 3 hari sekali setelah daun tumbuh hingga usia 50 hari. Bahan pembuatan POC organic juga mudah didapat di sekitar seperti akar bambu, jantung pisang, rebung muda, air leri dan urin sapi. Penyemprotan dilakukan sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, supaya nutrisi efektif terserap dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.
  5. Untuk mencegah hama yang rentan pada tanaman bawang merah, petani membuat pestisida alami dengan bahan-bahan daun mindi, tembakau, jahe, cabai, gadung. Penyemprotan pestisida organik berfungsi untuk mencegah hama ulat yang rentan menyerang bawang merah. Penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali hingga usia 50 hari. Kenapa hanya hingga usia 50 hari ? Karena sebelum tanaman bawang merah usia 50 hari masih rentan terserang hama, sehingga penyemprotan harus intensif dilakukan.
Kegiatan memanen Bawang merah Organik

Setelah melewati masa tanam kurang lebih 70 hari, tanaman bawang merah yang dikembangkan siap dipanen. Hasil panen kali ini mencapai 90 kg. Cuaca menjadi salah satu kendala menurunnya hasil panen. Menurut penuturan Jumadi salah satu petani, meskipun dipelihara secara optimal jika cuaca kurang panas juga berdampak pada hasil panen yang kurang baik. “Pola pertanian organik ini bisa menginspirasi saya dan anggota yang lain dalam budidaya bawang merah yang murah. Cara bertanamnya juga mudah, hanya butuh ketelatenan” ujar Jumadi.  Hal baik yang didapat dari proses pembelajaran budidaya bawang merah di kebun percontohan menurut Mulyono Ketua Kelompok Berkah Tani, “Tanaman lebih tahan cuaca yang kurang baik. Hasilnya lebih padat umbinya dan tidak mudah busuk”.

Bahwa hasil panen belum bisa dikatakan ideal dengan perbandingan bibit dan hasil lebih dari 1 : 6. Namun ada hal luar biasa yang dirasakan oleh petani, umbi tidak ada yang busuk meskipun hujan dengan intensitas tinggi terus menerus mengguyur wilayah Cluntang. Tanaman juga kuat tidak menguning meskipun terkena embun atau kabut malam. Padahal biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah bisa dipastikan umbi membusuk dan gagal panen.

Minimnya ongkos produksi juga menjadi hal baik yang dapat diambil sebagai pembelajaran penting pada budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Petani mampu menekan biaya pembelian pupuk dan obat. Untuk mengelola kebun seluas 150 m2 hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 383.000,- untuk pembuatan pupuk dan pestisida organic. Petani Cluntang sudah membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan terbukti lebih tahan cuaca dan mampu menekan biaya produksi. (Nila-Manager Divisi SL)

Pertemuan OPD Kabupaten Brebes Penyusunan Profil Kegiatan Investasi/Kajian Kawasan Atsiri Organik

Pertemuan SPEK-HAM bersama OPD Kabupaten Brebes

Berlatar belakang Brebes yang sangat dekat dengan kemiskinan dan itu juga ditemukan di wilayah Kecamatan Pamulihan. Waktu ke Kecamatan Wlahar maupun ke Pamulihan mesti dengan kondisi  menyeberang. Bahkan menurut cerita jika ada guru kalau ditempatkan pada wilayah tersebut selalu ingin pindah karena sulitnya medan yang dilalui. Melihat situasi tersebut kemudian ada keinginan untuk menulis dan membuat proposal untuk menangani blank spot area yaitu wilayah Pamulihan.  

Di Kabupaten Brebes ada tujuh wilayah perbatasan: Kabupaten Kuningan, Cilacap, Tegal, Banyumas, Kuningan,  Majalengka,  Ciamis, yang terdiri dari 17 kecamatan dan 5 kawedanan. “Brebes iakan jadi ajang internasional salah satunya Kecamatan Larangan akan dijadikan  agropolitan tetapi kemudian itu tidak direspon dengan baik oleh Pemerintah daerah/bupati. Pendekatan untuk meminimalisir kemiskinan sebenarnya dengan pengelolaan sumber daya yang ada dengan kearifan lokal yang ada,”ujar Rofik dari Baperlitbangda dalam pertemuan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Aula Kantor Baperlitbangda, Selasa (12/3).

SPEK-HAM dengan program Membangun Kawasan Atsiri Organic di Brebes Provinsi Jawa Tengah menyampaikan kepada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tersebut bahwa ke depan program ini akan menjadi eduwisata industri minyak atsiri dari hulu ke hilir. Sedangkan strategi implementasinya adalah kemitraan multipihak, kelompok sosiopreneurship dan penguasaan teknologi.

Dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan memiliki usul pengembangan kawasan ada di dualokasi dan masing-masing lokasi ada di wilayah utara. Pengembangan bisa di Brebes Selatan karena area yang luas dan sekarang juga tidak sedang ditanami. Sebagai contoh, di Kecamatan Bumiayu, dan Maribaya ada peternakan dan pertanian. Pihaknya juga mengusulkan bagaimana agar bisa menyentuh semua kecamatan di Brebes, dengan melakukan langkah konkrit membentuk kelompok/kader pemberdayaan seperti perempuan kepala keluarga di masing-masing kecamatan. “Kalau butuh data wilayah silahkan bisa berkoordinasi,”ujar narasumber dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan tersebut.  

Sedangkan narasumber dari Dispermasdes/pemberdayaan ekonomi  karena ada wilayah Kecamatan Larangan, Pamulihan, Wlahar, Cenang saat ini  ada program BUMDES bisa memperkuat masalah perdagangan misalnya untuk pemasarannya dan lain – lain. “Kalau ada kelompok-kelompok tani juga bisa diberdayakan,”ujarnya.

Suasana pertemuan SPEK-HAM dengan OPD

Menurut Endang Listiyani dari SPEK-HAM  kawasan yang akan dibangun adalah kawasan organik dan ini akan jadi jembatan Brebes yang full kimia. “Untuk 46ha itu baru rintisan kawasan, nah ke depannya butuh pengembangan dan kemudian bisa direspon masyarakat Brebes sendiri,”ujar Endang Listiyani. Menurutnya ini yang nanti bisa didiskusikan bersama peran yang bisa dilakukan bersama seperti apa. Kemajuan wilayah itu tidak terlepas dari kepemimpinan yang berpihak pada masyarakatnya serta mengawal program penangulangan kemiskinan. (red)

Perempuan di Kuncen Beralih dari Kimia menjadi Organik

Kuncen adalah Desa di sebelah Utara Kabupaten Klaten, dimana sektor pertanian menjadi penopang ekonomi masyarakatnya. Fasilitas pengairan cukup memadai dengan menggunakan irigasi teknis, meskipun ada sebagian kecil yang tadah hujan. Padi dan jagung menjadi komoditas unggulan di Desa Kuncen, disamping produksi emping melinjo, ternak puyuh yang banyak digeluti masyarakat sebagai sumber pendapatan rumah tangga.

Melimpahnya limbah ternak puyuh menjadi satu pemikiran bersama untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk organik. Pupuk sudah tentu dibutuhkan oleh petani untuk membantu meningkatkan produktivitas pertaniannya. Hari Sabtu tanggal 15 September yang lalu, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Desa Kuncen dan Kelompok Wanita Tani mengikuti praktik pengolahan pupuk organik di Rumah Bapak Sutiyono. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pelatihan pembuatan pupuk organik yang diawali pada 25 Agustus 2018 yang lalu. Pelatihan tersebut merupakan kerjasama antara SPEK-HAM, PT. Agri Kencana Persada, dan Pemerintah Desa Kuncen. Sudah ada sekitar 200 kg pupuk organik yang diolah dengan bahan yang sederhana seperti : kotoran burung puyuh, arang sekam/ serbuk gergaji, dolomit/ batu kapur, bakteri pengurai, dan sampah organik rumah tangga. Untuk bakteri pengurai penyediaannya dibantu oleh PT Agri Kencana Persada sebuah perusahaan yang memproduksi bakteri sebagai bahan pupuk organik dan kebutuhan industri besar lainnya.

Pembuatan pupuk organik ini terbilang mudah bagi perempuan. Seluruh bahan dicampur dengan rata dan ditutup dengan plastik. Setelah satu minggu dibalik, ditambah air dan ditutup kembali. Proses ini dilakukan setiap minggu, selanjutnya pupuk akan matang setelah 40 hari. Di dampingi oleh Priyo Jatmiko selaku konsultan dari PT Agri Kencana Persada dan Soepadmin, CO SPEK-HAM, setiap hari Sabtu KP3A dan KWT memproduksi kompos yang bahan-bahannya diperoleh dengan

Praktik membuat pupuk organik

swadaya anggota. Anggota yang datang membawa kotoran organik dari rumah masing-masing, ada yang membawa kotoran puyuh, sisa sayuran, bahkan -daunan kering. Ditanya akan digunakan untuk apa nanti hasilnya, Cobawati selaku pengurus KP3A mengatakan “Ya nanti kalau sudah jadi pupuknya akan dipakai memupuk tanamannya sendiri-sendiri”.

Berbeda dengan Cobawati, menurut Kristiyana yang penting adalah gerakan perempuan mengolah sampah. Menurut Bu Carik biasanyaperempuan setiap hari pasti menghasilkan sampah dari aktivitas memasak, ke pasar dan sebagainya. Paling tidak sampahnya sendiri diolah biar tidak mengganggu lingkungan.

Mereka belum berfikir hasil produksi kompos akan dijual. Fokusnya digunakan untuk pribadi masing-masing sambil mengamati hasilnya. Dibutuhkan waktu dan proses yang berkelanjutan untuk  merubah paradigma pertanian kimia ke pertanian organik. Saat ini sudah ada niat dan kemauan dari perempuan untuk memulai. Sunarsi (60 th) salah satu perempuan yang ingin belajar dan memulai. Sehari-hari beliau bekerja sebagai buruh tani, berangkat ke sawah mulai jam 06.00 hingga tengah hari. Tetapi setiap hari Sabtu beliau pasti menyempatkan diri untuk mengikuti praktik mengolah kompos. Sunarsi berangkat ke sawah lebih awal supaya jam 10.00 bisa ikut. Baginya kegiatan ini bisa menambah pengetahuan, yang selama ini tahunya dan biasa memakai pupuk kimia.

Nila Ayu – Manager Divisi Sustainable Livelihood

SEREH WANGI, SI RIMBUN PENINGKAT EKONOMI PETANI

Desa Buara dan desa tetangganya, Karangbandung merupakan 2 desa yang terletak di Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Untuk sampai ke dua desa tersebut harus melewati jalan berbatu dan berlobang. Jaraknya lumayan jauh dari pusat kabupaten, sekitar 30 km atau membutuhkan waktu hampir 1 jam perjalanan. Memasuki desa, kita disuguhi pemandangan bukit-bukit kecil yang hijau serta hamparan lahan yang sangat luas namun tandus dan gersang dikala musim kemarau. Ya, desa ini merupakan desa yang kering dan hanya bergantung pada air hujan.

Lahan di Buara sebelum ditanami sereh wangi
Lahan di Buara sebelum ditanami sereh wangi

Satu tahun yang lalu, sebelum adanya program pemberdayaan dari SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusian dan Hak Asasi Manusia), Buara dan Karangbandung memiliki lahan *mangkrak yang tidak termanfaatkan. Ketidaktahuan petani dan pemerintah desa untuk memanfaatkan lahan yang tidak produktif merupakan kendala utama. Selain itu, akses yang sulit menuju lahan menjadi alasan warga tidak mengelolanya. Informasi tentang tanaman-tanaman yang dapat dibudidayakan di lahan tidak produktif dan jauh dari sumber air belum mereka ketahui, sehingga lahan yang luasnya lebih dari 10 ha hanya ditanami semak belukar dan komoditas dengan harga jual yang murah, misalnya seperti jagung.

Kemitraan SPEK-HAM dengan pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi angin segar untuk peningkatan perekonomian petani di Brebes, khususnya di desa Buara dan Karangbandung. Petani di Buara dulunya hanya mengandalkan jagung sebagai komoditas utama mulai melirik sereh wangi sebagai tanaman yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian mereka, begitupun para petani di Karangbandung. Sereh wangi merupakan komoditas yang dipilih karena mudah dalam pemeliharaanya, cocok dengan iklim di Brebes, tahan terhadap cuaca panas, yang paling penting adalah tidak membutuhkan banyak air, cukup pada saat musim hujan saja. Selain itu, sereh wangi yang dapat ditumpangsari dengan tanaman lain menambah nilai plus dimata para petani

Selain bertujuan untuk meningkatkan pedapatan petani, bertanam sereh wangi juga mengajak petani mulai menggemburkan lahan dengan pertanian organik. Lahan tandus yang ada diolah dengan kompos sehingga menghasilkan tanah subur yang siap tanam. Kompos yang digunakan pada awal penanaman selain untuk memperbaiki unsur tanah juga sebagai langkah lain agar para petani mulai memanfaatkan kotoran ternak yang mereka miliki. Perlu diketahui bahwa di kedua desa terdapat banyak kotoran ternak yang belum termanfaatkan, karena sikap ‘’malas’’ petani dalam mengolah kotoran menjadi kompos. SPEK-HAM pun menjadi agen perubahan mindset para petani dalam penggunaan kotoran ternak ini, sejak adanya pendampingan SPEK-HAM banyak petani yang sudah mulai beralih menggunakan kompos daripada pupuk kimia.

Pupuk kimia masih digunakan dalam budidaya sereh wangi namun dengan jumlah yang sangat kecil, dan diberikan hanya 6 bulan sekali sebagai penyeimbang dan pelengkap dari unsur-unsur N, P, K yang terkandung dalam kompos. Budidaya sereh wangi di Buara dan Karangbandung sudah dimulai sejak akhir Desember 2015 dengan pembibitan, kemudian setelah 3-4 bulan akan dilakukan pemindahan sereh-sereh tersebut ke lahan yang lebih luas guna dikembangkan. Pada akhir bulan April ini, direncanakan akan dilakukan pengembangan pada lahan seluas ± 40 ha di kedua desa. Setelah dikembangkan, dapat dilakukan pemanenan sereh wangi setelah bulan ke 6, selanjutnya dapat dipanen dengan jarak waktu 3 bulan sekali. Pemanenan sereh wangi dilakukan dengan cara membabat daunnya saja, kemudian daun dikeringkan lalu disuling. Minyak atsiri hasil sulingan inilah yang nantinya dijual, harga saat ini untuk 1 kg minyak atsiri sereh wangi dihargai 150 ribu. Tanaman ini mampu bertahan selama 20 tahun dengan kondisi tidak mmerlukan air yang banyak dan terus menerus. Ini menjadi salah satu kekuatan lain yang dimiliki sereh wangi, mengingat Buara dan Karangbandung adalah desa dengan sistem pertanian tadah hujan dan sangat sulit mendapatkan air ketika musim kemarau.

Lahan yang mulanya gersang berubah menjadi hijau
Lahan yang mulanya gersang berubah menjadi hijau

Dengan adanya budidaya tanaman ini, lahan yang dulunya gersang, tandus dan rimbun dengan semak belukar berganti menjadi lahan yang hijau layaknya permadani yang menghampar luas. Salah satu manfaat lain dari sereh wangi adalah dapat mencegah terjadinya longsor karena ikatan antar akar tanaman ini. Hal ini sangat menggembirakan, karena lahan di Buara dan Karangbandung yang biasa disebut dengan ‘’pasiran’’ adalah lahan dengan ancaman longsor tinggi.

Banyak manfaat sereh wangi untuk kehidupan. Dengan gerakan yang dilakukan petani di dua desa ini diharapkan petani-petani lain di Brebes dan sekitarnya lebih aware dengan keadaan sekitar dan mencari pemecahan yang bukan hanya menyelamatkan lingkungan namun juga dapat mendatangkan keuntungan yang menyejahterahkan kehidupan mereka. (Amalia Astuti – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

*mangkrak: terbengkalai

Praktek Pembuatan Pupuk Kompos

Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Sore itu, puluhan perempuan dan laki-laki berkumpul di kantor Koperasi Ternak Sapi Rukun Makmur Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Ibu-ibu sibuk menggelar tikar, bapak-bapak sibuk membawa jerigen, angkong, sekop dan alat pertanian lainnya. Sore itu, pengurus dan anggota koperasi yang berjumlah 25 orang mengadakan kegiatan pelatihan membuat pupuk dan pakan dari dan untuk ternak sapi mereka. Ada 3 narasumber dari CV Agro Nusantara Klaten, hadir juga pengurus  Kelompok Perempuan Rukun Makmur dari Desa Musuk.

Pelatihan Pembuatan Pupuk
Pelatihan Pembuatan Pupuk

Kegiatan pelatihan dilakukan di halaman kantor yang cukup sejuk dan nyamanl. Kegiatan yang sudah dirancang selama dua minggu ini sebenarnya merupakan hasil ngobrol dengan para pengurus koperasi yang juga sedang dalam proses mengurus badan hukum. Berbagai persoalan muncul dari ternak sapi bantuan dari BPBD ini. Jumlah anggota koperasi sebanyak 142 orang, jumlah sapi 143 ekor betina, 72 ekor jantan, dengan totalnya 215 ekor. Mereka wajib membayar iuran pokok Rp 50.000 dan iuran wajib Rp 5.000 per bulan. Sapi-sapi tersebut baru sekitar 3 bulan dipelihara, tetapi persoalan bermunculan. Sulitnya mendapatkan pakan ijoan karena ladang kering memaksa mereka membeli pakan ijoan seharga Rp 15.000 – Rp 30.000 perhari untuk 3 ekor sapi. Untuk kebutuhan minum, mereka setiap hari membayar 1000 per satu ekor sapi, sedangkan untuk pakan tambahan selama 6 bulan ini masih disubsidi, mereka hanya mengganti Rp 10.000 per satu karung pakan (50 Kg). Kotoran sapi yang menumpuk serta urin sapi yang sudah tidak tertampung dan akirnya meluap sampai lahan pertanian di sebelah kandang juga menjadi persoalan tersendiri bagi para anggota koperasi ini.

Pelatihan siang hingga sore itu diawali dengan paparan bagaimana mengelola koperasi yang baik, bagaimana kerja-kerja pengurus juga mendukung program koperasi. Mereka masih sangat membutuhkan ketrampilan-ketrampilan dalam mengelola koperasi tersebut, baik pembukuan maupun mengelola anggota dan usaha. CO SPEK-HAM menyampaikan bahwa kedepan jika koperasi ini dikelola dengan baik, jujur dan transparan, maka koperasi ini akan menjadi besar di 3 tahun pertama, sehingga anggota sudah bisa merasakan manfaat berkoperasi.

Pada waktu team dari CV Agro Nusantara klaten yang terdiri dari Bapak Gunawan, Bapak Purwanto dan salah satu mitra dampingannya, bapak Purwadi yang mengelola ternak babi menyampaikan materi, para peserta sangat antusias. Pak Gun menggaris bawahi bahwa usaha ternak ini sangat menjanjikan karena itu harus dipelihara. Beberapa catatan dalam usaha ternak ini adalah pembuatan kandang yang kurang representative, pembuatan sanitasi pembuangan limbah yang masih campur antara kotoran dengan urin, genangan urin yang kurang lancar dan lain-lain.

Kunjungan Pengurus Kelompok Perempuan Rukun Makmur Desa Musuk Boyolali
Kunjungan Pengurus Kelompok Perempuan Rukun Makmur Desa Musuk Boyolali

Lebih lanjut disampaikan bahwa dari sapi-sapi yang dipelihara ini menghasilkan kotoran dan urin yang selama ini menjadi musibah, tetapi dengan niat, sedikit waktu dan tenaga serta ketrampilan yang tepat maka akan menjadi berkah yang melimpah, bahkan Pak Aliman bisa jamin kalau kotoran dan urin ini dikelola, maka akan bisa menutup biaya pakan ijoan maupun pakan tambahannya. Dengan produk-produk organi kramah lingkungan berupa berbagai mikrobatik yang berfungsi untuk mengurai gas metan, menimbulkan dampak meningkatkan nafsu makan. CV Agro Nusantara ini siap bermitra dan mendampingi koperasi tentunya dengan nilai sosial bisnis yang dikedepankan. Teori sudah disampaikan, kemudian masuk pada sesi tanya jawab. Banyak yang menyampaikan bagaimana pupuk ini bisa laku terjual kalau para anggota maupun warga balerante sudah terpenuhi pupuknya, juga bagaimana nanti kalau ada kebun percontohan di dekat kandang.

Praktek membuat aneka produk olahan dari kotoran ternak dan urin dimulai dengan membuat  pupuk organik dari kotoran sapi, setelah itu membuat pupuk dari urin sapi dan yang terakhir membuat pakan sapi fermentasi, dengan fermentasi penuh 21 hari dan dengan fermentasi cepat 3 jam dengan teknik silase. Setelah selesai pelatihan, karena sudah tidak sabar, mereka langsung memberikan hasil pakan fermentasi yang baru mereka buat. Meskipun belum sempurna proses fermentasinya, sapi-sapi itu habis melahab makanan tidak kurang dari 5 menit.

Peserta sangat antusias dan mengikuti pelatihan sampai selesai. Mereka berkomentar bahwa pelatihan yang dilakukan ini menarik, tidak seperti biasanya. Mereka bersepakat akan segera menindaklanjuti pelatihan ini dengan praktek yang sesungguhnya dan akan dijadwalkan setengah bulan kedepan atau paling lambat awal Desember. Melihat produksi kotoran yang begitu banyak setiap harinya yang selama tiga bulan ini menjadi persoalan yang sangat mengganggu, maka mereka harus berfikir kotoran ternak bukanlah musibah, tetapi akan menjadi berkah yang melimpah dan akan menjadi sumber pendapatan untuk kelompok/koperasi.

Ditulis oleh Noko Alee CO Divisi Sustainable Livelihood SPEK-HAM

Kemandirian dan Efisiensi Pertanian Kelompok Wanita Tani Kalibanteng

Pupuk sebagai bagian dari kebutuhan pertanian yang tidak bisa ditinggalkan cenderung mempengaruhi membengkak atau tidaknya biaya operasional yang harus dikeluarkan petani. Dari seluruh kebutuhan belanja modal, pupuk menghabiskan hingga 10% bahkan lebih dari total belanja. Tentu bukan angka yang kecil mengingat petani selalu “gali lubang tutup lubang” mencari modal. Ditambah ketidak-pastian harga saat panen, ini menambah beban petani. Bertani menjadi mata pencahariaan yang penuh resiko. Padahal soko guru ketahanan pangan bangsa itu ditopang oleh karya petani.

Melihat potensi pertanian dan juga resiko petani yang sama besarnya, SPEK-HAM Surakarta mengadakan pemberdayaan kelompok wanita tani di Dusun Kalibanteng, Desa Pamulihan, Kabupaten Brebes dengan tujuan mengurangi resiko, utamanya pada segi permodalan. Dengan platform ekonomi hijau atau GO GREEN. SPEK-HAM melalui Community Organizer-nya (selanjutnya disingkat CO) rutin mendampingi kelompok wanita tani Dusun Kalibanteng. Kelompok wanita tani ini dibimbing dan diarahkan untuk bertani dengan pola ramah lingkungan, antara lain dengan cara membuat pupuk organik padat, pupuk organik cair (selanjutnya disingkat POC), pestisida, insektisida buatan sendiri dengan bahan-bahan alami.

Pupuk buatan sendiri disamping ramah lingkungan, petani dapat menghemat modal dalam bercocok tanam. Khasiatnya pun tidak kalah dengan pupuk-pupuk yang dibeli di toko pertanian. Hal ini sesuai pengakuan salah satu anggota kelompok wanita tani, Ibu Cariwen, yang menghasilkan panen yang memuaskan dibanding tetangga sawah yang menanan dengan jenis yang sama. CO sempat menganalisis perbandingan harga pupuk organik cair buatan sendiri dengan pupuk yang dibeli.

Bahan Pembuatan POC
Bahan Pembuatan POC

Bahan-bahan di atas menghasilkan POC sebanyak 30 liter. Jika penggunaan POC per-tanki air sebanyak 200 ml (satu tangki dapat menampung hingga 19 liter air), maka 30 liter POC dapat digunakan untuk 150 tanki air. Jika luas tanam satu hektar itu dapat disiram 8 tanki air, maka 30 liter POC ini dapat digunakan hingga 18 kali penyiraman. Jika penggunaan seminggu sekali maka POC buatan sendiri ini dapat digunakan lebih dari 4 bulan.

Dilakukan perbandingkan antara POC dengan pupuk yang dibeli di toko pertanian, dalam hal ini CO membandingkan dengan pupuk kimia merk Mutiara yang dibeli seharga Rp 450.000,- untuk 500 kg atau setengah kuintal. Pupuk setengah kuintal ini dapat digunakan 3 kali untuk luasan area 1 hektar.

Berikut CO akan menyajikan perbandingan POC buatan sendiri dengan pupuk kimia:

Perbandingan POC buatan sendiri dengan pupuk kimia
Perbandingan POC buatan sendiri dengan pupuk kimia

Dilihat dari segi efisiensi, jelas POC jauh lebih efesien dibanding menggunakan pupuk kimia. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata sekali penggunaan: penggunaan pupuk kimia menghabiskan Rp 150.000,- sekali pakai, sedangkan penggunaan POC menghabiskan Rp 2.873,- sekali pakai. Dengan kualitas yang sama namun lebih murah, tentu POC buatan sendiri dapat menjadi andalan petani.

(Yunus Awaludin – CO Divisi Sustainable Livelihood Kabupaten Brebes/spekham.org)

Implementasi Pertanian Ramah Lingkungan di Brebes

IMPLEMENTASI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI BREBES

“PRAKTEK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK”

Praktek pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair ini merupakan kegiatan lapangan pendahuluan dalam program “Membangun Kepemimpinan Perempuan untuk Ekonomi Berkelanjutan Melalui Pertanian Ramah Lingkungan” kerjasama SPEK-HAM dengan HIVOS.  Empat Dusun yang disasar dalam kegiatan ini adalah : Dusun Cikorowok dan Dusun Buara di Desa Buara, Kecamatan  Larangan dan Dusun Kali Banteng dan Mingkrik di Desa Pamulihan, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Praktek pembuatan kompos ini nantinya akan menjadi salah satu sarana dalam pengembangan pertanian serta mewujudkan pertanian terpadu melalui pemanfaatan seluruh potensi alam dan daya dukung lahan sehingga mampu mengarahkan dunia pertanian di kedua Desa menuju kemandirian dan peningkatan produktifitas. Kegiatan praktek yang diutamakan untuk membangkitkan kemampuan perempuan petani di kedua Desa sehingga mampu memberikan motivasi bagi pengembangan kehidupan mereka.

Kegiatan pembuatan pupuk organik dilaksanakan di 4 lokasi yang berbeda. Pada hari Senin tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Cikrowok dan Dusun Buara, Desa Buara Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Sedangkan pada hari Selasa tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Mingkrik dan Dusun Kali Banteng, Desa Pamulihan Kecamatan Larangan Brebes. Melibatkan sekitar 20 peserta di masing-masing lokasi.

Stake holder yang berperan kali ini adalah Dinas Peternakan Kabupaten Brebes yang telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan pertanian terpadu, salah satunya proses pembuatan kompos.  Penggunaan teknologi mikroba yang telah dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes cukup mampu untuk menjadikan kondisi pertanian di wilayah Kabupaten Brebes mampu menjadi salah satu potensi yang dapat diandalkan.  Bantuan teknis dan sarana yang diberikan Dinas Peternakan Brebes dalam mendukung kegiatan ini sangat besar dan dapat memberikan indicator keseriusan stake holder dalam membangun wilayah.

Berikut ini proses pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah/kotoran ternak yang bisa diaplikasikan di wilayah lain.

Bahan dan Alat Pembuatan Pupuk Organik :

  1. Hasil samping peternakan (kotoran ternak sapi dan kambing)
  2. Serbuk gergaji
  3. Dedaunan
  4. Dolomite
  5. MA 11
  6. Tetes/molasses
  7. Air sumur
  8. Air kelapa
  9. Air cucian beras
  10. Cangkul
  11. Pengki
  12. Terpal
  13. Karung plastik
  14. Raffia
  15. Sprayer

Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  •  Air : 15 liter
  • MA 11 : 250 ml
  • Tetes : 500 ml
  • Ketiga bagan dicampur merata dan didiamkan selama 10 menit.
  1. Kotoran ternak (1.000kg), serbuk gergaji (50kg), daun kering/seresah (20kg), dan dolomite (20kg) dicampur merata di lokasi yang ternaungi.
  2. Campuran bahan padat tersebut kemudian disemprot cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 10 menit tadi dengan menggunakan spayer sambil dilakukan pengadukan sehingga terjadi pencampuran merata.
  3. Karena lokasi prosesing yang tidak ternaungi sempurna, maka dilakukan proses fermentasi dengan memasukkan bahan kompos tersebut dalam karung. Diperoleh sekitar 21 karung yang kemudian ditumpuk dihalaman petani yang ternaungi dan ditutup dengan plastik sampai rapat.
  4. Proses fermentasi dilakukan selama 3 (tiga) hari dan akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.

Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  • MA 11 : 100 ml
  • Tetes : 250 ml
  • Kedua bagan dicampur merata dan didiamkan selama 20-30 menit.
  1. Air leri (cucian beras) dan air kelapa sebanyak 20 liter dipersiapkan. Tidak menggunakan urine/cairan kandang karena petani tidak menyiapkan.
  2. Campuran bahan cair tersebut bersama dengan cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 20 – 30 menit tadi dan dimasukkan dalam wadah tertutup di botol-botol air kemasan dan didiamkan selama 3 (tiga) hari.
  3. Akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.
  4. Dosis pengenceran pupuk organik cair : air = 1 : 10.

 

(eka budhi sulistiyo/spekham.org)