Kelompok wanita tani Putri Mawar dampingan SPEK-HAM menerima kunjungan dari perwakilan perusahaan Mega Inovasi Produk (MIO) dan Organic Food Indonesia (OFI) pada hari Rabu, 8 Juni 2022. Kunjungan tersebut dalam rangka penjajakan potensi organik lokal yang ada di Desa Cluntang. Selain itu untuk mengetahui aneka produk yang telah dibuat dari produk olahan mawar. “Kami bermaksud untuk survei potensi produk yang bisa dikembangkan di jerman, serta melihat produksi yang sudah ada” tutur Kohf (55), salah satu perwakilan dari OFI.
MIO dan OFI merupakan anak perusahaan
salah satu pabrik yang ada di Jerman yang berfokus pada pengolahan hasil
pertanian organic dan diantaranya diolah
menjadi produk organic yang menyehatkan seperti vanilla, cocoa, dan lain
sebagainya. MIO dan OFI terkesan dengan produk olahan mawar yang diproduksi
oleh KWT Putri mawar, terlebih pada produk sirup mawar karena memiliki aroma
yang khas dan sangat eklusif di pasaran. “Selama
ini kami memasarkan produk pada pasar lokal, dengan menjual nilai-nilai
kesehatan yang ada pada produk olahan mawar” ungkap Sri Mulyani (46)
menjelaskan pemasaran produk.
Kelompok Putri Mawar dan Produk Olahan Mawar
Produk olahan mawar ini telah tersertifikasi halal dari MUI dan P-IRT sehingga dipastikan aman untuk dikonsumsi dan tentunya menyehatkan karena mengandung anti oksidan 70%. Produk olahan mawar dibuat dari petal bunga mawar khas lereng merapi dengan jenis Javanese rose serta diolah secara berkualitas menggunakan berbagai alat produksi seperti cabinet dryer dan spinner.
Produk olahan mawar dapat dibeli secara online maupun secara offline. Melalui kunjungan oleh MIO dan OFI diharapkan semakin mengenalkan produk olahan mawar khas Desa Cluntang pada pangsa pasar nasional dan internasional, sehingga mampu membawa angin segar pada usaha ekonomi perempuan. Tak dapat dipungkiri badai pandemi sangat berdampak pada ekonomi perempuan, salah satunya usaha produk olahan mawar. Mari terus mendorong usaha ekonomi produktif perempuan agar perempuan semakin kuat dan berdaya. (Muhammad Ta’aruf Huda- CO Divisi SL)
Senin (24/02/2020), petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali panen bawang merah ramah lingkungan di kebun percontohan. Lahan seluas kurang lebih 150 m2 sejak 2,5 bulan yang lalu dijadikan percontohan budidaya bawang merah ramah lingkungan tanpa pupuk kimia dan pestisida kimia.
Bersama SPEK-HAM dan BAZNAS dalam program Zakat Community Development, petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang belajar tentang pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitar, petani belajar untuk menghemat biaya produksi pembelian pupuk dan pestisida.
Lahan seluas 150 m2 yang terletak di depan halaman rumah salah satu petani tersebut ditanami 35 kg bibit bawang merah. Kelompok membudidayakan dengan pengelolaan yang optimal sejak awal penanaman. Langkah-langkah penanaman yang dilakukan Kelompok Berkah Tani sebagai berikut:
Sebelum memulai proses tanam, lahan dicangkul dan tambahkan campuran kompos didiamkan selama 3 hari dengan disempot fungisida alami. Bahan-bahan pembuatan fungisida alami sangat mudah didapat seperti: kunyit, bawang putih, temu lawak, temu ireng, sereh. Fungisida berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan busuk umbi. Setelah 3 hari, lahan ditanami bibit.
Bibit yang akan ditanam dipastikan sudah cukup umur dan kering, sebelum ditanam, bibit dipotong dan di rendam kedalam campuran air dan bawang merah yang diblender untuk mencegah infeksi yang menyebabkan tidak bisa tumbuh.
Jarak tanam juga diatur 15 cm x 15 cm supaya pertumbuhan tanaman baik.
Penyempotan POC atau PGPR rutin dilakukan 3 hari sekali setelah daun tumbuh hingga usia 50 hari. Bahan pembuatan POC organic juga mudah didapat di sekitar seperti akar bambu, jantung pisang, rebung muda, air leri dan urin sapi. Penyemprotan dilakukan sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, supaya nutrisi efektif terserap dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.
Untuk mencegah hama yang rentan pada tanaman bawang merah, petani membuat pestisida alami dengan bahan-bahan daun mindi, tembakau, jahe, cabai, gadung. Penyemprotan pestisida organik berfungsi untuk mencegah hama ulat yang rentan menyerang bawang merah. Penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali hingga usia 50 hari. Kenapa hanya hingga usia 50 hari ? Karena sebelum tanaman bawang merah usia 50 hari masih rentan terserang hama, sehingga penyemprotan harus intensif dilakukan.
Kegiatan memanen Bawang merah Organik
Setelah melewati masa tanam kurang lebih 70 hari, tanaman bawang merah yang dikembangkan siap dipanen. Hasil panen kali ini mencapai 90 kg. Cuaca menjadi salah satu kendala menurunnya hasil panen. Menurut penuturan Jumadi salah satu petani, meskipun dipelihara secara optimal jika cuaca kurang panas juga berdampak pada hasil panen yang kurang baik. “Pola pertanian organik ini bisa menginspirasi saya dan anggota yang lain dalam budidaya bawang merah yang murah. Cara bertanamnya juga mudah, hanya butuh ketelatenan” ujar Jumadi. Hal baik yang didapat dari proses pembelajaran budidaya bawang merah di kebun percontohan menurut Mulyono Ketua Kelompok Berkah Tani, “Tanaman lebih tahan cuaca yang kurang baik. Hasilnya lebih padat umbinya dan tidak mudah busuk”.
Bahwa hasil panen belum bisa dikatakan ideal dengan perbandingan bibit dan hasil lebih dari 1 : 6. Namun ada hal luar biasa yang dirasakan oleh petani, umbi tidak ada yang busuk meskipun hujan dengan intensitas tinggi terus menerus mengguyur wilayah Cluntang. Tanaman juga kuat tidak menguning meskipun terkena embun atau kabut malam. Padahal biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah bisa dipastikan umbi membusuk dan gagal panen.
Minimnya ongkos produksi juga menjadi hal baik yang dapat diambil sebagai pembelajaran penting pada budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Petani mampu menekan biaya pembelian pupuk dan obat. Untuk mengelola kebun seluas 150 m2 hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 383.000,- untuk pembuatan pupuk dan pestisida organic. Petani Cluntang sudah membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan terbukti lebih tahan cuaca dan mampu menekan biaya produksi. (Nila-Manager Divisi SL)
Jumini merupakan seorang perempuan yang berprofesi sebagai petani bawang merah di Dusun Tutup, Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Yang menjadi pembeda dengan petani-petani pada umumnya, dia menanam tanaman bawang merah tersebut tanpa menggunakan pupuk kimia. Beliau hanya menggunakan pupuk kompos dari bahan alami.
Ibu Jumini mulai menanam tanaman bawang merah tanpa bahan kimia dari tahun 2019, sejak adanya program dan pendampingan dari Yayasan SPEK-HAM dan BAZNAS yang masuk ke komunitas mereka. Terhitung sudah dua kali panen bawang merah tanpa menggunakan bahan kimia hingga saat ini. Dari yang awalnya hanya coba-coba dan untuk perbandingan dengan cara tanam lamanya yang masih menggunakan pupuk kimia.
Menurut penuturan beliau, hasil panen bawang merah yang didapat dengan menggunakan pupuk berbahan dasar organik non kimia lebih unggul kualitasnya jika dibandingkan dengan hasil panen dengan menggunakan pupuk kimia. “Kalau yang pakai ZA (kimia) itu hasilnya satu banding 3,yang non kimia ya sama. Tapi kualitasnya berbeda. Bedanya yang pakai no kimia lebih tahan lama. Umbinya lebih keras” tutur Ibu Jumini
Selain kualitas yang dihasilkan lebih unggul, biaya yang dikeluarkan untuk pupuk dan obat dengan menggunakan pupuk organik non kimia lebih hemat jika dibanding dengan menggunakan pupuk dan obat kimia. “ya lebih irit mbak, tidak perlu beli. Tinggal nyari bahan-bahan di kebun banyak, tambah Jumini
Bahan-bahan
yang digunakan untuk pupuk dan obat dalam penanaman non kimia memang diambil
dari bahan alami. Dan banyak ditemukan disekitar pemukiman. Bahan tersebut
diantaranya adalah, rebung (bambu muda), alang-alang, akar bambu, puteri malu,
toge, jantung pisang dan masih banyak lagi.
Bu
Jumini mulai mengenal pertanian tanpa menggunakan bahan kimia dari
pelatihan-pelathan yang dilakukan oleh yayasan SPEK-HAM. Pelatihan tersebut
mendatangkan narasumber yang sudah berhasil mengembangkan pertanian bawang merah
organik. Dari itu, Bu Jumini langsung termotivasi dan tertarik untuk menerapkan
apa yang dapat dari pelatihan ke dalam pertanian yang sedang dijalankan.
Hasil panen bawang merah
Menurut
Ibu Jumini, tidak ada kesulitan tersendiri dalam penanaman bawang merah dengan
menggunakan pupuk organik non kimia. Hanya membutuhkan kesabaran dan juga waktu
lebih dalam pengolahan pupuk yang memang berbeda dengan pupuk kimia di pasaran
yang bisa langsung digunakan.
Sebetulnya,
harga dipasaran untuk bawang merah organik tanpa pupuk kimia sama dengan bawang
merah pada umumnya. Karena pasar hanya melihat besar kecilnya ukuran bawang
merah. Namun, ada kepuasan tersendiri untuk petani bawang merah tanpa pupuk
kimia karena kualitas yang dihasilkan lebih unggul, bawang merah yang
dihasilkan lebih keras dan tahan lama, pohon bawang yang tumbuh lebih kuat
dengan cuaca, dan juga lebih hemat dalam pembiayaan pupuk dan obat.
Tugas Ibu Jumini di dalam pertanian adalah sebagai mitra dari suami tidak ada ketimpangan dalam pembagian tugas diantara kedua pihak. Semua mengambil peran yang besar didalam kegiatan pertanian yang dihasikan. Mulai dari penentuan jenis tanaman yang akan ditanam, penentuan jenis obat dan pupuk, sampai dengan penentuan pemasaran yang semua diputuskan bersama. (Mira- mahasiswa magang UNS)
“ Pertanian bawang merah ramah lingkungan, menjadi awal pembelajaran bagi petani Berkah Tani Desa Cluntang , Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali “
Lereng Merapi sebelah timur masih terlihat kokoh, menghijau dan hawa dingin hampir mendekati 20 derajad semakin menusuk tulang para penghuninya. Geliat semangat para penggerak pertanian di pagi hari terlihat ramai menyusuri jalan-jalan kecil desa, pematang ladang, jalan-jalan menuju bukit dengan membawa arit, tali pengikat. Pupuk kandang dipanggul oleh para lelaki. Di belakang berjalan para perempuan yang dengan semangat berjalan kaki dengan baju lengan panjang, sepatu boot, melangkah mantap menatap hamparan lahan pertanian. Di sanalah penghidupan dan kepulan asap dapur diharapkan, hasil-hasil petanian yang dihasilkan dari tangan, doa dan ucapan para perempuan.
Pada Maret 2019, melalui diskusi panjang oleh petani-petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup, Desa Cluntang serta diperkuat para mentor Sekolah Tani Tri karya Manunggal dari Rt Jelog, Gondang Tutup yang terdiri dai 10 orang maka disepakati, diikrarkan untuk melakukan kegiatan pertanian ramah lingkungan. Sistem pertanian lebih aman untuk lingkungan, lebih sehat dan menyehatkan tanah. Dengan melakukan serangkaian perawatan dan teknik budi daya pertanian ramah lingkungan berarti mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Di awal-awal tidak mudah menjelaskan tentang konsep ini, tetapi dengan pertemuan-pertemuan, penguatan dari dinas-dinas terkait, maka komitmen itu disepakati dan dituangkan dalam catatan bahwa anggota akan menyediakan lahan pertanian untuk praktik pertanian ramah lingkungan ini
Dari kesepakatan bersama 21 anggota yang tergabung dalam mustahik kelompok Berkah Tani, mereka menyepakati menyiapkan tanah-tanah mereka yang berkisar 300m sampai 750 m untuk praktik budi daya bawang merah ramah lingkungan. Kegiatan pun dimulai dengan pembuatan pupuk secara bersama-sama, PGPR untuk penguat dan penyubur tanah dan juga penyiapan bibit bawang merah unggul. Setiap petani akan mendapatkan 80 kg benih, yang akan ditanam di lahan masing-masing sesuai dengan tahapannya. Tetapi untuk pembelajaran ada praktik kebun bersama di kebun Bapak Jumadi dengan tiga teknik bertani yaitu dengan media tanah, polybag dan mulsa.
Tahapan-tahapan pertanian sudah diterapkan oleh para petani, baik mulai penyiapan pupuk kandang, fermentasi, penyiapan lahan, penanaman bibit, perawatan yang terdiri dari penyemprotan, penyiangan rumput dan juga penghilangan parasit atau kutu jika tanaman diserang kabut. Semua anggota sudah mendapatkan pengetahuan yang sama, dan eksekusi selanjutnya terkembali pada kemampuan, komitmen dan juga niat masing-masing anggota, sehingga hasilnya membutuhkan 75 sampai 80 hari akan terlihat
Kegiatan pertanian ini juga dibutuhkan dokumentasi yang baik. Semua kegiatan dari awal sampai panen, diharapkan pencatatannya juga dilakukan secara rutin baik meliputi data awal mustahik, perawatan yang dilakukan, temuan atau pengalaman menarik, sehingga setiap berkala bisa di jadikan analisa. Para mentor sekolah tani dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing 4 orang dengan melakukan monitoring di 7 sampai 8 mustahik sehingga perkembangan dari para mustahik tani ini bisa terdokumentasi dengn baik dalam bentuk catatan, foto maupun video.
Dalam kegiatan praktik pertanian ramah lingkungan ini juga tidak lepas dari peran para perempuan, istri maupun keluarga dari para mustahik. Mereka terlibat sejak menjadi peserta sekolah tani, praktik membuat pupuk, mempersiapkan lahan, merawat hingga panen tiba. Dari tangan-tangan peremuan serta doa-doa tulus keluarga praktik tanaman bawang merah inipun sampai tiba pada panen. Hari itu tepatnya pada saat idul fitri maupun setelah idul fitri, masing-masing petani mustahik melakukan panen di hari ke 75 maupun ke 80. Tentunya dengan alasan berbagai macam seperti kondisi bawang yang keburu diserang hama maupun serangan kera, atau dengan alasan kalau tanpa pupuk kimia maka diperlukan waktu lebih lama agar bawang merah lebih memiliki bobot.
Dari hasil pengalaman kami ada beberapa hal yang dicatat selama praktik ini dilakukan, antara lain penyiapan lahan yang tidak berbarengan berakibat pada hasil yang tidak sama karena terkait dengan bibit bawang merah yang tidak segera ditanam. Perawatan yang tidak kontinyu khususnya penyiangan rumput liar dan juga penyemprotan yang kurang konsisten antara petani satu dengan yang lain. Penyebab ketiga adalah perlakuan terhadap tanaman oleh beberapa petani, mereka yang intens setiap hari datang untuk melihat perkembangan tanaman tetapi ada beberapa petani yang kurang rutin. Kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh di luar desa berangkat pagi, pulang sore sehingga tanaman kurang terurus. Sedangka perempuan juga harus melihat dan merawat tanaman lainnya sehingga secara tenaga dan waktu tidak cukup.
Tetapi dari praktik yang berlangsung ini setidaknya ada pembelajaran baik dapat dirasakan dari hasil diskusi yang selama tiga bulan ini intens dilakukan. Pembelajaran untuk melakuka kegiatan pertanian dengan modal tidak hanya uang, lahan tetapi doa dan komitmen yang juga harus diucapkan. Yang kedua mereka belajar tentang bagaimana dalam kegiatan bertani harus di managemen dari modal, tenaga, pupuk, dihitung sehingga mereka bisa mengetahui untung dan rugi dalam bertani yang mengarah pada pertanian moderen. Ketiga adalah mereka memiliki pembelajaran bersama yang dihasilkan dari diskusi setiap tahapan bertani dan dilakukan analisa bersama. Analisa berguna sehingga ke depan bisa menjadi modul pembelajaran yang baik dan dari kegiatan ini setidaknya mereka juga punya hasil bawang yang lebih sehat.
Ke depan ini akan menjadi investasi kesehatan. Terkait hasil kiloan dari masing masing mustahik yang naik dari modal bibit 50 sampai 200 persen adalah bonus dari komitmen, kerja keras. Kegiatan ini tak lepas dari dukungan yang luar biasa dari SPEK-HAM selaku pendamping lapangan yang bermitra dengan BAZNAS melalui program Zakat Community Development (ZCD) yang akan menjadi pioneer petanian ramah lingkungan di Desa Cluntang. (noko alee)
‘Awalnya ragu.”Itulah sepenggal kalimat yang menggambarkan keraguan petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali beralih ke pertanian organik. Kebiasaan menggunakan pupuk kimia yang mudah ditemukan di pasaran, dan hasilnya banyak menjadi salah satu alasan kuat para petani.
Tiga bulan yang lalu bekerja sama dengan BAZNAS dan Dinas Pertanian Boyolali SPEK-HAM memulai mengajarkan pertanian organik pada 21 petani yang terwadahi dalam kelompok Berkah Tani. Bawang Merah organik menjadi salah satu komoditas unggulan.
Hari ini, Jumat (12/4) tiba saatnya petani panen. Ini adalah hasil ujicoba budidaya bawang merah organik di demplot. Mereka mengatakan hasilnya tidak mengecewakan dan nyaris sama dengan menggunakan pupuk kimia. “Pakai pupuk organik lebih tahan terhadap hujan dan tidak busuk. Dan yang pasti biayanya murah”, kata Lanjar.
Pertanian terpadu ramah lingkungan saat ini sedang digencarkan oleh SPEK-HAM di wilayah dampingan. Kondisi tanah yang semakin rusak dengan bahan-bahan kimia akan berdampak pada ketersediaan cadangan pangan masa depan. Belum lagi dampak kesehatan akibat paparan zat-zat kimia. Pertanian organik jauh lebih sehat dan murah karena semua bahan yang digunakan ada di sekitar. (nila)