Search for:

Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula Desa Cluntang: Kemanfaatannya Bagi Perempuan.

Angggota Pra Koperasi Miftahul Uula

Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula atau yang biasa dikenal dengan pra koperasi Miftahul Uula merupakan lembaga keuangan mikro yang didirikan pada 30 Oktober tahun 2019 atas inisiasi Yayasan SPEK-HAM Surakarta bekerjasama dengan BAZNAS RI melalui program Zakat Community Development (ZCD). Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula sudah memiliki dengan nomer Legalitas SK Desa No. 100/DS/02/XII/2019. Tujuan utama didirikannya lembaga keuangan mikro tersebut untuk menunjang perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat miskin di Desa Cluntang dengan memberikan jasa berupa simpan pinjam pembiayaan syariah.

Sejak pertama didirikan pada Desember 2019, Pra Koperasi tersebut bermodalkan Rp. 50.000.000, – yang merupakan dana hibah dari program ZCD Baznas. Anggotanya berjumlah 50 orang yang merupakan masyarakat Desa Cluntang yang tergabung dalam 4 kelompok dampingan program ZCD yaitu Kelompok bawang merah ramah lingkungan Berkah Tani, kelompok ternak kambing Tri Manunggal Sejahtera, Kelompok olahan bunga mawar Putri Mawar Cluntang, serta kelompok guru TPQ. Dalam praktiknya, Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula hingga saat ini telah melaksanakan ratusan transaksi baik simpan, pinjam, dan pembiayaan lainnya. Transaksi didominasi oleh pinjaman terutama untuk usaha pertanian dan peternakan setiap anggota. Setelah satu tahun berdiri, asset pra koperasi saat ini mengalami kenaikan sebesar 23, 4% dengan asset total Rp. 61.703.500, – per bulan Oktober 2020 dan anggotanya saat ini berjumlah 54 anggota. Peningkatan asset tersebut membuktikan bahwa masyarakat aktif memanfaatkan jasa simpan pinjam dan pembiayaan dari pra koperasi syariah Miftahul Uula terutama untuk membantu mengembangkan usaha pertanian, peternakan dan UMKM mereka.

Dari 54 anggota saat ini, sejumlah 22 anggota terdiri dari perempuan dan 5 diantaranya menjadi pengurus. Hal ini membuktikan bahwa pra koperasi memberikan akses dan manfaat kepada siapa saja termasuk perempuan-perempuan yang ada di Desa Cluntang. Adanya perempuan yang menjabat sebagai pengurus Pra Koperasi membuktikan jika perempuan di Desa Cluntang tidak hanya mengurusi ranah domestik, tetapi juga berdaya dengan memiliki akses pada ranah publik melalui Pra Koperasi di mana suara perempuan juga ikut andil dalam segala hal yang berkaitan dengan kemaslahatan pra koperasi Miftahul Uula. Sejatinya, Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula memiliki fungsi memperkuat ekonomi rumah tangga karena dapat memenuhi kebutuhan serta mempermudah akses permodalan usaha. Fungsi lain yang seringkali tidak nampak dari Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula yaitu mencegah kekerasan dalam rumah tangga terutama kepada perempuan. Kebanyakan konflik rumah tangga didasari oleh ketidakstabilan ekonomi. Maka dari itu pra koperasi menjadi wadah untuk mencegah konflik dan kekerasan dalam rumah tangga. Menurut salah satu anggota Pra Koperasi Miftahul Uula, contohnya ketika sedang tidak memiliki uang, biasanya suami akan marah-marah ke istri apabila istri meminta uang untuk digunakan memenuhi kebutuhan, dan kemudian terjadi perdebatan yang dapat berujung kepada kekerasan. Tetapi jika ada pra koperasi syariah tersebut, apabila suami sedang tidak memiliki uang, istri dapat meminjam dari pra koperasi Miftahul Uula sehingga dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga yang harus penuhi pada saat itu. Akhirnya konflik dan kekerasan dalam rumah tangga terutama terhadap perempuan dapat dicegah. Diharapkan dengan adanya Pra Koperasi Syari’ah Miftahul Uula tersebut nantinya semakin banyak masyarakat yang dapat dijangkau dan mendapat manfaatnya. (Ta’aruf Huda)

Petani Desa Cluntang Boyolali Panen Bawang Merah Ramah Lingkungan

Petani Cluntang Panen Bawang Merah Organik

Senin (24/02/2020), petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali panen bawang merah ramah lingkungan di kebun percontohan. Lahan seluas kurang lebih 150 m2 sejak 2,5 bulan yang lalu dijadikan percontohan budidaya bawang merah ramah lingkungan tanpa pupuk kimia dan pestisida kimia.

Bersama SPEK-HAM dan BAZNAS dalam program Zakat Community Development, petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang belajar tentang pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitar, petani belajar untuk menghemat biaya produksi pembelian pupuk dan pestisida.

Lahan seluas 150 m2 yang terletak di depan halaman rumah salah satu petani tersebut ditanami 35 kg bibit bawang merah. Kelompok membudidayakan dengan pengelolaan yang optimal sejak awal penanaman. Langkah-langkah penanaman yang dilakukan Kelompok Berkah Tani sebagai berikut:

  1. Sebelum memulai proses tanam, lahan dicangkul dan tambahkan campuran kompos didiamkan selama 3 hari dengan disempot fungisida alami. Bahan-bahan pembuatan fungisida alami sangat mudah didapat seperti: kunyit, bawang putih, temu lawak, temu ireng, sereh. Fungisida berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan busuk umbi. Setelah 3 hari, lahan ditanami bibit.
  2. Bibit yang akan ditanam dipastikan sudah cukup umur dan kering, sebelum ditanam, bibit dipotong dan di rendam kedalam campuran air dan bawang merah yang diblender untuk mencegah infeksi yang menyebabkan tidak bisa tumbuh.
  3. Jarak tanam juga diatur 15 cm x 15 cm supaya pertumbuhan tanaman baik.
  4. Penyempotan POC atau PGPR rutin dilakukan 3 hari sekali setelah daun tumbuh hingga usia 50 hari. Bahan pembuatan POC organic juga mudah didapat di sekitar seperti akar bambu, jantung pisang, rebung muda, air leri dan urin sapi. Penyemprotan dilakukan sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, supaya nutrisi efektif terserap dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.
  5. Untuk mencegah hama yang rentan pada tanaman bawang merah, petani membuat pestisida alami dengan bahan-bahan daun mindi, tembakau, jahe, cabai, gadung. Penyemprotan pestisida organik berfungsi untuk mencegah hama ulat yang rentan menyerang bawang merah. Penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali hingga usia 50 hari. Kenapa hanya hingga usia 50 hari ? Karena sebelum tanaman bawang merah usia 50 hari masih rentan terserang hama, sehingga penyemprotan harus intensif dilakukan.
Kegiatan memanen Bawang merah Organik

Setelah melewati masa tanam kurang lebih 70 hari, tanaman bawang merah yang dikembangkan siap dipanen. Hasil panen kali ini mencapai 90 kg. Cuaca menjadi salah satu kendala menurunnya hasil panen. Menurut penuturan Jumadi salah satu petani, meskipun dipelihara secara optimal jika cuaca kurang panas juga berdampak pada hasil panen yang kurang baik. “Pola pertanian organik ini bisa menginspirasi saya dan anggota yang lain dalam budidaya bawang merah yang murah. Cara bertanamnya juga mudah, hanya butuh ketelatenan” ujar Jumadi.  Hal baik yang didapat dari proses pembelajaran budidaya bawang merah di kebun percontohan menurut Mulyono Ketua Kelompok Berkah Tani, “Tanaman lebih tahan cuaca yang kurang baik. Hasilnya lebih padat umbinya dan tidak mudah busuk”.

Bahwa hasil panen belum bisa dikatakan ideal dengan perbandingan bibit dan hasil lebih dari 1 : 6. Namun ada hal luar biasa yang dirasakan oleh petani, umbi tidak ada yang busuk meskipun hujan dengan intensitas tinggi terus menerus mengguyur wilayah Cluntang. Tanaman juga kuat tidak menguning meskipun terkena embun atau kabut malam. Padahal biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah bisa dipastikan umbi membusuk dan gagal panen.

Minimnya ongkos produksi juga menjadi hal baik yang dapat diambil sebagai pembelajaran penting pada budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Petani mampu menekan biaya pembelian pupuk dan obat. Untuk mengelola kebun seluas 150 m2 hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 383.000,- untuk pembuatan pupuk dan pestisida organic. Petani Cluntang sudah membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan terbukti lebih tahan cuaca dan mampu menekan biaya produksi. (Nila-Manager Divisi SL)

JUMINI : POTRET PEREMPUAN MERAWAT ALAM MELALUI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI DESA CLUNTANG BOYOLALI

Jumini sedang menanam bawang merah bersama suami

Jumini merupakan seorang perempuan yang berprofesi sebagai petani bawang merah di Dusun Tutup, Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Yang menjadi pembeda dengan petani-petani pada umumnya, dia menanam tanaman bawang merah tersebut tanpa menggunakan pupuk kimia. Beliau hanya menggunakan pupuk kompos dari bahan alami.

Ibu Jumini mulai menanam tanaman bawang merah tanpa bahan kimia dari tahun 2019, sejak adanya program dan pendampingan dari Yayasan SPEK-HAM dan BAZNAS yang masuk ke komunitas mereka. Terhitung sudah dua kali panen bawang merah tanpa menggunakan bahan kimia hingga saat ini. Dari yang awalnya hanya coba-coba dan untuk perbandingan dengan cara tanam lamanya yang masih menggunakan pupuk kimia.

Menurut penuturan beliau, hasil panen bawang merah yang didapat dengan menggunakan pupuk berbahan dasar organik non kimia lebih unggul kualitasnya jika dibandingkan dengan hasil panen dengan menggunakan pupuk kimia.  “Kalau yang pakai ZA (kimia) itu hasilnya satu banding 3,yang non kimia ya sama. Tapi kualitasnya berbeda. Bedanya yang pakai no kimia lebih tahan lama. Umbinya lebih keras” tutur Ibu Jumini

Selain kualitas yang dihasilkan lebih unggul, biaya yang dikeluarkan untuk pupuk dan obat dengan menggunakan pupuk organik non kimia lebih hemat jika dibanding dengan menggunakan pupuk dan obat kimia. “ya lebih irit mbak, tidak perlu beli. Tinggal nyari bahan-bahan di kebun banyak, tambah Jumini

Bahan-bahan yang digunakan untuk pupuk dan obat dalam penanaman non kimia memang diambil dari bahan alami. Dan banyak ditemukan disekitar pemukiman. Bahan tersebut diantaranya adalah, rebung (bambu muda), alang-alang, akar bambu, puteri malu, toge, jantung pisang dan masih banyak lagi.

Bu Jumini mulai mengenal pertanian tanpa menggunakan bahan kimia dari pelatihan-pelathan yang dilakukan oleh yayasan SPEK-HAM. Pelatihan tersebut mendatangkan narasumber yang sudah berhasil mengembangkan pertanian bawang merah organik. Dari itu, Bu Jumini langsung termotivasi dan tertarik untuk menerapkan apa yang dapat dari pelatihan ke dalam pertanian yang sedang dijalankan.

Hasil panen bawang merah

Menurut Ibu Jumini, tidak ada kesulitan tersendiri dalam penanaman bawang merah dengan menggunakan pupuk organik non kimia. Hanya membutuhkan kesabaran dan juga waktu lebih dalam pengolahan pupuk yang memang berbeda dengan pupuk kimia di pasaran yang bisa langsung digunakan.

Sebetulnya, harga dipasaran untuk bawang merah organik tanpa pupuk kimia sama dengan bawang merah pada umumnya. Karena pasar hanya melihat besar kecilnya ukuran bawang merah. Namun, ada kepuasan tersendiri untuk petani bawang merah tanpa pupuk kimia karena kualitas yang dihasilkan lebih unggul, bawang merah yang dihasilkan lebih keras dan tahan lama, pohon bawang yang tumbuh lebih kuat dengan cuaca, dan juga lebih hemat dalam pembiayaan pupuk dan obat.

Tugas Ibu Jumini di dalam pertanian adalah sebagai mitra dari suami tidak ada ketimpangan dalam pembagian tugas diantara kedua pihak. Semua mengambil peran yang besar didalam kegiatan pertanian yang dihasikan. Mulai dari penentuan jenis tanaman yang akan ditanam, penentuan jenis obat dan pupuk, sampai dengan penentuan pemasaran yang semua diputuskan bersama. (Mira- mahasiswa magang UNS)

Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang Boyolali

Penyerahan Bantuan Modal Pra Koperasi Syariah oleh Ketua BAZNAS Boyolali kepada Ketua Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang/foto : Chika

Selama dua hari, SPEK-HAM bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyelenggarakan kegiatan dalam program Zakat Community Development (ZCD) yang bertajuk Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula bertempat di Dukuh Cluntang, Boyolali. Pelatihan yang diselenggarakan di rumah Bapak Qofar, ketua Pra Koperasi Miftahul Uula, tersebut dihadiri oleh pengurus pra koperasi, beberapa anggota SPEK-HAM, Baznas, dan warga Cluntang. Acara diisi oleh Jamal Yazid, Dewan Pengawas Syariah bersertifikasi di Kabupaten Boyolali.

Pra Koperasi Simpan Pinjam Syariah didirikan dengan prinsip-prinsip yang meringankan, dan tolong-menolong. Pra Koperasi Syariah menjawab kebutuhan adanya lembaga keuangan yang membantu kesejahteraan masyarakat dengan prinsip-prinsip syariah.  

Pada hari Selasa (28/1) disampaikan materi tentang pengenalan konsep pra koperasi syariah kepada para peserta. Menurut penjelasan Jamal Yazid yang akrab dipanggil Pak Jamal, salah satu kegiatan usaha yang bisa dilakukan oleh sebuah KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) adalah dalam bentuk simpanan dengan dua jenis imbalan yaitu tabungan atau wadiah (titipan) dan simpanan berjangka atau mudharabah (bagi hasil). Jenis usaha yang sering dilakukan adalah Murabahah (jual beli) dan Ijarah (jasa).

Selain pendalaman tentang konsep dan produk KSPP, dalam pelatihan ini para pengurus pra koperasi juga belajar tentang praktik tata cara pembukuan pra koperasi syariah. Materi disampaikan oleh Sri Sumarti dari Koperasi Mitra Sejahtera. Pra Koperasi yang berjalan mulai Oktober 2019 yang lalu saat ini sudah beranggotakan 50 orang. Dalam kegiatan tersebut, juga diserahkan bantuan modal pra koperasi sebesar 50 juta bagi 50 anggota yang masuk dalam kelompok masyarakat miskin. Bantuan diberikan secara simbolis dari Baznas ke pihak Pra Koperasi disaksikan oleh peserta pelatihan, Direktu Yayasan SPEK-HAM Rayahu Purwa dan Kepala Desa Cluntang Suryati yang saat itu menyempatkan diri untuk hadir. (Chika)

Rakor SPEK-HAM dan BAZNAS : Perlu Strategi untuk Langka-Langkah Pendampingan

Rakor SPEK-HAM dan BAZNAS Boyolali terkait evaluasi kerja-kerja yang dilakukan selama ini dibuka dengan pemaparan kegiatan yang sudah dilakukan tentang pelatihan budidaya pertanian ramah lingkungan yang dilakukan pada 22 dan 24 Januari. Pelatihan tersebut diwadahi dalam sekolah tani.

Suasana Rapat SPEK-HAM dan BAZNAS Boyolali

Pendampingan yang dilakukan oleh SPEK-HAM memetakan lahan petani untuk budidaya bawang merah organik. Dilatarbelakangi harga tanah di Desa Cluntang harganya sudah mahal kemudian disepakati memakai lahan petani sebanyak 24 orang mempunyai lahan 1,1 hektar. Karena menurut pertimbangan sewa lahan tidak efektif.

Beberapa pendampingan tersebut adalah pelatihan pembuatan pupuk kompos dan produksi olahan mawar, sebab jumlah produksi masih perlu ditingkatkan. Ada beberapa jadwal di bulan februari di Desa Cluntang terkait program adalah pelatihan manajemen, administrasi pada budidaya bawang merah, pendataan lahan, pembuatan kompos.

Perlu Strategi dan Langkah-Langkah ke Depan

Jamal Yazid, Ketua BAZNAS Boyolali menanggapi, bahwa terkait pelatihan manajemen administrasi, dan penanaman apakah sudah ada demplot. Demplot atau Demonstration Plot adalah suatu metode penyuluhan pertanian kepada petani, dengan cara membuat lahan percontohan, agar petani bisa melihat dan membuktikan terhadap objek yang didemontrasikan. Jamal kemudian menyarankan ada kajian dan pemantapan efisiensi penggunaan lahan.

Terkait pengolahan bunga mawar, menurut Jamal Yazid, perlu strategi dan langkah-langkah ke depan salah satunya bahwa untuk permintaan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) bekerja sama dengan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) untuk melihat nilai kandungan dan manfaat apa yang terkandung supaya produk memenuhi standar dan memastikan kualitas produk. (Catharina,mahasiswa magang UNS)