Search for:

Setelah SPEK-HAM Surakarta, Jokowi pun Melirik Kabupaten Brebes

Meski keduanya sama-sama berasal dari Surakarta, namun berangkat dari lembaga yang berbeda. SPEK-HAM datang dari NGO (Non Government Organization), sedang Jokowi datang dari lembaga pemerintah pusat (Kepresidenan).

11 April 2016, Presiden Jokowi datang ke desa Larangan, kecamatan Larangan, kabupaten Brebes dengan membawa harapan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Kecamatan ini sudah menjadi garapan SPEK-HAM Surakarta sejak tahun 2014 melalui Divisi Sustainable Livelihood, khususnya dusun Kalibanteng dan desa Pamulihan. Divisi ini menangani program pertanian ramah lingkungan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat petani, khususnya perempuan.

Projek yang diusung Presiden Jokowi di Brebes ini bertajuk Program Sinergitas Aksi untuk Ekonomi Rakyat. Ini bukan program pertama pemerintah pusat yang digarap di Brebes. bedanya program sekarang diluncurkan langsung oleh Presiden. Beberapa program dari pemerintah pusat sebelumnya antara lain: Quick Wins Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) pada 2013 yang difokuskan pada Kecamatan Bulakamba, Pengembangan Program Berkelanjutan (P2B) lalu diubah menjadi Program Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (PKKPM) pada 2015. Menurut Kasubid Pemerintahan Bappeda Kabupaten Brebes, Nurul Hidayat, seluruh program tersebut belum memberikan hasil menggembirakan dari sisi sinergitas dan konektifitas antar lembaga.[1] (Nurul Hidayat, 2016)

Tantangan

Secara garis besar, kabupaten Brebes menyumbang masyarakat miskin sebanyak 20% dari total pendududuk sekitar 1,7 juta jiwa. Angka ini masih berada di atas angka kemiskinan Jawa Tengah (13,58%) dan Nasional (11,96%).[2] Jika menelisik lebih jauh, dalam pendataan kemiskinan yang dilakukan BPS Kabupaten Brebes melalui PPLS (Program Perlindungan Sosial) tahun 2011, dari ranking 10 besar desa-desa penyumbang masyarakat miskin terbanyak di kabupaten Brebes, kecamatan Larangan mempunyai desa terbanyak dalam nominasi 10 besar. Yang masuk ranking 10 besar di kecamatan Larangan ini ada empat desa, yaitu: Pamulihan, Rengaspendawa, Slatri, dan Wlahar. Sedangkan 10 desa selain empat desa tersebut menyebar di berbagai kecamatan. Data PPLS tahun 2011 ini menyebutkan empat kategori kemiskinan, yaitu: RTM (Rumah Tangga Miskin), RTSM (Rumah Tangga Sangat Miskin), RTHM (Rumah Tangga Hampir Miskin), dan RTRM (Rumah Tangga Rentan Miskin).[3] Berikut adalah tabel ranking 10 besar:

No Desa Kecamatan RTSM RTM RTHM RTRM Total
1 Pamulihan Larangan 640 1.002 1.268 1.132 4.042
2 Rengaspendawa Larangan 554 604 979 1.279 3.416
3 Slatri Larangan 526 546 843 1.476 3.391
4 Bangsri Bulakamba 347 504 950 1.420 3.221
5 Buara Ketanggungan 267 556 1.028 1.284 3.135
6 Negla Losari 301 453 737 1.195 2.686
7 Kluwut Bulakamba 1170 553 476 333 2.532
8 Wlahar Larangan 535 604 755 594 2.488
9 Pesantunan Wanasari 592 502 652 725 2.471
10 Pasarbatang Brebes 364 444 691 966 2.465

Dengan melihat road map (gambaran) ini, maka tidak salah jika SPEK-HAM dan Presiden Jokowi datang ke kecamatan Larangan sebab menjadi kecamatan yang paling membutuhkan banyak intervensi.

Kecamatan Larangan: Potensi Demografis dan Geografis

Kecamatan Larangan mempunyai penduduk 140.017 jiwa. Ranking empat penduduk terbanyak se-kabupaten Brebes setelah kecamatan Bulakamba, kecamatan Brebes, dan kecamatan Wanasari (BPS, 2015). Usia produktif (15-54 tahun) di kecamatan ini sebanyak 82.210 jiwa (58,71%), usia pensiun (di atas 55 tahun) sebanyak 21.123 jiwa (15,09%), dan usia belum produktif (0-14 tahun) sebanyak 36.684 jiwa (26,20%).

Masyarakat kecamatan Larangan rata-rata bermata pencaharian menjadi petani atau buruh tani dengan jumlah sekitar 79,2% dari total beberapa jenis mata pencaharian masyarakat Larangan.

Mengenai luasan sawah di kecamatan Larangan, desa dengan kepemilikan sawah terluas dimiliki oleh desa Larangan (886 ha), sedangkan desa yang memiliki luas sawah paling sedikit adalah desa Kamal (298 ha). Jika dikaitkan data PPLS 2011, empat desa yang masuk dalam 10 besar itu mempunyai luas sawah: Pamulihan 835 ha, Rengaspendawa 561 ha, Slatri 837 ha, dan Wlahar 298 ha. Jika dibandingkan dengan jumlah petani dan buruh tani pada empat desa tersebut maka rata-rata petani dan buruh tani mendapatkan luas lahan sebagai berikut: Pamulihan @0,1 ha (1000 m2), Rengaspendawa @0,08 ha (800 m2), Slatri @0,11 ha (1100 m2), sedangkan di Wlahar @0,08 ha (800 m2). Pada umumnya, petani menggarap sawah minimal ¼ bau atau kurang lebih 0,175 ha atau 1750 m2.

Dari 11 desa yang ada di kecamatan Larangan, hanya desa Pamulihan, Wlahar dan Kamal yang tidak mempunyai irigasi teknis. Sistem pengairan lahan sawah di sana sekedar tadah hujan. Para petani di tiga desa ini hanya produktif saat musim hujan.

Intervensi

Sudah menjadi rumusan umum bahwa masalah kemiskinan itu berakar dari istilah “lingkaran setan” yang terdiri dari pendidikan-kesehatan-ekonomi. Ketiga hal ini saling berkaitan erat satu sama lain. Pendidikan tidak akan tercapai jika tidak ada biaya (ekonomi) dan kemampuan untuk belajar (kesehatan). Kesejahteraan (ekonomi) tidak akan tercapai jika pendidikan kurang mumpuni dan tidak mempunyai kemampuan bekerja (kesehatan). Begitu juga dengan kesehatan, tidak akan tercapai jika tidak mempunyai uang untuk berobat (ekonomi) atau tidak mempunyai pengetahuan terkait akses kesehatan gratis dan  tidak mengetahui jenis-jenis pelayanannya (pendidikan).

Bersama Bupati Brebes
Bersama Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti

SPEK-HAM melalui divisi Sustainable Livelihood sejak tahun 2014 sudah berusaha mengintervensi salah satu isu di atas, yaitu peningkatan ekonomi petani melalui pertanian ramah lingkungan khususnya perempuan pada salah satu desa 10 besar penyumbang masyarakat miskin, yaitu desa Pamulihan. Intervensi ini dilakukan di dua dusun, yaitu dusun Kalibanteng dan dusun Mingkrik.

Di dusun Kalibanteng SPEK-HAM membuat program pertanian pepaya ramah lingkungan dengan menghidupkan tanah-tanah yang tidak pernah digarap oleh petani. Sedang di Mingkrik juga membuat program yang sama, namun bertempat di pekarangan rumah dengan tujuan meningkatkan pendapatan petani. Seiring dengan perkembangan organisasi, SPEK-HAM akan berusaha menambah program lain yaitu pertanian serai wangi. Rencana akan digarap di dua desa di kecamatan Larangan: Pamulihan dan Wlahar. (Yunus Awaludin Zaman- CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

 

[1] Nurul Hidayat, Arti Kunjungan Jokowi ke Brebes, Suara Merdeka, 15 April 2016. Url: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/arti-kunjungan-jokowi-ke-brebes/

[2] Ibid.

[3] BPS Kabupaten Brebes, PPLS 2011, diolah

SEREH WANGI, SI RIMBUN PENINGKAT EKONOMI PETANI

Desa Buara dan desa tetangganya, Karangbandung merupakan 2 desa yang terletak di Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Untuk sampai ke dua desa tersebut harus melewati jalan berbatu dan berlobang. Jaraknya lumayan jauh dari pusat kabupaten, sekitar 30 km atau membutuhkan waktu hampir 1 jam perjalanan. Memasuki desa, kita disuguhi pemandangan bukit-bukit kecil yang hijau serta hamparan lahan yang sangat luas namun tandus dan gersang dikala musim kemarau. Ya, desa ini merupakan desa yang kering dan hanya bergantung pada air hujan.

Lahan di Buara sebelum ditanami sereh wangi
Lahan di Buara sebelum ditanami sereh wangi

Satu tahun yang lalu, sebelum adanya program pemberdayaan dari SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusian dan Hak Asasi Manusia), Buara dan Karangbandung memiliki lahan *mangkrak yang tidak termanfaatkan. Ketidaktahuan petani dan pemerintah desa untuk memanfaatkan lahan yang tidak produktif merupakan kendala utama. Selain itu, akses yang sulit menuju lahan menjadi alasan warga tidak mengelolanya. Informasi tentang tanaman-tanaman yang dapat dibudidayakan di lahan tidak produktif dan jauh dari sumber air belum mereka ketahui, sehingga lahan yang luasnya lebih dari 10 ha hanya ditanami semak belukar dan komoditas dengan harga jual yang murah, misalnya seperti jagung.

Kemitraan SPEK-HAM dengan pemerintah kabupaten, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi angin segar untuk peningkatan perekonomian petani di Brebes, khususnya di desa Buara dan Karangbandung. Petani di Buara dulunya hanya mengandalkan jagung sebagai komoditas utama mulai melirik sereh wangi sebagai tanaman yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian mereka, begitupun para petani di Karangbandung. Sereh wangi merupakan komoditas yang dipilih karena mudah dalam pemeliharaanya, cocok dengan iklim di Brebes, tahan terhadap cuaca panas, yang paling penting adalah tidak membutuhkan banyak air, cukup pada saat musim hujan saja. Selain itu, sereh wangi yang dapat ditumpangsari dengan tanaman lain menambah nilai plus dimata para petani

Selain bertujuan untuk meningkatkan pedapatan petani, bertanam sereh wangi juga mengajak petani mulai menggemburkan lahan dengan pertanian organik. Lahan tandus yang ada diolah dengan kompos sehingga menghasilkan tanah subur yang siap tanam. Kompos yang digunakan pada awal penanaman selain untuk memperbaiki unsur tanah juga sebagai langkah lain agar para petani mulai memanfaatkan kotoran ternak yang mereka miliki. Perlu diketahui bahwa di kedua desa terdapat banyak kotoran ternak yang belum termanfaatkan, karena sikap ‘’malas’’ petani dalam mengolah kotoran menjadi kompos. SPEK-HAM pun menjadi agen perubahan mindset para petani dalam penggunaan kotoran ternak ini, sejak adanya pendampingan SPEK-HAM banyak petani yang sudah mulai beralih menggunakan kompos daripada pupuk kimia.

Pupuk kimia masih digunakan dalam budidaya sereh wangi namun dengan jumlah yang sangat kecil, dan diberikan hanya 6 bulan sekali sebagai penyeimbang dan pelengkap dari unsur-unsur N, P, K yang terkandung dalam kompos. Budidaya sereh wangi di Buara dan Karangbandung sudah dimulai sejak akhir Desember 2015 dengan pembibitan, kemudian setelah 3-4 bulan akan dilakukan pemindahan sereh-sereh tersebut ke lahan yang lebih luas guna dikembangkan. Pada akhir bulan April ini, direncanakan akan dilakukan pengembangan pada lahan seluas ± 40 ha di kedua desa. Setelah dikembangkan, dapat dilakukan pemanenan sereh wangi setelah bulan ke 6, selanjutnya dapat dipanen dengan jarak waktu 3 bulan sekali. Pemanenan sereh wangi dilakukan dengan cara membabat daunnya saja, kemudian daun dikeringkan lalu disuling. Minyak atsiri hasil sulingan inilah yang nantinya dijual, harga saat ini untuk 1 kg minyak atsiri sereh wangi dihargai 150 ribu. Tanaman ini mampu bertahan selama 20 tahun dengan kondisi tidak mmerlukan air yang banyak dan terus menerus. Ini menjadi salah satu kekuatan lain yang dimiliki sereh wangi, mengingat Buara dan Karangbandung adalah desa dengan sistem pertanian tadah hujan dan sangat sulit mendapatkan air ketika musim kemarau.

Lahan yang mulanya gersang berubah menjadi hijau
Lahan yang mulanya gersang berubah menjadi hijau

Dengan adanya budidaya tanaman ini, lahan yang dulunya gersang, tandus dan rimbun dengan semak belukar berganti menjadi lahan yang hijau layaknya permadani yang menghampar luas. Salah satu manfaat lain dari sereh wangi adalah dapat mencegah terjadinya longsor karena ikatan antar akar tanaman ini. Hal ini sangat menggembirakan, karena lahan di Buara dan Karangbandung yang biasa disebut dengan ‘’pasiran’’ adalah lahan dengan ancaman longsor tinggi.

Banyak manfaat sereh wangi untuk kehidupan. Dengan gerakan yang dilakukan petani di dua desa ini diharapkan petani-petani lain di Brebes dan sekitarnya lebih aware dengan keadaan sekitar dan mencari pemecahan yang bukan hanya menyelamatkan lingkungan namun juga dapat mendatangkan keuntungan yang menyejahterahkan kehidupan mereka. (Amalia Astuti – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

*mangkrak: terbengkalai

Embung Mini

Embung Mini Kalibanteng: Langkah Awal Menghidupkan Tanah yang Mati Saat Kemarau

Dusun Kalibanteng merupakan salah satu dusun/pedukuhan dari tujuh dusun yang ada di Desa Pamulihan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Letaknya yang paling jauh dari pusat pemerintahan desa (sekitar 7 km) membuat dusun ini selalu “dianak-tirikan”. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kali mahasiswa UGM membuat program KKN di desa ini, namun tidak ada satu pun Posdaya ditempatkan di dusun ini. Ditambah letak geografisnya yang sulit ditempuh karena jalan penghubung desa sangat terjal dan dikelilingi sungai besar tanpa jembatan, padahal dengan menyeberang sungai ini akses jalan provinsi dapat dicapai lebih dekat. Jarak terdekat untuk menuju Kecamatan Larangan pun dapat dicapai melewati akses jalan provinsi.

Potensi pertanian Dusun Kalibanteng cukup besar. Lahan pertanian seluas 53 ha milik Pemerintah Desa Pamulihan seluruhnya terpusat dalam satu area sebelah selatan Dusun Kalibanteng ini. Lahan ini adalah sawah tadah hujan yang hanya produktif pada saat musim hujan. Pada musim kemarau, tanah bengkok milik Pemerintah Desa ini tidak ditanami apapun. Semenjak Yayasan SPEK-HAM Surakarta datang dan membuat program pemberdayaan masyarakat perempuan tani di Dusun Kalibanteng, tanah ini mulai produktif pada musim kemarau. Para perempuan tani berikut pasangannya berinisiatif membangun penampungan air/embung. Air yang ditampung berasal dari Sungai Pemali yang mengelilingi dusun tersebut, yang disedot menggunakan mesin diesel.

Alat Penyedot Air
Alat Penyedot Air

Embung mini ini dibuat melalui swadaya kelompok wanita tani beserta pasangannya untuk mengairi tanaman pepaya yang pada 13 Mei lalu mulai ditanam sebagai program lanjutan SPEK-HAM yang mengusung tema Go Organik. Dengan adanya embung ini semoga dapat memperlancar program yang diusung oleh SPEK-HAM dan merubah tradisi masyarakat petani dusun Kalibanteng yang tidak bertanam pada musim kemarau.

Oleh : Yunus Awaludin Zaman (CO Brebes)

Sulitnya Mencari Sumber Air di Desa Buara

Buara, sebuah Desa di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Secara geografis, Buara berada di ketinggian 50 M dari permukaan laut, dengan curah hujan 120 MM per tahun, dan suhu udara 27 C. Desa ini memiliki struktur tanah dataran rendah dan perbukitan.

Warga Buara sangat mengandalkan air hujan untuk pengairan lahan pertanian, karena sumber air sangat susah di Desa Buara. Ada sumur-sumur di area sawah, namun jika musim kemarau biasanya air sumur akan mengering. Ada bendungan Cisadap dan sungai Babakan yang mengalir di sekeliling Desa Buara. Bendungan dan sungai ini tidak untuk menghidupi warga Buara, melainkan untuk pengairan desa Baros, yaitu desa sebelah Buara.

Lubang Penampungan Air di Sungai
Lubang Penampungan Air di Sungai

Masyarakat Buara pada umumnya tidak memiliki sumur pribadi yang digunakan sebagai sumber air bersih, mereka biasa menggunakan sumur secara bersama-sama. Hal ini dikarenakan sumber air di Desa Buara memang sangat sulit didapatkan, walaupun desa ini dikelilingi oleh sungai-sungai dan bendungan. Banyak warga yang mandi dan mencuci di sungai. Jika musim kemarau tiba dan sungai mulai mengering, mereka membuat lubang-lubang di sungai. Lubang-lubang tersebut untuk menampung air yang digunakan untuk mandi dan mencuci. Tidak semua bagian sungai dibuat lubang-lubang, karena hanya dibagian-bagian tertentu saja yang dapat mengeluarkan air yang jernih.

Mencari Sumber Air
Mencari Sumber Air

Saat kemarau panjang melanda, warga membeli air dengan harga Rp. 500/derigen pada pemilik sumur yang sumurnya masih mengeluarkan air. Pernah ada salah satu warga yang membuat sumur hingga kedalaman 30 meter, namun belum juga keluar air. Rata-rata pada kedalaman 3-4 meter sudah ditemukan batu cadas. Seperti di Dusun Cikrowok, salah satu dusun di Desa Buara, saat musim kemarau, warga akan berebut air di sumur yang ada di sawah, dan warga pun harus ”sadar’’ dengan air yang diambilnya, karena tidak dapat mengambil air sebanyak mereka mau.

Pembuatan sumur di Buara biasanya dengan asal menggali saja, karena warga tidak punya, bahkan tidak tahu alat yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya sumber air. Di desa ini pun tidak ada ritual khusus saat pembuatan sumur.

Antisipasi ketika memasuki musim kemarau sudah dilakukan. KWT Cikrowok membuat sumur di depan rumah salah satu anggota. Pembuatan sumur ini dilakukan sebagai persiapan untuk budidaya jahe gajah organik. Sumur ini nantinya akan digunakan untuk pengairan 500 karung jahe gajah. Jenis tanaman jahe tidak tahan dengan air yang berlebih namun juga tidak bisa hidup jika kurang air. (Amalia – CO Sustainable Livelihood Kabupaten Brebes/edit – Nila Ayu)

Bertemu Ibu Bupati, Membangun Desa Mandiri

Desa Buara dan Pamulihan di Kabupaten Brebes menjadi desa pilot untuk pengembangan ekonomi petani perempuan melalui Program Pertanian Terpadu Ramah Lingkungan.

Program tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengangkat potensi lokal wilayah Brebes dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan. Program yang dilakukan SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) di Kabupaten Brebes ini telah berjalan lebih dari 6 bulan.

Upaya membangun keterpaduan dengan Program Pemerintah Kabupaten Brebes telah dilakukan, seperti pada hari Selasa, 28 April 2015 lalu, SPEK-HAM melakukan audiensi dengan Bupati Brebes. Disela-sela kesibukan beliau menerima tamu dari Propinsi Jawa Tengah, kami memaparkan tentang kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan untuk sayuran organik, pembuatan kompos, serta praktek pertanian dan peternakan terpadu untuk peningkatan ekonomi keluarga.

Tanaman Pekarangan
Tanaman Pekarangan

Sejalan dengan program Kabupaten Brebes “Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan” melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah, Bupati Brebes sangat menyambut baik dengan program SPEK-HAM yang dilakukan di Brebes. Beliau sangat mengapresiasi sekali. Beliau mengatakan akan mensinkronkan program SPEK-HAM dengan Dinas-dinas terkait agar dapat menjadi program bersama yang baik dan dapat memajukan Brebes. “Supaya kesejahteraan masyarakat meningkat dan Brebes tidak lagi menjadi Kabupaten miskin di Jawa Tengah,” ujar beliau menutup perbincangan singkat dengan SPEK-HAM di Kantor Bupati. Beliau juga sangat mendukung kegiatan yang akan dilakukan, yaitu budidaya pepaya california organik di Pamulihan dan budidaya jahe gajah organik di Buara. (Amalia – CO Sustainable Livelihood Kabupaten Brebes/edit – Nila Ayu)

Pembuatan Arang Sekam Desa Buara

Pembuatan Arang Sekam Desa Buara
Pembuatan Arang Sekam Desa Buara

Buara, Brebes. Ibu-ibu Desa Buara, khususnya Dusun Buara dan Dusun Cikrowok, dalam beberapa bulan terakhir ini memiliki keahlian tambahan yaitu membuat kompos dengan bahan baku kotoran sapi dan kotoran kambing. Selain diaplikasikan pada lahan pertanian dan tanaman pekarang, mereka juga sudah mampu menjual kompos ke BPP kecamatan Ketanggungan. ‘’Kami seneng mbak, bisa membuat kompos. Selain jadi lebih akrab dengan ibu-ibu lain, kami juga memperoleh penghasilan tambahan dari penjualan kompos ini, jadi lebih semangat’’ tutur seorang anggota kelompok. Pembuatan kompos yang didampingi oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes ini mereka belum menggunakan arang sekam, karena memang untuk membuat arang sekam dibutuhkan waktu yang cukup lama, harus selalu dibolak-balik dan tidak bisa ditinggal-tinggal.

Pembuatan Arang Sekam Desa Buara
Pembuatan Arang Sekam Desa Buara

Bekerjasama dengan PPL Pertanian dari BPP Kecamatan Ketanggungan, telah dilakukan pelatihan pembuatan arang sekam di 2 Dusun tersebut yang dilaksanakan pada  1 April 2015 di Dusun Cikrowok dan 13 April di Dusun Buara. Pembuatan arang sekam menggunakan alat sederhana dari 2 buah ‘’blik’’ yang ditumpuk dan diberi lubang-lubang. Dari 14 karung sekam dihasilkan 6 karung arang sekam yang digunakan untuk campuran pembuatan kompos. Pembuatan arang sekam ini dilakukan setiap hari secara bergantian. Setiap harinya ada 2 orang bertugas membuat arang sekam.

Manfaat arang sekam berguna untuk meningkatkan kapasitas porositas tanah. Arang sekam lebih baik dibandingkan dengan sekam padi, karena telah mengalami pembakaran yang dapat menghilangkan bibit penyakit yang terbawa dalam sekam padi. (Amalia Astuti – CO Brebes/spekham.org)

Kelompok Perempuan Buara dan Budidaya Kangkung

Buara-Brebes, Kamis 5 Maret 2015. Kelompok Petani Perempuan di Dusun Buara, Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes kembali melakukan kegiatan budidaya tanaman sayuran. Di kebun yang berukuran sekitar 100 meter persegi tersebut, mereka menanam bibit kangkung. Kegiatan penanaman kangkung ini merupakan kelanjutan dari kegiatan persemaian sebelumnya.

Ibu-ibu di Dusun Buara berinisiatif mengajukan kegiatan penananam kangkung kembali dengan alasan agar ketika kangkung yang ditanam sebelumnya sudah siap panen maka sudah ada lagi kangkung baru yang tumbuh. Sehingga, pemanenan selanjutnya tidak menunggu waktu yang lama.

Tanaman kangkung
Bertanam kangkung

Sistem penanaman dilakukan dengan menanam langsung pada bedengan yang telah dibuat garis lurus. Mereka meratakan tanah yang telah dibuat bedengan kemudian membuat garis lurus yang nantinya sebagai tempat peletakkan benih yang akan ditanam. Garis ini dibuat di samping tanaman kangkung sebelumnya. Para ibu berbagi tugas, ada yang membuat garis dengan arit, dan ibu yang lainnya menebar benih pada garis tersebut, lalu ada ibu yang menutup benih dengan tanah, begitu seterusnya.

Setelah penanaman kangkung, dilakukan pembangunan atap dengan menggunakan paranet dan kayu, hal ini dilakukan karena banyak kangkung yang mati atau roboh karena intensitas hujan yang tinggi. Hasil dari tanaman sayuran pekarangan tersebut akan dijual ke pasar dan pedangan sayur keliling yang mengambil sayuran dari Dusun Buara. (Amalia-CO Brebes/spekham.org)