Search for:

Mendesak, Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Masyarakat

Suasana FGD Pemetaan Persoalan Kesehatan Masyarakat Kota Surakarta

Demikian yang mengemuka dalam Focus Gruop Discusion (FGD) Pemetaan Persoalan Kesehatan Reproduksi yang digelar SPEK-HAM pada Senin 6/9 bertempat di sebuah restoran di Kota Solo.

Dikatakan Selfi Rawung Kabid Pemberdayaan Perempuan Dinas PPPAPM Kota Surakarta, bahwa salah satu persoalan dasar remaja saat ini adalah komunikasi dan edukasi. Menurutnya orang tua sering abai dalam menjalin relasi yang erat dengan anak-anaknya. “Saat di rumah masing-masing orang memegang HP, rumah menjadi sepi, sibuk sendiri-sendiri, kontrol terhadap HP milik anak pun jarang dilakukan, “ungkap Selfi.

Persoalan lain yang muncul adalah masih di temukannya kasus Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Surakarta. Disampaikan Yuni dari Dinas Kesehatan ada 3 kasus AKI pada tahun 2021 ini. 2 diantaranya diakibatkan karena Covid-19. Sementara itu ditemukan pula sejumlah 47 kasus kehamilan pada remaja. Oleh karena itu sosialisasi persoalan kesehatan reproduksi bagi semua lapisan masyarakat mendesak dilakukan. 

Tak kalah mencengangkan adalah data kasus perkawinan anak, disampaikan Fitri Haryani, Koordinator Penanganan Kasus SPEK-HAM, angka perkawinan anak di Kota Surakarta dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Tahun 2018: 42 kasus, 2019: 70 kasus, 2020: 143 kasus dan 2021 sampai dengan bulan Agustus: 104 kasus. Menurut Fitri pandemi Covid-19 saat ini berkontribusi dalam naiknya kasus tersebut, selain itu faktor penyalahgunaan internet dan media sosial pada remaja dapat memicu terjadinya seks bebas dan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).  

Sumilir Wijayanti dari Bappeda Surakarta menyoroti tentang isu kesehatan reproduksi perempuan yang belum menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan pada masing-masing OPD. Menurutnya isu ini, masih kalah seksi dengan penanganan pandemi Covid-19. Oleh karena itu pihak terus mendorong adanya internalisasi dari masing-masing pihak terkait agar kesehatan reproduksi bisa menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan. Sebagai informasi FGD Pemetaan Persoalan Kesehatan Reproduksi Perempuan ini didukung oleh GF For Women dan diikuti oleh 20 orang peserta yang terdiri dari Dinkes, DPPPAPM, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Bappeda, Dinas Pendidikan, Puskesmas Sangkrah, Sibela, Ngoresan, Gajahan, Duta Genre, PKK Kota Surakarta, Yayasan Kakak, Talitakum dan Paralegal Surakarta. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.

Bu Bidan: Seksualitas Bukan Hal yang Tabu

Bidan Desa menyampaikan Informasi HKSR

Demikian disampaikan narasumber Mufidati Ikrimah selaku bidan desa Tlogorandu dalam kegiatan Diskusi Interaktif Remaja dengan Tema: Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) pada minggu 26/7 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Dijelaskan Mufida tentang pentingnya remaja memahami Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi secara benar. Misalnya dengan memahami fungsi organ reproduksi perempuan dan laki-laki, memahami tahapan masa pubertas dan akses layanan kespro remaja di Puskesmas.

“Sudah saatnya remaja harus paham seksualitas, bagian dan fungsi organ reproduksi secara benar serta tidak menganggap seksualitas sebagai hal yang tabu”, terang Mufi. Dia berharap dengan semakin banyaknya remaja teredukasi tentang Kespro remaja maka kasus perkawinan anak, KTD dan kehamilan pada remaja bisa ditekan seminimal mungkin.

Pejabat lurah Tlogorandu MS Yulianto, SH menyambut baik kegiatan ini. Dia berharap agar remaja bisa semakin aktif berkegiatan dan saling berbagi informasi kesehatan reproduksi. “Saya mendukung penuh kegiatan semacam ini dan berharap agar remaja semakin aktif berkegiatan sehingga peran-peran remaja dapat terlihat”, ungkap Yuli.

Beberapa peserta mengaku senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Dita misalnya merasa terbantu dengan kegiatan ini karena bisa mendapat informasi kespro yang benar. “Selama ini kan banyak remaja mengakses informasi yang salah dan ini bisa menjerumuskan mereka pada pergaulan bebas”, ungkap. Dia berharap semakin banyak remaja yang memahami Kespro, maka mereka bisa bergaul bersama teman sebayanya dengan penuh tanggungjawab.

Senada Nur Qumarrudin juga menyampaikan bahwa saat ini banyak remaja yg tidak peduli dengan kondisi lingkungannya, kurang bersosialisasi dan hampir tidak pernah mengakses informasi tentang kesehatan reproduksi. Hal ini menurutnya bisa mendorong terjadinya KTD, kehamilan remaja dan perkawinan anak.

Diskusi yang terselenggara atas kerjasama SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia dan Karangtaruna Tlogobakoh ini diikuti oleh 20 orang peserta dan merupakan kali ketiga dilakukan, 2 sebelumnya dilakukan secara on line menggunakan media zoom meeting. Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

Dr. Sundari : Pendidikan Kesehatan Reproduksi Penting Bagi Remaja

Dr. Sundari di depan para kader kesehatan peserta pertemuan dan FGD lintas komunitas

Dr. Sundari, Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten dalam pertemuan dan diskusi lintas komunitas kader kesehatan yang dihelat oleh SPEK-HAM dan IPAS di Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terintegrasi (PEKERTi), Kamis (25/4) mengatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki masalah panjang dan yang mnejadi primadonanya adalahterkait usia produktif di Indonesia Emas 2030. Angka ini luar biasa dan di Kabupaten Klaten untuk pencegahan kematian ibu dan bayi telah mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini.

Saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten sedang menggarap secara serius remaja dengan melakukan komunikasi di sekolah dengan pemberian tablet tambah darah. Tak hanya itu, menurutnya, remaja harus diberi pendidikan kesehatan reproduksi sepenuhnya, tidak setengah-setengah. “Pengetahuan kesehatan reproduksi penting sekali dan harus dijelaskan dengan sejelas-jelasnya,”terang dr. Sundari. Tantangan untuk mencerdaskan itu banyak dilakukan oleh dinas kesehatan.

Terkait kasus-kasus yang menyangkut pernikahan dini/anak, menurut dr. Sundari menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat mulai dilakukan dan tidak tergantung hanya pada petugas kesehatan saja. “Saat ini sudah tidak relevan lagi melakukan Fogging di masyakarat. Terkait anggaran dana desa, misalnya, bisakah untuk dialokasikan pada pengelolaan khusus seperti untuk gizi buruk? Kami punya data dari Scan Pasific karena pengelolaan-pengelolaan bagi bayi gizi buruk ini penting dan jika diberi gizi pun , akan menolong,”terang dr. Sundari.

Beberapa program prioritas terkait kematian balita di Jawa Tengah yang angkanya cenderung menurun, dan juga terkait penyakit ISPA yang cenderung menurun, adalah tentang kematian ibu. Beberapa kasus terjadi misalnya aborsi yang tidak aman, pertolongan persalinan tidak oleh petugas kesehatan tidak terlatih, dan penyebab tidak langsung seperti Anemia. Penyakit caingan dan kegiatan gizi juga menjadi program priorotas dengan penyebab di luar jangkauan kesehatan terkait infrastruktur energi, transportasi, air bersih dan budaya.

“JIka ada kasus aborsi kita harus bisa melacak,”ungkap dr. Sundari. Biasanya ini terjadi di Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Dan yang diperlukan dalam mendampingi ibu dengan kasus aborsi adalah dengan melakukan konseling, mengenalkan alat kontrasepsi, sehingga kehamilan berikutnya benar-benar sehat. (red)

Pelatihan HKSR Bagi Para Kader Kesehatan Kecamatan Bayat dan Klaten Tengah

Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman terkait dengan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), SPEK-HAM bersama Intervensi Pendidikan Akses Menuju Sehat (IPAS) Indonesia melalui program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) melakukan pelatihan. Agenda kegiatan pelatihan HKSR bagi kader kesehatan di Kecamatan Bayat tanggal 17 s/d 18 Desember 2018 dan Kecamatan Klaten Tengah pada tanggal 19 s/d 20 Desember 2018 dengan melibatkan 25 kader kesehatan di setiap kecamatan.

Dalam pelatihan yang dilakukan selama dua hari, kader kesehatan di Kecamatan Bayat dan Klaten Tengah diberikan pengetahuan tentang : Asuhan Paska Keguguran (APK). Dalam sesi ini peserta diajak untuk berpikir kritis dan membuka pikiran mengenai apa yang selama ini dimaksud dengan Aborsi dan Keguguran. Dari hasil curah pendapat peserta hampir semuanya masih memiliki persepsi bahwa aborsi berbeda dengan keguguran. Kata aborsi lebih dikonotasikan negatif  dan dilekatkan pada nilai seseorang yang cenderung menganggap hal itu dosa. Ketika fasilitator menekankan untuk melihatnya dari sisi medis/kesehatan maka peserta baru menjadi lebih netral. 

Kemudian fasilitator memperkenalkan dengan Asuhan Paska Keguguran (APK) yang komprehensif. Ini merupakan sesuatu yang baru bagi peserta karena selama ini jika terjadi aborsi/keguguran maka layanan yang diberikan hanya standar (dari sisi penanganan saja). Padahal jika bicara APK Komprehensif maka mencakup konseling, penanganan, layanan kontrasepsi, layanan kesehatan dan kerjasama dengan unsur masyarakat lain. Dalam sesi ini banyak peserta yang berbagi pengalaman bahwa metode aborsi yang dilakukan adalah Kuret yang kebanyakan membawa pengalaman rasa sakit bagi pengguna. Kemudian oleh fasilitator diperkenalkan metode baru yaitu vacuum yang menekan atau menghilangkan rasa sakit bagi pengguna karena salah satu tujuan dari APK adalah menghilangkan  rasa sakit (selain menekan angka kematian ibu).

Asuhan Paska Keguguran menjadi jembatan untuk pembahasan terkait Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Dalam sesi ini peserta dibukakan pikirannya bahwa tidak selamanya kehamilan itu berakhir dengan kelahiran. Ada beberapa kondisi dimana perempuan memutuskan untuk menghentikan kehamilannya seperti Kehamilan Tidak Diinginkan, Kehamilan Tidak Direncanakan dan Kehamilan Tidak Tepat Waktu. Sesi ini sebanyak-banyaknya menggali pendapat dan pengalaman peserta terkait kasus-kasus KTD

Peserta juga diajak untuk melihat bahwa terjadinya KTD juga tidak bisa lepas dari pengetahuan tentang Organ Reproduksi. Fasilitator dalam sesi ini mengajak peserta untuk mengenali lebih dalam mengenai organ reproduksi perempuan dan laki-laki dan juga bagaimana  proses pembuahan dan kelahiran. Peserta pada awalnya merasa malu-malu ketika diminta untuk mengenali organ reproduksi bahkan ada beberapa peserta yang mengatakan bahwa merasa kesulitan jika harus menjelaskan mengenai organ reproduksi dan fungsinya kepada anaknya.

Fasilitator dalam sesi ini juga mengenalkan tanda-tanda dan gangguan kehamilan, dan ditegaskan bahwa setiap perempuan mempunyai pengalaman yang berbeda-beda ketika menghadapi kehamilan baik tanda-tanda maupun gangguannya. Maka dari itu agar tidak terjadi tanda-tanda dan gangguan kehamilan perlu adanya perencanaan kehamilan yang matang, dan perencanaan kehamilan tentunya ada peran pasangan dalam menentukan alat kontrasepsi. Materi mengenai kontrasepsi diberikan agar peserta memahami bahwa untuk mencegah terjadinya KTD adalah dengan penggunaan kontrasepsi yang mempunyai metode beragam. Pemilihan metode kontrasepsi yang akan digunakan harus diserahkan kepada pengguna dengan sebelumnya mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya (mengenai : cara kerja, efektivitas) yang merupakan salah satu hak.

Pengalaman penggunaan kontrasepsi yang beragam haruslah dihargai dan tidak semua perempuan mempunyai pengalaman yang sama. Sesi ini juga menjelaskan fungsi kontrasepsi selain untuk mencegah kehamilan juga untuk mencegah tertularnya Inveksi Menular Seksual (IMS) dan HIV. (Danang)