Search for:

Siaran SPEKHAM bersama Radio Immanuel Hadirkan Perempuan Kader UMKM

siaran Radio Immanuel

Awalnya SPEKHAM pada tahun 2014 mencari wilayah rentan seperti Kelurahan Sewu yang setiap tahun selalu dilanda banjir dan yang didampingi adalah kelompok perempuan. Lalu ada lagi Kelurahan Gilingan, yang kebanyakan warga rumahnya petak-petak, serta banyak kos-kosan. Soepadmin atau biasa dipanggil Pakde ke sana menyampaikan tujuan SPEKHAM untuk pemetaan, kemudian ada temuan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta temuan banyak perempuan sebagai kepala keluarga. Demikian dituturkan oleh Pakde dalam siaran bersama Radio Immanuel yang dipandu oleh Wempie, Rabu (6/11). Siaran juga menghadirkan perempuan kader, Sulistyarini dari Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) serta Sulis dari Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi (KPKGS)

Awal membuat kelompok pada waktu itu yakni pada pertemuan PKK. SPEKHAM lalu masuk dan memaparkan tujuannya untuk peningkatan ekonomi. SPEKHAM memberi masukan kalau akan membuat kelompok perempuan di Sewu kemudian disebut KPKS. Ada pertemuan dan dibentuk  kepengurusan lalu menyuratkan apa saja cita-cita dan harapan kelompok, bagaimana jika membuat pra koperasi dengan syarat adanya simpanan pokok, wajib dan suka rela. Ini memang diutamakan kelompok perempuan kepala keluarga dan menurut pemetaan ada banyak sekali perempuan menjadi kepala keluarga di 19 RW.

SPEKHAM lalu memetakan di 19 RW itu, siapa saja yang memiliki usaha rumahan dan apa yang dibutuhkan. Bersama dengan pemkot melalui dinas koperasi dan UMKM lalu memberikan bantuan alat-alat seperti kamera, laptop dan lain-lain. Kalau untuk produk apem misalnya, kebutuhannya apa. Nah di tahun 2018 di Kelurahan Sewu mendapat pendampingan tentang produk apem. Ada sembilan kelompok apem. Tiap pertemuan SPEKHAM selalu datang. Di Sewu pertemuan tiap tanggal 19.

Karena di Kelurahan Gilingan ada banyak kos-kosan, berarti risiko tinggi (risti). Lalu beberapa Kepala Keluarga (KK) ditanyakan kepada ketua RT, daerah rentan mana yakni di pinggir sungai dan yang palking siap rt 02 rw 05. Ibu Sulis mendampingi. Kemudian SPEKHAM melakukan pemetaan kembali, terbentuk bank sampah. Kemudian mereka membuat komunitas ini Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi. Selain dapat bantuan dari pemerintah, selain karak tanpa borax yakni sembako. Akhirnya para perajin dikumpulkan, Kelompok Srikandi ini juga dapat bantan bank sampah. Dan saat musrenbangkel diusulkan untuk mendapat anggaran pra koperasi serta bank sampah dapat juara. “Ini juga dapat bantuak dana DKP, kita bersyukur, KPKS dan KPKGS diakui oleh pemkot. Harus sabar, dan mengetahui kebutuhan masyarakat,”terang Pakde.

Tantangan bagi KPKS adalah belum punya PIRT dan harapan Sulistyarini adalah semoga dipermudah. Pemasaran lewat online juga telah dilakukan, meski PIRT belum tercantum. KPKS bikin apem sedianya untuk gerebeg sewu, lalu ada pesanan dari even-even lainnya. Dukanya, saat ini pemasaran masih mengalami kesulitan, kue apem mayoritas tidak pada suka, yang suka banyak orang Jawa. Untuk inovasi produk lalu apem dikasih toping cokelat, keju. Anak-anak suka. Kue apem susah di pasar, karena disepelekan, ada pesaing yang lebih enak.

Sulis dari KPKS berharap ingin mendapat pelatihan dan sosialisasi dari dinas menyangkut UMKM agar anggota KPKS bisa meningkatkan produktivitas. “Kami juga ditawari radio gapura klewer untuk pemasaran,”ujar Sulis. (red)

Lagi, BAZNAS dan SPEK-HAM Fasilitasi Pelatihan Kelompok Putri Mawar

Suasana pelatihan pembuatan ekstrak mawar

Tini (29) mengaku senang mendapat ilmu dan ketrampilan mengolah bunga mawar menjadi minuman instan ekstrak. Mawar menjadi potensi yang melimpah di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Pada bulan-bulan tertentu seperti Ruwah, Syawal, dan menjelang puasa harganya bisa berlipat-lipat mencapai ratusan ribu per keranjang. Namun pada hari-hari biasa harganya anjlok, 5000 per keranjang. Padahal mawar adalah sumber penghasilan utama masyarakat di Desa Cluntang.

Sudah sejak 2016 perempuan yang tergabung di Kelompok Putri Mawar mengolah mawar menjadi aneka makanan dan minuman. Keripik, teh mawar, pilus mawar dan sirup adalah beberapa produk yang sudah dihasilkan.  

Pelatihan difasilitasi oleh SPEK-HAM dan BAZNAS

BAZNAS bermitra dengan SPEK HAM mengajak perempuan dari keluarga miskin untuk menambah varian olahan mawar yang lebih menjual. Sehingga produksi olahan mawar tidak menjadi sambilan tetapi menjadi sumber pendapatan bagi perempuan. Melalui pelatihan olahan mawar yang dilaksanakan tanggal 25-26 Maret 2019, 25 perempuan miskin di Dukuh Gondang Desa Cluntang belajar kepada Ibu Siti Ngaisah pelaku UKM Dapur Aura Samiran Boyolali membuat minuman instan ekstrak mawar siap saji. Produk baru ini merupakan inovasi baru supaya konsumen mudah mengkonsumsi karena praktis dibawa kemana-mana. 

Meningkatan skill perempuan dalam mengolah potensi lokal merupakan program yg diharapkan mampu meningkatkan akses perempuan dalam membangun kelembagaam ekonomi desa. Meningkatnya ekonomi perempuan miskin pedesaan berkontribusi besar terhadap penurunan angka kesenjangan ekonomi, ketidakadilan serta kekerasan terhadap perempuan. Di satu sisi menguatnya ekonomi perempuan akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan keluarga dan desa.(nila)