Search for:

SAMPAH MENJADI BERKAH

Kemlayan merupakan salah satu wilayah di perkotaan yang padat penduduk dengan dikelilingi oleh gedung-gedung pusat perdagangan di sekitar jalan Gatot Subroto Solo. Gang-gang kecil dan rumah berderet menjadi ciri khas Kemlayan. Sebagai pusat kota, Kemlayan menjadi “jujugan” penduduk dari desa lain yang mengadu nasib sebagai penjaga toko atau karyawan di pusat perdagangan sekitar. Kepadatan penduduk di Kemlayan tentu berkolerasi dengan tumpukan sampah. Sampah menjadi persoalan bagi wilayah perkotaan yang padat penduduk dan tidak memiliki lahan luas. Sebagai upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan, anggota PKK RW 02 telah mengadakan pemilahan sampah antara sampah organik dan anorganik. Kegiatan ini sudah berjalan sejak tahun 2014 yang lalu. Merasakan ada manfaatnya, kegiatan pemilahan sampah lebih dilakukan secara serius. Saat ini telah bergabung 25 orang sebagai anggota bank sampah yang rutin melakukan penimbangan setiap senin kedua dan senin keempat.

Pada tanggal 7 Maret 2016 kegiatan ini dikukuhkan dengan nama Bank Sampah “Sumber Rejeki” dengan susunan pengurus sebagai berikut :

  1. Pembina                   : Ir Kety Ristini dan Roesdiah Saparti ,SPd.
  2. Ketua                         : Dumasari Ganti Nasution.ST.
  3. Wakil Ketua             : Sri Haryanti Wiwik Widyastuti.
  4. Sekretarisi 1             : R.Ayu Dewi Sri Hestingsih.
  5. Sekretaris 2.             : Endang Sofia Amperawati,SE.
  6. Bendahara 1             : Mulyati Bendahara 2. Kusumawati .
  7. Seksi Penerimaan   : Rosidah dan R Ayu Kusumaningrum.
  8. Seksie Penjualan     : Anita Setiarini dan Lejar Tri Winduningsih.
penimbangan sampah
penimbangan sampah

Setiap tanggal 15, anggota bank sampah menyetorkan sampah anorganik dari rumah masing-masing ke gedung serba guna yang berfungsi sebagai sekretariatan Bank Sampah Sumber Rejeki. Petugas penerimaan akan memilah sesuai jenisnya seperti kertas, duplex, kardus, plastik, dan bodong (istilah botol plastik dengan aneka bentuk). Kemudian dicatat hasilnya per orang mendapat berapa kg dan berapa rupiah. Penjualan saat ini sudah lebih mudah, Sumber Rejeki  sudah mempunyai mitra kerja untuk pengepul/pembelian sampah yaitu Mas Arip.

Ternyata kegiatan pemilahan sampah ini mampu menambah pendapatan bagi perempuan. Dari hasil penjualan sampah, 20% dipergunakan untuk operasional bank sampah dan 80% menjadi tabungan anggota yang sinergi dengan pra koperasi RW 02. Karena memberikan manfaat besar bagi masyarakat khususnya perempuan, maka pada tanggal 1 Juni 2016 dalam peringatan lahirnya Pancasila lahirlah SK Bank Sampah No 6/V1/2016 yang dikeluarkan oleh Lurah Kemlayan, Joko Sarwoto SH. Lahirnya SK menjadi pelecut semangat untuk mengoptimalkan pengelolaan bank sampah di RW 02 dan melebar ke RW-RW lainnya. (Soepadmin – CO Divisi Sustainable Livelihood & Nila Ayu – Manager Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

Melongok (Lagi) Persoalan dan Pengelolaan Sampah di Kelurahan Joyosuran

Sampah masih menjadi persoalan bersama di Kota Surakarta. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota melalui DKP dan BLH Kota Surakarta tiga tahun terakhir. Berawal dari persoalan penanganan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang terancam tidak mampu menampung dan mengelolanya. Berbagai strategi dilakukan, baik dalam bentuk aksi, kebijakan, maupun prasyarat ketika kelurahan akan mengikuti lomba desa yaitu adanya bank sampah.

SPEK-HAM sebagai lembaga swadaya masyarakat yang salah satu programnya adalah di bidang penghidupan berkelanjutan mencoba menerapkan program–program yang mendorong pengelolaan potensi wilayah yang mendukung keberlangsungan hidup masyarakat secara layak. Salah satunya adalah pengelolaan lingkungan yang berperspektif kebencanaan. Mulai diiinisiasi adanya penyadaran dan pendidikan kritis kepada masyarakat dampingan di beberapa wilayah seperti kelurahan Sewu, Kemlayan, Gilingan, Kestalan, dan Joyosuran dengan kegiatan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah dan mengisisiasi adanya kelompok yang menjadikan sampah sebagai salah satu sumber pendanaan di kegiatan keuangan yang berbasis masyarakat (pra-koperasi).

Sejak tahun 2013 sampai sekarang, berbagai upaya dilakukan bersama komunitas, khususnya perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) melalui kampanye dan gerakan seperti 1000 Tangan Perempuan Menyapu” tahun 2013, Perempuan Merawat Kali” tahun 2014, dan tahun 2015 KPJ menyelenggarakan kegiatan bertema “4 Tahun, Untaian Tanda Cinta Perempuan. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kampanye gerakan makanan berbahan baku lokal, sarasehan membangun dukungan stakeholder untuk pelibatan perempuan dalam pembangunan yang didukung kebijakan pemerintah kelurahan, serta gerakan tanaman perkotaan dengan menanam 400 tanaman jeruk.

Hasilnya adalah saat ini sudah ada kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Di beberapa RW (RW 3, 4, dan 12) sudah mengelola sampah sebagai sumber-sumber pendapatan, baik yang langsung digunakan maupun yang ditabung yang disinergikan dengan kegiatan pra-koperasi sebagai salah satu sumber keuangan swadaya di masyarakat yang menunjang permodalan bagi perempuan yang memiliki usaha.

Kedatangan Komisi II DPRD Kota Surakarta pada hari Rabu, 20 Januari 2016, yang juga disertai media untuk melihat seperti apa praktek-praktek pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat Joyosuran selama ini, membuat refleksi KPJ selaku kelompok yang menginisiasi kegiatan pengelolaan sampah yang terpadu merasa harus belajar lebih banyak dan semakin giat melakukan pengelolaan sampah yang harus dilakukan oleh semua warga Joyosuran yang berjumlah lebih dari 10.000 jiwa.

Pengelolaan sampah tidak hanya untuk dipilah, dijual, dan dibuat kerajinan tangan, tetapi bagaimana limbah-limbah rumah tangga seperti air sisa mandi, air sisa masak, sayuran sisa dan lain-lain juga terkelola di tingkat keluarga, kelompok RT, dan seterusnya sehingga jumlah volume sampah yang di tingkat kota (TPA) bisa ditekan, sehingga ancaman tumpukan sampah di TPA yang tidak terkelola bisa dicegah sejak awal.

Kunjungan ini juga melibatkan Pemerintah Kelurahan Joyosuran, dan LPMK yang diharapkan akan mampu merubah perspektif dan program kelurahan bahwa sampah jika tidak terkelola dengan baik akan berakibat pada ancaman bencana dan investasi persoalan di waktu yang akan datang. Peran Pemerintah Kota Solo yang didukung anggaran dan kebijakan yang mengakomodasi persoalan tersebut akan mnejadi terobosan dalam pengelolaan sampah kota.

Adanya kunjungan dadakan yang sebenarnya bertujuan untuk melihat proses pengelolaan sampah secara mandiri oleh masyarakat, dan hasil kunjungan akan digunakan untuk membuat statregi kebijakan yang lebih tepat. Begitu pula bagi pemerintah dan masyarakat Joyosuran, hal ini menjadi refleksi berasama terhadap kegiatan maupun program yang sudah terlaksana maupun yang akan dirancang berikutnya. (sunoko/spekham.org)

Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup di “GRIYA LILIN“

Selasa, 2 Desember 2014 jam 10.10 WIB, kami mendapatkan telephone dari Badan Lingkungan Hidup Surakarta bahwa akan ada kunjungan dari Kementrian Lingkungan Hidup yang akan mendarat jam 11.00 WIB di Bandara Adi Sumarmo. Meski agak terburu-buru, tapi saya tetap menyanggupinya. Saya koordinasikan hal tersebut dengan team dari Griya Lilin yang terdiri dari Ibu Dwi S, Ibu Nana, Ibu Linda, Ibu Yulaikah, Ibu Haryani, Ibu Triyani Wahyuni, Ibu Jasmin, Ibu Makmis, Ibu Kedah.

Kami menunggu sejak jam 11 sampai team dari SPEK HAM juga datang, tetapi tamu juga belum datang sampai jam 13.00 WIB. Saya konfirmasi ke pihak Kelurahan Joyosuran, ternyata tamu dari Kementrian masih ada agenda di Balekota. Tanggal 3 Desember 2014, sekitar pukul 09.00 WIB, team dari Kemetrian Lingkungan Hidup Jakarta datang di Griya Lilin. Ada 3 orang dari Kementrian Lingkungan Hidup, 2 orang aktifis lingkungan hidup, 1 orang dari BLH Kota Surakarta dan 1 orang dari Kelurahan Joyosuran.

Diawali dengan perkenalan dari team yang diwakili Bapak Prayoga dari KLH , Bapak Mukti dari Team Adipura dan Bapak Bani dari BLH Kota Surakarta. Team Adipura tersebut ingin tahu bagaimana pengelolaan sampah dan limbah pada kegiatan home industry ini. Saya bersama Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup (Large)dengan teman-teman dari Griya Lilin saling menambahkan menjawab “Dalam kegiatan ini hampir tidak ada limbah, karena bahan utama lilin tidak ada yang dibuang, bahkan kami mengelola limbah sampah seperti kain perca, plastic, botol-botol yang kami padu padankan menjadi kerajinan seperti tempat tissue, tempat lilin, dan souvenir lainya”. Team Adipura sangat tertarik dengan tas-tas dan aksesoris yang terbuat dari plastik  bekas (plastik kresek). Hampir semua pengunjung yang datang ke Griya Lilin tertarik dengan hasil karya ibu-ibu di Kelompok Permata ini. Produk jenis itu sangat sulit pemasarannya. Paling kalau ada orang-orang asing yang kebetulan datang berkunjung di Kelompok Usaha Perempuan Griya Lilin ini yang membelinya. Lebih lanjut Ibu Eky menyampaiakan bahwa ke depannya, usaha kelompok perempuan ini masih banyak sekali kendala, dari penyadaran kepada warga untuk memilah sampah, memberikan ketrampilan dan setup pemasaran yang lebih menjamin keberlangsungan UKM-UKM di Joyosuran ini.

Ibu Nana lebih lanjut menjelaskan bahwa Griya Lilin ini masuk dalam kegiatan di KPJ, khususnya untuk pemberdayaan perempuannya. Selain untuk kegiatan UKM, ibu dua anak itu juga menjelaskan program pengelolaan lingkungan yang diwadahi dalam kegiatan merawat kali jenes, dimana kali dan bantarannya yang memiliki panjang 734 meter ini menjadi potensi yg baik  bagi perempuan karena ada tiga hal besar yang akan dilakukan yaitu normalisasi kali, penanaman tanaman pangan pinggir kali, dan pengelolaan sampah. Kesemuanya akan terkonsentrasi untuk penciptaan lingkungan di bantaran kali pada kususnya, dan di seluruh wilayah Joyosuran pada umumnya menjadi wilayah yang bersih dan nyaman. Harapan Ibu Eky, Ibu Nana dan teman-teman, setiap kunjungan dari Pemerintah seperti ini hendaknya bisa disampaikan keluhan dan kondisi kelompok UKM seperti Griya Lilin ini sehingga tidak hanya menjadi sekedar kunjungan kedinasan yang hanya ceremonial dan tugas dinas saja. (nocko alee/dok photo : kpj/spekham.org)

Merawat Kali dengan Hati untuk Generasi yang Akan Datang

Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Pengelolaan Tanaman Pangan Di Kelurahan Joyosuran Dalam Mendukung Pengelolaan Kali Jenes

Sampah, menjadi hal yang sangat popular di tiga bulan terakhir di Kelurahan Joyosuran, tepatnya sejak dilakukan pembaharuan pemetaan persoalan dan potensi sampah oleh Kelompok Perempuan. Hasil pemetaan tersebut mendapat respon baik dari pemerintah kelurahan, yang ditindaklanjuti dengan program perawatan Kali Jenes yang dikaitkan dengan resiko banjir di musim penghujan ini tahun ini.

Beberapa rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan adalah workshop pengelolan sampah dengan perspektif pengurangan resiko bencana. Kedua adalah pembentukan Paguyuban Ngrekso Kali Jenes (PAGAR KAJEN) pada tanggal 22 Desember 2014. Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) mengambil peran yang cukup srategis dalam perencanaan, pelaksanaan maupun dalam evaluasi kegiatan.

Langkah pertama untuk merealisasikan program pengelolaan Kali Jenes adalah dengan penyediaan infrastruktur untuk pemisahan sampah. Pemerintah Kelurahan Joyosuran menyedikan tong sampah di sepanjang Kali Jenes, dimana kebutuhan tong sekitar 60 buah, yang tersedia saat ini baru 20 buah bantuan dari dana CSR yang ada di Kelurahan Joyosuran, sedangkan kekuranganya akan diusahakan selanjutnya.

Untuk membangun perspektif di masyarakat dan membangun keterlibatan seluruh masyarakat dalam program Kali Jenes tersebut, PAGAR KAJEN dengan seluruh elemennya melakukan sosialisasi pada para stakeholder dan juga masyarakat di bantaran Kali Jenes. Sosialisasi tahap pertama melibatkan para RT dan RW di Joyosuran, dengan materi yang pertama Kebijakan Pemerintah Solo yang disampaikan oleh Perwakilan dari Kantor Lingkungan Hidup. Tentang Peraturan Pembuangan Sampah yang disampaikan oleh Lurah Joyosuran. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah oleh Ketua Paguyuban PAGAR KAJEN.

sos kj 9Di dalam kegiatan tersebut, Kelompok Perempuan Joyosuran menyampaikan materi tentang Sampah dan Pengelolaanya.  Sharing berdasarkan pengalaman KPJ dalam pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemisahan, penjualan, sampai pemanfaatan limbah sampah untuk kerajinan yang memiliki nilai eonomis. Kegiatan dilaksanaan pada tanggal 8 Oktober 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Ada usulan yang baik seperti perlunya mekanisme pengelolaan sampah yang efektif misalnya penyediaan tempat penampungan, petugas pengambil sampah.

Sosialisasi tahap dua akan dilakukan di tiga group, dengan sasaran warga di bantaran Kali Jenes dan juga RT dan RW yang berkepentingan akan wilayahnya. Group 1 meliputi RW 3 dan RW 2 yang bertempat di pinggir Jembatan Tempen, pelaksanakan dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dihadiri 86 orang. Kegiatan sosialisasi yang kedua dilaksanakan pada 15 Oktober 2014 bertempat di pinggir Kali RW 04, dengan melibatkan partisipan 75 orang  yang terdiri dari RT dan RW wilayah RW 04 dan RW 11, warga bantaran kali di sebelah kiri dan kanan Kali Jenes. Sedangkan sosialisasi ketiga, di group tiga dilaksanaan pada 17 Oktober 2014 di perempatan Jembatan Kali Jenes di RW 12, melibatkan 80 orang peserta yang terdiri dari warga bantaran kali, kelompok perempuan, CSR, dan tokoh masyarakat.

Dinamika yang terbangun dalam kegiatan ini adalah peran aktif dari peserta yang diundang, mereka sangat antusias, bahkan mereka membuat tawaran terhadap sanksi sosial pada warga baik yang dari Joyosuran maupun yang di luar Joyosuran apabila membuang sampah ke kali. Ada kesepakatan bersama tentang pengelolaan tanaman pangan di pinggir Kali Jenes dengan penanaman tanaman sayuran yang bisa di manfaatkan oleh warga. Membutuhkan peran serta semua pihak untuk mewujudkan program pengelolaan sampah terpadu tanaman pangan dalam mendukung pengelolaan Kali Jenes di Kelurahan Joyosuran.

Mari bergandeng tangan untuk lingkungan sehat di Joyosuran !!!

(nocko alee/spekham/dok. photo : KPJ)

Suara Perempuan Joyosuran untuk Kali Jenes

Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Lingkungan Berperspektif Bencana

Sampah dan pengelolaanya masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di wilayah perkotaan padat penduduk. Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon yang termasuk sebagai wilayah padat penduduk juga merasakan dampak dari keberadaan sampah. Sampah menyebabkan tersumbatnya saluran pembuangan  limbah rumah tangga, yang sering mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Air yang seharusnya masuk saluran pembuangan menjadi tergenang di depan rumah warga, hal ini membuat warga tidak nyaman untuk beraktifitas.

Sejak tahun 2010, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) bersinergi dengan multi stakeholder di tingkat Kelurahan melakukan berbagai kegiatan untuk mengajak masyarakat untuk peduli terhadap persoalan lingkungan melalui gerakan bersama yang dinamai “Gerakan Cinta Bumi”. Gerakan ini mengajak keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik yang mudah diurai dengan non organik yang sulit diurai, selain itu pemilahan sampah juga dapat menambah ekonomi keluarga. Gerakan Cinta Bumi juga meliputi : memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk kegiatan tanaman pangan, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga,

Sejalan dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ), Pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Pemerintah Kelurahan Joyosuran merancang Program “Pengelolaan Kali Jenes”, dengan merevitalisasi Kali Jenes yang selama ini kotor oleh limbah, baik rumah tangga maupun industri kecil. Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta “Air minum di sekitar Kali Jenes mengandung bakteri e-colli, karena tingkat pencemaran Kali Jenes sudah sangat tinggi.

(http://www.solopos.com/2014/08/28/pencearan-air-di-solo-50-sumur-di-sekitar-kali-jenes-tercemar-limbah-530862).

Program pengelolaan Kali Jenes dicanangkan oleh Pemerintah Kelurahan pada tanggal 22 September 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Acara tersebut dihadiri oleh unsur masyarakat, LPMK, LSM, kelompok-kelompok masyarakat, dan CSR (Pabrik Batik, Konveksi, BUMN, Provider Telekomunikasi, dan Bank). Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kelurahan mengukuhkan dengan pembentukan Paguyuban Merawat Kali/Lepen dengan pengurus :

Ketua               : Bapak Sukarno Hendri

Wakil Ketua     : Elfian

Seketaris         : Nana Misdiati (KPJ), Triyono

Bendahara      : Atik Sri Martini (KPJ)

Pelaksana        : Dwi S (KPJ), F. Sulastri Admoyo (KPJ), perwakilan dari 12 RW

Tim Monev      : H. Umar Said (Perwakilan CSR)

                             Pemerintah Kelurahan bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Konsep pengelolaan Kali Jenes akan melibatkan seluruh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan kali. Sehingga semua warga, baik yang berada di pinggir kali maupun yang tidak, akan bertanggung jawab untuk memelihara kebersihannya. Dalam paparannya, Lurah Joyosuran Bapak Suwarno  menyampaikan bahwa program ini akan dilakukan mulai tahap jangka pendek, menengah dan panjang. Kegiatan akan dimulai dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan tentang pengelolaan sampah pada masyarakat luas. Kegiatan akan dijadwalkan pada awal Oktober 2014. KPJ memiliki peran yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tentang pengelolaan sampah yang dapat disinergikan dengan Gerakan Cinta Bumi.

Berbarengan dengan kegiatan sosialisasi, akan dilakukan pemasangan tong sampah di sepanjang Kali Jenes yang panjangnya 750 M, dengan kebutuhan tong sebanyak 60 buah. Ada komitmen dari CSR yang menjadi salah satu sumber pendanaan yang akan membiayai kegiatan ini, selain juga ada anggaran dari APBD Kota Surakarta tahun 2015. Selain melibatkan warga Joyosuran, pengelolaan Kali Jenes juga akan dikoordinasikan dengan wilayah yang berbatasan dengan Joyosuran yaitu  Kelurahan Dawung  dan kelurahan Pasar Kliwon.

Semoga hasil pemetaan partisipatif ini tidak hanya sekedar data dan temuan masalah, tetapi menjadi sumber-sumber perencanaan program, sehingga suara-suara perempuan bisa lebih didengar melalui program-program berperspektif gender, bencana  dan berbasis lingkungan.

Oleh Noko Alle (CO Divisi Sustanable Livelihood)

Photo : Joshua Intan

Hari Ini Sampah, Besok Emas…!!!

Tabungan Sampah “Sumber Rejeki” RW II, Kelurahan Kemlayan, Surakarta.

Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Sampah selalu menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi. Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan menjadi bukit sampah seperti yang sering kita lihat. Pendidikan dan kesadaran di bidang pengelolaan sampah kini semakin penting dari perspektif global dan manajemen sumber daya.

Pemilahan
Pemilahan Sampah

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Program-program pengelolaan sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Begitu juga kegiatan pengelolaan sampah yang dijalankan oleh komunitas perempuan di RW II Kelurahan Kemlayan, Solo. Bersama komunitas dampingan, SPEK HAM (Divisi Sustainable Livelihoods) di tanggal 14 September lalu melakukan program penimbangan sampah sebagai tabungan sampah, yang diharapkan mampu memberi dampak positif bagi lingkungan setempat. Program ini diberi nama tabungan sampah Sumber Rejeki.

Melalui kegiatan yang dilakukan, diaharapkan komunitas mampu melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang meliputi pemilahan sampah  ditingkat rumah tangga secara mandiri dan pemanfaatan sampah untuk peningkatan ekonomi komunitas. Program ini akan terus berlanjut setiap dua minggu sekali. Anggota yang mengikuti kegiatan program ini sebanyak 15 orang, yang terdiri dari komunitas perempuan RW II Kemlayan.

Adapun penggunaan uang hasil tabungan akan dimasukkan sebagai tambahan aset pra koperasi komunitas yang sudah ada. Program ini memiliki kepengurusan tersendiri dan memiliki pencatatan pembukuan yang terpisah dengan pembukuan yang ada. Adapun pembukuan yang dilakukan meliputi buku register anggota tabungan sampah, buku tabungan anggota, dan buku pencatatan jenis dan berat sampah anggota yang dikumpulkan.

“Melalui kegiatan tabungan sampah ini, anggota komunitas perempuan ini berharap supaya kampung kita lebih bersih, ibu-ibu juga mampu melakukan pemilahan sampah, dan  terlebih ini dapat membantu biaya belanja yang terkumpul dari tabungan sampah ini. Hasil penjualan pertama terkumpul Rp 70.000, diharapkan untuk kegiatan selanjutnya ibu-ibu akan lebih semangat dan tidak malas melakukannya kembali, karena ini merupakan kegiatan yang inspiratif” tegas ibu Ninuk (Pengurus tabungan sampah Sumber Rejeki).

(onie/photo : nuel/spekham.org)

Tabungan Sampah “Sumber Rejeki”

Program Pengelolaan Sampah Terpadu adalah salah satu Program yang dicanangkan Pemerintah daerah Surakarta. SPEK-HAM merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang menunjang kebijakan Pemerintah tersebut bersama masyarakat dampingan. Program ini kami refleksikan sebagai program yang efektif dan perlu dikuatkan dengan dukungan berbagai pihak, baik Pemerintah setempat maupun swasta, agar menjadi sebuah gerakan yang signifikan dan memiliki rantai nilai ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesehatan. Pengelolaan sampah memang sudah semakin banyak dilakukan oleh banyak pihak, tidak terkecuali bagi perempuan di Kelurahan Kemlayan, khususnya di RW II. Program ini sesuai dengan gagasan SPEK HAM untuk membuat komunitas “Gerakan Cinta Bumi”.

Selasa, 15 Juli 2014 pukul 16.00 WIB, bersama salah satu Community Organizer dari Divisi Sustainable Livlihoods SPEK HAM, Murni, melakukan diskusi tematik tentang penanganan sampah perkotaan khususnya di RW II yang merupakan wilayah dampingan kerja SPEK HAM. Dalam diskusi tersebut kami melakukan pemetaan permasalahan sampah di RW II dan keinginan warga untuk rencana tindak lanjutnya. Dalam diskusi ini kami menemukan beberapa hal :

  • Kurang terkondisikannya sampah non organik yang hanya dibuang, dicampur dengan sampah organik.
  • Tidak ada inovasi yang dilakukan dari sampah non organik.
  • Sampah hanya dibuang dan dikumpulkan, serta diberikan cuma-cuma kepada pemulung.
  • Adanya ketertarikan dan minat dari beberapa warga untuk memanfaatkan sampah sebagai hal yang bermanfaat. “[nara sumber : Ibu Duma (ketua PKK RW II) dan Ibu Rosdiyah (warga peduli lingkungan)]”.

Sesuai peta masalah yang dirumuskan, maka perlu adanya solusi nyata yang akan menunjang masyarakat dalam melakukan aksi perlindungan lingkungan. Kelompok Perempuan RW II Kemlayan memiliki beberapa aksi yang perlu untuk direalisasikan, antara lain :

  • Sosialisasi tentang pemilahan sampah.
  • Melakukan pemilahan sampah organik dan an organik tingkat rumah tangga.
  • Memanfaatkan pemilahan sampah an organik untuk menunjang perekonomian perempuan dengan membuat tabungan sampah.
  • Membuat ketrampilan dari sampah yang masih bisa dimanfaatkan dan digunakan.

DSCN9301Diskusi kemudian dilanjutkan pada hari Kamis, 28 Agustus 2014. Diskusi untuk menindaklanjuti adanya aksi pengelolaan sampah. Sebelumnya, Ibu Dumawati sebagai Ketua PKK RW II Kemlayan menyampaikan bahwa Kelompok Perempuan RW II Kemlayan menyetujui untuk mendirikan tabungan sampah. Tentunya ini menunjang program kerja Divisi Sustainable Livelihoods itu sendiri dalam penanggulangan resiko bencana berbasis masyarakat demi keberlanjutan hidup mereka. Dalam diskusi yang kedua, CO Divisi SL memberi sosialisasi tentang jenis sampah, dampak yang ditimbulkan, jenis sampah apa saja yang dapat dimanfaatkan, dan cara pemilahan sampah. Kemudian mensosialisasikan pembentukan managemen tabungan sampah.

Sebelum diskusi kedua dimulai, semangat terlihat dengan beberapa ibu yang membawa hasil pemilahannya ke tempat pertemuan. Ada sampah botol plastik, kardus, kain bekas potongan, dan kertas bekas. Hal tersebut merupakan perwujudtan dari komitmen yang sudah dibangun.

Diskusi ini membahas lebih rinci tentang bagaimana sistem tabungan sampah tersebut akan dilakukan. Tak selang berapa lama, komunitas membentuk Kepengurusan Tabungan Sampah. Didapatkan struktur kepengurusan baru, sebagai berikut :

Penanggungjawab               : Ibu Dumawati (Ketua PKK RW II)

Ketua                                      : Ibu Nofi (RT 03)

Sekretaris/ Pencatatan       : Ibu Ninuk dan Ibu Katileo

Bendahara                             : Ibu Takari

Penimbangan                        : Ibu Hartatik dan Ibu Aminah

Jadwal pengumpulan dan penimbangan sampah dilakukan pada minggu ke-2 tiap bulan.

Adapun mekanisme kegiatan penimbangannya :

  • Warga membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah.
  • Warga mengisi buku register dan menuliskan jenis sampah yang dibawa.
  • Sampah ditimbang sesuai karakteristik sampah oleh pengurus.
  • Pengurus menulis berat sampah dan nominal di buku nasabah dan buku pencatatan pengurus.
  • Kemudian sampah dijual ke pengepul (kerjasama pengepul akan dilakukan komunitas dengan pengepul setempat yang bernama Pak Soni).

Gerakan ini sebagai wujud cinta bumi oleh warga RW II Kemlayan, yang akan dimulai pada minggu kedua bulan September, yang jatuh pada tanggal 13 september 2014 nanti. Kegiatan ini dilakukan oleh 30 Ibu yang mengikuti diskusi. Karena dirasa pembukuan Pra Koperasinya sudah apik, maka sesuai kesepakatan dari kelompok Ibu-Ibu, uang hasil penjualan akan dimasukkan ke Pra Koperasi yang sudah ada sebagai tambahan tabungan atau simpanan sukarela Ibu-Ibu. Gerakan bertujuan demi terciptanya lingkungan yang nyaman, bersih, dan memberi edukasi untuk para generasi penerus. (onie/spekham.org)