Search for:

PAUD BERPERSPEKTIF LINGKUNGAN : Cerita Bank Sampah Pos PAUD Kepodang Kelurahan Tipes

Sosialisasi Bank Sampah di Kel. Tipes

Salah satu Pembina dari Pos PAUD Kepodang bernama Ibu Bety mempunyai ide untuk mengelola lingkungan yang bersih dan sehat, setelah mengetahui kegiatan sosialisasi Bank Sampah di pertemuan PKK RW 05 Kelurahan Tipes Kota Surakarta yang dilakukan oleh SPEK-HAM. Atas inisasi Ibu Bety didampingi oleh SPEK-HAM terbentuk Bank Sampah di lingkungan Pos PAUD Kepodang. Tujuan dibentuk bank sampah untuk membangun kepedulian siswa dan orang tua siswa terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dalam kegiatannya murid PAUD yang masih balita  ikut belajar memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya.

Kegiatan sosialisasi tentang bank sampah terus menerus dilakukan. Sebagai narasumber Soepadmin pegiat Bank Sampah dari SPEK-HAM. Sosialisasi di sekolahan dihadiri semua wali murid Pos PAUD Kepodang. Hasil pertemuan tersebut  seluruh peserta sepakat untuk membentuk Bank Sampah yang anggotanya dari wali murid. Akhir tahun 2019  Bank Sampah tersebut sudah  mendapatkan  SK dari Kelurahan. Bank sampah sudah diakui keberadaannya oleh pemerintah kelurahan.

Kegiatan dari Bank Sampah PAUD Kepodang ini adalah penimbangan sampah setiap hari Jum’at dan membuat kerajinan daur ulang dari sampah anorganik untuk Alat Permainan Edukasi. Dengan jumlah anggota 13 orang, sudah mampu menghasilkan tabungan sampah sebanyak Rp 325.000.  Selain ekonomi, hal positif yang sudah terbangun dari pembentukan bank sampah Kepodang adalah menanamkan nilai melestarikan lingkungan melalui pemilahan sampah pada anak-anak usia balita. Nilai ini jauh lebih besar maknanya dibanding nominal rupiah untuk membentuk karakter cinta lingkungan pada usia dini. SoepadminCO Divisi SL

KPKS adakan Pergantian Pengurus

KPKS Adakan Pergantian Pengurus

Sekumpulan perempuan yang tergabung dalam Komunitas Perempuan Kampung Sewu (KPKS), mengadakan pergantian Pengurus untuk periode tahun 2015-2017 di rumah Ibu Yuliastuti, RT 03 RW 5 Kampung Sewu. Terpilih menjadi ketua KPKS  adalah Rina Sri Rejeki warga RT 04 RW 06 Kampung Sewu.

Pembentukan pengurus kali ini merupakan upaya untuk melakukan regenerasi agar masing-masing anggota juga merasakan pengalaman menjadi Pengurus. “Silakan yang muda-muda kita beri kesempatan biar punya pengalaman menjadi pengurus KPKS,” ungkap Mulyowati, wakil ketua KPKS. Dia menegaskan bahwa pengurus yang lama juga akan mendampingi kepengurusan yang baru supaya ada tindak lanjut dari program atau kegiatannya.

KPKS adakan Pergantian Pengurus
KPKS adakan Pergantian Pengurus

Sementara itu Rina Sri Rejeki yang terpilih menjadi Ketua KPKS periode 2015-2017 menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan anggota KPKS kepada dirinya. “Saya mengucapkan terima kasih untuk kepercayaannya, semoga kedepan kita semua bisa saling kerjasama dan saling membantu,” ungkap Rina. Dia menambahkan bahwa dirinya merasa belum berpengalaman dalam berorganisasi, maka mau belajar adalah kuncinya.

Ini adalah kali pertama terjadi pergantian pengurus. Pada tahun 2015 ini, setelah melewati beberapa kali pertemuan setiap bulannya, pengurus nampak tidak solid lagi. Maka beberapa anggota dan pengurus mengagas untuk diadakan pergantian pengurus. Mereka berharap agar kepengurusan KPKS yang baru ini mampu memberikan kontribusi pada arah kebijakan pembangunan di tingkat Kelurahan, sehingga cita-cita Kelurahan Sewu menjadi Kelurahan Ramah Perempuan dan Anak bisa tercapai.

Berikut ini susunan pengurus selengkapnya:

  • Ketua : Rina Sri Rejeki
  • Wakil Ketua : Mulyowati
  • Sekretaris I : Suparmi
  • Sekretaris II : Lestari
  • Bendahara I : Sudarmi
  • Bendahara II : Sri Sugiarti
  • Humas : Perwakilan tiap-tiap RW
    • RW 1 : Siti Rochmini
    • RW 2 : Handayani
    • RW 3 : Wiwik Sutarmi
    • RW 4 : Sri Suryanti
    • RW 5 : Yuliastuti
    • RW 6 : Sri Hartatik
    • RW 7 : Iwuk Harnanti
    • RW 8 : Neny Anggraini
    • RW 9 : Tarni
  • Bidang Pendidikan : Neni Anggraini dan Sri Atun
  • Bidang Ekonomi : Nina Sarwosri dan Iwuk Harnanti
  • Bidang Sosial : Nuning Suyati dan Sunarti
  • Bidang Budaya : Mursiatun dan Siti Rochmini

Di bagian akhir pertemuan ini, Neni Anggraini selaku Ketua KPKS periode yang lalu menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa membawa KPKS menjadi seperti yang diharapkan banyak anggota. “Sebenarnya saya ingin mengundurkan diri tahun lalu tetapi tidak dikabulkan, baru tahun ini dikabulkan. Saya mengundurkan diri karena kesibukan saya, sehingga tidak bisa fokus di KPKS. Saya minta maaf atas hal ini,” ungkapnya Neni. Dia berjanji bersedia membantu kepengurusan yang baru ini di dalam bidang-bidang yang telah sepakati bersama oleh anggota. (Henrico Fajar K.W – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kasus Berbasis Masyarakat)

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK TUMBUH & KEMBANG BAGI ANAK“

Sosialisasi hak-hak anak dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2014.

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK  UNTUK TUMBUH & KEMBANG  BAGI  ANAK“

Bulan Juli datang kembali, meski sebagian orang juga tidak peduli atau bahkan tidak mengingat, tetapi anak-anak di RW 03 Tempen Joyosuran ; seperti Agnes, Mayanda Sari, Putri dan Lia pada bertanya  “Mbak, apa tidak ada kegiatan lagi untuk anak-anak seperti tahun lalu ?” Sesaat saya berfikir, apakah kegiatan setahun lalu begitu berarti bagi mereka hingga mereka masih bisa mengingat dan merasakan akan arti dunia anak. Saya berfikir perlu untuk sekedar mengingatkan kepada masyarakat Joyosuran dan sekitarnya bahwa masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan hak-haknya, khususnya hak kesehatan dan pendidikanya.

Saya pun memulai melakukan lobi kepada Pengurus KLA, Bapak Budi, dan juga Pengurus PPT, Bapak Gito. Mereka menyetujui kegiatan yang saya usulkan yaitu sosialisasi hak anak. Bahwa anak memiliki hak untuk partisipasi dan berekspresi,  juga memberikan pengetahuan tentang hak-hak anak kepada para orang tua.

Langkah selanjutnya, kami bersama beberapa Pengurus Forum Anak Joyosuran (Forajos) berdikusi pada bulan Agustus 2014, dimana kami menyepakati ada 2 kegiatan untuk peringatan Hari Anak Nasional, yaitu pada hari Minggu, 31 Agustus dan 14 September 2014. Kegiatan tanggal 31 Agustus akan diisi dengan pelatihan dan workshop pengelolaan sampah menjadi barang kerajinan dan workshop/sosialisasi pengelolaan sampah. Sedangkan tanggal 14 September, kegiatan penjurian lomba kreatifitas berbahan limbah plastik, lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD, serta sosialisasi hak-hak anak yang akan mengundang narasumber dari KLA dan SPEK HAM.

Kegiatan tanggal 31 sudah berjalan dengan cukup menarik, meskipun antusias peserta kurang maksimal karena peserta hanya hadir 65%. Sedangkan untuk tanggal 14 September, peserta cukup banyak, hampir 80% undangan dating. Mereka merasakan bahwa kegiatan seperti ini cukup memberikan manfaat dan juga menginspirasi kepada anak-anak dan remaja. Isian materi Sosialisasi Hak Anak 4tentang pentingnya pemenuhan hak-hak anak juga cukup di respon positif, bahkan ada yang baru tahu ternyata orang tua harus memenuhi hak-hak anak. “Mbak acaranya sangat bermanfaat lho, tahun depan diadakan lagi ya?” begitu kata Bu Desi dari RW 04. Dalam kegiatan ini, selain ada respon dari Bapak Gito selaku Ketua PPT (Pos Pelayanan Terpadu) dan juga Ibu F Sulastri A selaku Ketua KPJ. Hadir sebagai  narasumber dari SPEK HAM,  mbak Nila Ayu Puspaningrum,  yang memperkuat pengetahuan ibu-ibu dan anak-anak  tentang hak-hak anak dan juga pemahaman para orang tua bahwa tempat tumbuh dan berkembang bagi anak adalah dalam keluarganya.

Setelah sosialisasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman hasil penjurian  tentang tulisan anak oleh Mas Nocko selaku community organizer di Joyosuran.

Semoga kegiatan ini bisa berlanjut dan respon masyarakat Joyosuran semakin banyak dan positif. Selaku Pengurus KLA dan Pendamping Forajos, kami ucapkan banyak terimaksih .

Sosialisasi Hak Anak 3Sosialisasi Hak Anak 2

Ditulis oleh Ekky Puji Lestari, Pengurus KLA dan Pendamping Forajos.

(edit : nocko/photo : onie/spekham.org)

Mau Dibawa ke Mana Solo…???

Solo saat ini sedang menjadi sorotan publik, sejak dipimpin oleh Walikota Joko Widodo. Kota Solo yang terkenal dengan budaya Jawanya yang masih sangat kental yang pada saat ini pembangunan di Kota Solo itu sendiri menjadi semakin agresif namun tak juga melunturkan budaya lokal, terlebih saat Pemerintahan Kota ini dipimpin oleh sosok Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi. Perlu ditelusuri secara mendalam, perkembangan Kota Solo sekarang ini apakah sudah menjadi dambaan masyarakat Solo itu sendiri atau bahkan akan menjadi “lubang buaya” bagi tuan rumahnya.

Menurut Badan Pusat Statistik Surakarta (2010), bahwa kepadatan penduduk di Surakarta mencapai 11.431 orang per kilometer persegi dengan luas wilayah Solo hanya 44 kilometer persegi. Bisa dibayangkan betapa sempitnya wilayah Solo sekarang ini jika pada tahun 2010 saja sudah menunjukkan angka kepadatan yang signifikan. Jika dilihat secara fisik, Solo sudah seperti kota metropolitan karena banyak pusat komersial yang berdiri di sepanjang jalan akses kota.

Solo 2Sehubungan dengan akan diadakannya Pemilihan Kepala Daerah, melalui Rembug Solo yang digawangi oleh Solopos, bertajuk “Solo Mau dibawa Kemana..?” yang berlangsung pada hari Rabu, 20 Agustus 2014 di Griya Solopos, dengan mendatangkan narasumber Ir. Kusumastuti MURP (Pengamat Tata Kota UNS) dan Dr. Anton A. Setyawan, SE. Msi (Pengamat Ekonomi UMS), yang dihadiri juga oleh anggota DPRD Solo, Umar Hasyim dan Direktur LSM SPEK-HAM, Endang Listyani, tak luput juga para Pemangku Partai Politik yang ada di Solo, juga perwakilan masyarakat umum Solo. Dalam forum Rembug ini diharapkan masyarakat mampu memberi kontribusi dalam memberikan gambaran siapa calon Walikota Solo tahun 2015 nanti.

Ada beberapa potensi akar permasalahan yang dirumuskan dalam Rembug ini, yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh calon Walikota Solo yang menjabat, diantaranya :

  1. Pembangunan pasar modern yang menggeser peran pasar tradisional. Karena Pemerintah Kota dianggap belum mampu memberi gambaran keberlanjutan pasar tradisional dan mengembangkan ekonomi kerakyatan.
  2. Perijinan pembangunan hotel yang semakin marak di Solo menjadikan Kota Solo terancam tidak memiliki ruang terbuka hijau, padahal ruang terbuka hijau di kota itu syaratnya 30% dari luas wilayah, sedangkan Solo baru memenuhi 20%.
  3. Pelayanan kesehatan yang masih berbasis kuratif/pengobatan, bukan diawali dari akar masalah yang timbul atau preventif (pencegahan), sehingga masih ditemukan beberapa masyarakat Solo yang menjadi penderita suatu penyakit, serta masih banyaknya Puskesmas di Solo Raya yang tidak ada dokter prakteknya.
  4. Buruknya drainase (belum tertuang dalam Musrenbangkel). Solo merupakan kota pemukiman padat penduduk sehingga masih terdapat masyarakat yang membuang sampah di saluran air sehingga mempengaruhi kualitas sumber air yang ada, padahal Solo sendiri tidak memiliki sumber air yang cukup untuk didistribusikan.
  5. Permasalahan pengelolaan sampah yang belum terealisasi sampai saat ini, sehingga belum ada bentuk pengolahan sampah terpadu tingkat kota yang dicanangkan dalam Perda.
  6. Peningkatan ekonomi kreatif yang masih macet. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya koordinasi dan sikap kooperatif untuk pengembangan budaya yang ada di Solo dengan pembangunan fisik Kota sehingga slogan “Solo The Spirit of Java” tidak tercipta pada saat ini.
  7. Pembentukan dan pengesahan Perda Partisipatif. Ini diharapkan akan memberi ruang lebar kepada masyarakat Solo pada umumnya untuk berperan aktif membangun dan mengembangkan Kota tempat tinggal mereka secara menyeluruh (bukan hanya fisik, tapi managerialnya) karena salama ini Perda tersebut tidak pernah dihiraukan oleh Pemerintah kota.

Ada beberapa pandangan dari para Pakar yang datang, untuk mampu mengatasi permasalahan yang ada. Ir. Kusumastuti MURP (Pengamat Tata Kota UNS) mengungkapkan bahwa selain terbangunnya kerjasama yang baik secara kewilayahan (Solo Raya), juga ada gambaran tentang perlunya dibentuk “Solo Community Center”, yang diharapkan akan menjadi wadah bagi seluruh aliansi yang ada, termasuk masyarakat umum Solo untuk berdiskusi bersama, berdedikasi, dan berkarya memajukan kota. Beliau memplotkan bahwa revolusi mental mampu memberi perubahan di kota Solo.

Sedangkan menurut Pengamat Ekonomi UMS Dr. Anton A. Setyawan, SE. Msi, memaparkan bahwa :

  • Solo akan mampu memajukan ekonomi kerakyatannya dengan menjadikan pasar-pasar tradisional yang ada sebagai pusat pendistribusian barang atau bahan yang dibutuhkan. Dan menjadikan perdagangan (pengolahan produk) sebagai sistem utama peningkatan ekonomi Kota Solo.
  • Selain itu, para pelaku pasar modern (minimarket dan sejenisnya) dipastikan tidak mudah mengkases bahan mentah dari para petani di Solo Raya.
  • Dari sekitar 63 Perguruan Tinggi yang ada, diharapkan ada Perguruan Tinggi di Solo yang khusus untuk kebutuhan riset.

Disayangkan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo tidak dapat hadir dikarenakan memenuhi panggilan tugas oleh Joko Widodo (Mantan Walikota Solo) ke Jakarta. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat para peserta yang ada. Semua yang terlibat dalam rembug itu berharap pada Anggota Dewan yang hadir untuk lebih peka menyimpulkan aspirasi yang tertuang sebagai pertimbangan pemilihan Calon Walikota. Selain itu, diharapkan Calon yang diusung oleh Partai Politik merupakan seseorang yang berkompeten dan memiliki visi yang mampu menegakkan PERDA.(murni/spekham.org)

“Akses Keadilan Untuk Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Berbasis Gender”

 Program Bantuan Hukum

 “Akses Keadilan Untuk Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Berbasis Gender”

Sejak bulan Juli 2013 SPEK-HAM bekerjasama dengan Kementrian Hukum dan HAM, melakukan Program Bantuan Hukum  Gratis bagi masyarakat miskin. Program bertujuan untuk mendekatkan akses bantuan hukum pada perempuan dan anak korban kekerasan  berbasis gender. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan mengadakan serangkaian acara penyuluhan hukum di beberapa wilayah dampingan SPEK-HAM, antara lain di Kelurahan Gilingan, Kelurahan Joyosuran, Kelurahan Kestalan, Kelurahan Sewu. Pelaksanaan penyuluhan hukum yang dilakukan selama ini juga bekerjasama dengan stakeholder serta  komunitas dampingan wilayah setempat. Diharapkan  dengan terselenggaranya kegiatan ini, kekerasan berbasis gender bisa semakin menurun. (spek-ham/fitri hr, email : fitrijunanto@yahoo.com)

Bantuan Hukum Kemenkumham

Penyuluhan Hukum di Kelurahan Gilingan.

Bantuan Hukum Kemenkumham 2

Penyuluhan Hukum di Kelurahan Joyosuran.