Search for:

Pra Koperasi SPEK HAM

“Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945” UUD No. 25 Tahun 1992 tentang Koperasi.

SPEK HAM, 5 September 2014. Masyarakat seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi mempunyai tantangan tersendiri dari berbagai segi kehidupan ; Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya serta Teknologi. Bertolak dari hal-hal tersebut dan juga melihat pada perkembangan kebutuhan dari stafnya seperti kebutuhan pribadi, kebutuhan yang menunjang pekerjaan, kebutuhan akan permodalan usaha dan lain sebagainya, maka pada tahun 2009, SPEK HAM mencoba mengadakan simpan pinjam bagi stafnya. Simpan pinjam ini merupakan benih adanya Pra Koperasi yang didirikan pada tahun 2011.

Melihat dari manfaat yang didapatkan, dengan berinisiasi dengan program-program yang saat ini sedang berjalan di kelompok dampingan SPEK HAM di beberapa Kelurahan di Solo dan Klaten, SPEK HAM mencoba untuk melakukan pembelajaran bersama terkait dengan pengelolaan keuangan kelompok. Pengalaman-pengalaman baru terkait dengan pengelolaan keuangan kelompok banyak didapatkan. Manfaat dirasakan dari adanya kegiatan ini, disamping juga tantangan-tantangan yang terjadi.

Melihat manfaat yang didapatkan dari adanya simpan pinjam dan Pra Koperasi ini, SPEK HAM berniat untuk beranjak kepada tingkatan yang lebih serius lagi yaitu mengubah Pra Koperasi menjadi Koperasi yang berbadan hukum. SPEK HAM juga mencoba merangkul dari pihak luar untuk menjadi anggota Koperasi, tidak terkecuali adalah kegiatan simpan pinjam yang saat ini berjalan di kelompok dampingan.

Tahap awal yang saat ini dilakukan SPEK HAM adalah dengan mengundang Dinas Koperasi dan UMKM untuk melakukan sosialisasi mengenai Koperasi kepada anggota Pra Koperasi SPEK HAM dan beberapa pengurus simpan pinjam di Komunitas. Perwakilan Pengurus simpan pinjam dari Kelurahan Kestalan, Gilingan, Kemlayan, Sewu dan Joyosuran dengan antusias melakukan tanya jawab dengan Dinas Koperasi dan UMKM yang diwakili oleh Ibu Purni.

Harapannya adalah Pra Koperasi SPEK HAM dan simpan pinjam di kelompok dampingan bisa berinisiasi menjadi Koperasi yang berbadan hukum yang akan lebih mensejahterakan anggotanya. (nuel oei/spekham.org)

Kelompok Mawar dan Tanaman Pangan Keluarga

Kelompok Perempuan Mawar, Desa Balerante, Klaten merupakan salah satu kelompok perempuan yang didampingi oleh SPEK HAM sejak terjadinya erupsi Merapi tahun 2011. Sejak perkenalan hingga tahun 2014 ini, banyak pembelajaran yang sudah dilakukan bersama, mengenai respon bencana, peternakan terpadu dan tanaman pangan, pengelolaan uang kelompok serta masih banyak yang lainnya.

Salah satu yang menjadi fokus pembelajaran saat ini adalah mengenai tanaman pangan keluarga. Tentang bagaimana memanfaatkan ruang-ruang kosong di halaman rumah untuk ditanami dengan berbagai macam sayur yang bisa dijadikan konsumsi sehari-hari.

Kelompok Perempuan Mawar dan SPEK HAM kali ini, 30 Agustus 2014, berkesempatan untuk melakukan praktik pembelajaran tanaman pangan bersama Mas Eka Budhi Sulistiyo. Praktik tanaman pangan keluarga dilakukan di rumah Ibu Darsiati, di RT 06 RW 03. Praktik tanaman pangan keluarga ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yaitu tentang peternakan terpadu. Bermacam bibit semangka, sawi hijau, sawi putih, kacang panjang, cabe, tomat, dan terong ditanam dengan menggunakan media polibag.

PIC_0813Kegiatan praktik tanaman pangan keluarga ini semuanya dilakukan oleh anggota Kelompok Perempuan Mawar, dari mencangkul tanah, mengambil kompos, mencampur tanah dengan kompos, kemudian memasukkannya ke dalam polibag, sampai pada penataan polibag dan penanaman bibitnya. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos dan pupuk cair yang didapat dari kegiatan sebelumnya. Saat ini Kelompok Perempuan Mawar sedang mempraktikkan pembuatan pupuk cair itu secara mandiri. (nur eko/edit : nuel oei/spekham.org)

Kelompok Perempuan “Mawar” Balerante dan Pupuk Cair

Sore itu, Kamis 28 Agustus 2014 nampak Kelompok Perempuan “Mawar” Desa Balerante, Klaten sedang mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan kali ini bertempat di rumah Ibu Darsiati di RT 06 RW 03. Pertemuan kali ini mengadakan pembahasan mengenai pupuk cair, yang dipandu oleh teman dari SPEK HAM dan Mas Eka Budhi Sulistiyo sebagai fasilitator.

Pembuatan pupuk cair ini memanfaatkan bahan-bahan yang ada didaerah balerante, berupa sisa kotoran sapi, air kencing, air sisa memandikan sapi dan air yang bercampur kotoran sapi “lethong”.

Tahap-tahap pembuatan pupuk cair :

  1. Kotoran cair tersebut diambil langsung dari kandang sapi kemudian masukkan dalam wadah (botol mineral 1,5PIC_0724
    liter).
  2. Sisakan sepersepuluh bagian dari wadah untuk diisi cairan proaminosin hingga penuh, kemudian ditutup yang rapat.
  3. Setelah ditutup, jungkir-balikkan wadah yang sudah terisi kotoran sapi cair tersebut agar proaminosin bercampur merata.
  4. Kemudian tempatkan di tempat yang teduh, diamkan selama 24jam.
  5. Setelah 24 jam, buka tutup botol tersebut untuk membuang gas yang berada dalam botol.
  6. Setelah itu ulangi lagi buka penutup pupuk cair tersebut tiap 12 jam sekali selama 6 hari.
  7. Dengan demikian waktu yang dibutuhkan dari awal membuat pupuk sampai pupuk dapat digunakan secara langsung adalah selama 7 hari atau 1 minggu. Larutan yang sudah jadi tersebut juga bisa dijadikan “Biang” pupuk cair. Sehingga pupuk cair tersebut dapat diperbanyak sendiri tanpa harus membeli.

Cara penggunaan pupuk cair :

  1. 200 ml pupuk cair dicampurkan dengan 10 liter air.
  2. Kemudian siram atau semprotkan pada tanah/media tanam.
  3. Semisal untuk memupuk tanaman rumput, setelah rumput dipotong, langsung siram dengan pupuk cair tersebut.
  4. Untuk penyemprotan rutin bisa dilakukan tiap 2 minggu sekali.

Semoga bermanfaat.

(nur eko/spekham.org)

Pernik Cantik dari Limbah Sampah

“Workshop Pemanfaatan Limbah dan Sampah Plastik”

Diselenggaran  oleh KPJ – Forajos – PKK Joyosuran – SPEK HAM untuk mendukung gerakan “Cinta Bumi“

Minggu pagi tanggal 31 Agustus 2014. Sejak pukul 09.30 WIB, anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di Bale Kelurahan Joyosuran. Mereka datang membawa botol plastik aneka ukuran dari botol minuman yang sudah tidak terpakai yang biasanya berserakan atau dibuang ke kali, yang semakin membuat mampet saluran air dan membuat air tergenang  yang akan mengakibatkan banyak nyamuk.

Setelah peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja serta anak-anak dari 12 RW di Kelurahan Joyosuran sudah mulai berdatangan, acara segera di mulai. Diawali dengan sambutan dari PKK Kelurahan Joyosuran Pokja Satu, yang menyampaikan perlunya mendorong kegiatan-kegiatan di masyarakat yang terkait dengan lingkungan dan peningkatan keterampilan, salah satunya adalah dengan memanfaatkan potensi sampah. Sampah bisa bermanfaat pada peningkatan ekonomi masyarakat melalui kegiatan industri rumah tangga dan juga kebersihan lingkungan menjadi lebih terjaga.

DSCN9398Dalam kegiatan ini, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) berperan pada pemberian materi, yang disampaikan oleh Ibu Eky Puji Lestari selaku koordinator perempuan untuk penguatan ekonomi kreatif di KPJPU. Selain itu juga ada ada co fasilitator Ibu Rani Misdiyati dan Ibu Trie yang membantu pada proses prakteknya. Diawali dengan pemaparan hasil pemetaan KPJ tentang lingkungan, dimana wilayah ini berpotensi terjadi  genangan air atau banjir yang disebabkan oleh insfrastruktur yang kurang memenuhi syarat karena saluran pembuangan air  dibuat sempit dan kurang saluran yang bisa dibuka untuk dibersihkan. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk merawat lingkungan khususnya kali dan saluran air juga masih perlu ditingkatkan. Selain itu juga disampaikan pemaparan hasil temuan dalam pemetaan tentang potensi perempuan Joyosuran, termasuk  remaja, dalam berperan aktif  menjaga lingkungan dan mencintai bumi dengan terlibat dalam gerakan “Cinta  Bumi” yang mulai dicanangkan sejak Desember 2013.

DSCN9343Berbagai kreasi dari barang bekas seperti botol minuman yang terbuat dari bahan dasar plastik menjadi aneka pernak-pernik cantik seperti kap lampu, celengan dari bahan plastik, aneka bunga dan lain-lain. Kegiatan ini  menjadi salah satu media untuk mengenalkan kepada remaja dan ibu-ibu untuk menjaga lingkungan dengan berperilaku yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah. Kegiatan ini menjadi gerakan awal pada remaja karena akan dilanjutkan dengan pelatihan kepemimpinan dan workshop pendalaman bagi ibu-ibu, yang akan dilakukan di show room Griya Lilin di Kampung Gabudan pada minggu kedua. Kemudian pada tanggal 14 September 2014 akan dilaksanakan kegiatan mendukung gerakan ini dengan berbagai aktifitas untuk remaja maupun ibu-ibu.

Kegiatan semacam ini akan lebih baik jika dikomunikasikan secara intens kepada Pemerintah Kelurahan sehingga akan menjadi bahan diskusi tentang keberlanjutan kegiatan ini. Dengan adanya keterlibatan dari pihak Kelurahan akan lebih memaksimalkan dukungan kepada kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Terlebih ketika terjadi perubahan Kepala Kelurahan tidak akan berdampak signifikan terhadap kegiatan yang ada di masyarakat karena sudah menjadi  keputusan Kelurahan melalui SK Lurah. Berawal dari membangun kesadaran diri, memperkuat komitmen keluarga dan masyarakat  untuk  mulai peduli dengan lingkunganya, moment peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2014 memberikan spirit kepada masyarakat bahwa tumbuh di lingkungan yang sehat menjadi bagian salah satu hak manusia. (a noko alee/spekham.org)

Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga untuk Bercocok Tanam Pekarangan

“Sebuah kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) Kenanga RW 04, Kelurahan Joyosuran“

Banyak hal yang mampu memberikan inspirasi kepada perempuan-perempuan Joyosuran setelah diadakan kegiatan kunjungan pembelajaran di Kecamatan Selo dan Kecamatan Musuk, Boyolali pada bulan Juni 2014 lalu. Kegiatan bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah  bisa menjadi salah satu alternatif berhemat kebutuhan sehari-hari seperti sayuran loncang, seledri, tomat, cabe dan lain-lain.

Untitled-1Untuk merealisasikan   ide dan gagasan ini, maka pada tanggal 28 Agustus 2014 pukul 18.30 WIB, Kelompok Perempuan Kenanga mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik untuk mendukung kegiatan tanaman pangan keluarga di pekarangan sebagai salah satu bentuk gerakan “Cinta Bumi“. Kegiatan ini menjadi gerakan bersama untuk mencintai dan merawat lingkungan dengan mengelola sampah  rumah tangga bernilai ekonomis dan mendukung kegiatan tanaman pangan rumah tangga.

Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos difasilitasi oleh Bapak Eka Budi Sulistyo yang memiliki pengalaman berpuluh tahun dalam pengolahan pupuk organik. Bapak  Eka banyak menyampaikan teori maupun praktek langsung membuat pupuk organik dengan memanfaatkan limbah seperti daun-daunanan, air cucian beras, sisa sayur, sisa nasi dan lain-lain serta air comberan sebagai pelengkap, selain itu juga ada bahan tambahan seperti mikroba probiotik, serta larutan penyedap rasa. Pelatihan yang berlangsung 3 jam ini melibatkan tidak kurang dari 20 anggota Kelompok Perempuan  Kenanga, Rw 04 Kelurahan Joyosuran. Mereka terlibat secara antusias dalam kegiatan ini. Pada sesi praktek semakin menarik, banyak pertanyaan kritis  tentang varian bahan, ciri-ciri kegagalan  dan keberhasilan dalam proses fermentasi dan bagaimana memberikan pupuk yang benar pada tanaman agar buah menjadi lebat dan manis.

Semoga kegiatan ini mampu menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lain di perkotaan yang tidak memiliki lahan untuk memanfaatkan pekarangan sempit untuk mendukung gerakan “Cinta Bumi” dan yang paling penting perempuan mampu menyediakan sumber-sumber pangan sehat berkualitas bagi keluarga. (a noko alee/spekham.org)

Friday Morning “Sehat dan Menghijau”

Friday Morning, kami biasa menyebutnya dengan FM, merupakan agenda rutin Yayasan SPEK HAM Surakarta untuk membekali dan menambah kapasitas para staf yang merupakan ujung tombak dalam advokasi.

 

Agenda FM kali ini : Sehat dan Menghijau.

Hari           : Jum’at, 29 Agustus 2014

Pukul         : 08.00 WIB

Acara         : Senam Pagi dan Berkebun Bibit

Fasilitator : Mas Eka

 

Karnaval Budaya Klaten “Kebudayaan Membangun Manusia”

Kabupaten Klaten selalu menggelar agenda tahunan untuk memperingati HUT Kabupaten Klaten dan HUT Republik Indonesia dalam bentuk Karnaval. Kegiatan ini diikuti oleh 26 Kecamatan dan 16 SKPD serta puluhan Komunitas Seni yang ada di Klaten. Tidak ketinggalan pula KPA Kabupaten Klaten dan SPEK HAM sebagai Lembaga yang mengangkat isu HIV & AIDS juga ikut dalam acara karnaval.

Karnaval Budaya 2Karnaval digelar selama dua hari, Senin & Selasa, 18 & 19 Agustus 2014, di sepanjang Jl. Pemuda Klaten. Karnaval dimulai pukul 13.00-17.00 WIB dan dibagi dalam dua agenda, yakni Karnaval “Pembangunan” dan Karnaval “Budaya” sebagai acara puncak. KPA dan SPEK HAM ikut berpartisipasi dalam Karnaval “Budaya” dengan menyertakan kelompok-kelompok dampingan (SMK Kesehatan, PMR SMU Negeri 1, Teater Gligik, KomPak, Ikatan Waria Klaten, Forum Nahdiyin Peduli HIV & AIDS, Stand up Komedi, musik RAP, Beatbox) yang tergabung dalam “Forum Peduli HIV & AIDS Kabupaten Klaten” dengan menampilkan potensi dari komunitas seperti tari, mocopat, teatrikal dan musik beatbox.

Disaksikan langsung oleh Bupati Klaten beserta segenap tamu undangan di pangung kehormatan, dan juga ribuan masyarakat di sepanjang jalan, arak-arakan budaya ini berlangsung meriah. Pada kesempatan ini pula diserahkan hasil temuan Kasus HIV & AIDS di Kabupaten Klaten dari tahun 2007-2014, dan hasil temuan kasus HIV & AIDS tahun 2014 dari Nonik (perwakilan dari IWAK) dan Antonius Danang (Perwakilan dari LSM SPEK HAM) kepada Bapak Sunarno,SH (Bupati Klaten).

Kegiatan ini dikemas dalam 5W ; Wasis, Wareg, Waras, Wisma, Wutuh, yang merupakan penjabaran misi dari Kabupaten Klaten yaitu terwujudnya Toto, Titi, Tentrem, Kerto Raharjo. “Wasis berarti pendidikan, Wareg berarti ketersediaan pangan, Waras berarti kesehatan, Wisma berarti tempat tinggal, dan Wutuh berarti persatuan.” jelasnya.

Pelestarian budaya merupakan perwujudan dari salah satu misi Bupati Klaten dengan mengembangkan budaya-budaya lokal yang ada di Kabupaten Klaten. “Ini adalah sebuah kegiatan tahunan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Klaten, memberikan apresiasi kepada seniman dan mereka yang berkecimpung dalam seni budaya sekaligus juga menghibur masyarakat.” dan sekalian sebagai ajang mengkampanyekan program-program Instansi dan Lembaga-lembaga yang ada di Klaten, seperti isu HIV dan AIDS yang diangkat oleh SPEK HAM dan KPA. (danang/spekham.org)