Search for:

Tamu dari Belgia Hadiri Pertemuan Rutin Bank Sampah “Sumber Rejeki”

pertemuan rutin demplot

Pada Kamis, 11 Juli 2019, Bank Sampah “Sumber Rejeki” Kelurahan Kemlayan menyelenggarakan pertemuan rutin dua bulanan oleh anggota-anggota perwakilan demplot dari berbagai komunitas.  Tidak hanya itu, pertemuan tersebut juga didatangi oleh perwakilan kelurahan setempat. Umumnya, pertemuan rutin tersebut melatih dan memberikan edukasi terhadap anggotanya tentang penanaman tumbuhan pertanian.

Dalam pertemuan ini, topik yang dibahas adalah cara membuat pupuk kompos berbentuk cair dari limbah sayur-sayuran. Pelatihan tersebut dilakukan dikarenakan masih banyak limbah sayuran yang hanya dibuang dan dibiarkan busuk begitu saja, padahal sebenarnya masih bisa dipergunakan untuk digunakan menjadi pupuk kompos. Limbah sayur pun mudah untuk didapatkan, dimulai dari limbah sayur rumah tangga dan warung makan atau restoran setempat. Jadi pembuatan pupuk kompos ini termasuk mudah karena adanya resources yang melimpah.

Pertemuan tersebut didatangi oleh dua tamu dari Belgia. Dua orang berasal dari Belgia salah satunya yaitu Charlote, yang bekerja di Rikolto International. Rikolto merupakan sebuah organisasi yang memfokuskan pembangunan terhadap petani-petani daerah dan meningkatkan persediaan pangan untuk masa depan. Sedangkan satu lagi, Marica, merupakan jurnalis di Belgia. Mereka berdua bekerja sama dan sedang di Indonesia untuk pergi ke desa-desa setempat dalam rangka membuat sebuah penelitian terkait petani-petani setempat.

Berbagai pengalaman dan tanya jawab juga terjadi pertemuan ini. Di antaranya adalah Charlote dan Marica menanyakan bagaimana warga sekitar merawat dan mengembangkan tanaman-tanaman miliknya sendiri. Selain itu mereka juga bertanya  apakah ada perubahan pola makan di daerah sekitar, menjadi lebih sehat (menambahkan sayur menjadi makanan keseharian). Hal ini sebab banyak warga yang sudah menanam tanamannya di rumah. (pandu-mgg)

Pemimpin Perempuan dalam Bursa Pilkades 2019

“Pemimpin perempuan tidak hanya bicara perspektif tetapi juga kinerja dan kebijakannya apakah sudah mengakomodasi kebutuhan perempuan”

Gambar-gambar untuk alat kampanye menghiasi sudut kampung, perempatan, lapangan bahkan tempat-tempat umum seperti sekolaha, pasar, dan masih banyak sekali. Gambar dan slogan dengan ukuran kecil sampai ukuran besar tersebar hampir merata di setiap desa di Kecamatan Musuk. Setidaknya itulah yang setiap hari saya lewati yaitu Desa Musuk, desa Kembangsari, Sruni dan Cluntang.

Gambar-gambar alat kampanye yang menjadi alat sosialisasi atas pencalonan diri sebagai kepala desa, dengan jargon, yang mencolok dan kadang terkesan lucu seperti “pilih yang punya kasih, bukan yang memberi tali kasih” atau “pilih yang sudah terbukti, jangan yang belum ada karya kayak beli kucing dalam karung” tetapi ada juga yang dengan kalimat-kalimat sarkasme seperi “pilih yang 100 % asli”, atau “ayo mukti bersama saya”.

Saya kira semua sah-sah saja dilakukan oleh para calon kepala desa. Kampanye juga mulai disusun. Strategi dan team pemenangan juga dilakukan. Modal uang, doa, massa juga disiapkan jauh-jauh hari, tetapi besar pertanyaan dalam hati saya, bagaimana dengan calon kades perempuan dan bagaimana dengan calon pemilih perempuan?

Dari pengamatan dan informasi yang ada di Kecamatan Musuk, ada lima  kandidat kades perempuan yaitu di Desa Cluntang, Kembangsari, Kebongulo, Sumur dan Desa Ringin Larik.  Dari kelima kandidat kades perempuan dua sudah menjabat sebelumnya sedangkan tiga lainnya pendatang baru di bursa pencalonan kepala desa, meski rekam jejaknya dalam berkegiatan sudah diketahui publik.

Menurut Sutarti dan Poniyem, kalau ada calon kades perempuan mereka pasti memilih calon perempuan karena menurut mereka  calon perempuan memiliki kelebihan bisa diajak komunikasi. Calon kades perempuan juga bisa memperhatikan kebutuhan perempuan tentunya.  Begitupun menurut Ismiyati, “Saya juga memilih perempuan, tentu saya mudah me-loby dan juga berkomunikasi. Ini kedua kalinya di desa saya ada calon kades perempuan.” 

Setelah melihat hasil pemilihan kades tahun 2019, perempuan dari lima kandidat kades perempuan, tiga di antaranya jadi pilihan terbaik bagi masyarakat.  Mereka adalah Suryati, S.Pd.  dari Desa Cluntang, Nanik Handayani dari Desa Ringin Larik dan Siti Prihatin dari Desa Sumur.  Begitu banyak harapan para pemilih perempuan terhadap para pemimpin perempuan.  Semoga dengan visi dan misi yang mereka miliki mampu mengakomodasi kebutuhan perempuan di Kecamatan Musuk dan Taman Sari, khususnya di Desa Cluntang, Ringin Larik dan Sumur. (noko alee)

Suryati, S.Pd. Kades Cluntang terpilih

Pembelajaran Pertanian Organik Bawang Merah yang Terdokumentasi

Dua orang petani bawang merah organik

“ Pertanian bawang merah ramah lingkungan, menjadi awal pembelajaran bagi petani Berkah Tani Desa Cluntang , Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali “

Lereng Merapi sebelah timur masih terlihat kokoh, menghijau dan hawa dingin hampir mendekati  20 derajad semakin menusuk tulang para penghuninya. Geliat semangat para penggerak pertanian di pagi hari terlihat ramai menyusuri jalan-jalan kecil desa, pematang ladang, jalan-jalan menuju bukit dengan membawa arit, tali pengikat. Pupuk kandang dipanggul oleh para lelaki. Di belakang berjalan para perempuan yang dengan semangat berjalan kaki dengan baju lengan panjang, sepatu boot, melangkah mantap menatap hamparan lahan pertanian. Di sanalah penghidupan dan kepulan asap dapur diharapkan, hasil-hasil petanian yang dihasilkan dari tangan, doa dan ucapan para perempuan.

Pada Maret 2019, melalui diskusi panjang oleh petani-petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup, Desa Cluntang serta diperkuat para mentor Sekolah Tani Tri karya Manunggal dari Rt Jelog, Gondang Tutup yang terdiri dai 10 orang maka disepakati, diikrarkan untuk melakukan kegiatan pertanian ramah lingkungan. Sistem pertanian lebih aman untuk lingkungan, lebih sehat dan menyehatkan tanah. Dengan melakukan serangkaian perawatan dan teknik budi daya pertanian ramah lingkungan berarti mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Di awal-awal tidak mudah menjelaskan tentang konsep ini, tetapi dengan pertemuan-pertemuan, penguatan dari dinas-dinas terkait, maka komitmen itu disepakati dan dituangkan dalam catatan bahwa anggota akan menyediakan lahan pertanian untuk praktik pertanian ramah lingkungan ini

Dari kesepakatan bersama 21 anggota yang tergabung dalam mustahik kelompok Berkah Tani, mereka menyepakati menyiapkan tanah-tanah mereka yang berkisar 300m sampai 750 m untuk praktik budi daya bawang merah ramah lingkungan. Kegiatan pun dimulai dengan pembuatan pupuk secara bersama-sama, PGPR untuk penguat dan penyubur tanah dan juga penyiapan bibit bawang merah unggul. Setiap petani akan mendapatkan 80 kg benih, yang akan ditanam di lahan masing-masing sesuai dengan tahapannya. Tetapi untuk pembelajaran ada praktik kebun bersama di kebun Bapak Jumadi dengan tiga teknik bertani yaitu dengan media tanah, polybag dan mulsa.

Tahapan-tahapan pertanian sudah diterapkan oleh para petani, baik mulai penyiapan pupuk kandang, fermentasi, penyiapan lahan, penanaman bibit, perawatan yang terdiri dari penyemprotan, penyiangan rumput dan juga penghilangan parasit atau kutu jika tanaman diserang kabut. Semua anggota sudah mendapatkan pengetahuan yang sama, dan eksekusi selanjutnya terkembali pada kemampuan, komitmen dan juga niat masing-masing anggota, sehingga hasilnya membutuhkan 75 sampai 80 hari akan terlihat

Kegiatan pertanian ini juga dibutuhkan dokumentasi yang baik. Semua kegiatan dari awal sampai panen, diharapkan pencatatannya juga dilakukan secara rutin baik meliputi data awal mustahik, perawatan yang dilakukan, temuan atau pengalaman menarik, sehingga setiap berkala bisa di jadikan analisa. Para mentor sekolah tani dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing 4 orang dengan melakukan monitoring di 7 sampai 8 mustahik sehingga perkembangan dari para mustahik tani ini bisa terdokumentasi dengn baik dalam bentuk catatan, foto maupun video.

Dalam kegiatan praktik pertanian ramah lingkungan ini juga tidak lepas dari peran para perempuan, istri maupun keluarga dari para mustahik. Mereka terlibat sejak menjadi peserta sekolah tani, praktik membuat pupuk, mempersiapkan lahan, merawat hingga panen tiba. Dari tangan-tangan peremuan serta doa-doa tulus keluarga praktik tanaman bawang merah inipun sampai tiba pada panen. Hari itu tepatnya pada saat idul fitri maupun setelah idul fitri, masing-masing petani mustahik melakukan panen di hari ke 75 maupun ke 80. Tentunya dengan alasan berbagai macam seperti kondisi bawang yang keburu diserang hama maupun serangan kera, atau dengan alasan kalau tanpa pupuk kimia maka diperlukan waktu lebih lama agar  bawang merah lebih memiliki bobot.

Dari hasil pengalaman kami ada beberapa hal yang dicatat selama praktik ini dilakukan, antara lain penyiapan lahan yang tidak berbarengan berakibat pada hasil yang tidak sama karena terkait dengan bibit bawang merah yang tidak segera ditanam. Perawatan yang tidak kontinyu khususnya penyiangan rumput liar dan juga penyemprotan yang kurang konsisten antara petani satu dengan yang lain. Penyebab ketiga adalah perlakuan terhadap tanaman oleh beberapa petani, mereka yang intens setiap hari datang untuk melihat perkembangan tanaman tetapi ada beberapa petani yang kurang rutin.  Kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh di luar desa berangkat pagi, pulang sore sehingga tanaman kurang terurus. Sedangka perempuan juga harus melihat dan merawat tanaman lainnya sehingga secara tenaga dan waktu tidak cukup.

Tetapi dari praktik yang berlangsung ini setidaknya ada pembelajaran baik dapat dirasakan dari hasil diskusi yang selama tiga bulan ini intens dilakukan. Pembelajaran untuk melakuka kegiatan pertanian dengan modal tidak hanya uang, lahan tetapi doa dan komitmen yang juga harus diucapkan. Yang kedua mereka belajar tentang bagaimana dalam kegiatan bertani harus di managemen dari modal, tenaga, pupuk, dihitung sehingga mereka bisa mengetahui untung dan rugi dalam bertani yang mengarah pada pertanian moderen. Ketiga adalah mereka memiliki pembelajaran bersama yang dihasilkan dari diskusi setiap tahapan bertani dan dilakukan analisa bersama. Analisa berguna sehingga ke depan bisa menjadi modul pembelajaran yang baik dan dari kegiatan ini setidaknya mereka juga punya hasil bawang yang lebih sehat.

Ke depan ini akan menjadi investasi kesehatan. Terkait hasil kiloan dari masing masing mustahik yang naik dari modal bibit 50 sampai 200 persen adalah bonus dari komitmen, kerja keras. Kegiatan ini tak lepas dari dukungan yang luar biasa dari SPEK-HAM selaku pendamping lapangan yang bermitra dengan  BAZNAS melalui program Zakat Community Development (ZCD) yang akan menjadi pioneer  petanian ramah lingkungan di Desa Cluntang. (noko alee)

SPEK-HAM didukung Ipas Indonesia Beri Pelatihan Kespro Bagi Perempuan Muda

berfoto bersama usai pelatihan

Guna menekan angka pernikahan dini dan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), SPEK-HAM didukung IPAS Indonesia mengadakan Pelatihan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) pada Sabtu 29/6 dan Sabtu 6/7. Kegiatan ini diikuti oleh 60 orang perempuan muda dari berbagai desa yang ada di Kecamatan Bayat, Juwiring dan Klaten Tengah.

Pelatihan yang digelar serentak ini bertujuan untuk membentuk kader perempuan muda di tingkat desa sehingga harapannya mereka mampu mengedukasi teman-teman sebayanya agar paham dengan pengetahuan yang benar terkait informasi Kesehatan Reproduksi, di antaranya tentang pendidikan seks dan seksualitas.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini meliputi: Gender dan HKSR, Organ Reproduksi Perempuan dan laki-laki, Seksualitas, Tanda-tanda Kehamilan,  Komunikasi Persuasif dan Teknik Fasilitasi. Semua materi yang diberikan kepada perempuan muda ini diharapkan dapat menjadi bekal mereka saat terjun di tengah-tengah masyarakat.

fasilitator sedang memberikan arahan sebelum diskusi antar kelompok

Dida salah seorang peserta dari Kecamatan Juwiring mengaku senang dengan pelatihan ini karena merupakan pengalaman pertama baginya. “Saya senang dengan kegiatan ini, selain pengalaman pertama, pelatihan ini juga menambah pengetahuan saya seputar Kesehatan Reproduksi,” ungkap Dida.

Sementara itu Eva, peserta asal Kecamatan Bayat mengaku siap mengemban tugas sebagai kader perempuan muda yang salah satu tugasnya adalah mengedukasi perempuan muda di desanya masing-masing. “Dengan bekal pengetahuan yang saya peroleh lewat pelatihan ini, saya siap terjun ke masyarakat dengan memberikan penyuluhan kepada teman-teman remaja,”ungkap Eva. Selain itu dia juga siap mengajak bidan desa dan perangkat desa untuk mendukung program-programnya nanti.

Seperti yang kita ketahui pernikahan usia dini dan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) menjadi persoalan bagi generasi muda saat ini. Angka pernikahan dini di Kabupaten Klaten cukup tinggi. Tak hanya disebabkan tumpang tindih antara Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak saja.

Faktor utama penyebabnya yakni mempelai perempuan yang kedapatan hamil di luar nikah. Oleh karena itu tidak ada cara lain selain untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya Kesehatan Reproduksi secara terus-menerus. Henrico Fajar SPEK-HAM

Catatan dari Pelatihan HKSR Bagi Perempuan Muda Desa Juwiring

Pelatihan HKSR bagi para perempuan muda

Sabtu (29/6) SPEK-HAM bekerja sama dengan IPAS Indonesia menyelenggarakan pelatihan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi perempuan muda. Pelatihan diikuti oleh 25 orang dan difasilitasi oleh Atik dan Elizabeth Yulianti.  Berikut catatan tentang pelatihan HKSR di Desa Juwiring, Klaten.

Materi Gender diajarkan setelah bernyanyi dan game, yang dimulai dengan membaca intruksi-instruksi yang diberikan oleh pemateri: dengan simulasi 2 relawan, 1 berperan sebagai laki-laki (Nur) dan 1 lagi berperan sebagai wanita (Dewi). Setiap peran berhak maju 1 langkah  bila diuntungkan dan mundur 1 langkah bila dirugikan bagi intruksi-intruksi yang menguntungkan bagi salah satu gender.

  1. Di dalam keluarga laki-laki memiliki peran yang penting
  2. Di dalam keluarga, perempuan tidak usah melakukan apa-apa
  3. Di dalam keluarga, baik laki-laki maupun perempuan dapat bersekolah
  4. Laki-laki memiliki keajiban diluar rumah
  5. Perempuan boleh bekerja tapi asalkan pekerjaan itu dilakukan didalam rumah

Fajar, salah seorang peserta berpendapat bahwa adanya ketidakadilan terhadap gender perempuan, dimana laki-laki cenderung lebih dominan terkait dari sistem yang ada terlebih dalam unsur pendidikan dan pekerjaan.

Setelah itu, dilakukannya lagi game, fasilitator membaca beberapa pernyataan/ cerita dengan pilihan Setuju, Ragu-ragu dan Tidak Setuju. Kader memilih cerita mana yang sesuai dengan persepsinya masing-masing.

  1. Zizi adalah siswi. Mempunyai pacar bernama Yoyo (kelas 3 smp). Suatu hari, mereka melakukan hubungan seksual mengakibatkan Zizi hamil. Dengan ketakutan, masing-masing menceritakan orang tuanya. Setelah cerita dipihak orang tua masing-masing, mereka memutuskan untuk melaporkan ke pihak sekolah. Akhirnya, sekolah membuat kebijakan dimana Zizi dikeluarkan dari sekolah, sedangkan Yoyo diperbolehkan masih disekolah dikarenakan musim ujian 1 bulan akan tiba.

Mayoritas ada di kolom tidak setuju, kolom ragu-ragu kosong, dan hanya 4 orang yang setuju dari cerita diatas.

Kolom tidak setuju berpendapat bahwa  seharusnya dua-duanya ditetapkan untuk bersekolah, dikarenakan tidak ada akan yang tahu juga bahwa Zizi sedang mengandung. Selanjutnya  Putri berpendapat ada pendapat bahwa apabila kebijakan sekolah harus mengeluarkan, kedua murid harus dikeluarkan . Dida berpendapat bahwa tiap orang berhak untuk belajar.

Dewi,Putri Eka, Fajar dan Sinta ada  di kolom setuju berpendapat bahwa kesehatan janin lebih diutamakan, karena bila dipaksa mengikutin ujian takutnya kondisi psikis akan berakibat ke janinnya atau di-bully oleh teman-temannya, ada cara lain yang dapat digunakan adalah perempuan dapat mengikuti paket-C  ujian. Alasan yang lain adalah berpendapat bahwa pihak perempuan harus menanggung konsekuensi dan kesepakatan yang telah dibuatnya dengan sekolah. Dalam simulasi ini, sekolah-sekolah yang melakukan kesepakatan tersebut diantaranya: SMK Kesehatan Citra Medika Sidoarjo, SMK Muhammadiyah Delanggu, SMA 1 Polanharjo

  • Akhirnya zizi melahirkan dan memiliki anak perempuan, dan kemudian menikah setelah Yoyo lulus SMP, alaupun mungkin pekerjaannya tidak memiliki prospek yang bagus karena hanya lulusan SMP. Zizi rindu dengan sekolah, dan ingin melanjut kan sekolah. Tapi suami dan pihak suami tidak memperbolehkan karena harus ada orang yang mengurus anaknya, yaitu tidak lain adalah Zizi.

Diisi dengan hanya 1 (Dewi) orang ragu-ragu yang berpendapat bahwa tergantung dari kondisi keuangan keluarga tersebut. Karena apabila keluarga tersebut berada, dapat menyewa baby sitter dan memutuskan untuk sekolah, sedangkan bila kurang berada, option satu-satunya adalah harus merawat anak tersebut. Dewi berpendapat bahwa ilmu dan pengetahuan tidak hanya didapatkan dari sekolah saja.

Prety di kolom setuju yang hanya berisikan 1 orang berpendapat karena harus memfokuskan terhadap kondisi anaknya. Seorang anak harus mendapatkan pendampingan dan pengawasan dari salah satu orang tuanya dan kondisi yang mendukung untuk melakukan hal tersebut adalah si Zizi.

Nurani di kolom tidak setuju yang mayoritas berpendapat bahwa seorang perempuan harus mendapatkan ijazah sekolah minimal SMP untuk dapat kerja di pabrik-pabrik. Hal tersebut dapat sangat membantu bagi keluarga tersebut dalam jangka panjang di unsur ekonomi.

Setelah diskusi yang dilakukan berdasarkan cerita yang dibuat, fasilitator menjelaskan peran gender, bahwa keadaan represi perempuan terjadi karena adanya konstruksi masyarakat yang sudah dibentuk sejak lama, dimana perempuan harus perannya tertentu dan laki-laki melakukan perannya sendiri. Fasilitator menjelaskan bahwa sebenarnya laki-laki juga dapat melakukan peran yang biasanya dilakukan wanita dan begitu pun sebaliknya.

Kemudian, fasiliatator menjelaskan tentang seks, dimana hal tersebut merupakan hal yang tidak dapat dipertukarkan dan merupakan hal yang lahiriah, contohnya adalah alat reproduksi dan sel reproduksi. Instruktor setelah itu menjelaskan banyak orang yang tidak bisa membedakan kodrat, sesuatu yang tidak dapat diubah dengan gender, yang menyebabkan adanya ketidakadilan dalam gender.

Bila ada perempuan yang nekat dan melakukan sesuatu hal yang bukan merupakan ‘perannya’, masyarakat akan mencap dan memberikan label terhadapnya bahkan ada yang sampai melakukan kekerasan terhadap perempuan tersebut. Peran-peran yang dimaksud diantara lain perempuan harus lemah lembut; perempuan harus dirumah, menjaga anaknya; perempuan tidak boleh keluar malam dan masih banyak lagi.

Dewi merupakan salah seorang yang menjadi korban dari ketidakadilan gender tersebut. Ia sharing bahwa dicap sebagai wanita yang ‘tidak benar’ oleh tetangga-tetangganya, bahkan dipersepsikan bahwa ia hamil di luar nikah dikarenakan ia suka pulang larut malam. Padahal kenyataannya,dia memiliki agendanya tersendiri, yaitu aktivitas teater di tempat kuliahnya yang mengharuskan ia pulang malam.

Fajar juga menyampaikan pengalamannya terkait ia hampir merasakan hal yang sama dengan Dewi tetapi bukan tetangga, malahan keluarganya yang melakukan represi terhadapnya. Hukumannya biasanya tidak diperbolehkan keluar selama rentan waktu tertentu.

Perlu adanya penjelasan yang rinci dan clear terhadap isu gender maupun seks karena nantinya akan berdampak pada hak kesehatan dan reproduksi setiap orang.

Materi HAM, CEDAW, UU KDRT, dan RUU PKS 

Setelah memperlajari tentang Hak Asasi Manusia, CEDAW dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, materi selanjutnya adalah kehamilan tidak diinginkan yang diisi oleh Atik, fasilitator dari project IPAS yang menjelaskan pengertian apakah itu kehamilan. Dilanjut dengan menjelaskan bahwa ada kondisi dimana sang ibu tidak bahagia ketika sedang hamil, diantaranya adalah hamil diluar nikah, kondisi ekonomi yang tidak baik dan si ibu tidak menginginkan kehamilan tersebut.

Diskusi tentang kehamilan tidak diinginkan dijalankan dengan pembagian kelompok menjadi 5 kelompok dengan 4 anggota . Tiap kelompok dibagikan sebuah pertanyaan dan harus menjawabnya secara berkelompok.

Elizabeth Yulianti, fasilitator lainnya memberikan informasi tambahan tentang Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). Menjelaskan contoh-contoh apa saja yang sudah dapat diklasifikan sebagai KDP, diantaranya adalah: cubitan keras, dipukul, ditampar contoh-contoh tersebut adalah kekerasan fisik. Dicaci-maki, diselingkuhin, posesivitas merupakan contoh kekerasan psikis. Alasannya pun bermacam-macam, dimulai dengan kecemburuan dan lain-lain. Berhubungan dengan KDP, salah satunya adalah kekerasan seksual karena semakin banyak perempuan-perempuan yang melapor terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya. (Pandu/mgg)

Bank Sampah dalam Aspek Ekonomi

Penimbangan bank sampa pada kelompok bank sampah perempuan

Sampah merupakan isu yang sudah lumrah kita dengar di negeri ini. Berdasarkan laporan-laporan yang didapatkan, jumlah sampah di Indonesia kian akan meningkat. Pada tahun 2019, jumlah sampah diperkirakan akan mencapai 67 Juta Ton. Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar  64 Juta Ton. Bahkan disampaikan bahwa Indonesia merupakan negara darurat sampah.

Oleh karenannya, perlu penanganan yang dilakukan bahkan sampai level terbawah dalam masyarakat (RT/RW) agar angka tersebut dapat kian menurun. Salah satunya adalah program bank sampah yang terdapat di  komunitas perempuan di RW II Kelurahan Kemlayan, Solo seperti ditulis di https://www.spekham.org/bank-sampah-sumber-rejeki-memberdayakan-kelompok-perempuan-kepala-keluarga/

Menurut pengertiannya, bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung yang juga disebut nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam( setiap bank sampah di daerah memiliki sistemnya masing-masing sesuai dengan kesepakatan atau peraturan setempat).

Selain meningkatkan kepedulian masyarakat terkait kebersihan lingkungan akan bebas dari sampah  , manfaat lain dari adanya program bank sampah adalah meningkatnya tingkat ekonomi masyarakat sekitar. Dana yang terkumpulkan dari pemilahan lalu penjualan sampah pada umumnya digunakan sebagai dana sosial atau pra koperasi dalam masyarakat sekitar. Tetapi, juga ada bank sampah yang menetapkan bahwa dana yang didapat dikembalikan lagi kepada anggota masyarakat yang telah memberikan sampah kepada bank sampah tersebut.

penimbangan di bank sampah

Banyak variasi manfaat dari dana sosial yang telah terkumpul dari penjualan sampah, di antaranya adalah, masyarakat dapat menggunakannya sebagai penambahan modal maupun jumlah omset dalam membuka dan membangun usaha rumahannya, contoh yang sudah direalisasi adalah usaha menjahit, membuka usaha gorengan, dan rumah makan. Tentunya, walaupun keadaan ekonomi bertumbuh ke salah satu pihak masyarakat, akan berdampak baik juga ke masyarakat sekitarnya.

Selain itu, tentu saja dengan adanya bank sampah dapat memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga yaitu makanan, karena masih banyak warga miskin yang belum mencukupi kebutuhaan pangan yang dibutuhkan. Dengan banyaknya manfaat yang  diberikan oleh program ini, diharapkan daerah-daerah yang belum menerapkan program serupa dapat memulainya dengan segera ditambah lagi prosesnya pun mudah, penimbangan hanya diadakan sekitar 2 kali sebulan bahkan 1 kali sebulan. Diharapkan  dengan banyaknya daerah yang berpartisipasi dalam program ini tentunya tingkat ekonomi di Indonesia juga akan terbantu apabila dijalankan dengan masif.

Seperti dikutip bisnis.com, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bank sampah perlu dilandasi langkah antisipatif dari hulu sampai hilir, seperti meningkatkan kapasitas pengelola, melakukan kemitraan dengan instansi terkait, serta perluasan pemasaran, pembiayaan, dan pendampingan yang bertujuan untuk meningkatkan evektivitas pengelolaan dan pengembangan produk derivatifnya. Dan saat ini sebenarnya yang dibutuhkan adalah penguatan kelembagaaan bank sampah agar dapat berkembang dengan efektif dan efisien. (pandu-mgg)

https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/indonesia-hasilkan-67-juta-ton-sampah-pada-2019/1373712
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/apa-itu-bank-sampah-dan-apa-manfaatnya-61
https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/indonesia-hasilkan-67-juta-ton-sampah-pada-2019/1373712
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/apa-itu-bank-sampah-dan-apa-manfaatnya-61

Kunjungan TRUK F ke Komunitas Dampingan SPEK-HAM dan FGD

Suasana FGD antara TRUK F dan SPEK-HAM di kantor Jl Srikaya 20

Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) Flores (F) yang lahirnya bersamaan dengan SPEK-HAM mengadakan kunjungan kepada komunitas-komunitas dampingan SPEK-HAM, Kamis-Jumat (27-28/6). Selain berkunjung ke komunitas seperti di Desa Cluntang dan Musuk Kabupaten Boyolali sebagai wahana belajar, TRUK F bersama SPEK-HAM juga menyelenggarakan diskusi dengan materi berbagi pengalaman praktik baik yang dilakukan SPEK-HAM selama ini, baik tentang pendampingan-pendampingan kasus kekerasan namun juga advokasi kebijakan berperspektif perempuan baik di tingkat desa maupun kota/kabupaten namun juga pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban.

Heny dari TRUK F menyatakan bahwa selama ini lembaganya baru berfokus hanya pada penanganan kasus dan advokasi. Ke depan Heny ingin merambah kepada pemberdayaan ekonomi perempuan karena perempuan di wilayahnya masih mengalami ketertinggalan. TRUK F belum secara khusus memiliki Petugas Lapangan (PL) dan kepada SPEK-HAM mengemukakan pertanyaan-pertanyaan terkait strategi apakah yang bisa dibangun di Sikka, karena lembaganya termasuk lembaga rujukan bahkan kantor P2TP2A setempat jika menerima kasus kekerasan, kadang merujuk kepada lembaganya.

Nila Puspaningrum, manajer program Suistanable Lifelihood SPEK-HAM menegaskan bahwa untuk pendampingan di kelompok Sekar Putri Cluntang bukan project hingga tidak bergantung pada pihak donor tetapi program yang bermitra dengan BAZNAS Boyolali. Dengan latar belakang bahwa para perempuan dampingan mengalami kekurangan penghasilan pascaerupsi Gunung Merapi, lalu mereka mendeklarasikan dengan membuat kelompok yang bertahan dari tahun 2013 sampai sekarang. Sedangkan di Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) membuat kelompok mulai dari tingkat kelurahan, RW dan RT dan melibatkan LPMK. KPJ juga berperan dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan setempat. “Kami juga ada diskusi korban kekerasan, yang didominasi oleh persoalan-persoalan perempuan serta pendampingan ekonomi dan meberdayaan yang tidak terlepas dari pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Kami bersinergi memetakan potensi, dan kebutuhan,”jelas Fitri Haryani, Manajer PPKBM SPEK-HAM. (red)    

Kunjungan Direktur IPAS Global ASIA ke Sanggar SPEKTA Klaten Tengah

Berfoto bersama sebelum mengakhiri kunjungan

Senin, 24 Juni 2019 sanggar kesehatan reproduksi perempuan dan perempun muda SPEKTA (Solidaritas Perempuan Kuat dan Tangguh) Kecamatan Klaten Tengah dampingan SPEK-HAM mendapatkan kunjungan dari IPAS Global. Ada 20 orang Direktur dan Program Manager yang hadir  mereka berasal dari negara Pakistan, Bangladesh, India, Myanmar, Nepal dan Indonesia. Kegiatan ini adalah bagian dari pertemuan para Direktur afiliasi IPAS Global di ASIA yang diselenggarakan di Yogyakarta, yang salah satu kegiatannya kunjungan ke wiayah program pemberdayaan masyarakat sebagai saranan sharing dan pembelajaran atas praktik baik yang telah diterapkan di wilayah dampingan.

Mengawali kegiatan Rahayu Purwaningsih, SE selaku Direktur lembaga Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan HAM ( SPEK-HAM ) mengucapkan selamat datang kepada semua tamu baik dari Pemerintah Kota Klaten ( Dinas Kesehatan, Kecamatan Klaten Tengah, Kepala Kelurahan Kabupaten, Kepala Puskesmas Klaten Tengah, Bidan ) dan rombongan dari IPAS Global. Dalam sambutan pengantarnya Rahayu Purwaningsih memperkenalkan semua staff yang masuk dalam jajaran program IPAS dari SPEK-HAM, kader-kader perempuan dampingan dan sekelumit memberikan informasi terkait lembaga dan program.

Selain perkenalan juga dipaparkan terkait dengan situasi kesehatan reproduksi, anggka dispensasi pernikahan, kehamilan tidak diinginkan dan kekerasan dalam pacaran di kabupaten klaten, disebutkan Rahayu Purwaningsih sebagai pijakan kerja-kerja di lapangan bahwa data di tahun 2017 Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten menduduki peringkat ke 7 di Jawa Tengah dan menurut data dari Pengadilan Agama Kabupaten Klaten ada 135 dispensasi pernikahan, serta temuan-temuan di lapangan terkait angka kekerasan dalam pacaran (KDP) yang menyebabkan kehamilan yang selalu meningkat. Perkenalan tidak hanya dari SPEK-HAM saja, Mrs Simran selaku ketua rombongan juga memperkenalkan masing-masing Direktur dan asal negara.

Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM sedang mendapingi tamu.

Setelah agenda perkenalan, Ibu Catur selaku ketua sanggar SPEKTA memaparkan kegiatan yang sudah dilakukan dari bulan Oktober – Juni diantaranya : Pelatihan kader terkait Hak Kesehatan, Pertemuan Kelompok belajara, pertemuan kelompok sanggar kespro, safari kader pemberian informasi kepada masyarakat di tingkat desa dan advokasi kepada pemerintah desa terkait keperpihakan program dan anggaran melalui Dana Desa. Elizabeth Yulianti yang didaulat memandu acara dan juga sebagai penanggung jawab wilayah mempersilahkan rombongan untuk melihat kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan di Klaten Tengah dalam bentuk slide yang ditempel-tempel di dinding ruang sanggar selama 5 menit sebelum proses tanya jawab.

Elizabeth Yulianti sebagai koordinator wilayah dampingan sedang menjawab pertanyaan dari tamu

Muncul ungkapan-ungkapan positif yang keluar dari peserta terkait keperpihakan pemerintah baik kabupaten maupun lokal (desa/kelurahan) serta semangat kader dalam berproses di tingkat basis. Acara selesai pukul 09.30, dan ada banyak hal yang didapat dari kunjungan rombongan IPAS Global. Kader-kader perempuan Klaten Tengah merasa dihargai kerja-kerja yang dilakukan, serta menjadi suntikan semangat sendiri. Berikutnya rombongan melanjutkan kunjungannya di RSUD Bagas Waras Klaten untuk melihat dari sisi layanan kesehatan dan kelengkapannya. (Ant.Danang Wijayanto)