Search for:

Kenali Potensi Diri Agar Tak Salah Arah

Demikian yang mengemuka dalam Pertemuan Remaja Pundungan pada Sabtu 23/10 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Suasana Pertemuan Remaja Pundungan pada Sabtu 23/10 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwirung, Kabupaten Klaten

Disampaikan Egitya Ayu salah seorang peserta diskusi, bahwa remaja harus berani mengenal potensi diri mereka masing-masing agar tak salah arah. Menurutnya remaja juga perlu memilih teman agar tak terjerumus dalam pergaulan bebas yang menyesatkan.

Henrico Fajar yang memandu diskusi kali ini mengajak peserta untuk saling bertanya satu dengan yang lain secara berpasangan. “Tanyakan ke teman di sebelahmu tentang kelebihan, kekurangan dan impian atau cita-citanya”, pinta Henrico.

Suasana Pertemuan Remaja Pundungan pada Sabtu 23/10 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten

Selanjutnya peserta diminta untuk menyampaikan hasil wawancaranya supaya bisa diketahui peserta yang lainnya.

Saat ditanya bagaimana perasaannya saat ditanya teman disebelahnya, mereka menjawab biasa saja. Dewi misalnya dia sudah mengenal teman disebelahnya yaitu Artadian dan mengaku tidak canggung untuk menyampaikan kekurangan dan kelebihan dirinya.

“Saya sudah mengenal Arta jadi merasa tidak canggung untuk menyampaikan informasi seputar dirinya kepadanya, lain halnya kalau orang yang bertanya itu tidak mengenal saya,” ungkap Dewita.

Henrico Fajar menyampaikan bahwa kita tidak perlu malu menerima kekurangan yang ada pada diri kita. Menurutnya masing-masing dari kita memiliki kelebihan diri atau potensi diri yang bisa menjadi kekuatan untuk dikembangkan, agar impian atau cita-cita yang diinginkan dapat tercapai.

Sebagai informasi pertemuan remaja Pundungan ini menjadi agenda rutin setiap bulan, terselenggara atas kerja sama Pemerintah Desa Pundungan dan SPEK-HAM serta didukung penuh oleh GF for Women.

Penulis: Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

Peran Perempuan Di Sektor Privat Dan Publik

Suasana Diskusi Kader Kesehatan Blumbang

Perkembangan zaman pada dasarnya juga diikuti oleh perubahan pola pikir masyarakat salah satunya berkaitan dengan gender. Perempuan tidak lagi hanya bekerja di sektor private, namun juga telah berani unjuk kemampuan di sektor publik. Seiring dengan mulai bergesernya peran perempuan, saat ini banyak perempuan yang aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakat.

Salah satu kegiatan yang menggambarkan peran perempuan dalam masyarakat adalah Pertemuan Kader Kesehatan Desa Blumbang di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali pada Senin 18/10. kegiatan kali ini membahas tentang pemetaan aktivitas sehari-hari dan pembuatan kalender aktivitas desa. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar peran perempuan di sektor domestik maupun publik. 

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan walaupun sudah banyak perempuan yang melakukan aktivitas di luar rumah, namun faktanya pembagian peran di dalam rumah tangga seringkali tidak seimbang. Menurut dia perempuan seringkali dibebani dengan pekerjaan rumah yang seabrek dan kunjung usai. “Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang ditambah dengan relasi kuasa yang timpang menempatkan perempuan sebagai pihak yang inferior di bawah laki-laki, hal ini bisa memicu terjadinya KDRT,” ungkap Henrico.

Henrico menambahkan pada masa pandemi Covid-19 ini, angka kekerasan dalam rumah tangga meningkat cukup signifikan. Hal ini dilatarbelakangi oleh menurunnya pendapatan ekonomi keluarga, padahal kebutuhan sehari-sehari semakin meningkat. Faktanya Kasus kekerasan dalam rumah tangga cenderung menempatkan perempuan sebagai korban, karena perempuan dianggap sebagai pihak rentan atau powerless. Kekerasan yang dialami korban seringkali menimbulkan trauma atau penderitaan baik secara fisik maupun mental. Dalam pemulihan atas trauma tersebut dibutuhkan proses konseling dari konselor dan pendamping kasus atau bisa juga dari orang-orang terdekat yang dipercaya.

Suasana Diskusi Kader Kesehatan Blumbang

Sri Sunarni, salah seorang peserta menyampaikan produktivitas seseorang seringkali hanya dilihat dari kegiatan yang menghasilkan uang, ibu rumah tangga seringkali dianggap remeh karena tidak berpenghasilan. “Ibu rumah tangga merupakan profesi mulia yang berperan dalam urusan domestik, pengasuhan dan mengupayakan keseimbangan serta keharmonisan dalam rumah tangga”, ungkap Sunarni. Dia menambahkan mereka mengalokasikan sebagian waktunya dalam kegiatan organisasi, baik sebagai kader posyandu, PKK, maupun kegiatan lainnya di sektor publik.

Ida peserta lainnya menyampaikan perempuan harus berani menunjukkan eksistensinya dalam forum-forum kegiatan di tingkat desa dengan menyampaikan program-program yang seusai dengan kebutuhan perempuan, misalnya di Musrenbangdes, Pertemuan PKK, Pertemuan Kader Kesehatan dan sebagainya. 

Penulis: Hanifah dkk-Magang UGM/Henrico F-Divisi Kesmas SPEK-HAM. 

Berani IVA Tes Itu Hebat

Suasana Diskusi Komunitas Perempuan Pundungan

Demikian yang mengemuka dalam Diskusi Komunitas Perempuan Desa Pundungan pada Rabu, 20/10 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Disampaikan Danang Wijayanto dari SPEK-HAM, IVA tes menjadi cara yang murah dan praktis untuk mengetahui status kesehatan perempuan utamanya untuk mendeteksi secara dini kanker leher rahim dalam organ reproduksi perempuan.

“Kita semua sudah mempunyai kartu jaminan kesehatan seperti BPJS Kesehatan, kami mengajak perempuan agar memanfaatkan kartu tersebut untuk upaya deteksi dini dengan IVA tes di layanan kesehatan terdekat,” ungkap Danang.

Dia menambahkan yang terjadi saat ini banyak warga datang ke Puskesmas saat kondisi sudah sakit, padahal Puskesmas menyediakan layanan untuk konseling kesehatan reproduksi, deteksi dini kanker leher rahim dan payudara. Warga harus didorong untuk berani memanfaatkan layanan-layanan tersebut.

Rini salah seorang peserta diskusi, menyampaikan keinginannya mengikuti IVA tes. Dia pun berharap agar kader kesehatan bisa memberi contoh kepada perempuan lainnya untuk berani mengikuti IVA tes.

“Perempuan-perempuan harus kita berikan sosialisasi dan edukasi pentingnya deteksi dini kanker leher rahim ini,”ungkap Rini.

Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, data Globocan 2018 menunjukkan bahwa jumlah kasus kanker baru di Indonesia, yakni sekitar 348.809.

Peringkat tertinggi dari jumlah kasus penyakit kanker tersebut diduduki oleh kanker payudara, dan diikuti oleh kanker serviks di urutan kedua.

Angka kasus kejadian kanker serviks diperkirakan sekitar 23 orang per 100.000 penduduk. Atas dasar inilah, perempuan disarankan untuk melakukan deteksi dini.

Tes IVA adalah salah satu pilihan untuk deteksi dini kanker serviks. IVA test adalah metode inspeksi visual dengan asam asetat, atau dikenal juga dengan sebutan visual inspection with acetic acid. Seperti namanya, IVA test adalah suatu cara mendiagnosis dini kemungkinan adanya kanker serviks dengan menggunakan asam asetat.

Hasil pemeriksaan tes IVA yang muncul dapat melihat apakah terdapat pertumbuhan sel prakanker di dalam serviks alias leher rahim atau tidak.

Diskusi yang diselenggarakan rutin setiap bulan ini terselenggara atas kerja sama SPEK-HAM dan Pemerintah Desa Pundungan serta didukung oleh GF For Women.

Penulis: Henrico Fajar (Divisi Kesma SPEK-HAM)

Pelatihan Budidaya Perikanan Lele dalam Ember (Budikdamber) Bersama KWT Srikandi Gilingan

Senin, 04 Oktober 2021, Kelompok Srikandi Gilingan mengikuti pelatihan budidaya perikanan lele dalam ember (Budikdamber) yang diinisiasi oleh SPEK-HAM Surakarta dengan dukungan BAZNAS Kota Surakarta dan kerjasama dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta. Pelatihan ini sebagai respon dari kegelisahan Kelompok Srikandi Gilingan yang mengalami kegagalan dalam proses budidaya perikanan lele sebelumnya. Pelatihan tersebut dihadiri oleh anggota KWT Srikandi sejumlah 20 orang. Pelatihan budikdamber mendatangkan dua narasumber yaitu Bu Adri dan Pak Zani dari Dinas Pertanian KPP Kota Surakarta. Beliau dengan sabar menjelaskan proses demi proses pemilihan benih, pemindahan benih hingga panen ikan lele maupun kangkung yang juga ditanam pada tutup ember lele budikdamber. Sebelumnya, pelatihan budikdamber telah diberikan kepada sebagian langsung dan mendapat bimbingan dari ahlinya.

Budidaya lele dalam ember ini dapat dikatakan susah susah gampang, karena lele yang dipakai hanya 50 ekor sehingga risiko kematian massalnya pun dapat diminimalisir dan dapat maksimal dalam budidayanya. Namun jika tidak rutin dalam memeliharanya, seperti pemberian pakan, penggantian air, dan yang lainnya akan membuat lele stres dan mati. Langkah pertama dalam budidaya lele dalam ember adalah mengendapkan air selama 2-3 hari, selanjutnya tambahkan probiotik guna memunculkan plankton-plankton alami untuk pakan lele. Setelah memasukkan bibit lele, jangan diberi makan selama sehari agar lele dapat beradaptasi dan hanya memakan pakan alami tersebut. Lele merupakan salah satu hewan kanibal, sehingga proses penyortiran lele sangat diperlukan pada tahap awal untuk menghindari lele yang berukuran besar akan melahap lele dengan ukuran yang lebih kecil. Selain penyortiran, pemilihan ukuran bibit juga diperlukan, dimana bibit lele yang dimasukkan sebaiknya berukuran kurang lebih 57 cm. Ukuran bibit yang terlalu kecil akan berakibat pada rawannya penyakit dan menyebabkan kematian. Indukan lele berkualitas dapat dilihat dari warnanya yang mengkilat dan mempunyai gerakan gesit, serta telah bersertifikat. Sedangkan penanaman kangkung dalam tutup botol cukup mudah, dimulai dengan memasukkan arang dan kapas pada gelas plastik kecil yang telah dilubangi sebelumnya, sebar biji kangkung dan siram. Tunggu selama 3 hari hingga kangkung telah bertumbuh. (Mufadlila & Mutiara Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, Oktober 2021)

Mengulik Pemberdayaan di Desa Cluntang, Musuk, Boyolali

Cluntang merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Musuk, Boyolali dimana lokasinya berada di lereng Gunung Merapi yang membuat iklim di Cluntang sejuk dan dingin. Pemandangan Gunung Merapi yang bersembunyi di balik Gunung Bibi menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya. Peluang inilah yang diambil oleh salah satu warga Cluntang untuk membuat sebuah objek wisata Tanjakan Cinta, begitulah orang sekitar  menyebutnya. Wisata yang berdiri sejak 2019 ini selalu ramai dikunjungi, sampai akhirnya pandemi menyerang sehingga mau tidak mau tempat wisata di Cluntang harus tutup.

Kelurahan yang berlokasi di lereng Gunung Merapi ini menjadikan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai macam tanaman dan sayuran tumbuh subur, seperti kubis, cabai, bawang merah, kentang, tomat, bunga mawar, dan tembakau. Sampai sekarang produksi tanaman dan sayuran dari Cluntang terus berkembang, hal tersebut tidak lepas dari peran SPEK HAM dan Baznas Boyolali dalam program Zakat Community Development sebagai pendamping dengan anggota 67 orang. Salah satu produk dampingan SPEK HAM adalah produksi olahan bunga mawar, yang sebelumnya hanya dijual rancangan menjadi olahan berupa teh mawar, keripik mawar, pilus, dan sirup. Masyarakat yang memproduksi olahan mawar tergabung dalam Kelompok Putri Mawar, diinisiasi oleh SPEK HAM tahun 2016. Kelompok Putri Mawar ini telah mempunyai alat produksi sendiri, seperti cabinet dryer sebagai pengering, mesin spinner untuk penghilang minyak, timbangan, alat press manual kantong teh, dan alat pendukung lainnya.

Kondisi lingkungan yang mendukung akan pertumbuhan bunga mawar membuat hampir setiap rumah memiliki tanaman mawar. Jenis tanaman ini dapat dipanen setiap hari, sehingga produksi mawarnya pun sangat melimpah. Teh mawar dan keripik mawar merupakan produk yang paling laku di pasaran, olahan mawar ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh, online, dan melalui mulut ke mulut. Produk mawar yang telah mempunyai sertifikat halal dan izin PIRT ini, 1 kotak teh celup mawar 20 gr seharga 15.000, sedangkan kripik mawar seharga 10.000. Selain produksi olahan mawar, Cluntang juga kaya akan produksi bawang merah. Berkah Tani merupakan kelompok petani bawang merah di Cluntang yang berdiri tahun 2017 dengan anggota 21 orang. Penanaman bawang merah diminimalisirkan penggunaan pupuk kimia agar bersifat ramah lingkungan.  Namun dengan begitu, ketika sampai di pasar bawang merah organik dan non organik masih dijadikan satu, sehingga perolehan harga belum terdapat perbedaan yang signifikan. SPEK-HAM bekerja sama dengan Baznas Boyolali juga memberikan beberapa ekor kambing kepada 5 warga Cluntang, harapannya dari ternak kambing tersebut dapat meningkatkan produktivitas masyarakat. (Hanifah Aufia R Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, September 2021)

Cegah HIV Sejak Dini

Pemeriksaan HIV merupakan salah satu kegiatan rutin divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM yang dilakukan di Salatiga. Kali ini pemeriksaan dilakukan di Terminal Tingkir, Salatiga yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Salatiga, puskesmas setempat, dan SPEK-HAM dengan sasaran warga populasi kunci. Populasi kunci adalah orang-orang yang berisiko tinggi tertular karena perilaku seksual yang tidak aman, seperti hubungan seks bebas tanpa menggunakan pengaman, bertukar alat suntik yang tidak steril, dan kondisi seksual rentan lainnya. Perilaku tersebut dapat mengakibatkan timbulnya IMS (Infeksi Menular Seksual) seperti  syphilis, genore, dan penyakit kelamin lainnya. Seperti yang kita tahu penularan HIV dapat terjadi melalui darah, air mani, dan air susu. Perilaku yang berisiko tinggi terkena HIV tersebut akan menyerang diri mereka dan berisiko menularkan kepada orang lain jika tidak diperiksa dan diketahui. Maka dari itu, untuk meminimalisir penularan HIV, pemeriksaan dilakukan minimal 3 bulan sekali guna mengetahui dengan siapa saja yang terdapat peluang untuk tertular.

Penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 sehingga rentan diserang berbagai penyakit. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, hanya dapat dipertahankan dengan meminum obat Antiretroviral (ARV) setiap hari agar tidak menjadi parah Seorang yang mengidap penyakit ini pada tahap awal tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Sehingga mayoritas permasalahan yang dihadapi saat pemeriksaan adalah ketidakinginan mengaku kepada keluarga atau petugas. Maka dari itu, untuk mengantisipasinya, SPEK HAM bekerja sama dengan Dinkes dan puskesmas setempat mengadakan sosialisasi sebelumnya terkait dengan HIV dan dampaknya.

Setelah sosialisasi bahayanya HIV yang diinisiasi oleh SPEK-HAM, terdapat kegiatan pemeriksaan HIV secara gratis yang dilakukan di Salatiga, seperti Terminal Tingkir, Puskesmas Tegalrejo, Puskesmas Mangunsari, RSPAW dan unit kesehatan lainnya di Salatiga. Kegiatan ini sebagai bentuk monitoring SPEK-HAM terhadap orang-orang yang rentan tertular HIV dan sebagai bentuk antisipasi penularan baru penyakit HIV. Bersama dengan Dinas Kesehatan Kota Salatiga, kegiatan pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan darah sampel pasien yang nantinya akan diuji laboratorium. Setelahnya, akan dilakukan pendataan dan pengelompokan pasien berdasarkan hasil pemeriksaan yaitu reaktif/non reaktif penyakit HIV. (Hanifah Aufia R_Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, September 2021)

Perempuan Gilingan Berdaya dengan Budidaya Tanaman Pekarangan

Pelatihan Budidaya Tanaman Pekarangan (KWT Srikandi Gilingan)

Kamis (30/09) SPEK-HAM bersama BAZNAS Kota Surakarta menggandeng Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta melakukan pelatihan budidaya tanaman pekarangan di Kelurahan Gilingan yang diikuti oleh 13 orang anggota KWT Srikandi.  Pelatihan dilaksanakan di Balai Posyandu Kelurahan Gilingan mulai pukul 09.00 sampai 11.00 WIB.

Kelurahan Gilingan terletak di belakang Pasar Gilingan dan berada di bantaran Sungai Pepe. Kondisi pemukiman padat penduduk di kawasan perkotaan tentu menghadirkan permasalahan sosial seperti pengangguran dan tingkat perekonomian masyarakat yang kurang sejahtera. Hal tersebut mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi mendapatkan program pemberdayaan berupa pelatihan bertani sederhana di pekarangan rumah. Pelatihan budidaya tanaman pekarangan ditujukan untuk meningkatkan produktivitas ibu-ibu rumah tangga serta meningkatkan ketahanan pangan di kawasan perkotaan yang tidak memiliki lahan untuk bertani. Pelatihan budidaya tanaman pekarangan tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi anggota KWT Srikandi dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Pelatihan yang ditujukan kepada KWT Srikandi tersebut juga dihadiri oleh Pimpinan BAZNAS Kota Surakarta yang memberikan sambutan kegiatan. Peserta pelatihan diberikan ilmu pertanian berupa teori dan praktek secara langsung. Materi disampaikan oleh Ibu Atik dan Pak Anang (Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Perikanan). KWT Srikandi diberikan bimbingan untuk melakukan penanaman dengan polybag di pekarangan rumah mereka. Guna mendukung pelatihan tersebut Dinas Pertanian KPP memberikan benih, media tanam dan polybag untuk praktik pemindahan tanaman.            

Meskipun dilaksanakan di bawah terik sinar matahari, anggota KWT Srikandi tetap semangat dan excited mendengarkan, kemudian mengikuti praktik pemindahan tanaman dengan dampingan pihak Dinas Pertanian KPP. Pelatihan dimulai dengan pemindahan benih tanaman seperti terong, cabai dan sawi yang sudah tumbuh dalam polybag kecil ke dalam polybag besar agar dapat tumbuh secara optimal. Langkah pertama dilakukan dengan menjepit dan mengepal benih yang telah disediakan. Kemudian media tanam di masukan kedalam polybag besar lalu benih dimasukan dan ditata dengan rapi. Setelah dipindahkan tanaman tidak diperbolehkan terkena sinar matahari secara langsung dalam beberapa hari untuk penyesuaian media tanam baru.

Sesi selanjutnya anggota KWT Srikandi mengajukan beberapa pertanyaan terkait budidaya tanaman sayur. Mendengar suara anggota KWT Srikandi tersebut, narasumber dari Dinas Pertanian KPP Kota Surakarta memberi tips and trick untuk penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati untuk membunuh penyakit tanaman, namun juga menjaga kualitas tanaman tetap baik. Seperti pupuk organik cair dari air leri dan pupuk organik dari kotoran hewan atau pupuk kandang. Pengetahuan terkait cara penanaman, pupuk, dan pestisida nabati dapat menjadi ilmu yang membantu anggota KWT Srikandi terus berkembang secara mandiri. (Mufadlila Dienul Z Mahasiswa UGM _Magang SPEK-HAM, September 2021)

KWT Srikandi Gilingan Belajar Bersama di Dispertan KPP Kota Surakarta

Selasa, 28 September 2021 KWT Srikandi Gilingan didampingi oleh SPEK-HAM Surakarta melakukan kunjungan ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta untuk belajar mengenai budidaya tanaman pekarangan. Kegiatan belajar ini bertujuan untuk mengenalkan kepada Kelompok Srikandi terkait budidaya tanaman pekarangan guna meningkatkan produktivitas ibu rumah tangga di bidang ekonomi dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga di Gilingan. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan Kelompok Srikandi dalam proses budidaya tanaman mulai dari proses pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman, serta dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Kunjungan ini dilakukan di taman Winasis Pertanian Dispertan KPP yang didampingi oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dispertan KPP Kota Surakarta. Pertama, Kelompok Srikandi memaparkan mengenai permasalahan yang dihadapinya selama budidaya tanaman pekarangan, seperti kualitas benih yang rendah, daun berubah warna dan kering, serangan hama tumbuhan, dan mempertanyakan bagaimana teknik pemupukan yang benar.  Bersama Ibu Atik sebagai Pegawai Penyuluh Lapangan (PPL) memberikan edukasi mengenai budidaya jamur tiram, tanaman hidroponik, media tanam polybag, budidaya jahe, edukasi tanaman strawberry, edukasi fermentasi pupuk dari limbah rumah tangga, dan edukasi pemusnahan hama tanaman. Kegiatan belajar ini dilakukan dengan memberikan pemaparan materi serta media belajar secara langsung yang memudahkan Kelompok Srikandi dalam memahaminya. Kegiatan ini berlangsung dua arah yang diperkuat dengan sesi sharing yang dilakukan Kelompok Srikandi mengenai pengalaman mereka dalam melakukan budidaya tanaman pekarangan. Banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui Kelompok Srikandi dalam pemeliharaan tanaman, mulai dari proses pemupukan yang salah, jadwal penyiraman tanaman yang tidak konsisten, dan cara penghilangan hama yang justru mematikan tumbuhan itu sendiri. Banyak manfaat yang dapat diambil dari kegiatan belajar ini, yang mana Kelompok Srikandi menjadi teredukasi dan dapat menjadi bekal dalam proses pelatihan budidaya tanaman pekarangan selanjutnya. (Mutiara Martiarini Mahasiswa UGM_MagangSPEK-HAM, Oktober 2021)