Search for:

Kampung Sapi Balerante? Hmmm???

Masyarakat Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, selain juga sebagai penambang pasir.  Bisa dijumpai ada 2 sampai 4 ekor sapi di dalam kandang di setiap rumah warga. Dari 2, 4 ekor sapi ini, warga mempunyai harapan agar ternak sapi ini lebih berkembang, tidak hanya sebagai sampingan tapi juga bisa sebagai penunjang penghidupan.

Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan belajar mengenai peternakan sapi yang lebih tertata. Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 2015, bertempat di rumah Ibu Darsi dan Gimin, warga RT6/RW3 Banjarsari, Balerante, Kemalang. Kegiatan ini melibatkan Pemerintahan Desa Balerante, PPL Peternakan Kemalang, Dinas Pertanian Sub Peternakan Klaten, Babinkamtibmas Balerante, SPEK HAM,  Kelompok Perempuan Mawar, Kelompok Perempuan Mekar Sari, dan perwakilan Kelompok Peternak Sapi Balerante.

Untitled-1Diskusi ini merupakan langkah awal untuk mencapai impian “Balerante Kampung Sapi” yang tentunya membutuhkan waktu dan kerjasama antara petani dan peternak, Pemerintahan Desa Balerante, SPEK HAM selaku pendamping, serta Dinas Pertanian Sub Peternakan untuk mewujudkan impian tersebut. Dari pihak Pemerintahan Desa Balerante dan Dinas Pertanian Sub Peternakan Klaten sangat mendukung untuk mewujudkan impian “Balerante Kampung Sapi”, karena dari setiap warga (kepala rumah tangga) rata-rata memiliki sapi dan warga juga mengatakan bahwa memang sejak nenek moyong, mereka sudah terbiasa dengan ternak sapi.

Dalam kegiatan diskusi tersebut juga ada tambahan ilmu dari Suharji, PPL Kemalang tentang bagaimana mengenali tanda-tanda sapi birahi, kapan waktu baik mengkawinkan/inseminasi saat sapi sedang masa birahi. Saat yang paling baik untuk inseminasi adalah mulai dari 9 jam setelah mulai tanda birahi yang sebenarnya sampai dengan 6 jam sesudah tanda birahi yang sebenarnya berakir, sedangkan waktu yang baik untuk inseminsi adalah setelah 6 jam sesudah tanda birahi sampai 10 jam sesudah tanda birahi sebenarnya.

Untitled-4Diskusi tersebut juga meyepakati adanya pertemuan rutin bersama PPL Pertanian/Dinas diadakan tiap 3 bulan untuk pemberian informasi dan lain-lain, mendatangkan nara sumber lain/pelatihan, pensinergian dengan PPL  Pertanian untuk pemanfaatan sisa kandang, menjaga kebersihan sapi dan kandang. Kelompok Mawar akan mengawali menjaga kebersihan sapi dan kandang yang dilakukan bersama-sama pada tanggal 20 Februari 2015 secara bergiliran. Kegiatan bersih sapi atau guyang/memandikan sapi ini belum pernah dilakukan secara bersama-sama oleh para anggota Kelompok Perempuan  Mawar. Sedangkan urusan membersihkan kandang adalah hal yang sudah terbiasa dilakukan setiap hari. Hal tersebut sebagai langkah awal mengajak petani/peternak di Balerante untuk menjaga kebersihan ternaknya dan mewujudkan impian “Balerante Kampung Sapi”. (Eko Nur Arifin/spekham.org)

ToT bagi Master Trainer di Semarang

SEMARANG – IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene) bekerjasama dengan SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) Surakarta melalui Program Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi mengadakan kegiatan ToT bagi Master Trainer Penguatan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP).

Peserta ToT ini adalah para Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan yang IPAL Komunalnya diintervensi, PKK Kecamatan, dan UPTB Bapermas KB Kecamatan, serta para observer dari RPMC USRI Provinsi Jateng-DIY, DPIU dan DCT USRI, Bappeda, dan Bapermas PP & KB Kota Semarang.  ToT ini dilaksanakan selama 2 hari (26-27 Januari 2015) bertempat di Hotel Grasia Jl. S. Parman Nomor 29 Gajah Mungkur Semarang.

Peserta ToT Master Trainer Semarang“Kegiatan ToT ini bertujuan untuk mencetak peserta menjadi Master Trainer yang akan melatih para pengurus KPP, perangkat Kelurahan dan PKK Kelurahan intervensi. Dengan ToT ini, peserta diharapkan mampu melakukan pelatihan bagi penguatan KPP sehingga kepengurusan KPP menjadi semakin kuat dan professional” tegas Provita sebagai Trainer.

Pelatihan dilakukan dengan memberikan pembekalan kemampuan secara teoritis maupun praktis menjadi seorang Trainer. Selain diberikan materi tentang syarat, kapabilitas, dan sifat yang harus dimiliki seorang Trainer, peserta juga melakukan praktek lapangan dengan melihat langsung konstruksi dan fungsi masing-masing bagian IPAL serta berdialog dengan pengurus KPP dalam pengelolaan IPAL Komunal. Peserta merasa mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjadi seorang Trainer yang handal dan mengetahui seluk-beluk konstruksi IPAL dan fungsinya.

(fauziumma muhammad/spekham)

TOT Pemicuan Bagi Masyarakat Solo Raya

       SOLO – Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi” adalah program yang lebih difokuskan pada bidang sanitasi. Program ini akan mendukung program pemerintah yang berhubungan dengan program-program Sanitasi seperti Infrastruktur Sanitasi Perkotaan Pedesaan (USRI) dan SLBM yang telah berjalan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Dukungan yang bisa diberikan dari program ini berupa upaya-upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan memanfaatkan mekanisme perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kontribusiprogram ini adalah mendukung dan mengembangkan keberlanjutan dalam program-program sanitasi yang dilakukan oleh pemerintah.

TOT Solo Raya2Untuk mendukung program ini, salah satu kegiatan yang  dilakukan adalah kegiatan pelatihan dengan peserta beberapa pihak dan komponen yang terlibat langsung dalam Program USRI. Salah satunya adalah kegiatan Training of Trainer Pemicuan Paska Konstruksi. Kegiatan ToT Solo Raya ( Kota Solo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo) ini dilakukan pada Tanggal    8 – 10 Oktober 2014. bertempat.  Hotel D’Wangsa HAP Solo Jl.Brigjend Slamet Riyadi No.133 Surakarta dengan jumlah 26 orang. Tujuan dari  TOT ini Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melatih dalam Pelatihan Pemicuan Bagi Masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing sesuai dengan peran dan fungsinya.

        Pemahaman Peserta tentang Program USRI Peserta berasal dari perwakilan unsur kesehatan (sanitarian) dan pokja IV PKK kecamatan. Sebagian besar telah mengetahui tentang keberadaan Program USRI di wilayahnya, namun tidak memahami proses pelaksanaan dengan baik karena saat sosialisasi awal dan pelaksanaan pembangunan infrastruksturnya mereka tidak dilibatkan. Tantangan yang muncul dari pelaksanaan Program USRI mengarahkan pada masih minimnya sosialisasi oleh faskel USRI sehingga muncul pro-kontra di masyarakat. Disamping itu keterbatasan lahan yang digunakan untuk lokasi IPAL komunal juga masih banyak ditemui. Kegiatan paska konstruksi belum diimbangi dengan musyawarah mufakat tentang biaya perawatan dan pemeliharaan sarana, terlebih jika didapati bangunan yang tidak berfungsi dikarenakan faktor teknis.TOT Solo Raya3

        Peserta ToT berperan sebagai seorang trainer yang akan melatihkan metode pemicuan paska konstruksi kepada KPP dan PKK di wilayahnya. Pemahaman tersebut telah disampaikan dan dipahami dengan baik oleh peserta, walaupun di awal muncul beberapa keraguan dan kurang percaya diri. bagaimana upaya memicu masyarakat untuk mau memiliki SR ke IPAL komunal yang telah dibangunkan Program USRI. Jika saat pra konstruksi elemen pemicuan banyak menyentuh dari sisi rasa jijik, takut sakit, gengsi, faktor agama, dll maka saat paska konstruksi Program USRI ini akan lebih menekankan bagaimana upaya memicu warga yang kesulitan atau enggan membangun SR, baik itu karena keterbatasan biaya maupun kekuranganpahaman dari sisi teknis. (spekham/wijiatmi)

Penguatan Akses Layanan Sanitasi : Kisah dari Semarang

SEMARANG-Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ToT Pemicuan bagi masyarakat adalah pemicuan langsung di masyarakat. Pemicuan dilakukan di titik IPAL Komunal yang belum maksimal sambungan rumahnya. Pemicuan ini merupakan bagian dari upaya menguatkan akses dan pemanfaatan layanan sanitasi yang telah tersedia. Waktu pelaksanaan pemicuan disesuaikan waktu luang masyarakat, yakni pada malam hari. Ada yang dibarengkan dengan kegiatan pertemuan RT Bulan-an, ada juga yang melalui pertemuan khusus yang diadakan untuk pemicuan. Pemicuan yang dibarengkan dengan pertemuan RT, warga yang hadir semua warga RT/RW setempat. Sedangkan pertemuan yang secara khusus untuk pemicuan, warga yang diundang hanyalah warga yang belum melakukan Sambungan Rumah (SR).

Pemicuan 1 Kepala Kelurahan Podorejo (Bapak Nahrowi) dan Ketua KPP (Bapak Jamari) sedang menyampaikan pengarahan pada kegiatan pemicuan bagi warga RT 02 dan 03, pada Hari Sabtu malam Minggu, tanggal 3 Januari 2015 jam 19.30-22.00, bertempat di Balai Pertemuan RW III.

Pemicuan ini dilakukan dengan model dialog bersama warga masyarakat. Masyarakat mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg-nya kepada Tim Pemicu. Setelah Melalui kegiatan pemicuan semacam ini warga masyarakat dengan kesadarannya mau memanfaatkan IPAL Komunal dengan cara melakukan SR bagi warga yang rumahnya belum tersambung.  Hal ini terutama untuk mengoptimalkan akses IPAL bagi masayarakat di sekitar.

Hasilnya, ada beberapa warga yang secara swadaya kemudian melakukan Sambungan Rumahnya ke IPAL Komunal. Mereka beralasan bahwa kesehatan jauh lebih penting dibandingkan biaya yang mereka keluarkan untuk penyambungan pipa pembuangan limbah rumah tangga mereka ke IPAL Komunal. Di samping itu, dengan menyalurkan pembuangan limbah rumah tangga ke IPAL Komunal, saluran di selokan menjadi kering dan bersih, tegas Bu Eko salah seorang warga RT 02 RW III Palir Kelurahan Podorejo yang baru saja melakukan SR setelah adanya pemicuan.

Pemicuan 2Suasana pemicuan di titk IPAL Kalipancur 1 yang berada di Rt 11/RW I Kelurahan Kalipancur. Kegiatan pemicuan dibarengkan dengan pertemuan RT bulanan yang disebut dengan nama Sarasehan Bulanan. Pemicuan ini dilaksanakan pada Hari Minggu malam Senin, tanggal 7 Desember 2014 jam 19.30-22.00, bertempat di Balai Pertemuan RT 11. Acara ini selain dihadiri pengurus dan warga RT 11 juga dihadiri Ibu Carik.
IPAL BaruJaringan perpipaan baru rumah Bu Eko warga RT 02/RW III Palir Kelurahan Podorejo yang baru saja disalurkan ke IPAL Komunal di wilayah ini. Penyambungan baru ini juga dilakukan untuk rumah mertunya, Ibu Sarini yang berada di sebelah rumah Bu Eko.

TOT Pemicuan Bagi Masyarakat Penerima Manfaat Layanan Sanitasi di Kota Semarang

SEMARANG –SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) Surakarta bekerjasama dengan IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene) melalui Program Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi mengadakan kegiatan Training of Trainers (ToT) Pemicuan bagi Masyarakat pasca konstruksi. Kegiatan ToT Pemicuan ini diikuti dari berbagai unsur, yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), atau Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP), Kader Posyandu, dan Kader PKK. Pelatihan dilaksanakan dalam dua gelombang. Masing-masing gelombang selama dua hari.

TOT SEMARANG ISuasana ToT Pemicuan Kelas 1, sedang perkenalan melalui permainan lempar bola. ToT dilaksanakan pada tanggal 15-16 Nopember 2014, bertempat di Aula Kecamatan Ngalian.

Pada hari pertama, peserta diajak mendalami materi teori terkait pemicuan, kemudian pada hari kedua peserta diajak praktik langsung di masyarakat untuk melakukan pemicuan. Pelatihan gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 15-16 Nopember 2014, bertempat di Aula Kecamatan Ngalian. Gelombang pertama ini diikuti oleh peserta dari titik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kelurahan Kalipancur (dua titik IPAL), IPAL Kelurahan Jerakah, dan IPAL Kelurahan Podorejo. Sedangkan gelombang kedua dilaksanakan pada tanggal 22-23 Nopember 2014, bertempat di Aula Kecamatan Banyumanik. Pesertanya dari dua titik IPAL, yaitu Kelurahan Gedawang dan Kelurahan Mangunharjo.

Kegiatan ToT bertujuan untuk mencetak para peserta sebagai Trainer/Pelatih yang akan melakukan pemicuan langsung di masyarakat. Kegiatan ini dilatarbelakangi adanya realitas pembangunan IPAL Komunal oleh Pemerintah melalui Program SPBM (Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat) yang belum maksimal.

Praktek LapanganSuasana praktek lapangan pemicuan yang bertempat Balai pertemuan RT 11 RW I Kelurahan Kalipancur. Pak Budi (Sekretaris Kelurahan) sedang memberikan pengarahan terkait pentingnya sanitasi lingkungan yang sehat.

Masih banyak rumah tangga yang belum melakukan Sambungan Rumah (SR) dengan IPAL Komunal tersebut dengan berbagai faktor penyebabnya. Dengan ToT ini, peserta diharapkan mampu melakukan penyadaran pada masyarakat untuk memanfaatkan IPAL Komunal dengan cara melakukan SR bagi rumah tangga yang belum tersambung. Pelatihan dilakukan dengan model pembelajaran orang dewasa yang menempatkan peserta sebagai subyek. Model permainan dan bantuan alat peraga yang digunakan selama pelatihan mendorong peserta mengikuti pelatihan dengan penuh antusias sehingga materi dapat dengan mudah diterima peserta dalam suasana yang menyenangkan. Di akhir pelatihan, peserta berkomitmen untuk melakukan pemicuan langsung di masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab moral. (spekham.org/Moh. Fauzi)

Praktek Lapangan2 Suasana praktek lapangan pemicuan yang bertempat di GOR Kelurahan Gedawang. Trainer sedang memandu salah seorang peserta untuk praktek mencuci tangan dengan sabun.

Geliat Pertanian dan Peternakan Kelompok Mawar

Kelompok Perempuan Mawar Desa Balerante, Klaten sejak terbentuknya sudah mulai bergeliat dengan aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan pertanian dan peternakan. Gadoh sapi, pembibitan benih, pembuatan pupuk kompos dan cair sudah menjadi aktifitas rutin yang dilakukan oleh perempuan-perempuan di Kelompok ini. Pertemuan kelompok rutin dilakukan oleh Kelompok Perempuan Mawar sebagai wadah belajar dan saling bertukar pengalaman dalam melakukan aktifitas pertanian, peternakan dan aktifitas keluarga.

Diskusi Kelompok Perempuan Mawar dilakukan satu bulan sekali. Kesempatan pertemuan kali ini, yang jatuh pada yanggal 20 Januari 2015 bertempat di rumah ibu Jani. Agenda pertemuan kali ini adalah membuat pupuk cair dari air leri, laporan perkembangan gadoh sapi, laporan kas kelompok, kelanjutan tanaman pangan dan wacana pembuatan obat insektisida/hama organik.

Kondisi kedua sapi yang digaduh kelompok Mawar (ibu Jani dan ibu Marinem), saat ini mengalami njegrik (bulu berdiri). Berdasarkan pengalaman kelompok, hal itu pasti dialami sampai sapi tersebut “Powel”. Sapi yang digaduh ibu Marinem sudah digambarkan dan ditawar seharga 11 juta dengan umur sapi 10 lapan, sedangkan untuk sapi yang digaduh ibu Jani belum digambarkan. Sapi ini ketika nanti terjual, sisa labanya akan masuk ke Koperasi Sarono Makmur.

Praktik pembuatan pupuk cair dengan bahan air leri (air cucian beras) juga sudah dilakukan kelompok. Mbak Darsi, anggota Kelompok Mawar sudah mempraktikkan untuk pembuatan pupuk tanaman kelompok. Dari pengalaman Mbak Darsi, Mbak Darsi membuat pupuk cair dengan ditambah pro-aminosin. Ada perbedaan antara bahan dari air leri dan air sisa kandang. Pupuk yang dibuat dari air sisa kandang dicampur dengan pro-aminosin akan menimbulkan buih, sedangkan kalau dengan air leri tidak ada buih.

Perkembangan tanaman pangan yang pertama, hasil dari tanam pangan yang pertama diolah oleh anggota kelompok, “Lumayan isoh ngirit masak terong, tomat’e disambel, lombok’e yo seko tanaman kelompok” . Untuk sisa tanam pangan yang pertama saat ini masih ada terong, tomat dan cabe.

Kemudian untuk tanaman pangan yang kedua, untuk tanaman sawi saat ini sudah dapat dipanen, tanaman cabe sudah tumbuh subur dan hijau, semangka merah juga sudah menjalar, namun gulma yang tumbuh di sekitar polibag belum dibersihkan.

Selain itu, kelompok juga akan belajar praktik pembibitan benih yang telah dimiliki kelompok pada penanaman tanam pangan yang pertama dengan pengetahuan pembibitan tradisional dan yang diketahui oleh Kelompok. Kelompok juga akan melakukan tanam pangan kembali secara bersama-sama yang nantinya akan dibawa pulang oleh masing-masing anggota.

Kendala yang dialami kelompok adalah ayam yang memakan tanaman, serta ulat dan hama. Untuk mengantisipasi ayam, kelompok akan membeli paralet dengan suport dari SPEK-HAM untuk memagari tanam pangan kelompok, kemudian kelompok juga akan mempraktikkan pembuatan obat insektisida/hama organik yang akan dilaksanakan bersamaan dengan penyiapan media tanam. Kegiatan penyiapan media tanam, pembibitan, dan pembuatan obat insektisida direncanakan pada tanggal 2 Februari 2015 yang akan dilakukan dirumah ibu Jani, kemudian untuk pemagaran/pemberian paralet pada tanaman kelompok akan dilakukan dirumah ibu Darsiati/Darsi. (eko nur arifin/edit : nuel oei/spekham)

Budidaya Holtikultura di Dusun Buara dan Cikrowok, Brebes

Buara dan Cikrowok merupakan Dusun di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Buara dan Cikrowok terletak di tengah-tengah Kabupaten Brebes dan memiliki struktur tanah dataran rendah dan perbukitan. Walaupun berada di dataran perbukitan dan dikelilingi sungai besar tapi kerap kali mengalami kekeringan. Sawah dapat menghasilkan padi, jagung, lombok dan sayuran. Padi hanya bisa dipanen sekali dalam setahun. Sedangkan tanaman jagung, sayuran dan palawija dapat setiap saat.

Warga setempat berpendapat bahwa sumber daya alam yang ada di Buara dan Cikrowok bisa dikembangkan supaya menghasilkan panen dengan jumlah yang lebih besar, hanya saja mereka terkendala dengan permodalan dan pengembangannya. Beranjak dari hal tersebut, SPEK HAM melakukan penambahan kapasitas dan ketrampilan warga Dusun Buara dan Cikrowok, khususnya perempuan. Kegiatan pelatihan tanaman holtikultura dilakukan di Dusun Buara dan Cikrowok bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kebun/pekarangan dengan komoditas prioritas.

Kegiatan dibagi menjadi 3 tahap di tiap-tiap Dusun :

Dusun Buara, dilaksanakan di Peternakan Sugih Mukti

  • Pembuatan Media Tanam : 15 Desember 2014
  • Penanaman Bibit : 16 Desember 2014
  • Diskusi dengan PPL Pertanian : 25 Desember 2014

Dusun Cikrowok di Rumah Ibu Ruswi

  • Pembuatan Media Tanam : 23 Desember 2014
  • Penanaman Bibit : 24 Desember 2014
  • Diskusi dengan PPL Pertanian : 25 Desember 2014

Proses kegiatan diawali dengan pembuatan media tanam. Mengumpulkan tanah dan kompos yang dibawa ibu-ibu dari rumah, kemudian mencampurnya dengan perbandingan 40 kompos : 60 tanah. Setelah tanah dan kompos tercampur, langsung dimasukkan ke dalam polybag diameter 22 cm. Jumlah keseluruhan polybag yang akan digunakan sebagai media tanam adalah sebanyak 254.

unnamedPada hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan penanaman bibit. Tim SPEK-HAM memberi pemaparan tentang tanaman holtikultura dan penanaman di pekarangan. Alat-alat yang dibutuhkkan antara lain polybag, cangkul, media tanam (kompos+tanah), bibit, pupuk organik cair dan paranet. Dapat juga ditambahkan dengan dedaunan yang sudah kering. Polybag yang akan diletakkan di pekarangan sebaiknya ditata pada lokasi yang cukup mendapat sinar matahari, terhindar dari gangguan binatang, dekat dengan sumber air. Paranet digunakan untuk melindungi tanaman dari gangguan hewan. Perawatan tanaman dilakukkan dengan penyiraman setiap hari bila tanah dalam polybag terlihat kering, namun jika tanah terlihat basah dapat dilakukkan dua hari sekali. Tanaman juga harus dihindarkan dari hama. Pemberian pupuk organik cair dapat dilakukan setelah tanaman berumur seminggu. Tanaman yang batangnya tidak kuat sebaiknya diberi bamboo. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman tanaman ke dalam polybag. Tanaman yang ditanam antara lain cabe, terong ungu, caisim dan tomat. Dedaunan segar yang dibawa ibu-ibu saat pembuatan media tanam, dijadikan pupuk dengan cara disiram dengan pupuk cair kemudian diikat rapat, dapat digunakan setelah warnanya berubah kehitaman. Setelah selesai, dilakukan penghitungan tanaman untuk mempermudah kontroling yaitu cabe sebanyak 137, terong ungu sebanyak 84, caisim sebanyak 31 dan tomat sebanyak 49. Kemudian disepakati tentang jadwal piket penyiraman. Penyiraman dilakukkan sehari sekali dan dilakukan oleh dua orang.

unnamed (3)Hari ketiga dilakukan diskusi antara peserta pelatihan dengan PPL Pertanian, acara dibuka oleh CO dan memperkenalkan Pak Siswoyo sebagai PPL Pertanian yang bertugas di Buara dan Cikrowok. Pak Siswoyo kemudian memaparkan tentang pemanfaatan lahan pekarangan. Yang dimaksud dengan pemanfaatan lahan pekarangan adalah memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk dimanfaatkan memelihara ternak ataupun tanaman yang hasilnya bisa sedikit banyak membantu perekonomian rumah tangga. Beliau menyontohkan di Sirampog, ada 2 desa yang mayoritas warganya adalah petani sayuran yang menanam sayuran di pekarangan rumah, kemudian membentuk beberapa kelompok yang tugasnya berbeda-beda. Ada kelompok yang tugasnya menanam sayuran A, ada kelompok lagi yang menanam sayuran B, ada juga kelompok yang tugasnya menjadi ‘’tengkulak’’ yang mengumpulkan sayuran-sayuran dari para petani kemudian memasarkannya kepada para pedagang sayuran dari daerah lain. Nanti hasilnya dimasukkan ke kas, untuk membeli bibit maupun saprotan yang lain dan juga sebagai wadah simpan pinjam. Kelompok-kelompok ini sudah berjalan sekitar 1,5 tahun. (spekham.org)

Kelompok Perempuan Rukun Makmur “Dua Tahun Belajar Bersama”

DUA TAHUN TAK TERASA…..

DUA TAHUN.….

SEMOGA TIDAK HANYA SEKEDAR BELAJAR BERSAMA…..

Mengingatkan saja bahwa menjadi seorang CO, Community Organiser atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah menjadi seorang pendamping komunitas untuk melakukan pengorganisasian, terkadang kita terlalu larut dalam dinamika proses di komunitas, hingga kita terkadang sulit melihat apa yang sudah kita lakukan, terlebih melihat dampak apa yang sudah dihasilkan dengan aktifitas kegiatan yang kita lakukan. Seorang CO menjadi bagian penting dalam menghantarkan dan mendorong kelompok-kelompok perempuan di komunitas untuk berkembang maju, serta berjalan dalam kedinamisan sebuah proses yang bernama “PEMBERDAYAAN“.

Rukun Makmur 1 (Small)

Desember tahun 2012, sebagai seorang CO saya mulai belajar bersama warga di sekitar wilayah saya tinggal. Awalnya saya merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa, semua berjalan normal dan wajar-wajar saja. Bulan Februari 2013, melalui diskusi mendalam, kunjungan rumah dan kegiatan lainya, ternyata saya menemui banyak persoalan yang ada di kelompok perempuan yang menamai dirinya “KPRM” Kelompok Perempaun Rukun Makmur, dengan filosofi dan maksud menjadi kelompok yang akan selalu menjaga kerukunan dalam mencapai kemakmuran atau kesejahterssn bersama, melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan sesuai dengan pemetaan dan kebutuhan yaitu berternak dan bertani.

Proses dilalui bersama, dari dua kegiatan tersebut kegiatan ternak kambing dilakukan terlebih dahulu. Kelompok perempuan ini belajar dari ketrampilan dasar yaitu bagaimana mengelola ternak kambing. Ada sebagian yang sudah terlibat langsung dalam kegiatan ternak, tetapi tidak banyak yang belum paham dalam kegiatan beternak kambing secara utuh, kususnya dalam proses membeli dan menjual kambing. Mereka masih merasa tabu dan kurang biasa bila perempuan melakukan kegiatan di dua hal tersebut, karena hal tersebut biasa dilakukan oleh oleh laki-laki. Berbeda dengan penuturan ibu Padmi dan Ibu Sawarti serta Ibu Cipto yang memang single parent atau perempuan kepala rumah tangga, Rukun Makmur 3 (Small)dimana kegiatan itu dilakukan dengan sedikit terpaksa karena tidak ada yang bisa dimintai tolong. “Di sisi lain, perempuan juga mengalami persoalan pada proses awal yaitu pada saat persiapan atau pembuatan kandang dimana peran laki-laki/suami/tukang juga masih dominan, kecuali kalau hanya  memperbaiki ya bisa seperti mengganti palonan (tempat mengikat kambing)” kata Ibu Tutik dan ibu Yuli  yang memang terbiasa mandiri.

Dari dua tahun belajar bersama tentang ternak kambing, pasti sudah banyak yang dihasilkan. Selain hasil dan laba dari beternak tetapi juga pengalaman-pengalaman berharga yang dituangkan menjadi tulisan pengalaman seperti yang dilakukan ibu Yuli dan Ibu Surani (akan menyusul 3 tulisan lagi yaitu tulisan dari Ibu Winarsih, Winarni dan Kemi). Selain photo-photo proses beternak yang sekarang didokumentasikan kelompok, selain proses pembelian kambing, yang tidak kalah menarik adalah pada proses pemeliharaan, dimana peran perempuan ditantang untuk belajar tentang pola dan perilaku kambing, bagaimana kambing bisa makan, kambing pada saat birahi, kambing pejantan yang siap jual serta bagaimana kambing ketika tidak doyan makan. Disinilah perempuan belajar tentang pengalaman dalam mengelola ternak kambing masing-masing, yang sedikit berbeda dengan beternak kambing secara kelompok seperti yang dilakukan pada tahun 2012 awal.

Rukun Makmur 2 (Small)Kelompok pernah mencoba bagaimana membuat pakan ternak yang bisa dipersiapkan untuk kebutuhan jangka panjang dengan metode silase dan juga fermentasi. Dalam pelaksanaannya mengalami berbagai kendala kususnya komitmen dan konsistensi, sehingga metode ini juga perlu digali dan diperdalam untuk mempersiapkan KPRM dengan slogannya “MUSUK SEBAGAI KAMPUNG KAMBING“ atau penghasil ternak kambing yang terpadu dengan kegiatan tanaman pangan yang saat ini juga mulai dikembangkan budidayanya. Pada proses pemasaran, dimana pada tahapan ini sangat menentukan para anggota untuk terus melakukan kegiatan beternak atau tidak, karena sampai saat ini segmen pasar untuk kegiatan kambing masih manual yaitu pemasaran dengan pedagang keliling yang jumlahnya baru sekitar 4 orang yang terpetakan.

Seiring dengan berjalannya kegiatan ternak kambing, kelompok ini juga melakukan kegiatan tanaman pangan di pekarangan, dimana lahan/halaman kosong yang selama ini hanya menganggur, sejak ada pemetaan tentang kebutuhan harian, pengamatan terhadap pasar keliling, dimana hampir semua sayuran yang setiap hari dibutuhkan ternyata bisa dibudidayakan sendiri, seperti cabe, terong, sawi, koll, brokoli, tomat, pare , kacang dan lain lain, setiap hari harus membeli dengan uang 5 ribu sampai dengan 10 ribu. Dengan sedikit pelatihan dan diskusi yang dilakukan dengan anggota kelompok, dan sesekali mengundang narasumber untuk memperkuat pengetahuan ibu-ibu anggota KP Rukun Makmur, sampai sekarang kegiatan tanaman pekarangan ini cukup berdampak meskipun belum signifikan. Minimal mereka percaya bahwa dari halaman, dengan tangan mereka sendiri mereka bisa menghasikan sayuran yang dibutuhkan setiap hari, semua terkembali pada komitmen anggota.

Tanggal 12 Desember 2014, Kelompok Perempuan Rukun Makmur (KPRM) genap berumur dua tahun belajar bersama dengan SPEK HAM. Harapan saya, mereka tidak hanya belajar tetapi harus meningkatkan pada praktik-praktik bertani dan beternak yang lebih seriu. Semua proses harus bisa terdokumentasi dengan baik sehingga bisa menjadi bahan untuk dibaca, dilihat, untuk pembelajaran dan dipraktikan ke wilayah lain. Dua tahun ini, kami mendokumentasikan kegiatan bertanam melalui film “SENANDUNG BUMI MENGHIJAU“ (bisa dilihat di sini : http://youtu.be/R6ijUzw3-tk ) dan untuk kegiatan ternak kambing, sedang dalam proses pembuatan film dengan judul “IMPIAN KAMPUNG KAMBING“. Semoga dalam perjalanan usia ke-dua tahun, Kelompok Perempuan ini semakin paham dan belajar berorganisasi untuk membangun dan memperkuat praktik dan komitment terhadap kegiatan yang menjadi mimpi mereka yaitu “PERTANIAN DAN PETERNAKAN TERPADU“.

Selamat hari jadi yang kedua!

Semoga tidak hanya belajar, tetapi bisa menjadi sentra pembelajaran akan ptakti-praktik yang sudah dilakukan bersama, dan rencana program  “KOPERASI TERNAK KAMBING PEREMPUAN“ segera terwujud.

(nocko alee/spekham.org)