Search for:

Layanan Kespro di Tengah Pandemi Covid-19 Apa yang Bisa Kita Lakukan? (Talkshow 9.6 Mhz Merapi FM, Boyolali)

Sudah berlangsung 3 bulan Indonesia dan bahkan negara-negara lainnya berada dalam situasi yang sulit akibat pandemi covid-19, data kasus yang selalu naik, sampai dengan hari Kamis, 28 Mei 2020 pukul 12.00 WIB positif covid-19 mencapai 24.538 kasus, meninggal dunia sebanyak 1.496 orang. Sementara itu di Kabupaten Boyolali Sampai dengan hari Kamis, 28 Mei 2020 kasus positif 25 orang, sembuh 13 orang dan meninggal dunia 1 orang. Melihat situasi tersebut sudah banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah, dari membuat regulasi, kampanye, edukasi, bahkan sampai adanya protokoler kesehatan covid-19. Sebagai upaya edukasi pada masyarakat umum terkait dengan informasi ketersediaan layanan reproduksi di Tengah Pandemi ini, maka SPEKHAM melakukan live talkshow di radio Merapi FM pada Senin, 8 Juni 2020.

Dari hasil bincang bersama dengan Dr. Ratri S Survivalina Kepala Dinas Kesehatan Kab.Boyolali saat ini layanan kesehatan ibu dan anak masih tetap berjalan dan dilakukan di tengah pandemi covid-19 dengan protokoler kesehatan, tetapi ada pemisahan antara pasien yang mempunyai gejala batuk dan infeksi ISPA dengan pasien yang lain, selain itu juga ada pembatasan pendamping pasien rawat inap, pakai masker dan selalu mencuci tangan. Intinya kami menghibau selagi kita mematuhi protokoler kesehatan masyarakat tidak usah kawatir. Selain layanan kesehatan ibu dan anak pelaksanaan layanan kespro lain yang dilakukan adalah konseling KB serta terkait dengan pelayanan alat kontrasepsi, pelayanan IMS juga bisa dilakukan, karena faskes sudah mampu memberikan pelayanan. Terkait layanan persalinan semua puskesmas bisa diakses, dan sesuai dengan semangat kita bahwa saat ini puskesmas harus menjadi faskes yang mampu memberikan layanan persalinan lebih cepat dan bermutu. Dikatakan juga bahwa pandemi covid-19 ini juga berdampak akan kerentanan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), semua disebabkan karena sering bertemu dan berkumpulnya pasangan di rumah. Sebagai upaya menanggulangi kerentanan KTD dan kehamilan yang tidak direncanakan maka kami melakukan promosi alat kontrasepsi baik jangka panjang dan pendek, , bahkan ada yang permanen seperti tubektomi dan vasektomi, selain itu juga ada metode kontrasepsi darurat , kami juga mebuka akses agara masyarakat bisa mengakses alat kontrasepsi lewat bidan desa, puskesmas dan kader kesehatan.

Live Talkshow Merapi FM

Narasumber yang lain Siti Muntadimatul Fikri (Kader SUKMADESI) Kecamatan Klego yang menceritakan, bahwa selama pandemi covid-19 ini kader tetap bekerja walaupun hanya lewat media WA group maupun pribadi, dan saat ini kita lebih fokus di kelompok remaja dan lansia. Saat ini kami meberikan vitamin sebanyak 100 tablet di setiap desa serta gerakan penghijauan dan pengembangan tanaman pangan keluarga pada kelompok remaja. Program lain yang dirancang adalah menghadirkan pihak Dinas Kesehatan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat, yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa yang disampaikan kader saat ini sebetulnya bener-bener program pemerintah. Kader Kesehatan Ds. Blumbang ibu Ida Nursanti Astuti menguatkan pendapat ibu fikri bahwa komunikasi dengan warga saat ini menurut mereka dengan media sosial lebih gampang, seperti WA, ibu-bu jaman sekarang memang sudah canggih, hampir semua sudah mempunyai smartphone.

Diakhir Talkshow Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan cerita sukses yang sudah dilakukan oleh kader dampingan SPEKHAM. Kader itu menjadi ujung tombak dalam melakukan edukasi ke masyarakat terkait isu kespro, bahkan ada lelucon selain ujung tombak kader juga menjadi “ujung tombok”. Bahkan pada pertemuan yang dilakukan malam hari mereka harus tombok waktu untuk bisa hadir pada pertemuan itu. Kami dari SPEK-HAM berperan mendorong partisipasi kader/perempuan untuk aktif terlibat di tingkat desa, untuk mengusulkan program-program perempuan di tingkat desa, melakukan IVA tes, karena ini penting, supaya perempuan juga tahu situasi kespronya agar mengetahuai ada dan tidaknya kanker cervic. Selain itu kami juga mengadvokasi layanan di tingkat kecamatan-kecamatan. Fajar memberikan pesan pada Pemerintah Boyolali: layanan kesehatan reproduksi harus berjalan, kita masih ada PR terkait dengan AKI dan AKB, maka kami berharap disaat layanan sudah dibuka maka masyarakat akan berbondong-bondong untuk mengakses layanan. Kami berharap di tingkat desa juga memikirkan kebutuhan pembangunan manusia artinya butuh pembisik dan peran laki-laki. Antonius Danang – Divisi Kesmas

IVA Tes Tidak Sakit, Hasilnya Cepat Diketahui


Fikri, salah seorang Kader Kesehatan Blumbang memandu diskusi dalam kegiatan pertemuan rutin

Hal tersebut disampaikan Ida Nursanti saat memberikan informasi sekaligus ajakan kepada ibu-ibu kader kesehatan Desa Blumbang pada acara pertemuan rutin kader kesehatan, Sabtu (16/2) di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali.

Menurutnya sudah saatnya perempuan harus berani melakukan IVA tes demi kepastian kesehatan reproduksinya. “Pemeriksaan IVA tes itu tidak sakit dan hasilnya cepat diketahui,”ungkap Ida. Dia menambahkan hasil pemeriksaan IVA tes bersifat rahasia dan yang mengetahui hanya pasien dan dokter yang memeriksa. Jadi perempuan tidak perlu merasa malu.

Sementara itu Supriatun, Bidan Desa Blumbang menyampaikan informasi tentang kesiapan layanan IVA tes di Puskesmas Klego 2. Menurutnya saat ini sudah ada tim terlatih yang siap melayani. “Sudah ada tim tersendiri yang sudah terlatih melayani IVA tes. Silakan nanti disiapkan pesertanya 15-20 orang. Setelah itu bisa menghubungi pihak Puskesmas supaya bisa disiapkan tim beserta perlengkapannya,” ungkap Rohma.  

Sebagai informasi, kanker serviks merupakan pembunuh nomor satu perempuan Indonesia. Kanker serviks merupakan kanker yang muncul pada leher rahim perempuan. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. World Health Organization (WHO)sepertidikutip https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170827161551-255-237610/jumlah-kasus-kanker-serviks-indonesia-tertinggi-ke-2-di-dunia menyebutkan setiap tahun 21 ribu kasus kanker serviks (leher rahim) terjadi di Indonesia sehingga negara kita menempati nomor dua dalam jumlah kasus tertinggi di dunia.

Oleh karena itu upaya preventif sangat diperlukan. IVA tes menjadi salah satu jawaban dari upaya preventif yang murah, mudah dan cepat. IVA tes merupakan kepanjangan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Henrico Fajar K.W (Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM)  

Cegah Kanker Serviks, Perempuan Suroteleng Ikuti IVA Tes

Perempuan Desa Suroteleng sedang menganter IVA Tes

Kegiatan IVA tes dilaksanakan pada selasa, 29/1 di PKD (Poliklinik Desa) “Gayeng” Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Peserta IVA tes merupakan warga Desa Suroteleng, yang berjumlah 17 orang perempuan produktif dengan usia rata-rata antara 35-50 tahun.

Pengakuan dari beberapa peserta menyebutkan pemeriksaan IVA tes kali ini adalah yang pertama kali diikuti. Sebelum masuk ke ruang pemeriksaan mereka mengaku tegang dan takut.”Perasaan saya campur aduk, tegang dan takut kalau-kalau nanti terjadi apa-apa dengan saya”, ungkap Sulami salah seorang peserta IVA tes. Dia berharap hasil IVA tesnya nanti negatif dan tidak perlu ada pengobatan.     

Pemeriksaan IVA tes ini melibatkan petugas medis dari Puskesmas Selo yang terdiri dari 1 dokter dan 3 bidan. Dokter Ika dari Puskesmas Selo menuturkan pemeriksaan IVA tes harus dilakukan rutin minimal setahun sekali bagi perempuan produktif yang sudah menikah dan pernah melahirkan.  

Lebih lanjut dia mengingatkan agar jangan lupa melakukan pencegahan agar tidak terjadi kanker serviks, “bagi perempuan jangan berganti-ganti pasangan, tidak menikah dini, jangan merokok dan wajib menjaga kebersihan organ reproduksinya”, ungkap Dokter Ika.    

Sementara itu usai pemeriksaan beberapa peserta mengaku lega bisa mengetahui status kesehatannya, Pujiati misalnya, dengan wajah sumringah mengaku sangat bersyukur setelah mengetahui hasil IVA tesnya negatif. “Alhamdulilah hasilnya negatif, lega dan gembira saya, terima kasih untuk Bu Dokter yang telah memeriksa saya”, ungkap Puji.

Sebagai informasi kanker serviks merupakan pembunuh nomor 1 perempuan Indonesia. Kanker Serviks merupakan kanker yang muncul pada leher rahim perempuan. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. WHO menyebutkan setiap tahunnya 21 ribu kasus kanker serviks (leher rehim) terjadi di Indonesia sehingga negara kita menempati nomor dua dalam jumlah kasus tertinggi di dunia.

Oleh karena upaya preventif sangat diperlukan, IVA tes menjadi salah satu jawaban dari upaya preventif yang murah, mudah dan cepat. IVA tes merupakan kepanjangan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Yuuk ikut IVA tes. (Henrico Fajar K.W (Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM )  

64 Perempuan Lereng Merapi Ikuti IVA Tes

Musuk – Boyolali. Sebanyak 64 perempuan dari sejumlah desa di Kecamatan Musuk dan Kecamatan Selo mengikuti kegiatan IVA tes di Puskesmas Musuk 1 pada jumat (17/2) dan selasa (28/2). Hasilnya, sebanyak 15 perempuan mengidap kanker leher rahim stadium awal, sementara itu sebanyak 13 perempuan lainnya terkena gangguan kesehatan reproduksi, seperti keputihan.

Petugas medis fungsional di Puskesmas Musuk 1, dr. Retno Setyaningsih mengapresiasi kegiatan ini, pihaknya tak menyangka jumlah peserta yang membludak. “Ini luar biasa ya, perempuan desa berbondong-bondong mau ikut IVA tes dan sadar akan pentingnya kesehatan reproduksinya”, ungkap Retno. Menurutnya, masyarakat harus memahami bahwa upaya-upaya preventif harus selalu dilakukan, salah satunya dengan IVA tes.

Masih menurut Retno, terkait dengan hasil pemeriksaan IVA tes 7 perempuan mengidap kanker leher rahim tahap awal dan sebanyak 9 perempuan terkena gangguan kesehatan reproduksi, ia memberikan rekomendasi agar pasien kembali lagi ke Puskesmas setelah 3 bulan. “Untuk saat ini pasien saya minta untuk menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat) di lingkungan rumah mereka”, ujarnya lagi.

IVA tes merupakan kepanjangan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim.

Beberapa pesersta IVA tes mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Marsini, salah satu warga Desa Musuk menyampaikan bahwa dia mengikuti kegiatan ini karena semata-mata untuk mengetahui kesehatan reproduksinya. “Perasaan saya tegang karena baru pertama kali ikut IVA tes, mudah-mudahan hasilnya baik”, ungkap Marsini. Ia menambahkan untuk saat ini masih banyak perempuan yang malu ikut IVA tes karena harus dibuka organ reproduksinya.

Sementara itu Narti, warga Desa Samiran Kecamatan Selo, mengungkapkan kelegaannya setelah mengikuti IVA tes. ”Lega karena hasilnya negatif IVA. Tadi sempat tegang, tapi bu dokter bilang suruh rileks”, ujar Narti. Dia berharap agar kegiatan IVA tes bisa dilakukan di Puskesmas Selo karena di sana masih banyak perempuan yang belum paham tentang pentingnya pemeriksaan IVA tes.

Sebagai informasi, kegiatan uji coba layanan Kespro ini merupakan rangkaian dari kegiatan sebelumnya, yaitu riset JKN-BPJS untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan, pembentukan Forum Peserta JKN Boyolali, Audiensi dengan BPJS Kesehatan dan Dinkes. Kegiatan ini diselenggarakan SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Jaringan Perempuan Peduli Kesehatan (JP2K), dengan dukungan AUSAID Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan).  (Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat/spekham.org)

Mari Tes IVA. Jangan Malu!

SPEKHAM – Kesehatan Masyarakat.

Hanya dengan menggunakan asam cuka atau cuka bakso banyak perempuan bisa diselamatkan nyawanya, tentu penggunaan asam cuka dengan konsentrasi tertentu dan harus dilakukan oleh
tenaga terlatih. Kami SPEK-HAM Surakarta terus mendampingi perempuan untuk akses layanan kesehatan reproduksi berupa IVA tes atau deteksi dini kanker leher rahim, dan cek IMS (Infeksi Menular seksual) cukup di Puskesmas.

Budaya malu, budaya patriarki dan kekhawatiran kalau ditemukan penyakit membuat banyak perempuan memilih untuk tidak periksa, apalagi harus dibuka organ reproduksinya. Kami menemukan banyak ibu rumah tangga mengalami persoalan kespro, mulai dari keputihan ringan hingga berat, ada benjolan atau polip, beberapa ditemukan IVA positif atau kanker leher rahim tahap awal. Pada temuan IVA positif tahap awal akan mudah dilakukan upaya pengobatan, salah satunya dengan kreotherapy (membekukan serviks dengan CO2 untuk menghambat berkembangnya sel kanker).

Banyak cerita dari lapangan yang membuat hati sedih, saat tim medis menyampaikan kalau dari 61 peserta  perempuan ditemukan 15 IVA positif. Pasti emak-emak ini akan gusar, akan galau, mungkin juga tak bisa tidur berminggu-minggu. Walau mungkin ini seperti mimpi buruk bagi mereka yang ditemukan IVA positif, tapi sebetulnya ini lebih baik buat mereka sehingga upaya pengobatan bisa dilakukan sedini mungkin.

#janganmalu

#maritesiva

Kontak SPEK-HAM Utk konsultasi dan Rujukan layanan 0271-714057

(Rahayu Purwaningsih – Manajer Divisi Kesehatan Masyarakat/spekham.org)

Kesehatan Reproduksi bagi Kelompok Dawis Banyuanyar

Kepedulian dan antusias Pengurus  Kelompok  Dawis 1 dan 2dari  RT03 RW 06, Kelurahan Banyuanyar, tentang kesehatan reproduksi sangat terlihat pada kegiatan Pemeriksaan bersama yang dilakukan di rumah Bapak Pramono Agung Nugroho, Pengurus RT 03 RW 06, Dukuhan Taruma Negara Gang U.I, Kelurahan Banyuanyar pada tanggal 6 Juni 2014.

DIGITAL CAMERAKegiatan dilakukan untuk Pemeriksaan IVA, IMS dan VCT. Merupakan kerjasama Yayasan SPEK HAM dan layanan Klinik IMS dan VCT dari Puskesmas Sangkrah. Semula direncanakan 20 orang akan mengikuti pemeriksaan ini. Karena kegesitan Ibu Itaselaku Pengurus Dawis dan didukung oleh Ibu PutriPramonoAgung selaku tuan rumah, akhirnya 27 orang ibu mengikuti pemeriksaan tersebut dengan antusias. (soepadmin/spekham)

Sadar Kesehatan Reproduksi Kampung Kandang Doro

Usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi dilakukan oleh SPEK-HAM. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan menyasar pada kelompok-kelompok resiko tinggi, kelompok Ibu rumah tangga, dan juga pelajar serta mahasiswa.

Kelompok Perempuan Kampung Kandang Doro, Kelurahan Kestalan merupakan salah satu komunitas yang selama lebih kurang tiga tahun menjadi kelompok dampingan SPEK-HAM. Kelompok yang terdiri dari Ibu rumah tangga ini telah banyak melakukan banyak kegiatan terkait dengan kemadirian serta peningkatan kapasitas pengetahuan perempuan, termasuk peningkatan pengetahuan akan kesehatan reproduksi. Kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi sudah mulai terbangun dengan adanya diskusi-diskusi menyangkut hal tersebut.

iva kandang doro 3Terbangunnya kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan adanya pemeriksaan kesehatan reproduksi dengan Tes IVA (Inspeksi visual dengan asam asetat), tes IMS dan tes HIV AIDS pada hari Rabu, 21 Mei 2014. Kegiatan yang dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas Sangkarah ini bertujuan untuk mendeteksi dini kelainan pra-kanker leher rahim pada tahap awal dengan pemeriksaan IVA. Program ini hanya membutuhkan sumber daya dan sarana kesehatan sederhana, namun sangat efektif.

Proses tes IVA dan IMS dilakukan dengan pembersihan leher rahim. Spekulum, alat semacam cocor bebek, membantu proses pembersihan. Pembersihan dilakukan dengan cara memulas leher rahim dengan zat asam asetat 3-5% selama satu menit.

Pemeriksaan paling lama memakan waktu 5-6 menit untuk setiap orangnya. Dengan waktu maksimal 5-6 menit, hasil tes langsung diketahui seketika itu juga. Petugas medis yang memeriksa akan menyimpulkan normal (negatif) atau Lesi pra-kanker (positif). Idealnya, pemeriksaan untuk mendeteksi dini kanker leher rahim dilakukan secara rutin dan berkala. Pemeriksaan minimal dilakukan 3 tahun sekali dengan cara Papsmear atau tes IVA. (atik fatma/edit:nuel/spekham)