Search for:

Perempuan Cluntang dan Ruang Baru yang Tumbuh dari Mawar

Di Desa Cluntang, Kabupaten Boyolali, bunga mawar telah lama menjadi salah satu potensi lokal yang dibudidayakan masyarakat. Perempuan turut terlibat dalam proses budidaya, mulai dari penanaman hingga panen. Selama bertahun-tahun, hasil mawar umumnya dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul sebagai sumber penghasilan keluarga. Pada masa itu, perempuan belum banyak memiliki akses terhadap pengetahuan pengolahan hasil panen maupun keterlibatan dalam proses bersama untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Perubahan mulai hadir ketika perempuan memperoleh akses pendampingan dan pelatihan dari SPEK-HAM. Melalui proses tersebut, terbentuklah Kelompok Putri Mawar sebagai wadah belajar dan berkembang bersama bagi perempuan di Desa Cluntang. Dari kelompok ini, perempuan mulai memperoleh ruang untuk memperluas pengetahuan, membangun jejaring, serta terlibat lebih aktif dalam berbagai kegiatan bersama.

Melalui pelatihan yang diikuti, perempuan mulai mengenal berbagai olahan berbahan dasar mawar. Mereka belajar mengolah bunga mawar menjadi teh, sirup, hingga keripik, sekaligus memahami proses produksi, pengemasan, dan nilai tambah dari produk olahan. Pengetahuan tersebut membuka pengalaman baru bagi perempuan dalam melihat potensi mawar yang selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah.

“Awalnya mawar hanya dijual ke pengepul, sekarang kami jadi tahu banyak olahan mawar yang bisa dibuat, seperti jadi teh, sirup, dan keripik,” ujar Ibu Sri Mulyani, Ketua Kelompok Putri Mawar.

Proses belajar tersebut membuka akses pengetahuan baru bagi perempuan. Pengalaman mengikuti pelatihan juga mendorong tumbuhnya rasa percaya diri untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang ada di desa. Perempuan tidak lagi hanya terlibat dalam budidaya, tetapi juga mulai mengambil peran dalam proses pengolahan dan pengembangan produk.

Perubahan ini turut membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi perempuan. Dari yang sebelumnya hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, kini perempuan terlibat dalam proses produksi hingga menghasilkan produk olahan dengan nilai jual yang lebih tinggi.

“Sekarang perempuan jadi punya kegiatan bersama dan ikut mengembangkan usaha kelompok. Hasilnya juga bisa membantu menambah penghasilan,” ungkap Ibu Sri Mulyani.

Kelompok Putri Mawar juga menjadi forum bersama bagi perempuan untuk membangun jejaring dan memperluas relasi sosial. Perempuan mulai aktif dalam kegiatan kelompok, membangun kebiasaan berdiskusi, serta saling berbagi pengalaman satu sama lain. Kegiatan bersama tersebut menghadirkan ruang baru bagi perempuan untuk lebih terlibat dalam kehidupan sosial di tingkat desa.

“Yang paling terasa itu wawasan dan pengalaman. Dulu belum tahu apa itu berkelompok, sekarang jadi tahu dan bisa menjalin jejaring,” ujar Ibu Sri Mulyani.

Keterlibatan dalam kelompok turut membuka kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan bersama. Perempuan mulai aktif dalam musyawarah kelompok untuk menentukan kegiatan maupun arah pengembangan usaha. Ruang musyawarah ini membuat perempuan semakin terbiasa menyampaikan pendapat dan terlibat dalam proses diskusi bersama.

“Kalau ada kegiatan atau rencana usaha, sekarang kami biasa berdiskusi bersama dulu. Perempuan juga ikut menyampaikan pendapat,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, produk olahan mawar dari Kelompok Putri Mawar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Berbagai kegiatan kelompok yang terus berjalan juga mendorong perempuan semakin aktif dan percaya diri dalam menjalankan perannya di berbagai aspek kehidupan.

Penulis : Fitria Sandrina Duhita, Florista Aminati Mawadah (Mgg Sosiologi UNS) | Editor : Muhammad Ta’aruf Huda (CO Divisi Sustainable Livelihood)

PEREMPUAN PEDESAAN BERGERAK MENYIKAPI DAMPAK COVID-19

Virus corona yang sejak bulan Maret 2020 menjadi persoalan utama bangsa saat ini. Di awal – awal muncul pemberitaan di media tidaklah menjadi topic yang menarik untuk di bicarakan, hanya sekilas-kita lihat berita di televisi atau media social. Di desa-desa khususnya di Kecamatan Musuk orang-orang lebih tertarik berbicara tentang harga bunga mawar, penanaman tembakau, dan ternak di banding ngobrol tentang Covid-19 ini.

Dari data nasional, provinsi dan juga kabupaten/ kota yang di muat di media tv yang awalnya hanya memberitakan 2 sampai 5 kasus yang di temukan. Semakin lama data yang meninggal karena Covid19 semakin gencar diberitakan, kasus sudah mencapai ribuan hingga akhirnya tembus ke angka 14.000. Pemerintah desa mulai mengambil sikap untuk mencegah, minimal melakukan koordinasi dengan bidan desa, puskesmas tingkat kecamatan untuk meng-update data dan juga informasi pada masyarakat untuk melakukan PHBS demi mencegah penularan virus Corona.

Ternyata Pandemic Covid19 tidak hanya berbicara tentang kesehatan. Dampak dari pandemic ini sangat luas, terutama di sector ekonomi. Hal ini sangat dirasakan oleh perempuan di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Biasnaya pada bulan ruwah adalah berkah bagi petani mawar di Desa Cluntang. Masyarakat yang selama ini mengandalkan bunga mawar menjadi primadona menjelang bulan ruwah, harus menelan pahit dengan adanya pembatasan sosial dan larangan berkegiatan ritual, keagamaan dll. Pada tahun-tahun sebelumnya saat bulan ruwah bunga mawar bisa laku sampai Rp. 200.000 per rinjing. Namun setelah ada Covid19 ini, bunga mawar hanya laku Rp. 10.000 per rinjing.

Hasil pertanian seperti sayuran juga tidak bisa keluar bebas karena ada pembatasan para orang luar masuk wilayah Desa Musuk dan Desa Cluntang termasuk para tengkulak. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya perempuan di Musuk dan Cluntang. Bahkan angsuran pra koperasi simpan pinjam kelompok perempuan tidak ada yang mengangsur, karena tidak adanya pendapatan yang masuk. Saya mencoba melakukan diskusi dengan ibu-ibu baik di kelompok Putri Mawar Desa Cluntang, Rukun Makmur Desa Musuk, kelompok Sekar Putri Desa Musuk juga komunitas peduli TPPO Kecamatan Musuk untuk menyikapi situasi ini, apa yang bisa dilakukan? Solusi yang bisa dilakukan oleh perempuan adalah membuat produksi aneka makanan dari bahan-bahan lokal seperti aneka lauk, kue kering, es cream, minuman tradisional, termasuk hasil pertanian bawang merah dll. Pemasaran dibantu oleh pendamping dari SPEK-HAM secara langsung maupun secara online lewat media social.

Tidak disangka ternyata hasilnya cukup membuat para perempuan di komunitas bersemangat. Setiap dua atau tiga hari sekali pada datang kerumah saya untuk berdiskusi, setor produk, ambil uang dan juga menciptakan produk baru. Peluang-peluang seperti ini yang harusnya di respon cepat oleh perempuan, karena mereka yang lebih paham kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Situasi pandemic yang kita belum tahu kapan akan berakhir, harus di sikapi dengan bijaksana, segala upaya dilakukan, tetapi persoalan ekonomi keluarga harus menjadi focus. Setiap individu di kelompok saling mensuport, program-program pra koperasi menjadi solusi saat sulit seperti ini sehingga kita bisa lewati bersama dengan baik. (Noko/NL)

Olahan Pangan Lokal Meningkatkan Ekonomi Perempuan Desa Balerante

Pelatihan olah pangan berbahan dasar susu bagi kelompok perempuan Mawar, Balerante.

Pagi ini, Rabu 20 Maret 2019 puluhan anggota kelompok perempuan Mawar Desa Balerante dan beberapa mahasiswa berkumpul di Rumah Darsi, salah seorang anggota kelompok. Mereka sibuk menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan untuk praktik membuat aneka makanan dari olahan susu sapi.

Balerante dikenal sebagai desa penghasil susu sapi. Setiap hari mampu menghasilkan ribuan liter susu sapi segar, karena 1 ekor sapi saja mampu menghasilkan 20-40 liter susu setiap harinya. Susu sapi segar ini disetorkan ke Koperasi setiap harinya dengan harga Rp. 6000/liter.

Sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomis dan memberikan tambahan pendapatan pada peternak khususnya peternak perempuan, Fakultas Teknologi dan Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) melaksanakan pelatihan olahan pangan lokal berbahan baku susu sapi. Hari ini anggota kelompok perempuan Mawar dilatih mengolah susu sapi menjadi yogurt, es krim dan kerupuk susu. “Bahan-bahan dan cara membuatnya mudah ya, ibu-ibu ?”, tanya Bu Yannie Asrie Widanti, STP, M.Gizi selaku trainer dalam pelatihan ini.

Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama strategis antara SPEK-HAM dan UNISRI dalam program pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan melalui pengembangan sumber daya lokal. Setelah pelatihan, diharapkan masyarakat mampu menindaklanjuti dengan praktek untuk usaha atau setidaknya dikonsumsi keluarga. “Setelah kami pulang, ibu-ibu bisa memulai praktik sendiri, bisa dijual, bisa terima pesanan es krim jika ada hajatan”, tambah Bu Yannie.

Suasana pelatihan

Hal senada juga diungkapkan pemerintah desa Balerante, melalui Kaur Perencanaan Bapak Jainu, “Dana desa sekarang banyak 1 M lebih, setelah punya ketrampilan, kelompok  bisa mengajukan usulan kebutuhan untuk meningkatkan usaha. Silakan usulkan alat-alat untuk produksi es krim, kerupuk dan lainnya saat ada Musrenbangdes. Ini peluang supaya desa maju. Jangan hanya punya cita-cita bekerja sebagai penambang pasir dan pencari kayu bakar di gunung. Harus lebih maju karena potensi Balerante sangat banyak,”pungkasnya. (nila)

Kelompok Mawar dan Tanaman Pangan Keluarga

Kelompok Perempuan Mawar, Desa Balerante, Klaten merupakan salah satu kelompok perempuan yang didampingi oleh SPEK HAM sejak terjadinya erupsi Merapi tahun 2011. Sejak perkenalan hingga tahun 2014 ini, banyak pembelajaran yang sudah dilakukan bersama, mengenai respon bencana, peternakan terpadu dan tanaman pangan, pengelolaan uang kelompok serta masih banyak yang lainnya.

Salah satu yang menjadi fokus pembelajaran saat ini adalah mengenai tanaman pangan keluarga. Tentang bagaimana memanfaatkan ruang-ruang kosong di halaman rumah untuk ditanami dengan berbagai macam sayur yang bisa dijadikan konsumsi sehari-hari.

Kelompok Perempuan Mawar dan SPEK HAM kali ini, 30 Agustus 2014, berkesempatan untuk melakukan praktik pembelajaran tanaman pangan bersama Mas Eka Budhi Sulistiyo. Praktik tanaman pangan keluarga dilakukan di rumah Ibu Darsiati, di RT 06 RW 03. Praktik tanaman pangan keluarga ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yaitu tentang peternakan terpadu. Bermacam bibit semangka, sawi hijau, sawi putih, kacang panjang, cabe, tomat, dan terong ditanam dengan menggunakan media polibag.

PIC_0813Kegiatan praktik tanaman pangan keluarga ini semuanya dilakukan oleh anggota Kelompok Perempuan Mawar, dari mencangkul tanah, mengambil kompos, mencampur tanah dengan kompos, kemudian memasukkannya ke dalam polibag, sampai pada penataan polibag dan penanaman bibitnya. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos dan pupuk cair yang didapat dari kegiatan sebelumnya. Saat ini Kelompok Perempuan Mawar sedang mempraktikkan pembuatan pupuk cair itu secara mandiri. (nur eko/edit : nuel oei/spekham.org)

Geliat Kelompok Perempuan Mawar Desa Balerante

Kelompok Mawar, Kelompok perempuan dari Desa Balerante sebagai wadah berkumpul, berdiskusi dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan para perempuan Balerante.

Gadoh Sapi 1Diskusi dan pertemuan rutin dilakukan untuk kemajuan bersama. Seperti yang dilakukan pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di rumah Bu Darsi. Pertemuan kali ini membahas tentang pengelolaan ternak kelompok. Dengan memperhitungkan pengeluaran, pemasukan dan pembagian hasil, kelompok mempunyai keinginan untuk beralih dari pengelolaan sapi penggemukan ke pengelolaan sapi perah.

Pengalaman kelompok “MAWAR” dalam gadoh sapi penggemukan selama 5 bulan ini dirasa belum bisa mencukupi kebutuhan yang berkelanjutan. Penggadoh merasa masih kurang dan tidak seimbang antara harga jual dibandingkan dengan tenaga penggadoh, pola pakan, rumput, dan air. Air diperhitungkan karena daerah Balerante merupakan daerah yang mempunyai kesulitan dalam memperoleh air, air diperoleh dengan cara membeli atau memanfaatkan dari tadah hujan. Sedangkan dari pengalaman pribadi anggota kelompok yang mempunyai sapi perah, ada pemasukan rutin yang didapatkan setiap bulannya dari penjualan susu.

Gadoh Sapi 2Kelompok Mawar belum pernah melakukan penggadohan sapi perah, oleh karena itu perlu pendalaman lagi. Pendalaman tentang sistem penggadohan, serta pemanfaatan kotoran sapi yang memungkinkan untuk mendapatkan tambahan pemasukan bagi kelompok ini.

Perencanaan pertama adalah pembelian sapi perah, sapi perah yang akan dibeli adalah sapi perah yang dalam kondisi hamil 5 atau 7 bulan. Keuntungan pembelian sapi saat dalam kondisi hamil adalah anakkan sapi itu sendiri, dan susunya juga bisa langsung diperah, jadi ada pemasukan tiap bulannya. Sapi dapat menghasilkan jumlah dan kualitas susu yang baik sampai pada tahap 4 kali beranak. Setelah beranak 4 kali, sapi masih menghasilkan susu, akan tetapi jumlah dan kualitasnya sudah menurun. Sapi indukkan tersebut akan dijual saat hamil yang ke 2 atau 3 kali, agar harga jual sapi tidak merosot jauh. (eko nur/edit:nuel/spekham)