Search for:
Pengelolaan Aset Perempuan

Pemetaan Aset Kelompok Sekar Putri

Perempuan dalam sejarah proses kehidupannya mempunyai peranan penting dalam kepemilikan dan pengelolaan harta benda, lingkungan, dan keberlanjutan penghidupan generasinya. Kesadaran akan peran ini sudah semakin menipis karena tergerus agama, budaya, modernisasi, serta pola pikir-pola pikir yang secara disadari ataupun tidak, cenderung mengurangi nilai kearifan perempuan itu sendiri.

Salah satu upaya untuk meningkatkan peran perempuan dalam pengelolaan aset kepemilikan harta benda, Kelompok Perempuan Tani “Sekar Putri” Desa Musuk melaksanakan kegiatan diskusi tentang pemetaan asset. Bertempat di rumah Hartanti, Dukuh Karanglo, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali, Senin 14/9/2015.

Pengelolaan Aset Perempuan
Pengelolaan Aset Perempuan

Kegiatan ini dihadiri oleh 20 orang anggota kelompok yang saat ini melakukan praktik pertanian dan peternakan. Pertanian yang dikembangkan meliputi penamanan sayur-sayuran, diantaranya kacang panjang, terong, jepan, sawi, kangkung, tomat. Juga penanaman tanaman buah-buahan yang sebagian besar adalah menaman pepaya. Sementara itu peternakan yang dikelola meliputi kambing dan sapi.

Kegiatan ini menghadirkan Fasilitator dari SPEK-HAM. Pada awal kegiatan, partisipan diajak untuk berkenalan dengan menyampaikan nama dan kegiatannya sehari-hari. Kemudian dilanjutkan dengan memetakan aset yang dimiliki anggota Kelompok Perempuan Tani “Sekar Putri”. Diperoleh informasi bahwa jumlah kambing yang dimiliki anggota kelompok sejumlah 57 ekor kambing, sementara itu jumlah kambing secara keseluruhan di Dukuh Karanglo, Desa Musuk, mencapai 138 ekor.

Diskusi siang itu juga mengungkap tentang bagaimana kepemilikan perempuan terhadap aset kambing. Hasilnya memang sudah cukup baik, ada peran-peran yang dilakukan secara bersama dalam memelihara kambing. “Yang dilakukan bersama perempuan dan laki-laki adalah ngarit, ngombor, nimpal. Sementara kalau yang mempunyai ide untuk menjual kambing itu ibu-ibu, yang mengelola uangnya juga ibu-ibu, sementara yang menjual kambing adalah bapak”, ungkap salah seorang partisipan.

Ada ketakutan dalam masyarakat setempat, bila seorang perempuan menjual sendiri ternaknya di Pasar, biasanya akan mendapat pelecehan dari para penjual atau pembeli laki-laki yang ada di sana. Jadi mereka lebih mempercayakan kepada para suaminya atau kepada para blantik.

Pada bagian lain, Fasilitator mengajak partisipan untuk melihat aset lain yang dimiliki, seperti rumah yang hampir semuanya merupakan atas nama suaminya. Fasilitator juga mengajak partisipan untuk melihat berapa jumlah rumah yang masih semi permanen atau gedek. Menurut Mariati, di Dukuh Karanglo ada 9 rumah yang terbuat dari gedek, 4 diantaranya pemiliknya adalah lansia.

Terungkapkan juga tentang beberapa rumah tangga yang belum mempunyai WC di dalam rumah. “Ada 7 KK yang belum mempunyai WC. Mereka biasa buang air besar di cemplung yang ada di kebun belakang rumah”, ungkap salah seorang partisipan. Sementara itu ditemukan pula sejumlah 13 KK yang masih menggunakan kamar mandi semi permanen yang terbuat dari gedek atau triplek.

Akses terhadap air cukup melimpah, hampir semua warga mempunyai sumur. Namun hal itu berbanding terbalik dengan pengairan di sawah yang hanya mengandalkan air hujan, karena lokasi sawah yang berada di dataran tinggi, sehingga mereka menaman tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air. Dibagian akhir, Fasilitator mengingatkan tentang pentingnya melihat aset agar kita bisa tahu apa yang bisa dikembangkan untuk kehidupan di tempat ini. (Henrico Fajar K.W – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kasus Berbasis Masyarakat SPEK-HAM Surakarta)

17an di Kampung Kambing

17an di Kampung Kambing

“GELIAT PEMANFAATAN POTENSI LOKAL“

(Membangun Desa Mandiri dan Sejahtera Melalui Gerakan Cinta Potensi Lokal)

Suasana menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa sangat terasa. Dua hari sebelumnya dan dua hari setelahnya dapat dipastikan banyak kegiatan yang dilakukan Pemerintah maupun masyarakat Indonesia, dengan tujuan untuk mengenang jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Momentum HUT RI yang ke 70 menjadi sangat berarti dengan gerakan “Ayo Kerja” oleh Pemerintah Pusat. Gerakan ini mampu menginspirasi masyarakat yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Salah satunya adalah Kelompok Perempuan Rukun Makmur (KPRM) yang berada di Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali.

Kelompok perempuan yang berada di lereng Gunung Merapi ini melakukan gerakan bersama untuk memanfaatkan potensi lokal pada hari Minggu, 16 Agustus 2015. Gerakan berupa gerakan menanam, ternak kambing, pemanfaatan produk berbahan baku yang bisa ditanaman sendiri. Adapun gerakan tersebut mendukung pencanangan Desa Musuk sebagai Kampung Kambing.

 

Kegiatan ini menjadi pengalaman yang cukup berarti untuk Kelompok Perempuan Rukun Makmur, salah satu kelompok dampingan SPEK-HAM ini. Dalam kegiatan ini mereka tidak hanya bekerja sendiri, berbagai multistakeholder seperti Gapoktan, Harian Solopos sebagai media partner, PKM UNS, STIKES Widya Mulya Klaten terlibat bersama memeriahkan HUT RI bertema 17AN DI KAMPUNG KAMBING.

Kegiatan ini juga mengusung kampanye gerakan makan makanan berbahan baku lokal, seperti: umbi-umbian, buah, jagung melalui lomba karya cipta makanan yang diikuti oleh 19 group.

Acara yang paling menarik pengunjuang adalah adanya Kontes Kambing, Posyandu Kambing dan Sarasehan Kampung Kambing. Ada sekitar 24 kambing mengikuti kontes kambing. Indikator penilaian juri ada 3 yaitu kesehatan (50%), penampilan (30%), dan keunikan yang dimiliki kambing tersebut (20%). Keluar sebagai jawara adalah kambing jenis Etawa berwarna hitam milik Bapak Margono.

Acara ditutup dengan sarasehan untuk merealisasikan Musuk sebagai Kampung Wisata Kambing. Sarasehan melibatkan Pemerintah Desa, 3 KWT, pengurus dan anggota Gapoktan, para calon investor, dan juga BPD Desa Musuk. Sarasehan ini difasilitasi oleh Nila Ayu Puspaningrum, Manager Divisi Sustainable Livelihood SPEK-HAM. Peserta dipandu untuk mendiskusikan tentang bagaimana mengoptimalkan pengelolaan ternak kambing di Desa Musuk, agar Musuk menjadi salah satu desa pemasok kambing di seluruh penjuru Solo Raya.

Banyak masukan dari peserta, seperti dari Gapoktan yang menginginkan gerakan Posyambing ini harus diperluas di seluruh Kadus, bahkan sampai tingkatan Kelurahan. Tokoh masyarakat juga mengharapkan supaya peternak mulai cerdas memilih jenis kambing yang akan dipelihara, kambing yang laku dengan harga jual tinggi. Hal ini akan mendorong geliat peternak di Musuk dalam budidaya kambing. Jika banyak peternak yang cerdas di Musuk, maka impian tentang Musuk menjadi sentral kambing berkualitas bukanlah hanya sebatas impian.

Dukungan juga diberikan oleh HARPI Melati Boyolali. Melalui ketuanya, Ibu Chety Nuraini menyatakan bahwa mereka siap menjadi investor.

Akhir sarasehan ini diperkuat dengan pernyataan dari salah satu Perangkat Desa “Bagaimana dukungan Pemerintah Desa Musuk untuk memujudkan konsep Kampung Kambing ini menjadi nyata dan masuk dalam program pembangunan jangka pendek maupun panjang di Desa Musuk,“ demikian imbuh Bapak Suhadi, Kepala Kadus 1 Desa Musuk.

(Sunoko – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

Kelompok Perempuan Sekar Putri Desa Musuk Belajar tentang Pencegahan Kekerasan

Tujuan Divisi Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan Berbasis Masyarakat (PPKBM) SPEK-HAM Surakarta, selain melakukan penanganan terhadap kasus-kasus berbasis gender, juga bertujuan melakukan upaya pencegahan terhadap munculnya kasus tersebut. Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan yakni melalui pendampingan komunitas di beberapa kelompok perempuan yang berada di Kabupaten Klaten, Kota Surakarta dan Kabupaten Boyolali. Senin, 30 Maret 2015, bertempat di rumah Ibu Maryati di RT 04 RW 03 Kadus II Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali diadakan diskusi komunitas oleh Divisi PPKBM untuk pertama kali. Diskusi komunitas ini merupakan bagian dari penguatan perempuan, wujud dari upaya pencegahan kekerasan berbasis gender.

IMG_1377 (Small)
Diskusi Kelompok Perempuan Sekar Putri tentang Pencegahan Kekerasan

Peserta merupakan Ibu-ibu anggota dari Kelompok Perempuan “Sekar Putri”, yang baru terbentuk satu bulan yang lalu. Kelompok ini diketuai oleh Ibu Hartianti. Acara dibuka oleh Ibu Fifin, dilanjutkan dengan sambutan dari IMG_1399 (Small)Ketua Kelompok Sekar Putri. Setelah itu sambutan dari SPEK-HAM yang dilakukan oleh Noko dari Divisi Sustainable Livelihood, yang dilanjutkan oleh Laili dari Divisi PPKBM. Dalam sambutannya, Laili mengungkapkan bahwa SPEK-HAM ingin sekali belajar sekaligus membantu Ibu-ibu Desa Musuk untuk mengenali potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang berada di Desa Musuk untuk meningkatkan pemberdayaan Perempuan Desa Musuk. Acara dilanjutkan dengan pemaparan “oleh-oleh” dari hasil Temu Komunitas yang diwakili oleh Ibu Maryati dan Ibu Hartanti pada tanggal 23-24 Maret kemarin. Ibu Maryati menjelaskan macam-macam kekerasan dalam rumah tangga beserta kendala penuntasan kekerasan tersebut. Setelah penjelasan Ibu Maryati, Fitri, Manager Divisi PPKBM menambahkan perlunya peta wilayah untuk melihat potensi yang tersembunyi agar bisa dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat Desa Musuk. Kemudian dilanjutkan dengan membahas tema-tema diskusi berikutnya seperti Hak Perempuan dan Pernikahan Dini pada perempuan.

Diskusi ini akan diadakan sebulan sekali pada Minggu Kliwon dengan tema berbeda pada tiap kesempatannya. Kekerasan tidak hanya butuh ditanggulangi, melainkan diperlukan upaya kongkrit dalam mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan secara berulang. Pendampingan komunitas melalui diskusi kelompok menjadi keniscayaan agar harapan tersebut dapat terwujud. (Laili Anisah – CO Divisi PPKBM/spekham)

Kelompok Perempuan Rukun Makmur “Dua Tahun Belajar Bersama”

DUA TAHUN TAK TERASA…..

DUA TAHUN.….

SEMOGA TIDAK HANYA SEKEDAR BELAJAR BERSAMA…..

Mengingatkan saja bahwa menjadi seorang CO, Community Organiser atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah menjadi seorang pendamping komunitas untuk melakukan pengorganisasian, terkadang kita terlalu larut dalam dinamika proses di komunitas, hingga kita terkadang sulit melihat apa yang sudah kita lakukan, terlebih melihat dampak apa yang sudah dihasilkan dengan aktifitas kegiatan yang kita lakukan. Seorang CO menjadi bagian penting dalam menghantarkan dan mendorong kelompok-kelompok perempuan di komunitas untuk berkembang maju, serta berjalan dalam kedinamisan sebuah proses yang bernama “PEMBERDAYAAN“.

Rukun Makmur 1 (Small)

Desember tahun 2012, sebagai seorang CO saya mulai belajar bersama warga di sekitar wilayah saya tinggal. Awalnya saya merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa, semua berjalan normal dan wajar-wajar saja. Bulan Februari 2013, melalui diskusi mendalam, kunjungan rumah dan kegiatan lainya, ternyata saya menemui banyak persoalan yang ada di kelompok perempuan yang menamai dirinya “KPRM” Kelompok Perempaun Rukun Makmur, dengan filosofi dan maksud menjadi kelompok yang akan selalu menjaga kerukunan dalam mencapai kemakmuran atau kesejahterssn bersama, melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan sesuai dengan pemetaan dan kebutuhan yaitu berternak dan bertani.

Proses dilalui bersama, dari dua kegiatan tersebut kegiatan ternak kambing dilakukan terlebih dahulu. Kelompok perempuan ini belajar dari ketrampilan dasar yaitu bagaimana mengelola ternak kambing. Ada sebagian yang sudah terlibat langsung dalam kegiatan ternak, tetapi tidak banyak yang belum paham dalam kegiatan beternak kambing secara utuh, kususnya dalam proses membeli dan menjual kambing. Mereka masih merasa tabu dan kurang biasa bila perempuan melakukan kegiatan di dua hal tersebut, karena hal tersebut biasa dilakukan oleh oleh laki-laki. Berbeda dengan penuturan ibu Padmi dan Ibu Sawarti serta Ibu Cipto yang memang single parent atau perempuan kepala rumah tangga, Rukun Makmur 3 (Small)dimana kegiatan itu dilakukan dengan sedikit terpaksa karena tidak ada yang bisa dimintai tolong. “Di sisi lain, perempuan juga mengalami persoalan pada proses awal yaitu pada saat persiapan atau pembuatan kandang dimana peran laki-laki/suami/tukang juga masih dominan, kecuali kalau hanya  memperbaiki ya bisa seperti mengganti palonan (tempat mengikat kambing)” kata Ibu Tutik dan ibu Yuli  yang memang terbiasa mandiri.

Dari dua tahun belajar bersama tentang ternak kambing, pasti sudah banyak yang dihasilkan. Selain hasil dan laba dari beternak tetapi juga pengalaman-pengalaman berharga yang dituangkan menjadi tulisan pengalaman seperti yang dilakukan ibu Yuli dan Ibu Surani (akan menyusul 3 tulisan lagi yaitu tulisan dari Ibu Winarsih, Winarni dan Kemi). Selain photo-photo proses beternak yang sekarang didokumentasikan kelompok, selain proses pembelian kambing, yang tidak kalah menarik adalah pada proses pemeliharaan, dimana peran perempuan ditantang untuk belajar tentang pola dan perilaku kambing, bagaimana kambing bisa makan, kambing pada saat birahi, kambing pejantan yang siap jual serta bagaimana kambing ketika tidak doyan makan. Disinilah perempuan belajar tentang pengalaman dalam mengelola ternak kambing masing-masing, yang sedikit berbeda dengan beternak kambing secara kelompok seperti yang dilakukan pada tahun 2012 awal.

Rukun Makmur 2 (Small)Kelompok pernah mencoba bagaimana membuat pakan ternak yang bisa dipersiapkan untuk kebutuhan jangka panjang dengan metode silase dan juga fermentasi. Dalam pelaksanaannya mengalami berbagai kendala kususnya komitmen dan konsistensi, sehingga metode ini juga perlu digali dan diperdalam untuk mempersiapkan KPRM dengan slogannya “MUSUK SEBAGAI KAMPUNG KAMBING“ atau penghasil ternak kambing yang terpadu dengan kegiatan tanaman pangan yang saat ini juga mulai dikembangkan budidayanya. Pada proses pemasaran, dimana pada tahapan ini sangat menentukan para anggota untuk terus melakukan kegiatan beternak atau tidak, karena sampai saat ini segmen pasar untuk kegiatan kambing masih manual yaitu pemasaran dengan pedagang keliling yang jumlahnya baru sekitar 4 orang yang terpetakan.

Seiring dengan berjalannya kegiatan ternak kambing, kelompok ini juga melakukan kegiatan tanaman pangan di pekarangan, dimana lahan/halaman kosong yang selama ini hanya menganggur, sejak ada pemetaan tentang kebutuhan harian, pengamatan terhadap pasar keliling, dimana hampir semua sayuran yang setiap hari dibutuhkan ternyata bisa dibudidayakan sendiri, seperti cabe, terong, sawi, koll, brokoli, tomat, pare , kacang dan lain lain, setiap hari harus membeli dengan uang 5 ribu sampai dengan 10 ribu. Dengan sedikit pelatihan dan diskusi yang dilakukan dengan anggota kelompok, dan sesekali mengundang narasumber untuk memperkuat pengetahuan ibu-ibu anggota KP Rukun Makmur, sampai sekarang kegiatan tanaman pekarangan ini cukup berdampak meskipun belum signifikan. Minimal mereka percaya bahwa dari halaman, dengan tangan mereka sendiri mereka bisa menghasikan sayuran yang dibutuhkan setiap hari, semua terkembali pada komitmen anggota.

Tanggal 12 Desember 2014, Kelompok Perempuan Rukun Makmur (KPRM) genap berumur dua tahun belajar bersama dengan SPEK HAM. Harapan saya, mereka tidak hanya belajar tetapi harus meningkatkan pada praktik-praktik bertani dan beternak yang lebih seriu. Semua proses harus bisa terdokumentasi dengan baik sehingga bisa menjadi bahan untuk dibaca, dilihat, untuk pembelajaran dan dipraktikan ke wilayah lain. Dua tahun ini, kami mendokumentasikan kegiatan bertanam melalui film “SENANDUNG BUMI MENGHIJAU“ (bisa dilihat di sini : http://youtu.be/R6ijUzw3-tk ) dan untuk kegiatan ternak kambing, sedang dalam proses pembuatan film dengan judul “IMPIAN KAMPUNG KAMBING“. Semoga dalam perjalanan usia ke-dua tahun, Kelompok Perempuan ini semakin paham dan belajar berorganisasi untuk membangun dan memperkuat praktik dan komitment terhadap kegiatan yang menjadi mimpi mereka yaitu “PERTANIAN DAN PETERNAKAN TERPADU“.

Selamat hari jadi yang kedua!

Semoga tidak hanya belajar, tetapi bisa menjadi sentra pembelajaran akan ptakti-praktik yang sudah dilakukan bersama, dan rencana program  “KOPERASI TERNAK KAMBING PEREMPUAN“ segera terwujud.

(nocko alee/spekham.org)

“BUKAN BETINA BIASA“

(relasi saling membutuhkan antara ternak dan yang memelihara ternak)

“Aku seekor kambing betina muda. Umurku 14 bulan, warna kulitku coklat keemasan. Aku bahagia karena aku telah melahirkan anak pertamaku dengan kelahiran normal dengan dibantu orang yang memeliharaku selama 6 bulan ini, namanya Ibu Yuli . Sekarang aku bahagia bisa merawat dan menyusui dengan sepenuh kasih. Aku berharap bisa membawa anak lelakiku di Posyambing (Pusat Pelayanan Kesehatan Kambing) Rukun Makmur, Desa Musuk, Boyolali. Aku merasa sempurna sebagai seekor kambing betina seutuhnya…..” Itu sepenggal hayalanku sebagai manusia dimana selama 6 bulan ini merawat kambing milik kelompok Rukun Makmur.

Kedatangan pertama kali

Pertama kali datang ke kandang milik Bu Yuli pada tanggal 29 April 2014 dengan kondisi bunting, kata pedagang yang mengantar (Bapak Sukoyo) tanpa dicek langsung oleh Bu Yuli sebagai penggaduh. “Makannya gampang dan minumnya (ngombor) juga mudah”, tutur Bu Yuli.

Siap ber-reproduksi

Kambing yang menurut penjualnya sudah bunting tersebut ternyata mengalami masa birahi lagi (siap kawin). Aku sempat terkejut karena selang dua minggu setelah dibeli, kambing sering mengembik dan menendang pinggiran kandang dengan tubuhnya. Karena tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang masa birahi kambing, saya menunggu suami saya untuk menceritakan yang terjadi pada kambing tersebut. Sore hari setelah suamiku di rumah, dia memberitahu kalau kambingnya birahi lagi. Beruntung, di kandang sudah ada kambing pejantan yang cukup baik kualitasnya, yang bisa dilihat dari ciri-ciri berikut : perawakan tinggi , kulitnya lentur. Membedakan kualitas kambing yang baik dan kurang baik aku peroleh dari kebiasaan dan menurut pengalaman banyak orang.

Nah, proses mengawinkannya tinggal mendekatkan saja mereka akan bereproduksi sendiri.  Selang sebulan kemudian, tepatnya awal bulan Mei, kambing sudah tidak bertingkah aneh-aneh lagi dan sekarang sikapnya semakin tenang, bulunya halus dan makannya semakin lahap. Menurut suamiku itu pertanda sudah bunting.

Inilah pakan kambing

Aku semakin perhatian dengan kondisi kesehatan kambing betinaku. Pagi, siang, dan sore saya kontrol makanannya. Yang biasanya tidak diberi bekatul, sekarang aku kasih bekatul karena bekatul mengandung banyak zat mineral. Selain itu juga setiap pagi diberi makan bekatul yang dicampur air hangat. Pakan-pakan dari dedaunan segar seperti lamtoro, kaliandra juga aku rajin berikan agar susu yang dihasilkan banyak.

Pada saat bunting 4 bulan, aku melihat semakin besar perutnya. Apakah kira-kira anaknya nanti satu atau dua? Asal jangan tiga, karena menurut teman-temanku di Kelompok, kalau tiga maka akan rumit perawatannya. Hal ini dikarenakan puting susunya hanya dua, sehingga satu anak harus memakai dot jika menyusui. Berdasarkan pengalaman  beberapa orang biasanya anak yang ketiga pertumbuhanya kurang maksimal karena tidak bisa menyusu langsung pada induknya.

Proses melahirkan

Lamanya kambing bunting sekitar 5 bulan. Menurut perkiraan suamiku, kambing akan beranak sekitar bulan akhir Agustus atau awal September. Aku juga berdebar-debar menunggu kelahiran anak kambing yang sudah aku pelihara selama 6 bulan ini. Aku selalu bertanya kepada tetangga maupun suami tentang bagaimana merawat dan menunggui kambing pada saat persalinan, ini pasti tidak mudah bagiku. Untungnya di pertemuan Kelompok Rukun Makmur bulan Agustus, aku dapat bertanya pada warga yang memiliki pemahaman dan ketrampilan memelihara ternak. Menurutnya kita harus tahu tanda-tanda kapan waktu kambing beranak. Tanda-tandanya seperti : Ketika menggembek, suaranya berbeda dari biasanya, terus dia sering tiduran dari pada berdiri, dan ada lender cairan putih di vaginanya.

Tanda-tanda ini sudah kelihatan pada awal bulan September. Suaranya berubah, sering tiduran, dan terakhir ada lendir bening di kemaluannya. Aku berperan layaknya bidan, aku menunggui beberapa menit tapi belum ada tanda–tanda, kemudian aku tinggal memasak dan mengurus anak dan suami, setelah sebelumnya aku jauhkan terlebih dahulu dari kambing-kambing lainnya. Di sekitar tempat beranak aku beri “larahan” (daun kering) agar anaknya lahir di tempat yang aman dan bersih serta hangat.

Pada tanggal 2 September, kira kira jam 15.15 WIB, kambing sudah waktunya beranak. Dia terus mengembik lirih, dia berdiri dan duduk sering sekali, dan lendirnya semakin banyak. Pada waktu tepat jam 15.30 WIB, kaki kecilnya sudah kelihatan tetapi belum lahir-lahir. Aku bingung, apakah didiamkan saja atau ditarik? Pengalaman dari warga yang lain, waktu menunggu kelahiran dia menarik kaki anak kambing menggunakan kaos.  Aku lalu menyiapkan air hangat yang diberi garam, serta kaos untuk menarik. Kambing tersebut semakin kuat berkontraksi. Disaat seperti itu aku beranikan diri memegang kaki kambing yang baru kelihatan beberapa sentimeter, dan seiring kambing itu mengembik panjang dan aku menariknya dengan gemetar. Seketika terlihat bayi kambing masih terbungkus lendir putih dari kaki sampai kepalanya. Aku lihat, secara alami induk kambing spontan mendekati anaknya dan menjilati perlahan. Aku membantu membuka cairan di hidung dan matanya agar bisa bernafas. Ajaibnya, tidak kurang dari 3 menit kambing itu belajar berdiri dan mau berjalan, dan luar biasanya lagi anak kambing mencari punting susu ibunya dan perlahan meminum susu untuk pertama kalinya. Aku hanya tertegun melihat pengalaman menakjubkan selama 15 menit tadi. Aku masih menunggu apa akan ada bayi lahir setelah anak pertama? Tetapi sampai 15 menit tidak keluar lagi, berarti hanya ada satu bayi dengan warna coklat kehitaman, berat 2,7 kg dan panjang 45 cm.

Sehari, dua hari, kambing itu semakin tumbuh besar dan sudah bisa berlari-larian dan bermain dengan induk dan juga kambing lainnya. Dari pengalaman ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hewan ternak juga perlu diperhatikan. Tidak hanya dieksploitasi untuk mendapatkan laba saja, karena mereka juga makluk hidup. Terbersit dalam benakku untuk memberi nama anak kambing itu dan akan aku bawa dalam Posyambing bulan Oktober nanti untuk ditimbang dan diberi vitamin dan obat cacing, …hememmm kamu memang bukan kambing betina  biasa…

 

****Di tulis oleh Yuliati (Anggota Kelompok Perempuan Rukun Makmur)

edit oleh Noko alee (CO kelompok Perempuan  Rukun Makmur desa Musuk ) dan Nila Ayu (Manager Divisi Sustainable Livelihood SPEK HAM)

Peran Perempuan dalam Pengelolaan Ternak di Musuk Boyolali (bagian 2)

 Nama saya Sri Surani, sering dipanggil Mbak Rani. Saya perempuan berusia 41 tahun, tinggal dengan suami dan satu anak di Dukuh Tawangrejo, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali. Saya bergabung dan belajar bersama dengan perempuan-perempuan dalam kelompok perempuan Rukun Makmur. Sudah sekitar 1 tahun lebih 5 bulan saya menjadi ketua Kelompok Rukun Makmur Desa Musuk.

Anggota kami berjumlah 15 orang perempuan dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda, ada peternak kambing, peternak sapi, ibu rumah tangga, petani, buruh pabrik, dan pedangan. Tujuan dari kelompok ini adalah supaya perempuan dapat saling mendukung untuk menuju sebuah kesejahteraan atau kemakmuran bersama.

Pada awalnya kami merintis kelompok dengan melakukan diskusi-diskusi tentang persoalan perempuan sehari-hari dan juga tentang situasi wilayah, misalnya pengalaman pada saat bencana erupsi Merapi 2010, terutama tentang persoalan hujan abu yang masih sering terjadi. Selain sharing dan berbagi pengalaman, kami juga mendapatkan informasi dan penguatan dari pihak lain (Caleg DPR RI, NGO) dimana banyak mendikusikan tentang potensi di bidang pengelolaan pertanian dan juga peternakan.

pengelolaan ternak 1

Sejak bulan Februari 2013, kami mendapatkan pendampingan dari SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia). Kami diajak ngobrol tentang kegiatan sehari-hari, aktifitas perempuan, aktifitas kampung. Di desa kami, pekerjaan sehari-hari masyarakatnya adalah bertani dan memelihara ternak. Sebagai upaya peningkatan ketrampilan, kami beberapa kali mendapatkan pelatihan seperti pembuatan  pakan ternak dengan pemberian obat/mikroba, yang istilah dalam peternakan adalah fermentasi. Prosesnya dimulai dari pengumpulan bahan, mencacah daun kering dan juga melakukan fermentasi.

Ada pengalaman yang menarik saat awal pemberian pakan fermentasi pada ternak kambing, hati saya berdebar-debar dan was-was, apa kambing doyan diberi makanan seperti kotoran sapi yang baunya seperti ciu? Sedikit demi sedikit kambing-kambing saya mau makan, dan selama tiga hari kambing-kambing sudah mulai terbiasa (beradaptasi) dengan jenis pakan tersebut dan pakan hijauan kami hilangkan sama sekali. Namun kami juga masih khawatir, apa kambing-kambing itu bisa kenyang dengan makanan seperti ini? Setelah satu minggu, ternyata kambing lebih tenang. Makanan biasanya kami berikan sehari tiga kali, yaitu pagi sekitar jam 10.00, siang sekitar jam 13.00 dan sore sekitar jam 16.00.

pengelolaan ternak 2

Pada bulan Maret 2013, kelompok saya mendapatkan dana pinjaman (bergulir) dari SPEK-HAM sebesar Rp. 10.000.000,- untuk pemberdayaan ekonomi perempuan. Hasil perputarannya, oleh SPEK-HAM akan digunakan untuk mendukung program-program penanganan kekerasan terhadap perempuan. Dana pinjaman tersebut kami kelola menjadi kegiatan ternak kambing sebanyak 10 ekor. Tahapan yang kami lakukan mulai dari persiapan seperti : perbaikan kandang, pembuatan pakan fermentasi dan pembelian kambing. Selanjutnya dalam tahap pelaksanaan kami, memelihara ternak kambing secara bergotong royong (ada yang mencari rumput, mencacah rumput, membuat pakan fermentasi). Tidak lupa kami mencatat setiap ada transaksi terkait penjualan dan pembelian kambing, sehingga ada dokumentasi hasil/keuntungan yang didapat.

Selama kurun waktu 4 bulan, kami mulai merasa mendapat pembelajaran bersama. Kami bertemu dengan situasi dimana kami harus bertanggung jawab terhadap SPEK-HAM, namun disisi lain, kelompok kami juga belum kuat dan solid sehingga kami harus melakukan reorganisasi. Hal tersebut harus kami lakukan agar kelompok kami bisa berlanjut dan maju. Bulan Maret 2014 merupakan waktu dimana kontrak kesepakatan kelompok Rukun Makmur dengan SPEK-HAM harus selesai. Kelompok menjual hasil ternak yang dibelikan di tiga bulan terakhir, dilanjutkan dengan pertemuan evaluasi untuk melihat bagaimana proses dan capaian dari kegiatan yang kami lakukan, apa bermanfaat dan bagaimana keberlanjutanya.

Apa hasil yang kami dapatkan selama 1 tahun berproses dalam pengelolaan ternak kambing kelompok? Kami sudah mendapatkan hasil dari jasa menggaduh kambing, dan kami membaginya sesuai dengan yang telah disepakati sebelumnya : 65% penggaduh, 35% SPEK-HAM dan 10% dari prosentase penggaduh masuk dalam kas kelompok. Sepanjang periode kemitraan dengan SPEK-HAM, kelompok kami telah membeli dan menjual ternak sebanyak dua kali. Keuntungan  yang menjadi hak kelompok sebesar Rp. 630.000,- yang kemudian ditambah dengan uang dari swadaya anggota, dibelikan satu ekor kambing betina yang akan digaduh di salah satu anggota selama 1 tahun, selanjutnya diputar ke anggota yang lain.

Berkaca dari proses, selama ini kami secara pribadi maupun mewakili anggota yang lain merasakan manfaat dari kegiatan berkelompok ini, bukan hanya sekedar rupiah yang kami rasakan tetapi semangat belajar dari anggota. Kebersamaan yang masih ada di kelompok kami, meskipun kedepan masih perlu di tingkatkan di kelompok “ Rukun Makmur”. (sri surani & yuliati/editor : nila/spekham)

Pelatihan Riset Partisipatif

Pelatihan Riset 2SPEK-HAM dengan misinya untuk mendorong lahirnya komunitas yang mandiri yang mampu memperjuangkan kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat. SPEK-HAM bergerak bersamaan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Seiring dengan hal tersebut, SPEK-HAM merasa perlu memberikan tambahan amunisi kepada para staf untuk bisa lebih berkembang bersama masyarakat.

Desa Pengkol, Kecamatan Musuk, Boyolali. 8 – 10 Februari 2014. SPEK-HAM bersama para staf dan pelaksana harian, belajar bersama dengan Pak Ahmad Mahmudi dari LPTP Surakarta. Belajar tentang “Riset Partisipatif”.

Pembelajaran dibagi menjadi beberapa sesi, setiap harinya. Sesi turun l apangan dan sesi presentasi hasil temuan lapangan serta sesi materi belajar. Materi belajar diberikan dengan cara melihat hasil presentasi temuan lapangan yang kemudian dikritisi bersama untuk diberikan masukan. (nuel/spekham)

Pelatihan Riset 1