Search for:

Warga Tlogorandu Gelar Diskusi “Peran Suami dalam Mendukung Bumil”

Pertemuan Regular Bapak-Bapak

SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia kembali menggelar kegiatan pertemuan regular RT/RW di Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan digelar pada Sabtu malam, 1/8 di rumah Bapak Dwi Sunano yang beralamat Dukuh Kemiri RT 01/RW 05 Tlogorandu. Hadir sebagai Narasumber Mufidati Ikrimah selaku bidan desa setempat.

Pertemuan yang dihadiri 25 orang peserta ini membahas tentang “Peran Suami dalam Mendukung Bumil”. Di jelaskan oleh Mufidati bahwa ibu hamil membutuhkan dukungan baik dalam hal pemenuhan gizi, lingkungan yang aman dan nyaman hingga kebutuhan psikologi dari suami dan orang-orang terdekat.

“Jadi pemenuhan gizi untuk ibu hamil itu sangat penting, selain itu lingkungan yang bebas dari asap rokok dan dukungan rasa nyaman dan aman dari suami dan orang-orang terdekat juga wajib di penuhi”, ungkap Mufi.

Suasana Pertemuan Regular Bapak-bapak

Mufi menambahkan ibu hamil harus mengikuti pemeriksaan tinggi badan, lingkar lengan atas minimal 23,5 cm, pemeriksaan laboratorium dan bagi ibu dengan kehamilan berisiko maka harus mendapatkan PMT.

Triono salah seorang peserta menyampaikan bahwa pada saat istrinya hamil dia memberikan makanan yang bergizi dan selalu rutin memeriksanya ke bidan maupun ke dokter. Sementara itu Roudal menceritakan pengalamannya saat mendampingi istrinya melahirkan anak pertama yang harus mendapatkan tambahan 4 kantong darah karena mengalami pendarahan.

“Waktu itu anak saya lahirnya normal, namun entah mengapa paska melahirkan terjadi pendarahan, akhirnya butuh transfusi 4 kantong darah. Beruntungnya anak ke 2 dan 3 tidak mengalami hal serupa, ungkap Roudal. Sebagai informasi sejak tahun 2018 SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Sebanyak 250 orang perempuan muda dan 400 orang perempuan dewasa sudah menerima manfaat dari program ini. Kini di tahun 2020 program ini mengajak keterlibatan laki-laki, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kelompok remaja dalam mendukung program ini. Henrico Fajar (Kesmas SPEK-HAM)

Bu Bidan: Seksualitas Bukan Hal yang Tabu

Bidan Desa menyampaikan Informasi HKSR

Demikian disampaikan narasumber Mufidati Ikrimah selaku bidan desa Tlogorandu dalam kegiatan Diskusi Interaktif Remaja dengan Tema: Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) pada minggu 26/7 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Dijelaskan Mufida tentang pentingnya remaja memahami Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi secara benar. Misalnya dengan memahami fungsi organ reproduksi perempuan dan laki-laki, memahami tahapan masa pubertas dan akses layanan kespro remaja di Puskesmas.

“Sudah saatnya remaja harus paham seksualitas, bagian dan fungsi organ reproduksi secara benar serta tidak menganggap seksualitas sebagai hal yang tabu”, terang Mufi. Dia berharap dengan semakin banyaknya remaja teredukasi tentang Kespro remaja maka kasus perkawinan anak, KTD dan kehamilan pada remaja bisa ditekan seminimal mungkin.

Pejabat lurah Tlogorandu MS Yulianto, SH menyambut baik kegiatan ini. Dia berharap agar remaja bisa semakin aktif berkegiatan dan saling berbagi informasi kesehatan reproduksi. “Saya mendukung penuh kegiatan semacam ini dan berharap agar remaja semakin aktif berkegiatan sehingga peran-peran remaja dapat terlihat”, ungkap Yuli.

Beberapa peserta mengaku senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Dita misalnya merasa terbantu dengan kegiatan ini karena bisa mendapat informasi kespro yang benar. “Selama ini kan banyak remaja mengakses informasi yang salah dan ini bisa menjerumuskan mereka pada pergaulan bebas”, ungkap. Dia berharap semakin banyak remaja yang memahami Kespro, maka mereka bisa bergaul bersama teman sebayanya dengan penuh tanggungjawab.

Senada Nur Qumarrudin juga menyampaikan bahwa saat ini banyak remaja yg tidak peduli dengan kondisi lingkungannya, kurang bersosialisasi dan hampir tidak pernah mengakses informasi tentang kesehatan reproduksi. Hal ini menurutnya bisa mendorong terjadinya KTD, kehamilan remaja dan perkawinan anak.

Diskusi yang terselenggara atas kerjasama SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia dan Karangtaruna Tlogobakoh ini diikuti oleh 20 orang peserta dan merupakan kali ketiga dilakukan, 2 sebelumnya dilakukan secara on line menggunakan media zoom meeting. Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

Kenali Potensi Diri Agar Tak Salah Arah

Diskusi Online via Zoom

Demikian disampaikan Nila Ayu Puspaningrum, Pembicara tunggal dari SPEK-HAM dalam Diskusi Online Via Zoom kerjasama SPEK-HAM, Yayasan IPAS dan Karangtaruna Tlogobakoh Desa Tlogorandu, Kecamata Juwiring, Kabupaten Klaten pada minggu 21/6. Diskusi yang diikuti oleh 20 orang peserta dan dipandu Henrico Fajar dari SPEK-HAM ini berlangsung selama kurang lebih dari 2 jam. Peserta nampak antusias menyampaikan pengalaman mereka dalam menemukan potensi dirinya.

Dalam paparannya, Nila Ayu Puspaningrum menyampaikan pentingnya mengenal potensi diri agar remaja tak salah arah. Menurutnya banyak remaja yang hanya ikut-kutan tren hingga cenderung tak percaya diri dengan kondisi fisiknya. “Remaja harus mampu menjadi diri sendiri dengan menunjukkan kelebihan diri dan jangan takut”, ungkap Nila. Dia menambahkan banyak dari kita yang menjadi tidak percaya diri karena faktor eksternal, orang mengatakan bahwa cantik itu kulitnya putih, tubuhnya langsing dstnya.

Nur Qomarudin salah seorang peserta diskusi menyampaikan pentingnya untuk melakukan kerjasama dengan sesama teman. Dia mengatakan sampai hari ini masih mencari orang yang sefrekuensi dengan saya untuk berdiskusi, menyampaikan gagasan-gagasan yang positif bagi remaja di lingkungan tempat tinggal saya berada. “Ini tidak mudah ya remaja di jaman sekarang itu susah sekali untuk diajak berorganisasi, mereka lebih tertarik dengan media social atau game on line”, ungkap Qomar.

Hal Senada disampaikan Dita Prasetyawati, menurutnya remaja harus mempunyai mimpi dan cita-cita agar hidupnya lebih berarti dan berkualitas. “Saya termasuk orang yang senang berorganisasi, berkumpul dan berkomunitas dengan banyak orang sehingga saya bisa belajar dari banyak orang untuk meraih mimpi dan cita-cita saya,” ungkap Dita. Selain itu dia berharap muncul para remaja yang kritis dan peduli pada keadaan lingkungan sekitarnya. Diskusi on line ini diadakan untuk memberikan pemahaman tentang potensi diri, menemukenali potensi diri dan mengimplementasikan potensi diri melalui peran-peran nyata bagi kelompok sebayanya maupun kelompok lainnya di lingkungan masyarakat. Sebagai informasi sejak tahun 2018 SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi), sebanyak 250 orang perempuan muda dan 400 orang perempuan dewasa sudah menerima manfaat dari program ini. Henrico Fajar (Kesmas SPEK-HAM)

Warga Tlogorandu Gelar Diskusi Gender dan Peran Gender

Suasana Diskusi Kelompok laki-laki

SPEK-HAM bersama Pemerintah Desa Tlogorandu dan Yayasan IPAS Indonesia dalam Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) kembali menggelar Diskusi bersama kelompok laki-laki di Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada Sabtu 27/6. Diskusi yang dihadiri oleh 30 orang peserta ini dilaksanakan di rumah Bapak Sodikin, warga RT 01 RW 5 dengan mengangkat tema Gender dan Peran Gender.

Mereka nampak antusias mengikuti diskusi ini, Joko salah seorang peserta menyampaikan bahwa untuk menciptakan kesetaran gender bisa dimulai dari keluarga atau rumah tangga kita masing-masing. Misalnya dengan berbagi pekerjaan rumah dengan tidak perlu saling iri. “Saya itu dengan istri sudah biasa mencuci baju, mencuci piring bersama dan tidak ada merasa keberatan”, ungkap Joko. Dia menambahkan bahwa di dalam rumah tangga tidak boleh ada pihak yang mendominasi karena ini bisa membuat situasi di dalam keluarga menjadi tidak harmonis.

Hal senada disampaikan Tri Wahyono yang sudah terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, memasak, setrika, membersikan rumah dan sebagainya. Menurutnya tidak ada yang salah dalam pembagian pekerjaan rumah, yang penting kita melakukannya dengan ikhlas tanpa ada paksaan. 

Sementara itu Roudal, salah seorang peserta berpendapat bahwa berkomunikasi dengan pasangan kita itu sangat penting. Menurut dia dari komunikasi itu akan muncul kesepakatan-kesepakatan dalam berbagi peran di dalam rumah tangga, intinya harus saling mendukung satu dengan yang lainnya dan tentu saja saling menghormati dan bertanggungjawab atas apapun pekerjaan yang dilakukan.

Menanggapi hal tersebut Henrico Fajar dari SPEK-HAM, meminta agar praktik-praktik baik yg sudah dilakukan terkait dengan peran gender di lingkungan keluarga dapat disampaikan dan dipahamkan kepada bapak-bapak yg lainnya. Selain itu tentu saja bagi mereka yg akan menempuh jenjang pernikahan. Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa kita semua berharap ada kontribusi nyata dalam pencegahan kasus kekerasan, penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), penurunan kasus keguguran dan penurunan kasus-kasus kespro lainnya.

Sebagai informasi sejak tahun 2018 SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi), sebanyak 250 orang perempuan muda dan 400 orang perempuan dewasa sudah menerima manfaat dari program ini. Kini di tahun 2020 program ini mengajak keterlibatan laki-laki, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kelompok remaja dalam mendukung program ini. Henrico Fajar (Kesmas SPEK-HAM)

NGOBROL ASIK BARENG REMAJA KECAMATAN BAYAT “AKU BELOM MENS NIH BULAN INI, INJEK JEMPOL KAKI KU DONG” VIA ZOOM MEETING

Zoom Meeting remaja Bayat, Klaten

Masih di situasi pandemi , dimana tetap harus dirumah saja dan berjaga jarak dengan orang lain, kali ini SPEK – HAM Surakarta melalui program PEKERTi ( Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi ) mengajak teman – teman remaja kecamatan Bayat , Klaten untuk membahas tentang beberapa mitos seputar kesehatan reproduksi remaja via zoom meeting.  Sebanyak 20 remaja antusias mengikuti kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Mei 2020 via zoom meeting. Bersama dengan ibu Arwini Urip, Amd., Keb selaku bidan desa Paseban, Bayat, teman – teman remaja mengutarakan berbagai pertanyaan atau mitos yang beredar seputar kesehatan reproduksi remaja. Bu Arwini selaku tenaga medis dan juga pendamping kelompok posyandu remaja desa Paseban pun tak kurang – kurang dalam menjelaskan seputar kesehatan reproduksi.

Dimulai dengan penjelasan terkait proses menstruasi, lalu penyebab rasa tidak nyaman dan rasa sakit ketika menstruasi. Ada juga tentang aktivitas dan makanan / minuman apa yang sebenarnya berpengaruh pada tubuh saat proses menstruasi. Dijelaskan pula tentang bagaimana remaja harus menjaga kesehatan reproduksinya dengan cara, makan dan minum yang bergizi, berolahraga, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan tubuh terutama daerah vagina. Dalam waktu satu setengah jam ini, teman – teman remaja memanfaatkan waktu untuk bertanya sebanyak – banyaknya untuk dapat menjawab segala keresahan mereka speutar kesehatan reproduksi remaja. Harapannya adalah teman – teman remaja bisa tetap mendapat akses informasi yang tepat dan maksimal tentang kesehatan reproduksinya. Ayun – CO SPEKHAM

Remaja Juwiring Gelar Diskusi Kespro Via Zoom

flyer diskusi online Kespro Remaja

Sebagai salah satu upaya untuk mengedukasi remaja, SPEK-HAM bersama dengan Yayasan IPAS dan Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten menyelenggarakan diskusi on line menggunakan media zoom pada Selasa 5/5. Diskusi yang diikuti oleh 20 orang peserta remaja dari Juwiring ini, mengangkat tema: Ada Apa Dengan Kespro Remaja? Dan menghadirkan narasumber secara virtual Siti Katrimah, Amd. Keb dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten.

Dalam paparannya Siti Katrimah menyampaikan pentingnya memahami Kesehatan Reproduksi Remaja secara benar, salah satunya dengan memperhatikan tahapan masa pubertas. Ada perubahan kerja hormon, perubahan fisik pada laki-laki dan perempuan serta perubahan psikologis yang harus dipahami setiap remaja.

“Mestinya remaja harus paham ya, kalau perempuan ditandai dengan menstruasi, sementara laki-laki mimpi basah dan bila ada keluhan organ reproduksi atau siklus menstruasi yang tidak normal harus periksa ke dokter,” ungkap Katrimah. Dia mengajak kepada remaja untuk tidak menganggap tabu saat mendiskusikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas, dengan demikian informasi bisa disampaikan secara utuh dan benar.

Diskusi yang dipandu oleh Fitri Haryani dari SPEK-HAM ini, mengajak peserta untuk berani berbagi informasi maupun menyampaikan pertanyaan kepada narasumber. Salah seorang peserta Tari Sekar menyampaikan, tentang penggunaan sabun khusus untuk organ reproduksi perempuan setiap hari. Peserta lain Chelsea Ardya Prameswari menyampaikan memimum jamu kunyit asam saat menstruasi.

Diskusi online via Zoom Meeting

Menanggapi hal tersebut, Katrimah menyampaikan pada saat menstruasi boleh menggunakan sabun untuk membersihkan sisa kotoran seperti lendir, tetapi tidak boleh terlalu sering. Menurutnya bila terlalu sering justru akan membunuh bakteri-bakteri baik yang ada vagina, sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan reproduksi perempuan. Beberapa manfaat meminum jamu kunyit asam menurut, antara lain untuk memperkuat daya tahan tubuh, mengatasi rasa nyeri pada perut dan memperlancar siklus haid.

Lebih lanjut Katrimah menegaskan agar remaja mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang serta menerapkan gaya hidup yang sehat dengan olahraga. Selain itu agar organ reproduksi perempuan tidak mengalamj persoalan, mereka harus menjaga kebersihan organ reproduksi dengan melakukan cebok secara benar setiap selesai buang air kecil. Sebagai informasi sejak tahun 2018 Yayasan IPAS bersama Dinas Kesehatan Klaten dan SPEK-HAM telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki, tokoh agama dan masyarakat. Sebanyak 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.  

Gunakan media alternatif ditengah Covid-19, Jagongan online tentang Kespro di dua kecamatan di Klaten libatkan kader kesehatan dan remaja.

Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus corona menjadi pembicaraan yang istimewa saat ini, paska di temukannya pasien positif meninggal di kota Surakarta yang akhirnya dikeluarkannya kebijakan-kebijakan di semua Kabupaten sekitar. Kabupaten Klaten merupakan wilayah dampingan SPEK-HAM yang mengeluarkan kebijakan yang sangat cepat mengikuti kebijakan yang dibuat kota Surakarta, diantaranya meliburkan sekolah dari tingkat PAUD, TK, SMP dan SMA serta menunda semua kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan masa, baik kegiatan yang dilakukan bupati maupun kegiatan-kegiatan organisasi tingkat desa. Kebijakan pemerintah tentunya juga berimbas terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan SPEK-HAM bersama komunitas di Kabupaten Klaten, di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah dalam program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) bersama dengan IPAS Indonesia.

SPEK-HAM mulai menggunakan alternatif beberapa media online untuk terus melakukan edukasi seputar kesehatan reproduksi pada kelompok dampingan program PEKERTi di Klaten, ditengah mewabahnya COVID-19 dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Klaten yang membatasi/menunda kegiatan yang melibatkan massa. Atas inisiasi teman-teman CO , dorongan dan keinginan komunitas untuk bertemu, maka kami mewadahi keinginan tersebut dengan mebuat ruang-ruang diskusi melalui media online di WA group, dimana didalam diskusi tersebut terdapat moderator sebagai pengatur jalannya diskusi dan juga ada Narasumber, yang melibatkan SPEK-HAM maupun dari OPD terkait. Kecamatan Klaten Tengah mengawali kegiatan diskusi online dengan tema “ Kesehatan Reproduksi dan Pemihakan Desa/kelurahan “ dengan narasumber Mbak. Rahayu Purwaningsih dari SPEK-HAM dan Moderator mbak.Liza, diksusi online ini diikuti oleh 25 kader kesehatan perempuan dewasa Kecamata Klaten Tengah. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dalam diskusi pada Jumat Malam, 20 Maret 2020, 19.00 s/d 20.00 : Kelurahan / desa bisa didorong untuk melakukan pemihakan untuk posyandu remaja melalui program dan dana desa/kelurahan, Posyandu remaja bisa menjadi sarana untuk melakukan edukasi bagi remaja dan kita sebagai pendamping harus kreatif dengan penggunaan metode pembelajaran, banyaknya AKI di kelompok ibu remaja karena keguguran, anemia dan kekurangan gizi, dikarenakan minimnya edukasi, angka kehamilan remaja yang tinggi menjadi keprihatinan bersama.

Diskusi oline yang ke dua dilakukan di Kecamatan Bayat bersama dengan kelompok remaja perempuan dengan pokok pembahasan tentang “ Kekerasan Dalam Pacaran “, Moderator kegiatan ini adalah Ayun dan Elizabet Yulianti sebagai narasumber . Banyak sekali muncul cerita dari diskusi ini diantaranya bentuk kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Selama hampir satu jam berdiskusi, group remaja perempuan bayat sudah memahami seluk beluk kesehatan reproduksi terkait dengan hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memberi dampak positif untuk kedua belah pihak, tidak boleh ada kekerasan, ancaman, ataupun bentuk apa pun yg bersifat menyakiti. Kekerasan dalam Pacaran ada 3 : kekerasan fisik : memukul, menampar, menendang. kekerasan verbal/ berupa perkataan/ yang diucapkan:berkata kasar, membentak, ancaman dan bullying. Kekerasan psikis: dibohongi, dipaksa, diancam, ditakut-takuti, di posesif in. Kegiatan ini merupakan rangkaian awal paska Surat Edaran Bupati Klaten tentang pencegahan COVID-19 di keluarkan. Danang Wijayanto – Manager Divisi Kesmas

SPEK-HAM Libatkan Remaja Dukung Program PEKERTi

Narasumber memberikan penjelasan tentang data kasus kehamilan remaja di Kabupaten Klaten.

SPEK-HAM bersama dengan Karang Taruna “Tlogo Bakoh” Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten menggelar penyuluhan dengan tema “Bergandengan Tangan, Cegah Kehamilan Pada Remaja.” Kegiatan diselenggarakan pada minggu pagi 15/3 bertempat di Balai Desa Tlogorandu.

Hadir dalam kegiatan ini pengurus dan anggota Karang Taruna “Tlogo Bakoh”. Mereka nampak antusias dengan terlibat aktif dari awal hingga akhir. Henrico Fajar pendamping dari SPEK-HAM menyampaikan data kehamilan pada remaja di Kabupaten Klaten dari tahun 2016 hingga tahun 2019 mengalami fluktuatif. Disampaikan dia di tahun 2016: 295 kasus, 2017: 295, 2018: 450, dan 2019: 315.

Menanggapi data tersebut beberapa peserta merasa sedih dan terkejut merasa tidak menyangka datanya sebesar itu. Winda Rohmawati misalnya, menyampaikan kesedihan sebagai sama-sama perempuan mestinya akses informasi yang benar terkait dengan Kesehatan Reproduksi (Kespro) menjadi mutlak dibutuhkan. “Melihat data itu tentu saja saya sedih sekali, apalagi kita sesama perempuan, saya kira akses informasi Kespro yang benar mutlak dibutuhkan untuk menekan kasus kehamilan pada remaja,”ungkap Winda.

Pada bagian lain para remaja yang hadir dalam pertemuan ini sepakat dan berkomitmen untuk melakukan kampanye berupa edukasi kepada remaja-remaja di desa Tlogorandu agar mereka tidak mengalami kasus-kasus Kehamilan Tidak Diingingkan (KTD), Keguguran dan pernikahan anak. “Sebagai sesama perempuan, ketika ada teman-teman kami mengalami KTD atau keguguran tentu saja kami tidak mengucilkan, justru kami akan memberikan dukungan dan motivasi supaya kasus-kasus tersebut tidak terulang lagi,” ungkap Putri.    

Suasana penyuluhan “Bergandengan Tangan, Cegah Kehamilan Remaja” bersama Karang Taruna “Tlogo Bakoh” di Balai Desa Tlogorandu.

Data dari Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Kabupaten Klaten, menyebutkan Pernikahan Anak pada tahun 2018 mencapai 112 kasus dan di tahun 2019 mencapai 126 kasus. Sementara itu data dari Kantor Urusan Agama (KUA) Juwiring menyebutkan angka Pernikahan Anak pada tahun 2016 sebanyak 34 kasus, 2017: 33 kasus dan sampai dengan Mei 2018: 21 kasus. Sebagai informasi Yayasan IPAS bersama dengan SPEK-HAM saat ini sedang menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun kedua ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki atau, tokoh agama dan masyarakat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.