Search for:

Maksimalkan Program PEKERTi, SPEK-HAM Gandeng Laki-Laki

Suasana Penyuluhan “Peran Laki-Laki dalam Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten

SPEK-HAM bersama Rukun Warga (RW) V, Dukuh Kemiri, Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten menggelar Penyuluhan dengan tema “Peran Laki-Laki dalam Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI).” Kegiatan diselenggarakan pada 14/3 bertempat di rumah Bapak Kirnadi. Warga nampak antusias mengikuti kegiatan ini, bagi mereka AKI adalah hal yang baru dari mereka.

Community Organizer SPEK-HAM, Henrico Fajar menyampaikan data terkait kasus AKI di Kabupaten Klaten. Dijelaskannya AKI di Kabupaten Klaten masih tinggi di tahun 2014: 20 kasus, 2015: 15 kasus, 2016: 18 kasus, 2017: 18 kasus, 2018: 13 kasus, dan 2019: 12 kasus.

Mendengar penjelasan tersebut beberapa warga mengaku terkejut dan tidak menyangka. Mulyadi misalnya dia merasa kaget karena menurutnya layanan kesehatan sudah ada dan terjangkau, mengapa masih saja ada kasus AKI. “Tentu saja terkejut dan kaget melihat data itu, mestinya harus dipikirkan solusi untuk pengurangan AKI”, ungkap Mulyadi.

Beberapa AKI meliputi pendarahan, eklamsi, infeksi, dan lain-lain. Selain AKI kasus keguguran dari tahun 2016 sampai dengan 2019 mengalami fluktuatif, di tahun 2016: 471 kasus, 2017: 508 kasus, 2018: 442 kasus dan 2019: 456 kasus. Oleh karena itu dijelaskan Henrico, peran suami dan orang terdekat amatlah sangat penting untuk menekan angka keguguran tersebut.  Penyebab keguguran, antara lain kelelahan, usia ibu yang lebih dari 35 tahun, hepertensi, obesitas, diabetes, punya riwayat keguguran dan sebagainya.

Selain itu perencanaan kehamilan menjadi keharusan yang tidak boleh diabaikan dalam upaya penurunan AKI dan Keguguran. Salah seorang peserta diskusi Roudal menyatakan bahwa suami bisa mendukung perencanaan kehamilan diantaranya dengan mengikuti program Keluarga Berencana (KB). “Suami bisa terlibat dalam perencanaan kehamilan dengan mengikuti program KB, selain itu kasih sayang yang tanpa batas untuk istri juga tidak boleh diabaikan”, ungkap Roudal.

Sebagai informasi Yayasan IPAS bersama dengan SPEK-HAM saat ini sedang menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun kedua ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki atau, tokoh agama dan masyarakat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM  

Pemdes Tlogorandu Dukung Program Kespro

Suasana koordinasi SPEK-HAM bersama Perangkat Desa, Bidan Desa dan Kader Kesehatan

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan koordinasi SPEK-HAM bersama dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada kamis, 6/2 bertempat di Balai Desa Tlogorandu. Hadir pula dalam kegiatan ini Bidan Desa dan Kader Kesehatan.

Disampaikan Joko Supriyadi selaku Sekretaris Desa, pihaknya berkomitmen mendukung sepenuhnya program Kesehatan Reproduksi (Kespro). “Kami mewakili Pemerintah Desa mendukung penuh apa yang menjadi program ini (Kespro), inikan hal yang mendasar bagi kita semua,” ungkap Joko. Dia menambahkan apalagi program ini ke depan akan menyasar pada kelompok suami atau bapak-bapak, maka harapannya suami atau laki-laki bisa lebih peduli pada kesehatan perempuan.

Sebelumnya Henrico Fajar dari SPEK-HAM menjelaskan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di Desa Tlogorandu. Kegiatan akan menyasar pada kelompok suami atau laki-laki, selain itu juga menyasar pada kelompok remaja. Dijelaskan Fajar bahwa program Kespro bertujuan untuk menekan kasus angka kematian ibu, kehamilan tidak dikehendaki, kasus kehamilan remaja, keguguran, dispensasi pernikahan, dsb.

Diskusi di Tlogorandu dalam Program Kespro

 “Angka Kematian Ibu di Klaten pada tahun 2017 yang mencapai 18 Kasus dan merupakan peringkat ke 7 di Jawa Tengah. Kehamilan pada remaja di tahun 2016 mencapai 125 kasus, tahun 2017 naik menjadi 295 kasus dan tahun 2018 sampai bulan September mencapai 158 kasus, jelas ini butuh perhatian banyak pihak,” ungkap Fajar.

Sebagai informasi pada tahun 2018 SPEK-HAM bersama dengan Yayasan Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat (IPAS) Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah. 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Salah satu fokus kegiatannya adalah layanan Asuhan Paska Keguguran (APK). Mustika Ayu, Novenda/Magang, Henrico Fajar K.W/Divisi Kesmas SPEK-HAM.

Tingkatkan Capaian Program, SPEK-HAM Beraudiensi Dengan Dinsos PPPA dan KB Klaten

Audiensi diselenggarakan pada Jumat 3/1 di kantor Dinsos PPPA dan KB atau Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Klaten. Rombongan di terima langsung oleh Veronika Retno, Kepala Bidang Dalduk dan KB di ruang kerjanya. Dalam kesempatan ini Direktur SPEK-HAM Rahayu Purwaningsih menyampaikan program yang telah dilakukan di Kabupaten Klaten terkait dengan program PEKERTi (Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi).

Audiensi dengan Dinsos PPA dan KB

Ayu menjelaskan beberapa kegiatan yang telah dilakukan, yaitu Pelatihan Kader Perempuan Dewasa dan Perempuan Muda di Kecamatan Juwirng, Klaten Tengah dan Bayat. “Kader perempuan di 3 Kecamatan tersebut telah dibekali materi-materi terkait dengan Kesehatan Reproduski untuk disampaikan ke kelompok-kelompok perempuan yang lainnya”, jelas Ayu. Ayu menambahkan 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini.

Antonius Danang Wijayanto selaku Manajer Program PEKERTi SPEK-HAM menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan PLKB (Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana) dan pelibatan PIK R atau Pusat Informasi Konseling Remaja dalam implementasi program ini. “Kami sangat berharap PLKB bisa berkolaborasi dengan kader-kader yang telah terbentuk, sementara itu PIK R bisa berkolaborasi dengan kelompok remaja”, jelas Danang.

Bersama Kabid Dalduk dan KB Klaten

Menanggapi hal tersebut Veronika Retno, Kabid Dalduk dan KB menerima dan mempersilakan SPEK-HAM untuk mengajak PLKB dan PIK R yang berada di tingkat Kecamatan yang telah dibentuk untuk berkolaborasi dalam program ini. “Kami ada program Kampung KB, saya kira ini juga bisa menjadi peluang untuk diajak kerjasama karena menurut saya ini bisa nyambung”, ungkap Retno. Dia sangat berharap dengan berjalannya program ini bisa meningkatkan angka kepesertaan KB dan peningkatan derajat kesehatan perempuan. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.        

Urgensi Didirikannya Sanggar Kespro

Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM saat memberikan sambutan atas peresmian Sanggar SPEKTA di Kelurahan Tonggalan Kecamatan Klaten Tengah

Menyikapi latar belakang tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan, baik pada masyarakat yang sudah menikah maupun belum, maka lahirlah Sanggar SPEKTA, salah satunya yang diresmikan di Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah beberapa waktu lalu atas kerja sama para kader kespro setempat dampingan SPEK-HAM dan IPAS dalam program PEKERTi.

SPEK-HAM sejak tahun 2013 telah melakukan kerja sama dan pendampingan di wilayah Klaten dengan isu HIV-AIDS, kemudian pasca gempa Yogya melakukan pendampingan juga di Desa Pacing, Terutama untuk program intervensi kespro saat ini di antaranya adalah Kecamatana Klaten Tengah, Juwiring, dan Bayat.

Beberapa fakta di lapangan ditemukan adanya angka yang cukup tinggi yakni 30 ribu untuk permohonan dispensasi pernikahan. Dari data koalisi perempuan Indonesia yang dikabulkan oleh Pengadilan Agama (PA) adalah di angka 2000. Berarti saat ini ada 30 ribu anak-anak di Jawa Tengah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan atau pernikahan anak. Hal ini menjadikan bahwa akses informasi menjadi hal yang memprihatinkan.

Sedangkan di Klaten sendiri, angka yang merujuk kepada remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan berjumlash 125 anak. Dari angka tersebut yang sampai kepada layanan kesehatan adalah 77 anak. Sisanya tidak terdeteksi. Demikian dikatakan Rahayu Purwaningsih, direktur SPEK-HAM saat memberikan sambutan. T

Tahun 2017 angka yang tercatat di kehamilan yang tidak diinginkan sebesar 295, 126 di antaranya sampai pada layanan kehamilan. “Kita tidak bisa menutup mata melhat hal seperti ini, bahkan baru-baru ini ada remaja yang melahirkan bayinya sendiri tanpa pertolongan dari pihak paramedis,”terang Rahayu.Ta

Kehadiran Sanggar Kespro SPEKTA di Tonggalan Kecamatan Klaten Tengah mendapat apresiasi yang baik dari dr. Sundari dari Dinas Kesehatan Klaten. Ia prihatin dengan persoalan yang kemudian menjadi persolan kesehatan pada dinas kesehatan dan mengakui bahwa pihaknya tidak bisa bekerja sendiri di masyarakat.

Manajer program, Antonius Danang Wijayanto saat peresmian sanggar yang dihadiri oleh camat dan lurah setempat memaparkan bahwa program PEKERTi dengan mendirikan sanggar kespro adalah upaya membangun komitmen bersama sehingga beberapa pihak juga akan bergerak, memberi sumbangan pengetahuan baik berupa buku maupun lainnya, seperti komitmen dari PLKB dan Dinas Sosial Klaten yang akan memberikan sejumlah bantuan buku untuk sanggar. Beberapa usaha dilakukan juga misalnya ketika menemukan kasus segera dilaporkan kepada kasi camat setempat, yang menurut Danang ini sebuah sinergitas yang bagus. (red)

Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah Punya Cerita

Tim IPAS SPEK-HAM bertemu dengan Lurah Kabupaten

Sesuatu yang baik dan berguna bagi masyarakat kenapa harus dihalang-halangi, buat saya itu sangat membantu kerja-kerja saya sebagai kepala kelurahan. Pertama, saya tidak bisa bekerja sendiri, kedua masyarakat saya jadi pintar, ketiga saya jadi bisa belajar isu-isu terkini terkait dengan perempuan, dan saya akan memihaki program-program panjenengan yang sudah saya dengar dari kader-kader saya terkait kerja-kerja panjenengan semua di Klaten Tengah khususnya di Kelurahan Klaten. Silakan mengumpulkan ibu-ibu RT,RW di kelurahan dan berkegiatan nanti anggarannya biar kami pikirkan”.

Tulisan di atas adalah sepenggal cerita kami (Liza,Ayun,Atik dan Danang) mengawali aktivitas kegiatan di Kabupaten Klaten, saat bertemu dengan Kepala Kelurahan Kabupaten  Kecamatan Klaten Tengah Hartini,S.IP,MM. Kami diundang setelah  beliau mendengar cerita dari para kader posyandu yang mengikuti kegiatan bersama-sama dengan SPEK-HAM dalam program yang namanya Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi). SPEK-HAM sudah bekerja di Kecamatan Klaten Tengah selama lima bulan. SPEK-HAM bersama dengan kader-kader posyandu melakukan kegiatan yang dikemas dalam pelatihan kader posyandu, diskusi-diskusi kelompok belajar, konsolidasi lintas kelompok  belajar serta pertemuan di kelompok perempuan muda dan sanggar kespro. Isu kesehatan reproduksi menjadi pembahasan utama dalam setiap kegiatan, serta membedah kasus-kasus kesehatan reproduksi yang ada dan bagaimana proses pencegahannya di tingkat masyarakat.

Program PEKERTi ini memiliki maksud dan tujuan untuk berkontribusi terhadap penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten dan Indonesia pada umumnya. Selain itu juga untuk meningkatkan status kesehatan reproduksi perempuan termasuk tentang perencanaan kehamilan dan penanganan Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD), termasuk Asuhan Paska Keguguran(APK) di Kabupaten Klaten. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Klaten menduduki peringkat ketujuh dalam menyumbang Angka Kematian Ibu (AKI) di tahun 2017 dengan berbagai macam indikasi, di antaranya : kedaruratan medis (jantung, hipertensi, dll) dan preklamsi.

Tim IPAS SPEK-HAM bersama Lurah Kabupaten Kecamatan Klaten Tengah

Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten bisa dibilang tinggi dengan berbagai macam latar belakang indikasi penyebabnya. Satu langkah sudah dilakukan oleh teman-teman kader posyandu di Kecamatan Klaten Tengah, dengan memberanikan diri melakukan advokasi-advokasi di tingkat kelurahan masing-masing, memaparkan kasus yang ada kepada kepala  kelurahan sebagai dasar mendorong pemihakan program dan anggaran untuk isu kesehatan reproduksi perempuan. Komitmen Kepala Kelurahan Kabupaten Kecamatan Klaten Tengah Hartini.S.IP,MM. untuk memihaki isu KESPRO perempuan sebagai bentuk nyata keperpihakan pemangku kepentingan terhadap situasi di daerahnya. Kami menunggu komitmen dari kepala kelurahan dan kepala desa yang lain melalui cerita-cerita kader. (Antonius Danang)