Search for:
Pengelolaan Aset Perempuan

Pemetaan Aset Kelompok Sekar Putri

Perempuan dalam sejarah proses kehidupannya mempunyai peranan penting dalam kepemilikan dan pengelolaan harta benda, lingkungan, dan keberlanjutan penghidupan generasinya. Kesadaran akan peran ini sudah semakin menipis karena tergerus agama, budaya, modernisasi, serta pola pikir-pola pikir yang secara disadari ataupun tidak, cenderung mengurangi nilai kearifan perempuan itu sendiri.

Salah satu upaya untuk meningkatkan peran perempuan dalam pengelolaan aset kepemilikan harta benda, Kelompok Perempuan Tani “Sekar Putri” Desa Musuk melaksanakan kegiatan diskusi tentang pemetaan asset. Bertempat di rumah Hartanti, Dukuh Karanglo, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali, Senin 14/9/2015.

Pengelolaan Aset Perempuan
Pengelolaan Aset Perempuan

Kegiatan ini dihadiri oleh 20 orang anggota kelompok yang saat ini melakukan praktik pertanian dan peternakan. Pertanian yang dikembangkan meliputi penamanan sayur-sayuran, diantaranya kacang panjang, terong, jepan, sawi, kangkung, tomat. Juga penanaman tanaman buah-buahan yang sebagian besar adalah menaman pepaya. Sementara itu peternakan yang dikelola meliputi kambing dan sapi.

Kegiatan ini menghadirkan Fasilitator dari SPEK-HAM. Pada awal kegiatan, partisipan diajak untuk berkenalan dengan menyampaikan nama dan kegiatannya sehari-hari. Kemudian dilanjutkan dengan memetakan aset yang dimiliki anggota Kelompok Perempuan Tani “Sekar Putri”. Diperoleh informasi bahwa jumlah kambing yang dimiliki anggota kelompok sejumlah 57 ekor kambing, sementara itu jumlah kambing secara keseluruhan di Dukuh Karanglo, Desa Musuk, mencapai 138 ekor.

Diskusi siang itu juga mengungkap tentang bagaimana kepemilikan perempuan terhadap aset kambing. Hasilnya memang sudah cukup baik, ada peran-peran yang dilakukan secara bersama dalam memelihara kambing. “Yang dilakukan bersama perempuan dan laki-laki adalah ngarit, ngombor, nimpal. Sementara kalau yang mempunyai ide untuk menjual kambing itu ibu-ibu, yang mengelola uangnya juga ibu-ibu, sementara yang menjual kambing adalah bapak”, ungkap salah seorang partisipan.

Ada ketakutan dalam masyarakat setempat, bila seorang perempuan menjual sendiri ternaknya di Pasar, biasanya akan mendapat pelecehan dari para penjual atau pembeli laki-laki yang ada di sana. Jadi mereka lebih mempercayakan kepada para suaminya atau kepada para blantik.

Pada bagian lain, Fasilitator mengajak partisipan untuk melihat aset lain yang dimiliki, seperti rumah yang hampir semuanya merupakan atas nama suaminya. Fasilitator juga mengajak partisipan untuk melihat berapa jumlah rumah yang masih semi permanen atau gedek. Menurut Mariati, di Dukuh Karanglo ada 9 rumah yang terbuat dari gedek, 4 diantaranya pemiliknya adalah lansia.

Terungkapkan juga tentang beberapa rumah tangga yang belum mempunyai WC di dalam rumah. “Ada 7 KK yang belum mempunyai WC. Mereka biasa buang air besar di cemplung yang ada di kebun belakang rumah”, ungkap salah seorang partisipan. Sementara itu ditemukan pula sejumlah 13 KK yang masih menggunakan kamar mandi semi permanen yang terbuat dari gedek atau triplek.

Akses terhadap air cukup melimpah, hampir semua warga mempunyai sumur. Namun hal itu berbanding terbalik dengan pengairan di sawah yang hanya mengandalkan air hujan, karena lokasi sawah yang berada di dataran tinggi, sehingga mereka menaman tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air. Dibagian akhir, Fasilitator mengingatkan tentang pentingnya melihat aset agar kita bisa tahu apa yang bisa dikembangkan untuk kehidupan di tempat ini. (Henrico Fajar K.W – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kasus Berbasis Masyarakat SPEK-HAM Surakarta)

Biogas, Keluaran Bermanfaat dari IPAL Komunal

Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Kondisi sanitasi di Indonesia masih relatif buruk dan jauh tertinggal dari sektor – sektor pembangunan lainnya.

Buruknya kondisi sanitasi ini berdampak negatif dibanyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya penyakit pada balita, turunnya daya saing maupun citra Kabupaten/Kota, hingga menurunnya perekonomian Kabupaten/Kota.

Penyebab buruknya kondisi sanitasi dikarenakan lemahnya perencanaan pembangunan sanitasi: tidak terpadu, salah sasaran, tidak sesuai kebutuhan, dan tidak berkelanjutan, serta kurangnya perhatian masyarakat pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan sebuah perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan berkelanjutan.

IPALSejak adanya program pengadaan jambanisasi/pembuatan septic tank secara bersama, memberikan dampak berbeda di Desa Termulus, Kabupaten Kudus. Lingkungan Desa Termulus sebelum dibangun IPAL Komunal terlihat kumuh dan kotor, namun setelah adanya program pembangunan sarana sanitasi yang dibangun oleh USRI  tahun 2013, lingkungan masyarakat sekitar menjadi tertata dan bersih.

Awalnya masyarakat Kesambi menolak dengan adanya pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal di berbagai tempat di Desa Termulus, dengan alasan takut terkena dampak bau dari kotoran tinja, namun melalui sosialisasi pemahaman tentang manfaat IPAL dan keuntungannya kepada masyarakat Kesambi, akhirnya disepakati bangunan IPAL ditempatkan pada ujung desa, tepatnya di tengah jalan milik Desa.

Setelah terbangun IPAL dan masyarakat menyambungkan saluran pembuangan air limbah baik tinja maupun air limbah rumah tangga, masyarakat baru menyadari dan merasakan manfaat yang besar. Ada sebagian warga yang menyesal, pasalnya pada waktu pembangunan tidak ikut menyambung.

Syafiq salah satu warga mengatakan “Dulu masyarakat menolak, namun setelah mengetahui secara nyata manfaat IPAL, masyarakat berbondong-bondong menginginkan rumahnya ikut menyambung dan menyalurkan limbah dari kotoran manusia maupun limbah rumah tangga.”

Untuk pengelolaan dan perawatan, lanjut Syafiq “Hasil musyawarah semua masyarakat menyepakati adanya iuran setiap bulan sebanyak tujuh ribu rupiah. Hasil iuran tersebut digunakan untuk membayar jasa orang yang membersihkan IPAL, dengan nominal sebanyak seratus ribu. Orang tersebut membersihkan mulai dari rumah-rumah menuju saluran utama dengan kurung waktu setiap satu bulan sekali.”

Biogas

Setelah terbangun IPAL Komunal dan sambungan rumah yang mencapai 47 saluran rumah, kemudian tempat ipal komunal dimanfatkan untuk dibuat gas. Menurut Bambang selaku BKM Desa Kesambi mengatakan “Awalnya hanya untuk coba-coba, meneliti dibuat biogas. Setelah diketahui tempat IPAL komunal tersebut mengandung gas, akhirnya dibuatkan saluran sarana untuk dimanfaatkan memasak. Ketika ada pertemuan kelompok pemanfaat dan pengelola (KPP) di lokasi IPAL, biogas tersebut digunakan untuk masak-masak.

“Memang manfaat adanya IPAL Komunal itu banyak, selain buat saluran buangan limbah kotoran manusia dan limbah rumah tangga juga bisa menghasilkan biogas. Semua itu berasal dari kita, oleh kita dan untuk kita. Harapan kedepan, biogas ini bisa dikembangkan lebih baik lagi dan Pemerintah memberi support untuk pengembangan biogas ini”, harap Bambang di sela-sela waktunya istirahat. (Anam/spekham.org/dok photo : panoramio.com, mongabay.co.id)