Search for:

Setelah Sepuluh Tahun Mereka Masih Memilih Rumah yang Sama

Anggota Putri Mawar Cluntang di depan rumah produksi. (Foto: Muhammad Ta’aruf Huda/SPEK-HAM)

Rumah adalah tempat yang membuat seseorang ingin kembali. Ia menyimpan suara orang-orang yang kita kenal, percakapan yang pernah terjadi, kebiasaan-kebiasaan kecil, dan banyak cerita yang mungkin tidak pernah dituliskan. Karena itu, ketika sebuah rumah berubah, yang berubah bukan hanya bangunannya, tetapi juga kehidupan orang-orang yang menjadikannya tempat untuk pulang. Rumah secara fisik bisa dibangun dari bata, kayu, genteng, dan bahan-bahan lainnya. Namun rumah membutuhkan waktu untuk benar-benar menjadi rumah. Ia dirawat, dibersihkan, diperbaiki ketika ada bagian yang rusak, dan terus dihidupkan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya.

 

Begitu pula KWT Putri Mawar. Hampir sepuluh tahun sejak dibentuk pada 2016, kelompok ini telah melalui berbagai proses bersama perempuan-perempuan di Desa Cluntang. Dalam refleksi ini, mereka mencoba melihat Putri Mawar sebagai rumah yang telah mereka bangun bersama dan membayangkan bagaimana rumah itu akan tetap hidup sepuluh tahun ke depan.

 

Jawaban yang muncul sangat beragam. Ada yang menuliskan kesempatan mendapatkan ilmu, mengikuti pelatihan, bertemu dengan anggota lain, berbagi cerita, hingga merasakan manfaat dari koperasi simpan pinjam yang dibangun bersama. Bagi mereka, pengalaman menjadi anggota Putri Mawar telah menjadi bagian dari perjalanan masing-masing.

 

Ibu Tini, salah satu anggota kelompok, mengingat pengetahuan yang ia dapatkan tentang pengolahan bunga mawar. Ia masih mengingat bagaimana bunga yang selama ini mereka tanam dan panen ternyata dapat diolah menjadi makanan. “Bisa menjadikan bunga mawar yang dulunya tidak tahu kalau itu bisa jadi makanan” ujarnya.

 

Ingatan itu membawa kembali perjalanan Putri Mawar ke tahun-tahun awal. Pada 2016, perempuan di Desa Cluntang yang selama ini terlibat dalam budidaya mawar mulai mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan hasil panen mereka. Bunga yang sebelumnya banyak dijual dalam keadaan segar kepada pengepul kemudian diolah menjadi berbagai produk, seperti keripik mawar, teh mawar, pilus mawar, sirup, hingga minuman instan ekstrak mawar.

 

Dalam perjalanan tersebut, penguatan kelompok juga berkembang ke berbagai hal lain. Koperasi simpan pinjam menjadi salah satu ruang ekonomi bersama yang dirasakan manfaatnya oleh anggota, sementara berbagai pelatihan dan pendampingan bersama SPEK-HAM membuka kesempatan bagi mereka untuk terus belajar dan mengembangkan kelompok.

 

Hampir sepuluh tahun berjalan, mereka juga tahu bahwa ada bagian dari rumah itu yang perlu diperbaiki. Dalam refleksi, anggota menyebut pertemuan yang terkadang molor, kesibukan yang membuat kehadiran tidak selalu mudah, serta tugas yang belum selalu dijalankan sesuai kesepakatan. Mereka membicarakannya karena persoalan-persoalan tersebut memang mereka temui dalam perjalanan kelompok.

 

Dari sana, percakapan bergerak menuju pertanyaan yang lebih jauh. Jika Putri Mawar masih ada sepuluh tahun lagi, seperti apa kelompok yang ingin mereka lihat? Mereka ingin Putri Mawar tetap memiliki kegiatan. Mereka ingin anggota tetap kompak, produk semakin baik, pemasaran berkembang, dan kelompok terus memberikan manfaat bagi perempuan yang menjadi anggotanya. Ada harapan agar perempuan-perempuan yang datang kemudian tetap menemukan kesempatan belajar dan ruang untuk berkembang bersama.

 

Selama hampir sepuluh tahun, SPEK-HAM tumbuh bersama Putri Mawar dan menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan di dalamnya terus belajar merawat kelompok yang mereka bangun bersama. Dalam perjalanan itu, anggota mendapat ruang untuk mengembangkan usaha, memperkuat kelembagaan ekonomi melalui koperasi, belajar dari pengalaman satu sama lain, dan membangun cara kerja yang sesuai dengan kebutuhan kelompok. Kini, ketika mereka membicarakan seperti apa Putri Mawar sepuluh tahun mendatang, semakin banyak keputusan tentang masa depan kelompok berada di tangan perempuan yang selama ini menjalaninya.

 

Sepuluh tahun ke depan masih menyimpan banyak kemungkinan. Anggota kelompok bisa berubah, produk bisa berkembang, cara pemasaran bisa berganti, dan tantangan baru mungkin muncul. Yang sudah mereka mulai hari ini adalah membicarakan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang perlu dirawat agar Putri Mawar tetap memiliki tempat dalam kehidupan anggotanya. Mungkin itulah yang membuat sebuah rumah bertahan. Ada orang-orang yang masih bersedia datang, membuka pintu, duduk bersama, dan ikut merawatnya. Hampir sepuluh tahun telah berlalu sejak Putri Mawar tumbuh di Desa Cluntang. Kini, perempuan-perempuan di dalamnya sedang menyiapkan perjalanan berikutnya. Sepuluh tahun lagi, mereka berharap masih ada rumah yang sama, dengan pintu yang tetap terbuka dan perempuan-perempuan yang masih ingin datang. (Nadya Nur Anissa, Mgg Sosiologi UNS)

Terima Kunjungan Perusahaan asal Jerman, Produk Olahan Mawar Mulai Dilirik Pangsa Internasional

Kunjungan OFI ke Kelompok Putri Mawar

Kelompok wanita tani Putri Mawar dampingan SPEK-HAM menerima kunjungan dari perwakilan perusahaan Mega Inovasi Produk (MIO) dan Organic Food Indonesia (OFI) pada hari Rabu, 8 Juni 2022. Kunjungan tersebut dalam rangka penjajakan potensi organik lokal yang ada di Desa Cluntang. Selain itu untuk mengetahui aneka produk yang telah dibuat dari produk olahan mawar. “Kami bermaksud untuk survei potensi produk yang bisa dikembangkan di jerman, serta melihat produksi yang sudah ada” tutur Kohf (55), salah satu perwakilan dari OFI.

MIO dan OFI merupakan anak perusahaan salah satu pabrik yang ada di Jerman yang berfokus pada pengolahan hasil pertanian organic dan  diantaranya diolah menjadi produk organic yang menyehatkan seperti vanilla, cocoa, dan lain sebagainya. MIO dan OFI terkesan dengan produk olahan mawar yang diproduksi oleh KWT Putri mawar, terlebih pada produk sirup mawar karena memiliki aroma yang khas dan sangat eklusif di pasaran. “Selama ini kami memasarkan produk pada pasar lokal, dengan menjual nilai-nilai kesehatan yang ada pada produk olahan mawar” ungkap Sri Mulyani (46) menjelaskan pemasaran produk.

Kelompok Putri Mawar dan Produk Olahan Mawar

Produk olahan mawar ini telah tersertifikasi halal dari MUI dan P-IRT sehingga dipastikan aman untuk dikonsumsi dan tentunya menyehatkan karena mengandung anti oksidan 70%. Produk olahan mawar dibuat dari petal bunga mawar khas lereng merapi dengan jenis Javanese rose serta diolah secara berkualitas menggunakan berbagai alat produksi seperti cabinet dryer dan spinner

Produk olahan mawar dapat dibeli secara online maupun secara offline. Melalui kunjungan oleh MIO dan OFI diharapkan semakin mengenalkan produk olahan mawar khas Desa Cluntang pada pangsa pasar nasional dan internasional, sehingga mampu membawa angin segar pada usaha ekonomi perempuan. Tak dapat dipungkiri badai pandemi sangat berdampak pada ekonomi perempuan, salah satunya usaha produk olahan mawar. Mari terus mendorong usaha ekonomi produktif perempuan agar perempuan semakin kuat dan berdaya. (Muhammad Ta’aruf Huda- CO Divisi SL)

Pemasaran Produk Komunitas dan Strategi Keberlanjutan Program dengan Jambore Produk

Para perempuan di komunitas dan produk-produk yang dipamerkan

Pengalaman adalah guru terbaik bagi seseorang yang sedang berusaha belajar dalam mengembangkan diri dan kelompok. Komitmen ternyata belumlah cukup karena masih banyak lagi yang harus di peroleh dan di dapatkan, pengalaman juga yang telah membuktikan bahwa kita bisa maju karena ada tahapan-tahapan yang kita lalui.

Begitupun dengan perempuan-perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Berkah Mandiri yang berasal dari Dukuh Tutup Cluntang  dan Kelompok Perempuan Putri Mawar dari Dukuh Gondang Cluntang, setelah mengikuti pelatihan manajemen kelompok yang diadakan selama dua hari bekerja sama dengan BAZNAS pusat, serta menghadirkan narasumber salah satunya dari Dinas Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM), Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja  Kabupaten Boyolali yang banyak menyampaikan tentang pendampingan kelompok perempuan yang melakukan produksi olahan, dari tujuh  kelompok yang hadir, tiga kelompok ditawari untuk mengikuti pelatihan yang diadakan tangal 19 dan 20 februari 2019. Kelompok itu masing-masing Putri Mawar dengan olahan bunga mawar menjadi aneka snack seperti kripik, pilus, teh dan sirup. Kelompok Perempuan Berkah Mandiri dengan olahan brambang goreng non pestisida, serta Kelompok Tani Remaja Lembah cinta yang saat ini berbisnis kopi seduh Merapi.

Pelatihan dilaksanakan dua hari di kantor Dinas UMKM yang hadir adalah Dinas Koperasi dan Ketenagakerjaan dengan tiga narasumber, Sri Mulyani dari Putri Mawar dan Jemini dari Berkah Mandiri di mana dalam kegiatan ini ditekankan tentang paking, promosi kreatif dan pemasaran modern. Meski para yang datang banyak mengeluh kalau kurang bisa menangkap materi tetapi pada sesi praktik mereka cukup bisa mengikuti, seperti pada saat praktik membuat paking dari plastik maupun paking dengan botol Ini pengalaman pertama ikut pelatihan, banyak orang, malu mau menyampiakan pendapat dan tidak percaya diri, karena yg lain pinter pinter, kata Jemini, seorang ibu yang baru pertama kali mengikuti kegiatan pelatihan seperti ini .

Pelatihan dua hari ini, setidaknya membuat dua kelompok semakin meningkat komitmennya untuk terus belajar dan mencari jaringan khususnya bidang produksi, pemasaran dan promosi. Pada sesi promosi yang menggunakan media social/android juga cukup menyulitkan bagi Jemini, tetapi kalau bagi Sri Mulyani lumayan karena sering menggunakan WhatsApp (WA) untuk komunikasi sehari-hari. Mereka bahagia bisa belajar tentang teknologi yang mendukung usaha mereka .

Dari pelatihan dua hari ini, ada tawaran menarik dari Arif, Kabid UMKM, untuk mengikuti promo bazar di Pendopo Gede Kabupaten Boyolali pada tanggal, 27 Februari 2019, dalam rangka peringatan Hari Sampah Nasional. Dengan dilakukan rapat sekali untuk persiapan maka dua kelompok ini mulai mengkoordinasikan timnya baik Berkah Mandiri maupun Putri Mawar, untuk berbagi tugas dari yang menyiapkan bahan dan memproduksi.

Pameran produk daari kelompok perempuan

Kegiatan bazar seperti ini bukan hanya soal jualan produk tetapi bagaimana kelompok ini berkomitmen untuk mengelola dan memanajemen kelompok, begitu pun ketika kepercayaan dinas terkait bisa direspon dengan positif maka kemudahan untuk mengakses program akan lebih mudah, dan kelompok-kelompok perempuan ini tentunya masih dan akan terus membutuhkan pendampingan program dari berbagai stake holders, ke depan mereka berharap akan banyak kemajuan bagi kelompok kami “Saya mengikuti bazar tidak hanya sekadar jualan produk , tetapi saya ingin mendapatkan jaringan pasar maupun pelatihan – pelatihan dari dinas sehingga kami bisa lebih maju,“begitu kata Sri Mulyani, Ketua Kelompok Putri Mawar Cluntang.

Alam memberikan banyak sumber ilmu yang bisa manusia dapatkan dengan cara masing-masing, karena alam memberikan apa yang sebenarnya manusia inginkan.  Bunga mawar lereng Merapi tidak hanya aromanya yang menyegarkan, tetapi dari tiap kelopak yang diolah dengan hati akan menjadi jembatan ilmu yang tak berbatas. Bentangan ladang bawang merah akan terus memberikan berkah pada petani-petani lereng Merapi, seberapa besar yang mereka minta, seberapa besar pula yang kita perbuat untuk alam. (Noko Alee)

KELOMPOK PEREMPUAN DI LERENG MERAPI MEMBENTUK JARINGAN “KEMBANG WANGI”

Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali berada di ujung barat dan selatan Kabupaten Boyolali, lereng Merapi menjadi salah satu ciri khas yang cukup dikenal oleh masyarakat luas. Di kecamatan yang terkenal dengan penghasil susu segar yang cukup baik ini, setahun lalu perempuan-perempuan yang mulai resah dan gelisah dengan berbagai hal seperti kondisi pertanian dan peternakan yang semakin terpuruk, kondisi kekerasan yang marak,  mulai menginisiasi untuk bertemu, berkumpul mendiskusikan berbagai hal, baik soal ekonomi, soal ternak, soal usaha rumahan, sampai soal peran dan partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan. Maka bertempat di Desa Cluntang pada bulan September sampai November 2017 tiga kelompok perempuan menginisiasi menjadi perempuan penggerak di masyarakat dengan menamakan diri Jaringan Perempuan : KEMBANG WANGI

Refleksi satu tahun kelompok Kembang Wangi

Satu tahun sudah jaringan perempuan tingat kecamatan ini terbentuk, belum banyak yang bisa di lakukan untuk merubah dunia seperti moto dan spirit mereka pada saat malam refleksi setahun lalu. Jaringan yang diinisiasi kelompok perempuan Rukun Makmur Desa Musuk, Sekar Putri Desa Musuk, dan Putri Mawar Desa Cluntang tersebut mendeklarasikan diri disaksikan Camat Musuk, DPRD Kab Boyolalali  serta Kepala bidang pemberdayaan perempuan DP2KB P3A Kab. Boyolali Dinuk Prabandini.

Selama satu tahun kelompok ini berjalan berbagai aktifitas dilakukan baik dalam bentuk kegiatan di kelompok masing-masing atau dalam kegiatan jaringan bersama seperti sekolah tani perempuan, bazar UMKM perempuan serta kegiatan dikusi tematik yang setahun dilakukan dua kali, yaitu isu Trafficking pada Maret 2018,  serta  Pemanfaatan Potensi Lokal untuk Produk Olahan Makanan.

Selain memperkuat di bidang ekonomi, jaringan kerja ini juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat kabupaten. Beberapa kegiatan audiensi yang pernah dilakukan pada pmerintah kecamatan seperti usulan rancangan program, memberikan masukan program. Sedangkan advokasi pada pemerintah kabupaten yang pernah dilakukan antara lain lihat dalam kegiatan festival peternakan, hari pangan maupun event lainya dimana kegiatan ini bertujuan meningkatkan kepercayaan OPD terkait terhadap kerja kelompok maupun jaringan.

Upaya advokasi pada pemerintah membuahkan hasil, terlihat dari tiga kelompok yang menginisiasi jaringan perempuan ini beberapa kali mendapatkan program dari pemerintah seperti program pasca panen, program kemitraan simpan pinjam modal bergulir serta program tanaman pekarangan.

Perempuan Menggerakan Dunia

Satu tahun Jaringan Perempuan Kembang Wangi diperingati pada tanggal 10-11 September 2018 dengan tema “PEREMPUAN MENGGERAKAN DUNIA“. Saat ini bergabung dua kelompok baru yaitu PPT-TPPO Kecamatan Musuk dan Kelompok Perempuan Berkah Tani, sehingga jumlah anggota mencapai lebih dari 100 orang. Kelompok PPT-TPPO bekerja untuk pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Sudah 7 bulan terakhir bergabung memperkuat kerja-kerja jaringan khususnya untuk issue kekerasan yang saat ini cukup marak di Kecamatan Musuk. Sedangkan kelompok perempuan Berkah Tani  fokus pada kegiatan pertanian dan peternakan di Desa Cluntang.

Sambutan Kepala Desa Cluntang

Pada refleksi peringatan satu tahun Jaringan Perempuan Kembang Wangi, dilakukan beberapa rangkaian kegiatan antara lain : Refleksi program dan penyusunan program, pelatihan media sosial untuk advokasi dan jejaring pemasaran, outbound leadership dan dialog. Kegiatan diikuti 5 kelompok perempuan di Kecamatan Musuk Boyolali serta 1 kelompok dari Desa Balerante Kabupaten Klaten.

Untuk kegiatan yang terakhir yaitu dialog Lereng Merapi menjadi acara puncak sekaligus penutup rangkaian acara refleksi setahun kembang wangi.  Dengan melibatkan 140 peserta turut hadir Haryani Saptaningtyas dari representasi SRI Belanda yang menyampaikan bahwa perempuan-perempuan harus bergerak dan mempengaruhi kebijakan public dengan memanfaatkan media sosial. Acara ini ditutup oleh Dinuk Prabandini kepala bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak DP2KB P3A Kabupaten Boyolali yang menyampaiakan peran pemerintah dengan kebijakan yang mendukung untuk program pemberdayaan perempuan, salah satunya adalah program pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta penguatan ekonomi keluarga yang kreatif.

Sari pati dan point penting dari kegiatan ini adalah memperkuat jejaring perempuan untuk mendorong program yang pro perempuan. Pada refleksi 1 tahun, dihasilkan program bersama antara lain : 1. Memperkuat jejaring produksi dan pemasaran produk komunitas, 2. Advokasi mendorong program dan anggaran pro perempuan, 3. Penguatan internal kelembagaan perempuan, karena dengan lembaga yang kuat mampu menjalan program dan advokasi untuk mendorong pemenuhan hak-hak perempuan.

Noko Alee (Community Organizer)

Kirab Budaya “Bersih Desa Cluntang“

PROMOSI USAHA  WISATA YANG DIKELOLA BUMDES LENTERA DESA CLUNTANG

30 April 2017, ada yang berbeda di Desa Cluntang. Berbagai persiapan dilakukan Pemerintah Desa, BUMDes Unit Usaha Wisata Juang Kelompok Putri Mawar, dan PKK Desa guna mempersiapkan acara tersebut. Kirab budaya ini diharapkan menjadi acara tahunan Pemerintah Desa Cluntang dalam membangun BUMDes Usaha Wisata. Diyakini acara ini menjadi salah satu strategi pemasaran produk usaha wisata Tikungan Cinta yang sudah diinisiasi kurang lebih 6 bulan terakir yang menyuguhkan aneka pilihan spot selfie, gardu pandang, kuliner khas pegunungan, serta pertunjukan seni budaya seperti reog, ketoprak, karawitan, dan orkes melayu.

Kirab budaya dihadiri Dinas Pemerintahan Kabupaten Boyolali: Dinas UMKM dan Koperasi, Disparbud, DP2AKKB Kabupaten Boyolali yang tentunya untuk mendorong percepatan pembangunan pedesaan berbasis potensi local, baik SDM maupun SDA.

Acara ini juga menjadi ajang pameran UMKM produk-produk dampingan SPEK-HAM, seperti Kelompok Perempuan RUKUN MAKMUR, SEKAR PUTRI, dan PUTRI MAWAR yang memiliki usaha kecil menengah produk aneka makanan seperti keripik, kue kering, teh mawar, sirup mawar, pilus, dan kripik mawar. Pengunjung kirab budaya yang diperkirakan tidak kurang dari 1.700 orang ini memberikan pemasukan keuangan dari parkir dan retribusi sebanyak 7.875.000

Kawasan Tikungan Cinta saat ini masuk dalam 15 besar destinasi wisata terlaris versi diskominfo Kabupaten Boyolali. Promosi Cluntang sebagai desa wisata sedang digalakkan oleh Pemkab Boyolali dengan pembuatan film profil desa yang akan dibawa oleh Duta Seni Boyolali 2017 ke Rusia dan Belgia. Keterlibatan Putri Citra Boyolali 2016  dan Duta Wisata Boyolali 2016 dalam promosi wisata diharapkan dapat membawa nama Desa Wisata Cluntang ke tingkat nasional maupun internasional

Selain untuk mempromosikan desa wisata, kegiatan ini juga menantang masyarakat Desa Cluntang dalam mempersiapkan diri guna menyambut Desa Cluntang sebagai desa wisata yang memadukan potensi pertanian, peternakan, dan pelibatan perempuan, remaja, dan anak dalam proses pembangunan desa yang berkelanjutan. Demikian yang disampaiakan ibu Suryati S.Pd selaku Kepala Desa Cluntang diakir wawancara. (Noko Alee – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)