Search for:

Respon Pandemi Covid-19, SPEK-HAM Bagikan Masker

Guna Merespon Pandemi Covid-19 yang belum berakhir, SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan dengan dukungan program Mampu menyelenggarakan kegiatan pembagian masker untuk 250 orang perempuan di Desa Blumbang, Kecamatan Klego dan Desa Suroteleng, Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali pada Rabu dan Kamis, 10-11/6.

Masker diserahkan langsung dari SPEK-HAM kepada pemerintah desa dan perwakilan kader Kesehatan di masing-masing desa tersebut. Sekretaris Desa Blumbang, Iwan Setiawan menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar masker-masker ini dapat mencegah penularan covid-19. “Walaupun Pemerintah Desa sudah mempunyai program penanggulangan Covid-19, tetapi kami menyambut baik pemberian masker ini semoga bermanfaat untuk mencegah penularan Covid-, ungkap Iwan.

Sementara itu Nur perwakilan kader Kesehatan dari Suroteleng menyampaikan terima kasih kepada SPEK-HAM atas pemberian bantuan masker kepada para perempuan. Menurutnya  pencegahan penyebaran covid-19 telah dilakukan secara maksimal diantaranya dengan pembatasan akses bagi warga di luar daerah sejak bulan Apri yang lalu.

Sama seperti di Desa Blumbang, Masker yang sudah diserahkan ke perwakilan kader Kesehatan, selanjutnya akan didistribusikan kepada para perempuan di wilayah Desa Suroteleng yang membutuhkan. Sebagai informasi kegiatan pembagian masker ini merupakan kelanjutan dari program 1000 masker untuk perempuaan yang telah dilakukan pada 17 April yang lalu. Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)

Layanan Kespro di Tengah Pandemi Covid-19 Apa yang Bisa Kita Lakukan? (Talkshow 9.6 Mhz Merapi FM, Boyolali)

Sudah berlangsung 3 bulan Indonesia dan bahkan negara-negara lainnya berada dalam situasi yang sulit akibat pandemi covid-19, data kasus yang selalu naik, sampai dengan hari Kamis, 28 Mei 2020 pukul 12.00 WIB positif covid-19 mencapai 24.538 kasus, meninggal dunia sebanyak 1.496 orang. Sementara itu di Kabupaten Boyolali Sampai dengan hari Kamis, 28 Mei 2020 kasus positif 25 orang, sembuh 13 orang dan meninggal dunia 1 orang. Melihat situasi tersebut sudah banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah, dari membuat regulasi, kampanye, edukasi, bahkan sampai adanya protokoler kesehatan covid-19. Sebagai upaya edukasi pada masyarakat umum terkait dengan informasi ketersediaan layanan reproduksi di Tengah Pandemi ini, maka SPEKHAM melakukan live talkshow di radio Merapi FM pada Senin, 8 Juni 2020.

Dari hasil bincang bersama dengan Dr. Ratri S Survivalina Kepala Dinas Kesehatan Kab.Boyolali saat ini layanan kesehatan ibu dan anak masih tetap berjalan dan dilakukan di tengah pandemi covid-19 dengan protokoler kesehatan, tetapi ada pemisahan antara pasien yang mempunyai gejala batuk dan infeksi ISPA dengan pasien yang lain, selain itu juga ada pembatasan pendamping pasien rawat inap, pakai masker dan selalu mencuci tangan. Intinya kami menghibau selagi kita mematuhi protokoler kesehatan masyarakat tidak usah kawatir. Selain layanan kesehatan ibu dan anak pelaksanaan layanan kespro lain yang dilakukan adalah konseling KB serta terkait dengan pelayanan alat kontrasepsi, pelayanan IMS juga bisa dilakukan, karena faskes sudah mampu memberikan pelayanan. Terkait layanan persalinan semua puskesmas bisa diakses, dan sesuai dengan semangat kita bahwa saat ini puskesmas harus menjadi faskes yang mampu memberikan layanan persalinan lebih cepat dan bermutu. Dikatakan juga bahwa pandemi covid-19 ini juga berdampak akan kerentanan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), semua disebabkan karena sering bertemu dan berkumpulnya pasangan di rumah. Sebagai upaya menanggulangi kerentanan KTD dan kehamilan yang tidak direncanakan maka kami melakukan promosi alat kontrasepsi baik jangka panjang dan pendek, , bahkan ada yang permanen seperti tubektomi dan vasektomi, selain itu juga ada metode kontrasepsi darurat , kami juga mebuka akses agara masyarakat bisa mengakses alat kontrasepsi lewat bidan desa, puskesmas dan kader kesehatan.

Live Talkshow Merapi FM

Narasumber yang lain Siti Muntadimatul Fikri (Kader SUKMADESI) Kecamatan Klego yang menceritakan, bahwa selama pandemi covid-19 ini kader tetap bekerja walaupun hanya lewat media WA group maupun pribadi, dan saat ini kita lebih fokus di kelompok remaja dan lansia. Saat ini kami meberikan vitamin sebanyak 100 tablet di setiap desa serta gerakan penghijauan dan pengembangan tanaman pangan keluarga pada kelompok remaja. Program lain yang dirancang adalah menghadirkan pihak Dinas Kesehatan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat, yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa yang disampaikan kader saat ini sebetulnya bener-bener program pemerintah. Kader Kesehatan Ds. Blumbang ibu Ida Nursanti Astuti menguatkan pendapat ibu fikri bahwa komunikasi dengan warga saat ini menurut mereka dengan media sosial lebih gampang, seperti WA, ibu-bu jaman sekarang memang sudah canggih, hampir semua sudah mempunyai smartphone.

Diakhir Talkshow Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan cerita sukses yang sudah dilakukan oleh kader dampingan SPEKHAM. Kader itu menjadi ujung tombak dalam melakukan edukasi ke masyarakat terkait isu kespro, bahkan ada lelucon selain ujung tombak kader juga menjadi “ujung tombok”. Bahkan pada pertemuan yang dilakukan malam hari mereka harus tombok waktu untuk bisa hadir pada pertemuan itu. Kami dari SPEK-HAM berperan mendorong partisipasi kader/perempuan untuk aktif terlibat di tingkat desa, untuk mengusulkan program-program perempuan di tingkat desa, melakukan IVA tes, karena ini penting, supaya perempuan juga tahu situasi kespronya agar mengetahuai ada dan tidaknya kanker cervic. Selain itu kami juga mengadvokasi layanan di tingkat kecamatan-kecamatan. Fajar memberikan pesan pada Pemerintah Boyolali: layanan kesehatan reproduksi harus berjalan, kita masih ada PR terkait dengan AKI dan AKB, maka kami berharap disaat layanan sudah dibuka maka masyarakat akan berbondong-bondong untuk mengakses layanan. Kami berharap di tingkat desa juga memikirkan kebutuhan pembangunan manusia artinya butuh pembisik dan peran laki-laki. Antonius Danang – Divisi Kesmas

Forum Peserta JKN Boyolali Soroti Data Bansos

Suasana diskusi forum JKN Boyolali

Sejumlah anggota Forum Peserta JKN Boyolali menyoroti data penerima bansos yang tidak akurat saat menggelar Diskusi dengan Tema Perlindungan Sosial yang Responsif Gender di Masa Pandemi Covid-19 pada 20/5 di sebuah Rumah Makan di Boyolali.

Sinam M Sutarno salah seorang peserta asal Selo, menyampaikan bantuan untuk penanganan Covid-19 itu ada 2, yakni Basis Data Terpadu (BDT) dan non BDT misalnya untuk orang yg bukan miskin tapi sangat terdampak. “Saat ini kemensos memungkinkan pendataan data baru dan Desa bisa mengupdate data agar tidak menjadi bulan-bulanan warganya,” ungkap Sinam. Pada bagian lain dia menyoroti kebijakan pemerintah pusat terkesan tidak dijalankan di tingkat daerah, misalnya terkait leasing yang ternyata masih banyak warga yang menerima tagihan dari leasing sepeda motor.

Sementara itu Rahayu Purwaningsih warga Andong menyampaikan bantuan sosial untuk warga terdampak Covid-19 ada 5, terdiri dari BST (Bantuan Sosial Tunai) dari Kemensos sebesar Rp. 600.000,- Bantuan Provinsi berupa sembako senilai Rp. 200.000,- Bantuan Kabupaten berupa Sembako senilai Rp. 200.000,- BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari Dana Desa senilai Rp. 600.000,- masing-masing bantuan tersebut selama diberikan selama 3 bulan.

Bantuan lain yaitu Perluasan Sembako dari Provinsi Jateng, Boyolali mengajukan 21.700 orang yang disetujui sebanyak 17.000 orang, bantuan ini diberikan selama 9 bulan. Informasi sampai dengan hari ini dari kelima bantuan tersebut yang sudah turun meski sebagian adalah BST, BLT dan Bantuan Kabupaten.

Kegiatan dengan menerapkan physical distancing atau jarak ini menghasilkan beberapa masukan kepada pihak-pihak terkait, diantaranya perbaikan data (sinkronisasi) untuk penerima bantuan agar bisa tepat sasaran, update data penerima bantuan secara berkala dan pelibatan perempuan secara lebih masif dalam pendataan warga terdampak.

Pada sisi lain para peserta menyadari bahwa jaminan sosial sangat bermanfaat di tengah pandemi covid-19 ini karena dapat membantu masyarakat yang terdampak dan sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. Selain itu edukasi kepada masyarakat juga terus menerus harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, diantaranya jaga jarak, menggunakan masker, menghidari kerumunan, sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer dan menjaga kesehatan tubuh dengan aktivitas fisik secara rutin.

Sebagai informasi Diskusi Forum Peserta JKN Boyolai ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, yaitu Sosialisasi hasil riset JKN-BPJS untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan, pembentukan Forum Peserta JKN Boyolali, Audiensi dengan BPJS Kesehatan dan Dinkes. Kegiatan ini diselenggarakan SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Jaringan Perempuan Peduli Kesehatan (JP2K), dengan dukungan AUSAID Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan). (Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat/spekham.org)

PEREMPUAN PEDESAAN BERGERAK MENYIKAPI DAMPAK COVID-19

Virus corona yang sejak bulan Maret 2020 menjadi persoalan utama bangsa saat ini. Di awal – awal muncul pemberitaan di media tidaklah menjadi topic yang menarik untuk di bicarakan, hanya sekilas-kita lihat berita di televisi atau media social. Di desa-desa khususnya di Kecamatan Musuk orang-orang lebih tertarik berbicara tentang harga bunga mawar, penanaman tembakau, dan ternak di banding ngobrol tentang Covid-19 ini.

Dari data nasional, provinsi dan juga kabupaten/ kota yang di muat di media tv yang awalnya hanya memberitakan 2 sampai 5 kasus yang di temukan. Semakin lama data yang meninggal karena Covid19 semakin gencar diberitakan, kasus sudah mencapai ribuan hingga akhirnya tembus ke angka 14.000. Pemerintah desa mulai mengambil sikap untuk mencegah, minimal melakukan koordinasi dengan bidan desa, puskesmas tingkat kecamatan untuk meng-update data dan juga informasi pada masyarakat untuk melakukan PHBS demi mencegah penularan virus Corona.

Ternyata Pandemic Covid19 tidak hanya berbicara tentang kesehatan. Dampak dari pandemic ini sangat luas, terutama di sector ekonomi. Hal ini sangat dirasakan oleh perempuan di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Biasnaya pada bulan ruwah adalah berkah bagi petani mawar di Desa Cluntang. Masyarakat yang selama ini mengandalkan bunga mawar menjadi primadona menjelang bulan ruwah, harus menelan pahit dengan adanya pembatasan sosial dan larangan berkegiatan ritual, keagamaan dll. Pada tahun-tahun sebelumnya saat bulan ruwah bunga mawar bisa laku sampai Rp. 200.000 per rinjing. Namun setelah ada Covid19 ini, bunga mawar hanya laku Rp. 10.000 per rinjing.

Hasil pertanian seperti sayuran juga tidak bisa keluar bebas karena ada pembatasan para orang luar masuk wilayah Desa Musuk dan Desa Cluntang termasuk para tengkulak. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya perempuan di Musuk dan Cluntang. Bahkan angsuran pra koperasi simpan pinjam kelompok perempuan tidak ada yang mengangsur, karena tidak adanya pendapatan yang masuk. Saya mencoba melakukan diskusi dengan ibu-ibu baik di kelompok Putri Mawar Desa Cluntang, Rukun Makmur Desa Musuk, kelompok Sekar Putri Desa Musuk juga komunitas peduli TPPO Kecamatan Musuk untuk menyikapi situasi ini, apa yang bisa dilakukan? Solusi yang bisa dilakukan oleh perempuan adalah membuat produksi aneka makanan dari bahan-bahan lokal seperti aneka lauk, kue kering, es cream, minuman tradisional, termasuk hasil pertanian bawang merah dll. Pemasaran dibantu oleh pendamping dari SPEK-HAM secara langsung maupun secara online lewat media social.

Tidak disangka ternyata hasilnya cukup membuat para perempuan di komunitas bersemangat. Setiap dua atau tiga hari sekali pada datang kerumah saya untuk berdiskusi, setor produk, ambil uang dan juga menciptakan produk baru. Peluang-peluang seperti ini yang harusnya di respon cepat oleh perempuan, karena mereka yang lebih paham kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Situasi pandemic yang kita belum tahu kapan akan berakhir, harus di sikapi dengan bijaksana, segala upaya dilakukan, tetapi persoalan ekonomi keluarga harus menjadi focus. Setiap individu di kelompok saling mensuport, program-program pra koperasi menjadi solusi saat sulit seperti ini sehingga kita bisa lewati bersama dengan baik. (Noko/NL)

Refleksi BUMDes Lentera Desa Cluntang: Butuh Restrukturalisasi, Manajemen, dan Dukungan Pemerintah Desa

Proses Refleksi BUMDes dipimpin ibu Kepala Desa Cluntang

BUMDes yang diberi nama LENTERA tersebut sudah berdiri sejak tahun 2017 atas inisiasi masyarakat dan pemerintah desa, yang dalam proses pembentukannya didampingi oleh SPEK-HAM. BUMDES  yang memiliki tiga unit usaha  dibentuk atas pertimbangan potensi yang dimiliki oleh Desa Cluntang Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Tiga unit usaha tersebut adalah Unit Usaha Wisata, Unit Usaha Peternakan dan Pertanian, serta Unit Keuangan Mikro (Koperasi Simpan Pinjam). Dari tiga unit tersebut telah berjalan beberapa kegiatan antara lain pengembangan Camping Ground  dan selfie spot ditempat yang popular akan pengunjung Tikungan Cinta (TC), serta rencana pengembangan Pusat Pembelajaran Pertanian, dll.

BUMDes dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat desa, terlebih perempuan. Partisipasi aktif dari masyarakat dalam mengelola BUMDes menjadi nilai positif yang seringkali terlupakan. Selama ini focus dari BUMDes melulu soal keuntungan. Berbeda dengan BUMDes Lentera yang mengedepankan partisipasi masyarakat dalam membentuk dan mengelola, saat ini usaha desa tersebut sudah meningkatkan akses ekonomi pada perempuan. Ada  10 perempuan dapat membuka usaha di kawasan wisata Tikungan Cinta yang dikelola oleh BUMDes, 5 perempuan membuka usaha catering jika ada event acara di Kawasan Tikungan Cinta, 52 perempuan (49%) sebagai anggota koperasi
Arta Lentera.

Namun demikian dari hasil refleksi bersama yang diselenggarakan pada 27 Februari 2020 yang lalu, dalam prakteknya BUMDes Lentera belum dapat optimal mencapai tujuan tersebut. Beberapa factor penyebab kurang maksimalnya kinerja BUMDes seperti kepengurusan yang kurang optimal, terdapat beberapa pengurus yang smasih belum terlihat komitmennya dalam menjalani tugas memajukan BUMDes Lentera.

Usaha potensial yang kedepan lebih dikembangkan lagi adalah Koperasi Simpan Pinjam dan usaha wisata. Dengan perencanaan tersebut, BUMDes dan pemerintah desa perlu menyiapkan kader-kader baru yang mampu berkomitmen dalam pengembangan BUMDes Lentera. Dukungan dan sinergi pemerintah desa sangat diharapkan untuk mengembangkan unit usaha BUMDes ke depan, penyertaan modal masih menjadi tantangan dari banyaknya pekerjaan rumah penyelesaian infrastruktur desa. Dalam kebijakan yang mengatur, kepemilikan modal 51 % adalah dari desa. Jika dikelola dengan managemen yang efektif dan efisien, maka ke depan BUMDes bisa menjadi sumber pendapatan desa dalam melakukan program pembangunan secara otonom. Nila- Manager Divisi SL

Petani Desa Cluntang Boyolali Panen Bawang Merah Ramah Lingkungan

Petani Cluntang Panen Bawang Merah Organik

Senin (24/02/2020), petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali panen bawang merah ramah lingkungan di kebun percontohan. Lahan seluas kurang lebih 150 m2 sejak 2,5 bulan yang lalu dijadikan percontohan budidaya bawang merah ramah lingkungan tanpa pupuk kimia dan pestisida kimia.

Bersama SPEK-HAM dan BAZNAS dalam program Zakat Community Development, petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang belajar tentang pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang diperoleh dengan mudah dari lingkungan sekitar, petani belajar untuk menghemat biaya produksi pembelian pupuk dan pestisida.

Lahan seluas 150 m2 yang terletak di depan halaman rumah salah satu petani tersebut ditanami 35 kg bibit bawang merah. Kelompok membudidayakan dengan pengelolaan yang optimal sejak awal penanaman. Langkah-langkah penanaman yang dilakukan Kelompok Berkah Tani sebagai berikut:

  1. Sebelum memulai proses tanam, lahan dicangkul dan tambahkan campuran kompos didiamkan selama 3 hari dengan disempot fungisida alami. Bahan-bahan pembuatan fungisida alami sangat mudah didapat seperti: kunyit, bawang putih, temu lawak, temu ireng, sereh. Fungisida berfungsi untuk menghambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan busuk umbi. Setelah 3 hari, lahan ditanami bibit.
  2. Bibit yang akan ditanam dipastikan sudah cukup umur dan kering, sebelum ditanam, bibit dipotong dan di rendam kedalam campuran air dan bawang merah yang diblender untuk mencegah infeksi yang menyebabkan tidak bisa tumbuh.
  3. Jarak tanam juga diatur 15 cm x 15 cm supaya pertumbuhan tanaman baik.
  4. Penyempotan POC atau PGPR rutin dilakukan 3 hari sekali setelah daun tumbuh hingga usia 50 hari. Bahan pembuatan POC organic juga mudah didapat di sekitar seperti akar bambu, jantung pisang, rebung muda, air leri dan urin sapi. Penyemprotan dilakukan sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam, supaya nutrisi efektif terserap dan tidak menganggu pertumbuhan tanaman.
  5. Untuk mencegah hama yang rentan pada tanaman bawang merah, petani membuat pestisida alami dengan bahan-bahan daun mindi, tembakau, jahe, cabai, gadung. Penyemprotan pestisida organik berfungsi untuk mencegah hama ulat yang rentan menyerang bawang merah. Penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali hingga usia 50 hari. Kenapa hanya hingga usia 50 hari ? Karena sebelum tanaman bawang merah usia 50 hari masih rentan terserang hama, sehingga penyemprotan harus intensif dilakukan.
Kegiatan memanen Bawang merah Organik

Setelah melewati masa tanam kurang lebih 70 hari, tanaman bawang merah yang dikembangkan siap dipanen. Hasil panen kali ini mencapai 90 kg. Cuaca menjadi salah satu kendala menurunnya hasil panen. Menurut penuturan Jumadi salah satu petani, meskipun dipelihara secara optimal jika cuaca kurang panas juga berdampak pada hasil panen yang kurang baik. “Pola pertanian organik ini bisa menginspirasi saya dan anggota yang lain dalam budidaya bawang merah yang murah. Cara bertanamnya juga mudah, hanya butuh ketelatenan” ujar Jumadi.  Hal baik yang didapat dari proses pembelajaran budidaya bawang merah di kebun percontohan menurut Mulyono Ketua Kelompok Berkah Tani, “Tanaman lebih tahan cuaca yang kurang baik. Hasilnya lebih padat umbinya dan tidak mudah busuk”.

Bahwa hasil panen belum bisa dikatakan ideal dengan perbandingan bibit dan hasil lebih dari 1 : 6. Namun ada hal luar biasa yang dirasakan oleh petani, umbi tidak ada yang busuk meskipun hujan dengan intensitas tinggi terus menerus mengguyur wilayah Cluntang. Tanaman juga kuat tidak menguning meskipun terkena embun atau kabut malam. Padahal biasanya jika hujan turun terus menerus, sudah bisa dipastikan umbi membusuk dan gagal panen.

Minimnya ongkos produksi juga menjadi hal baik yang dapat diambil sebagai pembelajaran penting pada budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Petani mampu menekan biaya pembelian pupuk dan obat. Untuk mengelola kebun seluas 150 m2 hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 383.000,- untuk pembuatan pupuk dan pestisida organic. Petani Cluntang sudah membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan terbukti lebih tahan cuaca dan mampu menekan biaya produksi. (Nila-Manager Divisi SL)

JUMINI : POTRET PEREMPUAN MERAWAT ALAM MELALUI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI DESA CLUNTANG BOYOLALI

Jumini sedang menanam bawang merah bersama suami

Jumini merupakan seorang perempuan yang berprofesi sebagai petani bawang merah di Dusun Tutup, Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Yang menjadi pembeda dengan petani-petani pada umumnya, dia menanam tanaman bawang merah tersebut tanpa menggunakan pupuk kimia. Beliau hanya menggunakan pupuk kompos dari bahan alami.

Ibu Jumini mulai menanam tanaman bawang merah tanpa bahan kimia dari tahun 2019, sejak adanya program dan pendampingan dari Yayasan SPEK-HAM dan BAZNAS yang masuk ke komunitas mereka. Terhitung sudah dua kali panen bawang merah tanpa menggunakan bahan kimia hingga saat ini. Dari yang awalnya hanya coba-coba dan untuk perbandingan dengan cara tanam lamanya yang masih menggunakan pupuk kimia.

Menurut penuturan beliau, hasil panen bawang merah yang didapat dengan menggunakan pupuk berbahan dasar organik non kimia lebih unggul kualitasnya jika dibandingkan dengan hasil panen dengan menggunakan pupuk kimia.  “Kalau yang pakai ZA (kimia) itu hasilnya satu banding 3,yang non kimia ya sama. Tapi kualitasnya berbeda. Bedanya yang pakai no kimia lebih tahan lama. Umbinya lebih keras” tutur Ibu Jumini

Selain kualitas yang dihasilkan lebih unggul, biaya yang dikeluarkan untuk pupuk dan obat dengan menggunakan pupuk organik non kimia lebih hemat jika dibanding dengan menggunakan pupuk dan obat kimia. “ya lebih irit mbak, tidak perlu beli. Tinggal nyari bahan-bahan di kebun banyak, tambah Jumini

Bahan-bahan yang digunakan untuk pupuk dan obat dalam penanaman non kimia memang diambil dari bahan alami. Dan banyak ditemukan disekitar pemukiman. Bahan tersebut diantaranya adalah, rebung (bambu muda), alang-alang, akar bambu, puteri malu, toge, jantung pisang dan masih banyak lagi.

Bu Jumini mulai mengenal pertanian tanpa menggunakan bahan kimia dari pelatihan-pelathan yang dilakukan oleh yayasan SPEK-HAM. Pelatihan tersebut mendatangkan narasumber yang sudah berhasil mengembangkan pertanian bawang merah organik. Dari itu, Bu Jumini langsung termotivasi dan tertarik untuk menerapkan apa yang dapat dari pelatihan ke dalam pertanian yang sedang dijalankan.

Hasil panen bawang merah

Menurut Ibu Jumini, tidak ada kesulitan tersendiri dalam penanaman bawang merah dengan menggunakan pupuk organik non kimia. Hanya membutuhkan kesabaran dan juga waktu lebih dalam pengolahan pupuk yang memang berbeda dengan pupuk kimia di pasaran yang bisa langsung digunakan.

Sebetulnya, harga dipasaran untuk bawang merah organik tanpa pupuk kimia sama dengan bawang merah pada umumnya. Karena pasar hanya melihat besar kecilnya ukuran bawang merah. Namun, ada kepuasan tersendiri untuk petani bawang merah tanpa pupuk kimia karena kualitas yang dihasilkan lebih unggul, bawang merah yang dihasilkan lebih keras dan tahan lama, pohon bawang yang tumbuh lebih kuat dengan cuaca, dan juga lebih hemat dalam pembiayaan pupuk dan obat.

Tugas Ibu Jumini di dalam pertanian adalah sebagai mitra dari suami tidak ada ketimpangan dalam pembagian tugas diantara kedua pihak. Semua mengambil peran yang besar didalam kegiatan pertanian yang dihasikan. Mulai dari penentuan jenis tanaman yang akan ditanam, penentuan jenis obat dan pupuk, sampai dengan penentuan pemasaran yang semua diputuskan bersama. (Mira- mahasiswa magang UNS)

Sebagian Pemerintah Desa Belum Paham Kesehatan Reproduksi

Berswafoto bersama Kader Kesehatan “Permata” Kecamatan Juwiring.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Diskusi bersama Kader Kesehatan “Permata” se-Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada rabu, 12/2 di Sanggar Kespro “Permata” Desa Tanjung. Hadir dalam kegiatan ini kader kesehatan perempuan perwakilan 19 desa yang ada di Kecamatan Juwiring.

Disampaikan mayoritas kader kesehatan yang hadir, bahwa saat ini pemerintah desa belum paham tentang informasi Kesehatan Reproduksi (Kespro). Sutiyem Kader dari Desa Serenan menyampaikan bahwa pemerintah desa belum mengerti dan paham tentang apa itu Kesehatan Reproduksi. “Setahu saya ya belum paham (Kespro), makanya sampai dengan saat ini belum menjadi prioritas penganggaran,” ungkap Sutiyem.

Diskusi Kader Kesehatan “Permata” Kecamatan Juwiring.

Feri Ariningsih salah seorang Kader Kesehatan dari Desa Trasan mengatakan bahwa Pemerintah Desa saat ini masih berorientasi pada pembangunan fisik atau infrastruktur dan belum menganggap bahwa Kesehatan Reproduksi menjadi kebutuhan. “Persoalannya adalah pemerintah desa tidak peduli, tidak ngerti apa itu kesehatan reproduksi. Dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes), pemerintah desa banyak menganggarkan untuk pembangunan fisik daripada pembangunan manusia,“ jelas Feri.

Sementara itu hal lain disampaikan oleh Rini Dwi Lestari Kader Kesehatan dari Desa Pundungan, menurutnya Pemerintah Desa Pundungan sudah memberikan dukungan dalam program Kespro, yaitu berupa anggaran. “Pada saat pembahasan anggaran, saya masukkan kegiatan tentang Kespro, kebetulan saya kan ketua PKK,” ungkap Rini.

Dia menambahkan Kepala Desa juga telah memberikan dukungan, salah satunya dengan memberikan sosialisasi tentang Stunting, Kesehatan Reproduksi dan perlindungan anak pada kelompok laki-laki atau suami. Harapannya agar laki-laki atau suami memiliki keberpihakan pada perempuan dan anak. Henrico Fajar dari SPEK-HAM yang hadir dalam kegiatan ini, menyampaikan pentingnya melakukan lobi dan advokasi kepada pihak-pihak terkait agar muncul keberpihakan pada isu Kesehatan Reproduksi. “Lobi-lobi harus dilakukan kepada pihak-pihak potensial yang bisa diajak untuk mendukung program atau kegiatan ini dan tidak harus formal, lobi bisa dilakukan di dimanapun dan kapapun,” ungkap Fajar. Pihak-pihak potensial yang dimaksud adalah Kepala Desa, Perangkat Desa, Ketua PKK, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Karangtaruna dsbnya. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM