Search for:

Tes IVA dan IMS untuk Perempuan di Kelurahan Sangkrah

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual secara bebas tanpa pengaman , infeksi menular seksual diantaranya ; Ghonoreae, Sifilis, Chlamidia, Herpes Genital, HIV dan AIDS dan lain-lain.

Metode pencegahan dengan deteksi dini dapat dilakukan, diantaranya dilakukan melalui tes IVA. Sebagai wujud kepedulian SPEK-HAM Surakarta terhadap kesehatan reproduksi perempuan, kamis 20 Maret 2014, SPEK-HAM bekerjasama dengan Puskesmas Pembantu Sangkrah melakukan tes IVA dan IMS dengan melibatkan seluruh masyarakat khususnya perempuan di wilayah Sangkrah, Semanggi dan sekitarnya.

Tes yang dilakukan di Kelurahan Sangkrah ini merupakan rangkaian pemeriksaan tahap 2, setelah pada tanggal 10 dan 11 maret 2014, dilakukan pemeriksaan tahap pertama di Kelurahan Pucang Sawit.

Pada proses pelaksanaan tes, pasien atau peserta tes dapat secara langsung mengetahui hasil tes laboratorium dari pihak medis Puskesmas Pembantu Sangkrah untuk kemudian dapat secara langsung di lakukan penanggulangan dan pengobatan. (lia/spekham)

AKSI SOLIDARITAS : PENGOBATAN PASCA BANJIR DI PACING, KLATEN

pacing_banjir1Sabtu, 22 Februari 2014 yang lalu desa Pacing mengalami banjir akibat tanggul Dengkeng yang jebol. Banjir kali ini termasuk parah dengan tinggi sekitar sepinggang orang dewasa. Sebagai bentuk aksi solidaritas, SPEK-HAM yang sejak tahun 2006 melakukan pemberdayaan kelompok perempuan desa Pacing bekerjasama dengan bidan desa melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi penyintas banjir.

 Pemeriksaan/pengobatan gratis dilaksanakan pada Kamis tanggal 27 Februari 2014, hari kamis pukul 13.00 WIB – 15.30 WIB di Pos kesehatan lansia tepatnya rumah ibu Paryanti, RT 10 RW 5 Dukuh Tegal Sari, Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Pemeriksaan ditujukan bagi seluruh warga Pacing, khususnya warga Tegalsari yang paling parah banjirnya. Selain pemberian obat-obatan juga ada PMT bagi balita, ibu hamil, dan lansia.

pacing_banjir6

Pengobatan ini dilakukan oleh Bidan Desa Pacing (ibu Sri Sulastri Amd.Sib) dan dibantu 2 praktikkan mahasiswa STIKES Ahmad Yani Jogja (Ika, dan Hendis), yang kebetulan sedang magang di klinik Bu Bidan, kader-kader kesehatan, serta rekan-rekan SPEK-HAM (Tri, Danang, Eko, dan Jo). Pasien yang ditangani pada pemeriksaan/pengobatan gratis ini antara lain anak-anak, umum (orang tua), dan lansia (semua laki-laki dan perempuan) dengan jumlah pasien 108.

pacing_banjir3Keluhan yang dirasakan warga pasca banjir adalah antara lain pegal-pegal, batuk, pilek, gatal, demam, pusing (hipertensi), maag. Pemeriksaan yang dilakukan selain pemeriksaan kesehatan, ada juga cek tensi serta pemberiaan obat. Persediaan tiap obat 1 kaleng dengan isi 1000 butir dan untuk tablet persediaan 1 pcs dengan macam obat seperti PARASETAMOL, CTM, ANTASID, ASAM MEFEMANAT, VIT B1, VIT B6, VIT B12, VIT BComplek, KALSIUM, SAKANEURON/NEURODEX, PREDNISON, AMOKSILIN (GLYCERYL GUALACOLATE) ada juga tabahan dari Dinas Kesehatan berupa krim nyeri sendi, dan ada juga tambahan dari  ibu bidan berupa SAKANEURON, AMINOPILIN.

pacing_banjir4

Warga yang berdatangan untuk pemeriksaan/pengobatan gratis ini tidak hanya warga Dukuh Tegalsari saja, dari Dukuh Pacing juga ada yang ikut pengobatan ini. Warga Tegalsari, khususnya lansia sendiri sudah dibagikan buku kecil/buku saku yang masih sederhana, semacam Kartu Menuju Sehat untuk mencatat dan melihat perkembangan kesehatan bagi masing-masing pasien, mencatat macam obat yang diberikan ke pasien, sekaligus sebagai absensi dalam pemeriksaan. Buku ini atas inisiatif kader-kader kesehatan dan ibu bidan untuk mencatat tensi darah pasien, mencatat hasil analisis penyakit yang dilakukan bidan desa ke pemilik buku saku tersebut. Dalam pemeriksaan/pengobatan gratis kemarin, bagi warga/pasien yang sudah memiliki buku tersebut tetap digunakan sebagai absensi serta pemeriksaan, bagi yang belum memiliki buku saku, menggunakan potongan kertas buram untuk mencatat tensi, hasil analisa bidan, serta mencatat macam obat yang akan diberikan ke pasien. (Eko/editor : Nila)

Pertemuan PE di Kabupaten Boyolali

Boyolali.

Setiap satu bulan sekali, SPEK-HAM dalam keterkaitannya dengan Program Pencegahan HIV dan AIDS, mengadakan Pertemuan PE (Peer Educator) untuk wilayah Kabupaten Boyolali.

PE yang dikoordinasikan oleh teman-teman Penjangkau Lapangan (PL) dari SPEK-HAM ada 10 orang, yang berasal dari Komunitas WPS, Waria, LSL, dan HRM. PE bersama-sama dengan PL memberikan informasi mengenai HIV, AIDS dan IMS serta pengetahuan tentang kesehatan reproduksi lainnya kepada teman-teman komunitas sebaya.

Pada satu kesempatan, pertemuan PE kami adakan bekerjasama dengan PEPARI. Pertemuan kami laksanakan tanggal 24 September 2013, pukul 15.00 – 17.30 WIB, bertempat di kantor PEPARI di jalan Pisang Boyolali. Pertemuan PE yang difasilitatori oleh PL Wahyu, diawali dengan pemberian dan pendalaman mengenai jenis-jenis penyakit kelamin, kemudian dilanjutkan dengan membahas mengenai rujukan IMS dan VCT. (spek-ham/tim boyolali/nuel)

Diskusi Komunitas LSL di Boyolali

Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sering dianggap merupakan perilaku menyimpang di masyarakat, itulah stigma yang selama ini melekat pada kelompok LSL. Karena hal tersebut, teman-teman LSL Boyolali berusaha bergabung menjadi satu untuk menyatukan visi dan misi  agar LSL di Boyolali dapat diterima di masyarakat, sehat dan berdaya dengan membentuk Komunitas yang diberi  nama Komunitas Sehati Boyolali (KSB). Komunitas dampingan SPEK-HAM ini mengadakan pertemuan rutin setiap bulan antara tanggal 15 atau 20 setiap bulannya. Sebelum berdiskusi, teman-teman komunitas LSL diberi pembekalan tentang kesehatan terutama tentang pengetahuan HIV-AIDS, juga pengetahuan oleh teman-teman PL SPEK-HAM tentang macam-macam penyakit IMS yang biasa menyerang teman-teman LSL, yang bertujuan untuk dapat mengurangi dampak pesakitan pengidap HIV-AIDS  maupun IMS. (spek-ham/uie) 

Diskusi Kespro pada Kelompok Laki-laki Risiko Tinggi di Kabupaten Boyolali

Diskusi HRMKegiatan diskusi komunitas laki-laki berisiko tinggi di Kabupaten Boyolali dilakukan pada komunitas-komunitas laki-laki yang ada pada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan bergiliran di rumah anggota komunitas tersebut.

Kegiatan dilakukan satu bulan sekali dan setiap pertemuan dilakukan menurut kalender Jawa, contohnya setiap selasa pon atau rabu pahing tiap bulannya. Kegiatan diskusi komunitas diadakan karena melihat semakin banyaknya orang terinfeksi HIV/AIDS di Kabupaten ini. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai HIV\AIDS dan infeksi menular seksual atau IMS di kalangan warga dan komunitas yang sangat mungkin beresiko tertular HIV/AIDS dan IMS, khususnya laki-laki. Terutama laki-laki yang sudah berkeluarga, karena istri dan anak-anak mereka juga berisiko tertular. Oleh karena itu, kegiatan diskusi komunitas High Risk Man (HRM) atau laki-laki beresiko tinggi sangat penting untuk dilakukan.

Untuk dapat melakukan kegiatan ini, para penjangkau mencari tahu komunitas apa saja yang ada pada suatu daerah. Setelah mendapat informasi yang cukup, kemudian kami melakukan pendekatan kepada salah satu anggota atau pengurus komunitas tersebut untuk dapat masuk dan melakukan kegiatan diskusi mengenai HIV/AIDS dan IMS kepada komunitas tersebut pada saat komunitas tersebut melakukan kegiatan pertemuan rutin yang dilakukan tiap bulan. Pada saat acara diskusi komunitas, selain memberikan informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS, kami juga menyampaikan layanan kesehatan yang dapat diakses jika ada yang terkena HIV/AIDS dan IMS, sehingga diharapkan tidak ada diskriminasi dan mereka tahu apa yang harus diperbuat jika ada yang terinfeksi HIV/AIDS dan IMS. (spekham/ivan andy)

Pengalaman Kelompok Dampingan SPEK-HAM di Boyolali tentang VCT

VCT

 

 

 

1. Yuni   (Waria)

Saya bangga dan senang sekali karena di Boyolali sudah ada mobil klinik VCT. Ini bukanlah kali pertama saya melakukan tes VCT, saya sudah beberapa kali melakukan tes VCT. Saya melakukan tes VCT ini dengan kesadaran sendiri dan bukan karena paksaan orang lain. Saya menyadari kalau perilaku seksual saya berisiko tinggi, oleh karena itu saya menginginkan adanya tes VCT ini dilakukan secara rutin dalam 3 bulan sekali. Saya juga semakin berhati-hati dalam melakukan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.

2.Roni  (Laki-laki Risiko Tinggi)

Saya senang sekali dengan adanya VCT, karena saya bisa mengetahui status kesehatan saya. Saya merasa perilaku seksual saya masih tergolong risiko tinggi, dan dengan adanya tes ini saya bisa merubah perilaku saya. Hasil dapat dilihat dari REAKTIF atau NON REAKTIF dari tes yang dilakukan. Untuk itu saya juga berterima kasih kepada teman saya yang memberikan informasi  dan dukungan agar saya lebih  mengerti apa tujuan VCT ini. Terima kasih  pada teman-teman semunya.

Diskusi Komunitas Waria Di Kabupaten Boyolali

Dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran HIV dan AIDS yang setiap tahun selalu terjadi peningkatan jumlah penderitanya, SPEK-HAM bekerja sama dengan KPAD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali melakukan berbagai macam pendekatan kepada kelompok-kelompok risti (risiko tinggi), salah satunya dengan cara mengajak berdiskusi komunitas waria yang bermukim dan berada di Boyolali, mengingat rawannya komunitas ini terpapar oleh virus HIV. Diskusi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang bahaya HIV dan AIDS, serta mendorong mereka untuk berperilaku aman.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga disisipkan penguatan-penguatan terhadap komunitas risti untuk mau berpartisipasi dalam usaha pencegahan penyebaran virus HIV dengan menyalurkan informasi yang telah diterima kepada masyarakat yang berada di sekitar lingkungan mereka. Dengan demikian masih sangat kurangnya porsi informasi tentang bahaya HIV dan AIDS kepada masyarakat dapat diminimalisir.  Kedepan, diharapkan dengan kegiatan-kegiatan ini penyebaran HIV dan AIDS di Kabupaten Boyolali dapat dikurangi dari tahun ke tahun. (spek-ham/wahyu yudha)

Sosialisasi HIV AIDS di Kabupaten Salatiga

Salatiga, Jawa Tengah.

Pertemuan kempok Laki-laki beresiko

klub VespaUntuk memutus mata rantai penularan HIV AIDS yang semakin hari semakin meningkat angka penambahan kasusnya maka Tim dari Grahamitra di bawah koordinasi SSR SPEK-HAM, melakukan kegiatan diskusi komunitas kelompok lelaki beresiko. Kegiatan tersebut dilakukan pada bulan Mei 2013. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk diskusi untuk memberikan Debt colectorinformasi tentang  HIV AIDS, dilakukan melalui kelompok-kelompok seperti pemuda karang taruna, klub motor, pecinta Jeep, klub Vespa dan kelompok debt collector. Didalam kegiatan ini selain berbagi informasi seputar HIV dan AIDS juga berbagi informasi terkait permasalahan yang ada di komunitas. Penjangkauan dan pendampingan pada komunitas-komunitas beresiko juga dilakukan, sebagai bentuk usaha perubahan perilaku pada populasi kunci HRM.

Diskusi IDU (Pengguna Narkoba Suntik)      

Diskusi IDU dilakukan secara roadshow, karena karakterisktik komunitas yang berkelompok dan seringkali ada beberapa kelompok yang tidak bisa dipertemukan karena ada masalah personal sehingga kegiatan diskusi harus dilakukan secara berpindah. Materi yang disampaikan lebih kepada pengetahuan tentang program HR dan IMS.

Diskusi dan Pendampingan Pedila (Perempuan yang Dilacurkan)

Pada kelompok ini disampaikan informasi seputar HIV, IMS serta tambahan ketrampilan berupa membuat aksesoris sebagai bentuk kegiatan pemberdayaan dan sumber pendapatan alternative. Kegiatan pendampingan dilakukan pada semua populasi kunci tidak terkecuali kepada Pedila, bentuk edukasi dari tempat kost satu ke tempat kost yang lain merupakan strategi untuk mensiasati kendala mengganggu jam kerja dari kelompok dampingan. (spek-ham/graha mitra)