Sabtu 20 Juli 2019, SPEK-HAM bekerjasama dengan LPMK Kelurahan Tipes Surakarta menyelenggarakan sosialiasi pembentukan bank sampah di tingkat PKK RT. Kegiatan dilaksanakan di pertemuan PKK RT 02 dan RT 03 RW 05, dihadiri oleh kurang lebih 25 orang peserta.
Selain dihadiri oleh SPEK-HAM, kegiatan tersebut juga dikunjungi oleh LPMK Kelurahan Tipes, Beti Lestari S.Pd dan Anis Purwanti. Keduanya selain anggota LPMK juga sebagai guru Pos PAUD Podang Tipes. Beti Lestari menyampaikan bahwa ada 5 bank sampah yang sudah terbentuk dan memiliki SK, bahkan sudah dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) namun hanya dua yang pernah berjalan. Namun tidak ada perkembangan, saat ini mati suri, tidak ada aktivitas.
Sambil memutarkan film pemilahan sampah, Soepadmin dari SPEK-HAM menjelaskan tentang pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga. Mengingat kondisi Putri Cempo yang semakin banyak gunungan sampah, sehingga kesadaran untuk mengurangi sampah harus dimulai dari rumah tangga. Di setiap rumah bisa menyediakan kantong kresek bekas untuk memilah kertas, botol plastik, dan plastik lainnya.
Nila Puspaningrum selaku manajer Divisi Penghidupan Berkelanjutan SPEK-HAM menyampaikan tentang kemanfaatan bank sampah yang sudah dirasakan oleh kelompok di wilayah lain. Misalnya di Kelurahan Kemlayan ada yang hasil penjualan sampah digunakan untuk koperasi simpan pinjam, di Kelurahan Sewu ada yang ditukar dengan sembako/pulsa listrik, serta di Kestalan digunakan untuk kegiatan sosial seperti baksos di panti jompo, panti asuhan dan tetangga yang membutuhkan. Perempuan bisa menjadi penggerak dalam kegiatan bank sampah, karena sehari-hari dekat dengan aktivitas memilah sampah rumah tangga. Hasil dari bank sampah juga sudah banyak yang dimanfaatkan oleh perempuan dalam menambah pendapatan.
Antusias peserta sosialisasi ditunjukkan dengan menyanyi Lagu Ayo Memilah Sampah bersama-sama diiringi tepuk tangan meriah. Beti dan ibu-ibu PKK akhirnya sepakat akan menggerakan penimbangan sampah kembali. Bahkan sudah di rancana program bank sampah yang terintegrasi dengan PAUD. Pada hari Jumat tanggal 25 Juli dan tanggal 28 Juli 2019 akan dilakukan pengumpulan dan penimbangan sampah an organik Pos PAUD Podang RW 3 Kelurahan Tipes. (Pakdhe/Nila)
Menindaklanjuti pertemuan pada Mei lalu yang berisi agenda rapat koordinasi untuk pelaksanan program tahun 2020, maka di bulan Juli ini dilakukan lagi pertemuan multistakeholder pada Kamis (18/7) bertempat di ruang rapat sekda Kabupaten Brebes. Diskusi diikuti oleh beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan berbagai temuan di antaranya adalah angka kemiskinan menurun 17,17% tetapi di semua wilayah juga mengalami penurunan. Indeks kesehatan juga menurun tetapi ini juga di terjadi semua wilayah.
Pertemuan bertujuan untuk menegaskan lagi komitmen pemerintah kabupaten dalam program penurunan angka kemiskinan dengan melibatkan warga secara aktif. Beberapa upaya pembangunan infrastruktur dilakukan oleh pemerintah serta pemberdayaan masyarakat desa dengan pendampingan dari SPEK-HAM.
Beberapa komitmen yang dijalani oleh beberapa OPD di antara lain, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dalam tahun anggaran 2019-2020 membangun jembatan Karang Sari, peningkatan jalan Kedungabad di rencana kerja 2020, serta peningkatan jalan Desa Wlahar menuju Desa Tegal dengan anggaran tahun 2019. Dinas Perhubungan membangun penerangan jalan di lima titik Desa Wlahar dan Pamulihan.
Dinas Perwaskim dengan jambanisasi 100 unit, di Desa Pamulihan yang sudah dimasukkan dalam tahun anggaran 2020. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Wlahar 3 unit dari dana APBD dan 50 unit dari APBN sebesar @17,5 jt, Desa Pamulihan 3 unit dari APBD dan 50 unit dari APBN, Desa Cenang 3 unit dari dana APBD kabupaten.
Masih terkait dengan Dinas Perwaskim saat ini tengah mengolah lima kelurahan, pada 2018 sanitasi pembuatan jamban di Desa Pamulihan 106 unit dan sudah selesai 100%. Sedangkan tahun 2019, Desa Pamulihan mengadakan pensertifikatan tanah sejumlah 1000 bidang tanah, Desa Wlahar 600 bidang tanah.
Dinas Kesehatan dalam laporannya memaparkan terkait soal stanting belum melihat secara khusus wilayah per dusun dan masih melihat pendanaan secara keseluruhan. Dinas kesehatan hanya menyampaikan bahwa ada dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang bisa diakses untuk program kesehatan ibu dan anak.
Bantuan kendaraan roda tiga dan pompa air diberikan oleh dinas pertanian, dan pernah dipinjamkan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT). Pompa air terdekat ada di Desa Mokja, sedangkan di Desa Wlahar ada empat traktor yang dipinjam oleh masyarakat. Dinas pertanian, menurut penuturan Joko, sudah melakukan kerja sama dengan SPEK-HAM untuk penambahan kawasan sereh wangi lewat e-proposal yang disediakan oleh dinas.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sudah melakukan kerjasama dengan SPEK-HAM untuk penambahan kawasan tanaman sereh wangi lewat e-proposal yang ada di dinas. Kemudian disetujui pada tahun 2017 ada penambahan kawasan Watugeni dan Maju tani sebagai pengembangan lewat e-proposal bersama dinas. Tahun 2018 dana sudah turun, karena belum siapnya lahan kemudian usulan dicoret. Di tahun 2020 akan ada lagi peluang e-proposal untuk mengusulkan sarana pasca panen yaitu rumah penyulingan. Untuk lokasi harus tepat seperti yang disampaikan dalam proposal. Kemudian untuk pengolahan produk hilir minyak atsiri bisa mengajukan e-proposal dengan menyampaikan jumlah kebutuhan pengolahan produk hilir.
Dinas Peternakan rencananya hendak memberikan bantuan ternak kambing, karena disyaratkan by name by address, tidak ada kesesuaian maka belum bisa dilakukan karena dikhawatirkan tidak tepat sasaran. Sedang Dinas Koperasi telah melakukan pelatihan untuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tentang manajemen usaha, studi banding ke Yogya untuk peningkatan UMKM pengembangan minyak atsiri. Saat ini dinas masih membuka peluang untuk kelompok tani jika butuh pelatihan bisa mengajukan proposal dengan syarat kelompok yang hendak mengakses sudah jelas keberadaannya.
Peluang datang dari Dinas Penanaman Modal dan PTSP yang masih berkomitmen bahwa kalau ada proposal pengajuan dari bawah, akan diakomodasi namun sampai saat sekarang proposal belum ada yang masuk sehingga tidak bisa dianggarkan.
Pada kesempatan diskusi, Nila Puspaningrum dari SPEK-HAM menceritakan tentang program pemberdayaan ekonomi yang dilakukan di Kabupaten Boyolali yakni di Desa Cluntang dan Musuk tentang pengolahan mawar serta pendampingan BUMDES. Sedangkan Endang Listiyani menghimbau kepada stakeholder terkait, karena kebanyakan program yang diminta oleh masyarakat adalah pembangunan jalan dan jembatan, maka haraoannya pemerintah bisa terjun langsung melihat situasi dan kondisi real di masyarakat dan wilayah yang dibangun.
Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM memberikan masukan pada pertemuan tersebut dengan menyampaikan beberapa pandangan terkait lembaga donor yang selama ini mendampingi lembaganya dan berharap tidak ada kecurigaan dari pemerintah. “Jangan ada pikiran buruk bahwa LSM (NGO) hanya merecoki pemerintah. Kami berkomitmen bisa bekerja sama dalam pembangunan,”pungkasnya. (nila/red)
SPEK-HAM bersama masyarakat Desa Pamulihan dan Wlahar melakukan audiensi kepada Bupati Brebes, Jumat (19/7). Namun karena bupati sedang menghadiri undangan dari Kemendagri maka rombongan diterima oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Brebes dan pemangku kebijakan lainnya seperti Baperlitbangda, Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Endang Listiani, pengurus SPEK-HAM dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa bagi masyarakat Desa Pamulihan dan Wlahar, sowan kepada bupati adalah kebanggaan.
SPEK-HAM dalam mandatnya memperjuangkan pemenuhan kebutuhan dan hak dasar masyarakat, salah satunya melakukan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan yang diusung ada tiga isu yakni layanan hukum gratis dalam penanganan kasus kekerasan thd perempuan, kesehatan reproduksi dan pemberdayaan ekonomi. “Di Brebes kami masuk melalui pintu pemberdayaan ekonomi, potensinya adalah pertanian dan peternakan terpadu. Kami bekerja di Brebes sejak 2014, melihat potensi lahan luas namun belum tergarap,” terang Endang Listiani
SPEK-HAM pernah bekerja sama dengan kedutaan Australia pada tahun 2016 dan sekarang bekerjasama dengan kedutaan New Zealand mengupayakan sumberdaya untuk mengembangkan potensi di Brebes. Melihat potensi atisiri dapat dikembangkan di Brebes, maka pada tahun 2019 SPEK-HAM mengembangkan di kawasan 46 ha dan akan menjadi kawasan atsiri organik. Program ini bertujuan untuk memeratakan pembangunan di desa terpencil. Lokus wilayah di tiga dusun yaitu Kalibanteng, Kedungabad, Kedungringin yang merupakan wilayah terpencil.
“Saat ini, kami berupaya mempertemuan masyarakat secara langsung dengan bupati. Pada pertemuan setiap 3 bulan dengan dinas-dinas terkait kami sudah mensinergikan program-program di tiga desa sebagai upaya penanggulangan kemiskinan,”imbuh Endang Listiani.
Beberapa program diajukan di 2019 dan 2020. Sebagai upaya antisipasi, melalui audiensi pihaknya berharap supaya program yang sudah direncanakan tersebut dapat direalisasikan. “Kawasan atsiri ini juga ke depan diharapkan dapat menjadi eduwisata, sudah ada budidaya sereh wangi, penyulingan dan pembuatan produk hilir sabun dan karbol,”papar Endang Listiani.
Rasono, warga Desa Wlahar yang turut dalam audiensi kepada bupati di rumah dinas bupati menyatakan kegembiraannya selama ini didampingi oleh SPEK-HAM dan merasakan hasil dari budidaya sereh wangi dengan pembuatan sabun sereh wangi. Namun karena pertanian yang menjadi penyangga perekonomian dirinya mengemukakan jika panen masih menggunakan tenaga pikul dengan jarak 5 km. “Dengan adanya kondisi tersebut kamu berharap bantuan kebijakan pemerintah kabupaten untuk pembangunan jalan dan jembatan sebab jika menggunakan tenaga manusia biayanya terlalu besar. Kami juga mengharakan dibangunnya jalan poros lingkar Wlahar-Pamulihan menuju agropolitan, hanya bisa dilakukan pada musim kemarau untuk mengangkut material,”jelas Rasono.
Jawaban didapat dari Dinas Pekerjaan Umum bahwa ada beberapa kegiatan yang sudah dilakukan di Wlahar yakni pemabngunan jembatan di Desa Karangsari berbiaya 2 milyar, jembatan Dukuh Wlahar berbiaya 2,4 milyar serta jembatan di Desa Kedungabad, semua dilakukan di tahun anggaran 2018 dan pihaknya terus melalukan pembangunan jembatan. “Untuk tahun 2020, kami akan membangun atau menyempurnakan beberapa jembatan yg ada,”terangnya.
SPEK-HAM dan masyarakat desa pamulihan dan wlahar saat audiensi
Ia menambahkan bahwa bidang Ciptakarya sudah melaksanakan pengaspalan jalan Desa Wlahar- Buntrak ppada 2018, peningkatan jalan Balai Desa Wlahar 2019, 2020 peningkatan jalan Kedungabad- Wlahar, peningkatan jaringan perpipaan pada rencana kerja 2020. Pada 2018 juga ada kegiatan Pamsimas. ”Jalan lingkar poros dari wlahar pamulihan tembus ke Agropolitan akan kami survey terlebih dahulu,” pungkasnya.
Dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menyampaikan bahwa beberapa kegiatan sudah dilakukan di wilayah tiga desa tersebut. Kegiatan lebih khusus pada usaha untuk mendukung kegiatan pertanian di sana. Di Desa Pamulihan saat ini ada 16 kelompok tani. Aset atau bantuan yg sudah ada yakni beberapa alat pertanian, dan dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan juga dapat diakses di luar kelompok. “Tahun 2019 belum ada kegiatan fisik di dua wilayah desa tersebut namun tahun 2020 jalan usaha tani akan coba kami usulkan,namun sebelumnya akan kami lakukan verifikasi/survey terlebih dahulu. Kita akan rencanakan untuk jalan usaha tani dengan panjang 500 meter,”terangnya.
Rasono kembali mengimbuhkan bahwa jika tahun 2020 disebutkan bahwa ada pembangunan jalan usaha tani, yang lebih utama adalah pembangunan jembatan. “Ini bagi kami penting sebab kalau jalannya rusak asal ada jembatan masih bisa dilalui,”pungkasnya. (nila/red)
Pada Sabtu (19/7), Komunitas Sereh Wangi Kabupaten Brebes menyelenggarakan pelatihan produk toiletries bersama SPEK-HAM. Sebelumnya SPEK-HAM juga telah mendampingi dalam pelatihan sabun sereh wangi. Beberapa pengalaman didapat seperti diungkapkan oleh Ibu Tini dari Desa Karangsari bahwa usai pelatihan produk tidak bisa langsung jadi melainkan masih terkendala sabun yang terlalu pekat/kental dan bingung cara pengemasannya. Pengalaman serupa datang dari Ruminah asal Desa Kedungabad, namun ujicoba sabunnya sulit mengental (terlalu encer) tetapi setelah produksi tiga kali, sudah meraup angka penjualan sekitar 1,5 juta.
Lain lagi pengalaman Puji dari Desa Karangsari, sudah ribuan produk sabun dihasilkan dan mengeruk keuntungan sekitar Rp. 3.000.000. Uang tersebut diputar lagi untuk membeli alat dan bahan-bahan. Ia menambahkan bahwa sabun sereh banyak diminati masyarakat karena promosi selalu gencar lewat medsos yakni di FB dan semua anggota kelompok ikut mempromosikan. Hal senada diungkapkan oleh Warni dari Desa Kedungabad bahwa dengan adanya pelatihan sabun sereh wangi menyenangkan dan dapat pengalaman banyak dan berharap kelompoknya bisa mandiri. Saat ini usahanya kelompok ini telah menghasilkan produk sekitar 1.500 pcs.
Dari pihak Baperlitbangda Kabupaten Brebes, pendapat tercetus dari Abu, dengan berucap syukur karena melalui upaya pelatihan dalam rangka pemberdayaan ini diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan. Menurutnya pelatihan produk hilir olahan sereh bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan harapan pemerintah kabupaten, kalaupun sudah tidak ada pendampingan dari SPEK-HAM usaha masyarakat tetap bisa jalan sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. “Baperlitbangda akan melakukan penguatan lewat pelatihan maupun penguatan manajemen. Tanggal 28 nanti akan ada pameran produk sereh di Jakarta yang diangkat produk olahan dari sereh wangi. Ke depan akan dikembangkangkan potensi ekonomi lewat program klaster atsiri karena sudah melibatkan beberapa desa maupun kecamatan,”ungkap Abu.
Pelatihan Toiletries, Karbol dari Sereh Wangi
Program pelatihan ini mendapat dukungan dari Pemkab Brebes dan memiliki muatan motivasi untuk pengembangan produksi yang diharapkan bisa menyebar ke seluruh wilayah dan lini seperti bisa dipasarkan di hotel, rumah sakit dan lain sebagainya. Demikian diungkapkan oleh Nila Puspaningrum dari SPEK-HAM. Terkait upaya promosi, Nila menyampaikan bahwa bisa dilakukan melalui medsos seperti yang selama ini telah dilakukan dan jangan lupa untuk mengurus ijin usaha. Nila menekankan pula untuk para peserta memperhatikan pencatatan bahan dan cara pembuatan.
Bambang, yang memfasilitasi pelatihan pembuatan toiletries menyatakan bahwa di awal akan membentuk tujuh kelompok, dan jika mau memproduksi dengan serius maka harus tahu pasar. Produk harus ramah lingkungan, termasuk packingnya. Menurutnya, banyak produksi dibuat dari sereh wangi karena alami, misalnya produk pengusir nyamuk. Selain itu. Limbah produk sereh wangi bisa digunakan untuk pakan ternak, dengan mencampurnya dengan tempe lalu dikeringkan.
Terkait pembuatan toiletries karbol, berasal dari asam karbonal. Karbol bermanfaat sekali untuk rumah sakit, untuk sterilisasi. Dibanding pembersih lantai sintetis, karbol lebih bermanfaat karena mengandung banyak mikroba. Sedangkan fungsi karbol adalah untuk membersihkan lantai dan membunuh mikroba, serta membersihkan kamar mandi agar tidak licin serta cocok untuk rumah tangga dan rumah sakit.
Usai pelatihan pembuatan toiletries, peserta dari Desa Karangsari langsung mempraktikkan bikin karbol sereh wangi pada tanggal 20 Juli dan akan dimulai dengan kemasan saset. Sedangkan peserta dari Desa Kedungringin dan Kedungabad melakukan praktik dan rencana mau dijual kepada anggotanya dulu pada akhir Juli. Sedangkan utusan dari Desa Larangan hendak mengumpulkan modal dari iuran anggota untuk membeli bahan dan alat selanjutnya memasarkan produk lewat online dan offline serta kebutuhan menambah nggota kelompok serta membuat wadah sekretariatan.
Pertemuan dengan pelatihan tersebut kemudian menyanggupi kesepakatan bahwa perwakilan Desa Karangsari, Larangan, dan Kedungabad produk toiletries karbolnya pada tanggal 25 Juli siap untuk dipamerkan pada acara yang dihelat Baperlitbangda, masing-masing memproduksi 10 botol bersama produk sabun sereh wangi. (nila/red)
Pertemuan kader kespro se-Kecamatan Bayat di Pendapa Kecamatan pada Selasa (16/7) dalam rangka konsolidasi dan pembentukan pengurus mengemuka dengan berbagai temuan. Rapat konsolidasi yang sedianya bertujuan untuk memberikan materi pengetahuan tentang pendampingan kasus kemudian diisi dengan pengetahuan tentang skizofrenia atau kesehatan mental. Astuti, narasumber dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya menyatakan tentang apa itu skizofrenia atau penyakit gangguan kejiwaan serta ciri-ciri dan deteksi dini gangguan kejiwaan.
Stigma yang melekat kepada Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) memperparah sehingga rentan menjadi korban kekerasan. Beberapa kader kespro mengemukakan masalah terkait pendampingan terhadap ODGJ yang ada di desa mengalami kesulitan sebab belum adanya penerimaan dari keluarga. “Juga ada kasus ODGJ yang hanya tinggal bersama ibunya yang sakit stroke sehingga tidak ada yang mengantar tatkala harus kontrol ke RSJ,” tutur salah seorang kader.
Kesadaran ODGJ terkait perlunya pengobatan yang rutin juga terkendala pemahaman yang salah, dan bahkan sikap “denial” penolakan atas penyakit tersebut datang dari ODG sendiri. “Ya tergantung bagaimana ibu-ibu ini membahasakan obat bisa dengan ‘vitamin cantik’ atau ‘obat ganteng’, seperti pengalaman yang tadi diceritakan salah satu kader, semua bahasa bisa digunakan,”terang narasumber. Menurutnya, jika tilik diri ODGJ sudah baik karena berobat teratur, maka akan lebih mudah untuk dilakukan sosialisasi terkait kespro misalnya, atau pemberdayaan lain dengan berkomunitas.
Kehamilan Risiko Tinggi Ditemukan di Kecamatan Juwiring
Rapat dan konsolidasi juga diselenggarakan di Kelurahan Misren (22/7) Kecamatan Juwiring, ada temuan yakni perempuan yang dinyatakan risiko tinggi dalam kehamilan mempunyai penyakit kanker payudara dan menginjak usia 40 tahun, menginginkan hamil kembali. Dan memang kemudian hamil dan saat ini usia kehamilan lima bulan dan dalam kondisi sakit kanker payudara. Dan pengobatan masih berlangsung sampai saat sekarang. Saat ini kondisi kehamilannya baik-baik saja.
Para kader kespro se-Kecamatan Juwiring pada saat rapat konsolidasi
Ada lagi temuan kasus di Kelurahan Misren, anak di bawah dua puluh tahun. Di usia 16 tahun, kemudian setelah melahirkan anaknya dirawat oleh orang lain, kemudian kehamilan kedua anaknya dirawat pula oleh kerabatnya. Dan kehamilan ketiga ini anaknya dikasihkan ke orang, dengan bilang ke masyarakat jika diadopsi.
Terkait hukum legal dan adat, Elizabeth Yulianti, dari program Ipas sekaligus lawyer SPEK-HAM kemudian menjelaskan tentang hal tersebut bahwa adopsi ada hukumnya. Terkait peran serta masyarakat, pun bidan desa sudah menyarankan dan menasihati yang bersangkutan agar tidak mengalami kehamilan lagi sehingga mengurangi risiko kematian ibu. (red)
Atik Tri wahyuni sedang berbagi pengalaman di depan staf SPEK-HAM di Friday Morning
Atik Tri Wahyuni dan Novka, relawan dan relawan magang di Yayasan SPEK-HAM yang beberapa waktu mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan selama seminggu di Jakarta berbagi pengalaman mereka di Friday Morning, Jumat (12/7). Novka, relawan magang merupakan paralegal yang menyampaikan materi pelatihan berupa pengetahuan Hak Asasi Manusia (HAM) dasar yang mencakup tentang hak-hak warga negara terlepas dari ras, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama, kepercayaan, politik, status ekonomi, orientasi seksual, ekspresi gender dan sebagainya. Selain itu, Novka memaparkan tentang Hak Ekosob Sipol. Atik dan Novka akan menularkan pengetahuan yang dipunyai mereka untuk kelompok kunci dalam minggu ini.
Setelah melihat praktik presentasi dan fasilitasi dari dua relawan, lalu beberapa masukan diberikan kepada mereka, seperti yang diungkapkan oleh Rahayu Purwaningsih, direktur SPEK-HAM dengan memberikan saran bagaimana cara melakukan presentasi yang dapat menjelaskan lebih detail, dan presentasi dapat berlangsung lebih dari 30 menit. Rahayu Purwaningsih menekankan betapa pentingnya memberi contoh dalam setiap kalimat yang berdefinisi. Ditambah lagi, perlu menyampaikan kata kunci dan ada baiknya memasukkan gambar atau animasi dalam presentasi supaya lebih atraktif.
Nila Puspaningrum, salah seorang manajer program memberikan masukan tentang pentingnya menggunakan meta-plan, sebab dengan adanya meta-plan maka peserta masih bisa mengingat-ingat materi yang sudah dijelaskan sebelumnya ketika slide sudah berubah. Komunikasi yang efektif terhadap peserta dalam bentuk sharing pengalaman dengan memberi pertanyaan balik, menjadi hal yang juga penting diperhatikan. Perlu pencatatan pendapat dari peserta supaya mereka merasa dihargai dan didengarkan.
“Ketika menyampaikan perlu adanya tahapan fasilitasi dimana presentator harus belajar tentang tahapan bagaimana membuat presentasi yang baik karena dapat memberikan kesan yang baik terhadap audiens dan menarik audiens. Selain itu memposisikan di posisi yang sama, presentator perlu untuk tidak bersikap menggurui. Presentator harus menciptakan suasana seolah semua pihak sama-sama belajar tidak ada murid dan guru,”Fajar, salah seorang staf memberikan pendapatnya.
suasana Friday Morning, berbagi pengalaman dan pengetahuan
Terakhir adalah masukan dari Antonius Danang Wijayanto, manajer program Ipas bahwa presentasi dapat dikemas berupa permainan yang seru supaya audiens atau peserta tetap fokus dan adanya komunikasi timbal balik terhadap peserta satu dengan yang lainnya. Dari permainan tersebut, kemudian presentator dapat mengunci poin dari permainan yang dilakukan, agar peserta menjadi hikmat dari informasi atau pengetahuan yang telah didapat. (pandu-mgg)
Pada Kamis, 11 Juli 2019, Bank Sampah “Sumber Rejeki” Kelurahan Kemlayan menyelenggarakan pertemuan rutin dua bulanan oleh anggota-anggota perwakilan demplot dari berbagai komunitas. Tidak hanya itu, pertemuan tersebut juga didatangi oleh perwakilan kelurahan setempat. Umumnya, pertemuan rutin tersebut melatih dan memberikan edukasi terhadap anggotanya tentang penanaman tumbuhan pertanian.
Dalam pertemuan ini, topik yang dibahas adalah cara membuat pupuk kompos berbentuk cair dari limbah sayur-sayuran. Pelatihan tersebut dilakukan dikarenakan masih banyak limbah sayuran yang hanya dibuang dan dibiarkan busuk begitu saja, padahal sebenarnya masih bisa dipergunakan untuk digunakan menjadi pupuk kompos. Limbah sayur pun mudah untuk didapatkan, dimulai dari limbah sayur rumah tangga dan warung makan atau restoran setempat. Jadi pembuatan pupuk kompos ini termasuk mudah karena adanya resources yang melimpah.
Pertemuan tersebut didatangi oleh dua tamu dari Belgia. Dua orang berasal dari Belgia salah satunya yaitu Charlote, yang bekerja di Rikolto International. Rikolto merupakan sebuah organisasi yang memfokuskan pembangunan terhadap petani-petani daerah dan meningkatkan persediaan pangan untuk masa depan. Sedangkan satu lagi, Marica, merupakan jurnalis di Belgia. Mereka berdua bekerja sama dan sedang di Indonesia untuk pergi ke desa-desa setempat dalam rangka membuat sebuah penelitian terkait petani-petani setempat.
Berbagai pengalaman dan tanya jawab juga terjadi pertemuan ini. Di antaranya adalah Charlote dan Marica menanyakan bagaimana warga sekitar merawat dan mengembangkan tanaman-tanaman miliknya sendiri. Selain itu mereka juga bertanya apakah ada perubahan pola makan di daerah sekitar, menjadi lebih sehat (menambahkan sayur menjadi makanan keseharian). Hal ini sebab banyak warga yang sudah menanam tanamannya di rumah. (pandu-mgg)
“ Pertanian bawang merah ramah lingkungan, menjadi awal pembelajaran bagi petani Berkah Tani Desa Cluntang , Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali “
Lereng Merapi sebelah timur masih terlihat kokoh, menghijau dan hawa dingin hampir mendekati 20 derajad semakin menusuk tulang para penghuninya. Geliat semangat para penggerak pertanian di pagi hari terlihat ramai menyusuri jalan-jalan kecil desa, pematang ladang, jalan-jalan menuju bukit dengan membawa arit, tali pengikat. Pupuk kandang dipanggul oleh para lelaki. Di belakang berjalan para perempuan yang dengan semangat berjalan kaki dengan baju lengan panjang, sepatu boot, melangkah mantap menatap hamparan lahan pertanian. Di sanalah penghidupan dan kepulan asap dapur diharapkan, hasil-hasil petanian yang dihasilkan dari tangan, doa dan ucapan para perempuan.
Pada Maret 2019, melalui diskusi panjang oleh petani-petani yang tergabung dalam Kelompok Berkah Tani Dukuh Tutup, Desa Cluntang serta diperkuat para mentor Sekolah Tani Tri karya Manunggal dari Rt Jelog, Gondang Tutup yang terdiri dai 10 orang maka disepakati, diikrarkan untuk melakukan kegiatan pertanian ramah lingkungan. Sistem pertanian lebih aman untuk lingkungan, lebih sehat dan menyehatkan tanah. Dengan melakukan serangkaian perawatan dan teknik budi daya pertanian ramah lingkungan berarti mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Di awal-awal tidak mudah menjelaskan tentang konsep ini, tetapi dengan pertemuan-pertemuan, penguatan dari dinas-dinas terkait, maka komitmen itu disepakati dan dituangkan dalam catatan bahwa anggota akan menyediakan lahan pertanian untuk praktik pertanian ramah lingkungan ini
Dari kesepakatan bersama 21 anggota yang tergabung dalam mustahik kelompok Berkah Tani, mereka menyepakati menyiapkan tanah-tanah mereka yang berkisar 300m sampai 750 m untuk praktik budi daya bawang merah ramah lingkungan. Kegiatan pun dimulai dengan pembuatan pupuk secara bersama-sama, PGPR untuk penguat dan penyubur tanah dan juga penyiapan bibit bawang merah unggul. Setiap petani akan mendapatkan 80 kg benih, yang akan ditanam di lahan masing-masing sesuai dengan tahapannya. Tetapi untuk pembelajaran ada praktik kebun bersama di kebun Bapak Jumadi dengan tiga teknik bertani yaitu dengan media tanah, polybag dan mulsa.
Tahapan-tahapan pertanian sudah diterapkan oleh para petani, baik mulai penyiapan pupuk kandang, fermentasi, penyiapan lahan, penanaman bibit, perawatan yang terdiri dari penyemprotan, penyiangan rumput dan juga penghilangan parasit atau kutu jika tanaman diserang kabut. Semua anggota sudah mendapatkan pengetahuan yang sama, dan eksekusi selanjutnya terkembali pada kemampuan, komitmen dan juga niat masing-masing anggota, sehingga hasilnya membutuhkan 75 sampai 80 hari akan terlihat
Kegiatan pertanian ini juga dibutuhkan dokumentasi yang baik. Semua kegiatan dari awal sampai panen, diharapkan pencatatannya juga dilakukan secara rutin baik meliputi data awal mustahik, perawatan yang dilakukan, temuan atau pengalaman menarik, sehingga setiap berkala bisa di jadikan analisa. Para mentor sekolah tani dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing 4 orang dengan melakukan monitoring di 7 sampai 8 mustahik sehingga perkembangan dari para mustahik tani ini bisa terdokumentasi dengn baik dalam bentuk catatan, foto maupun video.
Dalam kegiatan praktik pertanian ramah lingkungan ini juga tidak lepas dari peran para perempuan, istri maupun keluarga dari para mustahik. Mereka terlibat sejak menjadi peserta sekolah tani, praktik membuat pupuk, mempersiapkan lahan, merawat hingga panen tiba. Dari tangan-tangan peremuan serta doa-doa tulus keluarga praktik tanaman bawang merah inipun sampai tiba pada panen. Hari itu tepatnya pada saat idul fitri maupun setelah idul fitri, masing-masing petani mustahik melakukan panen di hari ke 75 maupun ke 80. Tentunya dengan alasan berbagai macam seperti kondisi bawang yang keburu diserang hama maupun serangan kera, atau dengan alasan kalau tanpa pupuk kimia maka diperlukan waktu lebih lama agar bawang merah lebih memiliki bobot.
Dari hasil pengalaman kami ada beberapa hal yang dicatat selama praktik ini dilakukan, antara lain penyiapan lahan yang tidak berbarengan berakibat pada hasil yang tidak sama karena terkait dengan bibit bawang merah yang tidak segera ditanam. Perawatan yang tidak kontinyu khususnya penyiangan rumput liar dan juga penyemprotan yang kurang konsisten antara petani satu dengan yang lain. Penyebab ketiga adalah perlakuan terhadap tanaman oleh beberapa petani, mereka yang intens setiap hari datang untuk melihat perkembangan tanaman tetapi ada beberapa petani yang kurang rutin. Kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh di luar desa berangkat pagi, pulang sore sehingga tanaman kurang terurus. Sedangka perempuan juga harus melihat dan merawat tanaman lainnya sehingga secara tenaga dan waktu tidak cukup.
Tetapi dari praktik yang berlangsung ini setidaknya ada pembelajaran baik dapat dirasakan dari hasil diskusi yang selama tiga bulan ini intens dilakukan. Pembelajaran untuk melakuka kegiatan pertanian dengan modal tidak hanya uang, lahan tetapi doa dan komitmen yang juga harus diucapkan. Yang kedua mereka belajar tentang bagaimana dalam kegiatan bertani harus di managemen dari modal, tenaga, pupuk, dihitung sehingga mereka bisa mengetahui untung dan rugi dalam bertani yang mengarah pada pertanian moderen. Ketiga adalah mereka memiliki pembelajaran bersama yang dihasilkan dari diskusi setiap tahapan bertani dan dilakukan analisa bersama. Analisa berguna sehingga ke depan bisa menjadi modul pembelajaran yang baik dan dari kegiatan ini setidaknya mereka juga punya hasil bawang yang lebih sehat.
Ke depan ini akan menjadi investasi kesehatan. Terkait hasil kiloan dari masing masing mustahik yang naik dari modal bibit 50 sampai 200 persen adalah bonus dari komitmen, kerja keras. Kegiatan ini tak lepas dari dukungan yang luar biasa dari SPEK-HAM selaku pendamping lapangan yang bermitra dengan BAZNAS melalui program Zakat Community Development (ZCD) yang akan menjadi pioneer petanian ramah lingkungan di Desa Cluntang. (noko alee)