Search for:
Penanaman Pohon Jeruk

4 Tahun Gerakan Perempuan KPJ, Menuju Untaian Tanda Cinta Perempuan

Proses panjang dalam sebuah pembelajaran dengan perempuan-perempuan hebat di Kelurahan Joyosuran ini membuktikan bahwa kekuatan terbesar yang sampai saat ini masih terjaga adalah KOMITMEN. Tanpa hal ini, saya selaku CO yang hampir 5 tahun berdinamika dan berproses dengan 20 kader perempuan terbaik ini akan pesimis bisa bertahan di tengah badai ekonomi yang tengah menghantam bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Belum lepas dari ingatan saya, setahun lalu diadakan acara peringatan ulang tahun Kelompok Perempuan Joyosuran ke-3 yang bertajuk “PEREMPUAN MERAWAT KALI,“ Saat ini, kelompok sedang mempersiapkan dan merancang acara besar untuk ulang tahunnya yang ke-4 dengan tema “UNTAIAN TANDA CINTA PEREMPUAN.” Moment ini sekaligus akan digunakan untuk menjadi pengingat gerakan-gerakan perempuan dalam pembangunan di tingkat kelurahan. Bagaimana kelompok ini dilibatkan dalam akses program, baik anggaran maupun kegiatan yang memberikan kemanfaatan langsung maupun tidak langsung kepada perempuan di Kelurahan Joyosuran.

Senam Aerobik
Senam Aerobik

Diawali kegiatan pada 22 November 2015 yang bertema gerakan pengelolaan sampah dan tanaman terpadu perkotaan. Bersamaan dengan momen peringatan HARI POHON INTERNASIONAL, KPJ bersama Pemerintah Kelurahan Joyosuran menggelar berbagai acara sejak jam 07.00 – 10.30WIB. Diawali dengan senam aerobik yang melibatkan 175 orang warga Joyosuran, dilanjutkan sarasehan warga dengan pokok bahasan tentang pengelolaan sampah dan pengelolaan tanaman pekarangan yang bertujuan mengajak warga Joyosuran yang memang sangat minim ruang-ruang publik untuk menampung sampah, untuk bercocok tanam. Strategi pemanfaatan polibek, botol, pralon menjadi media tanam untuk jenis sayuran. Di ulang tahun ke-4 ini, tanaman jeruk menjadi icon utama untuk Gerakan menanam 400 tanaman di Joyosuran untuk 400 keluarga. Tanaman jeruk dipilih karena merupakan tanaman yang mudah tumbuh, tahan panas bahkan cenderung menyukai sinar matahari yang cocok dengan daerah Joyosuran, dan bisa bertahan tumbuh lebih dari 3 tahun.

Sosialisasi Pengolahan Sampah
Sosialisasi Pengolahan Sampah

Gerakan-gerakan yang dilakukan KPJ di Kelurahan Joyosuran tentunya masih mengacu pada visi dan misi kelompok, baik dibidang kesehatan maupun ekonomi. Pengakuan–pengakuan akan keberadaan KPJ juga dilontarkan para tokoh masyarakat di Joyosuran “Setiap event yang melibatkan KPJ atau event yang dilaksanakan KPJ pasti akan berhasil dan memberi dampak kepada masyarakat. Ulang tahun ke-4 yang puncaknya pada 20 Desember memberi harapan bagi KPJ untuk semakin maju, kritis dan memberi manfaat pada masyarakat luas.

Penulis : Sunoko – CO Divisi Sustainable Livelihood

Tiga Pintu untuk 3000 Perempuan

3 Pintu  untuk 3000 Perempuan

(Gerakan Pengelolaan Sampah, Tanaman Pangan dan Koperasi Terpadu Perkotaan)

Berbicara tentang pemberdayaan masyarakat perkotaan berarti akan berbicara, melihat dan mendengarkan kisah-kisah dan pengalaman inspiratif yang akan membuat seakan masuk dalam belantara kota dengan berbagai tantangan, persoalan sekaligus potensi yang luar biasa. Selama hampir 7 tahun, berawal pada 2008, SPEK-HAM telah melakukan pendampingan masyarakat di Kelurahan Joyosuran, yang berada di Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta ini. Wilayah ini terdiri dari 12 RW dan 55 RT, memiliki KK sejumlah 3239, jumlah penduduk sebanyak 10.544 orang dengan komposisi jumlah penduduk perempuan 5.350 orang.

Pengalaman saya sebagai Community Organizer yang telah belajar bersama dengan masyarakat Joyosuran selama kurang lebih 4 tahun menemukan bahwa masyarakat  Joyosuran, terutama perempuan yang luar biasa, didukung juga Pemerintah Joyosuran yang dinamis dan terbuka dalam menerima masukan dan ide-ide dari pihak  luar.

KPJ (Kelompok Perempuan Joyosuran) sejak tahun 2011 menjadi wadah pembelajaran yang kreatif, inovatif serta kritis, memperkuat wacana tentang  issue lingkungan , kebencanaan, gender yang dibalut kemas menarik melalui kegiatan  ekonomi kreatif perempuan. Tiga hal tersebut menjadi perspektif diskuai hangat setiap bulan dalam kegiatan “SEKOLAH KOMUNITAS”. Selama 3 tahun terakhir, Sekolah Komunitas menghasilkan ide dan kegiatan seperti GERAKAN 1000 PEREMPUAN MENYAPU (tahun 2013), GERAKAN PEREMPUAN MERAWAT KALI (tahun 2014), dan tahun 2015 ini KPJ akan melaksanakan gerakan “3 PINTU UNTUK 3000 PEREMPUAN“, yaitu konsep pemberdayaan perempuan di Joyosuran dengan  meningkatkan peran aktif perempuan dalam Kebijakan Pemerintah, praktik dan terlibat dalam pengelolaaan sampah dan tanaman pangan perkotaan, serta wadah usaha ekonomi kreatif perempuan  melalui kegiatan koperasi.

Tiga tahun terakhir, KPJ melihat peluang-peluang lahan yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan penanaman, seperti ; lahan pekarangan, lahan pinggiran kali dan juga taman-taman pojok kampung, serta gang. Misalnya bisa dimanfaatkan perempuan dengan menanam tanaman pekarangan yang juga menjadi kebutuhan penunjang hidup meraka.

griya lilin
Kerajinan Lilin Hias dan Aroma Terapi

Selain dua hal tersebut, perempuan-perempuan Joyosuran juga berpotensi pada bidang usaha kecil rumahan seperti makanan, kerajinan tangan yang menjadi salah satu sumber pendapatan bagi keluarga. Persoalan usaha kecil yang banyak dirasakan oleh perempuan adalah terkait dengan keterampilan dan inovasi produk, jaringan pemasaran, dan modal. Konsep keuangan yang berbentuk Koperasi menjadi salah satu alternatif yang dikuatkan sejak November 2014, dengan harapan akan menjadi salah satu solusi yang strategis. Koperasi ini dikelola dengan modal yang didapatkan dari tabungan swadaya anggota. Tabungan sampah menjadi salah satu sumber keuangan Koperasi serta serapan pinjaman untuk memperkuat usaha perempuan. Konsep ini mulai dipraktikkan di beberapa tempat seperti di RW 3, 12 dan 4. Diharapkan hal serupa juga dilakukan di RW-RW lainnya, tentunya dengan dukungan Pemerintah dan  stakeholders di Joyosuran.

kunjungan LA Galaxy
kunjungan LA Galaxy

 

 

Respon positif dan juga apresiasi masyarakat, baik dari dalam dan juga luar negeri mulai terlihat.  Melalui jejaring social, KPJ mulai dikenal publik. Tulisan-tulisan komunitas juga menjadi strategi untuk mendukung sosialisasi konsep-konsep dan ide KPJ kedepan.  Kunjungan study banding para Walikota dari Monggolia pada tahun 2013 untuk belajar tentang pengelolaan sampah, kunjungan Delegasi Parlemen perempuan dari Timor Leste pada tahun 2014 untuk belajar tentang pemberdayaan ekonomi perempuan, serta  Kedubes Amerika dan team bola dari LA Galaksi tahun 2015 menjadi support dan juga apresiasi atas kerja-kerja keras KPJ di ulang tahun ketiga ini.

Kunjungan Parlemen Timor Leste
Kunjungan Parlemen Timor Leste

Harapan kedepan, KPJ akan lebih terlihat peran dan dukunganya dalam memperkuat ekonomi perempuan yang memiliki perspektif gender dan lingkungan, sehingga manfaat dan semangatnya bisa diwariskan oleh perempuan-perempuan hebat ini kepada generasi muda di Joyosuran. (spekham.org)

penulis : Sonoko Alee – CO Divisi Sustainable Livelihood

editor : Nila Ayu Puspaningrum

Perempuan Merawat Kali

“Membangun kesadarkan warga Kelurahan Joyosuran untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya, serta mengajak para perempuan Joyosuran untuk melakukan pemilahan sampah, terutama sampah non organik yang mempunyai nilai jual, supaya bisa menambah penghasilan keluarga dan memberikan kesibukan positif bagi perempuan Joyosuran.”

SOLO – Minggu (25/01/2015). Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) beserta Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK HAM) dan stakeholder terkait menyelenggarakan suatu acara yang menjadi puncak perayaan peringatan ulang tahun Kelompok Perempuan Joyosuran yang ke-3 “3 Tahun Kelompok Perempuan Joyosuran, Belajar Bersama Masyarakat”.

Flash Mob Dance
Flash Mob Dance

Acara tersebut dimulai sejak pagi hingga malam hari dan melibatkan semua perempuan Joyosuran, tidak terkecuali Bapak-bapak dan anak-anak. Beberapa acara telah terkonsep dengan rapi, mulai dari Flashmob Dance dan Kerja Bakti yang diselenggarakan pada pagi hari pukul 06.30 WIB yang bertempat di halaman Kelurahan Joyosuran serta diikuti oleh kurang lebih 100 perempuan warga Joyosuran. Selesai acara flashmob dance dilanjutkan penanaman tanaman oleh perempuan-perempuan dan laki-laki warga Joyosuran. Tanaman ditempatkan di bantaran Kali Jenes sebagai salah satu bentuk aktifitas dari kegiatan “Perempuan Merawat Kali”.

Cipta Makanan Non Beras
Cipta Makanan Non Beras

Acara selanjutnya yang tidak kalah menarik, yaitu Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang diselenggarakan di rumah salah satu warga Joyosuran. Peserta yang terlibat adalah perempuan-perempuan yang mewakili RT dan RW nya dengan hasil karya cipta masakan non-beras kreasi baru mereka. Acara ini berlangsung hingga menjelang siang hari, sembari juga dilangsungkan proses penjurian Lomba Pengelolaan Sampah.

Proses penjurian lomba pemilahan sampah dilakukan dengan cara mendatangi tempat-tempat warga yang menjadi ketua dari masing-masing kelompok yang mengikuti lomba. Antusiasme warga Joyosuran sangatlah tinggi dalam mengikuti lomba pemilahan sampah tersebut, terbukti dengan banyaknya anggota kelompok yang mendaftar hingga mencapai kurang lebih 8 kelompok dari 12 RW yang ada di Kelurahan Joyosuran tersebut. Proses penilaian begitu panjang, dimulai dengan melihat langsung proses pemilahannya sampai dengan diskusi bersama masing-masing perwakilan kelompok bersama dewan juri yang ditunjuk dari beberapa elemen.

Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Sampah

Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan, malam harinya diselenggarakan acara inti yaitu sarasehan bersama warga Joyosuran yang mengangkat tema “Pengelolaan Sampah dalam Perspektif Lingkungan dan Pencegahan Bencana Banjir”. Acara sarasehan ini diikuti seluruh warga Joyosuran dan ikut serta mengundang narasumber dari Bapak Walikota Surakarta yang diwakilki oleh Bapak Camat Pasar Kliwon, perwakilan dari DKP, perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), serta Ketua PAGAR KAJEN (Paguyuban Warga Rekso Kali Jenes).

Talk show dibuka oleh moderator Nila Ayu Puspaningrum, selaku manajer divisi Sustainable Livelihood dan juga perwakilan dari SPEKHAM. Penampilan-penampilan music dari speky voice, vocal group FORAJOS (Forum Anak Joyosuran) serta mendatangkan band tamu dari Boyolali yang menambah semaraknya acara saraserah pada malam hari itu. Acara sarasehan yang mengangkat program pengelolaan sampah dalam perspektif lingkungan dan pencegahan bencana banjir tersebut memang pantas dilakukan di Kelurahan Joyosuran, karena sampah menjadi salah satu temuan persoalan di daerah tersebut. Berawal dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) pada tahun 2014, bahwa masih ada sampah yang dibuang ke selokan bahkan ke Kali Jenes yang pada akhirnya mengganggu saluran-saluran pembuangan.

Dampak dari pembuangan sampah secara liar sangat dirasakan oleh warga sekitar bantaran Kali Jenes yang dulu kerap terkena banjir. Situasi tersebut memunculkan keprihatinan bagi perempuan-perempuan Joyosuran untuk bisa mengatasinya. Dari masalah-masalah yang telah dihadapi oleh warga Joyosuran tersebut, selama kurang lebih 3 tahun, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) yang bekerjasama dengan SPEK HAM membantu warga Kelurahan Joyosuran untuk menanggulangi masalah sampah dengan berbagai program yang telah dijalankan. Maka dari itu, kegiatan sarasehan tersebut dilakukan untuk bisa menampung dan mendiskusikan berbagai keluh kesah warga mengenai masalah sampah kepada para narasumber yang lebih mengerti untuk penanganan masalah sampah.

Pembahasan masalah sampah dimulai dengan pemutaran film tentang proses pengangkutan sampah perkotaan di Luar Negeri yang sudah tersistematis dengan rapi. Dengan diperlihatkannya film tersebut menjadikan warga Kelurahan Joyosuran yang mengikuti acara sarasehan tersebut mempunyai keinginan agar negaranya atau khususnya kelurahannya sendiri bisa mengikuti proses pengangkutan sampah yang lebih tersistematis seperti dalam video yang diputar.

Diskusi berawal dengan dibukanya sesi tanya jawab oleh moderator, begitu semangatnya antusias warga terbukti dengan banyak warga yang menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah sampah di seputar lingkungan Joyosuran. Ada yang memberi kritikan bagi Pemerintah yang menangani masalah sampah di kota Solo dan ada juga yang menanyakan bagaimana solusi yang tepat untuk menanggulangi masalah sampah di daerah Joyosuran tersebut kepada para narasumber yang bertanggungjawab dan berkompeten dalam bidangnya. Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan oleh para narasumber menjadikan warga mulai tahu dan mendapatkan tambahan ilmu tentang bagaimana mengelola sampah perkotaan terutama bagi rumah tangganya sendiri.

Sarasehan berlangsung dengan meriah dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dan ditambah dengan pembawaan beberapa narasumber yang sedikit humoris semakin menambah hangatnya acara malam sarasehan tersebut.

Sebelum penutupan acara sarasehan pada malam hari tersebut, diadakan sesi pengumuman pemenang Lomba Pengelolaan Sampah, Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang penjuriannya dilakukan pada pagi hari. Masing-masing lomba diambil Juara I, II, III dan Juara Harapan. Peserta yang memenangkan perlombaan tersebut masing-masing mendapatkan Trophy Walikota Surakarta, Sertifikat, Uang Pembinaan, serta beberapa bingkisan menarik. Acara sarasehan tersebut ditutup dengan ditampilkannya pertunjukan musik. (Defita & Murni – Mahasiswa Sosiologi UNS/spekham.org)

Suara Perempuan Joyosuran untuk Kali Jenes

Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Lingkungan Berperspektif Bencana

Sampah dan pengelolaanya masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di wilayah perkotaan padat penduduk. Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon yang termasuk sebagai wilayah padat penduduk juga merasakan dampak dari keberadaan sampah. Sampah menyebabkan tersumbatnya saluran pembuangan  limbah rumah tangga, yang sering mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Air yang seharusnya masuk saluran pembuangan menjadi tergenang di depan rumah warga, hal ini membuat warga tidak nyaman untuk beraktifitas.

Sejak tahun 2010, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) bersinergi dengan multi stakeholder di tingkat Kelurahan melakukan berbagai kegiatan untuk mengajak masyarakat untuk peduli terhadap persoalan lingkungan melalui gerakan bersama yang dinamai “Gerakan Cinta Bumi”. Gerakan ini mengajak keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik yang mudah diurai dengan non organik yang sulit diurai, selain itu pemilahan sampah juga dapat menambah ekonomi keluarga. Gerakan Cinta Bumi juga meliputi : memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk kegiatan tanaman pangan, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga,

Sejalan dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ), Pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Pemerintah Kelurahan Joyosuran merancang Program “Pengelolaan Kali Jenes”, dengan merevitalisasi Kali Jenes yang selama ini kotor oleh limbah, baik rumah tangga maupun industri kecil. Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta “Air minum di sekitar Kali Jenes mengandung bakteri e-colli, karena tingkat pencemaran Kali Jenes sudah sangat tinggi.

(http://www.solopos.com/2014/08/28/pencearan-air-di-solo-50-sumur-di-sekitar-kali-jenes-tercemar-limbah-530862).

Program pengelolaan Kali Jenes dicanangkan oleh Pemerintah Kelurahan pada tanggal 22 September 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Acara tersebut dihadiri oleh unsur masyarakat, LPMK, LSM, kelompok-kelompok masyarakat, dan CSR (Pabrik Batik, Konveksi, BUMN, Provider Telekomunikasi, dan Bank). Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kelurahan mengukuhkan dengan pembentukan Paguyuban Merawat Kali/Lepen dengan pengurus :

Ketua               : Bapak Sukarno Hendri

Wakil Ketua     : Elfian

Seketaris         : Nana Misdiati (KPJ), Triyono

Bendahara      : Atik Sri Martini (KPJ)

Pelaksana        : Dwi S (KPJ), F. Sulastri Admoyo (KPJ), perwakilan dari 12 RW

Tim Monev      : H. Umar Said (Perwakilan CSR)

                             Pemerintah Kelurahan bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Konsep pengelolaan Kali Jenes akan melibatkan seluruh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan kali. Sehingga semua warga, baik yang berada di pinggir kali maupun yang tidak, akan bertanggung jawab untuk memelihara kebersihannya. Dalam paparannya, Lurah Joyosuran Bapak Suwarno  menyampaikan bahwa program ini akan dilakukan mulai tahap jangka pendek, menengah dan panjang. Kegiatan akan dimulai dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan tentang pengelolaan sampah pada masyarakat luas. Kegiatan akan dijadwalkan pada awal Oktober 2014. KPJ memiliki peran yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tentang pengelolaan sampah yang dapat disinergikan dengan Gerakan Cinta Bumi.

Berbarengan dengan kegiatan sosialisasi, akan dilakukan pemasangan tong sampah di sepanjang Kali Jenes yang panjangnya 750 M, dengan kebutuhan tong sebanyak 60 buah. Ada komitmen dari CSR yang menjadi salah satu sumber pendanaan yang akan membiayai kegiatan ini, selain juga ada anggaran dari APBD Kota Surakarta tahun 2015. Selain melibatkan warga Joyosuran, pengelolaan Kali Jenes juga akan dikoordinasikan dengan wilayah yang berbatasan dengan Joyosuran yaitu  Kelurahan Dawung  dan kelurahan Pasar Kliwon.

Semoga hasil pemetaan partisipatif ini tidak hanya sekedar data dan temuan masalah, tetapi menjadi sumber-sumber perencanaan program, sehingga suara-suara perempuan bisa lebih didengar melalui program-program berperspektif gender, bencana  dan berbasis lingkungan.

Oleh Noko Alle (CO Divisi Sustanable Livelihood)

Photo : Joshua Intan

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK TUMBUH & KEMBANG BAGI ANAK“

Sosialisasi hak-hak anak dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2014.

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK  UNTUK TUMBUH & KEMBANG  BAGI  ANAK“

Bulan Juli datang kembali, meski sebagian orang juga tidak peduli atau bahkan tidak mengingat, tetapi anak-anak di RW 03 Tempen Joyosuran ; seperti Agnes, Mayanda Sari, Putri dan Lia pada bertanya  “Mbak, apa tidak ada kegiatan lagi untuk anak-anak seperti tahun lalu ?” Sesaat saya berfikir, apakah kegiatan setahun lalu begitu berarti bagi mereka hingga mereka masih bisa mengingat dan merasakan akan arti dunia anak. Saya berfikir perlu untuk sekedar mengingatkan kepada masyarakat Joyosuran dan sekitarnya bahwa masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan hak-haknya, khususnya hak kesehatan dan pendidikanya.

Saya pun memulai melakukan lobi kepada Pengurus KLA, Bapak Budi, dan juga Pengurus PPT, Bapak Gito. Mereka menyetujui kegiatan yang saya usulkan yaitu sosialisasi hak anak. Bahwa anak memiliki hak untuk partisipasi dan berekspresi,  juga memberikan pengetahuan tentang hak-hak anak kepada para orang tua.

Langkah selanjutnya, kami bersama beberapa Pengurus Forum Anak Joyosuran (Forajos) berdikusi pada bulan Agustus 2014, dimana kami menyepakati ada 2 kegiatan untuk peringatan Hari Anak Nasional, yaitu pada hari Minggu, 31 Agustus dan 14 September 2014. Kegiatan tanggal 31 Agustus akan diisi dengan pelatihan dan workshop pengelolaan sampah menjadi barang kerajinan dan workshop/sosialisasi pengelolaan sampah. Sedangkan tanggal 14 September, kegiatan penjurian lomba kreatifitas berbahan limbah plastik, lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD, serta sosialisasi hak-hak anak yang akan mengundang narasumber dari KLA dan SPEK HAM.

Kegiatan tanggal 31 sudah berjalan dengan cukup menarik, meskipun antusias peserta kurang maksimal karena peserta hanya hadir 65%. Sedangkan untuk tanggal 14 September, peserta cukup banyak, hampir 80% undangan dating. Mereka merasakan bahwa kegiatan seperti ini cukup memberikan manfaat dan juga menginspirasi kepada anak-anak dan remaja. Isian materi Sosialisasi Hak Anak 4tentang pentingnya pemenuhan hak-hak anak juga cukup di respon positif, bahkan ada yang baru tahu ternyata orang tua harus memenuhi hak-hak anak. “Mbak acaranya sangat bermanfaat lho, tahun depan diadakan lagi ya?” begitu kata Bu Desi dari RW 04. Dalam kegiatan ini, selain ada respon dari Bapak Gito selaku Ketua PPT (Pos Pelayanan Terpadu) dan juga Ibu F Sulastri A selaku Ketua KPJ. Hadir sebagai  narasumber dari SPEK HAM,  mbak Nila Ayu Puspaningrum,  yang memperkuat pengetahuan ibu-ibu dan anak-anak  tentang hak-hak anak dan juga pemahaman para orang tua bahwa tempat tumbuh dan berkembang bagi anak adalah dalam keluarganya.

Setelah sosialisasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman hasil penjurian  tentang tulisan anak oleh Mas Nocko selaku community organizer di Joyosuran.

Semoga kegiatan ini bisa berlanjut dan respon masyarakat Joyosuran semakin banyak dan positif. Selaku Pengurus KLA dan Pendamping Forajos, kami ucapkan banyak terimaksih .

Sosialisasi Hak Anak 3Sosialisasi Hak Anak 2

Ditulis oleh Ekky Puji Lestari, Pengurus KLA dan Pendamping Forajos.

(edit : nocko/photo : onie/spekham.org)

“Warga Heboh Karena Banyak Wartawan. Ada Apa di Joyosuran?!”

Jam 10 tepat, iring-iringan tamu dari Parlemen Nasional Timor Leste tiba di Pasar Kabangan Solo. Setelah setengah jam kami menunggu, kemudian kami mengantar rombongan yang berjumlah 10 orang tersebut ke tujuan pertama yaitu Batik Merak Manis di Laweyan untuk melihat proses pembuatan batik, dari proses membatik sampai packing dan dipajang di show room. Selama proses berlangsung, sesekali terjadi dialog antara tamu studi banding dengan Bapak Heri, pengelola Batik Merak, tentang bagaimana usaha ini dibangun dan juga  perkembanganya. Kegiatan studi banding diakhiri dengan berbelanja di show room Merak Manis yang memajang baju dan perlengkapan rumah tangga dengan harga terjangkau.

Karena kami sudah di telpon oleh KPJ (Kelompok Perempuan Joyosuran) kalau Joyosuran sudah rame dan heboh (karena dari Babinsa, Wartawan Media, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan sudah datang) maka rombongan yang terdiri dari dua mobil berplat Jogjakarta itu langsung menuju Kelurahan Joyosuran yang berjarak sekitar 5 Km, atau kurang lebih 20 menit perjalanan. Pukul 10.45 WIB, rombongan tiba di Griya Lilin Joyosuran. Karena “Griya Lilin“ tidak terlalu luas maka kesannya penuh sekali, apa lagi tidak kurang dari 10 media cetak juga hadir dalam acara ini, juga perwakilan dari PKK Kecamatan Pasar kliwon, PKK Kelurahan Joyosuran dan Babinsa Pasar kliwon maka semakin rame acara kunjungan ini.

DSCN9509Diawali dengan ucapan selamat datang oleh Ibu F. Sulastri Admoyo selaku ketua KPJ, yang mennyampaikan tentang awal mulainya dibentuk KPJ sejak tahun 2009 lalu, sampai kegiatan-kegiatan program KPJ dari tahun 2012-2015 yang dihasilkan dari pemetaan yang dilakukan secara partisipatif, serta bagaimana peran KPJ dalam mengorganisir anggota  serta memfasilitasi temuan-temuan di komunitas, baik persoalan kesehatan, pendidikan dan hak dasar serta persoalan penguatan ekonomi perempuan sebagai penopang penghidupan di perkotaan. Setelah itu  dilanjutkan sharing pengalaman dari Divisi Ekonomi dari KPJ yang diwakili Ibu Ekky Puji Lestasi  selaku koordinator KPJPU (Kelompok Perempuan Joyosuran Punya Usaha) sekaligus pemilik usaha rumahan “Griya Lilin“, yang menceritakan awal usaha ini dirintis, suka dukanya, support dari Pemerintah serta bagaimana produk ini di pasarkan mulai dari dijual sendiri di kegiatan Kelurahan hingga saat ini sudah dipercaya mewakili Solo dan Jawa Tengah di event Pameran Pembangunan di PRPP Semarang setiap tahun. Saat ini sudah dua tahun berturut-turut mewakili Solo dalam pameran berskala Nasional di Jakarta dalam INACRAFF, tahun 2013 dan 2014.

DSCN9516

Pada sesi tanya jawab, perwakilan dari Timor Leste, Ibu Rosalinda, koordinator  rombongan bertanya bagaimana dengan permodalan, pemasaran, dan pelatihan kepada ibu-ibu serta bagaimana melibatkan tetangga untuk terlibat dalam kegiatan ini. Banyak kisah dan cerita inspiratif yang disampaikan kepada peserta, dari dicuekin teman dan tetangga pada awal usahanya, sebagai narasumber untuk mengajari ibu-ibu pejabat, sampai pengalaman mengikuti pameran di Jakarta di mana sangat banyak sekali kenangan manis dan pahit.

Kunjungan ini diakiri dengan foto bersama, wawancara dengan media serta beramah tamah sambil menikmati jajanan pasar produk dari Ibu-Ibu Joyosuran. Tidak lupa, semua tamu membeli produk dari Griya lilin untuk dijadikan oleh-oleh untuk teman dan juga keluarga. Kunjungan semacam ini sudah dua kali dilakukan, dimana sebelumnya para Walikota dari Monggolia datang pada bulan April lalu. Diharapkan kegiatan seperti ini mampu memberi inspirasi dan semangat kepada kelompok-kelompok perempuan yang menjadi mitra dampingan SPEK HAM, dan mendukung peran perempuan dan masyarakat dalam “Gerakan Cinta Bumi“. (nocko alle/spekham.org)

DSCN9519

Pra Koperasi SPEK HAM

“Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945” UUD No. 25 Tahun 1992 tentang Koperasi.

SPEK HAM, 5 September 2014. Masyarakat seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi mempunyai tantangan tersendiri dari berbagai segi kehidupan ; Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya serta Teknologi. Bertolak dari hal-hal tersebut dan juga melihat pada perkembangan kebutuhan dari stafnya seperti kebutuhan pribadi, kebutuhan yang menunjang pekerjaan, kebutuhan akan permodalan usaha dan lain sebagainya, maka pada tahun 2009, SPEK HAM mencoba mengadakan simpan pinjam bagi stafnya. Simpan pinjam ini merupakan benih adanya Pra Koperasi yang didirikan pada tahun 2011.

Melihat dari manfaat yang didapatkan, dengan berinisiasi dengan program-program yang saat ini sedang berjalan di kelompok dampingan SPEK HAM di beberapa Kelurahan di Solo dan Klaten, SPEK HAM mencoba untuk melakukan pembelajaran bersama terkait dengan pengelolaan keuangan kelompok. Pengalaman-pengalaman baru terkait dengan pengelolaan keuangan kelompok banyak didapatkan. Manfaat dirasakan dari adanya kegiatan ini, disamping juga tantangan-tantangan yang terjadi.

Melihat manfaat yang didapatkan dari adanya simpan pinjam dan Pra Koperasi ini, SPEK HAM berniat untuk beranjak kepada tingkatan yang lebih serius lagi yaitu mengubah Pra Koperasi menjadi Koperasi yang berbadan hukum. SPEK HAM juga mencoba merangkul dari pihak luar untuk menjadi anggota Koperasi, tidak terkecuali adalah kegiatan simpan pinjam yang saat ini berjalan di kelompok dampingan.

Tahap awal yang saat ini dilakukan SPEK HAM adalah dengan mengundang Dinas Koperasi dan UMKM untuk melakukan sosialisasi mengenai Koperasi kepada anggota Pra Koperasi SPEK HAM dan beberapa pengurus simpan pinjam di Komunitas. Perwakilan Pengurus simpan pinjam dari Kelurahan Kestalan, Gilingan, Kemlayan, Sewu dan Joyosuran dengan antusias melakukan tanya jawab dengan Dinas Koperasi dan UMKM yang diwakili oleh Ibu Purni.

Harapannya adalah Pra Koperasi SPEK HAM dan simpan pinjam di kelompok dampingan bisa berinisiasi menjadi Koperasi yang berbadan hukum yang akan lebih mensejahterakan anggotanya. (nuel oei/spekham.org)