“Umur empat tahun kalau misalnya anak itu masih balita, namun untuk Kelompok Sekar Putri empat tahun ini bukan balita lagi karena kiprahnya sudah luar biasa. Mereka mampu mengakses program-program pemerintah terutama pemerintah Kabupaten Boyolali. Dan saya sangat bangga dengan semangat dan kekompakan kelompok. Semoga dengan umur empat tahun ini semakin sukses ke depannya” ungkap Ibu Ida dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali Hal ini disampaikan dalam dialog bersama yang mengambil tempat di kebun bibit Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) milik Kelompok Sekar Putri yang pada hari itu sedang merayakan hari jadi kelompoknya.
Acara ini dihadiri pula dari staf Dinas Peternakan Kabupaten Boyolali, tokoh masyarakat dan kelompok lain seperti dari Tawangrejo, Juwangi, Selo, Andong dan Sambi. Dan yang menarik dalam forum ini adalah hadirnya pemangku wilayah atau kepala Desa Musuk yang hadir pertama kali semenjak kelompok terbentuk. Hal ini tidak disia-siakan oleh Kelompok Sekar Putri untuk menyampaikan keinginannya supaya dilibatkan dalam Musrenbangdesa dan diakamodirnya kelompok dalam anggaran desa.
Menurut Hartanti ketua Sekar Putri, program dan kegiatan kelompok seperti pertanian, peternakan, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan oleh paralegal komunitas butuh dukungan dari desa. Dan dari kepala desa menjanjikan akan mengakomodir.
Ibu Ida sedang menyampaikan sambutan dan apresiasi terhadap kelompok
Selain dialog untuk memeriahkan peringatan hari jadi Kelompok Sekar Putri di pagi hari diadakan senam bersama, juga lomba tanaman pekarangan dengan dewan juri terdiri dari Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kecamatan Musuk, tokoh masyarakat dan dari SPEK-HAM. Dari penilaian akhirnya terpilih juara 1,2,3 dan favorit. ( Ani, CO PPKBM )
Para petani Desa Cluntang kembali berkumpul di halaman rumah petani Anwar di Desa Cluntang, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali pada Rabu (6/2). Jumlah mereka tak kurang dari 24 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka sudah siap untuk bergelut dengan kotoran sapi. Meskipun hari masih pagi dan cuaca khas lereng Merapi sangat dingin tak memadamkan semangat mereka. Sebelum acara pelatihan ini di mulai para petani sudah mencari rerumputan untuk dijadikan pakan ternak.
Para petani membolak-balik pupuk untuk diproses ulang.
“Gagaaaaaaallll…!” teriak salah seorang petani disusul dengan teriakan petani lain diselingi dengan tawa yang bersaut-sautan. Ini sebuah kejadian yang sangat menarik, padahal mereka tahu pupuk mereka gagal, namun tak ada satu pun raut wajah yang mengatakan sedih. Pemandangan yang terlihat hanya tawa mereka. Kegagalan itu tak menyurutkan semangat para petani. Mereka terlihat sangat kompak untuk memulai membuat pupuk lagi dari awal. Mereka mulai membolak-balik kotoran sapi yang menjulang tinggi sekira satu meter. Tercium aroma menyengat yang khas dari kotoran sapi, pertanda bahwa fermentasimya tidak berhasil.
Pengolahan pupuk kompos kali ini didampingi oleh pihak Dinas Pertanian untuk membimbing dan mengarahkan agar pupuk berhasil dibuat. Ada enam orang pihak dari dinas yang datang. Merekas semua siap untuk mendampingi dan memberi masukan agar pelatihan ini berhasil dilaksanakan. Dari pihak dinas menyampaikan bahwa hal yang membuat pupuk tersebut tidak berhasil dikarenakan ada beberapa faktor di antaranya dikarenakan pupuk tersebut terkena sinar matahari dan hujan secara langsung, tidak ada yang menaunginya.
Selain itu dikarenakan banyaknya air yang terkandung pada pupuk tersebut. Dan kemungkinan mikroba yang ada di pupuk tersebut mati dikarenakan suhunya terlalu panas, karena tumpukammya terlalu tinggi, dan tidak segera di buka saat suhunya tinggi disebabkan karena aktivitas microba. Seharusnya segera dibuka dan dibalik ketika suhunya terlalu panas. Kalau hanya hangat tidak apa apa. (M.Anshori-mgg)
Pagi itu perempuan Dusun Karanglo Selatan, Desa Musuk, Boyolali sudah bergegas ke lahan pekarangan sebelah rumah Ibu Maryati. Ya, hari Selasa tanggal 28 Maret 2017, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Putri panen cabe, terong, dan sayuran lainnya di pekarangan yang luasnya 100 m2. Pagi itu adalah panen perdana dari gerakan menanam di lahan pekarangan rumah yang dilakukan sejak Desember 2016 yang lalu.
KWT Sekar Putri belajar tentang pertanian ramah lingkungan untuk peningkatan kesejahteraan perempuan melalui Sanggar Belajar Pertanian Terpadu Ramah Lingkungan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Desa Musuk pada Oktober 2016. Pertanian di pekarangan rumah ini adalah praktek dari Sanggar Belajar Pertanian Terpadu Ramah Lingkungan tersebut.
“Sudah bisa panen cabe dan terong mbak, bisa dijual ½ kg dan sebagian dimasak sendiri, dibuat sambal”, ujar Bu Hartanti penuh semangat menceritakan panen perdananya.
Panen Cabai
Tentu tidak sekedar bisa panen dan membuat sambal yang dapat kita ambil pembelajarannya. Perempuan di Dusun Karanglo, Musuk, Boyolali bersama SPEK-HAM sedang membuat laboratorium ketahanan pangan keluarga sekaligus sumber pendapatan bagi perempuan melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah. Menariknya lagi, pertanian ala perempuan ini adalah ramah lingkungan. Pupuk menggunakan sisa limbah biogas dan kotoran ternak lainnya. Kotoran ternak itu mereka peroleh dari limbah peternakan kambing mereka. Benar-benar menerapkan pertanian terpadu ramah lingkungan.
“Dipupuk pakai limbah biogas dan pupuk organik bunganya tidak mudah rontok meskipun kena hujan terus menerus. Pohonnya juga cepat besar”, kata Bu Maryati yang sebagian pekarangannya dimanfaatkan untuk lahan pertanian.
Dari praktek yang dilakukan KWT Sekar Putri bersama SPEK-HAM, perempuan memiliki kuasa menentukan komoditas, teknik pertanian yang ramah lingkungan, serta menentukan pemasaran. Tentu panen-panen selanjutnya sudah ditunggu, mereka berharap ada tambahan pendapatan dari usaha pertanian sayuran di pekarangan. Perempuan sejahtera perempuan berdaya! (Nila Ayu Puspaningrum– Manajer Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)
Musuk – Selasa, 22 Maret 2017. Rombongan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali berkunjung ke Kelompok Wanita Tani Sekar Putri yang merupakan mitra SPEK-HAM di Dusun Karanglo, Desa Musuk, Boyolali. Dalam kunjungannya, Dinas Peternakan dan Perikanan melakukan sosialiasasi tentang penyakit ternak.
Kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Boyolali ini merupakan satu upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas peternak tentang manajemen kesehatan ternak. Fakta di lapangan, banyak peternak tidak memperhatikan kesehatan ternak karena minimnya informasi dan akses layanan bagi mereka. Terutama bagi peternak perempuan yang jarang sekali mendapat pemahaman tentang manajemen peternakan yang baik. Pengelolaan ternak yang baik dan profesional harus memperhatikan manajemen bibit, kandang, kesehatan ternak, pakan, dan pemasaran.
Puluhan peternak, baik perempuan maupun laki-laki ikut terlibat dalam sosialisasi dari Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Boyolali. Mereka menyampaikan pengalaman ternak mereka yang sakit kembung, kluruh/keguguran, dan mati mendadak. Petugas dari Dinas Kesehatan dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan peserta. Dinas berkomitmen untuk menerima laporan dari masyarakat jika ada penyakit pada ternak, bahkan kematian ternak. Tujuannya supaya produktifitas peternakan di Desa Musuk meningkat.
Pelajaran yang dapat diambil oleh KWT Sekar Putri adalah bahwa kemampuan kelompok membangun komunikasi dan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali penting untuk membangun kemandirian dan kesejahteraan peternak secara berkelanjutan. Peningkatan pemahaman dan ketrampilan akan berdampak pada peningkatan produktifitas peternakan. Melalui peternakan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan perempuan pedesaan. Perempuan sejahtera perempuan berdaya. (Nila Ayu Puspaningrum – Manajer Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)
MEMBANGUN USAHA WARUNGAN UNTUK MEMPERMUDAH PEMENUHAN KEBUTUHAN ANGGOTA
Kelompok Perempuan Rukun Makmur berada di Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Tiga bulan terakhir kelompok ini sedang merealisasikan usaha baru yaitu warung sembako. Warung sembako yang dikelola Kelompok Perempuan Rukun Makmur adalah warung yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, kebutuhan mandi, cuci dan alat tulis.
Meskipun baru berdiri seumur jagung, namun sejak awal sudah dibangun manajemen pengelolaan yang baik dan transparan. Ada dua orang pengelola manajemen yang bertugas melakukan segala kegiatan seperti belanja, memantau stok barang, menjaga warung, melakukan pembukuan transaksi, analisa keuntungan, dan membangun jaringan kerja sama dengan distributor dan marketing.
Dari data yang diperoleh, sejak Januari s/d Maret 2017, laba yang diperoleh berkisar antara Rp. 650.000 s/d Rp. 1.100.000 per bulan. Laba ini akan dibagi kepada investor, kelompok dan dua orang pengelola (perempuan). Manfaat adanya warung sembako adalah bertambahnya pendapatan pada 4 orang perempuan setiap bulan. Manfaat non-materi adalah pembelajaran tentang pemasaran, manajemen keuangan, promosi dan memberikan layanan kepada konsumen. Terpenting adalah pembelajaran membuat pembukuan transaksi secara teratur.
Bagi 25 anggota kelompok yang lain, adanya kemudahan belanja kebutuhan pokok di warung sembako ini. Mereka mendapatkan SHU setiap akhir tahun dari laba penjualan warung. Jika biasanya laba menjadi hak pemilik warung, kini laba akan diterima seluruh anggota Kelompok Perempun Rukun Makmur setiap tahun.
Spirit dan tujuan awal usaha warung sembako ini adalah mempermudah akses kebutuhan pokok keluarga. Inovasi-inovasi kedepan terus dipikirkan oleh pengelola dan kelompok; rencana belanja online dan siap antar (delivery order) menjadi gagasan untuk meraup pelanggan. Diharapkan usaha ini kedepan bisa menjadi salah satu penyumbang dana bagi kelompok dalam melaksanakan program-program kegiatan diwaktu yang akan datang. (Sunoko – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)
Cluntang. Selama tiga hari di dukuh Jelok, desa Cluntang, Kecamatan Musuk, SPEK-HAM mengadakan pelatihan pengorganisiran masyarakat yang berperspektif feminis dan HAM. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh staff SPEK-HAM dan local leader dari komunitas dampingan. Komunitas dampingan yang terlibat antara lain; dari Komunitas Sawahan, Kelompok Perempuan Rukun Makmur, Kelompok Perempuan Sekar Putri, Kelompok Perempuan Joyosuran, KPKS Sewu, KP3A Kuncen, Komunitas Pacing, Komunitas Kemlayan dan Kestalan. “Inti dari kegitan ini adalah untukmembangun serta menguatkan spirit dan komitmen pengorganisasian masyarakat yang berorientasi pada perubahan sosial, menguatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang substansi pengorganisiran masyarakat yang berperspektif feminis dan HAM, serta mendorong refleksi kerja pengorganisiran masyarakat untuk menyusun strategi pemberdayaan masyarakat yang strategis” tutur Elist, Direktur SPEK-HAM.
Sesi Diskusi
Fasilitator pelatihan ini adalah Bapak Ahmad Mahmudi, direktur LPTP Surakarta yang kompeten dalam hal pengorganisasian masyarakat. Selama pelatihan ini peserta diajak untuk mengasah ketrampilan metode dan teknik dalam pendekatan sosial yang baik, refleksi kerja CO dalam pengorganisiran selama ini, belajar konsep dasar pengorganisiran masyarakat, penelitian perubahan sosial, kerangka kerja penghidupan yang berkelanjutan.
Di akhir pelatihan, peserta sharing mengenai pengalaman selama tiga hari mengikuti pelatihan. “Ini hal yang luar biasa, banyak hal saya dapatkan dipelatihan ini; mengenai pengorganisiran masyarakat dan setelah ini kami bisa praktek di lapangan, umur bukan kendala dalam belajar “, tutur salah seorang local leader dari Pacing.
“CO potensial adalah orang yang selalu menggelisahkan kehidupan social, bukan menggelisahkan kehidupannya sendiri”, kata mahmudi saat menutup pelatihan pengorganisiran masyarakat berperspektif feminis dan HAM. (Galih Novianto/spekham.org)
“Pentingnya Penyusunan Perencanaan Program yang Partisipatif, Menuju Desa Membangun yang Berkeadilan”
Desa Musuk menjadi salah satu bagian penting dari proses pembangunan kawasan di kecamatan Musuk. Wilayah ini cukup subur untuk kegiatan pertanian dan peternakan, didukung dengan ketersediaan sumber air yang melimpah di desa ini membuka kerjasama Pemerintah Desa Musuk dengan PDAM untuk pengelolaan sumber air sejak 4 tahun terakhir. Pasti kebijakan ini sudah dirancang melalui diskusi–diskusi panjang sehingga keputusan ini diambil, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga desa Musuk dan sekitarnya.
Sunoko
Sebagai community organizer dan juga sebagai warga Musuk, saya tergelitik untuk melihat dari dekat bagaimana potensi desa yang sangat luar biasa ini bisa bermanfaat bagi warganya. Bila sebelumnya saya selalu bertanya kepada ibu-ibu, tetapi kali ini saya mencoba bertanya dengan warga-warga yang berada di dekat wilayah proyek pembuatan *embung, dari orang tua yang sekolah anak-anaknya harus berpindah dalam waktu yang cukup mendadak, sampai warga yang rumput gajah untuk pakan ternaknya mati karena terlindas truk-truk pengangkut tanah galian, serta salah satu warga yang masih digantung dengan begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, sekaligus oleh kepala desa sendiri.
Berefleksi dari situasi ini, saya masih berfikir positif, karena proses sudah dijalani, bagaimana sosialisasi yang dilakukan kepala desa kepada warga yang diwakili RT, RW, dan tokoh masyarakat setempat sudah dilakukan dengah harapan informasi yang disampaiakan kepala desa bisa diteruskan kepada warga di tingkat RT, tetapi jika warga juga tidak tahu informasi secara utuh, siapa yang salah ?
Desa yang kaya akan potensi dan sumber daya alam ini, andaikata bisa diperlakukan lebih ramah dan manusiawi, sifat kepemilikan, gotong royong, tanpa pamrih yang dimiliki semua perangkat dan warga masyarakat sudah barang tentu kesejahteraan atas pemanfaatan sumber daya alam pasti dapat terwujud. Tetapi jika sumber daya alam hanya dimanfaatkan oleh segelintir kepentingan penguasa, tidak mustahil kemiskinan akan tetap membelenggu desa Musuk.
Belum terlambat, tapi bagaimana pemerintah desa bisa lebih dekat dan mendengar masyarakat karena mereka yang merasakan manfaat atau dampak pembangunan desa yang berkelanjutan dapat tercipta. Bagaimana rencana pembangunan desa baik jangka pendek, menengah dan panjang diperoleh dengan cara yang partisipatif melibatkan berbagai pihak. Seharusnya pemerintah Desa mampu menyampaikan informasi secara utuh tanpa ada saluran-saluran informasi yang tertutup, pasti pembagunan desa yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya bisa tercapai. Era UU Desa No. 6 tahun 2014 telah mendorong desa-desa membangun secara partisipatif sesuai kebutuhan untuk kesejahteraan masyarakat. Bukan lagi era penguasa berkuasa dan mengklaim seluruh hasil pembangunan desa untuk kepentingan pihak tertentu. Disilah butuh peran kerjasama multipihak yaitu pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, masyarakat, dan lembaga swadaya yang berkomitmen sesuai perannya masing-masing mengawal pelaksanaan pembangunan desa untuk kesejahteraan dan kemandirian warga desa. (spekham.org)
Boyolali , 4 Mei 2016
Catatan Sunoko-CO Divisi Sustainable Livelihood
*Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliranair hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau).[1][2][3] Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika,[4] hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.[5] (sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Embung )
Guna mendorong partisipasi perempuan dalam menentukan kebijakan pembangunan di tingkat desa, kelompok perempuan Sekar Putri mengadakan diskusi Partisipasi Perempuan dalam Menentukan Arah Kebijakan Pembangunan Desa di rumah Ibu Wakiyem, Dukuh Karanglo, Musuk, Kabupaten Boyolali. Senin, 19/10.
Diskusi Kelompok Sekar Putri Desa Musuk
Diskusi dihadiri 20 orang anggota kelompok yang berasal dari Dukuh yang sama, yaitu Dukuh Karanglo. Kegiatan ini diawali dengan melihat aktifitas atau pekerjaan perempuan sehari-hari yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga; bertani dan beternak. Selain itu ada aktifitas atau pekerjaan yang lainnya, yaitu penambang pasir, pedagang, buruh, guru, PNS, bidan, dan lain-lain.
Kegiatan diskusi siang itu juga mengkritisi tentang pembangunan embung milik PDAM di Desa Musuk. Menurut peserta yang hadir, embung tersebut bermasalah dan berisiko. “Embung itu kan didirikan di atas tanah kas desa, kalau disewakan ke warga kan bisa menambah kesejahteraan mereka. Selain itu ada bangunan Taman Kanak-Kanak (TK) yang tergusur karena pembangunan embung itu,” ungkap Hartanti, salah seorang pengurus kelompok. Dia menambahkan bahwa setiap RT mendapatkan uang dispensasi dari pembangunan embung sejumlah 5 juta rupiah. Hanya RT 3 RW 3 yang menolak pemberian uang tersebut. Sebagai informasi, Desa Musuk memiliki 6 RW, setiap RW membawahi 6 RT, setiap RT terdiri dari 54-72 KK.
Kecemasan juga muncul dari salah seorang partisipan diskusi tentang kekuatan embung tersebut dalam menampung air. “Kita kan tidak tahu kekuatan bangunan embung itu. Kalau sampai jebol bagaimana? Pasti akan banyak korbannya,” ungkap Maryati, salah seorang pengurus kelompok.
Terungkap juga peran perempuan yang belum maksimal dalam forum-forum di tingkat Desa. Perempuan di Desa Musuk belum dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait kebijakan pembangunan. “Sebenarnya kami sudah merencanakan mengusulkan program yang berpihak pada perempuan, kelompok difabel, bantuan rumah tidak layak huni dan dana operasional Posyandu di kegiatan review RPJMDES, tapi ternyata RPJMDESnya hilang,” keluh salah seorang peserta diskusi.
Diskusi ini menyepakati pentingnya untuk mengusulkan program-progam yang berpihak pada perempuan di tingkat Desa lewat Musdes, Musrengbandes, PKK atau forum lainnya. “Jangan hanya pembangunan fisik saja, seperti jalan, jembatan, gapura. Itu semua memang penting, tetapi kalau kesejahteraan perempuannya tidak tercapai mau apa?” ungkap salah seorang peserta. Ada 3 orang perempuan dari Kelompok Sekar Putri yang aktif di kegiatan tingkat desa. Mereka diharapkan mampu menyampaikan suara perempuan di tingkat RT maupun RW.
Kedepan, diharapkan muncul partisipasi perempuan yang bisa mempengaruhi kebijakan Pemerintahan Desa. Saat ini ada tiga Kelompok Wanita Tani, yaitu di Karanglo, Pengkol dan Kintel. Ketiga Kelompok Tani Perempuan tersebut menjadi kekuatan bagi perempuan-perempuan di Musuk untuk mewujudkan cita-cita mereka, yaitu Desa Musuk menjadi desa yang berpihak pada perempuan dan anak. (Henrico Fajar K.W – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kasus Berbasis Masyarakat)
Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau).[1][2][3] Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika,[4] hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.[5] (sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Embung)