Search for:

Perempuan di Kuncen Beralih dari Kimia menjadi Organik

Kuncen adalah Desa di sebelah Utara Kabupaten Klaten, dimana sektor pertanian menjadi penopang ekonomi masyarakatnya. Fasilitas pengairan cukup memadai dengan menggunakan irigasi teknis, meskipun ada sebagian kecil yang tadah hujan. Padi dan jagung menjadi komoditas unggulan di Desa Kuncen, disamping produksi emping melinjo, ternak puyuh yang banyak digeluti masyarakat sebagai sumber pendapatan rumah tangga.

Melimpahnya limbah ternak puyuh menjadi satu pemikiran bersama untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk organik. Pupuk sudah tentu dibutuhkan oleh petani untuk membantu meningkatkan produktivitas pertaniannya. Hari Sabtu tanggal 15 September yang lalu, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Desa Kuncen dan Kelompok Wanita Tani mengikuti praktik pengolahan pupuk organik di Rumah Bapak Sutiyono. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pelatihan pembuatan pupuk organik yang diawali pada 25 Agustus 2018 yang lalu. Pelatihan tersebut merupakan kerjasama antara SPEK-HAM, PT. Agri Kencana Persada, dan Pemerintah Desa Kuncen. Sudah ada sekitar 200 kg pupuk organik yang diolah dengan bahan yang sederhana seperti : kotoran burung puyuh, arang sekam/ serbuk gergaji, dolomit/ batu kapur, bakteri pengurai, dan sampah organik rumah tangga. Untuk bakteri pengurai penyediaannya dibantu oleh PT Agri Kencana Persada sebuah perusahaan yang memproduksi bakteri sebagai bahan pupuk organik dan kebutuhan industri besar lainnya.

Pembuatan pupuk organik ini terbilang mudah bagi perempuan. Seluruh bahan dicampur dengan rata dan ditutup dengan plastik. Setelah satu minggu dibalik, ditambah air dan ditutup kembali. Proses ini dilakukan setiap minggu, selanjutnya pupuk akan matang setelah 40 hari. Di dampingi oleh Priyo Jatmiko selaku konsultan dari PT Agri Kencana Persada dan Soepadmin, CO SPEK-HAM, setiap hari Sabtu KP3A dan KWT memproduksi kompos yang bahan-bahannya diperoleh dengan

Praktik membuat pupuk organik

swadaya anggota. Anggota yang datang membawa kotoran organik dari rumah masing-masing, ada yang membawa kotoran puyuh, sisa sayuran, bahkan -daunan kering. Ditanya akan digunakan untuk apa nanti hasilnya, Cobawati selaku pengurus KP3A mengatakan “Ya nanti kalau sudah jadi pupuknya akan dipakai memupuk tanamannya sendiri-sendiri”.

Berbeda dengan Cobawati, menurut Kristiyana yang penting adalah gerakan perempuan mengolah sampah. Menurut Bu Carik biasanyaperempuan setiap hari pasti menghasilkan sampah dari aktivitas memasak, ke pasar dan sebagainya. Paling tidak sampahnya sendiri diolah biar tidak mengganggu lingkungan.

Mereka belum berfikir hasil produksi kompos akan dijual. Fokusnya digunakan untuk pribadi masing-masing sambil mengamati hasilnya. Dibutuhkan waktu dan proses yang berkelanjutan untuk  merubah paradigma pertanian kimia ke pertanian organik. Saat ini sudah ada niat dan kemauan dari perempuan untuk memulai. Sunarsi (60 th) salah satu perempuan yang ingin belajar dan memulai. Sehari-hari beliau bekerja sebagai buruh tani, berangkat ke sawah mulai jam 06.00 hingga tengah hari. Tetapi setiap hari Sabtu beliau pasti menyempatkan diri untuk mengikuti praktik mengolah kompos. Sunarsi berangkat ke sawah lebih awal supaya jam 10.00 bisa ikut. Baginya kegiatan ini bisa menambah pengetahuan, yang selama ini tahunya dan biasa memakai pupuk kimia.

Nila Ayu – Manager Divisi Sustainable Livelihood

PELATIHAN TOT PENGADA LAYANAN PPT SE-KECAMATAN MUSUK -Dalam Meningkatkan Skill dan Pendokumentasian Yang Terintregasi-

Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh DP2KBP3A kabupaten Boyolali , melibatkan 60 peserta dari 10 PPT yang sudah  ber SK kepala desa seperti desa Sumur , Jemowo, Dragan, Cluntang, Karangkendal, Musuk, Pusporenggo, Sukorame, dan Keposong dengan melibatkan 3 orang masing-masing PPT desa, sedangkan calon PPT seperti desa Sukorejo, Kebongulo, Mriyan, Ringin Larik, Sangup, Lampar, Kembangsari, Karanganyar , yang juga dilibatkan masing-masing tiga orang.

Kegiatanya dilaksanakan pada tanggal 26 dan 27 Maret 2018 di aula kantor DP2KBP3A, dengan melibatkan dua fasilitator dari SPEK-HAM dan Forum Pengada Layanan Boyolali Noko Alee dan Nuri Kadek Devasahira, S.Psi yang tergabung di P2TP2A Kabupaten Boyolali, serta dari dinas ibu Dasih Wiryastuti SH, M.Hum selaku kepala dinas DP2KBP3A dan ibu Dinuk Prabandini, SH selaku kepala bidang pemberdayaan perempuan  dan perlindungan anak.

Kegiatan ini hasil advokasi SPEK-HAM selama 6 bulan untuk mendorong terbentuknya PPT tingkat kecamatan dan di dukung 10 desa sudah berkomitmen dengan mendeklarasikan PPT desa melalui SK PPT desa, dengan adanya pelatihan ini di harapkan ketrampilan pengelola PPT desa semakin maksimal , materi dari pelatihan ini meliputi 1) Kebijakan pemerintah dalam pengadaan P2TP2A tingkat kabupaten, PPT tingkat kecamatan serta PPT desa 2) Materi kedua terkait dengan gender dan kodrat sebagai akar persoalan terjadinya kekerasan , 3) Jenis-jenis kekerasan agar peserta mampu mengidentifikasi kasus-kasus kekerasan yang terjadi di wilayahnya, 4) Pencatatan dan pendokumentasian kasus kekerasan sebagai sumber data yang terintegrasi antara PPT desa, PPT kecamatan dan P2TP2A, sebagai bahan advokasi kebijakan kota. 

 

Pelatihan ini di tindak lanjuti di desa masing-masing dimana desa yang belum memiliki PTT, akan melakukan sosialisasi, deklarasi dan pengesahan SK PPT desa, sedang bagi yang sudah memiliki SK akan menindak lanjuti sosialisasi di tingkat dukuh, dan melakukan advokasi desa ramah anak , guna menarik dan mempermudah untuk dipahami peserta maka metode yang digunakan adalah praktik  bedah kasus, analisa dan pemetaan kasus dimana peserta terlibat aktif sebagai narasumber juga, pelatihan di tutup dengan apresiasi kelompok tiap desa dan ditutup oleh seketaris kantor DP2KBP3A.

 

Oleh Noko alee

Pelatihan Pengorganisiran Komunitas Berperspektif Feminis dan HAM

Pelatihan difasilitasi oleh Bapak Achmad Mahmudi
Pelatihan difasilitasi oleh Bapak Achmad Mahmudi

Cluntang. Selama tiga hari di dukuh Jelok, desa Cluntang, Kecamatan Musuk, SPEK-HAM mengadakan pelatihan pengorganisiran masyarakat yang berperspektif feminis dan HAM. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh staff SPEK-HAM dan local leader dari komunitas dampingan. Komunitas dampingan yang terlibat antara lain; dari Komunitas Sawahan, Kelompok Perempuan Rukun Makmur, Kelompok Perempuan Sekar Putri, Kelompok Perempuan Joyosuran, KPKS Sewu, KP3A Kuncen, Komunitas Pacing, Komunitas Kemlayan dan Kestalan. “Inti dari kegitan ini adalah untuk membangun serta menguatkan spirit dan komitmen pengorganisasian masyarakat yang berorientasi pada perubahan sosial, menguatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang substansi pengorganisiran masyarakat yang berperspektif feminis dan HAM, serta mendorong refleksi kerja pengorganisiran masyarakat untuk menyusun strategi pemberdayaan masyarakat yang strategis” tutur Elist, Direktur SPEK-HAM.

Sesi Diskusi
Sesi Diskusi

Fasilitator pelatihan ini adalah Bapak Ahmad Mahmudi, direktur LPTP Surakarta yang kompeten dalam hal pengorganisasian masyarakat. Selama pelatihan ini peserta diajak untuk mengasah ketrampilan metode dan teknik dalam pendekatan sosial yang baik, refleksi kerja CO dalam pengorganisiran selama ini, belajar konsep dasar pengorganisiran masyarakat, penelitian perubahan sosial, kerangka kerja penghidupan yang berkelanjutan.

Di akhir pelatihan, peserta sharing mengenai pengalaman selama tiga hari mengikuti pelatihan. “Ini hal yang luar biasa, banyak hal saya dapatkan dipelatihan ini; mengenai pengorganisiran masyarakat dan setelah ini kami bisa praktek di lapangan, umur bukan kendala dalam belajar “, tutur salah seorang local leader dari Pacing.

“CO potensial adalah orang yang selalu menggelisahkan kehidupan social, bukan menggelisahkan kehidupannya sendiri”, kata mahmudi saat menutup pelatihan pengorganisiran masyarakat berperspektif feminis dan HAM. (Galih Novianto/spekham.org)

Koordinasi Pelatihan Kespro BAPERMAS PP PA dan KB Kota Surakarta

BAPERMAS PP PA dan KB Kota Surakarta Gandeng SPEK-HAM (lagi) dalam Pelatihan Kespro 51 Kelurahan

Salah satu upaya pencegahan HIV AIDS dan IMS dilakukan dengan memberikan informasi, pembekalan dan membuka kesadaran akan hak dan pentingnya kesehatan reproduksi kepada masyarakat. Melakukan pelatihan kepada kader-kader kesehatan yang menjadi  ujung tombak dalam hal ini dilakukan oleh Bapermas bekerjasama dengan yayasan SPEK-HAM Surakarta penting dilakukan guna menyebarluaskan informasi kesehatan reproduksi sekaligus kader ini menjadi role model bagi masyarakat sekitar mereka tinggal. Pelatihan kader kesehatan reproduksi dilakukan bertahap di 51 kelurahan di Kota Surakarta pada tahun 2014 dan 2015 yang kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan IVA dan IMS .

Balai Kota Surakarta. 22 Juli 2016, bertempat di ruang rapat BAPERMAS PP PA dan KB, dihadiri oleh Bu Titik (Sekretaris BAPERMAS PP PA dan KB) dalam hal ini mewakili Pak Widi Srihanto (Kepala BAPERMAS PP PA dan KB), Bu Nuning (Kabid PP BAPERMAS PP PA dan KB), dokter Istar Yuliadi dan dokter Andri Putranto, dokter Retno dari Puskesmas Sangkrah, dokter Suwarji dari Puskesmas Manahan, dan beberapa staf SPEK-HAM; Rahayu Purwaningsih, Nila Ayu Puspaningrum, Danang Wijayanto, Henrico Fajar, Soepadmin, Roskaningrum bersama-sama melakukan evaluasi terhadap pelatihan kader kespro dan pemeriksaan IVA dan IMS yang telah dilakukan sebelumnya. Pertemuan ini juga sebagai persiapan diadakannya pelatihan kader kespro pada bulan Agustus 2016 di kelurahan-kelurahan yang belum mendapatkan pelatihan.

Salah satu yang menjadi pembahasan dalam koordinasi ini adalah tentang tindaklanjut dari hasil pemeriksaan IVA dan IMS. “Bagaimana ketika dari hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan ternyata ada peserta yang memerlukan pengobatan lanjutan, bagi warga kota Solo bisa dilakukan pemeriksaan dengan klaim biaya dari BPJS, atau bisa juga klaim kepada PTPAS dengan syarat-syarat yang sudah ditetapkan” jelas Bu Nuning. (nuel oei/spekham.org)

Bertutur Pengalaman Pribadi dari Komunitas, Perempuan Penyintas (Survivor) dalam Pelatihan Konseling Feminis

Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah sosial yang sering terjadi di masyarakat kita. Sejak tahun 1998, SPEK-HAM melakukan berbagai pendidikan kritis untuk pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak berbasis gender pada masyarakat luas di Soloraya dan Jawa Tengah. Adanya program tersebut diharapkan mampu mendukung perwujudan cita-cita untuk penghapusan kekerasan berbasis gender, terutama penghapusan kekerasan terhadap perempuan bisa tercapai.

Tahapan pencegahan maupun penanganan kekerasan berbasis gender terutama yang dilakukan komunitas yang berada langsung di masyarakat seringkali masih memiliki batasan dalam kuantitas maupun terkait ketrampilan terutama dalam hal bagaimana melakukan konseling yang berperspektif feminis khususnya ketika melakukan pendampingan kasus kekerasan seksual pada kelompok rentan dan marginal (SOGIEB, penyandang disabilitas, dan PRT korban kekerasan seksual).

Presentasi Hasil Diskusi
Presentasi Hasil Diskusi

SPEK-HAM melalui Program “Pemulihan Transformatif bagi Perempuan Korban dari Inisiatif Komunitas menjadi Tanggung Jawab Negara” melakukan pelatihan konseling feminis selama 3 hari  ditanggal 3 s/d 5 Juni 2016, bertempat di Hotel Sala View. Peserta yang terlibat ada 30 orang yang berasal dari LRC-KJHAM Semarang,  Ciqal Yogjakarta, Rifka Anissa Yogjakarta, Saper Magelang, Upipa Wonosobo, Sekar Jepara, pendamping komunitas dan komunitas dampingan SPEK-HAM (Kelurahan Kemlayan Surakarta, Kelurahan Sewu Surakarta, Desa Musuk Kabupaten Boyolali, Desa Sawahan Kabupaten Boyolali, Desa Pacing Kabupaten Klaten, Forum Paralegal dan juga suvivor).

Dimulai dengan bertutur pengalaman pribadi masing-masing peserta, hal yang paling membahagiakan dan menyenangkan yang kemudian dilanjutkan bercerita mengenai kekerasan yang dialami dan paling membekas. Setelah bertutur pengalaman dilanjutkan dengan pemulihan diri sebagai tahap awal bagaimana seseorang agar mampu melakukan pendampingan korban. Jika diri sendiri belum selesai akan dirinya sendiri, bisa jadi jika melakukan konseling maka energi negatiflah yang akan disalurkan atau dendam yang dijadikan dasar konseling. Energi positif selalu disebarkan dalam sesi ini dan bagaimana menggali diri untuk melakukan pemulihan diri.

Hingga sesi berakhir, hal positif banyak yang disampaikan para peserta, seperti yang disampaikan Mbak A “Saya semakin kuat dan yakin menentukan pilihan kedepan setelah ikut pelatihan ini. Saya juga menjadi semangat dan punya pengalaman banyak mengenai kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana dengan orang-orang yang bisa saya ajak komunikasi jika disekeliling saya ada kekerasan. Saya juga semakin memiliki kepedulian dan berharap kedepan saya bisa mengumpulkan perempuan di sekeliling saya agar tidak mengalami kekerasan”. Tidak terasa pelatihan berakhir dengan harapan bersama. Apa yang menjadi harapan perserta kedepan bisa terwujud dan mereka mau mempraktekkan apa yang didapat dalam pelatihan.

(Atik Fatmawati-CO Pencegahan dan Penanganan Kasus Berbasis Masyarakat/spekham.org)

TOT Pemicuan Bagi Masyarakat Solo Raya

       SOLO – Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi” adalah program yang lebih difokuskan pada bidang sanitasi. Program ini akan mendukung program pemerintah yang berhubungan dengan program-program Sanitasi seperti Infrastruktur Sanitasi Perkotaan Pedesaan (USRI) dan SLBM yang telah berjalan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Dukungan yang bisa diberikan dari program ini berupa upaya-upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan memanfaatkan mekanisme perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kontribusiprogram ini adalah mendukung dan mengembangkan keberlanjutan dalam program-program sanitasi yang dilakukan oleh pemerintah.

TOT Solo Raya2Untuk mendukung program ini, salah satu kegiatan yang  dilakukan adalah kegiatan pelatihan dengan peserta beberapa pihak dan komponen yang terlibat langsung dalam Program USRI. Salah satunya adalah kegiatan Training of Trainer Pemicuan Paska Konstruksi. Kegiatan ToT Solo Raya ( Kota Solo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo) ini dilakukan pada Tanggal    8 – 10 Oktober 2014. bertempat.  Hotel D’Wangsa HAP Solo Jl.Brigjend Slamet Riyadi No.133 Surakarta dengan jumlah 26 orang. Tujuan dari  TOT ini Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melatih dalam Pelatihan Pemicuan Bagi Masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing sesuai dengan peran dan fungsinya.

        Pemahaman Peserta tentang Program USRI Peserta berasal dari perwakilan unsur kesehatan (sanitarian) dan pokja IV PKK kecamatan. Sebagian besar telah mengetahui tentang keberadaan Program USRI di wilayahnya, namun tidak memahami proses pelaksanaan dengan baik karena saat sosialisasi awal dan pelaksanaan pembangunan infrastruksturnya mereka tidak dilibatkan. Tantangan yang muncul dari pelaksanaan Program USRI mengarahkan pada masih minimnya sosialisasi oleh faskel USRI sehingga muncul pro-kontra di masyarakat. Disamping itu keterbatasan lahan yang digunakan untuk lokasi IPAL komunal juga masih banyak ditemui. Kegiatan paska konstruksi belum diimbangi dengan musyawarah mufakat tentang biaya perawatan dan pemeliharaan sarana, terlebih jika didapati bangunan yang tidak berfungsi dikarenakan faktor teknis.TOT Solo Raya3

        Peserta ToT berperan sebagai seorang trainer yang akan melatihkan metode pemicuan paska konstruksi kepada KPP dan PKK di wilayahnya. Pemahaman tersebut telah disampaikan dan dipahami dengan baik oleh peserta, walaupun di awal muncul beberapa keraguan dan kurang percaya diri. bagaimana upaya memicu masyarakat untuk mau memiliki SR ke IPAL komunal yang telah dibangunkan Program USRI. Jika saat pra konstruksi elemen pemicuan banyak menyentuh dari sisi rasa jijik, takut sakit, gengsi, faktor agama, dll maka saat paska konstruksi Program USRI ini akan lebih menekankan bagaimana upaya memicu warga yang kesulitan atau enggan membangun SR, baik itu karena keterbatasan biaya maupun kekuranganpahaman dari sisi teknis. (spekham/wijiatmi)

Pelatihan Riset Partisipatif

Pelatihan Riset 2SPEK-HAM dengan misinya untuk mendorong lahirnya komunitas yang mandiri yang mampu memperjuangkan kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat. SPEK-HAM bergerak bersamaan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Seiring dengan hal tersebut, SPEK-HAM merasa perlu memberikan tambahan amunisi kepada para staf untuk bisa lebih berkembang bersama masyarakat.

Desa Pengkol, Kecamatan Musuk, Boyolali. 8 – 10 Februari 2014. SPEK-HAM bersama para staf dan pelaksana harian, belajar bersama dengan Pak Ahmad Mahmudi dari LPTP Surakarta. Belajar tentang “Riset Partisipatif”.

Pembelajaran dibagi menjadi beberapa sesi, setiap harinya. Sesi turun l apangan dan sesi presentasi hasil temuan lapangan serta sesi materi belajar. Materi belajar diberikan dengan cara melihat hasil presentasi temuan lapangan yang kemudian dikritisi bersama untuk diberikan masukan. (nuel/spekham)

Pelatihan Riset 1