Search for:

Biogas, Keluaran Bermanfaat dari IPAL Komunal

Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Kondisi sanitasi di Indonesia masih relatif buruk dan jauh tertinggal dari sektor – sektor pembangunan lainnya.

Buruknya kondisi sanitasi ini berdampak negatif dibanyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya penyakit pada balita, turunnya daya saing maupun citra Kabupaten/Kota, hingga menurunnya perekonomian Kabupaten/Kota.

Penyebab buruknya kondisi sanitasi dikarenakan lemahnya perencanaan pembangunan sanitasi: tidak terpadu, salah sasaran, tidak sesuai kebutuhan, dan tidak berkelanjutan, serta kurangnya perhatian masyarakat pada perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan sebuah perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan berkelanjutan.

IPALSejak adanya program pengadaan jambanisasi/pembuatan septic tank secara bersama, memberikan dampak berbeda di Desa Termulus, Kabupaten Kudus. Lingkungan Desa Termulus sebelum dibangun IPAL Komunal terlihat kumuh dan kotor, namun setelah adanya program pembangunan sarana sanitasi yang dibangun oleh USRI  tahun 2013, lingkungan masyarakat sekitar menjadi tertata dan bersih.

Awalnya masyarakat Kesambi menolak dengan adanya pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal di berbagai tempat di Desa Termulus, dengan alasan takut terkena dampak bau dari kotoran tinja, namun melalui sosialisasi pemahaman tentang manfaat IPAL dan keuntungannya kepada masyarakat Kesambi, akhirnya disepakati bangunan IPAL ditempatkan pada ujung desa, tepatnya di tengah jalan milik Desa.

Setelah terbangun IPAL dan masyarakat menyambungkan saluran pembuangan air limbah baik tinja maupun air limbah rumah tangga, masyarakat baru menyadari dan merasakan manfaat yang besar. Ada sebagian warga yang menyesal, pasalnya pada waktu pembangunan tidak ikut menyambung.

Syafiq salah satu warga mengatakan “Dulu masyarakat menolak, namun setelah mengetahui secara nyata manfaat IPAL, masyarakat berbondong-bondong menginginkan rumahnya ikut menyambung dan menyalurkan limbah dari kotoran manusia maupun limbah rumah tangga.”

Untuk pengelolaan dan perawatan, lanjut Syafiq “Hasil musyawarah semua masyarakat menyepakati adanya iuran setiap bulan sebanyak tujuh ribu rupiah. Hasil iuran tersebut digunakan untuk membayar jasa orang yang membersihkan IPAL, dengan nominal sebanyak seratus ribu. Orang tersebut membersihkan mulai dari rumah-rumah menuju saluran utama dengan kurung waktu setiap satu bulan sekali.”

Biogas

Setelah terbangun IPAL Komunal dan sambungan rumah yang mencapai 47 saluran rumah, kemudian tempat ipal komunal dimanfatkan untuk dibuat gas. Menurut Bambang selaku BKM Desa Kesambi mengatakan “Awalnya hanya untuk coba-coba, meneliti dibuat biogas. Setelah diketahui tempat IPAL komunal tersebut mengandung gas, akhirnya dibuatkan saluran sarana untuk dimanfaatkan memasak. Ketika ada pertemuan kelompok pemanfaat dan pengelola (KPP) di lokasi IPAL, biogas tersebut digunakan untuk masak-masak.

“Memang manfaat adanya IPAL Komunal itu banyak, selain buat saluran buangan limbah kotoran manusia dan limbah rumah tangga juga bisa menghasilkan biogas. Semua itu berasal dari kita, oleh kita dan untuk kita. Harapan kedepan, biogas ini bisa dikembangkan lebih baik lagi dan Pemerintah memberi support untuk pengembangan biogas ini”, harap Bambang di sela-sela waktunya istirahat. (Anam/spekham.org/dok photo : panoramio.com, mongabay.co.id)

Kampung Sapi Balerante? Hmmm???

Masyarakat Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, selain juga sebagai penambang pasir.  Bisa dijumpai ada 2 sampai 4 ekor sapi di dalam kandang di setiap rumah warga. Dari 2, 4 ekor sapi ini, warga mempunyai harapan agar ternak sapi ini lebih berkembang, tidak hanya sebagai sampingan tapi juga bisa sebagai penunjang penghidupan.

Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan belajar mengenai peternakan sapi yang lebih tertata. Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 4 Februari 2015, bertempat di rumah Ibu Darsi dan Gimin, warga RT6/RW3 Banjarsari, Balerante, Kemalang. Kegiatan ini melibatkan Pemerintahan Desa Balerante, PPL Peternakan Kemalang, Dinas Pertanian Sub Peternakan Klaten, Babinkamtibmas Balerante, SPEK HAM,  Kelompok Perempuan Mawar, Kelompok Perempuan Mekar Sari, dan perwakilan Kelompok Peternak Sapi Balerante.

Untitled-1Diskusi ini merupakan langkah awal untuk mencapai impian “Balerante Kampung Sapi” yang tentunya membutuhkan waktu dan kerjasama antara petani dan peternak, Pemerintahan Desa Balerante, SPEK HAM selaku pendamping, serta Dinas Pertanian Sub Peternakan untuk mewujudkan impian tersebut. Dari pihak Pemerintahan Desa Balerante dan Dinas Pertanian Sub Peternakan Klaten sangat mendukung untuk mewujudkan impian “Balerante Kampung Sapi”, karena dari setiap warga (kepala rumah tangga) rata-rata memiliki sapi dan warga juga mengatakan bahwa memang sejak nenek moyong, mereka sudah terbiasa dengan ternak sapi.

Dalam kegiatan diskusi tersebut juga ada tambahan ilmu dari Suharji, PPL Kemalang tentang bagaimana mengenali tanda-tanda sapi birahi, kapan waktu baik mengkawinkan/inseminasi saat sapi sedang masa birahi. Saat yang paling baik untuk inseminasi adalah mulai dari 9 jam setelah mulai tanda birahi yang sebenarnya sampai dengan 6 jam sesudah tanda birahi yang sebenarnya berakir, sedangkan waktu yang baik untuk inseminsi adalah setelah 6 jam sesudah tanda birahi sampai 10 jam sesudah tanda birahi sebenarnya.

Untitled-4Diskusi tersebut juga meyepakati adanya pertemuan rutin bersama PPL Pertanian/Dinas diadakan tiap 3 bulan untuk pemberian informasi dan lain-lain, mendatangkan nara sumber lain/pelatihan, pensinergian dengan PPL  Pertanian untuk pemanfaatan sisa kandang, menjaga kebersihan sapi dan kandang. Kelompok Mawar akan mengawali menjaga kebersihan sapi dan kandang yang dilakukan bersama-sama pada tanggal 20 Februari 2015 secara bergiliran. Kegiatan bersih sapi atau guyang/memandikan sapi ini belum pernah dilakukan secara bersama-sama oleh para anggota Kelompok Perempuan  Mawar. Sedangkan urusan membersihkan kandang adalah hal yang sudah terbiasa dilakukan setiap hari. Hal tersebut sebagai langkah awal mengajak petani/peternak di Balerante untuk menjaga kebersihan ternaknya dan mewujudkan impian “Balerante Kampung Sapi”. (Eko Nur Arifin/spekham.org)

ToT bagi Master Trainer di Semarang

SEMARANG – IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene) bekerjasama dengan SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) Surakarta melalui Program Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi mengadakan kegiatan ToT bagi Master Trainer Penguatan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP).

Peserta ToT ini adalah para Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan yang IPAL Komunalnya diintervensi, PKK Kecamatan, dan UPTB Bapermas KB Kecamatan, serta para observer dari RPMC USRI Provinsi Jateng-DIY, DPIU dan DCT USRI, Bappeda, dan Bapermas PP & KB Kota Semarang.  ToT ini dilaksanakan selama 2 hari (26-27 Januari 2015) bertempat di Hotel Grasia Jl. S. Parman Nomor 29 Gajah Mungkur Semarang.

Peserta ToT Master Trainer Semarang“Kegiatan ToT ini bertujuan untuk mencetak peserta menjadi Master Trainer yang akan melatih para pengurus KPP, perangkat Kelurahan dan PKK Kelurahan intervensi. Dengan ToT ini, peserta diharapkan mampu melakukan pelatihan bagi penguatan KPP sehingga kepengurusan KPP menjadi semakin kuat dan professional” tegas Provita sebagai Trainer.

Pelatihan dilakukan dengan memberikan pembekalan kemampuan secara teoritis maupun praktis menjadi seorang Trainer. Selain diberikan materi tentang syarat, kapabilitas, dan sifat yang harus dimiliki seorang Trainer, peserta juga melakukan praktek lapangan dengan melihat langsung konstruksi dan fungsi masing-masing bagian IPAL serta berdialog dengan pengurus KPP dalam pengelolaan IPAL Komunal. Peserta merasa mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjadi seorang Trainer yang handal dan mengetahui seluk-beluk konstruksi IPAL dan fungsinya.

(fauziumma muhammad/spekham)

TOT Pemicuan Bagi Masyarakat Solo Raya

       SOLO – Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi” adalah program yang lebih difokuskan pada bidang sanitasi. Program ini akan mendukung program pemerintah yang berhubungan dengan program-program Sanitasi seperti Infrastruktur Sanitasi Perkotaan Pedesaan (USRI) dan SLBM yang telah berjalan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Dukungan yang bisa diberikan dari program ini berupa upaya-upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan memanfaatkan mekanisme perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kontribusiprogram ini adalah mendukung dan mengembangkan keberlanjutan dalam program-program sanitasi yang dilakukan oleh pemerintah.

TOT Solo Raya2Untuk mendukung program ini, salah satu kegiatan yang  dilakukan adalah kegiatan pelatihan dengan peserta beberapa pihak dan komponen yang terlibat langsung dalam Program USRI. Salah satunya adalah kegiatan Training of Trainer Pemicuan Paska Konstruksi. Kegiatan ToT Solo Raya ( Kota Solo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo) ini dilakukan pada Tanggal    8 – 10 Oktober 2014. bertempat.  Hotel D’Wangsa HAP Solo Jl.Brigjend Slamet Riyadi No.133 Surakarta dengan jumlah 26 orang. Tujuan dari  TOT ini Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melatih dalam Pelatihan Pemicuan Bagi Masyarakat di wilayah kerjanya masing-masing sesuai dengan peran dan fungsinya.

        Pemahaman Peserta tentang Program USRI Peserta berasal dari perwakilan unsur kesehatan (sanitarian) dan pokja IV PKK kecamatan. Sebagian besar telah mengetahui tentang keberadaan Program USRI di wilayahnya, namun tidak memahami proses pelaksanaan dengan baik karena saat sosialisasi awal dan pelaksanaan pembangunan infrastruksturnya mereka tidak dilibatkan. Tantangan yang muncul dari pelaksanaan Program USRI mengarahkan pada masih minimnya sosialisasi oleh faskel USRI sehingga muncul pro-kontra di masyarakat. Disamping itu keterbatasan lahan yang digunakan untuk lokasi IPAL komunal juga masih banyak ditemui. Kegiatan paska konstruksi belum diimbangi dengan musyawarah mufakat tentang biaya perawatan dan pemeliharaan sarana, terlebih jika didapati bangunan yang tidak berfungsi dikarenakan faktor teknis.TOT Solo Raya3

        Peserta ToT berperan sebagai seorang trainer yang akan melatihkan metode pemicuan paska konstruksi kepada KPP dan PKK di wilayahnya. Pemahaman tersebut telah disampaikan dan dipahami dengan baik oleh peserta, walaupun di awal muncul beberapa keraguan dan kurang percaya diri. bagaimana upaya memicu masyarakat untuk mau memiliki SR ke IPAL komunal yang telah dibangunkan Program USRI. Jika saat pra konstruksi elemen pemicuan banyak menyentuh dari sisi rasa jijik, takut sakit, gengsi, faktor agama, dll maka saat paska konstruksi Program USRI ini akan lebih menekankan bagaimana upaya memicu warga yang kesulitan atau enggan membangun SR, baik itu karena keterbatasan biaya maupun kekuranganpahaman dari sisi teknis. (spekham/wijiatmi)

Kadang Wadon Kuncen

Kuncen adalah sebuah daerah di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Sebelah utara Kuncen berbatasan dengan Kecamatan Delanggu, Sebelah timur berbatasan dengan Desa Ngawonggo, Sebelah Selatan Kuncenberbatasan dengan Desa Klepu, Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Polanharjo. Temperature udara rata-rata antara 280C-300C. Desa Kuncen merupakan dataran rendah, berada pada 133 M di atas permukaan laut, dengan curah huan 154 mm/tahun.

Pendapatan utama penduduk Kuncen berasal dari sektor pertanian. Selain dari pertanian, penduduk di Kuncen juga mengandalkan dari industri rumah tangga semisal produksi mlinjo. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Desa (Kadus), industri rumah tangga emping ini sebetulnya sangat menjanjikan tapi karena antara permintaan dan pasokan bahan baku tidak seimbang maka industri emping di Desa Kuncen kurang menjadi unggulan. Perekonomian di Desa Kuncen bisa dibilang cukup, dan masyarakatnya kebanyakan menjadi pekerja pabrik, petani dan buruh tani.

Peran perempuan sangatlah vital di Desa Kuncen. Perempuan sangat berperan di berbagai kegiatan yang ada di Desa, bahkan Kepala Desa Kuncen adalah seorang perempuan. Keterlibatan perempuan tentunya tidak lepas dari jumlah penduduk perempuan yang lebih banyak dari laki-laki (P:1.428,L:1.402). Kegiatan PKK di Desa Kuncen sangat menonjol, dilakukan 3 kali dalam sebulan. Selain PKK, kegiatan yang dilakukan oleh WPA (Warga Peduli Aids) juga sangat maju dibanding dengan desa-desa yang ada di Kabupaten Klaten yang ada. 30% kepengurusan WPA Desa Kuncen adalah perempuan.

Sangatlah menarik berinteraksi langsung dengan masyarakat Kuncen. Melalui Kepala Desa Kuncen, Ibu Christanti S.Pd, banyak hal diungkapkan terutama permasalahan-permasalahan yang ada (perempuan dan anak) semisal banyaknya bayi gizi kurang, jumlah ibu hamil gizi kurang, adanya penderita CA Carvic, adanya penderita lepra usia muda, kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan reproduksi.

SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) sebagai organisasi perempuan yang ada di Kota Surakarta melalui Divisi Kesehatan Masyarakat akan melakukan berbagai upaya penguatan dan pembangunan kesadaran masyarakat sipil, terkhusus di Desa Kuncen. Upaya-upaya ini dilakukan sebagai komitmen organisasi untuk ikut berkontribusi dalam proses perubahan sosial menuju tatanan masyarakat yang lebih adil dan bermartabat, dengan menggunakan perspektif gender, hak asasi manusia, pluralisme, dan keseimbangan lingkungan sebagai landasan gerak organisasi dalam memperjuangkan visi, misi, dan tujuannya SPEK-HAM. Melalui Divisi Kesehatan Masyarakat, SPEK HAM melakukan assessment di Desa Kuncen untuk menggali lebih dalam permasalahan-permasalah terutama permasalahan “perempuan dan anak”.

Dari hasil assessment ini, ada beberapa hal yang menjadi fokus SPEK-HAM sebagai lembaga yang mengangkat isu perempuan, terutama isu kesehatan reproduksi. Selama 6 bulan kedepan, SPEK HAM akan berada di wilayah kerja baru (Desa Kuncen) untuk bersama-sama “Kadang Wadon Kuncen” belajar bersama tentang pemahaman kespro (kesehatan reproduksi) lebih mendalam, sehingga harapannya nanti kadang wadon kuncen semakin medapatkan ilmu tentang kesehatan reproduksi dan menuju Kuncen yang bebas dari kasus-kasus kespro. (antonius danang/spekham.org)

(mau tau cerita selanjutnya>>>>>tunggu bulan depan)

Penguatan Akses Layanan Sanitasi : Kisah dari Semarang

SEMARANG-Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ToT Pemicuan bagi masyarakat adalah pemicuan langsung di masyarakat. Pemicuan dilakukan di titik IPAL Komunal yang belum maksimal sambungan rumahnya. Pemicuan ini merupakan bagian dari upaya menguatkan akses dan pemanfaatan layanan sanitasi yang telah tersedia. Waktu pelaksanaan pemicuan disesuaikan waktu luang masyarakat, yakni pada malam hari. Ada yang dibarengkan dengan kegiatan pertemuan RT Bulan-an, ada juga yang melalui pertemuan khusus yang diadakan untuk pemicuan. Pemicuan yang dibarengkan dengan pertemuan RT, warga yang hadir semua warga RT/RW setempat. Sedangkan pertemuan yang secara khusus untuk pemicuan, warga yang diundang hanyalah warga yang belum melakukan Sambungan Rumah (SR).

Pemicuan 1 Kepala Kelurahan Podorejo (Bapak Nahrowi) dan Ketua KPP (Bapak Jamari) sedang menyampaikan pengarahan pada kegiatan pemicuan bagi warga RT 02 dan 03, pada Hari Sabtu malam Minggu, tanggal 3 Januari 2015 jam 19.30-22.00, bertempat di Balai Pertemuan RW III.

Pemicuan ini dilakukan dengan model dialog bersama warga masyarakat. Masyarakat mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg-nya kepada Tim Pemicu. Setelah Melalui kegiatan pemicuan semacam ini warga masyarakat dengan kesadarannya mau memanfaatkan IPAL Komunal dengan cara melakukan SR bagi warga yang rumahnya belum tersambung.  Hal ini terutama untuk mengoptimalkan akses IPAL bagi masayarakat di sekitar.

Hasilnya, ada beberapa warga yang secara swadaya kemudian melakukan Sambungan Rumahnya ke IPAL Komunal. Mereka beralasan bahwa kesehatan jauh lebih penting dibandingkan biaya yang mereka keluarkan untuk penyambungan pipa pembuangan limbah rumah tangga mereka ke IPAL Komunal. Di samping itu, dengan menyalurkan pembuangan limbah rumah tangga ke IPAL Komunal, saluran di selokan menjadi kering dan bersih, tegas Bu Eko salah seorang warga RT 02 RW III Palir Kelurahan Podorejo yang baru saja melakukan SR setelah adanya pemicuan.

Pemicuan 2Suasana pemicuan di titk IPAL Kalipancur 1 yang berada di Rt 11/RW I Kelurahan Kalipancur. Kegiatan pemicuan dibarengkan dengan pertemuan RT bulanan yang disebut dengan nama Sarasehan Bulanan. Pemicuan ini dilaksanakan pada Hari Minggu malam Senin, tanggal 7 Desember 2014 jam 19.30-22.00, bertempat di Balai Pertemuan RT 11. Acara ini selain dihadiri pengurus dan warga RT 11 juga dihadiri Ibu Carik.
IPAL BaruJaringan perpipaan baru rumah Bu Eko warga RT 02/RW III Palir Kelurahan Podorejo yang baru saja disalurkan ke IPAL Komunal di wilayah ini. Penyambungan baru ini juga dilakukan untuk rumah mertunya, Ibu Sarini yang berada di sebelah rumah Bu Eko.

TOT Pemicuan Bagi Masyarakat Penerima Manfaat Layanan Sanitasi di Kota Semarang

SEMARANG –SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) Surakarta bekerjasama dengan IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene) melalui Program Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi mengadakan kegiatan Training of Trainers (ToT) Pemicuan bagi Masyarakat pasca konstruksi. Kegiatan ToT Pemicuan ini diikuti dari berbagai unsur, yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), atau Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP), Kader Posyandu, dan Kader PKK. Pelatihan dilaksanakan dalam dua gelombang. Masing-masing gelombang selama dua hari.

TOT SEMARANG ISuasana ToT Pemicuan Kelas 1, sedang perkenalan melalui permainan lempar bola. ToT dilaksanakan pada tanggal 15-16 Nopember 2014, bertempat di Aula Kecamatan Ngalian.

Pada hari pertama, peserta diajak mendalami materi teori terkait pemicuan, kemudian pada hari kedua peserta diajak praktik langsung di masyarakat untuk melakukan pemicuan. Pelatihan gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 15-16 Nopember 2014, bertempat di Aula Kecamatan Ngalian. Gelombang pertama ini diikuti oleh peserta dari titik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kelurahan Kalipancur (dua titik IPAL), IPAL Kelurahan Jerakah, dan IPAL Kelurahan Podorejo. Sedangkan gelombang kedua dilaksanakan pada tanggal 22-23 Nopember 2014, bertempat di Aula Kecamatan Banyumanik. Pesertanya dari dua titik IPAL, yaitu Kelurahan Gedawang dan Kelurahan Mangunharjo.

Kegiatan ToT bertujuan untuk mencetak para peserta sebagai Trainer/Pelatih yang akan melakukan pemicuan langsung di masyarakat. Kegiatan ini dilatarbelakangi adanya realitas pembangunan IPAL Komunal oleh Pemerintah melalui Program SPBM (Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat) yang belum maksimal.

Praktek LapanganSuasana praktek lapangan pemicuan yang bertempat Balai pertemuan RT 11 RW I Kelurahan Kalipancur. Pak Budi (Sekretaris Kelurahan) sedang memberikan pengarahan terkait pentingnya sanitasi lingkungan yang sehat.

Masih banyak rumah tangga yang belum melakukan Sambungan Rumah (SR) dengan IPAL Komunal tersebut dengan berbagai faktor penyebabnya. Dengan ToT ini, peserta diharapkan mampu melakukan penyadaran pada masyarakat untuk memanfaatkan IPAL Komunal dengan cara melakukan SR bagi rumah tangga yang belum tersambung. Pelatihan dilakukan dengan model pembelajaran orang dewasa yang menempatkan peserta sebagai subyek. Model permainan dan bantuan alat peraga yang digunakan selama pelatihan mendorong peserta mengikuti pelatihan dengan penuh antusias sehingga materi dapat dengan mudah diterima peserta dalam suasana yang menyenangkan. Di akhir pelatihan, peserta berkomitmen untuk melakukan pemicuan langsung di masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab moral. (spekham.org/Moh. Fauzi)

Praktek Lapangan2 Suasana praktek lapangan pemicuan yang bertempat di GOR Kelurahan Gedawang. Trainer sedang memandu salah seorang peserta untuk praktek mencuci tangan dengan sabun.

Desa Bangak, Pembangunan Kesehatan untuk Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Desa Bangak merupakan salah satu Desa yang dialiri Sungai Pepe. Pertanian merupakan produk unggulan di Desa Bangak. Desa Bangak terdiri dari 2 Kebayanan, 14 RW dan 13 RT dengan jumlah penduduk 2985 jiwa. Dukuh yang ada di Desa Bangak, yaitu Tompen sebagai Dukuh yang dilewati Jalan Raya Bangak-Simo, Nglebu, Jetis, Manukan, dan Gabahan. Dukuh Gabahan letaknya kurang lebih 1 km ke arah utara dari Kantor Kelurahan, dipisahkan oleh sawah yang membentang luas. Berdasarkan perencanaan pembangunan jalan tol, wilayah perbatasan antara Dukuh Gabahan dengan Tompen ini akan dilintasi jalan Semarang-Solo yang pembangunannya direncanakan tahun 2014- 2015. Selain bermata pencaharian dari sektor pertanian, penduduk Desa Bangak juga berdagang, beternak, bekerja di pabrik, PNS, kantoran maupun wirausaha lainnya. Mata pencaharian paling banyak adalah sebagai pekerja buruh industri.

“Desa Bangak mempunyai kerentanan terhadap kesehatan reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan. Sudah ada beberapa kasus terkait dengan kedua hal tersebut” uangkap Ibu Wulan, Bidan Puskesmas Banyudono.

DIGITAL CAMERABersama dengan Masyarakat, Lurah dan Perangkat Desa, Bidan Desa, SPEK HAM mencoba untuk melihat persoalan kesehatan apa saja yang ada di Desa Bangak. Pemetaan ini merupakan langkah awal adanya Pembangunan Kesehatan yang bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka perempuan sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh karena itu perempuan harus diberi perhatian, sebab :

  1. Perempuan menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi laki-laki berkaitan dengan fungsi reproduksinya.
  2. Kesehatan perempuan secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
  3. Kesehatan perempuan sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatasnamakan ‘pembangunan´ seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.
  4. Masalah kesehatan reproduksi perempuan sudah menjadi agenda Internasional, diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).
  5. Perempuan merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu para perempuan diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.

Salah satu usaha Pemerintah adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan reproduksi dengan cara melakukan pendidikan kesehatan yang tidak hanya didapat di bangku sekolah, tetapi juga bisa dilakukan dengan cara mengadakan penyuluhan oleh tenaga kesehatan, yang biasa disebut dengan promosi kesehatan ataupun penyuluhan kesehatan.

Mengingat tugas kita sebagai Lembaga peduli Perempuan, tugas Divisi Kesehatan Masyarakat adalah salah satunya memperkenalkan bagaimana cara hidup sehat dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi pada masyarakat. (atik fatmawati/edit :nuel/SPEK HAM)