Search for:

Remaja Pundungan Belajar Komunikasi Persuasif

Melakukan Komunikasi Persuasif dengan permainan tebak kata

SPEK-HAM bersama Pemerintah Desa Pundungan kembali menggelar Pertemuan Remaja pada Senin, 23/12 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Diskusi kali ini mengangkat tema Komunikasi Persuasif.

Kegiatan ini diawali dengan permainan tebak kata. Setiap peserta yang dibagi ke dalam 2 kelompok. Mereka harus menebak kata yang diberikan fasilitator dengan memperagakannya secara berantai. Kata-kata yang ditebak, yaitu Menstruasi, Mimpi Basah, Kehamilan Tidak Diinginkan, Perkawinan Anak, Remaja Sehat dan Remaja Berencana.

Marlina salah seorang peserta menyatakan permainan tebak kata ini menyenangkan dan seru. Menurutnya butuh kemampuan untuk memperagakan lewat gerak anggota tubuh supaya kata yang dimaksud bisa dijawab peserta lainnya.

Charin peserta yang lain menyampaikan melalui permainan tersebut remaja diingatkan untuk konsisten dalam menyampaikan informasi kepada remaja lainnya dengan bahasa yang singkat, jelas dan mudah dipahami.

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyatakan seorang remaja tentu saja membutuhkan kemampuan berkomunikasi persuasif kepada teman sebayanya, sehingga perubahan perilaku yang diharapkan dapat terjadi sesuai yang kita inginkan. “Misalnya remaja semakin sadar dan paham tentang pentingnya kesehatan reproduksi, mengajak atau membujuk untuk tidak melakukan seks sebelum menikah, bergaul dengan teman yang baik dan memiliki perencanaan di masa depan,” ungkap Fajar.

Fajar menambahkan, harapannya bila semakin banyak remaja terpapar informasi, maka pemenuhan hak kesehatan dan akses layanan kesehatan reproduksi menjadi nyata dilakukan. Selain itu bisa membantu penurunan angka kasus kesehatan reproduksi hingga peningkatan derajat kesehatan perempuan menjadi lebih baik lagi.

Dalam kegiatan ini peserta diajak bermain peran seolah-olah menghadapi kasus-kasus atau persoalan yang seringkali dihadapi remaja di tingkat desa, misalnya temuan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), Kehamilan Pada Remaja, Perkawinan Anak dan sebagainya. Sementara itu Danang Setiawan, selaku Kepala Desa Pundungan menyatakan saat ini kita membutuhkan Sumber Daya Manusia yang baik dan terampil berkomunikasi serta mampu mengedukasi sesama remaja atau teman sebaya sehingga dapat bersama-sama menekan angka kasus-kasus kesehatan reproduksi yang masih sering dijumpai. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.

Kisah Perempuan Penyintas Kanker Payudara

Sabtu, 14/8 yang lalu di sela-sela Pertemuan Kader Kesehatan Desa Pundungan, saya berkesempatan bertemu dengan seorang perempuan penyintas kanker payudara. Ia  bernama Heruwati, 50 tahun warga Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Dia menuturkan awal mulanya merasakan ada benjolan pada payudaranya, namun benjolan itu tidak terasa sakit. Melihat hal itu dia memeriksakan diri ke dokter spesialis bedah di RSUP. Dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyarankan harus dilakukan operasi untuk mengangkat sel-sel kanker yang ada di tubuhnya.

“Terdapat 2 benjolan di payudara saya, ini membutuhkan penelitian lebih lanjut. Akhirnya saya dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta,” ungkap Heruwati. Dia menambahkan Setelah dilakukan penelitian ternyata 2 benjolan di payudara saling berhubungan.

Untuk selanjutnya dia menjalani Kemoterapi selama 6 kali, selain itu dia juga menjalani Radioterapi atau pengobatan menggunakan sinar-X berenergi tinggi seperti proton atau partikel lainnya untuk membunuh sel kanker.Terapi yang dijalaninya dilakukan setiap 3 minggu sekali.

Setelah pemeriksaan Radiologi selesai, dia dinyatakan negatif. Tetapi ternyata tidak berakhir di sini, Heruwati harus menjalani evaluasi selama 5 tahun. “Saya dikembalikan ke RSUP. Dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten di tangani kembali di Poli Bedah Onkologi untuk dievaluasi bersama dengan dr. Raden Aryo Nindito, Sp.B.Onk sampai sekarang. Setiap seminggu sekali diberi obat dan setiap 6 bulan sekali dilakukan evaluasi”, terang Heruwati.

Heruwati dinyatakan positif kanker payudara sejak tahun 2018, saat itu dia berusia 47 tahun. Menurutnya dari awal sampai saat ini tidak merasakan sakit sama sekali, pun saat menjalani operasi. Setiap perempuan memilki perasaan yang berbeda-beda, ada yang merasakan sakit atau tidak.

Menurut ibu 2 orang anak ini, banyak perempuan yang abai dan menganggap remeh penyakit ini. Misalnya mengetahui adanya benjolan di payudaranya, tidak merasa sakit tetapi tidak bersedia memeriksakannya. Padahal ini bisa menjalar ke mana-mana. Ini yang membuat dia prihatin.

Seorang tetangga yang mengalami kanker payudara, selalu saya beri motivasi agar berani memeriksakan diri. Saya menyarankan dia meminta rujukan ke Puskesmas. Perempuan itu menjalani Kemoterapi sebanyak lima kali dan tanggung BPJS Kesehatan. “Sekarang dia gemuk, kelihatan seger dan merasa sehat padahal dulu kurus,” ungkapnya senang.

Saat terapi dan pengobatan harus mengikuti apapun yang disarankan Dokter. Dia berharap banyak perempuan yang semakin sadar tentang kesehatannya, termasuk mendeteksi secara dini apapun penyakit yang ada dalam tubuhnya.

Sebagai informasi seperti dikutip dari https://databoks.katadata.co.id/, Data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, angka kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk. Rata-rata kematian akibat kanker ini mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk. Sementara itu, angka kanker serviks di Indonesia mencapai 23,4 orang per 100 ribu penduduk. Rata-rata kematian akibat kanker serviks mencapai 13,9 orang per 100 ribu penduduk. Upaya pencegahan dan pengendalian kedua jenis kanker tersebut dilakukan dengan cara deteksi dini pada perempuan usia 30-50 tahun. Metode yang digunakan adalah Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) dan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) untuk kanker serviks. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.

Mencegah Perkawinan Anak, Dimulai Dari Desa

Demikian disampaikan Danang Setiawan, Kepala Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring dalam Focus Gruop Discusion (FGD) Pemetaan Persoalan Kesehatan Reproduksi Perempuan pada Selasa, 7/9 di Griya Mbah Lurah, Pokak Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten.

Menurut Danang, desa harus menyediakan ruang kreativitas bagi remaja, seperti sarana olahraga, sanggar belajar, tempat bermain dan sebagainya. Selain itu remaja harus diberikan pendidikan seksualitas secara komprehensif.

Sebelumnya Nila Ayu Puspaningrum dari SPEK-HAM menyampaikan keprihatinannya tentang data kasus perkawinan anak. Informasi dari Pengadilan Agama Klaten menyebutkan tahun 2018 ada 112 kasus. 2019: 141 kasus, 2020: 245 kasus.

Menurut Nila tingginya angka perkawinan anak dipicu oleh banyak hal. Misalnya faktor budaya yang berlaku disuatu tempat yang melanggengkan terjadinya perkawinan anak, pergaulan remaja yang tidak sehat, faktor internet dan media sosial, belum adanya pendidikan seksualitas yang komprehensif dan sebagainya.

“Pada sisi lain kita juga mengapresiasi adanya perubahan syarat minimal usia menikah, yaitu 19 tahun untuk laki-laki maupun perempuan dalam perubahan UU Perkawinan nomor 16 tahun 2019,” ungkap Nila.

Sementara itu Purwanti dari Dinsos P3AKB klaten, mengingatkan perlunya kerja bersama lintas OPD untuk mencegah terjadinya perkawinan anak. Selain itu dukungan swasta dan NGO juga sangat dibutuhkan.

Senada, Bekti dari Dinas Kesehatan Klaten menyampaikan selain kerja-kerja integratif lintas OPD, pelibatan konselor sebaya di sekolah-sekolah perlu ditingkatkan. Selain itu peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk mengedukasi anak-anaknya  khususnya dalam sex education. Sebagai informasi FGD pemetaan persoalan kesehatan reproduksi perempuan Kabupaten Klaten ini didukung oleh GF for Women dan diikuti oleh 25 peserta yan terdiri dari: Dinkes, Dinsos P3AKB, Dinas Pendidikan, Dispermasdes, Kecamatan Juwiring, P2TP2A, Puskesmas Juwiring, Klaten Tengah, Pengadilan Agama, Kemenag, Kepala Desa Pundungan, Kepala Desa Trasan, Kader Kesehatan Pundungan, Kader Kesehatan Trasan, PIK R UNWIDA, Posyandu Remaja Pundungan, dan PKK Kabupaten Klaten. Henrico Fajar/Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM

Remaja Pundungan Gelar Nobar Film “Pindah Planet”

Ada yang berbeda dalam Pertemuan Remaja Desa Pundungan Sabtu pagi 21/8. Ya, selain diisi dengan pemeriksaan kesehatan dan diskusi. Puluhan remaja yang hadir ini mengadakan kegiatan nonton bareng (nobar) film “Pindah Planet di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Film yang diproduksi oleh Kampung Halaman ini menceritakan tentang persahabatan dua orang,  Mirta (15 tahun) dan Tia (15 tahun), mereka sedang memasuki masa pubertas di tengah simpang siurnya informasi dan kemajuan teknologi. Mirta menghadapi menstruasi pertama, penggunaan HP pertama dan juga cinta pertama. Sementara Tia menghadapi ancaman pacarnya yang ingin menyebarkan foto seksinya. Persahabatan mereka pun diuji.

Film ini pernah diputar di TVRI Nasional dan beberapa kota di Indonesia. Penonton terpukau melihatnya. Selain ceritanya yang simpel, gaya bahasa lokal (jawa) pemeran-pemerannya membuat film ini serasa dekat dengan keseharian kita.

Saat ditanya tentang kesannya setelah menonton film ini, Fadhila salah seorang penonton mengaku senang. Menurut dia film ini memberi pesan kepada para remaja agar bijak dalam bermedia sosial, mampu memilah informasi, memilih teman dan mengetahui batas-batas relasi yang saling menghargai dan menghormati antara laki-laki dan perempuan. Sementara itu Danang Setiawan, selaku Kepala Desa Pundungan, berharap dengan digelarnya pertemuan remaja secara rutin ini akan muncul generasi muda yang kritis dan bertanggung jawab serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan di desa. Henrico Fajar/Kesmas SPEK-HAM.

Perempuan Pundungan, Petakan Persoalan Kespro

Pemerintah Desa Pundungan bekerja sama dengan SPEK-HAM kembali menggelar Diskusi bersama Kader Kesehatan pada 14/8 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Dalam diskusi ini dibahas tentang persoalan Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang terjadi di desa ini. Danang Wijayanto, selaku Fasilitator dari SPEK-HAM meminta peserta untuk berkelompok per RW menuliskan temuan-temuan kasus Kespro yang ditemui di wilayahnya masing-masing. 

Beberapa persoalan kesehatan reproduksi yang muncul antara lain kasus kanker payudara, AKI, AKB, kehamilan remaja, gagal KB dan sebagainya.

Rini salah seorang kader kesehatan menyampaikan pentingnya membuka data kasus kespro dan diketahui masyarkat luas “Persoalan-persoalan kesehatan reproduksi itu harus disampaikan secara terbuka jangan malah ditutupi, dengan begitu warga juga bisa melakukan pencegahan,” ungkap Rini.

Dia menambahkan dengan diketahuinya persoalan-persoalan kesehatan reproduksi, harapannya kasus-kasus tersebut bisa ditangani dengan baik.

Sementara itu Danang Setiawan selaku Kepala Desa Pundungan, berharap adanya layanan jemput bola dalam pencegahan kasus-kasus kesehatan reproduksi, misalnya IVA tes dan Pemeriksaan Kanker Payudara yang bisa dilakukan di tingkat desa. Dia menambahkan pemerintah desa berkomitmen mendukung program kesehatan reproduksi perempuan melalui dukungan anggaran dana desa. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM

Perempuan Pundungan Belajar Komunikasi Persuasif

Suasana diskusi komunikasi persuasif

SPEK-HAM bersama Pemerintah Desa Pundungan kembali menggelar Diskusi Komunitas Perempuan pada Senin, 5/4 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Diskusi kali ini mengangkat tema Komunikasi Persuasif.

Kegiatan ini diawali dengan permainan tebak kata. Setiap peserta yang dibagi ke dalam 3 kelompok harus menebak kata yang diberikan fasilitator dengan memperagakannya secara berantai. Kata-kata yang ditebak, yaitu perencanaan kehamilan, hamil beresiko, kehamilan tidak diinginkan, kematian ibu, gagal KB, dan keguguran pada pada perempuan.

Tutik salah seorang peserta menyatakan permainan tebak kata ini memiliki makna, bahwa kader harus konsisten dalam menyampaikan pesan kepada warganya dengan bahasa yang singkat, jelas dan mudah dipahami.

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyatakan seorang kader tentu saja membutuhkan kemampuan berkomunikasi persuasif kepada setiap warga, sehingga perubahan perilaku yang diharapkan dari warga sesuai dengan yang kita harapkan. “Misalnya warga semakin sadar dan paham tentang pentingnya kesehatan reproduksi, mengajak atau membujuk ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya, mengkonsumsi vitamin dan sebagainya” ungkap Fajar.

Fajar menambahkan, harapannya bila semakin banyak warga terpapar informasi, maka pemenuhan hak kesehatan dan akses layanan kesehatan reproduksi menjadi nyata dilakukan. Selain itu bisa membantu penurunan angka kasus kesehatan reproduksi hingga peningkatan derajat kesehatan perempuan menjadi lebih baik lagi.

Dalam kegiatan ini peserta diajak bermain peran seolah-olah menghadapi kasus-kasus atau persoalan yang seringkali dihadapi kader di tingkat desa, misalnya tentang partisipasi masyarakat di Musrenbangdes yang tidak diakomodir pemerintahan desa, temuan kasus kesehatan reproduksi, warga menolak anaknya diimunisasi dan sebagainya. Sementara itu Danang Setiawan, selaku Kepala Desa Pundungan menyatakan saat ini kita membutuhkan Sumber Daya Manusia yang baik dan terampil berkomunikasi serta mampu mengedukasi warga masyarakat untuk berkontribusi dalam menekan angka kasus-kasus kesehatan reproduksi yang masih sering dijumpai. Anna-Magang/Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM).

Pemerintah Desa Blumbang Gelar Musrenbangdes

Widayanto, Kepala Desa Blumbang menyampaikan sambutan dalam kegiatan Musrengbandes

Pemerintah Desa Blumbang Menggelar kegiatan Musrenbangdes pada Jumat, 24/1 di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Hadir dalam kegiatan ini Camat beserta Muspika Kecamatan Klego, Kepala Desa beserta perangkat, BPD, para RT dan RW, anggota PKK, kader kesehatan, tokoh agama dan tokoh masyarakat, pendamping desa dan sejumlah elemen masyarakat lainnya.

Partisipasi Perempuan dalam Musrengbandes Blumbang

Kepala Desa Blumbang Widayanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa Musrenbangdes tahun ini akan menghasilkan usulan atau program kegiatan di tahun 2021 yang terdiri atas rencana kegiatan bidang sosial budaya (kemiskinan, kesehatan, pendidikan, kepemudaan, lingkungan hidup), ekonomi (industri, home industri, UMKM, pertanian) dan infrastruktur (pengelolaan sampah, pengelolaan air bersih, pembangunan jalan, jembatan, dsb).

“Kegiatan ini akan merumuskan dan menetapkan pembangunan desa, menentukan prioritas kegiatan yang akan diajukan ke Musrenbang Kecamatan. Semua warga bisa memberikan usulan terkait dengan program pembangunan desa di tahun 2021 yang sesuai dengan kebutuhan desa”, jelas Widayanto.

Dia menambahkan Musrenbangdes merupakan forum musyawarah desa yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Selain merumuskan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan, Musrenbangdes ini juga akan menentukan tim delegasi di tingkat Kecamatan.

Drs. Sudarmadi, MM Selaku Camat Klego menyampaikan musrenbanges ini bertujuan untuk menyusun rencana prioritas pembangunan desa, misalnya pemberdayaan terutama di bidang ekonomi. Pemberdayaan menurutnya sangat berguna untuk meningkatkan pendapatan dalam rangka menyejahterakan masyarakat.

“Jadi saya berharap agar pembangunan itu tidak hanya infrastruktur saja, tetapi juga pemberdayaan itu juga penting bagi masyarakat agar kesejahteraan warga bisa tercapai dengan maksimal”, terang Sudarmadi. Sementara itu Fikri salah seorang kader kesehatan akan mengusulkan kegiatan pelatihan kesehatan reproduksi perempuan dan remaja. ”Nanti di sesi diskusi per bidang pembangunan saya mengusulkan kegiatan untuk perempuan, yaitu pelatihan kesehatan reproduksi untuk perempuan dan remaja”, ungkap Fikri. Menurutnya kegiatan ini penting dilakukan karena masih banyak perempuan yang belum paham tentang kesehatan reproduksi. Mustika Ayu, Novenda/magang, Henrico Fajar K.W/Divisi Kesmas SPEK-HAM

Komunitas Perempuan Blumbang Gelar Diskusi

Suasana Diskusi Kader Kesehatan dan Anggota PKK

Diskusi diselenggarakan pada Sabtu 18/1 di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Hadir dalam kegiatan ini Bidan Desa, Kader Kesehatan dan sejumlah anggota PKK desa. Diskusi dilaksanakan rutin tiap bulan, kali ini mengangkat tema tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

Fasilitator dari SPEK-HAM, Henrico Fajar, menyampaikan pertanyaan kepada peserta tentang Hak. Menurut peserta diskusi, Suyamti hak merupakan sesuatu yang harus didapatkan oleh seseorang. Dalam hal ini misalnya hak ibu hamil untuk memperoleh gizi yang cukup, hak mendapatkan informasi kesehatan serta hak memperoleh layanan kesehatan reproduksi yang memadai.  

Hal lain tentang seks, menurut Kader Kesehatan Ida Nursanti seks adalah kontak fisik, antara laki-laki dan perempuan. “Seks itu ya kontak fisik atau hubungan badan perempuan dan laki-laki,” ungkap Ida. Sementara itu dijelaskan Fajar, Seks berkaitan dengan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Sementara seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural. “Ini terkait juga dengan bagaimana fungsi organ reproduksi dan dorongan seksual, serta hal lain misalnya menganggap tabu saat bicara seksual maupun seksualitas”, ungkap Fajar.  

Pengakuan dari beberapa peserta menyebutkan para ibu malu untuk menyampaikan informasi kepada anaknya mengenai persoalan seks. Mereka bingung harus memulai dari mana. Menanggapi hal itu Fajar menyampaikan bagaimanapun juga orang tua, ibu maupun ayah wajib menyampaikan informasi kepada anaknya mengenai seks, kesehatan reproduksi dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh sang anak terutama anak yang sudah menginjak usia remaja.

Fajar menambahkan Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak usia dini, misalnya membiasakan masuk toilet saat buang air kecil maupun besar dan tidak membiarkan anak buang air kecil di tempat terbuka. Selain itu penting untuk mengenali sentuhan pada anak, dibagian tubuh mana boleh disentuh dan tidak boleh disentuh serta siapa saja yang boleh menyentuh.  

Dalam diskusi ini juga dibahas tentang reproduksi, Kader Kesehatan Suryanti menyampaikan reproduksi berarti memproduksi kembali, menciptakan atau melahirkan generasi masa depan. “Dalam mereproduksi tentu saja butuh persiapan, baik persiapan mental maupun fisik, misalnya pemeriksaan kandungan yang butuh dukungan sang suami menemani periksa dan pemenuhan gizi atau nutrisi pada ibu hamil,”ungkap Suryanti. Mustika Ayu, Novenda/magang, Henrico Fajar/ Divisi Kesmas SPEK-HAM