Search for:

JAMUR TIRAM SUMBER PENDAPATAN PEMUDA WLAHAR BREBES

Budidaya Jamur Tiram

SPEK-HAM dengan dukungan Kedutaan New Zeland dan Baperlitbangda Kabupaten Brebes, mendampingi Kelompok Petani Jamur di Dusun Karangsari dan Kedungabad Desa Wlahar Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Ada sekitar 10 orang petani muda yang terjun dalam pengelolaan jamur tiram sejak Januari 2020 lalu. Budidaya jamur tiram ini bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Brebes, salah satunya dengan mengurangi angka pengangguran pada kelompok pemuda. Program ini sinergi dengan upaya Pemerintah Kabupaten Brebes dalam mengurangi angka kemiskinan di Brebes yang masih 17,17 % pada akhir tahun 2019 (https://jateng.tribunnews.com/2019/11/21/dari-34-desa-miskin-di-brebes-10-di-antaranya-kategori-sangat-miskin).

Sudah kali kedua periode budidaya jamur tiram sejak awal dibentuknya kelompok. Pada Sabtu (02/5/2020) yang lalu, kelompok petani jamur Dusun Karangsari Desa Wlahar Kecamatan Larangan melakukan pembibitan jamur. Adapun proses pembibitan jamur dimulai dengan tahapan : (1) menyiapkan kancing baglog (pipa paralon), (2) menyiapkan kertas koran, (3) menyiapkan kawat sepeda, (4) menyiapkan alcohol, (5) menyiapkan karet gelang, (7) menyiapkan lilin.

Menurut Kustanto, salah satu anggota kelompok petani jamur Dusun Karangsari, sekarang jadi punya pengalaman budidaya jamur. “Panen kemarin sebagian dikonsumsi sendiri, sebagian dijual. Hasil penjualan dikumpulkan untuk membeli baglog jamur yang lebih banyak”, tambah Kustono.

Awalnya hanya 500 baglog jamur, dari jumlah tersebut petani sudah mampu memanen sekitar 2-3 kg setiap hari dengan harga jual 20.000/kg. Pemasaran jamur langsung ke konsumen dan produsen olahan makanan dari jamur. Permintaan jamur setiap minggu adalah 30 kg, sedangkan kapasitas produksi tiap kelompok rata-rata 2-3 kg setiap hari. Untuk mencukupi kebutuhan pasar, pada tahap kedua ini tiap kelompok mengelola 2000 baglog jamur tiram.

Jamur dipilih karena mudah tumbuh dan setiap hari panen. Dengan omset Rp. 40.000 – 60.000 tiap hari, diharapkan menjadi sumber pendapatan dan mampu meningkatkan pendapatan para pemuda desa. Dukungan dan sinergi dari pemerintah Kabupaten Brebes diharapkan untuk keberlanjutan program ini, sehingga angka kemiskinan di Kabupaten Brebes bisa menurun. (Nila)

Sadar Kesehatan Reproduksi Kampung Kandang Doro

Usaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi dilakukan oleh SPEK-HAM. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan menyasar pada kelompok-kelompok resiko tinggi, kelompok Ibu rumah tangga, dan juga pelajar serta mahasiswa.

Kelompok Perempuan Kampung Kandang Doro, Kelurahan Kestalan merupakan salah satu komunitas yang selama lebih kurang tiga tahun menjadi kelompok dampingan SPEK-HAM. Kelompok yang terdiri dari Ibu rumah tangga ini telah banyak melakukan banyak kegiatan terkait dengan kemadirian serta peningkatan kapasitas pengetahuan perempuan, termasuk peningkatan pengetahuan akan kesehatan reproduksi. Kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi sudah mulai terbangun dengan adanya diskusi-diskusi menyangkut hal tersebut.

iva kandang doro 3Terbangunnya kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan adanya pemeriksaan kesehatan reproduksi dengan Tes IVA (Inspeksi visual dengan asam asetat), tes IMS dan tes HIV AIDS pada hari Rabu, 21 Mei 2014. Kegiatan yang dilakukan bekerjasama dengan Puskesmas Sangkarah ini bertujuan untuk mendeteksi dini kelainan pra-kanker leher rahim pada tahap awal dengan pemeriksaan IVA. Program ini hanya membutuhkan sumber daya dan sarana kesehatan sederhana, namun sangat efektif.

Proses tes IVA dan IMS dilakukan dengan pembersihan leher rahim. Spekulum, alat semacam cocor bebek, membantu proses pembersihan. Pembersihan dilakukan dengan cara memulas leher rahim dengan zat asam asetat 3-5% selama satu menit.

Pemeriksaan paling lama memakan waktu 5-6 menit untuk setiap orangnya. Dengan waktu maksimal 5-6 menit, hasil tes langsung diketahui seketika itu juga. Petugas medis yang memeriksa akan menyimpulkan normal (negatif) atau Lesi pra-kanker (positif). Idealnya, pemeriksaan untuk mendeteksi dini kanker leher rahim dilakukan secara rutin dan berkala. Pemeriksaan minimal dilakukan 3 tahun sekali dengan cara Papsmear atau tes IVA. (atik fatma/edit:nuel/spekham)

Tes IVA dan IMS untuk Perempuan di Kelurahan Sangkrah

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual secara bebas tanpa pengaman , infeksi menular seksual diantaranya ; Ghonoreae, Sifilis, Chlamidia, Herpes Genital, HIV dan AIDS dan lain-lain.

Metode pencegahan dengan deteksi dini dapat dilakukan, diantaranya dilakukan melalui tes IVA. Sebagai wujud kepedulian SPEK-HAM Surakarta terhadap kesehatan reproduksi perempuan, kamis 20 Maret 2014, SPEK-HAM bekerjasama dengan Puskesmas Pembantu Sangkrah melakukan tes IVA dan IMS dengan melibatkan seluruh masyarakat khususnya perempuan di wilayah Sangkrah, Semanggi dan sekitarnya.

Tes yang dilakukan di Kelurahan Sangkrah ini merupakan rangkaian pemeriksaan tahap 2, setelah pada tanggal 10 dan 11 maret 2014, dilakukan pemeriksaan tahap pertama di Kelurahan Pucang Sawit.

Pada proses pelaksanaan tes, pasien atau peserta tes dapat secara langsung mengetahui hasil tes laboratorium dari pihak medis Puskesmas Pembantu Sangkrah untuk kemudian dapat secara langsung di lakukan penanggulangan dan pengobatan. (lia/spekham)

Diskusi Publik : Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Tahun 1999-2013, 413 pengaduan masuk ke SPEK-HAM Surakarta, 65-100% adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga. Jumlah kasus secara nasional yang masuk ke dalam data base Komnas Perempuan pada tahun 2012 saja ada 216.156 kasus, 8.315 (66%), diantaranya adalah kasus ranah personal (keluarga). Bagaimana dengan situasi kekerasan, utamanya kekerasan dalam rumah tangga, yang terjadi di seluruh dunia? Bagaimana pula dengan penanganannya?

Rabu, 19 Maret 2014. SPEK-HAM bekerjasama dengan Komnas Perempuan, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, dan Solo Pos FM, mengadakan diskusi publik mengenai penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Diskusi menghadirkan narasumber seorang Hakim Pengadilan Negeri di Hennepin County, Minnesota, USA Elizabeth V. Cutter. Selain sebagai seorang Hakim, Elizabeth yang peduli dengan HAM khususnya untuk perempuan, juga merupakan seorang aktifis dari NGO “The Advocates for Human Rights” yang bergerak pada isu-isu ; Hak Perempuan, Hak Pengungsi dan Imigran, Hukum Internasional, dan Pendidikan. Diskusi juga menghadirkan narasumber dari SPEK-HAM Surakarta, Endang Listiani (Direktur Yayasan SPEK-HAM Surakarta) serta Ayu Prawitasari (Redaktur Solopos, Desk Kota).

diskusi publik penghapusan KDRT 4Diskusi mengenai proses-proses peradilan terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Amerika dan Solo Raya oleh peserta dari perwakilan LSM, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Kejaksaan, Polres, Legislatif serta perwakilan dari PPT dan kelompok dampingan SPEK-HAM.

Dalam diskusi yang dilaksanakan di Kantor Redaksi Solo Pos ini, Elizabeth mengungkapkan bahwa hal yang paling penting dalam mengatasi kekerasan dalam rumah  tangga adalah adanya kerjasama yang baik dalam masyarakat yang terdiri dari penegak hukum dan NGO, yang saling berkoordinasi untuk  menciptakan sistem dalam masyakat untuk pencegahan dan penanganan kasus-kasus kekerasan. Minnesota memiliki Peraturan Daerah tentang pendampingan dan hampir setiap tahun diamandemen, setiap kali menemukan kesulitan dalam pendampingan dalam setiap kasus. Hal ini merupakan suatu sistem yang diciptakan oleh koordinasi Penegak Hukum dan NGO yang terjalin baik.

Selain itu juga dibutuhkan kebijakan yang lebih menguatkan pada pemenuhan hak-hak korban. Hukum pidana biasa tidak dapat memenuhi hak para korban, harus ada hukum dan kebijakan khusus dalam masyarakat itu sendiri.(spekham/nuel)

Pertemuan PE di Kabupaten Boyolali

Boyolali.

Setiap satu bulan sekali, SPEK-HAM dalam keterkaitannya dengan Program Pencegahan HIV dan AIDS, mengadakan Pertemuan PE (Peer Educator) untuk wilayah Kabupaten Boyolali.

PE yang dikoordinasikan oleh teman-teman Penjangkau Lapangan (PL) dari SPEK-HAM ada 10 orang, yang berasal dari Komunitas WPS, Waria, LSL, dan HRM. PE bersama-sama dengan PL memberikan informasi mengenai HIV, AIDS dan IMS serta pengetahuan tentang kesehatan reproduksi lainnya kepada teman-teman komunitas sebaya.

Pada satu kesempatan, pertemuan PE kami adakan bekerjasama dengan PEPARI. Pertemuan kami laksanakan tanggal 24 September 2013, pukul 15.00 – 17.30 WIB, bertempat di kantor PEPARI di jalan Pisang Boyolali. Pertemuan PE yang difasilitatori oleh PL Wahyu, diawali dengan pemberian dan pendalaman mengenai jenis-jenis penyakit kelamin, kemudian dilanjutkan dengan membahas mengenai rujukan IMS dan VCT. (spek-ham/tim boyolali/nuel)

Diskusi Komunitas LSL di Boyolali

Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sering dianggap merupakan perilaku menyimpang di masyarakat, itulah stigma yang selama ini melekat pada kelompok LSL. Karena hal tersebut, teman-teman LSL Boyolali berusaha bergabung menjadi satu untuk menyatukan visi dan misi  agar LSL di Boyolali dapat diterima di masyarakat, sehat dan berdaya dengan membentuk Komunitas yang diberi  nama Komunitas Sehati Boyolali (KSB). Komunitas dampingan SPEK-HAM ini mengadakan pertemuan rutin setiap bulan antara tanggal 15 atau 20 setiap bulannya. Sebelum berdiskusi, teman-teman komunitas LSL diberi pembekalan tentang kesehatan terutama tentang pengetahuan HIV-AIDS, juga pengetahuan oleh teman-teman PL SPEK-HAM tentang macam-macam penyakit IMS yang biasa menyerang teman-teman LSL, yang bertujuan untuk dapat mengurangi dampak pesakitan pengidap HIV-AIDS  maupun IMS. (spek-ham/uie) 

Refleksi Gerakan Perempuan “PENANGANAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN & ANAK”

Selasa, 10 Desember 2013.

Hujan cukup deras disaat akan diadakannya kegiatan sarasehan Jejer Wadon, dalam rangka kampanye I6 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Sarasehan kali ini bertemakan “Refleksi Gerakan Perempuan dalam Penanganan Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak”. Kondisi hujan tidak mempengaruhi kegiatan yang diadakan di Balai Soedjatmoko, Kompleks Toko Buku Gramedia Jl. Slamet Riyadi, tetapi semakin memperlihatkan kalau narasumber dan para undangan punya komitment yang tinggi terhadap penanganan  kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan hadir dalam kegiatan tersebut. Peserta yang datang diantaranya dari perwakilan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat Surakarta, aktivis hukum, aktivis media, akademisi, sastrawan dan masyarakat Surakarta yang peduli, Ormas, serta individu pemerhati kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Tujuan kegiatan kali ini adalah :

  1. Terbangunnya komitmen bersama akan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
  2. Refleksi di antara elemen terhadap apa yang sudah disumbangkan dalam rangka penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

JW 1

Sebelum kegiatan dimulai, ada pembacaan puisi  oleh Yu Pon (istri Wiji Tukul)m, Ibu Haryati Panca Putri (Direktur YAPHI), Ibu Endang Listiani (Direktur SPEK-HAM), Juwita (Talitakum), Wani (anak Wiji Tukul) serta musikalisasi Fajar ( anak Wiji Tukul) and Friends. Kegiatan domoderatori oleh Ibu Vera Kartika Giantari serta narasumber Dra. A. Nunuk Prasetyo Murniati, MA  dari Jogja dan Drs. Anung Indro Susanto, MM (Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Surakarta) yang pada malam itu Beliau tidak bisa hadir.

Sebelum menyampaikan materinya, Dra. A. Nunuk Prasetyo Murniati, MA  memperkenalkan diri,  setelah itu Beliau menyampaikan materinya dengan awalan terkait  Periodisasi gerakan perempuan.

Ada beberapa periodeisasi gerakan perempuan :

  • Zaman penjajahan
  • Sebelum kemerdekaan
  • Sesudah kemerdekaan, dibagi ORLA dan ORBA
  • Reformasi sampai kini

JW 2

Disampaikan juga tonggak sejarah gerakan perempuan Indonesia sendiri diawali dengan berdirinya gerakan perempuan pada tgl 22 Desember  1928. Disampaikan juga adanya  perbedaan tujuan dalam gerakan perempuan saat sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. Dulu, awal gerakan perempuan sebelum kemerdekaan berdiri secara independent. Seseorang masuk bukan karena paksaan, dorongan dari siapapun baik Pemerintah maupun suami tetapi karena keinginan sendiri dan punya persamaan tujuan yaitu perjuangan untuk kaum mereka sendiri, perempuan. Memasuki orde baru, tujuan mulai bergeser. Gerakan perempuan diarahkan untuk mendukung Negara demi pembangunan. Organisasi perempuan independen “Tiarap” kalah dengan gegap gempitanya gerakan PKK &  Organisasi perempuan “Dharma”.  ini juga yang pada akhirnya menjebak perempuan, terlena dalam “julukan peran ganda”.

Ada beberapa catatan penting yang disampaikan oleh narasumber terkait dukungan Pemerintah Indonesia terhadap gerakan perempuan :

  1. Tahun 1983,  Menteri Urusan Wanita  RI  meratifikasi CEDAW à diwujudkan adanya UU. RI. No. 7 tahun 1984.
  2. Tahun 1995,  Pemerintah Indonesia terikat  keputusan  BPFA (Beijing Plan For Action), didalamnya ada  ketentuan antara lain mengenai gender mainstreaming, quota 30% bagi perempuan.
  3. Respon Pemerintah Indonesia mengenai  Gender Mainstreaming  à muncul Dasar Hukum Gender Mainstreaming è Intruksi Presiden No. 9 tahun 2000, dilanjutkan menjadi Undang-Undang Kesetaraan Gender (sampai saat sekarang belum selesai pembahasannya).
  4. Tahun 2000, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan meratifikasi  Optional Protokol à Mekanisme langsung untuk komunikasi  ke London.

Hal penting yang disampaikan narasumber lainnya adalah “Perempuan membangun gerakan dengan kekuatan bukan dengan kekuasan”. Ini berarti gerakan perempuan mestinya mempunyai tujuan yang sama walaupun yang dilakukan mungkin berbeda-beda. Itu juga yang menjadi kritik akan gerakan perempuan masa kini. Banyak organisasi maupun gerakan perempuan yang berkembang tetapi arah tujuannya justru melenceng jauh dari arah gerakan perempuan saat dulu, tidak ada benang merah yang menyatukan antar gerakan perempuan. Itu pula yang kadang kala dijadikan alat untuk memecah belah gerakan perempuan.

Kegiatan selesai pukul 22.00 WIB, tidak ada kesepakatan bersama dalam acara ini.  Pembelajaran yang didapat dalam acara ini adalah  “Negara sudah banyak melakukan banyak hal tetapi yang dilakukan itu memberi arti apa dan makna apa, saat nya juga untuk bergandengan tangan untuk mengalang kebersamaan antar gerakan perempuan, semakin beragamnya gerakan perempuan semakin lebih baik, saatnya masing-masing untuk berefleksi kembali..”(spek-ham/fitri hr, email: fitrijunanto@yahoo.com)

Diskusi Komunitas Waria Di Kabupaten Boyolali

Dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran HIV dan AIDS yang setiap tahun selalu terjadi peningkatan jumlah penderitanya, SPEK-HAM bekerja sama dengan KPAD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali melakukan berbagai macam pendekatan kepada kelompok-kelompok risti (risiko tinggi), salah satunya dengan cara mengajak berdiskusi komunitas waria yang bermukim dan berada di Boyolali, mengingat rawannya komunitas ini terpapar oleh virus HIV. Diskusi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang bahaya HIV dan AIDS, serta mendorong mereka untuk berperilaku aman.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga disisipkan penguatan-penguatan terhadap komunitas risti untuk mau berpartisipasi dalam usaha pencegahan penyebaran virus HIV dengan menyalurkan informasi yang telah diterima kepada masyarakat yang berada di sekitar lingkungan mereka. Dengan demikian masih sangat kurangnya porsi informasi tentang bahaya HIV dan AIDS kepada masyarakat dapat diminimalisir.  Kedepan, diharapkan dengan kegiatan-kegiatan ini penyebaran HIV dan AIDS di Kabupaten Boyolali dapat dikurangi dari tahun ke tahun. (spek-ham/wahyu yudha)