Search for:

Salam Dua Jari IRT ODHA Klaten

Salam Dua Jari (IRT ODHA) dari Jl.Srikaya No.14.

Kebersamaan yang singkat tapi selalu membawa perubahan-perubahan, walaupun kecil, dari komunitas IRT ODHA Klaten. Sarasehan yang difasilitasi oleh SPEK-HAM melalui Divisi Kesehatan Masyarakat ini bertujuan untuk www.aidsindonesia.commempererat jaringan Ibu Rumah Tangga (IRT) ODHA di Solo Raya (Boyolali, Sukoharjo, Klaten dan Solo) agar selalu terjalin komunikasi terkait dengan informasi-informasi dan penguatan kalangan IRT ODHA Solo Raya, terkhusus di Klaten.

Sarasehan pertama dilakukan pada Bulan Oktober 2014. Teman-teman IRT ODHA masih belum terbuka dalam mengungkapkan jati dirinya secara utuh, seperti sejak kapan dinyatakan positif, keadaan keluarga bagaimana, ada KDRT atau tidak.

Sarasehan kedua diadakan di kantor SPEK-HAM di Jl. Srikaya No.14 pada tanggal 10 Februari 2015. Sangatlah membanggakan, teman-teman IRT ODHA Klaten sudah mau lebih membuka diri, sudah mau banyak bercerita tentang kondisi ekonomi, keadaan keluarga, pekerjaannya, bahkan sampai KDRT yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Diskusi yang sangat luar biasa, dalam waktu yang singkat tapi hasilnya sangatlah berkualitas. Setelah ngobrol banyak hal tentang perkembangan IRT ODHA di Solo Raya, teman-teman jadi sedikit mulai ingin membuka diri dan sepakat untuk:

  1. Melakukan siaran di Radio Pemerintah Daerah (RSPD) Klaten bersama SPEKHAM, DKK dan Dinas Sosial.
  2. Berani untuk diajak melakukan audiensi bersama para Pengambil Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten, seperti Anggota Dewan (DPRD) Klaten, Dinas Kesehatan,Dinas Sosial dan BAPERMAS.

            DUA kesepakatan bukan berarti sedikit, tetapi DUA berarti keberanian untuk berkata KAMI “IRT ODHA” ada dan berguna bagi daerah kami “Klaten”. (Antonius Danang/spekham.org/dok photo: google)

Kadang Wadon Kuncen

Kuncen adalah sebuah daerah di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Sebelah utara Kuncen berbatasan dengan Kecamatan Delanggu, Sebelah timur berbatasan dengan Desa Ngawonggo, Sebelah Selatan Kuncenberbatasan dengan Desa Klepu, Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Polanharjo. Temperature udara rata-rata antara 280C-300C. Desa Kuncen merupakan dataran rendah, berada pada 133 M di atas permukaan laut, dengan curah huan 154 mm/tahun.

Pendapatan utama penduduk Kuncen berasal dari sektor pertanian. Selain dari pertanian, penduduk di Kuncen juga mengandalkan dari industri rumah tangga semisal produksi mlinjo. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Desa (Kadus), industri rumah tangga emping ini sebetulnya sangat menjanjikan tapi karena antara permintaan dan pasokan bahan baku tidak seimbang maka industri emping di Desa Kuncen kurang menjadi unggulan. Perekonomian di Desa Kuncen bisa dibilang cukup, dan masyarakatnya kebanyakan menjadi pekerja pabrik, petani dan buruh tani.

Peran perempuan sangatlah vital di Desa Kuncen. Perempuan sangat berperan di berbagai kegiatan yang ada di Desa, bahkan Kepala Desa Kuncen adalah seorang perempuan. Keterlibatan perempuan tentunya tidak lepas dari jumlah penduduk perempuan yang lebih banyak dari laki-laki (P:1.428,L:1.402). Kegiatan PKK di Desa Kuncen sangat menonjol, dilakukan 3 kali dalam sebulan. Selain PKK, kegiatan yang dilakukan oleh WPA (Warga Peduli Aids) juga sangat maju dibanding dengan desa-desa yang ada di Kabupaten Klaten yang ada. 30% kepengurusan WPA Desa Kuncen adalah perempuan.

Sangatlah menarik berinteraksi langsung dengan masyarakat Kuncen. Melalui Kepala Desa Kuncen, Ibu Christanti S.Pd, banyak hal diungkapkan terutama permasalahan-permasalahan yang ada (perempuan dan anak) semisal banyaknya bayi gizi kurang, jumlah ibu hamil gizi kurang, adanya penderita CA Carvic, adanya penderita lepra usia muda, kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan reproduksi.

SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia) sebagai organisasi perempuan yang ada di Kota Surakarta melalui Divisi Kesehatan Masyarakat akan melakukan berbagai upaya penguatan dan pembangunan kesadaran masyarakat sipil, terkhusus di Desa Kuncen. Upaya-upaya ini dilakukan sebagai komitmen organisasi untuk ikut berkontribusi dalam proses perubahan sosial menuju tatanan masyarakat yang lebih adil dan bermartabat, dengan menggunakan perspektif gender, hak asasi manusia, pluralisme, dan keseimbangan lingkungan sebagai landasan gerak organisasi dalam memperjuangkan visi, misi, dan tujuannya SPEK-HAM. Melalui Divisi Kesehatan Masyarakat, SPEK HAM melakukan assessment di Desa Kuncen untuk menggali lebih dalam permasalahan-permasalah terutama permasalahan “perempuan dan anak”.

Dari hasil assessment ini, ada beberapa hal yang menjadi fokus SPEK-HAM sebagai lembaga yang mengangkat isu perempuan, terutama isu kesehatan reproduksi. Selama 6 bulan kedepan, SPEK HAM akan berada di wilayah kerja baru (Desa Kuncen) untuk bersama-sama “Kadang Wadon Kuncen” belajar bersama tentang pemahaman kespro (kesehatan reproduksi) lebih mendalam, sehingga harapannya nanti kadang wadon kuncen semakin medapatkan ilmu tentang kesehatan reproduksi dan menuju Kuncen yang bebas dari kasus-kasus kespro. (antonius danang/spekham.org)

(mau tau cerita selanjutnya>>>>>tunggu bulan depan)

Desa Bangak, Pembangunan Kesehatan untuk Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Desa Bangak merupakan salah satu Desa yang dialiri Sungai Pepe. Pertanian merupakan produk unggulan di Desa Bangak. Desa Bangak terdiri dari 2 Kebayanan, 14 RW dan 13 RT dengan jumlah penduduk 2985 jiwa. Dukuh yang ada di Desa Bangak, yaitu Tompen sebagai Dukuh yang dilewati Jalan Raya Bangak-Simo, Nglebu, Jetis, Manukan, dan Gabahan. Dukuh Gabahan letaknya kurang lebih 1 km ke arah utara dari Kantor Kelurahan, dipisahkan oleh sawah yang membentang luas. Berdasarkan perencanaan pembangunan jalan tol, wilayah perbatasan antara Dukuh Gabahan dengan Tompen ini akan dilintasi jalan Semarang-Solo yang pembangunannya direncanakan tahun 2014- 2015. Selain bermata pencaharian dari sektor pertanian, penduduk Desa Bangak juga berdagang, beternak, bekerja di pabrik, PNS, kantoran maupun wirausaha lainnya. Mata pencaharian paling banyak adalah sebagai pekerja buruh industri.

“Desa Bangak mempunyai kerentanan terhadap kesehatan reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan. Sudah ada beberapa kasus terkait dengan kedua hal tersebut” uangkap Ibu Wulan, Bidan Puskesmas Banyudono.

DIGITAL CAMERABersama dengan Masyarakat, Lurah dan Perangkat Desa, Bidan Desa, SPEK HAM mencoba untuk melihat persoalan kesehatan apa saja yang ada di Desa Bangak. Pemetaan ini merupakan langkah awal adanya Pembangunan Kesehatan yang bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat. Demi tercapainya derajat kesehatan yang tinggi, maka perempuan sebagai penerima kesehatan, anggota keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan harus berperan dalam keluarga, supaya anak tumbuh sehat sampai dewasa sebagai generasi muda. Oleh karena itu perempuan harus diberi perhatian, sebab :

  1. Perempuan menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihadapi laki-laki berkaitan dengan fungsi reproduksinya.
  2. Kesehatan perempuan secara langsung mempengaruhi kesehatan anak yang dikandung dan dilahirkan.
  3. Kesehatan perempuan sering dilupakan dan ia hanya sebagai objek dengan mengatasnamakan ‘pembangunan´ seperti program KB, dan pengendalian jumlah penduduk.
  4. Masalah kesehatan reproduksi perempuan sudah menjadi agenda Internasional, diantaranya Indonesia menyepakati hasil-hasil Konferensi mengenai kesehatan reproduksi dan kependudukan (Beijing dan Kairo).
  5. Perempuan merupakan aspek paling penting disebabkan pengaruhnya pada kesehatan anak-anak. Oleh sebab itu para perempuan diberi kebebasan dalam menentukan hal yang paling baik menurut dirinya sesuai dengan kebutuhannya di mana ia sendiri yang memutuskan atas tubuhnya sendiri.

Salah satu usaha Pemerintah adalah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan reproduksi dengan cara melakukan pendidikan kesehatan yang tidak hanya didapat di bangku sekolah, tetapi juga bisa dilakukan dengan cara mengadakan penyuluhan oleh tenaga kesehatan, yang biasa disebut dengan promosi kesehatan ataupun penyuluhan kesehatan.

Mengingat tugas kita sebagai Lembaga peduli Perempuan, tugas Divisi Kesehatan Masyarakat adalah salah satunya memperkenalkan bagaimana cara hidup sehat dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi pada masyarakat. (atik fatmawati/edit :nuel/SPEK HAM)

Temuan Kesehatan Reproduksi sebagai Sebuah Refleksi Bersama

Pelatihan kesehatan reproduksi dilakukan oleh SPEK HAM di 14 Kelurahan di Surakarta, serta dilanjutkan dengan pemeriksaan IVA, IMS dan VCT di 14 Kelurahan yang sama pada tahun 2014. Dari total 531 peserta pemeriksaan IVA, IMS dan VCT, ditemui kasus IVA positif 39, IMS 269, VCT positif 1.

Adalah menjadi rekomendasi tersendiri bagi Dinas Kesehatan dan mitra-mitranya untuk bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan untuk lebih membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi dan juga untuk mewujudkan layanan kesehatan reproduksi yang merata di setiap wilayah, sebagai bentuk tanggungjawab Negara terhadap DSCN13951kesehatan masyarakat. Hal ini menjadi harapan masyarakat, seperti yang diungkapkan salah satu peserta dalam pertemuan Jaringan Kota, Bu Maryam “Ketika kami mulai ikut kegiatan SPEK HAM maka kami menyadari pentingnya kespro dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemeriksaan yang dilakukan dengan bekerjasama dengan SPEK HAM bisa kami monitor, karena setelah selesai pemerikaan, kami langsung diberi hasilnya. Yang saat ini menjadi pertanyaan kami adalah apakah Pemerintah khususnya Dinas Kesehatan tidak bisa mendampingi, mengembangkan dan mendekatkan akses layanan kepada masyarakat? Bagaimana kalau dikembangkan layanan pemeriksaan ke Solo Utara, karena kalau harus ke sangkrah itu jaraknya jauh. Ini adalah bukan tanggung jawab satu komponen tetapi tangggung jawab kita bersama. Biasanya kalaupun mengundang Legislatif merekapun tidak bisa memberi solusi. Seperti hari ini, saya lihat daftar undangannya ada dari Legislatif tapi tidak ada perwakilan yang datang. Bagaimana kalau kita membuat gerakan untuk menanggapi hal ini?

Dalam kesempatan pertemuan Jaringan Kota untuk Kesehatan Masyarakat yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Dharma Wanita Kota Surakarta, 22 Desember 2014 ini, Ibu Endang dari Bapermas memberikan tanggapan “Hal tersebut bisa kita lakukan advokasi. Advokasi bisa dilakukan untuk mengubah kebijakan. Advokasi bisa dilakukan ketika kebijakan Pemerintah belum pas, belum berpihak. Dalam konteks ini kita perlu memeriksa apakah kebijakan kespro sudah tepat atau belum. Kadang-kadang kebijakan sudah tepat tetapi sinerginya yang kurang tepat. Usulan bu Efi juga bagus sekali yaitu untuk mendekatkan akses layanan ke masyarakat dengan menyediakan mobil sesuai kebutuhan. Misalnya tadi juga manahan programnya sangat bagus tetapi ketika tenaganya kurang maka pelayanannya juga kurang maksimal.”

(nuel oei/spekham.org)

Mencegah Penularan HIV AIDS Melalui Ibu Hamil

IMG_5437 (Small)Di sejumlah Negara berkembang, HIV AIDS merupakan salah satu penyebab utama kematian perempuan usia reproduksi. Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu, serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Peningkatan jumlah infeksi baru HIV pada perempuan akan berdampak meningkatnya jumlah infeksi HIV pada anak. Di Kabupaten Boyolali, ibu rumah tangga menduduki posisi ke-2 terbanyak sebagai penderita HIV AIDS. Oleh karena itu Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali bekerjasama dengan LSM SPEK HAM Surakarta dan layanan VCT (RSUD Pandanarang, RSUD Banyudono dan RSUD Simo), mengadakan pemeriksaan dengan target 1500 Ibu hamil yang ada di wilayah Kabupaten Boyolali. Salah satunya adalah pemeriksaan yang dilakukan di Bale Desa Bendan, Banyudono pada senin, 24 November 2014 mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Dan kegiatan ini diikuti oleh 64 orang ibu hamil.

Kondisi di atas menunjukkan pentingnya implementasi program prevention of mother to child transmission of HIV (PMTCT) yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi dari infeksi HIV. Program PMTCT komprehensif berupaya meningkatkan kepedulian dan pengetahuan perempuan-perempuan usia reproduktif tentang HIV dan AIDS, meningkatkan akses perempuan hamil untuk mendapatkan layanan konseling dan testing HIV (VCT), meningkatkan akses perempuan hamil HIV positif untuk mendapatkan layanan pengurangan risiko penularan HIV ke bayinya, serta meningkatkan akses perempuan HIV positif dan keluarganya untuk mendapatkan layanan psikologis dan sosial agar kualitas hidupnya terjaga. (atik fatma/spekham.org)

Tulisan Cinta dari Ujung Kota Klaten

www.aidsindonesia.comAku ingin hakku…
Bersatu dalam masyarakat..

Melantun merdu terbahak-bahak…
Walau HIV menggantungi…
Walau AIDS menghantui…
Namun, aku ingin berkarya…
Membanggakan IndonesiaS…..

Sepenggal puisi di atas adalah bentuk dari suara hati kami, teman-teman IRT ODHA, yang bisa kami suarakan untuk memompa semangat hidup kami. Kami punya hak! Kami punya keistimewaan, dan “ODHA” memang “ISTIMEWA”

Kisah perjalanan dan cerita cinta Ibu rumah tangga ODHA dari ujung kota klaten (Hasil obrolan dengan Ibu rumah tangga ODHA).

Klaten. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sering menjadi bahan perbincangan masyarakat umum dari sisi negatifnya saja, tanpa melihat sisi positifnya. Paling tidak, itulah yang banyak saya jumpai di lingkungan pergaulan saya. Sebenarnya banyak pembelajaran dan hal positif yang bisa didapatkan dari mereka, seperti yang kami dapatkan dari hasil ngobrol dan diskusi dengan beberapa Ibu rumah tangga (IRT) ODHA di Klaten.

Ibu “D” adalah seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Tahun 2011, “D” mempunyai satu anak dari perkawinannya yang pertama  (status negatif). Dia merupakan ODHA yang berani membuat pengakuan kepada keluarga dan pimpinan di mana dia bekerja, bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Dia menuturkan asal muasal pertama kali terinfeksi HIV. Setelah “D” ditinggal pergi oleh suaminya, dia berpacaran dengan seseorang yang ternyata pengguna narkoba suntik (Penasun). Dia terinfieksi HIV dari pacarnya ini. Gejala pertama yang dialaminya berupa sakit menaun yang tidak kunjung sembuh (pilek, diare, flu dan lain-lain) dan kemudian dilakukan pemeriksaan. Pada tahun 2011, “D” dinyatakan positif HIV. Hal yang sangat luar biasa adalah “D” sekarang bukannya terpuruk dengan status ODHA, tapi dia bangkit menata hidup kedepannya bersama putri tercinta. “D” juga menjadi berkat bagi teman-teman sesama ODHA. Saat ini “D” bekerja di Lembaga “Peduli Kasih” sebagai pendamping teman-teman ODHA.

Kisah lain muncul dari Ibu “W” yang belum siap untuk dipublikasikan. “Butuh keberanian yang luar biasa untuk mengakui pada publik kalau saya sudah terinfeksi oleh virus mematikan. Kala itu masyarakat belum seperti sekarang yang mulai agak terbuka dengan ODHA,” ujarnya. Dia menjelaskan, bahwa sampai saat ini ibu “W” belum memberi tahu kepada keluarga karena belum siap dengan segala yang akan terjadi. Ibu “W” terinfeksi HIV dari suaminya yang pada saat mudanya (sebelum menikah) suka memakai jarum tato bersama-sama. Pada waktu itu Ibu ‘W” juga tidak tahu kalau suaminya terkena HIV, yang dia tahu pada waktu itu suaminya hanya sakit biasa. Kecurigaan bu “W” semakin besar setelah diketahui muncul jamur di lidah suaminya, dan penurunan berat badan, sampai meninggal. Kini bu “W” menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarga besarnya dengan berdagang.

IRT ODHA yang lain adalah Ibu “B”, yang menceritakan kisah hidupnya sampai bagaimana dia bisa terinfeksi HIV postif. Ibu “B” dulunya adalah seorang karyawati perusahan kosmetik, kemudian dia menikah dan dikarunia seorang anak. Dalam proses perjalanan hidupnya, Ibu “B” dalam aktifitas kerjanya bertemu dengan seorang laki-laki lain di luar rumah (PIL), dan sampai menjalin hubungan yang sangat dekat. Tanpa dia sadari, ternyata si laki-laki membawa virus HIV. Semua disadari setelah kelahiran anak keduanya. Setelah proses kelahirannya, anak ini mengalami sakit yang tidak sembuh-sembuh dan harus keluar masuk Rumah Sakit. Yang lebih membuat ibu “B” terpukul dan menyesal adalah bahwa suami tercintanya, yang pernah diduakannya, dinyatakan positif HIV juga. Ada hal menarik dari keluarga Ibu “B” ini. Ibu “B” menyadari dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat hingga sampai menularkan HIV kepada anak kedua dan suami. Suami dari ibu “B” berkata “Ini adalah proses hidup kita, jadi apapun yang menimpa kita harus kita jalani sampai nanti maut memang benar-benar menjemput kita.”

Apa yang menimpa Ibu “M” tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh Ibu-ibu rumah tangga ODHA yang lainnya. Ibu “M” mendapatkan HIV dari suaminya yang bekerja sebagai sopir, yang beresiko tinggi untuk “jajan” di luar rumah. Selain itu, suami Ibu “M” ini adalah seorang penghobi tattoo. Setelah anaknya sering keluar masuk Rumah Sakit selama sebulan, akhirnya diketahui status anaknya positif.  “Hari-hari saya seakan penuh dengan penyesalan dan sangat berat. Apalagi ditambah dengan bocornya status anak saya di tengah masyarakat yang pada waktu itu dibocorkan oleh kelurga saya sendiri. Masyarakat melihat saya dan anak itu seperti sesuatu yang tidak berharga, selalu menjadi topik pembicaraan di satu Desa. Baginya, hal itu tidak berlangsung lama. Saya bisa diterima lagi secara untuh oleh masyarakat. Saya sekarang aktif dalam kegiatan PKK dan Posyandu.

(antonius danang/edit : nuel/spekham.org)

Sosialisasi TB dan HIV AIDS

Klaten. 12 September 2014. Sosialisasi ini dilakukan dalam rangka memberikan penyadaran pada masyarakat terkait dengan bahaya dan penyebaran TB dan HIV AIDS. Kegiatan dilakukan di wilayah Deles, Desa Sidorejo, Klaten dengan sasaran warga masyarakat yang meliputi kelompok laki-laki, pemuda, pemudi, PKK dan tokoh masyarakat yang berjumlah kurang lebih 50 orang. Diharapkan, kegiatan ini mampu memberikan informasi kepada masyarakat luas. Acara ini juga direlay langsung oleh Radio Lintas Merapi dan juga disiarkan mela radio streaming di http://lintasmerapi.jatengstreams.com

IMG_20140912_144009

IMG_20140912_144001

Salah satu narasumber, dari BKPM Klaten, Ibu Juniah mengatakan bahwa salah satu menanggulangi TB adalah dengan cara mengurangi merokok dan membuka fentilasi rumah agar udara bisa bebas keluar masuk.

Menurut nara sumber lainnya, Bapak Eko, TB terkait dengan HIV AIDS. Banyak kasus  TB terjadi di Kabupaten Klaten, namun tidak terekspos.

Acara ini terselenggara atas kerjasama BKPM Klaten, SPEK HAM, KPA Klaten, dan Radio Komunitas Lintas Merapi dan masyarakat Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. (erfan/spekham.org)

Karnaval Budaya Klaten “Kebudayaan Membangun Manusia”

Kabupaten Klaten selalu menggelar agenda tahunan untuk memperingati HUT Kabupaten Klaten dan HUT Republik Indonesia dalam bentuk Karnaval. Kegiatan ini diikuti oleh 26 Kecamatan dan 16 SKPD serta puluhan Komunitas Seni yang ada di Klaten. Tidak ketinggalan pula KPA Kabupaten Klaten dan SPEK HAM sebagai Lembaga yang mengangkat isu HIV & AIDS juga ikut dalam acara karnaval.

Karnaval Budaya 2Karnaval digelar selama dua hari, Senin & Selasa, 18 & 19 Agustus 2014, di sepanjang Jl. Pemuda Klaten. Karnaval dimulai pukul 13.00-17.00 WIB dan dibagi dalam dua agenda, yakni Karnaval “Pembangunan” dan Karnaval “Budaya” sebagai acara puncak. KPA dan SPEK HAM ikut berpartisipasi dalam Karnaval “Budaya” dengan menyertakan kelompok-kelompok dampingan (SMK Kesehatan, PMR SMU Negeri 1, Teater Gligik, KomPak, Ikatan Waria Klaten, Forum Nahdiyin Peduli HIV & AIDS, Stand up Komedi, musik RAP, Beatbox) yang tergabung dalam “Forum Peduli HIV & AIDS Kabupaten Klaten” dengan menampilkan potensi dari komunitas seperti tari, mocopat, teatrikal dan musik beatbox.

Disaksikan langsung oleh Bupati Klaten beserta segenap tamu undangan di pangung kehormatan, dan juga ribuan masyarakat di sepanjang jalan, arak-arakan budaya ini berlangsung meriah. Pada kesempatan ini pula diserahkan hasil temuan Kasus HIV & AIDS di Kabupaten Klaten dari tahun 2007-2014, dan hasil temuan kasus HIV & AIDS tahun 2014 dari Nonik (perwakilan dari IWAK) dan Antonius Danang (Perwakilan dari LSM SPEK HAM) kepada Bapak Sunarno,SH (Bupati Klaten).

Kegiatan ini dikemas dalam 5W ; Wasis, Wareg, Waras, Wisma, Wutuh, yang merupakan penjabaran misi dari Kabupaten Klaten yaitu terwujudnya Toto, Titi, Tentrem, Kerto Raharjo. “Wasis berarti pendidikan, Wareg berarti ketersediaan pangan, Waras berarti kesehatan, Wisma berarti tempat tinggal, dan Wutuh berarti persatuan.” jelasnya.

Pelestarian budaya merupakan perwujudan dari salah satu misi Bupati Klaten dengan mengembangkan budaya-budaya lokal yang ada di Kabupaten Klaten. “Ini adalah sebuah kegiatan tahunan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Klaten, memberikan apresiasi kepada seniman dan mereka yang berkecimpung dalam seni budaya sekaligus juga menghibur masyarakat.” dan sekalian sebagai ajang mengkampanyekan program-program Instansi dan Lembaga-lembaga yang ada di Klaten, seperti isu HIV dan AIDS yang diangkat oleh SPEK HAM dan KPA. (danang/spekham.org)