Search for:

USAHA UMKM YANG DIKELOLA PEREMPUAN TETAP BERTAHAN DITENGAH PANDEMI COVID 19

Produksi karak non borax oleh KPKGS

Pandemi COVID-19 tidak hanya persoalan kesehatan, namun sudah berdampak pada persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Ditengah anjuran untuk social distancing, orang mulai mengurangi keluar rumah serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Tentu ini berdampak pada menurunnya pendapatan para pelaku usaha kecil yang berjualan di pinggir jalan, atau di event Car Free Day.

Tidak jauh berbeda, beberapa perempuan pemilik usaha kecil yang didampingi SPEK-HAM juga terdampak usahanya. Melihat kondisi tersebut, SPEK-HAM menyelenggarakan diskusi-diskusi on-line sebagai wadah sharing dan mencari solusi usaha yang dibutuhkan pada masa pandemic covid19 saat ini. 

Jamu Seduh

Ibu Ratna dan Ibu Sulastri anggota Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) Kelurahan Sewu Surakarta cukup kreatif, mereka mampu membaca situasi pasar dengan menjual berbagai makanan dan minuman yang dibutuhkan masyarakat. Saat orang takut keluar membeli makanan, mereka menyediakan aneka makanan dan minuman yang sudah dikemas dengan rapi dengan system pesan antar secara on line. Ada pula yang membidik pasar masyarakat yang tengah ekstra menjaga imunitas tubuh, yaitu dengan beralih usaha menjual aneka jamu-jamuan siap seduh. Seperti yang dilakukan Ibu Sulistyorini anggota KPKS Kelurahan Sewu.

Berbeda dengan Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi (KPKGS), pada awal-awal pandemic covid19 usaha karak non borax sempat terhenti karena khawatir produk tidak laku. Setelah ada sosialisasi dari SPEK-HAM tentang standar produksi yang aman seperti menggunakan masker dan sarung tangan, maka perlahan usaha karak non borax kembali bangkit. Apalagi saat bulan puasa untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri banyak pesanan lewat WA, bahkan penjualan sampai diluar kota maupun luar jawa. Setiap minggunya mereka mampu memperoduksi tidak kurang dari 10-20 kg/ minggu.  Menangkap peluang usaha baru dan pemasaran on line menjadi strategi bertahannya usaha kecil di tengah situasi saat ini. Harapannya pandemic covid19 segera berakhir dan usaha kecil yang dikelola perempuan kembali bangkit. Pakdhe Padmin -CO Divisi SL

SPEK-HAM galang donasi publik untuk Gerakan 1000 masker

Tim SPEK-HAM

Hari Jumat tanggal 17 April 2020 tim SPEK-HAM telah merealisasikan Gerakan 1000 Masker dengan melakukan pembagian masker kepada pedagang pasar, pedangan kaki lima dan Supir Becak. Gerakan ini sebagai bentuk komitmen dan kepedulian SPEK-HAM terhadap kesehatan masyarakat dan kampanye terhadap pencegahan penyebaran Covid-19 yang sudah menjadi pandemic global. Untuk mendukung gerakan ini SPEK-HAM melakukan penggalangan donasi dari staf internal, komunitas dampingan, kolega dan atau mitra kerja SPEK-HAM. Berikut ini adalah rincian donasi yang telah kami himpun dari para donatur beserta penggunaanya :

Dari dana donasi yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 4.163.000, – telah dibelanjakan untuk pengadaan 654 masker seharga Rp 1.731.000. Dana donasi masih tersisa sebesar Rp 2.432.000. Donasi dalam bentuk masker terkumpul sebanyak 461 masker, ditambah pengadaan dari dana donasi sebanyak 654 masker total ada 1.115 masker.

Pembagian masker kepada pedagang pasar, pedangan kaki lima dan Supir Becak di wilayah: Pasar Kleco, Wilayah sekitar lapangan Karangasem, Wilayah Kampus UMS, Pedangang di sepanjang PDAM dan DPRD Kota Surakarta, Makam Haji, Mendungan, sepanjang SMP Ursulin – RS Mata Solo dan Pabelan. Dari gerakan tersebut telah terdistribusi 941 masker dan masih tersisa 174 yang nantinya akan dibagikan pada kegiatan selanjutnya.
Sisa dana donasi sebesar Rp 2.432.000 selanjutnya akan dialokasikan untuk donasi beras pada perempuan kepala keluarga miskin, Ibu Rumah Tangga dengan HIV, dan perempuan korban kekerasan yang terdampak oleh Covid-19.

Bersama ini SPEK-HAM mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan dan donasi yang telah diberikan sehingga Gerakan 1000 Masker dapat berjalan dengan lancar. Semoga dukungan dan donasi yang telah diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

PAUD BERPERSPEKTIF LINGKUNGAN : Cerita Bank Sampah Pos PAUD Kepodang Kelurahan Tipes

Sosialisasi Bank Sampah di Kel. Tipes

Salah satu Pembina dari Pos PAUD Kepodang bernama Ibu Bety mempunyai ide untuk mengelola lingkungan yang bersih dan sehat, setelah mengetahui kegiatan sosialisasi Bank Sampah di pertemuan PKK RW 05 Kelurahan Tipes Kota Surakarta yang dilakukan oleh SPEK-HAM. Atas inisasi Ibu Bety didampingi oleh SPEK-HAM terbentuk Bank Sampah di lingkungan Pos PAUD Kepodang. Tujuan dibentuk bank sampah untuk membangun kepedulian siswa dan orang tua siswa terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dalam kegiatannya murid PAUD yang masih balita  ikut belajar memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya.

Kegiatan sosialisasi tentang bank sampah terus menerus dilakukan. Sebagai narasumber Soepadmin pegiat Bank Sampah dari SPEK-HAM. Sosialisasi di sekolahan dihadiri semua wali murid Pos PAUD Kepodang. Hasil pertemuan tersebut  seluruh peserta sepakat untuk membentuk Bank Sampah yang anggotanya dari wali murid. Akhir tahun 2019  Bank Sampah tersebut sudah  mendapatkan  SK dari Kelurahan. Bank sampah sudah diakui keberadaannya oleh pemerintah kelurahan.

Kegiatan dari Bank Sampah PAUD Kepodang ini adalah penimbangan sampah setiap hari Jum’at dan membuat kerajinan daur ulang dari sampah anorganik untuk Alat Permainan Edukasi. Dengan jumlah anggota 13 orang, sudah mampu menghasilkan tabungan sampah sebanyak Rp 325.000.  Selain ekonomi, hal positif yang sudah terbangun dari pembentukan bank sampah Kepodang adalah menanamkan nilai melestarikan lingkungan melalui pemilahan sampah pada anak-anak usia balita. Nilai ini jauh lebih besar maknanya dibanding nominal rupiah untuk membentuk karakter cinta lingkungan pada usia dini. SoepadminCO Divisi SL

Launching CATAHU kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2019

Launching CATAHU 2019

Solo, Kamis (9/1/2020)  SPEK-HAM mengadakan Launching Catatan Tahunan(CATAHU) kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak selama tahun 2019.Manager Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat (PPKBM) SPEK-HAM Solo, Fitri Haryani  menjelaskan bahwa data Kasus kekerasan terhadap perempuan di wilayah Solo Raya yang dilaporkan sepanjang 2019 tercatat ada sebanyak 62 kasus. Jumlah itu naik sebesar 10% dari sebelumnya hanya 58 kasus.

Trend kasus kekerasan yang terjadi adalah kekerasan dalam Rumah  Tangga  (KDRT). Jumlah kasus KDRT di Solo Raya itu antara lain, Sukoharjo ada 19 kasus, Sragen 6 kasus, Solo 36 kasus, Karanganyar 23 kasus, Boyolali 3 kasus, Klaten 10 kasus dan Wonogiri 11 kasus. Dari data tersebut bahwa kekerasan terhadap Perempuan dan Anak ini seperti fenomena  gunung es, karena yang terlihat hanya puncaknya banyak kasus yang terjadi tapi hanya sedikit yang berani melapor. Kasus kekerasan seksual menjadi benar-benar sulit diberantas karena terdapat berbagai kelemahan. Seperti lemahnya penagakan hukum terhadap kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Oleh sebab itu ketika Data Bicara untuk segera Tegakkan Supremasi Hukum Undang Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

#LongLiveWomenStruggle #EndWomenViolence

(Madiha)

MENINGKATKAN PENDAPATAN PEREMPUAN, KELOMPOK RUKUN MAKMUR BOYOLALI OLAH SUSU SAPI MENJADI ICE CREAM

Kelompok Rukun Makmur, Boyolali

Hari ini, Sabtu 4 Januari 2020, tepat 7 tahun terbentuknya Kelompok Perempuan Rukun Makmur yang berlokasi di Desa Musuk, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali berdiri. Saat ini tidak kurang  dari 32 orang perempuan terlibat dalam kegiatan kelompok perempuan yang fokus pada pengembangan bidang peternakan dan pertanian ramah lingkungan. Bertepatan dengan hari ulang tahun kelompok, perayaan ditandai dengan peresmian Rumah Produksi Es Cream Rukun Makmur

Kelompok Rukun Makmur saat ini tengah mengembangkan produk olahan susu sapi, atas dukungan program dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Potensi susu sapi di Desa Musuk masih cukup banyak, 12 orang anggota Rukun Makmur memiliki sapi perah baik keberadaan sapi tersebut milik sendiri ataupun gaduhan. Karena harga susu yang cukup rendah yaitu Rp. 5000,00/ liter,maka berbagai ide muncul untuk mengolah susu menjadi bernilai ekonomis yang tinggi.

Gayung Bersambut, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali mendukung melalui pelatihan pengolahan susu dan memberikan stimulant program olahan susu berupa peralatan produksi dan rumah produksi. Lokasi produksi berada di rumah Ibu Tutik dukuh Pengkol RT 01 RW 01 Desa Musuk. Saat ini kelompok Rukun Makmur memproduksi ice cream dalam 3 varian, original dijual dengan harga Rp. 2000/ cup, untuk toping coklat / meses di jual dengan harga Rp. 2500/ cup sedangkan yang premium dengan toping varian rasa buah akan di jual Rp 3000 / cup.

Olahan susu sapi menjadi ice cream

Usaha olahan susu ini di harapkan menjadi terobosan yang baik untuk menopang peningkatan pendapatan perempuan anggota Rukun Makmur. Potensi ketersediaan bahan baku susu sapi, dan masih sedikitnya usaha sejenis di Desa Musuk menjadi peluang besar usaha ini berkembang. Point penting yaitu memetakan potensi desa dan menggali peluang kerjasama dari Pemerintah Daerah maupun pihak lain menjadi strategi peningkatan ekonomi pedesaan. (Noko/Nila)

BERBAGI BERKAH DARI BANK SAMPAH “Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019”

Salah satu Bank Sampah yang didampingi SPEK-HAM yaitu Bank Sampah Mayang RT 03 RW 06 Kelurahan Kestalan Surakarta melakukan aksi sosial tepat pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019 yang lalu. Murtiyanti, Ketua Bank Sampah Mayang menyampaikan bahwa aksi sosial tahun ini di prioritaskan bagi perempuan lansia dan perempuan kepala keluarga yang ada disekitar RT 03 RW 06 Kestalan.

Sumbangan untuk perempuan lansia

“Aksi kami tahun ini memberi sumbangan berupa uang tunai pada perempuan lansia dan kepala keluarga yang membutuhkan. Sumbangan tersebut berasal dari hasil penjualan sampah yang kami kumpulkan selama 1 tahun”, kata Murtiyanti.

Bentuk kegiatan sosial inilah yang menjadi perhatihan Lurah Kestalan Bapak Suyono saat menghadiri pertemuan Kelompok Perempuan Mayang beberapa waktu yang lalu. Hasil penjualan sampah tidak sepenuhnya dibagikan kepada anggota, bahwa sudah menjadi kesepakatan bersama jika sebagian hasil digunakan untuk sosial. “Kegiatan sosial ini yang menjadi penyemangat anggota Bank Sampah untuk mengumpulkan sampah setiap bulan. Dari sampah yang dipandang menjijikkan mereka ingin berbagi berkah”, ungkap Soepadmin atau yang akrab dipanggil Pakdhe selaku pendamping dari SPEK-HAM.

Kegiatan Sosial

“Setelah mengetahui situasi keadaan rumah ibu-ibu Kepala Keluarga yang dikunjungi sangat memprihatinkan, semoga ada perhatian dari Pemerintah untuk memberdayakan mereka”, harap Murtiyanti kepada Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Semoga aksi Bank Sampah Mayang Kestalan mampu menginspirasi Bank Sampah lain, bawa dari sampah bisa menjadi berkah. (Padmin/Nila)

Memutus Kekerasan dari Perempuan Sendiri

Suasana diskusi.
James Pennebaker, Ph.D dari Texas University USA, memelopori menulis sebagai terapi. Seorang peneliti lain, Karen Baiki Pd.D dari Clinical Psychogist University New South Wales USA melakukan penelitian jika menulis mampu menjadi terapi yang menyembuhkan diri sendiri. Ternyata itu telah terbukti secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan.

Fitri Haryani, Manajer PPKBM, Pencegahan dan Penanganan Kasus pada Yayasan SPEKHAM menyatakan di hadapan 14 perempuan penyintas peserta FGD, Kamis (24/10) di kantor SPEKHAM bahwa dirinya biasa menerima kasus dan sampai terkesan. Ia melihat dampak yang dialami kemudian oleh para perempuan korban. Kekerasan yang dialami seorang perempuan itu berdampak pula kepada anaknya. Satu kasus yang diterimanya itu yang kemudian mengajak untuk berpikir panjang kembali, terutama karena anaknya mengalami kekerasan pula. Ini tidak hanya terjadi pada orang yang tidak mampu saja. Bisa jadi orang yang tidak punya pendidikan, sekolahnya tidak tinggi, pada orang-orang tidak mampu. Ini yang terjadi pada status sosial yang begitu mapan, pendidikan yang tinggi.

Ia kemudian melihat persoalan itu akan selalu terulang dan selalu terjadi kembali karena tidak ada yang berani mengungkapkan sehingga korban, dan dampaknya anaknya jadi depresi. Kemudian dia sendiri tidak berdaya, dia tidak mampu mengembangkan skillnya. Dengan menuliskan permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan tersebut, Fitri berharap beban psikilogis akan berkurang.

Setelah berani mengungkapkan, dan menyampaikan, lalu muncullah perubahan. Fitri sangat mengapresiasi perempuan yang mampu membuka diri, karena terkait persoalan ini adalah bagian dari memutus kerentanan. Ada kasus telah berumur 20 tahun, dan kekerasan itu baru muncul dan kemudian menimbulkan dampak. Yang terjadi sekarang perempuan penyintas itu mampu bekerja, sudah stabil ekonomi, serta dapat memahami kondisi sosial yang dialaminya.

Menurut Elisabeth Yulianti Raharjo, Lawyer SPEKHAM, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada beberapa perempuan, mematahkan anggapan bahwa KDRT terjadi di strata bawah. Menurutnya ini tumpukan masalah yang tidak dikomunikasikan. Atau mungkin tidak tahu cara melepaskannya. ” Selama 20 tahun dipendam lalu meledak, bisa sampai wow gitu, jika hal ini kita tidak memiliki media untuk melepaskan beban psikologis,” tutur Liza.

Sharing sesama penyintas dengan menuliskan pengalaman hidupnya terkait kekerasan yang dialami ini bertujuan untuk mengungkapkan perasaan yang ingin dikeluarkan oleh para korban. Sebagian besar para penyintas merasa susah untuk mengungkapkan rasa (marah, takut, jengkel, sedih, cemas). Sedangkan kekerasan terutama bagi anak korban perceraian adalah anak menjadi sensitif. Perasaan negatif menjadikan dampak yang lebih besar.

Lalu bagaimana cara memanage rasa negatif?

Fitri mengungkapkan bahwa proses di SPEKHAM ada yang sampai tujuh tahun lamanya. Ada yang lebih parah tetapi bagaimana melakukan hingga menjadi perempuan yang mengalah (legowo)? Karena kekerasan itu yang memutus harus datang dari perempuan itu sendiri. Dan tujuan menulis ungkapan hati itu untuk menyampaikan pikiran negatif kemudian mengambil hal positif dari rasa negatif itu. (red)

Massa Aksi Demonstrasi di Kota Surakarta : Pemerintah Dinilai Tak Serius Garap RUU P-KS

massa aksi mahasiswa di depan gedung DPRD Surakarta, Selasa (17/9)

Solo -Aksi demontrasi digelar di depan gedung DPRD Kota Surakarta pada hari Selasa, 17 September 2019 pukul 13.00 WIB. Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Solo Dukung RUU P-KS menuntut agar pemerintah serius garap RUU P-KS.

Pasalnya, menurut data dari Komnas Perempuan , kasus kekerasan seksual di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tercatat rentang waktu tahun 2001 sampai 2011 rata-rata seperempat dari kasus kekerasan yang dilaporkan. Pada rentang tahun 2013-2015 rata-rata terdapat 298.224 per tahunnya. Kekerasan ini terjadi baik dalam ranah domestik maupun publik. Lemahnya hukum yang mengatur tentang kekerasan seksual menjadi faktor kenapa marak sekali tindak kekerasan yang terjadi.

Dalam kondisi tersebut peran pemerintah dalam membuat aturan terhadap tindak kekerasan seksual sangat diperlukan. Adanya RUU P-KS ini menjadi sebuah upaya mengurangi angka kekerasan seksual.

para pendemo diterima oleh YF. Sukasno anggota DPRD dari fraksi PDIP

Selama ini hukum hanya mengatur bagaimana cara untuk menindak pelaku tanpa melakukan pemenuhan hak-hak bagi si korban. Bahkan beberapa kasus pelecehan seksual yang sudah diproses secara hukum berakhir dengan perdamaian. Proses pemulihan korban dan keluarga seharusnya mendapat dukungan penuh dari negara baik material maupun non material.

Aliansi yang terdiri dari organisasi LSM, dan komunitas seperti HMI Solo, GMNI Solo Raya, IMM Solo, PMII Sukoharjo LMND Solo Raya, SPEK-HAM, PUKAPS, Larasati dan Dialog Emansipatoris ini mendesak kepada pemerintah untuk serius dalam menggarap RUU P-KS ini.

Lisa selaku korlap aksi mengungkapkan “RUU P-KS yang sudah dicanangkan sejak 2006 dan menjadi prolegnas tahun 2016 belum saja menemui titik temu. Hingga saat ini RUU yang bertindak untuk melindungi korban serta menindak pelaku kekerasan seksual tidak digarap serius oleh DPR. Jadi, DPR ini bekerja untuk siapa? RUU P-KS sudah mendesak untuk segera disahkan.”

Ada 3 pokok tujuan yang ada di RUU P-KS yakni 1. Mencegah, memulihkan dan menghapus kekerasan seksual, 2. Menindak pelaku, 3. Meletakkan kewajian pemerintah melibatkan masyarakat, keluarga dan korban.

aksi mahasiswa di depan gedung DPRD Surakarta

Aksi sebagai bentuk pengawalan terhadap RUU P-KS. Sebagai catatan, Lisa menambahkan bahwa RUU ini merupakan murni dari keresahan masyarakat terhadap semakin maraknya kekerasan seksual. Lisa juga berharap supaya produk hukum ini tidak dijadikan alat politisasi bagi para elit seperti yang sudah-sudah. “RUU ini belum selesai dan akan terus kita kawal. Ada beberapa hal yang perlu ditinjau ulang dan masih megandung banyak kerancuan,”pungkasnya.