Suasana Penyuluhan HIV-AIDS di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten
Pemerintah Desa Pundungan bekerja sama dengan SPEK-HAM dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Klaten menggelar penyuluhan tentang HIV – AIDS di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada Sabtu 18/12. Kegiatan diikuti oleh puluhan Kader Kesehatan Desa.
Amin Bagus Panuntun
pegiat HIV-AIDS dari KPA Kabupaten Klaten, menyatakan saat ini penyakit HIV-AIDS
masih dianggap sebagai penyakit yang tabu dikalangan masyarakat. Menurutnya penyakitnya
ini sering dikaitkan dengan perilaku menyimpang
sehingga stigma dan diskriminasi pada penderitanya masih sering ditemui.
“Saya mengajak kita semua
untuk melihat HIV-AIDS secara lebih mendalam dari sudut pandang yang lain,
penyakit ini memerlukan jangka waktu yang panjang agar dapat terdeteksi atau
disebut periode jendela”, ujar Amin. Dia menambahkan selama 30 hari pertama
jika seseorang tersebut melakukan screening
HIV maka hasilnya akan negatif, setelah 30 hari maka baru akan terdeteksi.
Dalam kegiatan ini juga
disampaikan tentang pentingnya pencegahan penularan HIV pada ibu menyusui ke
anaknya, hubungan seksual heteroseksual, homoseksual, pengguna narkoba suntik
dan terapi ARV pada pasien positif HIV.
Tutik salah seorang
peserta, menyampaikan sosialisasi perlu dilakukan pada semua orang baik
laki-laki, perempuan maupun remaja di semua latar belakang keluarga. Sehingga
harapannya tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV.
Diakhir kegiatan ini Amin mengajak peserta yang
hadir untuk tes HIV. Hampir semua peserta menyatakan berani tes HIV di puskesmas
maupun rumah sakit, mereka mengaku mengetahui status kesehatan adalah tindakan
yang baik dan wajb dilakukan. Mey-Magang
UNWIDHA/Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM
HIV-AIDS masih menjadi persoalan kesehatan di masyarakat kita, hal ini diperparah masih banyak warga yang belum terpapar informasi yang benar tentang HIV-AIDS. Oleh karena itu untuk mengedukasi dan memastikan kesehatan pada kelompok beresiko tinggi, SPEK-HAM bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Salatiga mengadakan kegiatan VCT Mobile yang dilaksanakan di rumah salah seorang warga di Tegalrejo, Kota Salatiga pada Rabu-Kamis, 24-25 Maret 2021. Sebanyak 30 orang mengikuti kegiatan ini.
VCT atau Voluntary Counselling and Testing yang
biasa disebut juga dengan Konseling dan Tes HIV secara Sukarela (KTS). Pada
prinsipnya VCT bersiap rahasia dan sukarela sehingga test dilakukan atas
insiatif dan persetujuan dari pihak yang bersedia untuk tes dan hasil
pemeriksaan akan dijaga kerahasiaannya.
Pelaksana kegiatan ini adalah Puskesmas
Tegalrejo. Tim medis mengambil Sampel darah dari peserta kemudian diuji untuk
mendapatkan hasil Reaktif atau Non-Reaktif. Informasi hasil tes akan
disampaikan kepada peserta lewat Penjangkau Lapangan (PL). Bila ditemukan hasil
reaktif maka akan ada pendampingan dari Pendukung Sebaya (PS). PS berperan
untuk memberikan dukungan emosional, pendampingan untuk patuh terapi Antiretroviral
(ARV), pemberdayaan bagi ODHA dan sebagainya.
Saat ini SPEK-HAM bersama Dinas Kesehatan Kota
Salatiga sedang menjalankan Program penanggulangan HIV-AIDS. Program ini dilakukan
untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat tentang HIV-AIDS,
pencegahan dan pengendalian HIV-ADS, mendorong perubahan perilaku pada kelompok berisiko dan
akses layanan kesehatan secara rutin 3-6 bulan sekali. Anna –
Magang/Henrico Fajar – Divisi Kesmas SPEK-HAM
Berliana, staf dari SPEK-HAM memaparkan hasil kerja Sub Sub Recipient (SSR) SPEK-HAM dari bulan Januari -Juni 2019 dan menyatakan bahwa pada Male Sex Male (MSM) dan Transgender (TG) di Sukoharjo menduduki peringkat yang cukup tinggi serta banyak yang mengidap HIV dan AIDS. Selain itu juga dijelaskan mengenai Best Practice dari bagian SSR SPEK-HAM yaitu dalam penanggulangan yang sudah cukup baik, sinkronasi data baik, kinerja layanan yang sangat bagus, dan untuk klien yang jauh sekarang sudah dapat terjangkau dengan terpetakannya Petugas Lapangan (PL), dan strategi yang sekarang dilakukan melalui Virtual Outreach (VO) atau lewat online cukup efektif. Paparan data tersebut tercuat dalam diskusi dan pertemuan multistakeholder Kabupaten Sukoharjo, Rabu (28/8).
Bejo Raharjo, dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo memaparkan tentang analisa situasi program TB dan HIV dengan situasi layanan yang selama ini ada di Sukoharjo. Pemaparan dari Dinas Kesehatan oleh Bejo Raharjo mengenai analisa situasi program TB / HIV. Program dan layanan kesehatan guna mendukung dalam penanggulangan HIV yang telah ada di kabupaten Sukoharjo, yaitu 18 HIV service, 17 TB HIV, 2 TMC (tes cepat monokuler), 12 Satelit TB kebal obat (MDR), 4 PDP (perawatan dan pengobatan).
Target Rencana Aksi Nasional (RAN) TB dan HIV memiliki beberapa tujuan yaitu membentuk dan memperkuat mekanisme kolaborasi TB HIV, menurunkan beban TB pada pasien ODHA dan inisasi pemberian ARV dini, menurunkan beban HIV pada pasien TB yang artinya penderita TB akan mendapatakan tes HIV. Dinas Kesehatan juga menyebutkan beberapa kesulitan yang dialami dalam penanggulangan HIV di Sukoharjo yaitu kesulitan dalam mencari pasien/orang dengan HIV yang mau berpartisipasi untuk menjadi relawan setelah sembuh. Selain itu juga menjelaskan bahwa belum semua penderita TB di Sukoharjo mendapatkan screening HIV, dan baru ada 2 puskesmas yang melakukan screeningTB dan HIV.
Pasien pengidap HIV di Sukoharjo masih banyak yang belum terdeteksi, kemungkinan terdapat 72,99% yang belum ketahuan. Yang terjangkit HIV pada kisaran umur 20-30 tahun, dan jika diulas lebih dalam mereka terjangkit pada usia muda yaitu sekitar 15 tahun. Mereka yang terjangkit paling banyak bekerja sebagai karyawan dan didominasi oleh laki-laki, sedangkan untuk mereka yang heteroseksual, adalah pelanggan Pekerja Seks (PS), dan lainnya tidak terlalu banyak yang terjangkit.
Di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Sukoharjo memiliki pasien terjangkit HIV dan yang paling banyak terdapat di Kecamatan Grogol, Kartasura, dan Mojolaban. Target yang akan dicapai terdapat pada ibu hamil (bumil) yang harus segera mendapatkan tes, selain itu pada Waria, PS, Penasun. “Pasien TB dan HIV juga masih menjadi PR untuk Dinas Kesehatan,”ujar Bejo Raharjo. Kabupaten Sukoharjo telah mencapai target sekitar 89% atau berhasil menangani kasus sebanyak 425 menggunakan sistem DOT.
Dinas Kesehatan juga memaparkan masalah yang sekarang dialami diantaranya : pemeriksaan yang dilakukan pada komunitas dan tempat yang berisiko belum optimal (baru terjangkau 1 SPA dan 2 tempat karaoke), pemeriksaan VCT masih rendah pada komunitas, capaian pada penasun masih kurang karena Petugas Lapangan (PL) sering ganti, kurangnya pengetahuan HIV dan AIDS yang komperhensif pada anak usia 15-24 tahun, kepatuhan petugas layanan perlu ditingkatkan dan rendahnya angka kepatuhan pengobatan pada pasien HIV dan AIDS.
Penjangkauan Sampai Tempat SPA dan Karaoke
SPA Niagara sudah rutin melakukan pemeriksaan, selain itu juga ada Karaoke Bima, Inul, Melly Guslow. Terbaru mereka melakukan pemeriksaan sebanyak dua kali, Gema dan Es Club baru melakukan sekali pemeriksaan. Dan sekarang untuk dinas pariwisata sedang menggalakkan pemberian informasi serta menghimbau untuk tempat hiburan malam melakukan pemeriksaan.
Dinas Pendidikan untuk anak usia 15-20 yang berada di tingkat SMA sudah tidak menjadi wewenang dinas pendidikan Sukoharjo karena sudah ditangani oleh pihak Provinsi. Dan untuk anak sekolah di Sukoharjo sendiri belum memiliki program untuk melakukan pengecekan HIV.
Dari Satpol PP, tempat kos masih belum dapat terjangkau pemeriksa an. “Dulu sudah pernah dilakukan operasi dan dalam sekali operasi dapat menjaring 10 pasangan. Eduksi yang dilakukan hanya sebatas gertakan dan sosialisasi agar tidak mengulangi dan terjadi efek jera terhadap pelaku.
Dr. Romdon dari Dinas Kesehatan memaparkan bahwa banyak terdapat tempat mangkal Kunci yang belum bisa terjangkau. Layanan kesehatan penyuluhan Kespro kepada usia yang mudah terjangkit HIV juga telah dilakukan. Terkait hal tersebut perwakilan Puskesmas Kartasura menyatakan bahwa banyak sekolah yang diajak untuk kerjasama namun belum ada tindakan serius. Dan saat pemberian sosialisasi hanya anak yang alim dan pintar yang datang untuk mendengarkan sosialisasi, padahal target sasarannya adalah anak yang dianggap nakal.
Pertemuan Stakeholder Kabupaten Sukoharjo
Dinas Kesehatan juga pernah menemukan pasien yang terjangkit penyakit Sipilis di area remaja (anak sekolah) namun menolak untuk melakukan pemeriksaan dan langsung dirujuk ke dokter spesialis.Banyak tempat yang belum terjangkau seperti terminal lama, SMA dengan program khusus, dan Pabrik-pabrik.
Sedangkan Puskesmas Baki pada tahun 2018 banyak menemukan kasus HIV, salah satu yang terjangkit adalah 2 orang Bumil dan 1 suami. Di desa Jetis masih sulit untuk ditemui karena masyarakatnya gampang-gampang susah. Jika ada pengumuman tentang penanggulangan HIV banyak yang tidak datang, dan saat turun ke lapangan juga banyak yang kabur. (mhsswa mgg/red)
Paparan data dari SPEK-HAM dalam bulan Januari – Juni 2019 cukup berhasil untuk penanggulangan HIV/AIDS. Dengan mencapai target penjangkauan 80% dengan target 3859, dan dengan pencapaian 3102. Tidak hanya tatap muka namum juga menggunakan media sosial dalam beinteraksi. Tim HCT yaitu 59% dengan target 2021 dan pencapaiannya 1188. Untuk selanjutnya data-data sebagai berikut :
a.) Capaian akumulatif Transgender (TG), dengan target jangkauan 142 dan capaiannya 155 (109%), untuk HIV Consulting Test (HCT) targetnya 74 dan jangkauannya 72 (97%), kemudian dari 72 target, yang positif terjangkit HIV adalah satu orang yang ditemukan di kota Salatiga. b.) Capaian akumulatif pengguna narkoba suntik (penasun), dengan target jangkauan 400, pencapaian 309 (77%), HCT target 208 pencapaianny 174 (84%), target 174 dengan 0 positif. c.) Capaian Man Sex Man Boyolali (MSM) Januari – Juli 2019, dengan target penjangkauan 1403 dengan pencapaian 1277 (91%), HCT dengan target 735 dan pecapaian 543 (74%), dan positif dengan target 543 ditemukan 10 positif (2%). d.) Capaian Transgender (TG) Boyolali Januari – Juni 2019, target jangkauan 52 pencapaian 57 (110%) HCT target 27 pencapaian 32 (119 %), positif dengan target 32 dan 0 positif (0%).
Untuk Cascade Januari – Juli 2019 Boyolali. Untuk MSM dengan 1277 jangkauan, 543 HCT, dan positif 10 orang, ARV 9 orang, dan non ARV 1 orang. Kemudian untuk Transgender dengan jangkauan 57, pencapaian 32, positif, ARV, dan Non ARV ditemukan 0.
Paparan di atas adalah data-data yang disampaikan oleh SPEK-HAM pada pertemuan multistakeholkder Kabupaten Boyolali, Selasa (27/8) di Front One Airport Hotel. Galih Novianto, pengelola program HIV dan AIDS dalam sambutannya memberi dukungan untuk penganggulangan HIV dan AIDS di Boyolali butuh kerjasama dan saling bersinergi dengan pejabat dinas di Boyolali untuk menuju three zero yaitu zero diskriminasi, zero infeksi baru dan zero kematian akibat penyakit HIV dan AIDS.
Sherly Jeanne Kilapong, dari Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Boyolali memaparkan materi tentang permasalahan mengenai HIV/AIDS di Kabupaten Boyolali. Dinkes sendiri memiliki target selain menyangkut MSM, yakni pemaparan layanan diperuntukkan bagi para pejabat yang datang pada saat acara. Puskesmas di Boyolali bisa melakukan pemeriksaan HIV yakni Puskesmas Simo, Puskesmas Musuk 1, dan Puskesmas Boyolali. Namun di Puskemas Ngemplak dan Banyudono I terganggu karena mutasi. Terkait Data Layanan Capaian layanan HCT 2019. MSM target 539 dan realisasi 30, kemudian waria targetnya 131 dan realisasi 1. Pasangan ODHA target 6539, realisasi 2, populasi umum dan lain-lain target 1592 realisasi 374, bumil di tes HIV target 11404 realisasi 2090, pasien TB target 944 realisasi 16.
Data mengenai kasus HIV AIDS 2005-2019 di setiap kecamatan, ditemukan kasus oleh petugas Kabupaten Boyolali, di Selo banyak sekali orang-orang yang bekerja di tempat pasir yang banyak mengidap HIV namun yang menjadi masalah belum diperiksa semua. Kemudian masalah yang lain karena banyak yang merantau di luar kota. Hampir di semua kecamatan di Kabupaten Boyolali banyak teridentifikasi terkena HIV. Dengan presentasi jenis kelamin Laki-laki 63%, Perempuan 37 %. Sedangkan berdasarkan umur, pengidap HIV mayoritas berumur produktif. Kasus meninggal akibat penyakit HIV AIDS di prosentasekan sebanyak 14%, dan yang masih bertahan hidup sebanyak 86%.
Promosi Kesehatan dan Kaitannya dengan Implementasi Perda nomor 13 Tahun 2019
Sherly menambahkan bahwa terkait payung hukum, Kabupaten Boyolali memiliki Perda nomor 13 Tahun 2019 tentang Penanggulangan TBC dan HIV dan AIDS terutama di Pasal 19. Beberapa program terkait promosi diantaranya adalah menyediakan media informasi yang bermutu memadai dan mudah diakses masyarakat dan yang menjadi sasaran adalah anak berusia 15-24 tahun, calon pengantin, Ibu Hamil (Bumil), Orang dengan HIV dan AIDS, dan penderita Hepatitis. Terkait dengan populasi kunci yang sampai saat ini targetnya belum diketahui, serta langsung kepada pekerja pabrik dan ibu rumah tangga, pelanggan seks sesama atau MSM, serta warga binaan Lapas.
Beberapa promosi kesehatan dilakukan dengan kepedulian remaja di sekolah-sekolah, pemeriksaan antenatal, pada pengguna NAPZA, dan pada lembaga pendidikan seperti yang dilakukan dinas pendidikan dan kebudayaan serta kementerian agama. Materi terkait HIV dan AIDS dimasukkan dalam pendidikan agama, dan masuk dalam muatan lokal atau atau ditambahkan di kurikulum sekolah.
Pencegahan penularan HIV secara non seksual diberikan pada pola hidup aman dan tidak beresiko. Hubungan seksual dengan menggunakan alat kontrasepsi, serta dari ibu melalui plasenta, jarum suntik yang tidak steril, pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual, menggunakan alat kontrasepsi dan jangan lupa memeriksa status HIV. Pencegahan pada perusahaan dan instansi pemerintahan dengan melakukan konseling dan edukasi mengenai HIV dan AIDS pada karyawan, antisipasi dengan program-program yang ada untuk melakukan sosialisasi tentang penyakit-penyakit menular dan berbahaya, serta menghimpun CSR untuk pengendalian dan pemberantasan HIV dan yang terpenting adalah melarang mem-PHK karyawan yang terpapar HIV.
Tes inisiatif juga dilakukan pada pasien TBC Wajib diperiksa status HIVdan AIDS. Sebaliknya, pasien positif HIV harus melakukan tes TBC, demikian juga kepada pengidap penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), ibu hamil, pasangan yang akan menikah, pada gizi buruk, dan gejala-gejala lain. Bahkan penyakit dompo yang sering terjadi pada Ibu Rumah Tangga serta penderita diare pernah ditemukan positif HIV. Inisiasi pemeriksaan juga mengarah kepada paramedis dan petugas medis secara berkala. (mhswa mgg/red)
Suasana pelatihan media dan CSO yang berperspektif ODHA
Indonesia AIDS Coalition (IAC) bekerja sama dengan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) melakukan pelatihan bagi awak media dan organisasi sosial, dalam hal ini populasi kunci, pada 12-14 Agustus di Hotel Novotel. Pelatihan difasilitasi oleh Akbar Prayuda dari IAC dan Patrianus dari Komunitas Rumah Cemara. Pelatihan selain memberikan pembekalan pengetahuan dasar hingga pengobatan serta situasi dan data kekinian tentang paparan HIV dan AIDS, juga menemukan solusi bagi kerja-kerja advokasi yang lebih baik.
Terkait situasi epidemi HIV dan AIDS di Kota Surakarta, Agus Hufron, narasumber dari Dinas Kesehatan menjelaskan bahwa untuk Surakarta dan sekitarnya Orang Dengan HIV dan AIDS yang mengakses layanan (estimasi) adalah 3.180 dan yang memenuhi syarat ACT sebanyak 2.537 dan pernah mengalami pengobatan sebanyak 2.384. Yang sudah meninggal sebanyak 548, masih terapi ARV sebanyak 873, stop secara sadar sebanyak 60, sedang drop out tanpa diketahui alasan sebanyak 564 orang dan menjalani rujukan sebanyak 339.
Dari data di atas, para peserta melakukan diskusi terkait rencana tindak lanjut yang akan dilakukan oleh komunitas di populasi kunci antara lain adalah salah satunya mengangkat tema pengobatan bagi ODHA melalui sosialisasi. Sosialisasi yang akan dilakukan di antaranya kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama serta media. Selain pengobatan, para peserta diskusi juga memetakan masalah bahwa terkait diskriminasi dan stigma masih terjadi pada ODHA baik di kalangan masyarakat sendiri, maupun yang datang dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Dinsos dengan menyerahkan pengasuhan dan perawatan ODHA terlantar kepada yayasan atau komunitas seperti yang saat ini dilakukan oleh Yayasan Gaya Mahardika Solo dengan merawat lima Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) dengan fase penyakit yang menyertainya.
Media Hendaknya Bijak Menggunakan Bahasa-Bahasa Positif
Dalam pelatihan ini, Noer Atmaja dari Radio TA TV memberikan masukan bahwa bahasa-bahasa yang digunakan dalam media audio lebih awam, tidak detail, tidak terlalu medis, namun mudah diingat oleh pendengar. Noer juga setuju ketika pilihan diksi positif juga akan mengurangi stigma di masyarakat seperti kata ‘penderita’ diganti dengan ‘pengidap’ atau lebih bagus lagi dengan enyebutan Orang Dengan HIV atau Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA).
Suasana diskusi
Perlu persebaran informasi kepada masyarakat tentang pengetahuan dasar terkait penanggulangan HIV dan AIDS. Berita-berita positif antara lain pengetahuan bahwa penyakit ini bisa diobati dan ODHA bisa berdaya, dengan catatan rutin terapi meminum ARV. Orang dengan HIV juga bisa berprestasi, memiliki keturunan, dan bekerja dengan baik di masyarakat. Butuh dukungan dari segenap masyarakat, jika pengetahuan tentang HIV dan AIDS lebih dini diketahui maka pengobatan lebih mudah dilakukan serta untuk pencegahan penularan agar tidak masif. (red)
Saat ini isu LGBT sedang memanas dan ditengarai sebagai peluru oleh sekelompok orang yang mengalami homophobia,bahwa LGBT penyebab utama penularan HIV-AIDS. Apalagi media massa baik cetak maupun daring belum berpihak kepada kelompok LGBT dengan pemberitaan yang masih mendiskriminasi dan menstigma. Pemberitaan terhadap komunitas LGBT hanya dipandang dari sudut negatif saja, padahal program-program penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia yang dilakukan oleh instansi kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) selama ini telah dilakukan dengan melibatkan komunitas LGBT. Demikian latar belakang kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh jaringan penanggulangan HIV dan HAM bagi perempuan pekerja seks, laki-laki pekerja seks dan waria pekerja seks Indonesia Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) di Hotel Baron Indah, Kamis (15/11) yang dihadiri oleh LSM dan komunitas serta awak media cetak, daring serta radio.
Dok. SPEKHAM
Dalam diskusi yang dipandu oleh Supri dari Fokal Poin, dikatakan bahwa sosialisasi terkait HIV AIDS telah dilakukan oleh jaringan komunitas dengan melibatkan stakeholder namun tidak semua anggota komunitas mengikuti, dan kegiatan tersebut sedikit demi sedikit mengurangi stigma. Demikian salah satu persepsi dari pihak komunitas. Hal ini dibenarkan oleh Lousiana Margareta biasa dipanggil Mama Londo dari Himpunan Waria Solo (HIWASO) bahwa stigma justru datang dari diri sendiri, “Saat saya melakukan observasi di masyarakat, saya agak genah, kami melakukan pelatihan bola volley pada masyarakat, lalu stigma itu hilang. Sudah tidak ada pengucilan diri saya dan teman-teman. Adanya perubahan ini membuat dunia wow!”
ARV Community Support sebagai sebuah lembaga memegang peran penting dengan layanan pengadaan obat, kondom, dalam penanggulangan HIV-AIDS mengatakan bahwa untuk istilah Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA), masyarakat sudah mulai terbuka. Tetapi kenyataan di lapangan, banyak dijumpai ODHA sendiri yang merasa ketakutan, tidak percaya diri. “Kita penginnya, media menjadi jembatan untuk mereka supaya tidak merasa terasingkan,”ujarnya.
Dibutuhkan Keberpihakan
Rahayu Purwaningsih, Direktur Yayasan SPEK-HAM turut hadir dan berpendapat bahwa pemberitaan media terkait PSK baik perempuan maupun laki-laki dan komunitas LGBT menjadi kambing hitam penularan HIV-AIDS padahal mereka yang tidak melakukan seks aman atau tidak menggunakan kondom adalah kelompok laki-laki pengguna. Dampak pembubaran lokalisasi juga turut menyumbang penularan ini. Tentang perspektif pemangku kebijakan, Rahayu Purwaningsih menyampaikan tentang perspektif pemangku kebijakan di bidang hukum telah mengalami kemajuan. Dia menyebut Kapolres Boyolali telah memiliki perspektif atas korban kekerasan seksual yang kasusnya baru saja terjadi.
Dok. SPEKHAM
Dedy Yuwono dari Yayasan Gaya Mahardika mengemukakan tentang ‘pekerjaan rumah’ mendatang yang harus dilakukan jaringan adalah penguatan atas isu SOGIE (LGBT) dan pengetahuan keberagaman seksual di komunitas, tentang klasifikasi dan tindak lanjut yang bagaimana. Beberapa hal yang akan dilakukan ke depan, dari pihak Radio Immanuel, dengan menyelenggarakan siaran-siaran langsung yang diselenggarakan oleh komunitas. Pelibatan media yang lebih banyak dan intens akan dilakukan dengan cara audiensi dengan pihak media. Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Solo Plus yang selama ini juga mendampingi anggota komunitas yang terinfeksi HIV mengusulkan bahwa ke depan sosialisasi akan melibatkan tokoh masyarakat dan agama.
Ditemui oleh penulis di sela-sela acara diskusi, Dinar Dwi Rahayu dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Surakarta mengatakan bahwa ada agenda setiap bulan yang dilakukan oleh Warga Peduli AIDS (WPA) di lima kecamatan untuk melakukan sosialisasi serta mencegah diskiriminasi dan stigma. “Kami memiliki lima pendamping untuk lima kecamatan yang mendamping WPA masing-masing kelurahan. Bahkan kami pernah mendampingi dalam pemulasaraan jenazah ODHA di masjid dan gereja. Tugas kami adalah memberi sosialisasi pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS kepada masyarakat sedangkan tentang pengobatan dan tindakan mengurus ODHA secara langsung menjadi ranah KDS,”pungkas Dinar. (AP)
HIV-AIDS telah menjadi salah satu wabah penyakit paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Karena dampak penyakit ini juga tidak hanya di sisi kesehatan namun juga mempunyai implikasi sosial, ekonomi, etnis, agama dan hukum, bahkan cepat atau lambat akan menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia.
Data dari KementrianKesehatan Republik Indonesia menyebutkan jumlah kasus penderita HIV-AIDS hingga tahun 2016 mencapai 276,511 jiwa dengan rincian kasus HIV sebanyak 198,219 jiwa, kasus AIDS sebanyak 8,292 jiwa. Di Jawa Tengah hingga Bulan September 2015, kasus HIV dan AIDS di Jawa Tengah berjumlah 12.814 yang terdiri dari kasus HIV 6.945 dan 5.869 AIDS (peringkat 4 di Indonesia) yang sudah meninggal berjumlah 1.188. Dilihat dari faktor resikonya, Kementerian Kesehatan mencatat, dilihat dari faktor resikonya (sampai Juni 2015) heteroseksual 63,8%, homoseksual 17,1, IDU 12,7%, Perinatal 2,8%. Percepatan pencapaian 3 zero menjadi keharusan bagi pemerintah dan stakeholder terkait dalam pelaksanaan program penanggulangan HIV-AIDS, yang meliputi: zero infeksi baru, zero kematian terkait AIDS dan zero stigma dan diskriminasi menuju Indonesia bebas AIDS di tahun 2030.
Untuk menuju 3 zero tersebut tentu saja dibutuhkan peran serta semua pihak yang terlibat, baik pemerintah, swasta, LSM dan masyarakat pada umumnya. Pemerintah hendaknya mau tidak mau harus menyediakan layanan kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit) yang terjangkau, mudah dan berkesinambungan. Selain itu melakukan upaya-upaya pencegahan penularan HIV, meningkatkan segera akses pengobatan HIV, meningkatkan retensi pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup ODHA, mitigasi dampak sosial ekonomi epidemi HIV pada individu, keluarga dan masyarakat untuk menjaga produktifitas dan sumber daya manusia.
SPEK-HAM menjadi salah satu lembaga yang peduli pada persoalan kemanusiaan ini, lewat dukungan Global Fund melakukan intervensi program di 3 wilayah, yaitu di Kabupaten Sukoharjo, Boyolali dan Kota Salatiga. Pada impelementasinya tentu saja pelaksanaan program ini menyisakan tantangan dan catatan keberhasilan keberhasilan.
Beberapa keberhasilan dalam program ini, misalnya di Kabupaten Sukoharjo yang menjadi wilayah intervensi sejak tahun 2016 yang lalu adalah layanan HCT gratis di semua Puskesmas yang menyediakan layanan HCT, mobile HCT bisa dilakukan di waktu siang dan malam hari, peran serta Warga Peduli AIDS (WPA) yang berjalan maksimal dalam upaya pencegahan penularan HIV dan upaya mengurangi stigma dan diskriminasi pada ODHA.
Kabupaten Boyolali dan Kota Salatiga yang tahun 2017 hingga tahun 2020 menjadi wilayah kedua dan ketiga yang diintervensi oleh SPEK-HAM, walaupun para periode sebelumnya tahun 2013-2015 SPEK-HAM pernah mengintervensi wilayah ini, beberapa keberhasilan di Kabupaten Boyolali dalam implementasi program ini adalah penambahan sebaran layanan HCT di Puskesmas yang sebelumnya berjumlah 11 akan di tambah menjadi 7 Puskesmas dan layanan mobile HCT siang maupun malam hari. Selain itu di Kota Salatiga sudah sudah terbit Perda Nomor 3 Tahun 2014 tentang penanggulangan HIV-AIDS. Keberhasilan tersebut merupakan hasil jejaring yang efekttif yang dilakukan lintas stakeholder yang teribat dalam program ini.
Diantara catatan keberhasilan tersebut masih dijumpai beberapa tantangan dalam program ini, diantaranya masih diberlakukannya retribusi pada pasien yang akan melakukan HCT bahkan pada populasi kunci sekalipun, yaitu sebesar Rp. 5.100,-, pemeriksaan laboratorium yang dibebankan kepada pasiesn sebesar Rp. 12.500 – Rp. 14.000,- (disesuaikan dengan kebijakan Puskesmas masing-masing) dan belum adanya Perda tentang Penanggulangan HIV-AIDS. Tantangan tersebut terjadi di Kabupaten Boyolali.
Sebagai informasi diketahui sampai Oktober 2017 tercatat ada 447 kasus HIV-AIDS di Sukoharjo. Rinciannya HIV 225 orang dan AIDS 222 orang. Dari jumlah tersebut tercatat ada 22 orang meninggal dunia. Sementara itu data di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Boyolali, jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten Boyolali berjumlah 423 orang yang merupakan data kasus akumulatif dari tahun 2005 hingga 2017. Dari angka itu sebanyak 83 ODHA diantaranya meninggal dunia.
Jumlah penderita terbanyak di Kecamatan Boyolali Kota yakni 29 pasien. Kedua Kecamatan Ampel sebanyak 25 orang, disusul Kecamatan Mojosongo dan Banyudono masing–masing ada 19 orang. Sedangkan penderita terendah berada di Kecamatan Selo yakni ada 2 orang. Sementara dari sisi jenis kelamin, laki-laki sebanyak 61 persen dan kaum perempuan 39 persen.
Sementara itu Dinas Kesehatan Kota Salatiga mencatat selama tahun 2017 terdapat 17 kasus HIV/AIDS. Sedangkan pada tahun 2016, ditemukan ada 18 kasus. Jika data diakumulasi dari tahun 1994 hingga 2017 penderita HIV-AIDS di Kota Salatiga mencapai 284 kasus. Sebanyak 66 orang di antaranya meninggal dunia.
Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sering dianggap merupakan perilaku menyimpang di masyarakat, itulah stigma yang selama ini melekat pada kelompok LSL. Karena hal tersebut, teman-teman LSL Boyolali berusaha bergabung menjadi satu untuk menyatukan visi dan misi agar LSL di Boyolali dapat diterima di masyarakat, sehat dan berdaya dengan membentuk Komunitas yang diberi nama Komunitas Sehati Boyolali (KSB). Komunitas dampingan SPEK-HAM ini mengadakan pertemuan rutin setiap bulan antara tanggal 15 atau 20 setiap bulannya. Sebelum berdiskusi, teman-teman komunitas LSL diberi pembekalan tentang kesehatan terutama tentang pengetahuan HIV-AIDS, juga pengetahuan oleh teman-teman PL SPEK-HAM tentang macam-macam penyakit IMS yang biasa menyerang teman-teman LSL, yang bertujuan untuk dapat mengurangi dampak pesakitan pengidap HIV-AIDS maupun IMS. (spek-ham/uie)