Search for:

Forum Peserta JKN Boyolali Soroti Data Bansos

Suasana diskusi forum JKN Boyolali

Sejumlah anggota Forum Peserta JKN Boyolali menyoroti data penerima bansos yang tidak akurat saat menggelar Diskusi dengan Tema Perlindungan Sosial yang Responsif Gender di Masa Pandemi Covid-19 pada 20/5 di sebuah Rumah Makan di Boyolali.

Sinam M Sutarno salah seorang peserta asal Selo, menyampaikan bantuan untuk penanganan Covid-19 itu ada 2, yakni Basis Data Terpadu (BDT) dan non BDT misalnya untuk orang yg bukan miskin tapi sangat terdampak. “Saat ini kemensos memungkinkan pendataan data baru dan Desa bisa mengupdate data agar tidak menjadi bulan-bulanan warganya,” ungkap Sinam. Pada bagian lain dia menyoroti kebijakan pemerintah pusat terkesan tidak dijalankan di tingkat daerah, misalnya terkait leasing yang ternyata masih banyak warga yang menerima tagihan dari leasing sepeda motor.

Sementara itu Rahayu Purwaningsih warga Andong menyampaikan bantuan sosial untuk warga terdampak Covid-19 ada 5, terdiri dari BST (Bantuan Sosial Tunai) dari Kemensos sebesar Rp. 600.000,- Bantuan Provinsi berupa sembako senilai Rp. 200.000,- Bantuan Kabupaten berupa Sembako senilai Rp. 200.000,- BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari Dana Desa senilai Rp. 600.000,- masing-masing bantuan tersebut selama diberikan selama 3 bulan.

Bantuan lain yaitu Perluasan Sembako dari Provinsi Jateng, Boyolali mengajukan 21.700 orang yang disetujui sebanyak 17.000 orang, bantuan ini diberikan selama 9 bulan. Informasi sampai dengan hari ini dari kelima bantuan tersebut yang sudah turun meski sebagian adalah BST, BLT dan Bantuan Kabupaten.

Kegiatan dengan menerapkan physical distancing atau jarak ini menghasilkan beberapa masukan kepada pihak-pihak terkait, diantaranya perbaikan data (sinkronisasi) untuk penerima bantuan agar bisa tepat sasaran, update data penerima bantuan secara berkala dan pelibatan perempuan secara lebih masif dalam pendataan warga terdampak.

Pada sisi lain para peserta menyadari bahwa jaminan sosial sangat bermanfaat di tengah pandemi covid-19 ini karena dapat membantu masyarakat yang terdampak dan sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. Selain itu edukasi kepada masyarakat juga terus menerus harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, diantaranya jaga jarak, menggunakan masker, menghidari kerumunan, sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer dan menjaga kesehatan tubuh dengan aktivitas fisik secara rutin.

Sebagai informasi Diskusi Forum Peserta JKN Boyolai ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, yaitu Sosialisasi hasil riset JKN-BPJS untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan, pembentukan Forum Peserta JKN Boyolali, Audiensi dengan BPJS Kesehatan dan Dinkes. Kegiatan ini diselenggarakan SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Jaringan Perempuan Peduli Kesehatan (JP2K), dengan dukungan AUSAID Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan). (Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat/spekham.org)

NGOBROL ASIK BARENG REMAJA KECAMATAN BAYAT “AKU BELOM MENS NIH BULAN INI, INJEK JEMPOL KAKI KU DONG” VIA ZOOM MEETING

Zoom Meeting remaja Bayat, Klaten

Masih di situasi pandemi , dimana tetap harus dirumah saja dan berjaga jarak dengan orang lain, kali ini SPEK – HAM Surakarta melalui program PEKERTi ( Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi ) mengajak teman – teman remaja kecamatan Bayat , Klaten untuk membahas tentang beberapa mitos seputar kesehatan reproduksi remaja via zoom meeting.  Sebanyak 20 remaja antusias mengikuti kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Mei 2020 via zoom meeting. Bersama dengan ibu Arwini Urip, Amd., Keb selaku bidan desa Paseban, Bayat, teman – teman remaja mengutarakan berbagai pertanyaan atau mitos yang beredar seputar kesehatan reproduksi remaja. Bu Arwini selaku tenaga medis dan juga pendamping kelompok posyandu remaja desa Paseban pun tak kurang – kurang dalam menjelaskan seputar kesehatan reproduksi.

Dimulai dengan penjelasan terkait proses menstruasi, lalu penyebab rasa tidak nyaman dan rasa sakit ketika menstruasi. Ada juga tentang aktivitas dan makanan / minuman apa yang sebenarnya berpengaruh pada tubuh saat proses menstruasi. Dijelaskan pula tentang bagaimana remaja harus menjaga kesehatan reproduksinya dengan cara, makan dan minum yang bergizi, berolahraga, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan tubuh terutama daerah vagina. Dalam waktu satu setengah jam ini, teman – teman remaja memanfaatkan waktu untuk bertanya sebanyak – banyaknya untuk dapat menjawab segala keresahan mereka speutar kesehatan reproduksi remaja. Harapannya adalah teman – teman remaja bisa tetap mendapat akses informasi yang tepat dan maksimal tentang kesehatan reproduksinya. Ayun – CO SPEKHAM

TALKSHOW ON THE RADIO “LAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN & REMAJA DI TENGAH PANDEMI COVID 19“ 91.6 FM RSPD (RADIO SIARAN PEMERINTAH DAERAH) KABUPATEN KLATEN.

Siaran radio RSPD Klaten

Memasuki bulan ke 2 di masa pandemi covid 19 di Indonesia, dimana segala aktivitas yang melibatkan beberapa orang bahkan lebih harus dibatasi dan dihindari sebagai upaya pencegahan penularan virus covid 19. Di Kabupaten Klaten, situasi ini pun juga pastinya  berdampak pada proses pelayanan kepada masyarakat khususnya kesehatan, salah satunya adalah dibatasinya kegiatan posyandu untuk ibu hamil, balita, remaja dan lansia di hampir semua wilayah.  Otomatis penyampaian informasi tentang kesehatan pun juga ikut terdampak. Mensikapi situasi ini SPEK – HAM Surakarta bersama Dinas Kesehatan mencoba untuk semaksimal mungkin memberikan layanan informasi tentang layanan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan reproduksi perempuan dan remaja melalui siaran radio yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Klaten melalui  RSPD ( Radio Siaran Pemerintah Daerah )Kabupaten Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan hari Kamis , 30 April 2020 dan dimulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 11.00 WIB. Hadir di siaran ini sebagai narasumber yatu ibu Siti Katrimah,Amd.Keb dari dinas kesehatan, Ayun Wrediningtyas dari SPEK HAM , dan ibu Catur dari Kader Kesehatan Klaten tengah.

Dalam waktu satu jam ini, para narasumber membahas terkait kebijakan pemerintah melalui dinas kesehatan untuk tetap melakukan layanan kesehatan dan penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat, salah satunya pemantauan kondisi ibu hamil,dan balita yang biasa dilakukan lewat kegiatan Posyandu, saat ini dilakukan dengan memanfaatkan Whatsapp grup atau media online atau by phone untuk saling memantau kondisi kesehatan ibu hamil dan balita. Selain ada tenaga medis  atau biasanya bidan desa yang memantau kesehatan masyarakat, tentu saja ada kerja  -kerja kader kesehatan untuk membantu menyampaikan informasi dari masyarakat ke bidan ataupun sebaliknya.   Ditambah lagi, SPEK HAM Surakarta melalui program PEKERTi ( Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan  Terintegrasi ) bersama Yayasan IPAS juga melakukan edukasi kepada masyarakat sebagai upaya pemenuhan informasi kesehatan kepada masyarakat. Walaupun edukasi ini juga dilaksanakan melalui via online ( zoom, whatsapp group, instagram, dll ) , informasi yang diterima masyarakat pun dirasa sangat maksimal dan sesuai dengan kebutuhan.  Harapannya adalah situasi pandemi covid 19 ini semua masyarakat dapat tetap mendapat hak informasi dan layanan kesehatan dengan baik.  Untuk itu perlu kerjasama yang baik, bukan hanya pemerintah saaja atau tenaga medis saja, akan tetapi semua masyarakat pun juga diharapkan bisa bersinergi untuk mengahadapi situasi pandemi seperti saat ini. Ayun -CO SPEKHAM

Remaja Juwiring Gelar Diskusi Kespro Via Zoom

flyer diskusi online Kespro Remaja

Sebagai salah satu upaya untuk mengedukasi remaja, SPEK-HAM bersama dengan Yayasan IPAS dan Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten menyelenggarakan diskusi on line menggunakan media zoom pada Selasa 5/5. Diskusi yang diikuti oleh 20 orang peserta remaja dari Juwiring ini, mengangkat tema: Ada Apa Dengan Kespro Remaja? Dan menghadirkan narasumber secara virtual Siti Katrimah, Amd. Keb dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten.

Dalam paparannya Siti Katrimah menyampaikan pentingnya memahami Kesehatan Reproduksi Remaja secara benar, salah satunya dengan memperhatikan tahapan masa pubertas. Ada perubahan kerja hormon, perubahan fisik pada laki-laki dan perempuan serta perubahan psikologis yang harus dipahami setiap remaja.

“Mestinya remaja harus paham ya, kalau perempuan ditandai dengan menstruasi, sementara laki-laki mimpi basah dan bila ada keluhan organ reproduksi atau siklus menstruasi yang tidak normal harus periksa ke dokter,” ungkap Katrimah. Dia mengajak kepada remaja untuk tidak menganggap tabu saat mendiskusikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas, dengan demikian informasi bisa disampaikan secara utuh dan benar.

Diskusi yang dipandu oleh Fitri Haryani dari SPEK-HAM ini, mengajak peserta untuk berani berbagi informasi maupun menyampaikan pertanyaan kepada narasumber. Salah seorang peserta Tari Sekar menyampaikan, tentang penggunaan sabun khusus untuk organ reproduksi perempuan setiap hari. Peserta lain Chelsea Ardya Prameswari menyampaikan memimum jamu kunyit asam saat menstruasi.

Diskusi online via Zoom Meeting

Menanggapi hal tersebut, Katrimah menyampaikan pada saat menstruasi boleh menggunakan sabun untuk membersihkan sisa kotoran seperti lendir, tetapi tidak boleh terlalu sering. Menurutnya bila terlalu sering justru akan membunuh bakteri-bakteri baik yang ada vagina, sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan reproduksi perempuan. Beberapa manfaat meminum jamu kunyit asam menurut, antara lain untuk memperkuat daya tahan tubuh, mengatasi rasa nyeri pada perut dan memperlancar siklus haid.

Lebih lanjut Katrimah menegaskan agar remaja mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang serta menerapkan gaya hidup yang sehat dengan olahraga. Selain itu agar organ reproduksi perempuan tidak mengalamj persoalan, mereka harus menjaga kebersihan organ reproduksi dengan melakukan cebok secara benar setiap selesai buang air kecil. Sebagai informasi sejak tahun 2018 Yayasan IPAS bersama Dinas Kesehatan Klaten dan SPEK-HAM telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki, tokoh agama dan masyarakat. Sebanyak 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.  

SPEK-HAM galang donasi publik untuk Gerakan 1000 masker

Tim SPEK-HAM

Hari Jumat tanggal 17 April 2020 tim SPEK-HAM telah merealisasikan Gerakan 1000 Masker dengan melakukan pembagian masker kepada pedagang pasar, pedangan kaki lima dan Supir Becak. Gerakan ini sebagai bentuk komitmen dan kepedulian SPEK-HAM terhadap kesehatan masyarakat dan kampanye terhadap pencegahan penyebaran Covid-19 yang sudah menjadi pandemic global. Untuk mendukung gerakan ini SPEK-HAM melakukan penggalangan donasi dari staf internal, komunitas dampingan, kolega dan atau mitra kerja SPEK-HAM. Berikut ini adalah rincian donasi yang telah kami himpun dari para donatur beserta penggunaanya :

Dari dana donasi yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 4.163.000, – telah dibelanjakan untuk pengadaan 654 masker seharga Rp 1.731.000. Dana donasi masih tersisa sebesar Rp 2.432.000. Donasi dalam bentuk masker terkumpul sebanyak 461 masker, ditambah pengadaan dari dana donasi sebanyak 654 masker total ada 1.115 masker.

Pembagian masker kepada pedagang pasar, pedangan kaki lima dan Supir Becak di wilayah: Pasar Kleco, Wilayah sekitar lapangan Karangasem, Wilayah Kampus UMS, Pedangang di sepanjang PDAM dan DPRD Kota Surakarta, Makam Haji, Mendungan, sepanjang SMP Ursulin – RS Mata Solo dan Pabelan. Dari gerakan tersebut telah terdistribusi 941 masker dan masih tersisa 174 yang nantinya akan dibagikan pada kegiatan selanjutnya.
Sisa dana donasi sebesar Rp 2.432.000 selanjutnya akan dialokasikan untuk donasi beras pada perempuan kepala keluarga miskin, Ibu Rumah Tangga dengan HIV, dan perempuan korban kekerasan yang terdampak oleh Covid-19.

Bersama ini SPEK-HAM mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan dan donasi yang telah diberikan sehingga Gerakan 1000 Masker dapat berjalan dengan lancar. Semoga dukungan dan donasi yang telah diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Gunakan media alternatif ditengah Covid-19, Jagongan online tentang Kespro di dua kecamatan di Klaten libatkan kader kesehatan dan remaja.

Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus corona menjadi pembicaraan yang istimewa saat ini, paska di temukannya pasien positif meninggal di kota Surakarta yang akhirnya dikeluarkannya kebijakan-kebijakan di semua Kabupaten sekitar. Kabupaten Klaten merupakan wilayah dampingan SPEK-HAM yang mengeluarkan kebijakan yang sangat cepat mengikuti kebijakan yang dibuat kota Surakarta, diantaranya meliburkan sekolah dari tingkat PAUD, TK, SMP dan SMA serta menunda semua kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan masa, baik kegiatan yang dilakukan bupati maupun kegiatan-kegiatan organisasi tingkat desa. Kebijakan pemerintah tentunya juga berimbas terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan SPEK-HAM bersama komunitas di Kabupaten Klaten, di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah dalam program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) bersama dengan IPAS Indonesia.

SPEK-HAM mulai menggunakan alternatif beberapa media online untuk terus melakukan edukasi seputar kesehatan reproduksi pada kelompok dampingan program PEKERTi di Klaten, ditengah mewabahnya COVID-19 dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Klaten yang membatasi/menunda kegiatan yang melibatkan massa. Atas inisiasi teman-teman CO , dorongan dan keinginan komunitas untuk bertemu, maka kami mewadahi keinginan tersebut dengan mebuat ruang-ruang diskusi melalui media online di WA group, dimana didalam diskusi tersebut terdapat moderator sebagai pengatur jalannya diskusi dan juga ada Narasumber, yang melibatkan SPEK-HAM maupun dari OPD terkait. Kecamatan Klaten Tengah mengawali kegiatan diskusi online dengan tema “ Kesehatan Reproduksi dan Pemihakan Desa/kelurahan “ dengan narasumber Mbak. Rahayu Purwaningsih dari SPEK-HAM dan Moderator mbak.Liza, diksusi online ini diikuti oleh 25 kader kesehatan perempuan dewasa Kecamata Klaten Tengah. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dalam diskusi pada Jumat Malam, 20 Maret 2020, 19.00 s/d 20.00 : Kelurahan / desa bisa didorong untuk melakukan pemihakan untuk posyandu remaja melalui program dan dana desa/kelurahan, Posyandu remaja bisa menjadi sarana untuk melakukan edukasi bagi remaja dan kita sebagai pendamping harus kreatif dengan penggunaan metode pembelajaran, banyaknya AKI di kelompok ibu remaja karena keguguran, anemia dan kekurangan gizi, dikarenakan minimnya edukasi, angka kehamilan remaja yang tinggi menjadi keprihatinan bersama.

Diskusi oline yang ke dua dilakukan di Kecamatan Bayat bersama dengan kelompok remaja perempuan dengan pokok pembahasan tentang “ Kekerasan Dalam Pacaran “, Moderator kegiatan ini adalah Ayun dan Elizabet Yulianti sebagai narasumber . Banyak sekali muncul cerita dari diskusi ini diantaranya bentuk kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Selama hampir satu jam berdiskusi, group remaja perempuan bayat sudah memahami seluk beluk kesehatan reproduksi terkait dengan hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memberi dampak positif untuk kedua belah pihak, tidak boleh ada kekerasan, ancaman, ataupun bentuk apa pun yg bersifat menyakiti. Kekerasan dalam Pacaran ada 3 : kekerasan fisik : memukul, menampar, menendang. kekerasan verbal/ berupa perkataan/ yang diucapkan:berkata kasar, membentak, ancaman dan bullying. Kekerasan psikis: dibohongi, dipaksa, diancam, ditakut-takuti, di posesif in. Kegiatan ini merupakan rangkaian awal paska Surat Edaran Bupati Klaten tentang pencegahan COVID-19 di keluarkan. Danang Wijayanto – Manager Divisi Kesmas

SPEK-HAM Libatkan Remaja Dukung Program PEKERTi

Narasumber memberikan penjelasan tentang data kasus kehamilan remaja di Kabupaten Klaten.

SPEK-HAM bersama dengan Karang Taruna “Tlogo Bakoh” Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten menggelar penyuluhan dengan tema “Bergandengan Tangan, Cegah Kehamilan Pada Remaja.” Kegiatan diselenggarakan pada minggu pagi 15/3 bertempat di Balai Desa Tlogorandu.

Hadir dalam kegiatan ini pengurus dan anggota Karang Taruna “Tlogo Bakoh”. Mereka nampak antusias dengan terlibat aktif dari awal hingga akhir. Henrico Fajar pendamping dari SPEK-HAM menyampaikan data kehamilan pada remaja di Kabupaten Klaten dari tahun 2016 hingga tahun 2019 mengalami fluktuatif. Disampaikan dia di tahun 2016: 295 kasus, 2017: 295, 2018: 450, dan 2019: 315.

Menanggapi data tersebut beberapa peserta merasa sedih dan terkejut merasa tidak menyangka datanya sebesar itu. Winda Rohmawati misalnya, menyampaikan kesedihan sebagai sama-sama perempuan mestinya akses informasi yang benar terkait dengan Kesehatan Reproduksi (Kespro) menjadi mutlak dibutuhkan. “Melihat data itu tentu saja saya sedih sekali, apalagi kita sesama perempuan, saya kira akses informasi Kespro yang benar mutlak dibutuhkan untuk menekan kasus kehamilan pada remaja,”ungkap Winda.

Pada bagian lain para remaja yang hadir dalam pertemuan ini sepakat dan berkomitmen untuk melakukan kampanye berupa edukasi kepada remaja-remaja di desa Tlogorandu agar mereka tidak mengalami kasus-kasus Kehamilan Tidak Diingingkan (KTD), Keguguran dan pernikahan anak. “Sebagai sesama perempuan, ketika ada teman-teman kami mengalami KTD atau keguguran tentu saja kami tidak mengucilkan, justru kami akan memberikan dukungan dan motivasi supaya kasus-kasus tersebut tidak terulang lagi,” ungkap Putri.    

Suasana penyuluhan “Bergandengan Tangan, Cegah Kehamilan Remaja” bersama Karang Taruna “Tlogo Bakoh” di Balai Desa Tlogorandu.

Data dari Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Kabupaten Klaten, menyebutkan Pernikahan Anak pada tahun 2018 mencapai 112 kasus dan di tahun 2019 mencapai 126 kasus. Sementara itu data dari Kantor Urusan Agama (KUA) Juwiring menyebutkan angka Pernikahan Anak pada tahun 2016 sebanyak 34 kasus, 2017: 33 kasus dan sampai dengan Mei 2018: 21 kasus. Sebagai informasi Yayasan IPAS bersama dengan SPEK-HAM saat ini sedang menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun kedua ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki atau, tokoh agama dan masyarakat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.

Maksimalkan Program PEKERTi, SPEK-HAM Gandeng Laki-Laki

Suasana Penyuluhan “Peran Laki-Laki dalam Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten

SPEK-HAM bersama Rukun Warga (RW) V, Dukuh Kemiri, Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten menggelar Penyuluhan dengan tema “Peran Laki-Laki dalam Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI).” Kegiatan diselenggarakan pada 14/3 bertempat di rumah Bapak Kirnadi. Warga nampak antusias mengikuti kegiatan ini, bagi mereka AKI adalah hal yang baru dari mereka.

Community Organizer SPEK-HAM, Henrico Fajar menyampaikan data terkait kasus AKI di Kabupaten Klaten. Dijelaskannya AKI di Kabupaten Klaten masih tinggi di tahun 2014: 20 kasus, 2015: 15 kasus, 2016: 18 kasus, 2017: 18 kasus, 2018: 13 kasus, dan 2019: 12 kasus.

Mendengar penjelasan tersebut beberapa warga mengaku terkejut dan tidak menyangka. Mulyadi misalnya dia merasa kaget karena menurutnya layanan kesehatan sudah ada dan terjangkau, mengapa masih saja ada kasus AKI. “Tentu saja terkejut dan kaget melihat data itu, mestinya harus dipikirkan solusi untuk pengurangan AKI”, ungkap Mulyadi.

Beberapa AKI meliputi pendarahan, eklamsi, infeksi, dan lain-lain. Selain AKI kasus keguguran dari tahun 2016 sampai dengan 2019 mengalami fluktuatif, di tahun 2016: 471 kasus, 2017: 508 kasus, 2018: 442 kasus dan 2019: 456 kasus. Oleh karena itu dijelaskan Henrico, peran suami dan orang terdekat amatlah sangat penting untuk menekan angka keguguran tersebut.  Penyebab keguguran, antara lain kelelahan, usia ibu yang lebih dari 35 tahun, hepertensi, obesitas, diabetes, punya riwayat keguguran dan sebagainya.

Selain itu perencanaan kehamilan menjadi keharusan yang tidak boleh diabaikan dalam upaya penurunan AKI dan Keguguran. Salah seorang peserta diskusi Roudal menyatakan bahwa suami bisa mendukung perencanaan kehamilan diantaranya dengan mengikuti program Keluarga Berencana (KB). “Suami bisa terlibat dalam perencanaan kehamilan dengan mengikuti program KB, selain itu kasih sayang yang tanpa batas untuk istri juga tidak boleh diabaikan”, ungkap Roudal.

Sebagai informasi Yayasan IPAS bersama dengan SPEK-HAM saat ini sedang menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun kedua ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki atau, tokoh agama dan masyarakat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM