Search for:

BELAJAR PENGELOLAAN BANK SAMPAH DI GAJAH PUTIH

Perwakilan dari Kelurahan Bulu Lor, Semarang

Bank sampah Gajah Putih merasa bangga dengan adanya kunjungan 50 orang tamu  dari masyarakat Kelurahan Bulu Lor Kecamatan Semarang pada hari Minggu, tanggal, 18 Oktober 2020 yang dipimpin langsung oleh Bapak Drs. Wisnu Nugroho selaku Lurah Bulu Lor.

Tujuan kunjungan untuk menambah wawasan dan pengalaman warga Kelurahan Bulu tentang pengelolaan bank sampah.  Menurut Lurah Bulu, Bank Sampah Gajah putih menjadi percontohan Kampung Iklim. Sudah dikenal menjadi lokasi kunjungan tamu dari luar daerah  maupun untuk pratek belajar dari mahasiswa yang menyelesaikan studinya.

“Di Bank Sampah Gajah Putih ini kami akan ikut belajar bagaimana caranya membentuk bank sampah dan bisa mengakses program pemerintah” ungkap Lurah Bulu. Di Kelurahan Bulu Semarang, juga sudah terbentuk kelompok WALINGGANA (Wanita Peduli Lingkungan dan Tanggap Bencana) yang memiliki program pelestarian lingkungan dan penanggulangan bencana.

Prestasi Bank Sampah Gajah Putih antara lain juara tiga Lomba Kali Bersih tingkat kota, juara PHBS tingkat kota dan Juara Lomba Hatinya PKK tingkat Propinsi Jawa Tengah.  Pengelolaan Bank Sampah yang dilakukan secara kontinyu seperti jadwal rutin penimbangan sampah yang diadakan setiap minggu kedua dan minggu keempat menjadi nilai positif yang bisa dipelajari oleh peserta kunjungan. Selain juga kegiatan pengelolaan 3 R dari ibu- ibu anggota bank sampah menjadikan Bank Sampah Gajah Putih layak disebut Bank Sampah terpadu.  (Soepadmin)

PAUD BERPERSPEKTIF LINGKUNGAN : Cerita Bank Sampah Pos PAUD Kepodang Kelurahan Tipes

Sosialisasi Bank Sampah di Kel. Tipes

Salah satu Pembina dari Pos PAUD Kepodang bernama Ibu Bety mempunyai ide untuk mengelola lingkungan yang bersih dan sehat, setelah mengetahui kegiatan sosialisasi Bank Sampah di pertemuan PKK RW 05 Kelurahan Tipes Kota Surakarta yang dilakukan oleh SPEK-HAM. Atas inisasi Ibu Bety didampingi oleh SPEK-HAM terbentuk Bank Sampah di lingkungan Pos PAUD Kepodang. Tujuan dibentuk bank sampah untuk membangun kepedulian siswa dan orang tua siswa terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dalam kegiatannya murid PAUD yang masih balita  ikut belajar memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya.

Kegiatan sosialisasi tentang bank sampah terus menerus dilakukan. Sebagai narasumber Soepadmin pegiat Bank Sampah dari SPEK-HAM. Sosialisasi di sekolahan dihadiri semua wali murid Pos PAUD Kepodang. Hasil pertemuan tersebut  seluruh peserta sepakat untuk membentuk Bank Sampah yang anggotanya dari wali murid. Akhir tahun 2019  Bank Sampah tersebut sudah  mendapatkan  SK dari Kelurahan. Bank sampah sudah diakui keberadaannya oleh pemerintah kelurahan.

Kegiatan dari Bank Sampah PAUD Kepodang ini adalah penimbangan sampah setiap hari Jum’at dan membuat kerajinan daur ulang dari sampah anorganik untuk Alat Permainan Edukasi. Dengan jumlah anggota 13 orang, sudah mampu menghasilkan tabungan sampah sebanyak Rp 325.000.  Selain ekonomi, hal positif yang sudah terbangun dari pembentukan bank sampah Kepodang adalah menanamkan nilai melestarikan lingkungan melalui pemilahan sampah pada anak-anak usia balita. Nilai ini jauh lebih besar maknanya dibanding nominal rupiah untuk membentuk karakter cinta lingkungan pada usia dini. SoepadminCO Divisi SL

BERBAGI BERKAH DARI BANK SAMPAH “Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019”

Salah satu Bank Sampah yang didampingi SPEK-HAM yaitu Bank Sampah Mayang RT 03 RW 06 Kelurahan Kestalan Surakarta melakukan aksi sosial tepat pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019 yang lalu. Murtiyanti, Ketua Bank Sampah Mayang menyampaikan bahwa aksi sosial tahun ini di prioritaskan bagi perempuan lansia dan perempuan kepala keluarga yang ada disekitar RT 03 RW 06 Kestalan.

Sumbangan untuk perempuan lansia

“Aksi kami tahun ini memberi sumbangan berupa uang tunai pada perempuan lansia dan kepala keluarga yang membutuhkan. Sumbangan tersebut berasal dari hasil penjualan sampah yang kami kumpulkan selama 1 tahun”, kata Murtiyanti.

Bentuk kegiatan sosial inilah yang menjadi perhatihan Lurah Kestalan Bapak Suyono saat menghadiri pertemuan Kelompok Perempuan Mayang beberapa waktu yang lalu. Hasil penjualan sampah tidak sepenuhnya dibagikan kepada anggota, bahwa sudah menjadi kesepakatan bersama jika sebagian hasil digunakan untuk sosial. “Kegiatan sosial ini yang menjadi penyemangat anggota Bank Sampah untuk mengumpulkan sampah setiap bulan. Dari sampah yang dipandang menjijikkan mereka ingin berbagi berkah”, ungkap Soepadmin atau yang akrab dipanggil Pakdhe selaku pendamping dari SPEK-HAM.

Kegiatan Sosial

“Setelah mengetahui situasi keadaan rumah ibu-ibu Kepala Keluarga yang dikunjungi sangat memprihatinkan, semoga ada perhatian dari Pemerintah untuk memberdayakan mereka”, harap Murtiyanti kepada Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Semoga aksi Bank Sampah Mayang Kestalan mampu menginspirasi Bank Sampah lain, bawa dari sampah bisa menjadi berkah. (Padmin/Nila)

Menggerakkan Perempuan untuk Memilah Sampah Rumah Tangga

Pertemuan diisi dengan pemutaran film

Sabtu 20 Juli 2019, SPEK-HAM bekerjasama dengan LPMK Kelurahan Tipes Surakarta menyelenggarakan sosialiasi pembentukan bank sampah di tingkat PKK RT. Kegiatan dilaksanakan di pertemuan PKK RT 02 dan RT 03 RW 05, dihadiri oleh kurang lebih 25 orang peserta.

Selain dihadiri oleh SPEK-HAM, kegiatan tersebut juga dikunjungi oleh LPMK Kelurahan Tipes, Beti Lestari S.Pd dan  Anis Purwanti. Keduanya selain anggota LPMK juga sebagai guru Pos PAUD Podang Tipes. Beti Lestari menyampaikan bahwa ada 5 bank sampah yang sudah terbentuk dan memiliki SK, bahkan sudah dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) namun hanya dua yang pernah berjalan. Namun tidak ada perkembangan, saat ini mati suri, tidak ada aktivitas. 

Sambil memutarkan film pemilahan sampah, Soepadmin dari SPEK-HAM menjelaskan tentang pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga. Mengingat kondisi Putri Cempo yang semakin banyak gunungan sampah, sehingga kesadaran untuk mengurangi sampah harus dimulai dari rumah tangga. Di setiap rumah bisa menyediakan kantong kresek bekas untuk memilah kertas, botol plastik, dan plastik lainnya.

Nila Puspaningrum  selaku manajer  Divisi Penghidupan Berkelanjutan SPEK-HAM menyampaikan tentang kemanfaatan bank sampah yang sudah dirasakan oleh kelompok di wilayah lain. Misalnya di Kelurahan Kemlayan ada yang hasil penjualan sampah digunakan untuk koperasi simpan pinjam, di Kelurahan Sewu ada yang ditukar dengan sembako/pulsa listrik, serta di Kestalan digunakan untuk kegiatan sosial seperti baksos di panti jompo, panti asuhan dan tetangga yang membutuhkan.  Perempuan bisa menjadi penggerak dalam kegiatan bank sampah, karena sehari-hari dekat dengan aktivitas memilah sampah rumah tangga. Hasil dari bank sampah juga sudah banyak yang dimanfaatkan oleh perempuan dalam menambah pendapatan.

Antusias peserta sosialisasi ditunjukkan dengan menyanyi Lagu Ayo Memilah Sampah bersama-sama diiringi tepuk tangan meriah. Beti dan ibu-ibu PKK akhirnya sepakat akan menggerakan penimbangan sampah kembali. Bahkan sudah di rancana program bank sampah yang terintegrasi dengan PAUD. Pada hari Jumat tanggal 25 Juli dan tanggal 28 Juli 2019 akan dilakukan pengumpulan dan penimbangan sampah an organik Pos PAUD Podang RW 3 Kelurahan Tipes. (Pakdhe/Nila)

Bank Sampah dalam Aspek Ekonomi

Penimbangan bank sampa pada kelompok bank sampah perempuan

Sampah merupakan isu yang sudah lumrah kita dengar di negeri ini. Berdasarkan laporan-laporan yang didapatkan, jumlah sampah di Indonesia kian akan meningkat. Pada tahun 2019, jumlah sampah diperkirakan akan mencapai 67 Juta Ton. Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar  64 Juta Ton. Bahkan disampaikan bahwa Indonesia merupakan negara darurat sampah.

Oleh karenannya, perlu penanganan yang dilakukan bahkan sampai level terbawah dalam masyarakat (RT/RW) agar angka tersebut dapat kian menurun. Salah satunya adalah program bank sampah yang terdapat di  komunitas perempuan di RW II Kelurahan Kemlayan, Solo seperti ditulis di https://www.spekham.org/bank-sampah-sumber-rejeki-memberdayakan-kelompok-perempuan-kepala-keluarga/

Menurut pengertiannya, bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung yang juga disebut nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam( setiap bank sampah di daerah memiliki sistemnya masing-masing sesuai dengan kesepakatan atau peraturan setempat).

Selain meningkatkan kepedulian masyarakat terkait kebersihan lingkungan akan bebas dari sampah  , manfaat lain dari adanya program bank sampah adalah meningkatnya tingkat ekonomi masyarakat sekitar. Dana yang terkumpulkan dari pemilahan lalu penjualan sampah pada umumnya digunakan sebagai dana sosial atau pra koperasi dalam masyarakat sekitar. Tetapi, juga ada bank sampah yang menetapkan bahwa dana yang didapat dikembalikan lagi kepada anggota masyarakat yang telah memberikan sampah kepada bank sampah tersebut.

penimbangan di bank sampah

Banyak variasi manfaat dari dana sosial yang telah terkumpul dari penjualan sampah, di antaranya adalah, masyarakat dapat menggunakannya sebagai penambahan modal maupun jumlah omset dalam membuka dan membangun usaha rumahannya, contoh yang sudah direalisasi adalah usaha menjahit, membuka usaha gorengan, dan rumah makan. Tentunya, walaupun keadaan ekonomi bertumbuh ke salah satu pihak masyarakat, akan berdampak baik juga ke masyarakat sekitarnya.

Selain itu, tentu saja dengan adanya bank sampah dapat memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga yaitu makanan, karena masih banyak warga miskin yang belum mencukupi kebutuhaan pangan yang dibutuhkan. Dengan banyaknya manfaat yang  diberikan oleh program ini, diharapkan daerah-daerah yang belum menerapkan program serupa dapat memulainya dengan segera ditambah lagi prosesnya pun mudah, penimbangan hanya diadakan sekitar 2 kali sebulan bahkan 1 kali sebulan. Diharapkan  dengan banyaknya daerah yang berpartisipasi dalam program ini tentunya tingkat ekonomi di Indonesia juga akan terbantu apabila dijalankan dengan masif.

Seperti dikutip bisnis.com, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bank sampah perlu dilandasi langkah antisipatif dari hulu sampai hilir, seperti meningkatkan kapasitas pengelola, melakukan kemitraan dengan instansi terkait, serta perluasan pemasaran, pembiayaan, dan pendampingan yang bertujuan untuk meningkatkan evektivitas pengelolaan dan pengembangan produk derivatifnya. Dan saat ini sebenarnya yang dibutuhkan adalah penguatan kelembagaaan bank sampah agar dapat berkembang dengan efektif dan efisien. (pandu-mgg)

https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/indonesia-hasilkan-67-juta-ton-sampah-pada-2019/1373712
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/apa-itu-bank-sampah-dan-apa-manfaatnya-61
https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/indonesia-hasilkan-67-juta-ton-sampah-pada-2019/1373712
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/apa-itu-bank-sampah-dan-apa-manfaatnya-61

Observasi Bank Sampah Gajah Putih dampingan SPEK-HAM oleh Mahasiswa Sosiologi UNS

Suasana penimbangan sampah di Bank Sampah Gajah Putih Karangasem

Enam mahasiswa Sosiologi UNS melakukan pengamatan pada bank sampah dampingan SPEK-HAM Solo yaitu Bank Sampah Gajah Putih, RT 03 RW 09 Kelurahan Karangasem. Pengamatan dilakukan semenjak Selasa, 7 Mei 2019. Pengamatan ini dilakukan untuk melaksanakan praktik tugas mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat serta untuk menyaksikan secara langsung bagaimana pemberdayaan yang dilakukan oleh SPEK-HAM dalam bidang bank sampah. Diawali dengan diskusi antara enam mahasiswa Sosiologi dengan salah satu Koordinator Lapangan Divisi Sustainable Livelihood (SL) wilayah perkotaan SPEK-HAM Solo, Soepadmin, di Kantor SPEK-HAM. 

Diskusi diawali dengan perkenalan mahasiswa sosiologi UNS serta penyampaian maksud dan tujuan dilanjutkan dengan membahas mengenai bank sampah secara keseluruhan dan upaya-upaya yang dilakukan oleh SPEK-HAM dalam memberdayakan masyarakat melalui bank sampah. Kebanyakan kelompok dampingan SPEK-HAM merupakan perempuan karena perempuan merupakan prioritas pemberdayaan sebagai upaya kesetaraan gender. Setelah berdiskusi kemudian SPEK-HAM yang diwakili Soepadmin bersama mahasiswa Sosiologi UNS mengunjungi lokasi Bank Sampah Gajah Putih yang berada pada RT 03 RW 09 Karangasem, Solo.

Pada kunjungan tersebut mahasiswa Sosiologi UNS dikenalkan mengenai bank sampah, apa saja yang dilakukan oleh kelompok, sampah apa yang dapat digunakan untuk dijual dan yang dapat dimanfaatkan, pengenalan kegiatan kelompok, hasil-hasil dari bank sampah, serta diakhiri dengan penjelasan mengenai bagaimana membuat EM4 dan pupuk organik dari sampah.  

Pengamatan mahasiswa pada penimbangan di bank sampah

Pengamatan kemudian berlanjut pada hari Minggu 12 Mei 2019 di Bank Sampah Gajah Putih Karangasem. Acara ini diikuti oleh delapan mahasiswa Sosiologi UNS, tiga  Mahasiswa Teknik UNS, serta seorang Mahasiswa Hukum UNISRI. Acara yang dilakukan pukul empat sore tersebut untuk melihat secara langsung bagaimana proses penimbangan sampah oleh Bank Sampah Gajah Putih. Semua anggota dan pengurus bank sampah dan mahasiswa hadir dan  terlibat dalam kegiatan ini. Bagi mahasiswa sosiologi acara ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan pertama sehingga mahasiwa benar-benar mengetahui bagaimana proses penimbangan bank sampah serta bagaimana SPEK-HAM Solo melakukan pendampingan kepada masyarakat RT 03 RW 09 Karangasem melalui program Bank Sampah.

Setelah semua anggota selesai melakukan penimbangan serta pencatatan, kemudian dilaksanakan diskusi singkat mengenai kegiatan yang telah dilakukan oleh seluruh mahasiswa yang difasilitasi Soepadmin dari SPEK-HAM. Semua peserta mahasiswa terlihat antusias. Dalam diskusi ini juga mengakomodir partisipasi mahasiswa berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada SPEK-HAM dan Kelompok Bank Sampah Gajah Putih. Acara ditutup dengan buka puasa bersama di rumah ketua Bank Sampah Gajah Putih,  Widodo bersama istri, Sri Sudarini. (Muh.Ta’arufHuda/Mhhs)

Manfaat Bank Sampah di Kestalan dan Kampung Sewu

Solo, SpekHAM.org – Sebagai bentuk komitmen Yayasan SPEK-HAM dalam memberdayakan kampung-kampung binaan, SPEK-HAM memilik program andalan berupa bank sampah. Program ini diprioritaskan bagi warga perempuan yang berdomisili asli di kampung-kampung binaan SPEK-HAM. Program bank sampah yang sudah berjalan tersebut di antaranya terdapat di kelompok Menur Kestalan 1, dan Kampung Sewu RW 8.

Pada Selasa (14/8) dua mahasiswa magang dari UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) bersama “Pakdhe” Soepadmin selaku Community Organizer Divisi Sustainble Livelihood SPEK-HAM mengadakan monitoring di dua tempat bank sampah tersebut. Monitoring ini selain bertujuan untuk mengontrol dan memantau  perkembangan bank sampah juga sebagai bentuk penyerapan aspirasi dari permasalahan yang terjadi di lapangan.

Di Kelompok Menur 1 Kestalan, bank sampah menjadi modal awal Kelompok Menur untuk menggagas pra-koperasi. Dari Pra-koperasi yang diawali oleh adanya bank sampah ini, Kelompok Menur 1 mulai mengadakan banyak inovasi yang salah satunya adalah dengan membuat parcel sembako setiap hari raya Idul Fitri tiba. Walaupun hanya beranggotakan 15 orang, dan yang aktif hanya 7 orang, Pra-koperasi dari bank sampah di Menur 1 tetap berjalan hingga hari ini.

Ketua kelompok Menur 1, Heny Paryani berharap dengan keberadaan bank sampah, anggotanya bisa mandiri, ada kegiatan serta tidak mudah terbelit hutang-hutang yang menyulitkan, ”Yang penting itu saya dan teman-teman, program ini setidaknya bisa membantu keuangan. Apalagi yang ikut program ini kebanyakan kan pedagan-pedagang kecil,” Ujar Heny pada Selasa (14/8)

Sedangkan di waktu yang sama, Ketua RW 8 Kampung Sewu Budi Cahyono yang juga koordinator Bank Sampah Kampung Sewu mengungkapkan banyak perbedaan yang terjadi sebelum dan setelah adanya program Bank Sampah, ”Bank sampah di sini itu baru berdiri di tahun 2016, dan sebelum itu ya ada-ada saja keluhan-keluhan ibu-ibu di sini,”.

Menurut Budi, setelah adanya bank sampah, sekarang beberapa tahun belakangan, ada mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) masuk di RW 8. Selain itu bagi perempuan-perempuan di RW 8, bank sampah dapat menjadi penghasilan tambahan dan menambah kegiatan-kegiatan produktif bagi mereka, ”Setidaknya ini bagi ibi-ibu bisa jadi tambahan buat jajan, sangu, atau bayar listrik. Jadi tidak hanya bergantung sama yang laki-laki tok,” Ucap Budi, Selasa (14/8).

 

Budi juga mengatakan sebenarnya banyak kendala yang dialami oleh warga RW 8 dalam mengelola bank sampah. Jadwal untuk mengumpulkan sebenarnya sudah tetap, sebulan sekali, di minggu ketiga. Namun sayang, tetap saja ada kendala pertemuan bagi kelompok yang diisi oleh 20 orang anggota itu. Bagi Budi, kendala itu tidak jadi masalah, yang terpenting bank sampah ini konsisten, ”Yang penting itu tetap berkesinambungan dan konsisten,” Tukasnya.

Taufik Nandito

Mahasiswa Magang UMS

MAHASISWA BELAJAR BERSAMA KELOMPOK SRIKANDI KELURAHAN GILINGAN SURAKARTA

Kesejahteraan masyarakat dapat terwujud jika masyarakat sendiri tahu kebutuhannya. Untuk itulah SPEK-HAM melakukan kerja kerja pemberdayaan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menggali kebutuhan dan potensi untuk meningkatkan kesejahteraan. Keterlibatan aktif masyarakat serta sinergi dari berbagai multistakeholder menjadi daya ungkit dalam pencapaian perubahan yang lebih baik.

Atas dasar tersebut, pada hari Rabu 4 Juli 2018, empat mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta ikut dalam pertemuan Kelompok Perempuan Srikandi RT 002 RW V Kelurahan Gilingan Kota Surakarta. Mereka ingin mengetahui kegiatan kelompok perempuan yang di gawangi Ibu Sulis yang ternyata sangat membantu dalam menunjang perekenomian keluarga. Berawal dari pemetaan persoalan dan potensi wilayah yang dilakukan oleh perempuan, masyarakat memiliki kesadaran dalam mengelola potensinya dalam berbagai bentuk kegiatan : 1. Pra koperasi perempuan, 2. bank sampah, 3. menciptakan produk olahan pangan berupa karak non borax untuk meningkatkan ekonomi perempuan.

Dengan pendampingan dari SPEK-HAM dalam menguatan kemandirian organisasi, administrasi dan pembukuan sehingga menjadikan pemberdayaan yang transparan dan berkelanjutan. Diharapkan kedatangan mahasiswa pasca sarjana jurusan sosiologi UNS bisa menjadi angin segar untuk memberikan peningkatan kapasitas bagi kelompok perempuan Srikandi Gilingan.

Soepadmin/NL