Search for:

Kunjungan TRUK F ke Komunitas Dampingan SPEK-HAM dan FGD

Suasana FGD antara TRUK F dan SPEK-HAM di kantor Jl Srikaya 20

Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) Flores (F) yang lahirnya bersamaan dengan SPEK-HAM mengadakan kunjungan kepada komunitas-komunitas dampingan SPEK-HAM, Kamis-Jumat (27-28/6). Selain berkunjung ke komunitas seperti di Desa Cluntang dan Musuk Kabupaten Boyolali sebagai wahana belajar, TRUK F bersama SPEK-HAM juga menyelenggarakan diskusi dengan materi berbagi pengalaman praktik baik yang dilakukan SPEK-HAM selama ini, baik tentang pendampingan-pendampingan kasus kekerasan namun juga advokasi kebijakan berperspektif perempuan baik di tingkat desa maupun kota/kabupaten namun juga pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban.

Heny dari TRUK F menyatakan bahwa selama ini lembaganya baru berfokus hanya pada penanganan kasus dan advokasi. Ke depan Heny ingin merambah kepada pemberdayaan ekonomi perempuan karena perempuan di wilayahnya masih mengalami ketertinggalan. TRUK F belum secara khusus memiliki Petugas Lapangan (PL) dan kepada SPEK-HAM mengemukakan pertanyaan-pertanyaan terkait strategi apakah yang bisa dibangun di Sikka, karena lembaganya termasuk lembaga rujukan bahkan kantor P2TP2A setempat jika menerima kasus kekerasan, kadang merujuk kepada lembaganya.

Nila Puspaningrum, manajer program Suistanable Lifelihood SPEK-HAM menegaskan bahwa untuk pendampingan di kelompok Sekar Putri Cluntang bukan project hingga tidak bergantung pada pihak donor tetapi program yang bermitra dengan BAZNAS Boyolali. Dengan latar belakang bahwa para perempuan dampingan mengalami kekurangan penghasilan pascaerupsi Gunung Merapi, lalu mereka mendeklarasikan dengan membuat kelompok yang bertahan dari tahun 2013 sampai sekarang. Sedangkan di Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) membuat kelompok mulai dari tingkat kelurahan, RW dan RT dan melibatkan LPMK. KPJ juga berperan dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan setempat. “Kami juga ada diskusi korban kekerasan, yang didominasi oleh persoalan-persoalan perempuan serta pendampingan ekonomi dan meberdayaan yang tidak terlepas dari pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Kami bersinergi memetakan potensi, dan kebutuhan,”jelas Fitri Haryani, Manajer PPKBM SPEK-HAM. (red)    

Evaluasi Program ZCD BAZNAS Boyolali dan SPEK-HAM Harapkan Petani Sukses Dunia Akherat

evaluasi dan refleksi program BAZNAS Boyolali dan SPEK-HAM pada kelompok petani brambang dan mawar di Desa Cluntang

Refleksi dan evaluasi untuk program ZCD BAZNAS Kabupaten Boyolali kerja sama dengan SPEK-HAM yang secara efektif telah berjalan kurang lebih selama 6 bulan diselenggarakan di Desa Cluntang, Jumat (17/5). Acara tak hanya bertajuk evaluasi saja namun juga serah terima bantuan alat produksi dari BAZNAS kepada petani. Beberapa hal positif diterima oleh kelompok petani bawang merah dari semula masih banyak anggota yang belum mau bertanam bawang merah tetapi setelah ada program dari BAZNAS semakin banyak petani yang mau menanam bawang merah dan semakin semangat. Program dari BAZNAS dinilai mampu meningkatkan kegotong-royongan anggota kelompok dalam berbagai hal, tidak hanya dalam pertanian termasuk keagamaan. Selain itu saat ini sudah ada struktur kepengurusan dan bahkan sudah melakukan advokasi anggaran ke Dana Desa.

Sedangkan dari kelompok petani bunga mawar yang dipimpin oleh Sri Mulyani,pihaknya mengakui  mendapat pengalaman dari beberapa kali pelatihan untuk pengolahan bunga mawar. “Yang dulunya yang kita tahu bunga mawar hanya bisa digunakan untuk bunga tabur atau dijual ke pengepul ternyata sekarang kami tahu dan bisa mengolah mawar menjadi aneka produk makanan,” terang  Sri Mulyani. Kelompok mawar setiap minggu sudah melakukan produksi secara bergiliran dan dari 20 anggota dibagi menjadi 5 kelompok/ 4 orang setiap minggu. Kelompok ini juga telah mempunyai alat-alat produksi meskipun belum lengkap. Dalam satu bulan mampu memproduksi 50 pak teh, 5 botol sirup dan keripik 10 pak. Keterlibatan stakeholder hadir dari dinas berupa pemberian pelatihan packaging dan pemasaran secara online serta pelatihan barcode dari dinas peternakan.

para petani brambang sedang memaparkan apa yang selama ini mereka dapatkan

Menurut penuturan Jamal Yazid, Ketua BAZNAS Boyolali, BAZNAS dan SPEK-HAM membangun komitmen bersama, termasuk terlihat dalam kegiatan ini maka ketertiban wajib dilakukan. Program ini didanai dari dana zakat bukan dari dana APBD. Zakat adalah kewajiban agama maka kegiatan yang dilakukan ini juga wajib/tidak dipisahkan dari kegiatan keagamaan.“Kenapa kami menyetujui bantuan brambang dan mawar, tujuan kami hari ini bapak-ibu menjadi penerima zakat dengan harapan kami tahun depan bapk-ibu akan menjadi muzaki atau orang yang wajib membayar zakat. BAZNAS bersama SPEK-HAM akan mengukur pelaksanaan program ini, apabila pelatihan-pelatihan yang diberikan selama ini bisa memberikan hasil yang baik dengan indikator selain memperkuat kelompok juga mampu memperbaiki ekonomi keluarga,”terang Jamal. Ia mengimbuhkan bahwa jika dalam kelompok ini juga ada pra koperasi, maka kegiatan ini juga harus dilakukan secara syariah. (red)

Pelatihan Hard Candy Mawar FATIPA UNISRI

Suasana pelatihan pembuatan hard candy (permen) mawar

Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) bekerja sama dengan Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FATIPA) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) mengadakan pelatihan pembuatan olahan makanan dari bunga mawar. 

Dua puluhan perempuan anggota Kelompok Putri Mawar mengikuti pelatihan yang bertempat di rumah ketua RT Gondang, Desa Cluntang Boyolali, Senin (29/4/2019). 

“Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan ketrampilan dan menambah varian produk makanan minuman berbahan baku bunga mawar”, kata Nila, Manager Divisi Lingkungan dan  Ekonomi  SPEK-HAM. Banyaknya bunga mawar di Desa Cluntang menjadi potensi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat khususnya perempuan. 

Dalam pelatihan yang dipandu oleh Ibu Wuri Dosen Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FATIPA) UNISRI, peserta diajari membuat hard candy (permen) mawar dengan bahan yang sederhana dan teknologi sederhana tepat guna. 

hasil pelatihan pembuatan permen mawar

“Harapannya paska pelatihan ini kelompok dapat memproduksi sendiri untuk menyediakan kebutuhan menjelang lebaran. Jadi Desa Cluntang punya produk khas omahan mawar yang variatif,” imbuh Nila. (nila)

Di Balik Tungku-Tungku Tua

“Peradaban Adat  dan Perempuan-Perempuan Desa  dalam Proses  Pembangunan Perdesaan”

Ketika tungku-tungku api menyala di dapur para perempuan

Kepulan asap dan aroma masakan kurasakan malam itu. Di tengah dinginnya udara pegunungan , aku melongkok di antara sumber aroma yang pasti akan dirindukan orang-orang saat rindu masa lalu akan kampung halaman. Suara dan tawa muncul dari pojok dapur yang berjelaga hitam. Tak ada kompor gas atau alat masak yang mewah, tapi alat-alat yang berjelaga menghitam. Dan aneka hasil bumi yang tergantung di antara papan-papan (pogo-red).

Aku semakin tertarik dengan aroma kepulan saat salah satu tungku saat dibuka dandangnya. Aroma singkong terbungkus daun pisang serta gula merah yang membuatku sesaat diam dan menikmati setiap hirupan napas dalam beberapa detik ïni lemet namanya,Mas, atau mungkin disebut utri,“ kata Bu Jemini sambil mengambilkanku satu lemet dari dalam dandang tuanya. Aku nikmati sambil meniup makanan yang masih panas dan menikmati perlahan

Di tahun 2019 ini, masih ada perempuan-perempuan muda yang tergabung dalam Kelompok Berkah  Mandiri berkisar umur 25 sampai 49 tahun. Rata-rata mereka menikah muda antara 14 sampai 16 tahun.  Saat ini anak-anak mereka berumur 17 sampai 21 tahun dan sudah ada yang menikah dan memberikan cucu. Pernah suatu saat aku ngobrol dengan anak Bu Jemini yang bernama Dwi Muryanti. Aku  bertanya apakah dia mau menikah muda. Dia hanya tersenyum, dan menggelengkan kepala tanda ragu dengan jawabannya sendiri. Mungkin dalam bayangannya, kok remaja tahun 2019 menikah muda? Tapi mendengar obrolan para ibu di dapur itu lantas terlecut pikiran berat menjalani hidup itu. Belum lagi persoalan anak, gotong royong, kegiatan sosial dan juga adat yang banyak mengeluarkan biaya yang besar.

Bu Jemini pernah bercerita harus meminjam uang di bank, bahkan pernah menjual hewan ternak sapinya untuk sekali kegiatan adat (sadranan). Padahal di Desa Cluntang ini setahun ada tiga kegiatan adat yang besar. Menurut Ibu Sri Lanjar (27), satu kali perayaan adat bisa menghabiskan tiga sampai lima juta. “Itu yang biasa dengan satu stan meja makan dan satu stan meja snack (biasanya satu stan meja berkisar 15 sampai 25 toples). Bisa di bayangkan,”ungkap Sri Lanjar.

Dari kedua perempuan tersebut, Jemini dan Sri Lanjar berkaitan dengan perayaan adat ternyata hingga hari ini  belum banyak berubah. Sama saja. Terbersit pertanyaan nakal saya ke Ibu Sri lanjar “boros ya, Mbak?“ Lagi-lagi ibu dengan dua anak ini hanya tersenyum, sangat multitafsir menurutku.

Menarik lagi penuturan Ibu Suminah,  ibu dari Ibu Jemini yang umurnya sekarang 76 tahun Sekarang sudah enak, Mas. Zaman saya perawan dulu kalau mau sadranan dan lebaran makanan buat sendiri, atau tukeran dengan tetangga seperti kue satu, brondong, bolu mprit dll. Jadi kita gotong royong membuat makanan bersama-sama dan di bagi-bagi.  Yang miskin ya bantu buat. Modal tenaga pulang minimal tiga toples terisi. Lha sekarang tinggal ke pasar, yang punya uang pulang bisa bawa puluhan makanan. Berarti adat ini dari 30 tahun lalu hampir sama. Hanya kemudahan-kemudahan yang berubah saat ini karena adanya fasilitas, tapi prinsipnya-prinsipnya sama. 

Kearifan lokal seperti kentalnya adat-istiadat ini, mereka yakini perlahan akan luntur atau kadarnya berkurang. Tanpa harus frontal diterjang, kiranya nanti terjadi pertentangan antara yang muda dan yang tua. Mereka membiarkan saja biar alam akan perlahan mengubah tanpa harus ada yang dikecewakan.  “Yang muda minimal melihat dan merasakan perubahan Desa Cluntang, bahwa mereka paham dengan pembangunan yang mulai terarah tiga tahun ini.  Mau tidak mau keterlibatan perempuan, baik dalam proses secara  langsung maupun tidak langsung. Peran perempuan dalam berbagai organisasi yang di bentuk desa seperti BUMDES Perempuan juga dilibatkan. Tetapi di sisi lain masih ada adat kebiasaan yang dirasakan oleh perempuan khususnya muda, cukup terbebani. Khususnya bila ada perempuan yang menikah dengan laki-laki dari Desa Cluntang. Proses adaptasi panjang dengan berbagai benturan prinsip yang terkadang bisa menjadikan perempuan rentan dengan konflik dengan pasanganya, meski belum ada penelitian tentang itu.

Semua terasa ringan, saat perempuan punya tempat untuk berdiskusi, membaca situasi tentang perubahan. Ketika tungku-tungku dapur sederhana masih menyala dengan kayu-kayu bakarnya, dengan jelaga yang menghitam, menjadi surga untuk ngobrol melepas beban hidup sambil icip- icip aneka makanan sehingga terasa ringan beban apa pun.  Saat berada di dapur tradisional yang selalu menjadi tempat favorit perempuan, masih mencoba menjadi perempuan yang beradab dengan alam dan adat istiadat. (noko alee)

Pertanian Bawang Merah Organik yang Sudah Menghasilkan

Petani bawang merah organik memanen

‘Awalnya ragu.”Itulah sepenggal kalimat yang menggambarkan keraguan petani di Dukuh Tutup Desa Cluntang Boyolali beralih ke pertanian organik. Kebiasaan menggunakan pupuk kimia yang mudah ditemukan di pasaran, dan hasilnya banyak menjadi salah satu alasan kuat para petani.

Tiga bulan yang lalu bekerja sama dengan BAZNAS dan Dinas Pertanian Boyolali SPEK-HAM memulai mengajarkan pertanian organik pada 21 petani yang terwadahi dalam kelompok Berkah Tani. Bawang Merah organik menjadi salah satu komoditas unggulan.

Hari ini, Jumat (12/4) tiba saatnya petani panen. Ini adalah hasil ujicoba budidaya bawang merah organik di demplot. Mereka mengatakan hasilnya tidak mengecewakan dan nyaris sama dengan menggunakan pupuk kimia. “Pakai pupuk organik lebih tahan terhadap hujan dan tidak busuk. Dan yang pasti biayanya murah”, kata Lanjar.

Pertanian terpadu ramah lingkungan saat ini sedang digencarkan oleh SPEK-HAM di wilayah dampingan. Kondisi tanah yang semakin rusak dengan bahan-bahan kimia akan berdampak pada ketersediaan cadangan pangan masa depan. Belum lagi dampak kesehatan akibat paparan zat-zat kimia. Pertanian organik jauh lebih sehat dan murah karena semua bahan yang digunakan ada di sekitar. (nila)

Bunga Mawar Di Atas Napas Perempuan Pedesaan

Perempuan dan kebun mawarnya

Mawar bukan lagi tersumpingkan di telinga sebagai penghias kecantikan perempuan pedesaan, tapi mawar menjadi penopang napas penghidupan perempuan  pedesaan “

Kelopak mawar merah merekah di atara lembah pegunungan hijau di kaki Merapi. 

Putiknya mewangi seiring  langkah kaki  dan petikan jemari yang menyuntingnya. 

Kuntum mawar, menumpuk di antara keranjang-keranjang kecil, digendong dengan kain-kain lurik oleh perempuan-perempuan lereng Merapi, mengulas senyum menjelang fajar tiba.

Pagi lembayung  menyelimuti hamparan hijau di lereng Merapi. Perempuan-perempuan dengan tawa–tawa kecil, suara riuh dan deru puluhan kaki menyemangati di pagi hari.  Hamparan kebun bunga mawar yang merah merekah berkilau di antara embun pagi. Desa Cluntang dengan bunga mawarnya bercerita,

Desa Cluntang dianugerahi alam pedesaaan dengan pegunungan yang indah. Hamparan kebun sayuran yang menghijau serta lading-ladang  bunga mawar memerah memanjakan mata dengan keindahan kas pedesaan. Untuk kesekian kalinya saya menulis tentang bunga mawar, dan untuk kesekian kalinya ketika menulis tentang bunga mawar, aromanya seakan dekat ada di ujung hidung. Wangi kurasakan dari tiap kuntum mawar merah dengan spesies terbaiknya. 

Berbicara bunga mawar tidak hanya sekedar bicara tentang sesaji.  Tentang berendam air mawar tidak hanya bicara ritual-ritual adat di mana kelompak taburan bunga mawar masih menjadi bagian penting dari sebuah ritual adat yang terselipkan di antara sanggul perempuan pedesaan. Dua tahun perempuan –perempuan di Desa Cluntang menjadikan mawar menjadi komuditi rumah tangga yang diolah menjadi berbagai produk dengan unggulan  teh mawar dan sirup mawar. Proses panjang yang dilalui oleh perempuan-perempuan  dari penolakan untuk mengkonsumi produknya, cemoohan para tatangga bahkan sampai tokoh-tokoh yang memandang bahwa bunga mawar yang hanya untuk dipergunakan sebagai ritual adat. Para petani mawar menjual dengan harga 5000 sampai 10.000 per kilo, kecuali di bulan-bulan bagus, mawar bisa menjadi sangat mahal sampai ratusan ribu perkilonya. 

Selain kendala dalam perawatan mawar yang sudah tumbuh, yang cukup rumit baik kondisi tanah maupun varian mawar yang di tanam. Kadang keterampilan para petani untuk budidaya pengembangan  tanaman bunga mawar dengan kualitas terbaik. Beruntung ada kawan-kawan baru Universitas Boyolali (UBY) yang bersedia melakukan pendampingan pembelajaran untuk budidaya tanaman bunga mawar/Javanis roses, setiap batang pohon bunga mawar yang ditanam serasa ada ribuan harapan kehidupan di mata petani, semangat dan juga komitmen.

Di masa milenial ini bunga-bunga mawar bisa diproduski menjaid teh, sirup, kripik, pilus, extra minuman segar dll. Tentunya ini menjadi harapan untuk peningkatan ekonomi rumah tangga mereka. Karena ketika berbicara tentang  bunga mawar pasti bicara perempuan dalam menanam, merawat dan memetik tiap kuntumnya di pagi hari untuk di tukarkan degan beras, lauk dan kebutuhan  lainnya. Setiap datang ke kebun-kebun mawar para perempuan merasa datang mengunjungi keluarganya yang tinggal di ladang. Mereka harus  dirawat dengan memupuk, menyiangi jika ada rumput kotor dan memangkas untuk meremajakan batang pohonnya,“ karena mereka perlu dirawat agar tetap tumbuh, berbunga melimpah bak di musim semi “kata Tini salah satu anggota kelompok Putri mawar

Bulan April ini, Desa Cluntang akan menjadi lautan bunga mawar, jutaan pohon mawar yang sudah dipangkas bak bermekaran dengan jutaan kuntum bunga segar. Harga yang tinggi akan menjadi pelepas dahaga petani mawar setelah harga turun dan jatuh. Dan mereka berharap di lebaran/Idul Fitri nanti akan ada puluhan toples yang terisi aneka makanan dengan hasil penjualan mawar ini, seperti tahun-tahun sebelumnya. Mawar akan terus menjadi salah satu penghidupan mereka. Dengan varian olahan mawar yang mereka miliki, bisa menjadi salah satu solusi penyelesaian saat bunga mawar harganya murah atau bahkan tidak ada nilai ekonominya.

“Saya perempuan single parent. Saat pulang dan diceraikan suami saya,  saya tidak punya keterampilan apapun. Hanya ladang bunga mawar seluas 500 meter dengan ratusan pohon mawar yang akhirnya bisa menjadi penghsilan harian saya dan dua anak  saya. Saya tertolong dengan kebun mawar saya “cerita Sutarti, petani mawar Cluntang.

Kini perempuan bersumpingkan bunga mawar tak hanya berjalan dan tertawa, tetapi kini mereka berlarian tertawa dengan semangat  dan kidung senjanya meraup keping rupiah dari tiap kuntumnya.  Mawar akan terus tumbuh mewangi dan menebarkan aroma kehidupannya. Berlari berkejaran tenggelam di balik temaran di kaki bukit. Sunyi. (noko Alee) 

Lagi, BAZNAS dan SPEK-HAM Fasilitasi Pelatihan Kelompok Putri Mawar

Suasana pelatihan pembuatan ekstrak mawar

Tini (29) mengaku senang mendapat ilmu dan ketrampilan mengolah bunga mawar menjadi minuman instan ekstrak. Mawar menjadi potensi yang melimpah di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Pada bulan-bulan tertentu seperti Ruwah, Syawal, dan menjelang puasa harganya bisa berlipat-lipat mencapai ratusan ribu per keranjang. Namun pada hari-hari biasa harganya anjlok, 5000 per keranjang. Padahal mawar adalah sumber penghasilan utama masyarakat di Desa Cluntang.

Sudah sejak 2016 perempuan yang tergabung di Kelompok Putri Mawar mengolah mawar menjadi aneka makanan dan minuman. Keripik, teh mawar, pilus mawar dan sirup adalah beberapa produk yang sudah dihasilkan.  

Pelatihan difasilitasi oleh SPEK-HAM dan BAZNAS

BAZNAS bermitra dengan SPEK HAM mengajak perempuan dari keluarga miskin untuk menambah varian olahan mawar yang lebih menjual. Sehingga produksi olahan mawar tidak menjadi sambilan tetapi menjadi sumber pendapatan bagi perempuan. Melalui pelatihan olahan mawar yang dilaksanakan tanggal 25-26 Maret 2019, 25 perempuan miskin di Dukuh Gondang Desa Cluntang belajar kepada Ibu Siti Ngaisah pelaku UKM Dapur Aura Samiran Boyolali membuat minuman instan ekstrak mawar siap saji. Produk baru ini merupakan inovasi baru supaya konsumen mudah mengkonsumsi karena praktis dibawa kemana-mana. 

Meningkatan skill perempuan dalam mengolah potensi lokal merupakan program yg diharapkan mampu meningkatkan akses perempuan dalam membangun kelembagaam ekonomi desa. Meningkatnya ekonomi perempuan miskin pedesaan berkontribusi besar terhadap penurunan angka kesenjangan ekonomi, ketidakadilan serta kekerasan terhadap perempuan. Di satu sisi menguatnya ekonomi perempuan akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan keluarga dan desa.(nila) 

Pelatihan Manajemen Kelompok Di Desa Cluntang Musuk Boyolali

Pelatihan manajemen kelompok di Desa Cluntang

SPEK-HAM Surakarta bekerja sama dengan BAZNAS Boyolali melaksanakan pelatihan manajemen kelompok di Desa Cluntang, Musuk, Boyolali pada tanggal 13-14 Februari 2019 sebagai bagian dari program Zakat Community Development (ZCD). Kegiatan ini diikuti oleh kelompok-kelompok dampingan SPEK-HAM Surakarta yang ada di desa Cluntang baik kelompok tani, kelompok perempuan, maupun kelompok pengelola wisata dan lainnya. Diikuti oleh delapan kelompok antara lain Berkah Tani, Putri Mawar, Berkah Mandiri, Sibat, Tikungan Cinta Manajamen, Arta Lentera, Rakom Merapi FM, dan Karya Tani.

Pelatihan ini bertujuan membantu kelompok dampingan SPEK-HAM meningkatkan kemampuan tata kelola kelompok untuk usaha produktif, sehingga ke depan diharapkan kelompok peserta pelatihan usahanya dapat berkembang baik dalam pengelolaan. SPEK-HAM bekerja sama dengan Dinas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Boyolali dan Fakultas Ekonomi Universitas Boyolali (UBY) Sebagai narasumber. Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini antara lain manajamen keuangan, manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran, permodalan, pencatatan administrasi keuangan dan lainnya.

Pelatihan diawali dengan sesi identifikasi kelompok, kemudian masalah permodalan dan tata kelola kelompok oleh Dinas UMKM Boyolali, serta manajemen secara ekonomi oleh Fakultas Ekonomi Universitas Boyolali. Pelatihan diakhiri dengan sesi pencatatan administrasi keuangan sederhana oleh SPEK-HAM. Peserta pelatihan manajemen kelompok sangat antusias dalam mengikuti pelatihan ini, hal ini ditunjukkan dalam keaktifan peserta untuk bertanya mengenai masalah yang dihadapi. Menurut salah satu peserta Anwar Sholikin, materi yang disampaikan narasumber sangat sesuai dengan kondisi yang mereka alami. Banyak masukan berupa pengetahuan yang sangat membantu dalam pengelolaan kelompok mereka. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan tidak ada kendala yang berarti terbukti dari jalannya acara pada hari pertama hingga hari kedua sesuai dengan kerangka acuan yang direncanakan. “Pelatihan ini untuk meningkatkan tata kelola sehingga mampu meningkatkan pendapatan,” pungkas Anwar Sholikin. (Muh.Ta’aruf Huda-mgg)