Search for:

Melongok (Lagi) Persoalan dan Pengelolaan Sampah di Kelurahan Joyosuran

Sampah masih menjadi persoalan bersama di Kota Surakarta. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota melalui DKP dan BLH Kota Surakarta tiga tahun terakhir. Berawal dari persoalan penanganan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo yang terancam tidak mampu menampung dan mengelolanya. Berbagai strategi dilakukan, baik dalam bentuk aksi, kebijakan, maupun prasyarat ketika kelurahan akan mengikuti lomba desa yaitu adanya bank sampah.

SPEK-HAM sebagai lembaga swadaya masyarakat yang salah satu programnya adalah di bidang penghidupan berkelanjutan mencoba menerapkan program–program yang mendorong pengelolaan potensi wilayah yang mendukung keberlangsungan hidup masyarakat secara layak. Salah satunya adalah pengelolaan lingkungan yang berperspektif kebencanaan. Mulai diiinisiasi adanya penyadaran dan pendidikan kritis kepada masyarakat dampingan di beberapa wilayah seperti kelurahan Sewu, Kemlayan, Gilingan, Kestalan, dan Joyosuran dengan kegiatan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah dan mengisisiasi adanya kelompok yang menjadikan sampah sebagai salah satu sumber pendanaan di kegiatan keuangan yang berbasis masyarakat (pra-koperasi).

Sejak tahun 2013 sampai sekarang, berbagai upaya dilakukan bersama komunitas, khususnya perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) melalui kampanye dan gerakan seperti 1000 Tangan Perempuan Menyapu” tahun 2013, Perempuan Merawat Kali” tahun 2014, dan tahun 2015 KPJ menyelenggarakan kegiatan bertema “4 Tahun, Untaian Tanda Cinta Perempuan. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kampanye gerakan makanan berbahan baku lokal, sarasehan membangun dukungan stakeholder untuk pelibatan perempuan dalam pembangunan yang didukung kebijakan pemerintah kelurahan, serta gerakan tanaman perkotaan dengan menanam 400 tanaman jeruk.

Hasilnya adalah saat ini sudah ada kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Di beberapa RW (RW 3, 4, dan 12) sudah mengelola sampah sebagai sumber-sumber pendapatan, baik yang langsung digunakan maupun yang ditabung yang disinergikan dengan kegiatan pra-koperasi sebagai salah satu sumber keuangan swadaya di masyarakat yang menunjang permodalan bagi perempuan yang memiliki usaha.

Kedatangan Komisi II DPRD Kota Surakarta pada hari Rabu, 20 Januari 2016, yang juga disertai media untuk melihat seperti apa praktek-praktek pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat Joyosuran selama ini, membuat refleksi KPJ selaku kelompok yang menginisiasi kegiatan pengelolaan sampah yang terpadu merasa harus belajar lebih banyak dan semakin giat melakukan pengelolaan sampah yang harus dilakukan oleh semua warga Joyosuran yang berjumlah lebih dari 10.000 jiwa.

Pengelolaan sampah tidak hanya untuk dipilah, dijual, dan dibuat kerajinan tangan, tetapi bagaimana limbah-limbah rumah tangga seperti air sisa mandi, air sisa masak, sayuran sisa dan lain-lain juga terkelola di tingkat keluarga, kelompok RT, dan seterusnya sehingga jumlah volume sampah yang di tingkat kota (TPA) bisa ditekan, sehingga ancaman tumpukan sampah di TPA yang tidak terkelola bisa dicegah sejak awal.

Kunjungan ini juga melibatkan Pemerintah Kelurahan Joyosuran, dan LPMK yang diharapkan akan mampu merubah perspektif dan program kelurahan bahwa sampah jika tidak terkelola dengan baik akan berakibat pada ancaman bencana dan investasi persoalan di waktu yang akan datang. Peran Pemerintah Kota Solo yang didukung anggaran dan kebijakan yang mengakomodasi persoalan tersebut akan mnejadi terobosan dalam pengelolaan sampah kota.

Adanya kunjungan dadakan yang sebenarnya bertujuan untuk melihat proses pengelolaan sampah secara mandiri oleh masyarakat, dan hasil kunjungan akan digunakan untuk membuat statregi kebijakan yang lebih tepat. Begitu pula bagi pemerintah dan masyarakat Joyosuran, hal ini menjadi refleksi berasama terhadap kegiatan maupun program yang sudah terlaksana maupun yang akan dirancang berikutnya. (sunoko/spekham.org)

4 Tahun KPJ, Untaian Tanda Cinta Perempuan

Untaian Tanda Cinta Perempuan, sebuah bentuk karya dari perempuan-perempuan di Kelurahan Joyosuran, Kota Surakarta, yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) dalam menghargai potensi diri serta potensi yang ada di lingkungan sekitar mereka.

4 tahun hari jadi KPJ diperingati dengan rangkaian kegiatan; dialog pengelolaan sampah dan tanaman perkotaan terpadu, penggalangan dana publik, Gerakan Menanam 400 Pohon Jeruk yang dilakukan sejak 22 November 2015, serta acara puncak yang diwarnai dengan senam aerobik, lomba kreasi sampah menjadi handycraft, lomba kreasi

Lomba Kreasi Nasi Goreng
Lomba Kreasi Nasi Goreng

makanan olahan puding, lomba kreasi nasi goreng dengan peserta para bapak, serta “Sarasehan Pentingnya Dukungan Multistakeholder untuk Gerakan Perempuan dalam Pembangunan” pada 25 Januari 2016, bertempat di halaman Kantor Kelurahan Joyosuran.

Nila Ayu Puspaningrum, Manager Divisi Sustainable Livelihood Yayasan SPEK-HAM yang berperan sebagai salah satu narasumber dalam sarasehan mengatakan “Kelompok Perempuan Joyosuran bersama dengan SPEK-HAM sudah 4 tahun belajar bersama masyarakat. Sudah sangat banyak hal yang didapatkan dari proses 4 tahun ini. Para perempuan di kelompok ini sudah mulai mandiri dan berani bersuara. Peran SPEK-HAM dalam hal ini adalah untuk memfasilitasi dalam proses pembelajaran, kemudian bagaimana peran dan dukungan dari multistakeholder khususnya dari Pemerintah Kelurahan Joyosuran akan sangat berarti, tidak hanya untuk KPJ saja, tetapi juga untuk masyarakat Joyosuran pada umumnya.” (Nuel Oei)

Perempuan Merawat Kali

“Membangun kesadarkan warga Kelurahan Joyosuran untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya, serta mengajak para perempuan Joyosuran untuk melakukan pemilahan sampah, terutama sampah non organik yang mempunyai nilai jual, supaya bisa menambah penghasilan keluarga dan memberikan kesibukan positif bagi perempuan Joyosuran.”

SOLO – Minggu (25/01/2015). Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) beserta Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK HAM) dan stakeholder terkait menyelenggarakan suatu acara yang menjadi puncak perayaan peringatan ulang tahun Kelompok Perempuan Joyosuran yang ke-3 “3 Tahun Kelompok Perempuan Joyosuran, Belajar Bersama Masyarakat”.

Flash Mob Dance
Flash Mob Dance

Acara tersebut dimulai sejak pagi hingga malam hari dan melibatkan semua perempuan Joyosuran, tidak terkecuali Bapak-bapak dan anak-anak. Beberapa acara telah terkonsep dengan rapi, mulai dari Flashmob Dance dan Kerja Bakti yang diselenggarakan pada pagi hari pukul 06.30 WIB yang bertempat di halaman Kelurahan Joyosuran serta diikuti oleh kurang lebih 100 perempuan warga Joyosuran. Selesai acara flashmob dance dilanjutkan penanaman tanaman oleh perempuan-perempuan dan laki-laki warga Joyosuran. Tanaman ditempatkan di bantaran Kali Jenes sebagai salah satu bentuk aktifitas dari kegiatan “Perempuan Merawat Kali”.

Cipta Makanan Non Beras
Cipta Makanan Non Beras

Acara selanjutnya yang tidak kalah menarik, yaitu Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang diselenggarakan di rumah salah satu warga Joyosuran. Peserta yang terlibat adalah perempuan-perempuan yang mewakili RT dan RW nya dengan hasil karya cipta masakan non-beras kreasi baru mereka. Acara ini berlangsung hingga menjelang siang hari, sembari juga dilangsungkan proses penjurian Lomba Pengelolaan Sampah.

Proses penjurian lomba pemilahan sampah dilakukan dengan cara mendatangi tempat-tempat warga yang menjadi ketua dari masing-masing kelompok yang mengikuti lomba. Antusiasme warga Joyosuran sangatlah tinggi dalam mengikuti lomba pemilahan sampah tersebut, terbukti dengan banyaknya anggota kelompok yang mendaftar hingga mencapai kurang lebih 8 kelompok dari 12 RW yang ada di Kelurahan Joyosuran tersebut. Proses penilaian begitu panjang, dimulai dengan melihat langsung proses pemilahannya sampai dengan diskusi bersama masing-masing perwakilan kelompok bersama dewan juri yang ditunjuk dari beberapa elemen.

Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Sampah

Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan, malam harinya diselenggarakan acara inti yaitu sarasehan bersama warga Joyosuran yang mengangkat tema “Pengelolaan Sampah dalam Perspektif Lingkungan dan Pencegahan Bencana Banjir”. Acara sarasehan ini diikuti seluruh warga Joyosuran dan ikut serta mengundang narasumber dari Bapak Walikota Surakarta yang diwakilki oleh Bapak Camat Pasar Kliwon, perwakilan dari DKP, perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH), serta Ketua PAGAR KAJEN (Paguyuban Warga Rekso Kali Jenes).

Talk show dibuka oleh moderator Nila Ayu Puspaningrum, selaku manajer divisi Sustainable Livelihood dan juga perwakilan dari SPEKHAM. Penampilan-penampilan music dari speky voice, vocal group FORAJOS (Forum Anak Joyosuran) serta mendatangkan band tamu dari Boyolali yang menambah semaraknya acara saraserah pada malam hari itu. Acara sarasehan yang mengangkat program pengelolaan sampah dalam perspektif lingkungan dan pencegahan bencana banjir tersebut memang pantas dilakukan di Kelurahan Joyosuran, karena sampah menjadi salah satu temuan persoalan di daerah tersebut. Berawal dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) pada tahun 2014, bahwa masih ada sampah yang dibuang ke selokan bahkan ke Kali Jenes yang pada akhirnya mengganggu saluran-saluran pembuangan.

Dampak dari pembuangan sampah secara liar sangat dirasakan oleh warga sekitar bantaran Kali Jenes yang dulu kerap terkena banjir. Situasi tersebut memunculkan keprihatinan bagi perempuan-perempuan Joyosuran untuk bisa mengatasinya. Dari masalah-masalah yang telah dihadapi oleh warga Joyosuran tersebut, selama kurang lebih 3 tahun, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) yang bekerjasama dengan SPEK HAM membantu warga Kelurahan Joyosuran untuk menanggulangi masalah sampah dengan berbagai program yang telah dijalankan. Maka dari itu, kegiatan sarasehan tersebut dilakukan untuk bisa menampung dan mendiskusikan berbagai keluh kesah warga mengenai masalah sampah kepada para narasumber yang lebih mengerti untuk penanganan masalah sampah.

Pembahasan masalah sampah dimulai dengan pemutaran film tentang proses pengangkutan sampah perkotaan di Luar Negeri yang sudah tersistematis dengan rapi. Dengan diperlihatkannya film tersebut menjadikan warga Kelurahan Joyosuran yang mengikuti acara sarasehan tersebut mempunyai keinginan agar negaranya atau khususnya kelurahannya sendiri bisa mengikuti proses pengangkutan sampah yang lebih tersistematis seperti dalam video yang diputar.

Diskusi berawal dengan dibukanya sesi tanya jawab oleh moderator, begitu semangatnya antusias warga terbukti dengan banyak warga yang menanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah sampah di seputar lingkungan Joyosuran. Ada yang memberi kritikan bagi Pemerintah yang menangani masalah sampah di kota Solo dan ada juga yang menanyakan bagaimana solusi yang tepat untuk menanggulangi masalah sampah di daerah Joyosuran tersebut kepada para narasumber yang bertanggungjawab dan berkompeten dalam bidangnya. Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan oleh para narasumber menjadikan warga mulai tahu dan mendapatkan tambahan ilmu tentang bagaimana mengelola sampah perkotaan terutama bagi rumah tangganya sendiri.

Sarasehan berlangsung dengan meriah dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dan ditambah dengan pembawaan beberapa narasumber yang sedikit humoris semakin menambah hangatnya acara malam sarasehan tersebut.

Sebelum penutupan acara sarasehan pada malam hari tersebut, diadakan sesi pengumuman pemenang Lomba Pengelolaan Sampah, Lomba Cipta Makanan Non-Beras yang penjuriannya dilakukan pada pagi hari. Masing-masing lomba diambil Juara I, II, III dan Juara Harapan. Peserta yang memenangkan perlombaan tersebut masing-masing mendapatkan Trophy Walikota Surakarta, Sertifikat, Uang Pembinaan, serta beberapa bingkisan menarik. Acara sarasehan tersebut ditutup dengan ditampilkannya pertunjukan musik. (Defita & Murni Mahasiswa Sosiologi UNS/spekham.org)

Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup di “GRIYA LILIN“

Selasa, 2 Desember 2014 jam 10.10 WIB, kami mendapatkan telephone dari Badan Lingkungan Hidup Surakarta bahwa akan ada kunjungan dari Kementrian Lingkungan Hidup yang akan mendarat jam 11.00 WIB di Bandara Adi Sumarmo. Meski agak terburu-buru, tapi saya tetap menyanggupinya. Saya koordinasikan hal tersebut dengan team dari Griya Lilin yang terdiri dari Ibu Dwi S, Ibu Nana, Ibu Linda, Ibu Yulaikah, Ibu Haryani, Ibu Triyani Wahyuni, Ibu Jasmin, Ibu Makmis, Ibu Kedah.

Kami menunggu sejak jam 11 sampai team dari SPEK HAM juga datang, tetapi tamu juga belum datang sampai jam 13.00 WIB. Saya konfirmasi ke pihak Kelurahan Joyosuran, ternyata tamu dari Kementrian masih ada agenda di Balekota. Tanggal 3 Desember 2014, sekitar pukul 09.00 WIB, team dari Kemetrian Lingkungan Hidup Jakarta datang di Griya Lilin. Ada 3 orang dari Kementrian Lingkungan Hidup, 2 orang aktifis lingkungan hidup, 1 orang dari BLH Kota Surakarta dan 1 orang dari Kelurahan Joyosuran.

Diawali dengan perkenalan dari team yang diwakili Bapak Prayoga dari KLH , Bapak Mukti dari Team Adipura dan Bapak Bani dari BLH Kota Surakarta. Team Adipura tersebut ingin tahu bagaimana pengelolaan sampah dan limbah pada kegiatan home industry ini. Saya bersama Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup (Large)dengan teman-teman dari Griya Lilin saling menambahkan menjawab “Dalam kegiatan ini hampir tidak ada limbah, karena bahan utama lilin tidak ada yang dibuang, bahkan kami mengelola limbah sampah seperti kain perca, plastic, botol-botol yang kami padu padankan menjadi kerajinan seperti tempat tissue, tempat lilin, dan souvenir lainya”. Team Adipura sangat tertarik dengan tas-tas dan aksesoris yang terbuat dari plastik  bekas (plastik kresek). Hampir semua pengunjung yang datang ke Griya Lilin tertarik dengan hasil karya ibu-ibu di Kelompok Permata ini. Produk jenis itu sangat sulit pemasarannya. Paling kalau ada orang-orang asing yang kebetulan datang berkunjung di Kelompok Usaha Perempuan Griya Lilin ini yang membelinya. Lebih lanjut Ibu Eky menyampaiakan bahwa ke depannya, usaha kelompok perempuan ini masih banyak sekali kendala, dari penyadaran kepada warga untuk memilah sampah, memberikan ketrampilan dan setup pemasaran yang lebih menjamin keberlangsungan UKM-UKM di Joyosuran ini.

Ibu Nana lebih lanjut menjelaskan bahwa Griya Lilin ini masuk dalam kegiatan di KPJ, khususnya untuk pemberdayaan perempuannya. Selain untuk kegiatan UKM, ibu dua anak itu juga menjelaskan program pengelolaan lingkungan yang diwadahi dalam kegiatan merawat kali jenes, dimana kali dan bantarannya yang memiliki panjang 734 meter ini menjadi potensi yg baik  bagi perempuan karena ada tiga hal besar yang akan dilakukan yaitu normalisasi kali, penanaman tanaman pangan pinggir kali, dan pengelolaan sampah. Kesemuanya akan terkonsentrasi untuk penciptaan lingkungan di bantaran kali pada kususnya, dan di seluruh wilayah Joyosuran pada umumnya menjadi wilayah yang bersih dan nyaman. Harapan Ibu Eky, Ibu Nana dan teman-teman, setiap kunjungan dari Pemerintah seperti ini hendaknya bisa disampaikan keluhan dan kondisi kelompok UKM seperti Griya Lilin ini sehingga tidak hanya menjadi sekedar kunjungan kedinasan yang hanya ceremonial dan tugas dinas saja. (nocko alee/dok photo : kpj/spekham.org)

Merawat Kali dengan Hati untuk Generasi yang Akan Datang

Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Pengelolaan Tanaman Pangan Di Kelurahan Joyosuran Dalam Mendukung Pengelolaan Kali Jenes

Sampah, menjadi hal yang sangat popular di tiga bulan terakhir di Kelurahan Joyosuran, tepatnya sejak dilakukan pembaharuan pemetaan persoalan dan potensi sampah oleh Kelompok Perempuan. Hasil pemetaan tersebut mendapat respon baik dari pemerintah kelurahan, yang ditindaklanjuti dengan program perawatan Kali Jenes yang dikaitkan dengan resiko banjir di musim penghujan ini tahun ini.

Beberapa rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan adalah workshop pengelolan sampah dengan perspektif pengurangan resiko bencana. Kedua adalah pembentukan Paguyuban Ngrekso Kali Jenes (PAGAR KAJEN) pada tanggal 22 Desember 2014. Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) mengambil peran yang cukup srategis dalam perencanaan, pelaksanaan maupun dalam evaluasi kegiatan.

Langkah pertama untuk merealisasikan program pengelolaan Kali Jenes adalah dengan penyediaan infrastruktur untuk pemisahan sampah. Pemerintah Kelurahan Joyosuran menyedikan tong sampah di sepanjang Kali Jenes, dimana kebutuhan tong sekitar 60 buah, yang tersedia saat ini baru 20 buah bantuan dari dana CSR yang ada di Kelurahan Joyosuran, sedangkan kekuranganya akan diusahakan selanjutnya.

Untuk membangun perspektif di masyarakat dan membangun keterlibatan seluruh masyarakat dalam program Kali Jenes tersebut, PAGAR KAJEN dengan seluruh elemennya melakukan sosialisasi pada para stakeholder dan juga masyarakat di bantaran Kali Jenes. Sosialisasi tahap pertama melibatkan para RT dan RW di Joyosuran, dengan materi yang pertama Kebijakan Pemerintah Solo yang disampaikan oleh Perwakilan dari Kantor Lingkungan Hidup. Tentang Peraturan Pembuangan Sampah yang disampaikan oleh Lurah Joyosuran. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah oleh Ketua Paguyuban PAGAR KAJEN.

sos kj 9Di dalam kegiatan tersebut, Kelompok Perempuan Joyosuran menyampaikan materi tentang Sampah dan Pengelolaanya.  Sharing berdasarkan pengalaman KPJ dalam pengelolaan sampah mulai dari pengumpulan, pemisahan, penjualan, sampai pemanfaatan limbah sampah untuk kerajinan yang memiliki nilai eonomis. Kegiatan dilaksanaan pada tanggal 8 Oktober 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Ada usulan yang baik seperti perlunya mekanisme pengelolaan sampah yang efektif misalnya penyediaan tempat penampungan, petugas pengambil sampah.

Sosialisasi tahap dua akan dilakukan di tiga group, dengan sasaran warga di bantaran Kali Jenes dan juga RT dan RW yang berkepentingan akan wilayahnya. Group 1 meliputi RW 3 dan RW 2 yang bertempat di pinggir Jembatan Tempen, pelaksanakan dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014 dihadiri 86 orang. Kegiatan sosialisasi yang kedua dilaksanakan pada 15 Oktober 2014 bertempat di pinggir Kali RW 04, dengan melibatkan partisipan 75 orang  yang terdiri dari RT dan RW wilayah RW 04 dan RW 11, warga bantaran kali di sebelah kiri dan kanan Kali Jenes. Sedangkan sosialisasi ketiga, di group tiga dilaksanaan pada 17 Oktober 2014 di perempatan Jembatan Kali Jenes di RW 12, melibatkan 80 orang peserta yang terdiri dari warga bantaran kali, kelompok perempuan, CSR, dan tokoh masyarakat.

Dinamika yang terbangun dalam kegiatan ini adalah peran aktif dari peserta yang diundang, mereka sangat antusias, bahkan mereka membuat tawaran terhadap sanksi sosial pada warga baik yang dari Joyosuran maupun yang di luar Joyosuran apabila membuang sampah ke kali. Ada kesepakatan bersama tentang pengelolaan tanaman pangan di pinggir Kali Jenes dengan penanaman tanaman sayuran yang bisa di manfaatkan oleh warga. Membutuhkan peran serta semua pihak untuk mewujudkan program pengelolaan sampah terpadu tanaman pangan dalam mendukung pengelolaan Kali Jenes di Kelurahan Joyosuran.

Mari bergandeng tangan untuk lingkungan sehat di Joyosuran !!!

(nocko alee/spekham/dok. photo : KPJ)

Suara Perempuan Joyosuran untuk Kali Jenes

Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Lingkungan Berperspektif Bencana

Sampah dan pengelolaanya masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di wilayah perkotaan padat penduduk. Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon yang termasuk sebagai wilayah padat penduduk juga merasakan dampak dari keberadaan sampah. Sampah menyebabkan tersumbatnya saluran pembuangan  limbah rumah tangga, yang sering mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Air yang seharusnya masuk saluran pembuangan menjadi tergenang di depan rumah warga, hal ini membuat warga tidak nyaman untuk beraktifitas.

Sejak tahun 2010, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) bersinergi dengan multi stakeholder di tingkat Kelurahan melakukan berbagai kegiatan untuk mengajak masyarakat untuk peduli terhadap persoalan lingkungan melalui gerakan bersama yang dinamai “Gerakan Cinta Bumi”. Gerakan ini mengajak keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik yang mudah diurai dengan non organik yang sulit diurai, selain itu pemilahan sampah juga dapat menambah ekonomi keluarga. Gerakan Cinta Bumi juga meliputi : memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk kegiatan tanaman pangan, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga,

Sejalan dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ), Pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Pemerintah Kelurahan Joyosuran merancang Program “Pengelolaan Kali Jenes”, dengan merevitalisasi Kali Jenes yang selama ini kotor oleh limbah, baik rumah tangga maupun industri kecil. Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta “Air minum di sekitar Kali Jenes mengandung bakteri e-colli, karena tingkat pencemaran Kali Jenes sudah sangat tinggi.

(http://www.solopos.com/2014/08/28/pencearan-air-di-solo-50-sumur-di-sekitar-kali-jenes-tercemar-limbah-530862).

Program pengelolaan Kali Jenes dicanangkan oleh Pemerintah Kelurahan pada tanggal 22 September 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Acara tersebut dihadiri oleh unsur masyarakat, LPMK, LSM, kelompok-kelompok masyarakat, dan CSR (Pabrik Batik, Konveksi, BUMN, Provider Telekomunikasi, dan Bank). Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kelurahan mengukuhkan dengan pembentukan Paguyuban Merawat Kali/Lepen dengan pengurus :

Ketua               : Bapak Sukarno Hendri

Wakil Ketua     : Elfian

Seketaris         : Nana Misdiati (KPJ), Triyono

Bendahara      : Atik Sri Martini (KPJ)

Pelaksana        : Dwi S (KPJ), F. Sulastri Admoyo (KPJ), perwakilan dari 12 RW

Tim Monev      : H. Umar Said (Perwakilan CSR)

                             Pemerintah Kelurahan bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Konsep pengelolaan Kali Jenes akan melibatkan seluruh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan kali. Sehingga semua warga, baik yang berada di pinggir kali maupun yang tidak, akan bertanggung jawab untuk memelihara kebersihannya. Dalam paparannya, Lurah Joyosuran Bapak Suwarno  menyampaikan bahwa program ini akan dilakukan mulai tahap jangka pendek, menengah dan panjang. Kegiatan akan dimulai dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan tentang pengelolaan sampah pada masyarakat luas. Kegiatan akan dijadwalkan pada awal Oktober 2014. KPJ memiliki peran yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tentang pengelolaan sampah yang dapat disinergikan dengan Gerakan Cinta Bumi.

Berbarengan dengan kegiatan sosialisasi, akan dilakukan pemasangan tong sampah di sepanjang Kali Jenes yang panjangnya 750 M, dengan kebutuhan tong sebanyak 60 buah. Ada komitmen dari CSR yang menjadi salah satu sumber pendanaan yang akan membiayai kegiatan ini, selain juga ada anggaran dari APBD Kota Surakarta tahun 2015. Selain melibatkan warga Joyosuran, pengelolaan Kali Jenes juga akan dikoordinasikan dengan wilayah yang berbatasan dengan Joyosuran yaitu  Kelurahan Dawung  dan kelurahan Pasar Kliwon.

Semoga hasil pemetaan partisipatif ini tidak hanya sekedar data dan temuan masalah, tetapi menjadi sumber-sumber perencanaan program, sehingga suara-suara perempuan bisa lebih didengar melalui program-program berperspektif gender, bencana  dan berbasis lingkungan.

Oleh Noko Alle (CO Divisi Sustanable Livelihood)

Photo : Joshua Intan

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK TUMBUH & KEMBANG BAGI ANAK“

Sosialisasi hak-hak anak dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2014.

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK  UNTUK TUMBUH & KEMBANG  BAGI  ANAK“

Bulan Juli datang kembali, meski sebagian orang juga tidak peduli atau bahkan tidak mengingat, tetapi anak-anak di RW 03 Tempen Joyosuran ; seperti Agnes, Mayanda Sari, Putri dan Lia pada bertanya  “Mbak, apa tidak ada kegiatan lagi untuk anak-anak seperti tahun lalu ?” Sesaat saya berfikir, apakah kegiatan setahun lalu begitu berarti bagi mereka hingga mereka masih bisa mengingat dan merasakan akan arti dunia anak. Saya berfikir perlu untuk sekedar mengingatkan kepada masyarakat Joyosuran dan sekitarnya bahwa masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan hak-haknya, khususnya hak kesehatan dan pendidikanya.

Saya pun memulai melakukan lobi kepada Pengurus KLA, Bapak Budi, dan juga Pengurus PPT, Bapak Gito. Mereka menyetujui kegiatan yang saya usulkan yaitu sosialisasi hak anak. Bahwa anak memiliki hak untuk partisipasi dan berekspresi,  juga memberikan pengetahuan tentang hak-hak anak kepada para orang tua.

Langkah selanjutnya, kami bersama beberapa Pengurus Forum Anak Joyosuran (Forajos) berdikusi pada bulan Agustus 2014, dimana kami menyepakati ada 2 kegiatan untuk peringatan Hari Anak Nasional, yaitu pada hari Minggu, 31 Agustus dan 14 September 2014. Kegiatan tanggal 31 Agustus akan diisi dengan pelatihan dan workshop pengelolaan sampah menjadi barang kerajinan dan workshop/sosialisasi pengelolaan sampah. Sedangkan tanggal 14 September, kegiatan penjurian lomba kreatifitas berbahan limbah plastik, lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD, serta sosialisasi hak-hak anak yang akan mengundang narasumber dari KLA dan SPEK HAM.

Kegiatan tanggal 31 sudah berjalan dengan cukup menarik, meskipun antusias peserta kurang maksimal karena peserta hanya hadir 65%. Sedangkan untuk tanggal 14 September, peserta cukup banyak, hampir 80% undangan dating. Mereka merasakan bahwa kegiatan seperti ini cukup memberikan manfaat dan juga menginspirasi kepada anak-anak dan remaja. Isian materi Sosialisasi Hak Anak 4tentang pentingnya pemenuhan hak-hak anak juga cukup di respon positif, bahkan ada yang baru tahu ternyata orang tua harus memenuhi hak-hak anak. “Mbak acaranya sangat bermanfaat lho, tahun depan diadakan lagi ya?” begitu kata Bu Desi dari RW 04. Dalam kegiatan ini, selain ada respon dari Bapak Gito selaku Ketua PPT (Pos Pelayanan Terpadu) dan juga Ibu F Sulastri A selaku Ketua KPJ. Hadir sebagai  narasumber dari SPEK HAM,  mbak Nila Ayu Puspaningrum,  yang memperkuat pengetahuan ibu-ibu dan anak-anak  tentang hak-hak anak dan juga pemahaman para orang tua bahwa tempat tumbuh dan berkembang bagi anak adalah dalam keluarganya.

Setelah sosialisasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman hasil penjurian  tentang tulisan anak oleh Mas Nocko selaku community organizer di Joyosuran.

Semoga kegiatan ini bisa berlanjut dan respon masyarakat Joyosuran semakin banyak dan positif. Selaku Pengurus KLA dan Pendamping Forajos, kami ucapkan banyak terimaksih .

Sosialisasi Hak Anak 3Sosialisasi Hak Anak 2

Ditulis oleh Ekky Puji Lestari, Pengurus KLA dan Pendamping Forajos.

(edit : nocko/photo : onie/spekham.org)

“Warga Heboh Karena Banyak Wartawan. Ada Apa di Joyosuran?!”

Jam 10 tepat, iring-iringan tamu dari Parlemen Nasional Timor Leste tiba di Pasar Kabangan Solo. Setelah setengah jam kami menunggu, kemudian kami mengantar rombongan yang berjumlah 10 orang tersebut ke tujuan pertama yaitu Batik Merak Manis di Laweyan untuk melihat proses pembuatan batik, dari proses membatik sampai packing dan dipajang di show room. Selama proses berlangsung, sesekali terjadi dialog antara tamu studi banding dengan Bapak Heri, pengelola Batik Merak, tentang bagaimana usaha ini dibangun dan juga  perkembanganya. Kegiatan studi banding diakhiri dengan berbelanja di show room Merak Manis yang memajang baju dan perlengkapan rumah tangga dengan harga terjangkau.

Karena kami sudah di telpon oleh KPJ (Kelompok Perempuan Joyosuran) kalau Joyosuran sudah rame dan heboh (karena dari Babinsa, Wartawan Media, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan sudah datang) maka rombongan yang terdiri dari dua mobil berplat Jogjakarta itu langsung menuju Kelurahan Joyosuran yang berjarak sekitar 5 Km, atau kurang lebih 20 menit perjalanan. Pukul 10.45 WIB, rombongan tiba di Griya Lilin Joyosuran. Karena “Griya Lilin“ tidak terlalu luas maka kesannya penuh sekali, apa lagi tidak kurang dari 10 media cetak juga hadir dalam acara ini, juga perwakilan dari PKK Kecamatan Pasar kliwon, PKK Kelurahan Joyosuran dan Babinsa Pasar kliwon maka semakin rame acara kunjungan ini.

DSCN9509Diawali dengan ucapan selamat datang oleh Ibu F. Sulastri Admoyo selaku ketua KPJ, yang mennyampaikan tentang awal mulainya dibentuk KPJ sejak tahun 2009 lalu, sampai kegiatan-kegiatan program KPJ dari tahun 2012-2015 yang dihasilkan dari pemetaan yang dilakukan secara partisipatif, serta bagaimana peran KPJ dalam mengorganisir anggota  serta memfasilitasi temuan-temuan di komunitas, baik persoalan kesehatan, pendidikan dan hak dasar serta persoalan penguatan ekonomi perempuan sebagai penopang penghidupan di perkotaan. Setelah itu  dilanjutkan sharing pengalaman dari Divisi Ekonomi dari KPJ yang diwakili Ibu Ekky Puji Lestasi  selaku koordinator KPJPU (Kelompok Perempuan Joyosuran Punya Usaha) sekaligus pemilik usaha rumahan “Griya Lilin“, yang menceritakan awal usaha ini dirintis, suka dukanya, support dari Pemerintah serta bagaimana produk ini di pasarkan mulai dari dijual sendiri di kegiatan Kelurahan hingga saat ini sudah dipercaya mewakili Solo dan Jawa Tengah di event Pameran Pembangunan di PRPP Semarang setiap tahun. Saat ini sudah dua tahun berturut-turut mewakili Solo dalam pameran berskala Nasional di Jakarta dalam INACRAFF, tahun 2013 dan 2014.

DSCN9516

Pada sesi tanya jawab, perwakilan dari Timor Leste, Ibu Rosalinda, koordinator  rombongan bertanya bagaimana dengan permodalan, pemasaran, dan pelatihan kepada ibu-ibu serta bagaimana melibatkan tetangga untuk terlibat dalam kegiatan ini. Banyak kisah dan cerita inspiratif yang disampaikan kepada peserta, dari dicuekin teman dan tetangga pada awal usahanya, sebagai narasumber untuk mengajari ibu-ibu pejabat, sampai pengalaman mengikuti pameran di Jakarta di mana sangat banyak sekali kenangan manis dan pahit.

Kunjungan ini diakiri dengan foto bersama, wawancara dengan media serta beramah tamah sambil menikmati jajanan pasar produk dari Ibu-Ibu Joyosuran. Tidak lupa, semua tamu membeli produk dari Griya lilin untuk dijadikan oleh-oleh untuk teman dan juga keluarga. Kunjungan semacam ini sudah dua kali dilakukan, dimana sebelumnya para Walikota dari Monggolia datang pada bulan April lalu. Diharapkan kegiatan seperti ini mampu memberi inspirasi dan semangat kepada kelompok-kelompok perempuan yang menjadi mitra dampingan SPEK HAM, dan mendukung peran perempuan dan masyarakat dalam “Gerakan Cinta Bumi“. (nocko alle/spekham.org)

DSCN9519